#20
"Ini dia Nakajima Gumi yang luar biasa pemberani!"
Aku langsung menundukkan kepalaku ketika mendengar Kaito berkata nyaring kepada seluruh mahasiswa jurusanku—kami hanya berjumlah dua puluh lima orang. Mataku langsung melirik Meiko yang berdiri di sebelahku. Sudah kuduga, dia akan memberitahu seisi kelas bahwa aku telah membujuk Kaprodi untuk kembali bicara dengan Sir Len.
Dengan satu perjanjian. Aku harus memenangkan lomba musik klasik yang diadakan sebulan ke depan baru Kaprodi mau bicara dengan Sir Len. Aku bahkan telah mengisi formulirnya tadi—sesuatu yang jarang sekali kulakukan karena aku tidak suka ikut lomba-lomba seperti itu. Aku sudah pasti kalah.
"Rasa suka memberikan seseorang kekuatan besar untuk dapat melakukan apapun demi orang yang disukainya."
Meiko tersenyum padaku. Yah, tidak ada salahnya. Setidaknya, sekarang aku tinggal berdoa semoga Sir Len berhasil bicara dengan Kaprodi dan para guru besar agar beliau tetap terus mengajar kami.
Agar aku dapat terus melihatnya sebelum kelulusan
Agar aku bisa memberikan kopi yang mampu membuat beliau merasa senang.
"Sir Len ada di dalam," Kaito berkata padaku sambil menunjuk ruang rapat di belakangnya. "Kita semua disini ingin menunggu hasilnya bersama-sama. Kamu bakalan ikutan bareng kita kan?"
Aku mengangguk pelan. Kurasakan wajahku memanas. Jika seandainya kemungkinan buruk terjadi, aku ingin ada di tempat dimana aku bisa melihat sosok Sir Len untuk terakhir kalinya.
"Sudah berapa lama memangnya beliau di dalam?" tanya Meiko.
"Empat puluh menitan. Aku nggak tahu mereka ngomongin apa di dalam, tapi kelihatannya sangat serius. Tadi aku bertemu dengan Sir Oliver yang langsung kita kerumuni ketika dia keluar dari ruang rapat."
Aku berani bertaruh bahwa Sir Oliver tidak akan mengatakan apapun.
"Beliau bilang Sir Len akan baik-baik saja, yang terpenting adalah kita tetap mendukungnya."
Sir Oliver bilang begitu? Kok... tumben ya? Rasanya kejadian dimana beliau bisa bersikap bijak sangat aneh.
"Bahkan seorang Sir Oliver pun nggak ingin kehilangan Sir Len bukan?" Meiko tertawa.
Aku juga ikut tertawa. Aku harap begitu, Sir Len akan tetap baik-baik saja apapun yang terjadi.
Pintu rapat tiba-tiba terbuka. Kami semua diam terpaku untuk melihat bahwa seseorang berambut pirang keluar dari ruangan itu. Dan... dan...
"Sir Oliver!" Meiko berdecih. Kecewa sekali. Dosen itu bukanlah dosen favorit semua orang. Dia adalah dosen yang pernah menantang semua mahasiswa musik klasik tingkat tiga—angkatanku—untuk memainkan lagu sulit dalam waktu dua minggu.
"Kalian tidak bosan menunggu memangnya?" tanyanya dengan ekspresi datar. Aku memperhatikan dia memegang map berisi kertas partitur. Apakah beliau sengaja kabur dari rapat atau apa yang beliau rencanakan?
"Memangnya masih lama, Sir?" Kaito balas bertanya dengan nada sopan.
"Bagaimana kalau kalian mengusir kebosanan? Pergi main-main dulu begitu."
Aku tidak suka cara beliau bicara untuk mengusir kami semua. "Tapi, Sir, kami ingin mengetahui informasi kejelasan Sir Len secepatnya."
Dosen pirang itu menatapku dengan iris kuning miliknya. "Kau Nakajima-san? Benar ya? Mahasiswi yang tidak pernah mengambil bagian apapun dalam konser maupun perlombaan?"
Aku tahu aku bukan orang penting dan super berbakat, tapi tetap saja, cara beliau memilih kata-kata membuatku merasa tidak nyaman.
"Ya, Sir."
"Kau setuju untuk berpartisipasi dalam lomba musik klasik bulan depan hanya untuk membujuk Kaprodi agar mau mengadakan rapat untuk Sir Len?"
"Dan kami semua juga telah membujuk semua guru besar untuk kembali mengadakan rapat," sahut Kaito cepat. Aku merasa teman-teman sekelasku tersenyum menyemangati.
Sir Oliver tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau begitu kalian harus bertanggung jawab."
"Maksudnya, Sir?"
"Buat mini konser sekarang juga."
"Hah?!"
"Yah, kalian adalah mahasiswa yang diajar oleh Sir Len pertama kali bukan? Kalau kalian benar-benar hebat, itu adalah bukti bahwa Sir Kagamine Len bisa mengajar bukan?"
Aku merasakan firasat buruk.
"Buat mini konser disini sekarang juga." Sir Oliver tersenyum dengan tatapan tajam. Dia kemudian mengulurkan map berisi kertas partitur tadi kepada Kaito. "Kau ketua kelas bukan, Shion-san?"
"Ya, Sir."
Aku mengintip judulnya. Rhapsody in Blue. Sir Oliver pernah memberi kami tugas untuk belajar partitur itu dalam semalam. Sebuah aransemen rumit dengan pola acak yang sulit diikuti.
"Kita akan buat mini konser dengan lagu Rhapsody in Blue? Seriusan, Sir?"
Sir Oliver tidak menjawab dengan mulutnya, melainkan dari tatapannya. Dia kemudian berpaling ke arahku. "Kalau kau bisa membuktikan diri dalam lagu ini, Nakajima-san—" aku merasa tegang saat itu juga, "—setidaknya Kaprodi bisa tahu bahwa dia telah memberikan kesempatan pada orang yang tepat, baik itu kau maupun Sir Len."
.
.
p.s: sampaikan pendapatmu (apapun itu) mengenai cerita ini yaa! :)
