First fanfic, newbie author, yoroshiku. Don't like don't read.
Tittle : You
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Rate: T
Genre: Romance, Friendship, Humor (?)
Pair: AoKise
Warn: AU, typo(s), OOC(?), Abal, Gaje, DLL
Summarry: "Huh?! Mai-chan?!" / "Ah.. anu.. kamu anak baru itu ya?" / "Aomine-kun suka kise-kun?" 'BLUSHH' / "Sumimasen! Sumimasen! Sumimasen! Sumimasen!" / "Ki-kise! Ada apa denganmu?! " / "…Kise-kun, mengapa kau sama sekali.. TIDAK PEKA?! AKASHI-KUN MENYUKAIMU KISE-KUN!..."/ Satu kata, GAJE.
Seracchi= halo juga salam kenal (hehe) mudah mudahan deh aokiseaka nya gak ilang. ganbatte mo juga ya! dan salam kenal dan makasih udah jadi reviewer pertama (bangga) bimbing aku yang gaptek ini ya haha -..- /abaikanjuga(?)
.
.
.
Chapter 2 : Meet You
Aomine's Apartement On Mon, At….
Setelah rembulan menampakkan sinarnya pada malam hari, muncullah sang surya untuk menampakkan senyumnya, memberikan pencerahan bagi mahkluk hidup di bumi untuk melaksanakan tugasnya masing – masing. Tokyo, ibu kota yang padat dengan di penuhi orang – orang sibuk beserta aktivitasnya mereka sendiri. Tak terkecuali… pemuda bodoh ini…
"Huh?! Mai-chan?!" Pemuda hitam kelam dekil-sebut saja Aomine, baru terbangun dari tidurnya, ya mimpi nya. Tentang mai chan lagi. "Huh… padahal baru saja ingin memeluk mai-chan….. hn? Jam berapa sekarang?" ia melihat jam wekernya yang menunjukkan pukul 07.50 waktu jepang, sementara sekolah sudah dimulai 10 menit yang lalu. Ah. Kau tau betapa lemotnya pikiran si hitam ini? Baiklah, berapa lama ia butuh waktu menyadarinya kalau ia terlambat.
.
1 detik
.
3 detik
.
10 detik
"SIAL! AKU TERLAMBAT! JAM BODOH!" He? Jam yang bodoh atau dia yang bodoh? Dasar. Ia langsung menyambar handuk dan bersiap – siap secepat yang ia bisa. Untung saja hanya butuh waktu 15 menit ke sekolah. Itu pun… kalau tidak ada hambatan. Setelah ia bersiap – siap, ia langsung menyambar tasnya dan tidak sarapan. Yah, mana ada orang terlambat yang dengan antengnya sarapan. Lalu, ia berlari – larian di trotoar. Aomine terus berlari tak peduli apa yang dia tabrak, entah kucing, preman, manula, atau pun tiang listrik. Tujuannya hanya satu, sampai di sekolah.
-000-
"Hah..Hah..Hah.." Aomine terengah – engah dengan nafas memburu. Ia sedang menuju ruang kelas baru nya dan berharap gurunya tidak killer. Yah. Semoga. Tadi ia sempat bertanya kepada guru piket di manakah letak kelasnya tersebut . Phew. Untung saja ia masih bisa berfikir. Selama ia berlari, ia juga melihat orang – orang yang sama seperti dia (baca: terlambat). Kadang ada juga beberapa guru yang heran melihatnya. Karena dia anak baru? Atau karena terlambat? Mungkin keduanya. 15 menit berlari, akhirnya ia sampai di depan kelasnya, kelas 2 – B. Ia menggeser pintu kelasnya dan bersorak "Yatta!" sambil menyeringai dengan banyak peluh. Guru beserta murid – murid melihat dia dengan tampang cengo. Ah iya, dugaan mu salah aomine. Guru tersebut.. tidak seperti yang kau kira. Kau mati ahomine. "Apanya yang 'yatta' huh?" kata guru tersebut sambil mengusap kumis tebalnya. Uratnya sudah berbentuk segitiga. Tetapi aomine tidak menatap guru itu, ia menatap pemuda yang sedang mengisi soal di papan tulis. Pemuda dengan surai kuning yang indah, iris madu yang mempesona. Kedua iris itu bertemu. Sangat lama sampai sang guru memisah nya. "HEI ANAK BARU!? KAU TIDAK DENGAR?!" teriak guru itu. "E-eh? Iya sensei?" Aomine malah nyengir kuda. Urat – urat guru tersebut bertambah dua kali lipat. "BERSIHKAN TOILET SEKARANG JUGA!" suara guru itu menggema satu sekolahan. Ya, Aomine. Benar katamu. Hari ini adalah haripertama menjadi murid baru di sekolah yang melelahkan.
-000-
Teikou High School's Toilet On Mon At 08.25 A.M
Di sinilah ia, Aomine. Sebuah toilet di sekolahan yang baru saja ia tempati. Ia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Otaknya konslet kemarin, jadi ia lupa menyetel jam wekernya. Lalu di mana temannya yang cerewet itu? Momoi? Ah, aomine sadarlah, dia sudah berusaha membangunkanmu dari luar pintu apartement. Kenapa luar pintu? Karena pintu apartemen aomine di kunci. Dasar bodoh. Padahal gedoran pintu dari momoi sangat kencang hingga pintu apartement mu itu mau hancur, aomine. Ah, lupakan. Lagipula sudah terjadi. Semoga menjadi pelajaran untukmu aomine. Ah, tidak – tidak. Aomine tidak akan menangkap beitu jelas apa yang sudah menimpa dirinya beberapa menit lalu. Sudah ku bilang. Dia lemot. Otaknya masih loading.
"Huh.. toilet ini bau sekali. Memangnya sekolah ini tidak menyiapkan petugas kebersihan? WC nya sampai begini. Katanya sekolah yang terkenal di Tokyo, tapi apa – apaan ini? Menyebalkan. Dan parahnya lagi hanya aku yang di hukum membersihkan toilet?! Padahal banyak yang terlambat, tapi tidak ada yang ke sini." Sudahlah aomine, kalau kau menggerutu pekerjaanmu tidak akan selesai. 5 menit aomine menggerutu, akhirnya bel istirahat menggema. Sementara pekerjaannya belum selesai. Ia tidak mau di anggap pecundang karena tidak bertanggung jawab atas hukumannya. Akhirnya ia tetap menyelesaikan pekerjaannya. Coba saja ia tidak menggerutu dari tadi, pasti sudah selesai. Ia membelakangi pintu masuk toilet sembari ia mengepel lantai. Lalu ia mendengar ada yang datang. 'ah, paling – paling ada yang ingin buang air kecil. Biar saja, kalau aku menengok nanti dia kepo' pikir aomine. "Ah.. anu.. kamu anak baru itu ya?" kata orang itu. Suaranya cempreng dan riang. Karena terdengar riang itu aomine merasa dia di olok – olok. Langsung saja muncul urat berbentuk segitiga di dahinya. "Ya. Memang. Ada. Apa?" Jawab aomine dengan penekanan di setiap katanya. Ia menjawab namun tidak berbalik. Tidak sopan. "Etto.. aku ketua kelas 2 – B. Aku di suruh oleh sensei agar mengajakmu mengenal sisi – sisi sekolah ini" Kata pemuda itu tetap tersenyum walaupun sebenarnya takut. Kita bisa lihat pemuda itu mengeluarkan sedikit airmata. "Uh. Aku tidak peduli siapa kau. Tapi pekerjaan ku belum selesai. Jadi kau tidak ada hak melarangku. Lagi pula ini hukuman. Kau mau ku suruh mengerjakan ini?" Jelas aomine panjang lebar "T-Tapi-" "Sudah ku bilang! Aku- uh? Kau?" Aomine langsung berbalik dan melihat pemuda di depannya. Pemuda itu menutup mata takut – takut sambil mengeluarkan air mata. Kakinya bergetar. Aomine baru sadar, yang ia teriaki adalah pemuda bersurai kuning dengan iris madu itu. Ia merasa bersalah dan langsung meminta maaf "H-hey, A-aku minta maaf… Aku kira kau orang lain.. berhentilah menangis. Kau ini laki – laki" Kata aomine sambil memegang bahu pemuda itu. "O-orang lain?" Tanya pemuda itu bingung. Memang kalau dia orang lain aomine tidak akan memaafkannya? Huh? "E-em.. lupakan. Hei sudahlah jangan menangis" "I-iya! Baiklah, err…" "Aomine. Aomine Daiki" Kata aomine tersenyum "Aominecchi! Kenalkan, aku Kise Ryouta! Terserah kau mau memanggilku apa tapi aku biasa di panggil Kise/Kise-kun!" sahut kise riang "Tunggu, tunggu. 'cchi'? " "Itu panggilanku untuk teman – teman yang respect denganku" sahut kise tersenyum "Hahahaha.. kau ini ada – ada saja" Aomine tertawa. Tumben ia merasa sangat senang. "E-eeh?! Tapi apa salahnya. Hidoi-ssu!" Muka kise berubah menjadi cemberut plus blushing. Dan aomine tertawa lepas. Lalu ia menatap kise yang masih saja cemberut sambil berjalan. 'Ah.. lucunya' Kata aomine tersenyum. Mereka pun berjalan menulusuri koridor sekolah sambil bercakap - cakap.
-000-
Teikou High School's Roof On Mon At 08.40 A.M
"….Nah, dan ini atap sekolah, aominecchi!" Kata kise menjelaskan "Aku juga sudah tau kalau ini atap" terkadang aomine bikin kesal. Bukan kadang, tapi sering "Ah, aominecchi bikin kesal-ssu!" Kise cemberut kembali. Lalu ia mencari tempat duduk yang teduh. Jam 8 di jepang sudah terlalu terang. Lalu, aomine mengikuti. "Nah, aku bawa bento, aominecchi mau?" "Tidak-" 'GRUYUUK' Kise menahan tawanya sambil menunduk. Sementara aomine menahan malu. Aomine lupa, bego atau lemot? Ia tidak sarapan saja bisa lupa. Dasar ahomine. Aomine langsung mencomot gurita(?) di bento kise. "Enak.. kau yang buat?" "Iya! Ah! Baru kali ini ada yang memuji masakanku! Terimakasih aominecchi" Kise tersenyum lepas. Aomine sempat blushing. Dia selalu berpikir agar kise tidak bisa tersenyum supaya ia tidak terkena serangan jantung. Di saat mereka menikmati bento, mereka tidak sadar ada yang mengintip dari jendela kelas 3. "Ryouta? Dia bersama siapa?"
TBC
.
.
.
Gomen kalau abal. Makasih sudah membaca (_ _). RnR?
