Alohaaa Cindy kembali membawa new chapter fari fanfiction ini! hehehe Cukup dengan kata "author" dan "reader" nya biar lebih santai kita panggil nama saja hehehe

Maaf bagi yang sudah lama menunggu , karena Cindy UN dulu wkwk nih. Setres banggeeettt *curhat

Balasan untuk review kali ini untuk semuanya : Makasih yang udah mau ngereview! ^^ emang disini ceritanya gak complicated dan agak memutar otak. Sejujurnya kalo serius dibaca pasti udah bisa ketebak ini alurnya kaya apa hhehe . Cindy udah kasih beberapa clue loh di ff *winkwink* wkwkw

Dan maaf kalo make karakter Fanny disini soalnya bingung juga mau masangin Yunho sama siapa dan kepikiranlah iklan Haptic ._. walaupun disini Fannynya nikah ama CM huwehehe

but sekali lagi makasih atas semuanya :D

Now let's begin our new story..

.

.

.

Title : FATE

Author : cindyjung

Pairing : YunJae (Jung Yunho X Kim Jaejoong)

Genre : Sad, Romance

.

.

.

Who do you think you are?

Who do you think I am?

There was no us anymore.

Just you. And me.

#YunJae#

"Ya! Jung Yunho! Ini aku, Kim Jaejoong!" kata Jaejoong sambil menggedor pintu apartement itu perlahan

Setelah beberapa memanggil nama namja yang tinggal di apartement itu akhirnya pintu apartement terbuka sedikit dan menunjukan wajah sang pemiliknya.

"Lama sekali, kau sedang apa?" tanya Jaejoong penasaran

"Aku.. dari kamar mandi.. hehehe" kata Yunho sambil tertawa garing dibagian akhir kalimatnya

"Ada apa dengan wajahmu itu eoh? Aneh sekali" tanya Jaejoong lagi yang semakin menunjukkan wajah panik milik Yunho

"Aniyo" kata Yunho lalu menunduk dan terdiam sebentar

"Ah! Mau apa kau kemari?" tanya Yunho sambil kembali menegakkan kepalanya

"Kau ini bagaimana? Aku datang kesini jelas untuk membawakanmu makanan bukankah tadi aku sudah bilang padamu?" kata Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya

DEG! Jantung itu kembali bergetar dengan hebatnya. Degupan panik yang sedari tadi Yunho rasakan kini sirna dan berubah menjadi degupan yang bagi halus dan menyenangkan. Tingkah namja yang berada dihadapannya ini memang selalu menghiburnya.

"Benarkah? Aih, kurasa aku sedikit lupa" kata Yunho sambil menatap Jaejoong sambil berusaha sedikit menggodanya

"Astaga, ternyata kau itu menderita pelupa akut huh? Belum ada satu hari kita membahas soal mengantarkan makanan dan kau sudah melupakannya? Astaga Jung Yunho~" kata Jaejoong sambil memainkan mimik mukanya yang semakin menghibur Yunho

"Hahaha, hanya bercanda, tentu saja aku ingat" kata Yunho sambil mengedipkan matanya sedikit yang membuat tubuh Jaejoong mau tidak mau membatu dengan sendirinya

"Eum.. Jadi.. apa kau tidak akan menyuruhku masuk?" kata Jaejoong gugup sambil mencari topik pembicaraan lain.

Wajah panik Yunho kembali kala Jaejoong mengatakan hal tersebut. Sebelumnya ia memasukan kepalanya lebih dahulu kebalik pintu dan melihat kondisi dalam aprtementnya. Aman.

"Masuklah" kata Yunho dengan wajah yang cukup panik sambil membukakan pintu itu lebar lebar dan membiarkan Jaejoong masuk

Jaejoong POV

Aku melangkahkan kakiku memasuki apartement Jung Yunho dengan sedikit ragu. Rasa penasaran, takut dan senang sekaligus menghampiri dadaku dan membuatnya berdebar dengan tidak karuan. Sesaat saat aku menatap dalam apartementnya adalah benar benar apartement seorang pria. Tidak terlalu rapi namun tidak juga berantakan, ada sedikit kesan "nakal" yang kutangkap dengan segala barang yang terpajang disetiap sudut ruangan.

"Kau sendirian saja?" kataku sesaat tanpa menatap wajahnya

"Eh?" kudengar nada suaranya yang tampak terkejut itu

"Ah, maksudku, apa kau tinggal sendirian?" tanyaku kali ini sambil menatap wajahnya

"Ah, ne" jawabnya singkat

"Hm.. tidak terlalu buruk untuk seorang pria yang tinggal sendirian. Kau masih bisa menjaga kesan rapi apartement ini" kataku sambil mengomentari keadaan apartementnya kemudian

"Hmp, kau sangat melihat dengan rinci eoh? Sudahlah, lebih baik kau taruh dulu makanan bawaanmu itu" kata Yunho kemudian sambil berjalan mendahuluiku menuju sebuah dapur

Dapur yang sangat minimalis.

Aku menaruh rantang makananku diatas meja dapur itu dan lalu membukanya dan memisahkannya satu per satu. Rantang ini terdapat 3 tingkat dan aku memasukkan makanan yang berbeda dalam setiap tingkatnya dengan satu menu makanan yang tidak boleh tertinggal. Kimchi.

"Woahhh benar benar pesta eoh?" kata Yunho sambil membesarkan matanya tampak takjub saat melihat makanan makanan itu, mirip dengan ekspresi Changmin setiap melihat makanan. Hahaha

"Sudah kubilang sepupuku yang menginginkan makanan ini haha" jawabku

"Astaga, wanginya sedap sekali. Hmmm aku tidak sabar mencicipinya. Benar ini masakanmu?" kata Yunho masih berbinar kala menatap makanan itu

"Tentu saja bodoh! Kau terlihat bahagia sekali saat menatapnya, Yunho ya hahaha" kataku saat menatap binar itu masih dimatanya

"Saat di rumah sakit aku jarang sekali memakan makanan yang enak dan saat melihat masakanmu aku jadi tergiur dan merasa bersyukur akhirnya bisa melihat makanan enak lagi haha" jawab Yunho yang terlihat sangat polos dimataku

"Ekspresimu itu mirip sangat mirip dengan ekspresi Changmin yang selalu kulihat! Ahaha" kataku sambil membandingkannya dengan Changmin

Kami terdiam sebentar sambil aku kembali memisahkan rantang rantang makananku itu dan mencari sebuah piring untuk menjadi pengganti alas makanan itu.

"Changmin?" kata Yunho kemudian yang membuatku berhasil menoleh padanya

"Iya, Changmin, sepupuku yang baru saja kuceritakan kepadamu" kataku sambil berusaha menatapnya yang tengah tertunduk itu

"Apa... nama lengkapnya..?" kata Yunho yang terdengar nada keraguan dalam setiap perkataannya

Ia berusaha menegadahkan kepalanya dan menatapku dengan wajah penuh keraguan dan penantian. Aku balas menatap matanya.

"Shim. Shim Changmin"

Jaejoong POV End

#YunJae#

Yunho POV

"Shim. Shim Changmin" Kata Jaejoong sambil menatapku

Aku kembali terdiam dan merasakan dadaku terhentak dengan kencang. Shim Changmin? Apa ini berarti namja dihadapanku mengenal Tiffany? Apa ini berarti namja dihadapanku adalah sekutu dari orang yang kini telah menjadi musuh dalam hubunganku?

Aku menatapnya lagi. Kutelan salivaku diam diam dengan segala pikiran yang berkelebat dalam kepalaku. Bagaimana kalau namja ini mengetahui hubunganku dengan Tiffany sebelumnya? Bagaimana jika ia memberitahukan hal ini pada Changmin? Bagaimana jika Fany meninggalkanku? Ah tidak, bagaimana kalau namja ini...meninggalkanku?

"Aku haus, apa kau mau membeli minuman?" ajakku kemudian

"Eh? Apa kau lupa membeli minuman tadi?" tanya namja dihadapanku dengan wajah yang cukup lucu dan menghibur

"Hehe, begitulah" kataku garing

"Aish, bagaimana kau bisa lupa? Baiklah, ayo kita ke supermarket dan membeli minuman!" kata Jaejoong sambil memberhentikan kegiatannya, mencuci tangannya sebentar dan lalu menatapku

"Jja, kita berangkat!" kata Jaejoong lagi kemudian

Aku melangkahkan kakiku sebentar menuju sofa dan mengambil jaket disana lalu kami keluar meninggalkan apartementku. Dalam perjalanan aku mengirimkan sebuah teks pesan pada Fanny untuk keluar dari tempat sembunyinya –dimanapun itu berada- kemudian meninggalkan apartementku dan kembali ke apartementnya.

#YunJae#

"Fany ahhhh~ darimana saja eoh? Ayo kesini! Jaejoong hyung sudah membuatkan makanan untuk kita" kata Changmin saat mendapati istrinya memasuki apartementnya

Fany menatap kearah Yoochun dan menundukan kepalanya sedikit lalu melangkah menuju arah yang berkebalikan dengan apa yang diharapkan Changmin. Bukannya menuju meja makan Tiffany malah melangkah menuju kamar tidurnya. Hal itu mau tidak mau mengundang tanya diantara dua manusia yang kini berada di meja makan.

Sementara didalam kamar, Fany hanya merasakan getaran pada tubuhnya. Ia menidurkan tubuhnya berusaha agar menenangkan dirinya. Wajahnya memucat dengan serangat panik yang kini dirasakannya. Pikirannya melayang kearah pembicaraan antara Yunho dengan pria lain saat itu.

"Ekspresimu itu mirip sangat mirip dengan ekspresi Changmin yang selalu kulihat!"

"Iya, Changmin, sepupuku yang baru saja kuceritakan kepadamu"

"Shim. Shim Changmin"

Kata kata itu berkelebat dalam pikirannya. Sepupu Changmin? Dekat dengan Yunho? Bagaimana ini? Itulah yang ia pikirkan saat ini. Jujur dalam hatinya ia menyayangi Changmin dan menganggapnya seperti adik kecil yang sangat menggemaskan, tapi ia juga tidak bisa menolak pesona dan perhatian Yunho dimasa lalu yang berhasil membuatnya bertekuk lutut.

"Aku mencintaimu..." kata Fanny hendak menutup matanya sambil mengenang masa indahnya bersama Yunho

"Fanny ah~" panggil suara itu manja

"Changmin ah?" kata Fanny kemudian kembali membuka matanya dan menatap namja yang kini juga tengah terbaring disampingnya

"Apa kau sakit? Wajahmu pucat saat pulang tadi.." tanya Changmin dengan perhatian sambil mengelus puncak kepala Fanny sayang

"Hanya sedikit pusing, yeobo" kata Fanny sambil berusaha tersenyum

"Kau pasti kelelahan hari ini, hum? Baiklah beristirahatlah, aku akan berusaha menahan diri dan menyisakan makanan Jae hyung agar bisa kau makan hehehe" kata Changmin berusaha menghibur

"Gomawo" kata Fanny sambil menatap Changmin tak enak yang hanya dibalas senyuman dari Changmin

Changmin memberdirikan tubuhnya dan kembali keruang makan. Sementara Fanny terdiam sambil kembali memikirkan apa saja yang baru terjadi hari ini.

"Shim Changmin, kau bagai malaikat penolong untukku, pengusir kesepianku, aku sungguh menyayangimu, tapi..."

"Disana ada orang lain..."

"Apa?! Kau pikir itu adalah alasan hum?" pekik seorang namja bermata musang pada gadis dihadapannya yang tengah tersedu

"Oppa, mianhae" kata gadis itu tampak putus asa

"Sudahlah, berhenti menangis" kata namja itu enggan menatap sang yeoja yang masih tersedu disampingnya

"Oppa, aku masih mencintaimu..." kata yeoja itu lagi tersedu

"Sungguh..." lanjutnya sambil tangan kananya meraih erat lengan baju namja itu

"Cinta eoh? Lalu bagaiman dengan dia? Hum? Kau, apa kau tidak mencintainya? Ya! Dia itu suamimu! Bagaimana kau bisa menyatakan cinta pada pria lain sementara kau sudah menikah?!" pekik namja itu dengan nada tingginya frustasi

Lengannya ia tepis dari genggaman erat yeoja itu. Nafasnya tersengal menandakan ia sudah kehilangan kesabarannya sekarang. Ia berkacak pinggang dan berusaha mengatur nafasnya. Mata musangnya masih enggan menatap yeoja yang kini tengah tertunduk sambil menangis disana. Sakit. Hatinya terlalu sakit bahkan hanya untuk menatap yeoja itu.

"Aku hanya memintamu menunggu..." kata namja itu kemudian

"2 tahun..." katanya lagi sambil menghela nafas berat

"tapi kau tidak bisa melakukannya..." lanjutnya

"Oppa..." panggil yeoja itu sambil berusaha mengambil lengan baju namja itu lagi namun dicegah oleh pemiliknya

"Pergilah..." kata namja itu sambil membelakangi yeoja itu

"Aku...sedang tidak ingin melihatmu..." lanjutnya sambil mulai melangkah

"Oppa..." panggil yeoja itu berusaha mengikuti namja itu

"Jalani saja hidupmu..."

"Dan aku akan menjalani hidupku..."

"Mianhae..." kata yeoja itu masih mengharap balasan tatapan dari namja didepannya

"Aku perlu sendiri Fanny-ah..." kata namja itu sambil kembali melangkah sementara yeoja itu masih terdiam ditempatnya

"Oppa...Mianhae..." kata yeoja itu kembali tertunduk dan terisak

"Yang memiliki hatiku..."

"Maafkan aku" batin Fanny sambil menutupi wajahnya dan lalu mencoba untuk tertidur dan melupakan semuanya hari ini.

"Apa dia baik baik saja?" tanya Yoochun saat melihat Changmin kembali seorang diri

"Kurasa dia agak kurang sehat" kata Changmin sambil menghela nafas berat

"Wae? Sekarang kau yang terlihat tidak baik baik saja" kata Yoochun melihat mimik aneh di wajah Changmin

"Anniyo, lupakan saja" kata Changmin sambil kembali duduk di meja makan

Sesaat setelah ia duduk ia kembali terdiam. Berbagai macam kilasan digepalanya mau tak mau membuat pelipis kepalanya berdenyut pelan.

"Shim Changmin, lupakanlah" batin Changmin

Changmin memijat pelan pelipis kepalanya dan lalu kembali menatap makanan dihadapannya. Ia memakannya seakan tidak ada apa apa. Tapi jauh dalam hatinya, ada sesuatu yang benar benar mengganggu disana.

#YunJae#

"Kenapa kau bisa lupa membeli air putih dan malah banyak bir di kulkasmu eoh?" tanya Jaejoong kesal saat melihat isi kulkas Yunho

"Aku butuh minuman penenang, Jaejoong ah" kata Yunho

"Ini tidak akan membuatmu tenang, tapi membunuhmu kau tau? Kau baru saja sembuh dan ingin melukai dirimu lagi?" kata Jaejoong masih kesal

"Aish, yang luka kan hanya tanganku, minuman itu tidak akan membunuhku" jelas Yunho

"Bagaimana dengan lambungmu? Tidakkah ia akan terluka?" kata Jaejoong kesal lagi

"Aish, ne,ne, mianhae ne? Aku hanya merasa sedang tidak baik belakangan ini dan kurasa bir itu bisa membantu" kata Yunho tidak ingin memperpanjang keributan ini

Jaejoong hanya menghela nafas berat perlahan dan kembali menyibukan dirinya menata setiap makanan yang ada di dalam kulkas dan menemukan rantang makanan yang telah terpisah pisah disana.

"Sudah ada yang mengantarkanmu makanan rupanya?" kata Jaejoong mengagetkan Yunho

"Eh?"

"Ini, ada beberapa rantang makanan yang sudah tersedia disini, kurasa belum lama dibuat. Kenapa kau tidak memakannya?" tanya Jaejoong kemudian

"Ah, itu.. Junsu yang mengantarkannya. Masakannya sangat tidak enak jadi aku membiarkannya dalam kulkas hehehe" Yunho beralibi

"Ah... begitu..." kata Jaejoong mengangguk anggukkan kepalanya

"Apakah kita sudah bisa makan sekarang?" tanya Yunho kemudian berusaha merubah suasana yang mulai canggung

"Ah, baiklah, tunggulah disana" kata Jaejoong sambil menunjuk kursi ruang makan

"Tidak, tidak, kita makan diruang tengah saja ne? Rasanya lebih santai" tawar Yunho

"Mmm arraseo. Tunggulah disana" kata Jaejoong kemudian

Yunho perlahan berjalan menuju keruang tengah dan duduk di lantai sambil menyilakan kakinya. Lantai itu dilapisi sebuah karpet panjang yang sangat nyaman dan menghangatkan karena itu daripada duduk disofa, ia lebih sering menghabiskan waktunya dilantai ini.

Jaejoong datang sambil membawakan beberapa piring masakannya dan juga sekaleng jus jeruk dingin. Yunho hanya menatap Jaejoong dengan antusias. Melihat Jaejoong saat ini seperti seorang istri yang melayani suaminya. Hmmpp, seketika hal itu membuat senyum itu tertarik diwajah Yunho.

"Dasar bodoh, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" batin Yunho sambil terbatuk kecil berusaha menghentikan senyumnya

"Ayo dimakan" kata Jaejoong menawarkan

"Baiklah, eh, apa kau tidak makan?" tanya Yunho

"Haruskah?" tanya Jaejoong bingung

"Aish, tentu saja, kau belum makan dirumah sepupumu itu bukan?" kata Yunho

"Bagaimana kau tau?" tanya Jaejoong takjub hingga melebarkan matanya

"Karena saat kau kesini, masakan itu masih terlihat hangat dan segar, itu berarti bukan sayur yang kau panaskan" jawab Yunho

"Ah, begitu..." kata Jaejoong mengangguk kecil yang kembali menyedot perhatian mata namja bermata musang itu

"Kalau begitu makanlah bersamaku, oke?" kata Yunho menawarkan sambil memiringkan kepalanya aegyo yang membuat Jaejoong seketika tersenyum geli

"Hahaha, baiklah" jawab Jaejoong kemudian

"Baiklah, sini aku suapi" kata Yunho lagi sambil menyiapkan sesumpit kimchi ditangannya

"Eh? Suapi?" tanya Jaejoong kaget

"Ne, aku tidak suka banyak cucian piring disini jadi untuk menghemat kita makan sepiring berdua saja bagaimana?" kata Yunho

"Mm, arraseo" kata Jaejoong menganggukan kepalanya lagi

"Say aaaa" kata Yunho kemudian dengan sesumpit makanan ditangannya

Jaejoong membuka mulut kecilnya perlahan dan menerima suapan dari Yunho. Seketika jantungnya berdegup dengan hangat lagi. Hangat dan nyaman. Kembali ia merasakan wajahnya merona merah seperti ini. Oh Gosh, apa yang terjadi pada seorang Kim Jaejoong?

"Kenapa wajahmu menjadi seperti itu? Apa makanan ini pedas?" tanya Yunho sedikit panik

"Ah, anniyo. Jja! Kau makan juga! Bukankah ini masakan yang kusiapkan untukmu?" kata Jaejoong menyuruh Yunho memakan masakannya kemudian

"Ah, benar juga"

Yunho lalu mengimpit makanan tersebut dengan sumpitnya dan mencoba memakannya perlahan.

"AIGO! INI ENAK SEKALI!" pekik Yunho sedikit berlebihan

"Benarkah?" kata Jaejoong merasa bangga

"Hmm, tentu saja, aigoo sudah lama rasanya aku tidak memakan makanan seperti ini! YA! Kau pemasak yang handal Kim Jaejoong!" puji Yunho

"Gomawo Yunho ah, hahaha, silahkan nikmati saja makanannya, aku akan mengambil minum dulu ne?" kata Jaejoong bangga saat melihat Yunho melahap masakannya dengan antusias. Sedikit tarikan senyum tampak diwajahnya.

"Menarik sekali" batin Jaejoong sambil berusaha mengambil sekaleng jus jeruk didalam kulkas

Saat membuka kulkas ia memperhatikan lagi rantang rantang makanan yang tersedia disana. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya menghembuskan nafas perlahan dan menutup pintu kulkas itu.

"Ya, Yunho ah, apa kau sendirian saja?" tanya Jaejoong dari dapur kepada Yunho

"Yee?" kata Yunho dengan mulut penuh makanan

"Apa kau tidak punya kekasih?" tanya Jaejoong lalu meneguk sedikit jus jeruknya

"Tidak ada. Aku ini bujangan" kata Yunho tanpa menoleh

"O? Bujangan eoh? Kau bukan gay kan?" tanya Jaejoong yang sontak membuat Yunho kaget dan terbatuk karena tersedak makanannya

Jaejoong yang panik langsung datang menghampiri Yunho dan membantunya untuk berhenti dari batuknya. Ia menepukkan punggung Yunho berusaha agar batuknya berhenti.

"Aish, mian, mian, aku tidak bermaksud..." kata Jaejoong masih menepuk punggung Yunho

"Kalau aku gay... lalu kenapa?" kata Yunho kemudian menatap wajah Jaejoong yang cukup dekat dengan wajahnya.

Jaejoong melebarkan matanya ketika sebuah kata mengejutkan keluar dari mulut Yunho. Ia merasa jantungnya berdebar tidak karuan. Ada perasaan senang dan sedih juga, tapi kenapa ia merasakan perasaan yang seakan ingin membuatnya melonjak lonjak. Perasaan menggebu yang membuatnya ingin menarik kedua ujung bibirnya dan tersenyum. Kim Jaejoong ada apa denganmu?

TBC

Taraaa dan inilah ff yang hanya terdiri dari 2k kata

Cindy bingung nyari TBCnya dimana dan diputuskan TBCnya disini dan jadilah hanya berhasil 2k kata. Mian jika ini tidak terlalu memuaskan karena sebenarnya Cindy juga bingung mau bikin YunJae jatuh cinta itu gimana. Maklum ini FF seri YunJae pertama Cindy ^^a

Mohon review kekurangan, kritik, dan saran sangat diperlukan untuk memperbaiki semuanya. Terimakasih *bow