Title : FATE
Author : cindyjung
Pairing : YunJae (Jung Yunho X Kim Jaejoong)
Genre : Sad, Romance
Holaaaa.. Cindy kembali membawa new chapeter dari cerita ini hahaha. Maaf kalo Cindy selalu lama ngupdatenya.. Maklum sibuk #sok sibuk# wkwkwk . tidak terasa ff ini sudah memasuki chapter ke 5 (?) disini semoga kalian makin menikmati alur ceritanya yang agak ribet ini yah :D
Balasan review:
Vic89 : Tiga huruf mana? TBC ? wkwkwk iya pasti udah keterka kalo ini akan semakin belibet (?) ahahah. Makasih vic udah mau ngikutin dari awal sampe akhir yah J)) *bow
YunHolic : Emang disini min kasian banget : berdoalah semoga Tiffany akhirnya kembali ke jalan yang benar (?) wkwkw . Makasih juga ya udah mau baca and review ff ini J)) *bow
NaraYuuki : Ne J makasih ya mau baca ff ini terus dan mantengin lagi dari awal hehehe *bow
KimYcha Kyuu :Pasti J makasih udah mau sempet baca and ngereview J*bow
Yuuka Shim : Wuakakak jangan bete lah. Kan masih ada kesempatan di cerita lain wkwkwk :p haha aku tau kau gak suka yang kaya gitu. Maap yak. Makasih udah mau baca sistah *bow
MaghT : Hayooo jatuh ga ya? Kita lihat apa Yunho mau jatuh kelubang yang sama kekeke *ketawa jaat. Makasih yah udah mau baca ff ini *bow
Meybi : Begitulah disini sebenarnya peran paling kejam itu dipegang Dara #mungkin# . kalo jejung sakit apa nanti dibahas di part ini ato ga part selanjutnya J. Maksih ya udah mau ngikutin ff ini *bow
Balasan Review End (?)
Makasih banget buat readers yang menyempatkan diri baca, ngeriview, memfollow, dan memfavorit ceritanya J Cindy jadi makin semangat! Wkwk
Maaf untuk semua kata kata ribet, adegan tidak layak baca (?), kegaringan yang merata (?) dan TYPO (S)! *bow
sejujurnya mungkin part ini adalah part paling bored dan ribet untuk dibaca tapi semoga kalian tetep suka ya :D huehehehe
Now lets begin the new story...
.
.
.
When today feels like yesterday
What would you choose?
Today? Or yesterday?
#YunJae#
Kim Jaejoong merasakan sebuah bias bias cahaya yang serasa menusuk matanya. Dengan enggan ia berusaha membuka matanya dan mengerjapnya pelan sambil berusaha mengembalikan kesadarannya. Ia meneliti setiap sudut ruangan yang terasa asing baginya.
"Dimana ini?" batin Jaejoong sambil membangkitkan badannya dari tempat tidur itu
Ia memegangi kepalanya yang terasa amat menyakitkan kala itu. Sangat pening sehingga sangat sulit mengatur keseimbangannya bahkan hanya untuk sekedar turun dari tempat tidur itu dan membuatnya hanya dapat terduduk dipinggir tempat tidur itu. Matanya terus terpejam saat pening itu seakan berputar diseluruh kepalanya dan mengusik kesadarannya.
"Jangan paksakan dirimu" Kata seorang namja yang suaranya terasa sangat familiar ditelinganya
Jaejoong mengalihkan kepalanya mencoba menatap si pemilik suara. Benar saja, namja itu sangat tidak asing untuk dirinya.
"Jung Yunho?" kata Jaejoong masih dengan kepeningan dikepalanya
"Ini. Minumlah ini dulu" kata Yunho sambil menyerahkan secangkir teh madu hangat pada Jaejoong
Jaejoong hanya dapat termangu sambil melihat cangkir dihadapannya. Banyak pertanyaan pertanyaan yang berkelebat dalam pikirannya. Tentang apa yang terjadi, kenapa Yunho ada disini, dan ia memikirkan ia sedang berada dimana. Namun pemikiran pemikiran itu hanya kembali membuat kepalanya semakin pening. Dengan sebuah desahan singkat akhirnya Jaejoong mengangkat tangan kanannya dan berusaha menyesap teh madu tersebut. Hangat. Dan nikmat. Membuat seakan segala masalah dalam kepalanya perlahan pergi dan sirna.
"Kau mabuk" jelas Yunho kemudian dan membuat Jaejoong terhenti dari aktifitasnya dan mengalihkan kepalanya menatap Yunho
"Kau sangat mabuk kemarin" jelas Yunho lagi dan mengambil tempat disi Jaejoong yang tengah terduduk itu
"Mabuk?" tanya Jaejoong masih tidak percaya
"Ne. Kau mengigau aneh aneh dan berkeringat sangat banyak, karena itu aku mengganti bajumu" jelas Yunho sambil memperhatikan tubuh Jaejoong yang telah berganti pakaian miliknya
Jaejoong hanya membulatkan matanya sambil kemudian menatap ketubuhnya yang kini telah mengenakan pakaian yang berbeda dari pakaian yang ia pakai kemarin. Seburat noda merah muda hinggap diwajahnya menandakan ia tengah merona kini.
"Kau yang menggantinya?" tanya Jaejoong masih terkaget kaget
"Ne, memang kenapa?" tanya Yunho santai sambil menatap Jaejoong
Jaejoong terdiam. Dalam batinnya ia hanya dapat memikirkan bahwa memang bukanlah hal yang aneh jika seorang pria saling menggantikan pakaian. Lagipula, mereka ini sesama pria bukan? Tapi kenapa degupan didada Jaejoong membuat Jaejoong merasakan perasaan lain dan malah membuatnya cemas seperti ini?
"Ah, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Yunho yang mengubah suasana jadi lebih serius. Ada sedikit hal dalam igauan Jaejoong kala itu yang mengganggu Yunho
"Sandara... Siapa dia?" tanya Yunho lagi tanpa menatap Jaejoong
Jaejoong kembali terdiam dan mengalihkan tatapannya dan menundukkan kepalanya memandang lantai. Ia memang tidak banyak mengingat apa apa saja yang telah terjadi saat ia mabuk. Tapi ia rasa memang ia sempat mengucapkan nama itu dalam mabuknya. Nama yang menyebabkan ia merasa harus melepaskan semuanya lewat minuman.
"Dia ibuku" jawab Jaejoong singkat
"Ibumu?" kata Yunho mengembalikan pandangannya pada wajah Jaejoong yang kini terlihat lebih muram
"Ibu tiriku" jelas Jaejoong lagi sambil menghela nafas cukup berat disana
"Ah, ibu tiri rupanya" kata Yunho sambil mengangguk angguk seakan mengerti
Yunho menatap Jaejoong yang tampak berbeda dari sebelumnya. Dari ia yang tengah merona dan membuatnya sangat gemas, hingga kini ia melihat hal yang sebaliknya. Ia melihat wajah Jaejoong yang amat penuh luka. Yunho menyadari bahwa seorang bernama Sandara bukanlah sekedar ibu tiri bagi Jaejoong, tapi, jika Jaejoong tidak mau menceritakannya bukankah lebih baik tidak membahasnya?
"Ya! Jangan menunjukkan wajah seperti itu padaku! Kau lebih cantik saat tersenyum!" kata Yunho berusaha mengubah arah pembicaraan
Mendengar kata 'cantik', Jaejoong lalu mengalihkan pandangannya ke Yunho dan memberikan tatapan tajam padanya seraya mempoutkan bibirnya gemas.
"YA! Aku ini Namja!" pekik Jaejoong tidak terima
"Aish, ne, ne, mianhae, aku kan hanya bercanda" kata Yunho sambil menggaruk tenguknya yang tidak gatal itu
"..walau kau memang cantik..." kata Yunho seraya berbisik yang ternyata didengar Jaejoong dan kembali mendapat sambutan mata tajam Jaejoong
"Ah, ah, mianhae!" kata Yunho mulai merasa tidak enak pada Jaejoong
"Pukul berapa ini?" tanya Jaejoong kemudian
"Delapan pagi" jawab Yunho yang hanya dibalas sesapan oleh Jaejoong
"Apa kau masih pusing?" tanya Yunho lagi mulai mencari pembicaraan yang lain
"Sedikit" jawab Jaejoong singkat sambil kembali menyesap tehnya
"Apa kau mau kuantar pulang?" tawar Yunho khawatir
"Tidak usah. Kurasa, aku akan mengunjungi Changmin dahulu" jawab Jaejoong
DEG! Jantung Yunho mulai terasa tidak nyaman ketika Jaejoong menyebutkan nama Changmin. Nama yang jelas jelas cukup mengganggu Yunho jika ia mengingat kilasan masalalunya.
"Mau kuantar?" tawar Yunho lagi
Entah ada angin apa sehingga Yunho memutuskan untuk mengantar Jaejoong menuju apartemen pria itu. hanya saja sepenggal dalam diri Yunho merasa sangat tidak nyaman ketika melihat keadaan Jaejoong yang lemah seperti ini. rasanya sepenggal dalam diri Yunho itu... ingin melindungi Jaejoong.
"Tidak u..."
"Ayolah! Aku antar kau kesana!" kata Yunho menyanggah perkataan Jaejoong sambil memberdirikan tubuhnya dan menawarkan tangannya untuk diraih Yunho
Jaejoong hanya terdiam saat melihat Yunho yang tengah menawarkan tangannya sambil tersenyum kepadanya. Jantungnya kembali berdegup pelan saat melihat hal itu. Jaejoong saat ini merasa sangat... dilindungi.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Jaejoong mengambil tangan Yunho dan membangkitkan dirinya dari tempat tidur. Yunho mengambil cangkir pada tangan kiri Jaejoong dan menaruhnya pada meja didekat tempat tidur itu. Tangan kanannya kemudian mengambil tangan kiri Jaejoong yang kosong itu dan lalu menggenggamnya dan membawanya perlahan menuju apartemen Jaejoong. Jantung mereka berdua beradu cukup cepat saat itu dan rasanya mereka semakin dekat satu sama lain. Inikah efek ciuman malam itu?
#YunJae#
TINGTONG
Suara nyaring dari arah pintu cukup mengusik yeoja yang tengah membereskan dapur kala itu dan membuatnya mau tidak mau menuju kearah pintu.
Fanny membuka pintu kecoklatan itu dan mendapatkan pemandangan yang amat mengejutkan dirinya. Seorang Jung Yunho tengah berdiri disana. Tepat dihadapannya, tanpa menyadari ada seorang pria lain selain pria itu. Sementara Yunho menatap Fanny dengan tatapan datar, Jaejoong menatap Fanny dengan penuh pertanyaan.
"Siapa dia?" batin Jaejoong
"Op..." eja Fanny tanpa suara saat menatap Yunho dihadapannya
"Siapa yeobo?" kata seorang yang kini tengah berdiri dibelakang Fannya sambil turut memegangi pintu itu dan membukanya lebih lebar sehingga menampakkan Kim Jaejoong disana.
"Ah! Hyung!" pekik Changmin sambil tersenyum
Pekikan Changmin dibelakang Fanny membuatnya terlonjak kaget dan kembali tersadar. Kini didepan pintu apartemen ini, ada empat orang yang tanpa mereka sadari saling terhubung satu sama lain. Terhubung atas sesuatu yang bernama 'Takdir'.
"Ah, maaf sebelumnya. Aku disini hanya untuk mengantarkan Jaejoong saja" kata Yunho sambil tersenyum pada Changmin
"Ah? Tidak apa apa. Masuklah dulu, jangan berdiri didepan pintu seperti ini. tidak baik" kata Changmin mempersilahkan mereka masuk
Fanny berusaha sedikit demi sedikit mencuri pandang pada Yunho yang tengah melangkahkan kakinya masuk dan menangkap pemandangan yang sedikit tidak mengenakkannya. Tangan Yunho mengait dengan kuat pada namja yang ia ketahui adalah sepupu dari suaminya itu. Sedikit dalam hatinya merasa ngilu saat melihat pemandangan itu. Cemburu? Mungkin.
"Changmin ah, kurasa aku menitipkan sesuatu padamu, bolehkah aku mengambilnya?" tanya Jaejoong
"Ah! Ne! Ada dikamarku! Ayo hyung!" kata Changmin sambil mengajak hyungnya ke kamarnya
Jaejoong merasakan tubuhnya tertahan saat ia baru saja akan melangkah mengikuti arah Changmin. Matanya mengarah pada namja yang kini tengah berdiri disampingnya dan menyadari bahwa tangan mereka masih saling terkait.
"Em.. Jung Yunho" panggil Jaejoong
"Um?" saut Yunho
Jaejoong mengarahkan matanya kearah tangan mereka saling terkait dan diikuti oleh mata Yunho yang juga mulai melihat tangan mereka yang masih terkait. Yunho merasakan jantungnya berdegup kencang saat menydari itu dan langsung melepaskan tangan Jaejoong secara tiba tiba. Kini wajah Yunho terasa memanas dan menimbulkan rona yang tidak biasa diwajahnya.
"Mianhae" eja Yunho tanpa suara
Jaejoong hanya tersenyum penuh arti dan lalu pergi menuju kamar Changmin sambil merasakan debaran halus dalam dadanya semakin menggila. Sementara Yunho kini hanya dapat terdiam sambil merasakan getaran dalam dadanya. Selalu ada kehangatan dalam dirinya saat ia bersama Jaejoong. Selalu.
"Oppa..." panggil seorang yang terasa terabaikan disana
Yunho yang mendengar suara itu lalu membalikan tubuhnya menuju keasal suara dan lalu menatapnya. Tatapan Yunho kala menatap yeoja yang kini dihadapannya ini memang tidak dapat diartikan hanya saja bagi orang yang melihatnya mungkin ia tau. Ada sebersit luka ditatapannya.
"Terimakasih" kata Yunho sambil menatap Fanny
Flash Back
"Siapa itu?" tanya Yunho pada Jaejoong
Wajah Jaejoong yang tadi masih sempat merona karenanya kini terlihat sangat muram setelah menerima telepon itu. Ada apa ini?
"Yunho ya, aku pulang dulu ne?" pamit Jaejoong
"Eh? Kenapa?" tanya Yunho bingung saat melihat sikap Jaejoong yang tiba tiba
"Besok... aku harus bertemu seseorang, jadi kurasa aku lebih baik pulang sekarang" jawab Jaejoong sambil memberdirikan tubuhnya dan lalu melangkah menuju pintu keluar dengan terburu buru dan meninggalkan Yunho yang terdiam disana
"Aku pergi" kata Jaejoong cepat sebelum akhirnya menutup pintu itu dan sepenuhnya pergi dari apartemen Yunho
Yunho merasakan perasaan tidak enak setiap kali membayangkan wajah muram Jaejoong tadi. Hatinya membuatnya merasakan perasaan yang mungkin agak berlebihan tapi Yunho merasa cemas karena seorang Kim Jaejoong sekarang. Pikirannya berputar dalam kepalanya dan membuatnya kemudian mendapatkan suatu ide yang mungkin sudah sangat gila untuk dilakukannya. Tapi rasanya bagi seorang Kim Jaejoong... ini tidak akan sia-sia.
"Fanny ah... boleh aku minta nomor ponsel sepupu suamimu?" ketik Yunho pada ponselnya keseseorang yang tidak akan pernah ia duga mintai tolong
Flash Back End
"Oppa, apa hubunganmu dengannya?" tanya Fanny terang terangan
"Teman kenapa?" jawab Yunho singkat
"Anniyo, aku hanya merasa kalian sangat dekat" kata Fanny lagi
"Memang kenapa kalau kami sangat dekat? Kau tidak mungkin cemburu dengannya bukan?" jawab Yunho santai yang cukup menyentil hati Fanny
Yah, memang benar, untuk apa seorang Tifanny Hwang cemburu oleh seorang pria? Bukankah Yunho dan sepupu suaminya itu sesama pria? Tapi sedikit pikirannya melayang pada genggaman tangan mereka saat mereka memasuki aprtemen itu pertama kali. Genggaman tangan yang sangat tidak biasa dan berhasil membuatnya cemburu.
Fanny menghela nafasnya kecil sambil menggelengkan kepalanya berusaha menghindarkan bayangan itu dari pikirannya.
Jangan bodoh Tifanny Hwang.
#YunJae#
"Itu istrimu?" tanya Jaejoong yang hanya dibalas oleh anggukan Changmin yang tengah serius mencari obat milik Jaejoong
"Dia cantik" kata Jaejoong memuji Fanny
"Sudah kubilangkan, hehe" kata Changmin lemas sambil tersenyum paksa
"Eh? Ada apa ini? Mana semangatmu dulu? Bukankah dulu kau ingin mengenalkanku padanya? Bukankah ini saatnya?" kata Jaejoong yang menyadari perubahan sikap Changmin
"Entahlah hyung, aku hanya..." kata Changmin sambil memberikan beberapa bungkus obat pada Jaejoong
"...merasa dia bukan seperti istriku yang dulu" kata Changmin lemas sementara Jaejoong membuka bungkusan obat itu satu persatu dan mulai memakannya dengan cepat sebutir demi sebutir
"Wae?" tanya Jaejoong sambil menegak sebotol minuman yang adalah obat juga
"Ada yang kembali..." kata Changmin lemah
Jaejoong terdiam. Kata 'kembali' mengusik sedikit kepalanya. Ya, ia juga harus mengakui ada seorang yang kini telah kembali dalam hidupnya, mungkin perasaan ini adalah perasaan buruk yang juga tengah dirasakan oleh Changmin.
"Bersemangatlah! Jika dia memang untukmu, dia pasti akan kembali padamu, tapi jika tidak, mungkin ia hanya batu lompatan saja untuk bertemu dengan yang lebih baik" kata Jaejoong
"Bagaimana jika aku merasakan dia yang terbaik? Tapi dia tidak berpikir hal yang sama?" tanya Changmin lemah
"Jawabannya... ada dalam dirimu sendiri Shim Changmin" kata Jaejoong tegas
"Hyung, bagaimana rasanya?" tanya Changmin lagi
"Hum?"
"Hilang ingatan, bagaimana rasanya?" jelas Changmin
Jaejoong terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab dengan senyum kecutnya.
"Itu menyebalkan"
"Kau terbangun dan tiba tiba sudah merasakan rasa sakit pada tubuhmu tanpa mengingat apa apa itu menyebalkan" jelas Jaejoong
"Tapi rasanya... lebih mudah bila kita tidak mengingat apapun tentang masa lalu dan tinggal menjalani masa sekarang" desah Changmin frustasi
"Tanpa masa lalu, tidak akan ada masa kini" kata Jaejoong berusaha menasihati Changmin yang kini tampak sangat frustasi
"Shim Changmin tersenyumlah! Semangatlah! Kau ini tampan! Mana mungkin istrimu meninggalkan orang setampan dirimu! Ayolah!" kata Jaejoong menyemangati Changmin
"Hyunnggg" kata Changmin merajuk
"Bersemangatlah! Karena setidaknya wanita impianmu itu menjadi milikmu!" kata Jaejoong menepuk pundak Changmin dan berusaha menyemangatinya
Changmin menatap Jaejoong. senyum yang Jaejoong tunjukkan dihadapannya jelas saja bukan senyuman terbaik Jaejoong, karena ia pernah melihat yang lebih baik daripada senyumnya hari ini. tapi menatap Jaejoong dan mengingat semua yang telah Jaejoong lewati, Changmin rasa ia masih cukup beruntung dalam hidupnya. Changmin kemudian berusaha melengkungakan bibirnya dan membentuk sebuah senyuman disana dan membuat Jaejoong merasa lega.
Mungkin Changmin hanya perlu berpikir positif.
#YunJae#
"Ah, kau sudah selesai Jaejoong?" tanya Yunho saat melihat Jaejoong sudah keluar dari kamar Changmin
"Ne"jawab Jaejoong seadanya
"Ah, hyung aku ingin mengenalkanmu pada istriku!" kata Changmin yang kini lebih bersemangat
Changmin menarik Fanny dan merangkulnya disampingnya. Tanpa Changmin sadari ada sepasang mata yang menatap hal itu dengan aura yang cukup panas.
"Tifanny Hwang" kata Fanny sambil membungkukkan badannya
"Kim Jaejoong. Senang akhirnya dapat bertemu dengamu" kata Jaejoong juga membungkukkan badannya
"Ah! Sebaiknya aku pulang sekarang" lanjut Jaejoong
"Mau kuantar?"
"Mau kuantar hyung?"
Yunho dan Changmin menawarkan diri secara bersamaan. Sejujurnya Yunho memang sangat ingin mengantarkan Jaejoong karena masih merasa khawatir sementara Changmin ingin mengantarkan Jaejoong karena ia ingin menghindari Fanny sesaat. Jujur saja walau ia sudah sanggup merangkul Fanny dan bersikap mesra, hatinya masih merasakan kebingungan tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Dan Changmin rasa, pergi kerumah Jaejoong dapat cukup menenangkannya.
"Aku... pulang dengan Changmin saja" kata Jaejoong saat menyadari raut wajah Changmin
Changmin menunjukan wajah penuh rasa terima kasih sementara Yunho menunjukkan raut wajah yang penuh kekecewaan. Kecewa? Yah, rasanya Yunho sedang sangat kecewa kini. Sementara Tiffany hanya dapat menatap dua pria yang menawarkan jasanya bagi Jaejoong itu dengan pandangan penuh tanya.
"Kalau begitu aku akan ambil kunci mobil dulu" kata Changmin sambil kembali menuju kamarnya
"Kalau begitu, aku juga harus kembali ke apartement ku" kata Yunho berusaha berpamitan
"Ah! Yun!" panggil Jaejoong tanpa embel embel lagi dan menarik tangan Yunho yang hampir menjauh
"Terimakasih sebelumnya" kata Jaejoong sambil tersenyum manis pada Yunho yang membuat jantung Yunho berdegup pelan lagi dan membuatnya seakan terhipnotis untuk tersenyum juga
"Ne" kata Yunho kemudian sambil berjalan menuju pintu keluar dan pergi
Ruangan itu kini hanya menyisakan Jaejoong dan Tiffany didalamnya. Hening terasa diantara mereka berdua. Jujur saja, Fanny masih merasa kikuk setiap kali mengingat orang yang dekat dengan Yunho adalah sepupu suaminya, jadi daripada ia mengambil langkah yang salah dalam berbicara, ia memilih diam.
"Fanny ah" panggil Jaejoong kemudian yang membuat Tifanny akhirnya menatap mata doenya
"Jangan salah langkah" kata Jaejoong menasihati
DEG! Fanny terkaget mendengar kata kata Jaejoong yang tampak cukup mengintimidasi dirinya. Pikiran pikiran dalam kepalanya mulai berbayang dan membuat kepalanya semakin penuh dan membuat denyutan kecil disana. Apa maksud perkataan Jaejoong?
"Jja! Ayo kita pergi!" kata Changmin kemudian lalu berlalu bersama Jaejoong tanpa mengindahkan Fanny
Changmin memang sedang menghindari Fanny rupanya.
#YunJae#
"YOOCHUN HYUNG!"
Yoochun yang tengah memasukkan bahan makanan menuju rumah Jaejoong terlonjak ketika mendengar pekikan suara yang tidak asing ditelinganya.
"Ya!" pekik Yoochun ketika melihat Changmin memasuki rumah Jaejoong
"Yoochun hyung apa yang kau lakukan disini?" tanya Changmin polos
"Ya! Harusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang kau lakukan disini!?" tanya Yoochun
"Mengantarkan Jaejoong hyung, haha"jawab Changmin semangat
"Astaga! Jadi Jaejoong menginap dirumahmu semalaman eoh? Aish anak itu!" kata Yoochun cemas
"Ah! Hyung baru memasukan bahan makanan ya! Wahhh aku harap Jaejoong hyung masak enak hari ini!" pekik Changmin lagi lebih semangat saat mebahas soal makanan
"Ya! Ya! Ya! Aku baru pulang! Setidaknya aku ingin istirahat dulu!" kata Jaejoong sambil memasuki rumah dan menuju kamarnya santai
"Hey, Kim Jaejoong! Kau pikir hanya kau yang tinggal dirumah ini?! Kenapa kau tidak memberiku kabar kalau kau menginap di apartemen Changmin eoh?" kata Yoochun cemas sambil mengikuti langkah Jaejoong
"Aish, mianhae! Kemarin aku sedang ada masalah, jadi aku berusaha untuk menangkan diri sedikit" kata Jaejoong berusaha menidurkan dirinya di tempat tidurnya
"Jangan bilang padaku kalau kau mabuk?" terka Yoochun
"Hmmm" saut Jaejoong
"Ya! Kim Jaejoong!" pekik Yoochun merasa frustasi saat mendengar sautan itu
Yoochun adalah teman Jaejoong sejak kecil, sangat lama mereka berteman dan Yoochun tidak mungkin tidak merasa cemas pada sahabatnya satu ini. ia sudah terlanjur amat menyayangi Jaejoong dan menganggapnya sebagai saudaranya sendiri. Melihat Jaejoong yang tampak berbeda kini Yoochun merasa sangat khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya itu karena ulahnya sendiri.
"Yoochun Hyung! Ayo kita bermain game!" panggil Changmin
Jaejoong membalik tubuhnya dan menatap Yoochun dengan wajah lelahnya memperlihatkan pakaian yang tidak biasa dikenakannya.
"Temani Changmin, kurasa ia sedang membutuhkannya sekarang" kata Jaejoong lebih tepat seperti menyuruh
Yoochun memperhatikan pakaian yang dipakai Jaejoong. Pakaian itu bukanlah pakaian yang seperti biasa Jaejoong kenakan, bahkan bukan style yang disukai Jaejoong. Sebuah tanda tanya pun hinggap dikepala Yoochun
"Baju siapa itu?" tanya Yoochun penasaran dengan raut wajah yang tidak biasa
"Ah, ini? Temanku. Aku menginap dirumahnya kemarin, dan aku meminjam bajunya. Kenapa?" jawab Jaejoong bingung dengan raut wajah Yoochun yang tidak biasanya
Yoochun terdiam dan memperhatikan baju yang terasa memberikan efek tersendiri baginya itu.
"Sebaiknya aku menemani Changmin dulu. Kau, tidurlah" perintah Yoochun
"Hmmmm" kata Jaejoong kembali membenamkan kepalanya pada bantal
Yoochun keluar dari kamar Jaejoong dan menutupnya perlahan. Ada sedikit perasaan yang mengganggu hatinya ketika menatap pakaian itu. Pakaian yang sesungguhnya sangat familiar bagi Yoochun. Tanpa berfikir panjang lagi Yoochun mengetikan beberapa angka pada ponselnya dan membuatnya terhubung pada seorang lain diseberang sana.
"Yoboseyo?"
"Kim Junsu?"
TBC
