#16

Aku merasakan tarikan keras di tanganku saat Miku menarik tangannya hingga lepas dari genggamanku. Dia menatapku dengan alis terangkat sebelah. Ekspresinya sudah nyaris marah. Sebenarnya, aku bisa tahu apa yang akan dia katakan.

Kenapa pakai tarik-tarik tanganku sih?

"Kenapa pakai tarik-tarik tanganku sih?!"

Tuh kan!

Aku tersenyum kikuk padanya. "Tadi ada Sir Len..."

"Hah?!" Ekspresinya berubah heran. "Terus kenapa lari?"

"Tadi aku merasa dia bakalan menghampiri kita," aku berkata dengan ragu-ragu.

"Hah?! Terus kenapa memangnya kalau dia mau ngehampirin kita?" Miku menatapku seolah aku adalah makhluk paling aneh sedunia. "Kau menyukainya kan, Gumi? Terus kenapa harus kabur saat melihatnya?"

Aku membuka mulutku, berniat menjawab, tapi aku sendiri tahu otakku bahkan nggak memikirkan satu pun jawaban. Aku bahkan sama sekali tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku merasa panik dan ingin berlari secepatnya dari tempat tadi.

"Apa?" Miku bertanya padaku dengan galak. Aku tahu dia pasti akan memarahiku kalau aku tidak menjawab dengan jelas dan tepat sesuai yang diinginkannya. Wajar saja, dia tadi sedang melatih vokalnya dan aku menariknya begitu saja.

"Yah, refleks, Miku." Kuputuskan itu sebagai jawaban finalku. Aku yakin Miku akan mengoceh memarahiku.

Namun, kali ini berbeda. Dia hanya menatapku dengan ekspresi heran. Aku mencoba tersenyum padanya.

"Yah, habisnya aku—"

"Bukannya dia sudah nggak masuk ke kelasmu sepanjang minggu ini ya?"

Aku tidak mengerti kenapa Miku menanyakan hal itu, tapi pada akhirnya aku mengangguk.

"Kamu sudah lama nggak ketemu dia kan?"

Aku kembali mengangguk.

"Memangnya kamu nggak kangen buat melihat wajahnya dan ngobrol dengannya?"

Aku mencoba memikirkan kalimat Miku barusan. Pada akhirnya, aku kembali mengangguk.

"Terus?"

"Terus apa?"

"Terus kenapa kamu lari, Gumi?!"

Aku mencoba memikirkan kalimat Miku barusan. Aku lagi-lagi terdiam. "Menurutmu kenapa?"

"Hah?!" Kerutan di dahi Miku bertambah.

"Aku..." Aku mencoba membayangkan situasi seandainya aku tadi tidak langsung pergi. Sir Len akan menghampiriku dan aku pasti akan terdiam seperti orang bodoh. Aku tidak pernah tahu aku harus mengatakan apa padanya, Tuhan! "Aku tidak pernah tahu aku harus mengatakan apa padanya ketika aku berhadapan dengannya, Miku!"

"Hah? Bukannya kau selama ini hampir selalu membayangkan situasi dimana kalian bisa mengobrol dengan ramai?"

"Iya sih..." Aku mengigit bibir bawahku, merasakan sesuatu di sudut hatiku yang terdalam terasa nyeri. "Aku... tahu itu... Tapi..."

"Tapi?"

"Aku... aku tidak berani untuk mengobrol dengannya." Aku menundukkan kepalaku. "Aku ingin sekali bisa mengobrol mengenai berbagai macam hal, mulai dari yang serius hingga yang ngelantur sekalipun. Tapi... aku selalu bertanya-tanya, jika semisalnya aku sangat membosankan baginya, aku justru memberatkan dirinya."

"Kenapa hal kayak gitu harus kau pikirkan sih, Gumi?!"

"Karena perasaan suka itu melibatkan dua orang, Miku." Aku menatap Miku dengan sebal. Seingatku, aku sudah sering mengatakan hal ini padanya. "Ketika kau menyukai seseorang, kau tidak bisa hanya memikirkaan dirimu sendiri."

"Aku mengerti soal itu, tapi—"

"Aku tidak ingin perasaanku memberatkan Sir Len dan membuatnya sebal."

Miku menatapku dengan dahi berkerut. "Memangnya kamu sekarang memberatkan dia?"

Aku mengigit bibir bibirku lagi dan menundukkan kepala. "Entahlah. Aku cuma takut. Itu saja."

"Tapi rasa takutmu nggak beralasan!"

Aku mulai merasa sebal pada Miku. Kenapa dia sibuk menggurui aku sementara dia juga mengalami situasi yang sama sekarang ini? Tapi jelas, menyinggung masalah hubungan Miku dengan Shion Kaito bukanlah ide terbaik. Itu merupakan topik yang paling harus dihindari.

"Ya, aku memang nggak beralasan." Aku mengangguk menyetujui. Biarkan Miku berpikir seperti apa yang diinginkannya saja.

Miku menghela napas panjang. "Kau tahu, Gumi, kalau kamu masih punya kesempatan untuk menyapanya, kamu harus menyapanya."

Apakah Miku sedang memberikan saran karena dia sudah punya cukup pengalaman dengan Shion Kaito? Saat SMA, Miku pernah punya banyak sekali kesempatan untuk menegurnya—mereka satu sekolah dulu. Nyatanya, Miku baru menyesali kenapa dia tidak pernah menegur Kaito karena sekarang, dia sama sekali tidak punya kesempatan itu sekarang.

"Aku tahu kok, Miku. Aku tahu." Aku jelas tahu itu. Hubungan mahasiswi-dosen tidak akan bertahan selamanya. Bahkan, aku yang sudah tingkat tiga hanya punya waktu kurang dari dua tahun sebelum lulus untuk bisa bersama Sir Len.

Tapi, memangnya aku punya pilihan lain?

"Kesempatan nggak akan datang dua kali, Gumi, kecuali kalau kamu super beruntung abad 21!" Miku tersenyum tipis sambil mengangkat bahunya. "Kalau kamu punya kesempatan sekarang untuk menyapanya, mengobrol dengannya, berada di dekatnya, ambil semua kesempatan itu sekarang."

Aku menatap Miku. Tidak tahu harus mengatakan apa.

"Bukannya cuma bersembunyi di balik cangkir kopi atas nama rasa kekaguman."

Dia memang selalu mengatakan hal seenaknya. Mengatakan kejujuran tanpa peduli pada orang yang mendengarnya. Satu hal yang kusukai sekaligus tidak kusukai dari Hatsune Miku.

Hatiku terasa perih saat mendengar ucapannya.

"Pikirkan itu baik-baik, Gumi."

Dan aku hanya terdiam sambil memperhatikan punggung Miku yang menjauh. Otakku terasa kosong. Hatiku terasa sakit. Perasaan bersalah menyerangku, membuat lidahku kelu. Membuat tubuhku lemas.

Aku tahu itu, Miku. Aku tahu...

"Bahwa aku teralu banyak membuang kesempatan..."

Aku jelas tahu itu.

"Bahwa aku hanya merasa bahagia di dunia kebohongan yang aku ciptakan sendiri."

Aku tersenyum sedih.

Selagi punya kesempatan...

Kalau Sir Len mengalami masalah dan di—

"Aku tahu, Miku..."

—pecat?

Aku menutup mataku, menyesapi rasa sedih yang merambat di hati.

Mungkin aku telah kehilangan kesempatan terakhirku barusan.

.

.

fun fact: sebuah konsep aneh dimana seseorang ingin sekali bertemu dengan orang yang disukainya, tapi ketika sudah benar-benar bertatapan muka, justru ngerasa pengen lari dan akhirnya kabur nggak ketemu—cuma bisa ngelihat dari jauh (kamu bebas berpendapat mengatakan ini adalah tindakan konyol, bodoh, atau mungkin juga menyedihkan).

p.s: sedikit terinspirasi dari kisah nyata.. ya, aku tahu itu, aku tahu itu. Jadi inget lagi kan semuanya, gimana rasanya perasaan sesal dan semacam-macamnya yang melebur jadi satu. Mellow lagi sih, iya sih, parah sih, nggak suka sih.

p.s.s: seorang sahabat nanya, "ka, kenapa kamu nggak ngomong yang sejujurnya ke kakak unyuu ketika kamu jadi LO dia?" dan aku cuma bisa ngasih jawaban yang sama kayak Gumi barusan (dan jadi curhat ini, kayaknya bab ini panjang cuma gara-gara curhatan nggak penting haha)

p.s.s.s: silahkan bagi yang ingin berkomentar tentang cerita ini sampai sejauh ini ;)