#18
"Katanya Sir Len disidang sama lima guru besar lho!"
Aku menoleh dan melihat pemuda berambut biru gelap berbicara di depan kelasku. Wajahnya yang tampan menurut Miku terlihat sangat antusias ketika dia bicara.
Aku juga antusias sebenarnya. Terutama karena topik yang dibawakannya menyangkut mengenai seseorang yang kukagumi, yang kusukai, yang selalu kuperhatikan dan yang—
"Sir Len tetap menolak untuk mengikuti keinginan para guru besar."
Aku terulai lemas. Begitu juga dengan seluruh teman seangkatanku. Sir Len bagi kami adalah dosen yang menyenangkan. Begitu banyak hal yang tidak akan bisa digantikan oleh dosen lain... begitu banyak...
Aku meremas jemariku. Rasa sesal dan sedih meliputi hatiku.
"Kita harus melakukan sesuatu!" seru Kaito kemudian. "Kita harus membujuk Dekan supaya Sir Len tidak jadi dikeluarkan!"
Sorakkan persetujuan mulai terdengar. Sakine Meiko, orang yang kucurigai adalah kekasih Shion Kaito berdiri di sebelahnya sambil mengangkat pianika—dia pintar sekali bermain piano sesungguhnya. "Kita adakan mini konser untuk Sir Len! Aku dan Gumi akan main pianika!"
Aku terlonjak begitu namaku disebut. Namun, si rambut coklat itu hanya tersenyum lebar padaku. Aku mengangguk cepat. "Sekarang, karena kita semua sudah setuju, Kaito yang akan mengurus segalanya sementara aku akan datang ke tempat Sir Len!" Dia kemudian mengedipkan sebelah matanya kepada Kaito dan berjalan ke arahku.
"Yuk! Temenin aku ke ruang dosen yuk!"
Aku mengerjap. "Bertemu dengan Sir Len maksudnya?"
"Kalau dia ada ya artinya kita bakalan ngasih support ke dia!"
Jantungku seketika berdebar lebih cepat. "A—aah..."
"Yuk!" Dia tersenyum lebar sambil menarik tanganku.
Pikiranku berkecamuk. Apa yang akan kukatakan pada Sir Len nantinya? Apa yang akan kulakukan ketika dia ada di hadapanku?
"Gumi!" Suara Meiko hampir membuatku terlonjak. Kami sudah berjalan menyusuri koridor Utaunoda yang memiliki pilar-pilar batu.
"Ng?"
"Kau kenal Hatsune Miku?"
Aku menatapnya tidak mengerti. "Kenal. Kenapa?" Kenapa tiba-tiba Miku harus masuk ke dalam obrolan kami berdua?
"Dia orang yang seperti apa sih?"
Aku ragu untuk menjawab sebenarnya; hubungan Miku dan Meiko tidak bisa dikatakan dekat, kenal pun mungkin cuma nama.
"Dia baik."
Meiko tertawa. "Dia masih menyukai Kaito?"
"Kamu mengajakku untuk menemui Sir Len karena kamu mau tanya-tanya soal Miku?"
"Aah... bukan-bukan." Dia berhenti berjalan dan tersenyum padaku. "Hanya saja, aku selalu merasa aneh. Kalau seandainya dia menyukai Kaito, kenapa dia tidak menunjukkannya saja? Bukankah akan lebih tenang ketika menunjukkan segalanya pada orang yang kita sukai?"
Aku diam sebentar. Kenapa orang-orang selalu suka bertingkah dengan menunjukkan segalanya? Memangnya kenapa kalau suka? Memangnya seluruh dunia harus tahu, begitu? "Bukankah itu namanya bersikap egois?"
"Egois?" Alis Meiko terangkat.
"Ada kemungkinan perasaan kita hanya akan menyusahkan bukan?"
Meiko tertawa. Sejujurnya aku merasa sedikit tersinggung.
"Memangnya ada yang merasa susah ketika disukai oleh orang lain? Coba, sini aku kasih contoh. Ada orang yang menyukaimu, itu artinya kau diterima secara seutuhnya oleh orang itu bukan? Berarti ada hal yang sangat positif dari dirimu yang membuat matanya hanya bisa tertuju padamu."
Aku menatapnya. Tidak menyangka bahwa seorang Sakine Meiko yang tingkah lakunya nyaris limit mendekati nol dalam hal feminimitas bisa mengatakan hal seperti barusan.
"Kau ingin aku memberitahu Miku soal itu semua?"
Meiko mengangguk. "Karena aku tahu, Kaito mungkin merasakan hal yang sama padanya." Dia tersenyum.
"Kurasa... Miku cuma takut ditolak," sahutku pelan. "Makanya, untuk melindungi dirinya sendiri, dia nggak akan mengatakan apapun. Dia nggak ingin berasumsi karena probabilitas asumsinya benar—"
"Berarti, Miku nggak serius menyukai Kaito." Meiko menatapku. "Karena kau tahu, Gumi," gadis berambut coklat itu tersenyum, "rasa suka memberikan seseorang kekuatan besar untuk dapat melakukan apapun demi orang yang disukainya. Kekuatan yang cukup untuk mampu melindungimu dari probabilitas asumsimu sendiri."
Kami sudah berada di depan pintu ruang dosen. Aku sama sekali tidak sadar.
Melakukan apapun...
Meiko mengetuk pintu ruang dosen.
Aku harus menolong Sir Len supaya dia tidak dikeluarkan dari Utaunoda!
Meiko menarik handel pintu hingga membuka dan kami melangkah masuk. Hanya ada wanita berambut perak disana yang sedang berdiri di dekat meja Sir Len. Aku melihat cangkir kopiku yang kuletakkan sekitar setengah jam yang lalu disana.
"Miss Haku, selamat pagi."
Miss Haku membalas dengan senyuman. "Ada keperluan apa kalian ke ruangan dosen pagi-pagi begini?"
"Mencari Sir Len, Miss. Kami tidak ingin Sir Len mundur dari Utaunoda."
Aku mengangguk.
"Kalian harus mengatakan hal itu pada Dekan," Miss Haku tersenyum.
"Kaito sudah ke TU Prodi kok, Miss Haku," kata Meiko yakin.
"Hemm, sayang sekali." Miss Haku tersenyum simpul. "Dekan barusan keluar dari kampus untuk mengikuti seminar di luar."
Aku terhenyak. Kalau Dekan tidak bisa ditemui, kesempatan Sir Len untuk tetap di Utaunoda...
Pandanganku kembali ke cangkir kopi itu. Apa aku akan kehilangan kesempatan itu tanpa melakukan apapun untuk Sir Len?
"Dimana seminarnya, Miss Haku?" tanyaku cepat.
"Hotel Parfait di pusat kota."
"Aku akan menyusulnya kesana!" sahutku cepat sambil berjalan keluar dari kelas.
Meiko menoleh padaku, kelihatan tidak percaya aku akan mengatakan hal itu. "Eh, kau serius, Gumi?"
Aku mengangguk.
"Pusat kota jauh lho. Kau harus ganti-ganti bis sekitar empat-lima kali."
"Aku tahu," aku tersenyum tipis. "Aku akan sampai disana secepat mungkin agar aku sempat membujuk Dekan."
"Aku ikut denganmu," sahut Meiko. "Terima kasih, Miss Haku."
"Sama-sama," kata wanita berambut perak itu sambil mengangkat cangkir kopiku untuk Sir Len.
Aku mengerjap. Dia tidak boleh minum kopi itu! "Miss Haku," panggilku, "Anda tidak akan minum kopi untuk Sir Len itu kan?"
Meiko menoleh ke arah Miss Haku kemudian ke arahku. "Kenapa kau tahu kalau kopi itu buat Sir Len, Gumi?"
Eh?
"Aah... ayo, Meiko, cepat!" Aku langsung berlari dari tempat itu, tidak ingin menjawab pertanyaan Meiko barusan sekaligus mengabaikan tatapan penasaran Miss Haku. Ada hal yang lebih penting daripada masalah ketahuannya identitas Kurir Pengantar Kopi itu.
Apapun yang terjadi, Sir Len tidak boleh keluar dari Utaunoda!
.
.
p.s: arc ini kayaknya paling panjang ya? haha. kira-kira masih ada dua sampai tiga lagi sampai bener-bener penyelesaian dan ganti arc baru ;P
p.s.s: siap menyongsong liburan dan KP. yeay!
p.s.s.s: silahkan bagi yang ingin berkomentar tentang cerita ini sampai sejauh ini ;)
