Title : FATE
Pairing : YunJae (Yunho X Jaejoong)
Rate : T
Alohhaaaaa.. sudah berapa lama Cindy ga mengupdate? Satu bulan kira kira XD
Mian yahhh kalo Cindy lama banget Nge-unpdatenya soalnyalagi sibuk ngurusin buat kuliah belum lagi sekarang lagi sibuk sibuknya kerja.. jadi maafkan kalau waktu untuk meneruskan ff ini agak terhambat
Terimakasih yang udah mau ngeriview ff ini ya J)
Ditunggu terus reviewannya untuk membuat agar ff ini dan ff lainnya semakin baik XD
Terimakasih dan maaf sekali lagi *bow
Now lets begin the new story
.
.
.
Yesterday is a HISTORY right?
So how about Tomorrow?
#YunJae#
"Tiffany Hwang" kata gadis berambut panjang yang terurai indah itu sambil tersenyum yang membuat matanya menjadi seperti bulan sabit yang lucu
"Jung Yunho" kata namja dihadapannya yang kini tengah menatapnya terpesona
"Jadi kita adalah teman satu tim eoh?" kata Yunho sambil berusaha membuka pembicaraan
"Ne,Tuan Direktur memintaku menjadi partner barumu, mohon bantuannya, Yunho ssi" kata Fanny sambil membungkukan badannya sedikit
"Ahaha, tidak perlu seformal itu padaku, memang perbedaan umur kita berapa tahun hm?" tanya Yunho antusias kala merasakan ketertarikan pada yeoja dihadapannya ini
"3 tahun, Yunho ssi" jawab Fanny sedikit malu malu. Sejujurnya ia juga merasakan ketertarikan pada namja dihadapannya ini
"Begitukah? Kalau begitu Oppa" kata Yunho berusaha menggoda Fanny
"Eh?" ucap Fanny spontan
"Panggil saja aku Oppa" kata Yunho sambil tersenyum
"O...ppa?" kata Fanny kaget mendengar Yunho memintanya memanggilnya seperti itu
"Tenang saja, bukan Oppa untuk memanggil pacar, hanya Oppa untuk kakak, ne? Aku boleh kan menjadi kakakmu?" kata Yunho sambil berusaha menjelaskan
Fanny hanya tersenyum sambil menahan geli dalam dirinya. Untuk pertama kalinya ia melihat seorang namja tampan yang secara terang terangan memintanya memanggilnya Oppa. Pria yang menarik.
"Ne, tentu saja boleh Yunho Oppa" kata Fanny sambil tersenyum lagi dan menampakkan mata bulannya yang indah itu
Yunho ikut tersenyum bersamanya sambil merasa senang. Sangat senang sehingga membuat jantungnya berdegup lebih cepat dan lebih halus dan membawa aliran darahnya mengalir lebih cepat. Apakah Yunho sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis ini?
"Fanny ah, apa kau suka makanan pedas?" tanya Yunho menawarkan untuk makan siang bersama
"Ah, tidak begitu Oppa, wae?" kata Fanny yang tiba tiba membuat Yunho kecewa
"Ah, anni, tadinya Oppa ingin mengajakmu makan siang disebuah kedai yang makanannya cukup pedas" kata Yunho diakhiri dengan tertawaan garingnya
"Sebenarnya bisa saja aku makan disana Oppa" kata Fanny merasa tidak enak lalu mencoba menerima ajakkan Yunho yang terlihat hampir akan dibatalkan itu
"Benarkah? Baguslah " jawab Yunho kembali sumringah
"Yunho Oppa sangat suka pedas hum?" tanya Fanny tersenyum melihat wajah Yunho yang tidak mendapat jawaban apa apa dari Yunho
#YunJae#
Sudah sebelas bulan berlalu sejak mereka menjadi partner kerja di perusahaan milik ayah Yunho, sebelas bulan berlalu juga sejak mereka menjadi pasangan kekasih. Sepasang kekasih? Siapa yang menduga hubungan itu akan terjadi begitu cepat? Bahkan mungkin kedua orang didalamnya ini juga tidak menyadari bahwa hubungan itu terlalu cepat untuk mereka jalani. Tapi, mereka percaya bahwa mereka memang sudah ditakdirkan bersama. Lagipula, Ayah Yunho sangat mendukung hubungan mereka.
"Fanny ah~" kata Yunho memanggil kekasihnya itu
"Ne? Yunho Oppa?" kata Fanny menjawab panggilan Yunho
"Fanny ah...aku... ingin berpamitan..." kata Yunho kemudian
"Eh? Oppa mau pergi kemana?" tanya Fanny mulai merasakan aura yang tidak enak diantara mereka berdua
"Ke tempat yang cukup jauh" kata Yunho sedikit melemah
"Kemana? Apa Oppa tidak akan membawaku?" kata Fanny cemas sangat mendengar kata 'jauh'
"Fanny ah... Mau kah kau menungguku?" kata Yunho kemudian menatap Fanny penuh harap
Fanny merasakan aura yang sangat tidak enak pada pembicaraan mereka kali ini. Ada apa ini? kenapa rasanya Fanny sangat takut saat menatap mata Yunho? Seakan sekali ia meninggalkan Fanny, ia tidak akan kembali lagi.
"Tunggulah aku... Dua tahun saja..." kata Yunho cemas saat tidak mendapat tanggapan dari Fanny
Fanny hanya terdiam menunduk. Merasakan dadanya sangat sesak saat ini. Tidak ada penjelasan apa apa dari namja dihadapannya. Dia hanya meminta Fanny untuk menunggu. Apakah Fanny harus percaya pada kata kata namja ini?
Fanny mengambil langkah maju dan memeluk namja dihadapannya ini sambil menyembunyikan kepalanya didadanya yang bisang itu. Tangisnya terpecah disana dan membuat pakaian namjanya itu terasa basah.
"Cepatlah kembali, Oppa" kata Fanny dalam tangisnya
"Aku pasti akan kembali... percayalah padaku.." kata Yunho lalu memeluk yeoja itu erat berusaha membuatnya tetap dalam kehangatannya
Fanny harus percaya pada namja ini... Ya. Dia harus percaya kepada namja yang ia cintai ini bukan?
#YunJae#
2 tahun kemudian...
"Ini... Untukmu" kata Yunho sambil tersenyum melihat bingkisan itu dan memasukkannya kedalam tas ransel yang lalu digendongnya hanya dengan sebelah tangannya saja.
Ia pergi dengan terburu buru menuju sebuah gedung yang sudah sangat lama tidak ia datangi. Ini adalah kali pertamanya ia kembali mengunjungi tempat itu. ia sangat rindu dengan tempat itu. mungkin lebih tepatnya, ia sangat rindu dengan orang yang ada didalam tempat itu.
"Tu...tuan muda?" kata seorang security perusahaan saat melihat wajah familiar itu kembali terlihat disekitar perusahaan itu
"Ne, ini Fanny Hwang masih bekerja disini? Ada dibagian mana ia sekarang? Aku ingin melihatnya" kata Yunho dengan wajah berseri saat menanyakan keberadaan Fanny
Ia merindukkannya. Namja ini amat merindukkannya.
"Itu... " kata security itu gugup
"Kenapa gugup begitu eoh? Apa Fanny sudah jadi pegawai yang menakutkan selama aku pergi? Ahaha" kata Yunho sambil berusaha membuat tawa diantara pembicaraan mereka
"Nona Tiffany Hwang... sudah tidak bekerja disini lagi, Tuan Muda" kata security itu menahan kegugupannya.
"Eh?" saut Yunho kaget
"Nona... sudah keluar beberapa waktu lalu" kata security itu lagi masih gugup dan menundukkan kepalanya
"Eh?! Kenapa?! Bagaimana bisa?! Apa yang terjadi?!" kata Yunho sedikit mendapati emosi dalam dirinya
"Nona... keluar karena.. akan menikah..." kata security itu kemudian sambil menundukkan kepalanya dalam dalam
Hening. Diam. Itulah yang terjadi sekarang. Tidak ada suara atau pergerakkan apapun dari namja dihadapan security tersebut sampai suara sebuah benda jatuh terdengar disana. Itu adalah tas milik Yunho. Tas yang berisi sebuah hadia yang memang sangat diinginkan oleh Tiffany sejak lama. Sebuah gelas pasangan buatan Yunho sendiri. Namun saat tas itu terjatuh isi didalamnyapun tidak dapat terselamatkan. Pecah. Berkeping keping. Seperti hati Yunho saat ini.
#YunJae#
"Aku tidak yakin mereka sudah saling melupakan" kata seorang pria yang terdengar cukup cemas
"Wae?" kata seorang lain yang terdengar tidak mengerti dengan apa yang tengah diucapkan temannya
"Bagaimana pun mereka pernah saling mencintai bukan?" kata namja itu lagi
"Tampaknya cepat atau lambat mereka akan bertemu lagi" lanjutnya dengan cemas
"Bagaimana jika mereka memang sudah bertemu?" sanggah namja disampingnya
"Aku melihat ia bertingkah berbeda belakangan ini" kata namja itu sambil menatap namja lain dihdapannya dengan tatapan mata yang penuh kesakitan
"Benarkah?" tanya namja lain dihadapannya
"Ne, dia menjadi lebih... entahlah aku merasa dia sangat berbeda dengan yang kukenal sebelumnya" jawab namja itu masih diikuti dengan suaranya yang terdengar memendam nada sedih
"Apa kau akan melepaskannya?" tanya seorang namja itu
"Tidak. Tidak akan pernah. Aku tidak mau melihat wajahnya yang terluka lagi" jawab namja lain dihdapannya itu penuh keyakinan
"Kalau begitu..." lanjutnya namja yang tampak lebih muda itu sebelum disanggah oleh namja yang tampak lebih senior dihdapannya
"Kita harus memisahkan mereka" sanggah namja yang tampak lebih senior itu
#YunJae#
Sementara disisi lain tampak sebuah keheningan yang terdapat diantara mereka. Detak jantung yang mulai terdengar sangat kencang itupun lalu menguasai suara yang penuh keheningan. Mereka mendengarnya, saling mendengar degup jantung masing masing. Apakah mereka akan lebih jujur kali ini?
"Kalau aku gay... lalu kenapa?" kata Yunho yang membuat mata Jaejoong melebar seketika
"E...Eh?" saut Jaejoong terkejut yang hanya dibalas oleh tarikkan senyum Yunho
"Aku hanya bercanda, kenapa kau serius itu eoh?" lanjut Yunho sambil menatap mata namja itu yang tampak semakin lucu dan indah
"Ya! Jung Yunho! Kau mengagetkanku!" kata Jaejoong memukul mukul punggung Yunho lebih keras untuk memberikan Yunho pelajaran
"Ya! Ya! Itu sakit!" kata Yunho berusaha menghentikkan pukulan tangan Jaejoong
"Maafkan aku, aku hanya berusaha membuat lelucon tapi tampaknya kau tidak tertawa sama sekali huh?" kata Yunho kemudian memberi penjelasan
"Ya! Itu tidak lucu! Malah itu membuatku takut!" kata Jaejoong kemudian
"Takut kenapa? Takut karena aku akan benar benar menyukaimu atau bagaimana?" tanya Yunho kemudian
"Ya! Tentu saja aku takut jika kau benar benar menyukaiku!" jawab Jaejoong masih dengan nada kesal
"Wae?" tanya Yunho menatap namja yang tengah mengerucutkan bibirnya itu
DEG! Jantung Jaejoong berdegup kencang seketika. Tatapan yang ia dapatkan dari namja ini benar benar memberikan efek tersenidri bagi dirinya. Tapi kenapa? Bukankah ia laki laki normal? Tapi kenapa saat ia menatap mata namja ini seakan pertahanan dirinya runtuh dan ia tidak bisa berfikiran normal. Dalam hatinya Jaejoong berfikir, bagaimana jika Jung Yunho menyukainya? Mungkin satu jawaban yang pasti adalah... Jaejoong akan takut kehilangannya. Tapi... kenapa?
"Karena aku laki laki babo!" jawab Jaejoong keras sambil berusaha menutupi rasa gugup dan pikiran pikiran anehnya
"Hahaha, apakah sesama laki laki tidak boleh saling menyukai?" tanya Yunho lagi cukup antusias. Bukan tentang topik yang sedang dibicarakannya hanya saja ia sangat senang saat melihat perubahan ekspresi Jaejoong yang menurutnya benar benar lucu dan mengundang sensasi tersendiri dalam dirinya
"Aih! Jung Yunho! Jangan jangan kau ini benar benar gay hum?" tanya Jaejoong mulai merasa risih dengan tatapan dan pertanyaan aneh Yunho
"Hahaha, entahlah. Tapi aku rasa aku tertarik... padamu" kata Yunho sambil kembali menatap Jaejoong dan memberikan tatapan yang membuat Jaejoong merasakan hangat pada wajahnya
"Jangan bercanda" kata Jaejoong sambil menyantap makanannya dengan sekali suapan besar agar menutupi wajahnya yang tengah merah padam kini
"Aku ini orang yang bersungguh sungguh" kata Yunho kemudian terdengar serius yang membuat Jaejoong tersedang dan terbatuk kemudian dengan cepat mengambil minumannya dan meneguknya berusaha menghentikkan batuknya
"Lagipula... Kau juga menyukaiku bukan?" lanjut Yunho mulai tampak serius
"Jung Yunho..." kata Jaejoong memberanikan diri menatap Yunho
"Kim Jaejoong" kata Yunho lagi masih tetap menatap wajah itu tepat di titik matanya
Jaejoong terdiam seketika. Hening. Itulah yang terjadi diantara mereka beberapa lama sebelum akhirnya sebuah telepon menginterupsi keheningan mereka. Ponsel milik Jaejoong berbunyi cukup keras saat itu
"Yoboseo?" kata Jaejoong saat mengangkat telepon
"Jaejoong ah?" pandangan panik Jaejoong berubah seketika saat mendengarkan suara diseberang sana. Suara familiar yang ingin dilupakannya selama ini. Suara itu...
"Dara ya?" jawab Jaejoong kemudian
#YunJae#
"Fanny ah... kau baik baik saja? Makanan Jaejoong hyung pun bahkan belum kau sentuh dan... kau kelihatan berbeda belakangan ini" kata Changmin saat mendapati istrinya tengah termenung diruang makan
"Ah, anniya... hanya kurang enak badan..." kata Fanny sambil tersenyum dan memperlihatkan matanya yang tampak tengah tersenyum itu lagi
"Aku melihatnya lagi..." kata Changmin sambil mengambil tempat duduk disamping Fanny
"Eh? Melihat apa?" tanya Fanny bingung
"Senyum yang kau tunjukkan tadi" kata Changmin sambil menatap istrinya tersebut
"Senyum itu.. senyum yang sama seperti yang aku lihat dua tahun yang lalu" kata Changmin kemudian
"E..eh?" saut Tiffany sambil berusaha menatap suaminya yang kini tepat disampingnya sambil menatapnya sendu
"Dia kembali bukan?" tanya Changmin kemudian tampak serius
Fanny terdiam. Ia tau siapa yang dimaksud Changmin dengan 'dia'. Bagaimanapun Changmin adalah suaminya, jelas Changmin tau segala masalalu yang dia hadapi dan telah ia lewati. Dan Changmin bukanlah namja yang dapat ia bodohi karena namja ini mencintainya. Begitu pula dengan Fanny yang...menyayanginya?
"Ternyata dia memang sudah kembali" kata Changmin memutus kontak mata diantara mereka
Pandangan Fanny berubah menjadi kecemasan. Ia menundukkan wajahnya tepat saat Changmin memutus kontak mata mereka. Apa yang akan terjadi setelah ini?
"Changmin ah..." panggil Fanny dengan nada yang terdengar sedikit ketakutan
"Kau adalah milikku Tiffany Hwang. Milikku!" pekik Changmin keras sambil menghentakkan kursi lalu berdiri dan meninggalkan Fanny yang kini terdiam
Jujur saja, selama ini dia tidak pernah melihat Changmin yang seperti ini. Changmin yang tampak marah dan putus asa. Changmin yang tampak mengeluarkan segala keegoisannya. Changmin yang tampak berusaha menahannya pergi. Apakah kau sudah pergi sejauh itu Tifanny ?
"Apa yang sudah aku lakukan?" batin Fanny sambil menundukkan kepalanya lagi
#YunJae#
Pagi itu suasana tampak cukup bersahabat dengan suasana hatinya yang sebenranya tidak terlalu baik saat ini. Belum cukup debaran hatinya yang mengganggu setiap kali ia memikirkan namja bernama Jung Yunho. Kini wanita dalam masa lalunya hadir kembali dalam hidupnya.
Cih, bukankah ia menuju seoul untuk melupakannya? Tapi kenapa... ia harus kembali dihdapannya?
Apakah ini juga termasuk takdir?
Ia masuk kesebuah cafe dan mencari wajah yang meneleponnya tadi malam. Wajah familiar yang ingin ia lupakan namun tidak bisa. Ini menyebalkan.
"Jaejoong ah!" pekik seorang yeoja saat melihat Jaejoong yang tampak tengah mencari cari
Jaejoong menemukannya dan menatapnya. Dia tidak berubah. Bahkan senyumnya masih cantik seperti yang ia ingat sebelumnya. Matanya masih memancarkan cahaya yang selalu berhasil membuatnya tertarik itu. Jantung Jaejoong kembali berdegup pelan. Dia tampak masih sangat sama seperti dulu Jaejoong mengenalnya. Sandara Park.
Jaejoong mengambil langkah yang cukup berat untuk menuju ketempat duduk tersebut. namun ia berusaha menenangkan dirinya dan akhirnya berhasil mengambil tempat duduk dihadapannya.
"Kau terlihat sehat Jaejoong ah" kata yeoja itu berusaha tersenyum dihdapan Jaejoong
"Ada apa?" kata Jaejoong berusaha sedingin mungkin
"Ya! Dingin sekali, aku kan hanya merindukanmu" kata yeoja bernama Dara itu mengerucutkan bibirnya
"Merindukanku?" kata Jaejoong sinis disertai dengan tawa kecil pada akhirnya
"Jangan bercanda" katanya lagi berusaha menatap dingin yeoja dihadapannya
Hening. Itu yang dirasakan mereka saat ini. Ada aura tidak menyenangkan diantara mereka dan hanya mereka yang dapat menjelaskan mengapa dapat terjadi aura seperti itu. Dara menghela nafasnya kemudian berusaha tersenyum pada Jaejoong yang tengah menatapnya sinis.
"Maafkan aku..." kata Dara memecah keheningan diantara mereka kemudian
Dara mengalihkan pandangannya dari mata Jaejoong yang tampak mengintimidasi itu ke arah latte yang berada dihdapannya. Menatap Jaejoong yang juga tengah menatapnya dengan pemandangan seperti itu membuatnya sangat takut.
"Aku tau kau pasti amat terluka..." kata Dara lagi yang tidak mendapat reaksi apa apa dari Jaejoong
Dara menjadi semakin gugup dihadapannya
"Aku..."
"Darimana kau tau aku terluka hum?" sanggah Jaejoong sebelum Dara berkata kata lagi
"Apa karena kau seorang dokter kau tau kini aku sedang terluka?" lanjut Jaejoong lagi yang berhasil membuat Dara terdiam
Dokter. Itu hanya mengingatkan dia bahwa awal pertemuan mereka adalah karena dia seorang dokter yang menangani masalah kesehatan Jaejoong. Awal yang indah. Tapi... itu juga mengingatkan bagaimana mereka harus berpisah pada akhirnya.
"Jaejoong ah..." panggil Dara merasakan rasa bersalah dalam dirinya
"Kau tidak tau aku terluka Dara ya.." kata Jaejoong kemudian sambil menatap Dara dengan tatapan mata yang menampakkan bahwa dia sangat terluka
"Atau... haruskah kau kupanggil.. Oemma?" lanjut Jaejoong
"Kim Jaejoong!" pekik Dara kemudian kesal karena merasa Jaejoong terlalu memojokkannya. Bukan hanya Jaejoong yang terluka disini
Jaejoong menghentakkan kursinya lalu bangkit berdiri dan membungkukkan tubuhnya pada yeoja dihdapannya ini.
"Aku pergi dulu, Oemma" kata Jaejoong kemudian meninggalkan Dara yang tertegun disana
Namja ini.. Namja dihadapannya ini benar benar berhasil menguji kesabarannya. Bukan tentang bagaimana hubungan mereka terdahulu namun tentang bagaimana hubungan mereka yang sekarang ini. Bagaimana pun juga kini Dara sudah menjadi ibunya. Ini artinya mereka sudah menjadi sebuah keluarga bukan?
Sebagaimanapun Dara menyakiti Jaejoong dahulu, ia ingin mencoba dihargai atas pilihannya kini. Pilihannya untuk menikahi ayah Jaejoong yang juga dokter saat itu.
Sejujurnya Sandara Park, kau sangat kejam.
#YunJae#
Jaejoong mungkin memang tipe yang suka menghadapi apapun dengan minum minum. Namun sejak beberapa tahun yang lalu kebiasaan itu harus ia musnahkan dan harus ia singkirkan.. tapi sekarang, rasanya sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukannya. Bagaimanapun juga, minum soju membuatnya melupakan semuanya. Dan ia sangat ingin melupakan hari ini. Sangat.
"Soju satu lagi!" panggil Jaejoong pada seorang ahjussi disana
Ahjussi itu membawakan botol soju lagi kepada Jaejoong. Entah sudah soju keberapa yang ia teguk kini, dan sudah berapa botol yang ia habiskan kini. Ahjussi yang selalu menyediakan soju bagi Jaejoong berusaha menghentikkan kegiatan tangan Jaejoong yang tampak sudah mulai bergetar karena mabuk.
"Tuan.. sebaiknya anda pulang..." kata ahjussi itu khawatir Jaejoong akan mengganggu pengunjung lainnya bila sudah mabuk
"Tidak! Aku tidak mau pulang! Aku ingin minum! Bawakan aku satu botol lagi!" kata Jaejoong yang wajahnya sudah memerah kini. Jaejoong tampak benar benar mabuk.
"Tuan.." kata ahjussi tersebut berusaha membujuk Jaejoong untuk pergi namun Jaejoong mulai memberontak dan berteriak
"YA! AKU MAU MINUM! BAWAKAN SEBOTOL LAGI!" kata Jaejoong sambil berteriak yang mau tidak mau membuatnya diperhatikan pengunjung lain dan membuat mereka merasa risih
Ahjussi itu hanya menatap Jaejoong khawatir sambil kemudian berusaha mengecek pakaiannya dan berharap bisa menghubungi kerabat terdekatnya. Kelihatan tidak sopan memang, tapi ia merasa harus melakukannya daripada kedai kecilnya ini akan bangkrut.
Ia menemukan ponselnya dan menatap pada layar ponsel tersebut. Terdapat nomor asing yang tampak tengah menghubungi ponselnya berkali kali. Ahjussi tersebut kemudian menghubungi nomor telepon tersebut berharap orang diseberang sana dapat membantunya.
"Yoboseyo, Kim Jaejoong?" kata orang diseberang sana
#YunJae#
Yunho tidak percaya akan mendapati wajah Kim Jaejoong yang tengah mabuk dihadapannya. Hey? Dia melarang Yunho minum bir sementara dia sendiri mabuk separah ini. Tsk. Yunho tidak habis pikir pertama kali ia menelepon Kim Jaejoong dan hasil yang ia dapatkan adalah seperti ini. Bagaimana Yunho mendapatkan nomor telepon Jaejoong? Mungkin kalian bisa menduganya sendiri.
"Aku butuh soju.." pinta Jaejoong dengan suaranya yang mulai serak saat Yunho menjatuhkan tubuh Jaejoong ditempat tidurnya
Yunho tidak mungkin membawa Jaejoong ketempat sepupunya Changmin dalam keadaan seperti ini. lagipula jika ia membawanya kesana, hanya akan membuatnya bertemu dengan Fanny dan membuatnya tidak bisa berlama lama disana.
"YA! Sudah berapa banyak yang kau habiskan eoh?" tanya Yunho kemudian pada Jaejoong yang sedang mabuk dan berusaha turun dari tempat tidur
"Soju... Aduh!" kata Jaejoong saat tubuhnya jatuh dari tempat tidur
"Tsk! Kim Jaejoong ternyata sangat merepotkan saat mabuk" kata Yunho menghela nafasnya sambil menggangkat kembali tubuh Jaejoong ke tempat tidurnya
"Aku mau..." kata Jaejoong yang terdengar memohon dan menggoda
"Soju? Tidak akan! Kenapa kau semabuk ini hum?" kata Yunho khawatir pada Jaejoong walau sebenarnya suara Jaejoong saat ini terdengar begitu menggoda
"Aku ingin..." kata Jaejoong lagi sambil menggerakkan tubuhnya
"Tidak akan! Ya! Kim Jaejoong kau sudah sangat mabuk sekarang!" kata Yunho mulai berusaha menghindari sensasi tersendiri dalam dirinya ketika melihat Jaejoong seperti itu
Namja ini ternyata memang berhasil membuat Yunho tertarik hum?
"Aku pergi dulu. Aku akan membuatkanmu minuman hangat!" kata Yunho
Belum tepat Yunho membalikkan badannya, sebuah tangan telah berhasil menahannya. Tangan Kim Jaejoong. Rasa lembutnya bahkan terasa hingga pori pori lengan Yunho.
"Aku takut..." kata Jaejoong dalam mabuknya pada Yunho
Yunho kemudian berbalik lalu menurunkan tubuhnya sedikit dan berusa menghadap wajah mabuk Jaejoong. Jujur saja wajah yang tengah kemerahan ini tampaka sangat manis dan menggoda Yunho. Dia pria, tapi siapapun yang melihat pemandangan ini, baik pria atau wanita, akan tergila gila padanya. Mungkin ini juga yang terjadi pada Yunho.
"Aku akan melindungimu... percaya padaku" kata Yunho berusaha menenangkan Jaejoong yang kini ada dihadapannya
Jaejoong terdiam dan mulai merasa tenang dalam mabuknya. Ia merasa hangat kala menyentuh tangan Yunho dan ia merasa percaya bahwa Yunho akan menepati janjinya. Entah apa yang merasuki Jaejoong saat itu, tapi kemudian Jaejoong memajukan kepalanya dan menyatukan bibir cherrynya dengan bibir hati milik Yunho.
Yunho yang mendapatkan tindakkan spontan seperti itu, mau tidak mau membelalakkan matanya. Ia tidak menghindarinya tapi juga tidak membalasnya. Ia hanya merasakan sebuah kecupan yang amat manis disana. Kecupan dari bibir Jaejoong. walau tercium bau soju disana, tapi Yunho menikmatinya.
Jaejoong melepaskan kecupan dibibirnya dan menatap Yunho sejenak masih dengan tatapan sadar dan tidak sadarnya.
"Mungkin aku memang... menyukaimu..." kata Jaejoong kemudian
Yunho termenung. Detak jantungnya menggila saat itu juga. Bahkan untuk sekedar mengedipkan matanya saja ia merasa enggan karena ia takut saat ia mengedipkannya, ternyata ia hanya mengalami sebuah mimpi. Tapi saat akhirnya ia berusaha mengedipkannya ternyata itu semua bukanlah mimpi.
Senang? Atau... Takut?
Yunho tidak tau apa yang dirasakannya kini, yang ia tau adalah namja ini benar benar menarik perhatiannya. Bahkan mungkin namja ini... benar benar sudah menarik hatinya..
TBC
