Hollaaaaa :D Author kembali dengan chapeter yang kedua wkwk

Untuk semua yang udah ngereview makasih banyak ya :D Author termasuk author baru jadi maapkan kalo karyanya masih radarada dan typo(s)^^a hehehe

Ini adalah balasan untuk Review sebelumnya :

Yuuka Changminnie : TBCnya memang kusengajakan begitu, Yuuuuu wkwkwk

Vic : Makasih buat koreksianya aku ngerasa kebantu banget! Bakal coba diperbaiki di part ini :D dan ya, alurnya emang kecepetan karena awalnya ini cerita oneshoot tapi ngga jadi dan jadilah part yang kacau seperti ini huwehehe

All yang bertanya Jae sakit ato ngga : Tentang hal ini akan dibahas secara perlahan disetiap chapeter ya :D karena itu ikuti terus! Wkwkwk

All : Makasih semuanya :DDDD Mohon dukungannya terus ya :DD

Oh iya untuk FF Back To Me sequel sedang inprogress ya :D semoga kalian suka :D

Sekarang let's begin the new story ...

.

.

.

Title : FATE

Author : cindyjung

Pairing : YunJae (Jung Yunho X Kim Jaejoong)

Genre : Sad, Romance

.

.

.

Love at first sight hm?

Apa itu benar benar sebuah perasaan? Atau hanya kata kata belaka?

#YunJae#

"Kim Jaejoong, apa kau menyukaiku?" tanya Yunho yang sontak membuat namja bermata besar itu semakin melebarkan matanya.

Jaejoong hanya terdiam menatapi namja yang kini juga tengah menatapnya. Suka? Mungkin ya. Tapi arti kata suka yang diucapkan namja ini sangat mengusik hati Kim Jaejoong. "Menyukai" apakah yang ditekankan Jung Yunho saat ini?

"Yun.. ah... kau ada tamu rupanya..." sanggah sebuah suara yang berasal dari arah punggung Jaejoong.

Keduanya mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara. Seorang yeoja cantik dengan rambut panjang menjuntai dan mengenakan pakaian berupa kemeja putih dan jeans biru donker yang menambah padu indah kulit dan kemeja yang dipakainya itu kini tengah berdiri dicelah pintu kamar Yunho.

"Fany ah..." kata Yunho seperti berbisik saat menatap yeoja itu kini tengah menatapnya ragu.

Jaejoong yang merasakan aura yang aneh saat kedatangan yeoja itu lalu mulai membuka pembicaraan.

"Ah, anni, aku hanya pasien ruang sebelah dan penasaran dengan pasien baru hehe" kata Jaejoong berusaha merubah suasana diantara mereka.

"Baiklah kalau kau sudah ada yang menjenguk. Aku pergi! Bye!" Kata Jaejoong seketika membangkitkan dirinya dari tempat tidur Yunho dan melewati yeoja yang dipanggil Fany itu sambil saling melempar senyum.

Dan kini hanya tersisa seorang Yunho dan seorang yeoja bernama Fany itu.

Yunho POV

Dia disini. Menatapku dengan tatapannya yang seperti biasa. Apa dia masih memperdulikanku setelah apa yang terjadi kemarin? Aku bahkan tidak habis pikir mata itu masih bisa membuat jantungku ini berdebar.. dan suara itu.. masih bisa membiusku dan membuatku menoleh lagi pada wajahnya.

Tiffany Hwang.. Kurasa aku memang masih mencintaimu..

"Apa kau baik saja, Oppa?" kata Fany sambil mendudukan dirinya pada kursi yang berada disamping tempat tidur pasienku

"Kau dapat melihatnya sendiri" kataku sedikit dingin padanya. Jujur saja sekalipun mata ini ingin memandangnya, sekalipun mulut ini ingin memasang senyum padanya, namun hati ini masih akan selalu sakit saat bersamanya. Bahkan terlalu sakit untuk mengakuinya.

"Kau masih marah um?" kata Fany masih menundukkan kepalanya

"Menurutmu?" kataku lagi kini sambil berusaha menatapnya datar

"Ya, kau masih" katanya sambil tersenyum dan turut berusaha membalas tatapan mataku

Tidak. Jangan menatapku seperti itu. jangan keluarkan air mata dari matamu itu. Hentikan air wajah yang bisa membunuhku perlahan itu. Fany ah, kumohon jangan menangis.

"Jangan menangis" kataku sambil sedikit menghelakan nafasku

Semakin terdengar deru nafasnya yang mulai tidak teratur dan akhirnya air mata itu terjatuh dari mata indahnya. Tidak. Jangan menangis. Kumohon.

"Maafkan aku, Oppa" kata Fany masih menundukkan kepalanya sambil berusaha menahan tangisnya agar semakin tidak menjadi

Aku mengangkat tanganku yang bebas dan kuarahkan telapak tanganku pada wajahnya. Kuhapus perlahan jejak air mata itu diwajahnya yang membuat tubuhnya sedikit melonjak dan sambil menghela nafas sejenak aku menarik kedua ujung bibirku dan mengulas sebuah senyum disana.

"Jangan menangis, Fany ah.." kataku kemudian sambil menatapnya yang masih menangis tersedu

"Maafkan aku..." katanya lagi masih mengeluarkan air mata itu

"Aku tau.. aku memaafkanmu..." kataku sambil menatap mata yang masih mengeluarkan bulir air yang jernih itu

Tidak. Aku tidak bisa tidak memaafkannya. Aku terlalu mencintai yeoja ini. Tiffany..

Yunho POV End

#YunJae#

"Kau tidak makan?" kata Yoochun ketika menatap makanan milik Jaejoong masih utuh

"Anni, aku sedang tidak lapar.." kata Jaejoong sambil menatap kosong pandangan didepannya

Jaejoong masih merasakan jantungnya berdegup dengan kencang karena perkataan Yunho tadi.

"Kim Jaejoong, apa kau menyukaiku?"

"Suka?" batin Jaejoong .

"Kim Jaejoong" kata Yoochun mengagetkan Jaejoong. pikiran pikiran aneh Jaejoong tentang Yunho menghilang seketika ketika Yoochun menyebutkan namanya.

"Ne?" kata Jaejoong singkat.

"Apa kau tidak berpikir untuk kembali ke Chungnam?" kata Yoochun sambil menatap Yoochun serius.

Jaejoong kembali terdiam. Kini jantungnya kembali berdegup kencang namun lebih keras daripada saat Yunho mengatakan hal itu padanya. Seketika pikiran pikiran yang ingin dilupakannya kembali berkelibat didalam kepalanya dan kembali mengusik hatinya.

"Aku.. berusaha untuk menyembuhkan semuanya disini.. terutama ini.." kata Jaejoong sambil menyentuh dadanya yang acap kali terasa sakit ketika mengingat masalalunya di tempat asalnya itu.

Yoochun hanya menatap tempat yang tengah disentuh oleh Jaejoong itu. ia mengerti bahwa dibalik sebopong daging itu terdapat sesuatu yang rapuh dan menimbulkan nyeri dan kesakitan melebihi sakit yang dirasakan dadanya.

"Masih belum bisa melupakannya hm?" kata Yoochun menatap Jaejoong lagi

"Belum.. dan kurasa tidak akan pernah Yoochun ah.." kata Jaejoong dengan air wajah yang begitu terluka

"Bukan tidak akan pernah Jaejoong ah, hanya belum" kata Yoochun kemudian menatap sahabatnya lagi

Yoochun sedikit menghelakan nafasnya sebelum akhirnya mengacak rambut sahabatnya itu dan meraih makanan dihadapannya.

"Jaejoong Oppa, makanlah makananku ini yaa" kata Yoochun sambil bertindak aegyo yang seketika membuat Jaejoong merasa geli dan lalu tertawa

"Aku tidak mau makan dari yeoja jadi jadian sepertimu" kata Jaejoong sambil tertawa dengan menutupi mulutnya yang dibalas tatapan kesal dari Yoochun

"Kau pikir diantara kita berdua siapa yang lebih cantik eoh?" kata Yoochun kesal

"Ne, ne, maafkan aku, Yoochun Opppa" kata Jaejoong sambil berlagak aegyo seperti yang baru saja dilakukan Yoochun

"Ya, ya, lihat kau lebih cantik bukan?" kata Yoochun sambil tertawa

"Aish, berhenti mengatakan kata cantik, kau membuatku semakin kehilangan selera" kata Jaejoong serius

"Hahaha, baiklah. Hentikan. Jja! Sekarang waktunya makan! Aaaa" kata Yoochun berusaha menyuapkan makanan pada Jaejoong

"Aaaaaamm" kata Jaejoong sambil memakan dengan nikmat makanan dari Yoochun

"Kau makan dengan begitu lahap kenapa kau mengatakan kau sedang tidak lapar eoh?" tanya Yoochun yang seketika membuat Jaejoong tersedak

Pikiran pikiran akan perkataan Yunho yang berhasil menggetarkan hatinya kini terbayang kembali. Rasa hangat menjalar bahkan hingga ke wajahnya.

"Ya! Ya! Kau ini kenapa? Tersedak sampai seperti itu! Ini! Minumlah!" kata Yoochun sebari menyodorkan segelas air putih kemulut Jaejoong

Jaejoong meneguk air dalam gelas itu hingga setengahnya dan meredakan sesaknya karena tersedak. Ia semakin merasakan jantungnya bergetar halus. Apakah seorang Kim Jaejoong tengah merona lagi karena Jung Yunho?

#YunJae#

Dikamar biasa yang tak jauh dari kamar Jaejoong, kini tampak seorang namja yang juga tengah menikmati makan siangnya -lebih tepatnya makan siang pasiennya-. Jung yunho kini juga tengah menikmati makanannya sambil disuapi oleh yeoja yang baru saja menangis dihadapannya itu. tangan kananya tidak dapat dengan bebas bergerak karena kecelakaan tersebut. Yunho menikmati makanan tersebut sambil menatap wajah yeoja yang dicintainya itu. Yeoja yang mungkin akan selalu dicintainya.

"Ah, ya, Oppa, apa aku tadi sedang mengganggu kalian?" tanya Fany tiba tiba

"Mengganggu siapa?" kata Yunho yang sesungguhnya memang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Tiffany

"Kau dengan temanmu tadi. Pria yang manis itu" kata Fany kemudian yang membuat Yunho tersadar

"Ah, maksudmu Kim Jaejoong?" kata Yunho kemudian sambil merasakan kembali jantungnya berdegup dengan pelan ketika mengingat wajah cantik dan pesona Kim Jaejoong yang sudah menarik perhatiannya sejak awal.

"Mungkin? Apa dia sakit juga?" tanya Fany lagi dengan penasaran

"Eh? Sakit?" pekik Yunho kaget

"Eh? Masa kau tidak tau? Bukankah tadi dia bilang 'aku hanya pasien ruang sebelah' berarti dia pasien disini juga bukan?" tanya Fany lagi

Yunho hanya terdiam. Jujur saja saat Jaejoong datang menghampiri ruangannya ia tidak melihat pakaian apa yang Jaejoong kenakan saat itu. Yang Yunho tau hanyalah wajah cantik itu kembali menyapa matanya kala ia membuka mata saat itu.

"Kim Jaejoong, apa kau menyukaiku?"Seketika perkataan yang pernah terucap dimulutnya kembali terlintas dikepalanya

"Apa yang baru saja kukatakan?" batin Yunho panik

TRRRRRTTTT! Getar sebuah telepon genggam membuat Yunho tersadar dari lamunannya dan mengarahkan kepalanya pada asal getaran yang ternyata adalah ponsel Tiffany.

"Ne, Yeobo, aku kesana segera. Ne, annyeong" kata Fany kemudian menutup sambungan ponselnya

"Itu.." belum selesai Yunho mengucapkan kata-katanya, Fany sudah menyanggahnya terlebih dahulu

"Changmin ah" sanggah Fany dengan air wajah yang sedikit terlihat lebih sendu

"Aku harus pergi sekarang, tidak apa kan Oppa?" tanya Fany meminta ijin pada Yunho

"Tentu saja" kata Yunho sambil menarik ujung bibirnya dan membentuk senyumnya pada Fany

"Gomawo, Yunho Oppa.. Annyeong" kata Fany yang membungkuk kecil sebelum meninggalkan tempat rawat Yunho

Setelah Fany meninggalkan tempat itu, seketika Yunho menghela nafas yang terdengar sangat berat. Seakan beban pada dadanya sudah tidak bisa ditahan lagi dan menyebabkan sesak pada dadanya. Yunho sangat mencintai yeoja itu.. Tapi.. ternyata bahkan yeoja itu tidak dapat menunggu hingga dua tahun dan telah menikah dengan namja lain. Miris memang. Tapi apa lagi yang dapat diperbuat Yunho? Meminta Fany menceraikan namja bernama Shim Changmin itu? Yang benar saja.

Seketika pikiran Yunho teralih saat memikirkan pembicaraan terakhirnya dengan Fany. Kim Jaejoong. Apa dia pasien disini juga? Apa yang terjadi padanya? Rasanya bagi Yunho pria itu selalu menarik dimatanya. Dan baginya, Jaejoong adalah misteri yang ingin selalu dipecahkannya.

#YunJae#

Kim Jaejoong sedang merapikan pakaiannya dari kamar inapnya dirumah sakit ke dalam koper sampai mata doenya itu menangkap sebuah sosok yang sangat tidak asing baginya.

"Yoochun ah, aku keluar dulu ne?" kata Jaejoong lalu meninggalkan Yoochun sendirian

"Ya! Ya! Yang kubereskan ini baju siapa sebenarnya! Ya! Kim Jaejoong! Aish" kata Yoochun kesal karena Jaejoong menghilang dengan begitu cepatnya

Sementara langkah kaki Jaejoong membawanya kesebuah taman yang tak jauh dari rumah sakit dan membuatnya berhasil menemukan sosok yang sedari tadi dicarinya. Sosok yang berhasil membuat dadanya bergetar.

"Jung Yunho!" Panggil namja itu yang berhasil membuat orang yang dipanggil menoleh

"Jaejoong ah?" kata Yunho kebingungan

"Ya, ini aku. Kenapa kau sudah berjalan jalan disini? Bukankah kau masih sakit?" Tanya Jaejoong bertubi tubi

"Aku bosan dikamar jadi aku memutuskan untuk berjalan jalan. Ah, sakitku kan tidak separah itu, lagipula kakiku baik baik saja dan masih bisa kugunakan untuk berjalan. Ah, kau sendiri? Sedang apa disini?" jelas Yunho kemudian lalu bertanya balik pada Jaejoong

"Aku? Untuk bertemu denganmu" jawab Jaejoong

"Eh? Ada angin apa kau ingin menemuiku?" tanya Yunho lagi

"Aku ingin berpamitan" jawab Jaejoong lagi

"Eh? Kau sudah mau pergi?" pekik Yunho kaget

"Ne! Hari ini aku sudah boleh pulang hehehe" kata Jaejoong bangga

"Aish, ini tidak adil! Aku baru saja masuk dan kau akan keluar. Tsk" kata Yunho kesal

"Aigo, kenapa kau terlihat kesal sekali hm? Aku kan tidak pergi kemana mana hanya pulang. Lagipula kita masih berada di satu kota bukan berarti kita tidak bisa bertemu bukan?" kata Jaejoong kemudian

"Jadi.. apa kau sudah percaya pada takdir?" kata Yunho kemudian yang membuat Jaejoong terdiam

"Aku tidak suka saat kau menyebutnya takdir. Aku hanya bisa percaya kalau kita bisa bertemu lagi" jawab Jaejoong pasti

"Baiklah, berarti ada kemungkinan kita bertemu lagi bukan?" kata Yunho penuh harap

"Tentu saja" jawab Jaejoong sambil menampilkan senyumnya

"Semoga itu benar benar terjadi ne, Kim Jaejoong" kata Yunho dengan penuh harap

"Yah, aku harap juga begitu" kata Jaejoong sambil menghembuskan nafasnya ringan

"Kalau begitu sampai jumpa, kalau nanti kita bertemu lagi mungkin kau baru akan percaya bahwa kita ini sudah ditakdirkan hahaha" kata Yunho penuh percaya diri

"Hahaha, kita lihat saja nanti. Baiklah, annyeong!" kata Jaejoong sambil melambai pada Yunho dan membalikkan badannya. Suasana saat itu sangat tidak asing bagi mereka. Rasanya seperti saat pertama kali mereka berpisah diterminal bus Seoul waktu itu.

"Kita ini sudah ditakdirkan"

Sebuah kata yang tanpa sadar diucapkan Yunho kini kembali bergeming dikepalanya. Entah mengapa ia bisa dengan yakin berkata hal seperti itu padahal namja dihadapannya itu bukanlah seseorang yang sudah lama ia kenal. Ataukah... Sudah?

"Kata kata macam apa itu, Jung Yunho" batin Yunho sambil merutuki dirinya sendiri.

#YunJae#

Jaejoong POV

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ya, hari ulang tahun seseorang yang sudah cukup lama bertengger dihatiku. Seseorang yang sudah cukup lama mengisi hatiku. Dan seseorang yang juga sudah cukup lama meninggalkan tempatnya disinggasana hatiku. Maksudku benar benar meninggalkannya.

"Saengil chukkae hamnida.. Saengil chukkae hamnida.." senandungku sambil menepukkan kedua telapak tanganku

Aku menatap wajahnya disana. Wajahnya yang sedang tersenyum. Wajah yang akan selalu aku rindukan dan bahkan aku rindukan hingga kini.

"Selamat Ulang Tahun, Dara ya" kataku sambil mencoba menyodorkan sebuah kue dengan lilin diatasnya tersebut

"Aku harap kau bisa melihat kue ini dan meniup lilinnya bersamaku" kataku lagi sambil menatap wajah itu

Aku sedikit menarik ujung bibir sebelah kananku dan mendengus pelan. Ada apa denganmu Kim Jaejoong? Meniup lilin ini bersama? Apa kau sudah gila? Bahkan wajah yang kau lihat ini, bukanlah wajah yang seharusnya kau lihat sebagai yeoja yang kau cintai seperti dulu.

"Ternyata kau masih merayakannya, eoh?" sebuah suara mengagetkanku dari arah punggungku

"Yoochun ah.." kataku sedikit lemas kala menatapnya. Yoochun pasti tau apa yang sedang kurasakan kini

"Aku mengeluarkanmu dari rumah sakit bukan untuk melihatmu menjadi semakin melemah seperti ini" kata Yoochun dan mengambil posisi duduk disampingku

Aku masih terdiam sambil menundukkan kepalaku.

"Kau jauh jauh datang ke Seoul bukankah untuk mengobati luka hatimu? Tapi melihatmu masih terduduk dengan sebuah kue dan lilin diatasnya sambil bernyanyi dihadapan sebingkai foto, apakah itu yang namanya mengobati?" kata Yoochun yang sedikit menyentil hatiku

"Yoochun ah..." kataku berusaha menatapnya

"Kim Jaejoong, mulailah hidupmu yang baru. Carilah seseorang yang baru. Orang yang bisa kau cintai dan mencintaimu. Bukalah mata dan hatimu untuk sesuatu yang baru. Apa kau mau menghabiskan sisa hidupmu dengan sebuah kesakitan?" kata Yoochun kali ini yang benar benar menyentil hatiku dan membuatku benar benar terdiam.

"Tidak harus cinta, tapi... temukanlah semangat hidupmu yang lain" lanjut Yoochun yang masih kubalas dengan sebuah keterdiaman

"Aku merindukan Kim Jaejoong saat sebelum dia datang" kata Yoochun sambil menghelakan sedikit nafasnya

Aku masih terdiam dan tertunduk sambil memikirkan kata-kata Yoochun. Ya, memang benar, aku harus menemukan sesuatu yang baru dalam hidupku. Sesuatu yang bisa membuatku menghabiskan sisa hidupku dengan lebih baik.

Sesungguhnya pun... Aku merindukan aku yang dulu..

"Apa kau percaya takdir?" sebuah kata yang sesungguhnya sangat aku sangkal pun kini tengah menggema dalam kepalaku. Entah mengapa dalam keadaan seperti ini aku malah memikirkan hal yang sangat aku tolak.

Takdir. Adalah sesuatu yang paling aku benci. Karena ia telah membuatku terluka. Tapi apakah kali ini aku boleh mempercayainya lagi?

"Jung Yunho" ucapku lebih seperti berbisik

Jaejoong POV End

#YunJae#

"Shim Changmin apa yang kau inginkan sekarang eoh?" kata Jaejoong sambil menatap namja yang kini tengah tersenyum begitu lebar didepannya

"Karena hyung sudah pulang, aku sangat menginginkan masakan buatanmu hyung" kata namja yang lebih tinggi darinya itu pada Jaejoong

"Ya! Ya! Ya! Belum ada seminggu Jaejoong pulang kau langsung saja meminta ia memasak. Mintalah pada istrimu!" protes Yoochun

"Aish, Yoochun Hyung ini, aku kan sudah lama sekali tidak makan masakan Jaejoong Hyung! Lagipula hari ini Fany seedang mengantar temannya yang sedang sakit pulang jadi ia tidak akan membuatkanku makan siang!" kata Changmin menjelaskan panjang lebar

"Ah ya, aku belum pernah melihat istrimu, Min. Apakah dia cantik?" kata Jaejoong kemudian sambil memasang wajah yang antusias

"Tentu saja ia cantik! Diakan istriku! Hahahaha" kata Changmin bangga

"Hmm, seandainya saja aku datang ke pernikahanmu ya, aku pasti bisa melihatnya" kata Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya

"Hahaha, aku memahamimu hyung, tak apa kalaupun kau tidak datang ke pernikahanku, setidaknya kali ini kau bisa melihatnya setelah kau pulang dari rumah sakit" kata Changmin penuh perhatian

"Terimakasih, Changmin ah" kata Jaejoong merasa terharu dengan kata kata Changmin

"Nah, akukan sudah memahamimu hyung, jadi kapan kau akan memahamiku?" tanya Changmin sambil memegangi perutnya dan sedikit memeletkan lidahnya pertanda lapar

"Aish, ternyata kau ada maksud tertentu eoh? Baiklah baiklah, aku akan membeli bahan disupermarket dulu, nanti akan kusiapkan masakan yang terlezat untukmu" kata Jaejoong sambil menekankan kata lezat

"Semoga kau tidak lupa cara memasak hyung" kata Changmin sedikit horor

"Hahaha, tidak akan. Masak adalah keahlianku bukan? Baiklah, aku pergi dulu" kata Jaejoong sambil bersiap siap dan lalu meninggalkan Yoochun dan Changmin didalamnya

Jaejoong melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen Changmin dengan sedikit terburu buru menuju lift. Sesaat saat pintu lift terbuka Jaejoong melihat wajah yeoja yang tidak asing dimatanya. Rasanya ia pernah melihat yeoja itu tapi.. Dimana?

"Apakah kau tidak akan masuk?" kata yeoja itu ramah

"Ah, ne" kata Jaejoong tersadar dari lamunannya dan memasuki lift

Saat setelah ia masuk, yeoja yang tadinya berada didalam itupun keluar.

"Eh?" kata Jaejoong reflek

"Ah, aku adalah penghuni lantai ini, tadi aku menunggu didalam karena kau tidak kunjung masuk dan aku takut pintu lift itu tertutup, jadi aku tetap didalam sambil menekan tombol "buka"" jelas yeoja itu panjang lebar

"Ah, gomawo" kata Jaejoong sambil membungkuk kecil

"Baiklah kalau begitu, annyeong" kata yeoja itu sambil tersenyum lalu memunggunginya dan pergi

Sementara Jaejoong masih terdiam dan berusaha mengingat yeoja itu namun tidak juga dapat ia pikirkan siapa dan dimana ia bertemu yeoja itu.

"Masa bodoh" batin Jaejoong

#YunJae#

"Hmmm... kurasa Changmin akan menyukai ini.. Ini.. dan.. ah, aku lupa dia suka pedas atau tidak ya? Ah sudahlah kubeli saja" kata Jaejoong sambil sibuk memilihkan bahan bahan yang akan dia gunakan untuk memasak makanan di apartement Changmin

"Nafsu makanmu besar juga eoh?" kata sebuah suara yang cukup membuat Jaejoong terpaku sebentar dan lalu berpaling kearah suara dihdapannya

"Jung Yunho?!" pekik Jaejoong kaget

"Ya! Kenapa kau harus berteriak seperti itu eoh?" kata Yunho sedikit mengeluh ketika mendapati ekspresi Jaejoong yang tidak terduga

"Ah, mian. Sedang apa kau disini?" tanya Jaejoong dengan sedikit gugup. Lagi, jantung itu berdegup pelan dan lembut seperti biasanya saat menatap namja dihadapannya ini

"Aku sedang mencoba membeli makanan instant" kata Yunho menjawab seadanya

"Kapan kau keluar dari rumah sakit?" tanya Jaejoong lagi

"Baru saja hari ini hahaha. Ahhh, kau membeli bahan makan begini banyak apa ada pesta dirumahmu?" tanya Yunho yang kini tengah memakai pakaian santainya itu antusias

"Anni, hanya ini untuk sepupuku yang baru saja kukunjungi. Dia memintaku memasak makanan dan inilah yang akhirnya kubeli. Kau tau? Nafsu makannya sangat banyak" kata Jaejoong berusaha menjelaskan

"Hahaha, oh ya? Memangnya kau bisa memasak?" tanya Yunho penasaran

"Kalau aku tidak bisa memasak untuk apa Changmin memintaku memasak?" kata Jaejoong kesal

Jaejoong sedikit mempoutkan bibirnya yang hanya dibalas sebuah senyum geli diwajah Yunho

"Baiklah, baik, aku percaya kau bisa memasak. Mungkin lain kali kau bisa memasakanku makanan hahaha" kata Yunho sambil tertawa

"Kau mau? Biar aku buatkan juga. Makanan instant tidak baik bagi orang yang baru keluar dari rumah sakit" kata Jaejoong menawarkan

"Benarkah? Apa kau yakin?" tanya Yunho ragu

"Tentu saja, aku tidak keberatan, bukankan kita ini teman hm? Apa rumahmu didekat sini?" tanya Jaejoong kemudian

"Ya, aku tinggal disebuah aprtement didekat sini. Aku baru pindah beberapa hari yang lalu, kau sendiri?" tanya Yunho balik

"Aku tidak tinggal disini, hanya saja aku sedang mengunjungi apartement sepupuku. Kau tinggal diapartement juga?" tanya Jaejoong lagi

"Ya, aprtement Dong Bang" jawab Yunho

"Ah! Sepupuku juga tinggal disana! Begini saja, beritahukan aku kau tinggal dilantai berapa dan nomer berapa, maka aku akan mengantarkan makananku padamu!" kata Jaejoong kemudian

"Apa kau yakin? Aku tidak merepotkanmu bukan?" tanya Yunho lagi ragu

"Aish, tidak apa, mungkin setelah ini kita akan sering betemu bukan? Jadi kita harus mulai menjaga tali persahabatan kita" kata Jaejoong sambil memasang senyum diwajahnya

"Tali persahabatan... atau.. tali takdir kita?" Goda Yunho yang berhasil membuat rona tersebut kembali tercetak di wajah Jaejoong

"Aish, apa yang kau bicarakan itu huh?" kata Jaejoong sedikit terbata karena gugup

"Hahaha, kenapa kau gugup begitu? Ah, sudahlah, apakah sepupumu itu tidak sedang menunggu masakanmu? Sebaiknya kau cepat pulang" kata Yunho berusaha mengalihkan pembicaraan saat melihat kegugupan Jaejoong

"Ah kau benar juga! Aku harus segera pergi!" kata Jaejoong panik sambil mengambil beberapa bahan masakan yang tersisa sambil kemudian kembali menatap Yunho

"Tuliskan lantai dan nomor apartement mu, aku akan memberikanmu masakanku" kata Jaejoong sambil merogoh sedikit saku jaketnya sambil menyerahkan sebuah bolpen pada Yunho

"Menulis dimana?" tanya Yunho polos

Jaejoong menarik sedikit lengan jaketnya dan lalu menyerahkan tangan kirinya kehadapan Yunho sementara Yunho hanya tertegun melihat tangan Jaejoong yang diarahkan padanya.

"Tulis saja disini" kata Jaejoong kemudian sambil menatap tangannya dan Yunho bergantian

Yunho awalnya terdiam sejenak sebelum akhirnya menggenggam tangan Jaejoong dan menuliskan sebuah angka dan huruf disana. Debar jantung Yunho bergetar sangat hebat kala itu. Ini pertama kalinya namja itu menyentuh tangan namja yang telah berhasil menarik perhatiannya sejak awal. Dan sesuai dugaannya, tangan ini begitu halus dan putih tanpa cela. Kim Jaejoong mengapa kau begitu cantik dimata seorang Jung Yunho?

"Itu dia, maaf telah mengotori tanganmu" kata Yunho kemudian berusaha menutupi kegugupannya

"Tidak apa, inikan mauku. Baiklah, aku harus pergi sekarang, kau lanjutkan belanjamu tapi jangan membeli banyak makanan instant ne? Aku pergi dulu!" kata Jaejoong penuh perhatian lalu berpaling dan meninggalkan Yunho lagi

Setiap kali selalu saja seperti ini. Namja manis itu yang selalu pergi dan meninggalkan Yunho sendirian. Tidak ada perasaan khusus selain debaran debaran kecil didada Yunho setiap kali ia bertemu dengan namja manis itu. hanya saja setiap kali namja itu meninggalkannya, seakan namja itu merasakan kehilangan. Jung Yunho, ada apa denganmu?

#YunJae#

TINGTONG

Suara bel pintu aprtement itu seketika membuat sang pemilik mengalihkan perhatian pemiliknya kepada asal suara. Terlihat disebuah layar yang berada didalam apartementnya itu seorang yang tengah membawakan serantang makanan didalamnya.

"Apa yang dia lakukan disini?" tanya seorang yang sedang berada didalam aprtemen itu sambil menggaruk tenguknya yang tidak gatal

Yunho membuka pintu sambil memandang malas pada pemandangan didepannya. Seorang yeoja dengan serantang makanan ditangannya berdiri tegap didepan pintu itu dan memasang senyum manisnya disana.

"Fany ah, apa yang kau lakukan disini?" tanya Yunho pada seorang yeoja dihadapannya

"Aku hanya membuatkanmu sebuah makanan, Oppa. Kau baru saja keluar dari rumah sakit jadi kurasa kau tidak sempat membuat makanan sendiri" kata Fany penuh perhatian

"Aku sudah membeli cukup banyak makanan instant jadi kau tidak perlu repot repot" kata Yunho datar namun sejujurnya dalam hatinya ia merasa sangat sakit saat mengucapkan nada sedatar dan tampang semalas itu

"Makanan instant? Itu tidak baik untuk kau yang baru keluar dari rumah sakit Oppa!" kata Fany sedikit kesal sambil memaksa masuk kedalam aprtement Yunho

"Ya! Fany ah!" kata Yunho berusaha menghalangi Fany namun gagal

Yunho menutup pintu aprtementnya dan mengejar Tiffany yang kini sudah ada diruang tengah aprtementnya. Yunho menarik lengan Fany dan berusaha menghentikan apapun kegiatan yang akan dilakukan Fany nantinya

"Fany ah!" kata Yunho sambil menarik lengan Fany dan membuat pemilik tubuh itu berpaling padanya

"Oppa! Walau aku bukan siapa siapamu lagi, tapi bolehkan aku masih memperhatikanmu?" pekik Fany dengan muka memelas dan bulir air mata disana

"Fany ah.." kata Yunho dengan suara yang muali mereda

TING TONG!

Kembali suara bel pintu berbunyi dan mengusik orang orang yang berada didalmnya. Yunho yang tadinya sedang menatap Fany kini teralihkan pada layar yang berada didekat pintu masuk apatementnya itu. Sebuah wajah yang daritadi ia nantikan kini terpampang jelas pada layar itu. Degup jantung Yunho mau tak mau kembali terasa namun kali ini terasa lebih berat. Lebih berat karena ada Fany didalam apartementnya.

"Ya! Jung Yunho! Ini aku, Kim Jaejoong!" kata seorang dari luar apartement

Apa yang akan dipikirkan Jaejoong bila melihat Fany dalam apartementnya? Jung Yunho, apa kau sedang panik sekarang?

TBC

#YunJae#

Eaaaaa dan inilah cerita yang alurnya makin ngacoooo wkwkwkw

Mian kalo pada ga ngeh pada cerita ini, karena author itu memang suka mempermainkan alurnya Wkwkw

Mian juga kalau disini adegan Yunjaenya kurang, soalnya chap ini lagi pengenalan konflik antara masing masing tokoh terutama YunJae wkwkwk

Dan maaf kalau masih ada salah dan typo(s) ^^a

Mohon reviewnya ya, supaya author dapat memperbaiki kesalahan author! Terimakasih sebelumnya sampai jumpa di next chap! *bow* :D