#19

Aku berdiri di depan kantor salah satu guru besar musik klasik di Utaunoda. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan syarafku yang bergemuruh akibat rasa gugup, takut, panik, dan juga bersemangat. Aku tidak tahu apa yang akan aku katakan pada para guru besar itu setelah sekitar lima belas menit yang lalu aku masih tetap mempertahankan pendapatku tanpa mengubris atau memikirkan masalah ke depannya.

Aku merasa konyol, sungguh—yang kupikirkan adalah kenapa aku bisa sebegitu ingin mengorbankan prinsipku hanya demi cangkir kopi yang kudapatkan setiap paginya, bukan karena aku ingin berkarir di Utaunoda? Sebegitu besarkah rasa penasaranku kepada kurir pengantar kopi hingga aku tidak ingin kehilangan sosoknya?

Lalu aku menyadarinya begitu saja. Aku memang tidak benar-benar berusaha dalam hal ini. Aku bersifat pasif dan pasrah, buktinya aku tetap menahan-nahan usulan ide untuk menggabungkan keduanya prinsip tersebut.

Aku tersenyum. Apakah kafein telah berhasil membuat otakku yang berkabut berubah cerah ataukah aku sedikit terpengaruh pesan dari kurir pengantar kopi itu?

Pintu di hadapanku tiba-tiba saja terbuka dan aku menemukan salah satu mahasiswa yang kuajar. Dia terlihat terkejut, namun segera tersenyum ketika melihatku.

"Sir Len, pas sekali timing Sir berada disini sekarang."

"Apa yang kau lakukan disini, Kaito?" Tidak biasanya mahasiswa menemui salah satu guru besar jika itu bukan sesuatu hal yang mendesak—seperti yang pernah kubilang, para guru besar itu sebagian bersifat kolot dan anak muda seperti Kaito tidak menyukai orang-orang seperti itu.

"Aku baru saja membujuk beliau," dia menunjuk ke belakang pintu, "agar mempertimbangkan Sir kembali."

"Maksudmu kau membujuk beliau agar aku tidak jadi dipecat?" Alisku terangkat sebelah, cukup heran karenanya.

"Yap!" Kaito tersenyum lebar. "Beliau bilang aku harus ke Kaprodi untuk kembali bernegosiasi. Masalah nggak akan selesai kalau kami cuma ngomong sampai guru besar."

"Kami?"

"Iya, seluruh angkatanku bakalan memperjuangkan Sir Len agar Sir bisa terus mengajar kami."

Mereka melakukan itu semua untukku?

"Karena, Sir Len adalah dosen yang hebat." Kaito menepuk pundakku sambil tersenyum. "Anda akan menjadi dosen yang hebat."

Aku tersenyum. "Terima kasih."

"Ah tentu, Sir. Kita siap menerima traktiran!" Dia menunjukkan cengirannya lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia mengangkat dengan nada ceria seperti biasanya. "Hai, Meiko. Ada apa? Umm... yap... apa? oh..." Kaito tertawa. "Bagaimana kalian bisa melakukan hal itu? Hemm... oke oke. Aku nggak nyangka Gumi bisa melakukan hal itu. Baiklah, yap... sip. Kebetulan aku sedang ada di sebelah Sir Len." Dia melirikku. "Sampai ketemu nanti."

Aku tidak bisa menebak dengan siapa dia bicara barusan atau apa yang dia bicarakan barusan. Yang jelas, sepertinya itu berhubungan dengan diriku, entah apa artinya itu. Aku menaikkan sebelah alisku untuk menunjukkan ketertarikan bahwa aku ingin diberitahu tentang apapun yang dia bicarakan barusan.

"Masalah sudah beres. Kaprodi musik klasik siap bertemu denganmu, Sir!" Kaito langsung memasang pose hormat padaku. "Anda hanya perlu membujuk mereka dan semuanya akan baik-baik saja. Sir Len akan kembali mengajar dan mahasiswa musik klasik akan baik-baik saja."

Aku tidak mengerti. "Maksudnya?"

"Barusan Meiko meneleponku. Dia dan Gumi berhasil membujuk Kaprodi untuk sekali lagi bertemu dengan Anda untuk membicarakan masalah yang entah kami tidak tahu apa." Kaito tersenyum lebar. "Sir akan membujuk mereka untuk bisa mengajar kami lagi bukan, Sir?"

Aku tersenyum tanpa bisa berkata apapun. Entah apakah ini sebuah keajaiban dari Tuhan atau apa, tapi aku ingin tetap berada di Utaunoda. Untuk mengajar para mahasiswa sebagai dosen, untuk melihat perkembangan mahasiswa musik klasik tingkat tiga sekarang yang menjadi angkatan yang kuajar pertama kali. Aku ingin melihat kesuksesan mereka.

"Tentu saja." Aku mengangguk.

Yah, walaupun punya sedikit motif lain juga yang berhubungan dengan cangkir kopi yang selalu ada di mejaku setiap paginya.

.

.


p.s: sampaikan pendapatmu (apapun itu) mengenai cerita ini yaa! :)