#17
Aku menyesap isi kopi itu pelan-pelan hingga tetes terakhirnya. Aku menjauhkan cangkir kartonnya untuk membaca pesan yang tertulis disana.
Apakah aku masih punya kesempatan untuk memberikan kopi pada Sir Len?
Aku menghela napas panjang dan menatap langit-langit ruang kerjaku. Hanya aku sendirian disana. Sir Oliver sedang berada di luar, mengajak jalan-jalan burung peliharannya—entahlah, tidak peduli. Miss Haku sedang ke toilet dan sudah setengah jam belum kembali juga—memangnya apa yang membuatnya begitu lama kesana?
Aku memejamkan mataku dan menemukan kegelapan selanjutnya. Aku merasa lelah. Tentu. Siapa yang tidak setelah disidang oleh lima guru besar musik klasik? Mereka adalah Profesor ahli yang telah berpengalaman di bidang musik. Mengetahui mana yang baik dan tidak hanya dari gerakkan jari tangan. Orang-orang profesional yang lebih memilih mengamalkan ilmunya di jalur pendidikan dibandingkan dengan berada di panggung, bermain di seluruh dunia ataupun menciptakan lagu.
Aku selalu merasa mereka sangat hebat, aku mengagumi mereka hingga struktur sel paling kecil milikku. Namun, kenyataan bahwa pikiran mereka sama kolotnya dengan manusia purba membuat presepsiku berubah saat itu juga. Empat dari lima berpikiran bahwa teknik yang baik akan menghasilkan permainan yang baik sementara satu sisanya berpikiran bimbang antara kepercayaanku yang berpikir bahwa permainan yang bagus dimainkan dengan hati senang tanpa adanya rasa terpaksa dan pikiran bahwa teknik adalah segalanya.
Aku kembali menghela napas. Saat itulah, kudengar, pintu ruangan dosen terbuka. Aku menememukan Miss Haku masuk dan meletakkan buku-buku tebal di atas mejanya—kuingatkan, mejanya sangat-sangat berantakan hingga membuat buku-buku tadi melipat dan menekan buku-buku tipis catatannya.
"Setidaknya Miss Haku bisa meminggirkan buku-buku tipis itu," sahutku pelan sambil mencoba tersenyum padanya.
Wanita yang usiannya lebih tua tiga atau lima tahun dariku itu membalas senyuman tipisku. Rambutnya yang berwarna putih bergoyang saat dia mengangkat bahunya. "Kau tahu, Sir Len, merapikan meja adalah tindakan yang menyulitkan."
Aku tersenyum kecut. "Setidaknya Miss Haku bisa mendapatkan meja tambahan ketika aku dipecat nantinya."
Miss Haku menatapku lama kemudian kembali mengangkat bahunya. "Kau rela dipecat begitu saja hanya karena prinsipmu berbeda dengan yang lainnya?"
"Bagaimana menurut Miss Haku sendiri?" Aku memajukan tubuhku, menatapnya dengan ekspresi serius. "Bukankah musik akan lebih indah jika dimainkan dengan hati?"
"Itu benar, Sir Len," Miss Haku berjalan mendekatiku, "tapi kalau hanya itu yang mahasiswa Utaunoda inginkan, mereka tidak perlu membayar dosen profesional kan? Mereka cukup bermain musik dan bernyanyi di pinggir jalan, jika beruntung orang-orang mungkin akan memberi beberapa receh."
"Apa maksudmu?"
"Kau lebih muda dariku," dia menghela napas, "wajar jika idealisme masih mengakar kuat padamu. Sebenarnya, tidak ada yang salah dari prinsipmu dan prinsip teknik adalah segalanya." Miss Haku tersenyum padaku.
"Jadi, menurutmu aku harus membuang prinsipku?"
"Bukan." Dia kembali tersenyum. "Kenapa kau tidak memikirkan untuk menggabungkan dua prinsip itu. Misalnya saja, tim dosen akan membicarakan lagu apa yang harus mereka mainkan, lagu yang dapat menguji teknik musik klasik para mahasiswa."
"Apa bedanya dengan yang sekarang?"
"Dan mahasiswa bebas memilih mereka ingin memainkan apa." Senyumnya kembali muncul.
"Aku pernah memikirkan hal itu, tapi kurasa para dosen tidak akan setuju. Apalagi Sir Oliver—"
"Bahkan sejujurnya Sir Oliver yang mengusulkan ide itu padaku." Miss Haku tertawa. "Dia memang memikirkan teknik di atas segalanya, tapi kau tahu, dia juga punya hati ternyata."
Aku ikut tertawa dan pandanganku kembali ke cangkir kopi itu. Aku tersenyum.
Aku masih punya kesempatan untuk menikmati cangkir kopi hangat itu darimu.
"Lagipula," aku mendengar Miss Haku kembali bicara. "Bukankah kau punya pengagum rahasia yang belum kau ketahui identitasnya?" Wanita itu mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa. "Pacaran dengan mahasiswa tidak ada di dalam SOP* dosen Utaunoda sih, tapi siapa yang bisa melarangnya." Dia tertawa.
Aku segera berdiri dengan cepat. "Apakah Miss Haku mengetahui siapa orangnya?" Jantungku bergemuruh. Aku ingin tahu. Aku ingin tahu siapa kurir pengantar kopi itu!
Miss Haku mengangkat bahunya. "Daripada kau memikirkan identitasnya sekarang, lebih baik kau menghadap para guru besar sebelum mereka mengeluarkan Surat Kerja untuk melarangmu bekerja."
Aku mengangguk cepat dan meletakkan cangkir kopi itu di atas mejaku. Kemudian, aku berjalan cepat menuju pintu. Sebelum aku keluar, Miss Haku kembali bicara.
"Mengajar di Utaunoda menyenangkan bukan?"
Aku tersenyum. Aku ingat bahwa awalnya aku tidak begitu menyukai Universitas ini. Rekan kerja yang tidak peduli dan berantakan, sistem kantor yang tidak menyediakan mesin pembuat kopi, aturan ketat yang bahkan tidak mengizinkan aku terlambat satu detik pun (akibatnya aku tidak bisa membeli kopi yang kuinginkan), membuat segalanya terlihat buruk.
Tapi sekarang...
"Sangat menyenangkan, Miss Haku."
Entah itu karena aku terbiasa oleh segala kekurangan dan kesulitan Universitas Utaunoda ataukah karena aku merasa jatuh cinta pada pengirim kopi yang bahkan tidak kukenal sama sekali.
Apakah aku masih punya kesempatan untuk memberikan kopi pada Sir Len?
Tentu saja. Kau masih punya banyak kesempatan dan aku juga masih banyak punya kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh lagi. Aku akan tetap berada di Utaunoda apapun yang terjadi!
.
.
*Standard Operating Process
p.s: arc ini kayaknya paling panjang ya? haha. kira-kira masih ada dua sampai tiga lagi sampai bener-bener penyelesaian dan ganti arc baru ;P
p.s.s: siap menyongsong liburan dan KP. yeay!
p.s.s.s: silahkan bagi yang ingin berkomentar tentang cerita ini sampai sejauh ini ;)
