2. here we start!
Akhirnya selesai jugaa… oh ya, ada yang belum aku kasih tahu di Chapter 1, yaitu Wormtail, nama aslinya si Pettigrew, tapi aku lebih suka panggil dia Wormtail, karena menurutku lebih pantes :p. OK, kita capcuss aja yuuk!
DON'T LIKE, DON'T READ!
Tidak tertarik? Tekan tombol X atau back!
Disclaimer: Harry Potter milik JK Rowling, kalau punya aku, ceritanya jadi kacauu…
Rated: K+
Genre: humor & advanture
WARNING: OOC, GAJE, ANEH, KESALAHAN PENULISAN, SIAPKAN KANTONG MUNTAH! DLL…
[EYANG VOLDY 2]
"Wormtail, kok tehnya lama banget sih?" Tanya Voldemort setelah menyelesaikan ceramah panjangnya karena penontonnya sudah karatan semua. "tadi serbuk tehnya kabur," jawab Wormtail ngasal. "oh,"(#oh? Hanya itu jawabanmu?) Voldy mengambil tongkat sihirnya, lalu berjalan ke suatu tempat. Wormtai diam saja, dia lagi bermain ular tangga dengan tikus got peliharaannya. Voldy berjalan santai ke arah Mall. Ia memasuki Mall tersebut dan mengambil sebuah jaket, baju, celana dan sepatu boots bergaya tokoh kesukaannya, Dora the explorer, (#WTH?) lalu lansung ber-appear kembali ke habitatnya. Ia memakai baju tersebut dan meminta Wormtail menilainya. "wadoooh… selera loe jelek banget Vold… ikut aku ke Mall sekarang!" mereka lalu ber-appear ke Mall dan membeli… eh, maksudnya mencuri dua buah baju bergaya Micheal Jackson dan sebuah mobil sedan. "whooaa… ini baru kereeeen…"kata Wormail, puas dengan kelakuannya. "oke deh, kalo gitu, ayo berangkat!" sambung Voldemort. "berangkat kemana?" bibir sang eyang Voldy membentuk sebuah smirk. Ia membisikkan Wormtail sesuatu. "ke… kesana?" Wormtail terkejut. Voldy mengangguk. "aku punya rencana," Mereka lalu menaiki mobil itu.
[di perjalanan]
Wormtail menyetel sebuah kaset yang pernah ia beli dari tabungan 20 tahunnya. Ia lalu memencet tombol "play". "myuuusiiiic!" katanya semangat. Musik mengalun…"A Be Gech ctuahh, cyintamu smakin ghilaaa…" Voldy sweatdrop melihat ulahnya. "lagu apaan toh? Sini, gue pilihin!" "sesuatchuuu yang adha di hatchiii…" "nah, ini baru enaak…" Wormtail sweatdrop. "Kalau begitu, enakan ini!" "heii heiii… khenapa kyamu nonton dangdut sukanya bhilang…" keduanya mengangguk senang, lalu menyanyi dengan suaranya yang konon, lebih buruk dari suara BeMars, Bebek yang berasal dari Mars, sebuah planet merah yang diyakini tempat asal Voldemort, Wormtail dan sejenisnya. "Bhuka dikit Jooshhh!"
"Vold," sahut Wormtail beberapa saat kemudian. "hn?" Voldemort melirik kearah Wormtail. "ini adalah dinding perbatasan dunia sihir dengan dunia biasa," katanya serius. Dihadapan mereka terdapatsebuah dinding yang cukup besar. Di depannya ada Hermione dan Harry sedang menjaga pintu itu. "Hermione," Harry membuka mulutnya. Hermione melirik kearah Harry, lalu mengangguk. Mereka mempersiapkan tongkat sihir dan diri mereka. "tenanglah, Harry, kita tidak akan menyakitimu jika kau dan gadis itu membiarkan kami melewati dinding itu," kata Eyang Voldy. "bukankah kita boleh keluar-masuk secara bebas?" lanjut Wormtail. "tidak akan! Dinding ini adalah batas dari magic world (dunia sihir) dan earth (bumi). Bumi adalah sekutu kita. Jika kalian kesana, Kalian akan menimbulkan kekacauan jika disana," tolak Hermione tegas. "kalau gitu, aku tidak punya pilihan," Voldemort mulai mengeluarkan tongkatnya.
"Avis!" sekawanan burung berterbangan dari tongkat Hermione. Voldemort berusaha keluar dari kawanan burung itu sebelum Harry menyerangnya. "Incedio!" semburan api melayang kearah Voldy. "Aguamenti!" air menyembur dari tongkat Wormtail dan meredakan api yang dikeluarkan Harry. "hey, itu Draco!" teriak Eyang Voldy sambil menunjuk sembarang arah. "hah? Mana?" Hermione mendadak error. "transfiguration!" simsalabim! Hermione dan Harry berubah menjadi 2 ekor kucing manis. Ia lalu mengurung kedua kucing manis itu dam menaruhnya di dekat sebuah pohon. "kalian disana dulu, kita akan kembali, tapi…" Voldemort menyeringai jahat. "setelah kita menguasai kedua dunia…"
[Inggris; London]
Voldy sedang memandang takjub permandangan kota London yang yang indah. Ia sedang berada di Mall yang cukup tinggi, sehingga dapat melihat permandangan kota yang bertempatan di Inggris ini. Namun tidak ada Nagini dan Wormtail yang biasa ada di dekatnya. Nagini sedang di tempat "Penitipan Ular,". Wormtail? Dia sedang ngambek di luar Mall karena hal yang terjadi sejam yang lalu.
Flashback
"kereeeen…" kata Wormtail setelah mereka keluar dari stasiun. Ia lalu berlari kearah Mall yang cukup tinggi. "hey, Tikus, tunggu!" Voldemort mau tidak mau mengejarnya. Wormtail dan Voldy sedang berjalan menuju pintu Mall ketika seorang satpam menghalangi mereka. "kenapa pak?" Tanya mereka. "kau tidak lihat?" jawab sang satpam menunjuk gambar hal hal yang dilarang dibawa ke Mall. "dilarang membawa HEWAN PELIHARAAN KEDALAM MALL! Apalagi TIKUS GOT RAKSASA kayak gitu!" "memang saya membawa binatang, hah?!" bentak Voldy kesal. ""tuh, tikus got nya…" sang Satpam dengan entengnya menunjuk Wormail yang sedang asik mengigiti meja di depan tempat satpam duduk saking senangnya (baca: keselnya) "oh ya, sama Ular sawah itu!" kata sang Satpam santai, membuat Nagini yang berada di kepala BMW (Botak Mulus Wow… :o) Voldemort nyaris, nyaris saja beranjak untuk menggigitnya sebelum menyadari bahwa kematian si Satpam menyebalkan dapat membuat keluarganya mengomel 7 hari 7 malam dan mereka akan melarat karena uang mereka dihabiskan untuk biaya pemakaman sang satpam yang siapa tahu bisa jadi hutang seumur hidup. Mau tidak mau si Jelmaan tikus got dan Ular tua tersebut keluar dari lingkungan Mall tersebut.
#Flashback off#
Setelah puas memandangi permandangan kota London tersebut, ia turun ke Lobby untuk mencari Nagini dan Wormtail… eh, maksudnya, dia HANYA mencari Nagini, apa pedulinya ia dengan Wormtail? Tapi, tuhan berkehendak lain. Yang duluan ditemukannya adalah si Ekor Cacing(#atau bahkan lebih buruk:D), Wormtail. Voldemort berbalik arah dengan gaya sombongnya bak Model Hollywood ketika melihat wajah temannya yang 11-12 dengan Petter prikiteuw (?) tersebut, membuat hati sang korban hancur berkeping keping, sehingga disapu oleh Bellatrix, dibuang ke PLTA, dijadiin makanan– (#ups, kebawa suasana… ^^) Wormtail memakai sihir 'Puppy Eyes' yang dapat membuat mata seseorang Katarak dadakan. Eyang Voldy menutup matanya sambil bilang, "Baik, kau ikut," dari pada matanya Katarak sebelum nikah :p… mereka pergi ke tempat penitipan Ular untuk menjemput Nagini.
"OOOIII, WARGA LONDON SEMUANYA!" teriak Voldy keras,(#ya iyalah, kan pake toa hasil colongan dari Masjid sebelah, tobat nak– eh, Kakek, tobat kek… tobat… mencuri itu tidak baik…) , membuat perhatian Warga London beralih padanya. "bapak-bapak, ibu-ibu, nenek-nenek, kakek-kakek, anak-anak, remaja, orangtua, pemuda, pemudi…" [2 jam kemudian] "bergabunglah dengan kami jika ingin hidup kalian bahagia dan selamat…" orang orang mulai memandang aneh orang itu. "hei, memangnya apa yang kamu punya, Yeti botak?" Tanya salah satu warga disitu sombong. Yang diejek menyeringai. "apa yang aku punya? Kau ingin melihatnya?" pria itu bertolak pinggang sombong. "tunjukkan apa yang kau punya," Eyang Voldy mengambil tongkatnya dan mengarahkannya kearah pria tadi. "Crucio!" teriaknya. "GYAAAAA! ADA APA INI?! HUAAAAAAAAA!" rasa sakit yang tidak tertahankan menyerang pria itu. Dia berteriak, berguling-guling, bahkan membentur-benturkan kepalanya ke dinding. (#author Sadist mode: on) 'kau yakin? Bagaimana jika dewan dan mentri sihir mencari kita?' bisik Peter resah. 'tenang saja, akan kuurus nanti,' "TOLONG HENTIKAAAAAAAN! GYAAA!" warga bergidik sambil menatap Eyang Voldy takut. Tiba-tiba, ada seorang pria lain mendekati sang Eyang yang menyeringai sadis. "kumohon… apapun itu, hentikan… saya idak ingin melihat teman saya itu menderita… saya bersedia bergabung dengan anda jika anda bisa menghentikannya…" ucapnya lirih sambil memohon pada Eyang Voldy. Voldy melipat tangannya di depan dada. "heh, maaf ya, kutukan Cruciatus tidak dapat dihentikan. Tapi, ada satu cara untuk menghentikan penderitaannya," Voldy mulai mengarahkan tongkatnya kearah pria itu lagi. "Avada Kedavra!" seketika, pria itu berhenti meronta dan tubuhnya memucat. Detak jantungnya mulai memelan. Pria itu meninggal seketika. (#Innalillahi wa Innalillahi Roji'un, pak, semoga bapak tenang di alam sana… O:) ) giliran Wormtail memberikan mantra imperio pada warga disana. "Jika kalian ingin selamat, hormatlah kepadaku dan Eyang Voldy! ikutlah denganku! Kita akan menguasai dunia bersama!" pidato Wormtail gak mutu. Warga disana mulai membungkuk hormat pada mereka.
"Harry? Hermione? Kalian disana?"
"meow…"
"panggil Mcgonagall secepatnya!"
"baik!"
Prof. Mcgonagall menghampiri lokasi dekat stasiun kereta api London tersebut. Dia lalu mengubah Hermione dan Harry menjadi wujud aslinya, seorang putri cantik nan pintar dan seorang pria kacamata bulat sebulat bulatnya badan Wormtail. "kita harus mencari Voldemort segera! Dia berencana menguasai kedua dunia!" kata Hermione tegas.
Tap tap tap
Terdengar langkah seseorang dari jauh. Hermione, Harry dan prof. Mcgonagall menoleh ke sumber suara. Seorang pemuda berambut merah, teman baik mereka bertiga, Ron. "hah… hah… hah…" nafasnya menderu karena habis berlari.(#ya iyalah… masa' habis terjun payung? Lagipula kenapa ga pake sapu terbang aja?) "hah… hah… kalian sudah… hah… dengar… kalau… hah…" Harry mengerutkan dahinya bingung. "Ron, atur nafasmu dulu…" Ron menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya, berusaha mengatur nafasnya. "para menteri sedang berusaha mencari seseorang, dia menggunakan sihir di dunia biasa itu… namanya apa ya? Ah, sudahlah… pokoknya kita juga harus membantu mereka mencari orang itu," Hermione mengangkat kepalanya, menghadap langit. "Voldemort, dia sudah keterlaluan," ucapnya.
"kita akan berangkat lusa,"
.
.
.
"hoaaaam…" Voldy membuka matanya, yang pertama dilihatnya adalah sinar matahari yang merembes masuk lewat jendela yang setengah terbuka. Ia lalu duduk di ujung tempat tidur. Sekarang dia berada di hotel bintang lima, tentu saja karena pengikut-pengikutnya itu. Wormtail dia suruh untuk mempromosikan groupnya, Death eaters atau pelahap maut di dunia sihir secara diam-diam, tentu saja. Dia mulai turun kebawah untuk makan. (#yuks! Tidak membersihkan diri dulu?!) setelah perut kenyang, dia mulai memikirkan rencananya dangan otaknya yang bodoh nan lemot tersebut. "menteri seharusnya sudah mulai mengincarku… sepertinya aku harus bersembunyi dulu…"
Hermione menghela nafasnya. "semoga keadaan tidak lebih buruk lagi… " gumamnya. Ia lalu menoleh kearah jendela, terdapat tiga tangkai bunga dan kertas kecil didekat jendelanya. Hermione berjalan kearah bunga itu, lalu menolehkan kepalanya ke jendela. Tidak ada orang. Perhatiannya kembali kearah bunga tersebut. Tiga bunga dengan jenis berbeda, Chrysanthemum putih, Akasia kuning dan tulip putih. 'apa artinya?' batinnya. Pandangannya kembali beralih pada surat itu. ia sedikit kaget melihat tulisan tangan di surat itu. 'bukankah ini tulisan tangan Draco? Apa artinya ini?' "kuharap ini bukan pertanda masalah… kau baik-baik saja 'kan, Draco?" gumamnya sambil berjalan keluar rumah.
"Mi dispiace, ti amo…"
To be continued
P.S
Yosh, cerita tergaje yang pernah kubuat… (#yaiyalah, ini kan satu satunya ceritaku -_-") hiks, apa yang telah kulakukan dengan Hermione?! Voldemort, kau akan membayarnya! Ah ya, Thanks yang udah membaca, mereview, apalagi yang telah me-favorite cerita ini makasih banget ya… yah, terima kasih sudah membaca, Review please! (#lagi males basa basi -_-")
