Title : FATE
Author : cindyjung / jungharu
Pairing : YunJae (Jung Yunho X Kim Jaejoong)
Genre : Sad, Romance
Aloha kembali lagi dengan istrinya Jung Yunho yang paling cantik ini #digaplok Jae# XD
Mohon maaf bila di ff sebelumnya malah makin pada ga ngerti wwkwk._.v saya ini memang suka bikin cerita yang sesat hahaha tapi semoga dipart ini kalian bisa menemukan titik cerah ya :3 *siapin lampu*
Balasan review :
Vic89 : iyak begitulah haha. Wah bahasa ngawang ngawangnya pinjem yah buat di ff ._.v
Yuuka Shim : huahaha. YunJae sweet moment? Emm, iya ntar dibikin. Tapi kalo ga sesuai harapan maapkan yah XD
YunHolic : Akhirnya ada yang ngeh juga XD hahaha mau tau jawabannya? Ikuti part ini '_')b
NaraYuuki : gapapa kok Yuuki semua ada waktunya XD haha. Ah iya, jarang pake itu karena sejujurnya males ._.a tapi kalo misalnya agak bikin bingung ntar dicoba diperbaiki dipart ini yah ^^
MaghT : Makasih ^^
Meybi : Part ini bakal ngebahas Jae-Dara nih jadi simak yah semoga ada titik terang XD
Balasan Review End
Maap bagi yang masih ga mudeng ama cerita ini yah, ntar dipart ini dan selanjutnya akan Cindy bikinkan cahaya terang untuk kalian semua XD. Oh ya mulai part ini dan kedepan kayanya bakal banyak flash back hehe jadi siapkan mata kalian untuk baca tulisan yang miring-miring (?) Makasih yang udah mau baca, review, follow dan favorit cerita ini *bow
Now let's begin the new story...
.
.
.
When will you realized something about heart?
Maybe when you closer with the one you love?
Or maybe when you so far away from him?
#YunJae#
Jaejoong POV
Aku mengerjapkan mataku saat itu dan mendapati bias cahaya yang tampak berusaha menusuk mataku. Perlahan tapi pasti aku berhasil menatap ruangan disekelilingku dan mendapati bahwa aku berada diruangan yang sangat putih, bersih, namun berbau sangat memabukkan. Banyak peralatan aneh yang berada disisi kiri dan kananku. Dan juga ada rasa sakit yang begitu menjalar dikepalaku. Sebuah selang oksigen terdapat dibagian hidungku dan menutupi hidung dan mulutku.
NGEK. Sebuah suara dari arah kananku memaksaku untuk menatap kearah asal suara. Pening dikepalaku membuatku sangat sulit untuk merubah posisi kepalaku dan membuat mataku bersusah payah menatap seorang yeoja yang kemudian sudah berada didekatku.
"Siapa dia?" batinku
"Kim Jaejoong, kau sudah sadar?" kata yeoja itu ramah
Aku hanya terdiam sambil menatapnya. Rasa sesak yang masih tertinggal didadaku ini membuatku merasa suaraku seakan sulit untuk dikeluarkan. Satu nama mengawang dalam kepalaku. Kim Jaejoong. Apa itu namaku?
"Kau baru saja mengalami kecelakaan yang sangat fatal dan hampir saja membuatmu kehilangan nyawamu. Untungnya, kau hanya mengalami amnesia saja dan sudah berhasil melewati masa kritis. Ah, tapi selain itu, saat kecelakaan kau menghisap banyak asap sehingga membuat paru-parumu terdesak dan tidak dapat bernafas dengan baik, jadi untuk beberapa lama aku akan menjadi dokter spesialismu" jelas yeoja itu lagi sambil menggambarkan detail
Aku hanya bisa menatapnya penuh tanya. Sakit pada kepalaku semakin menjadi setiap kali aku berusaha mengingat masa laluku. Apa yang terjadi padaku sebelumnya. Siapa aku dan bagaimana aku dahulu.
"Tidak usah dipaksakan, Kim Jaejoong. perlahan lahan semuanya akan membaik dengan sendirinya" kata yeoja itu sambil tersenyum dan menggenggam tanganku pelan
"Kim Jaejoong, kenalkan aku Sandara Park" katanya kemudian masih menggenggam tanganku
Genggaman tangannya kala itu sangat lembut dan berhasil membuatku merasa nyaman hingga tanpa sadar jantungku berdegup pelan dan menimbulkan rasa hangat pada diriku.
#YunJae#
Hari hari berlalu. Tidak mudah bagiku memang untuk menjalani hari hari pertama saat pemulihan terlebih lagi kala aku harus mengikuti pengobatan pengeluaran asap dari paru-paruku. Rutukan apapun tidak dapat menggambarkan betapa aku sangat tersiksa saat itu tapi Dokter Dara selalu menemaniku dan membuatku merasa nyaman.
Perlahan aku merasakan getaran yang lebih banyak padanya dan rasa nyaman padanya. Aku merasa sangat dan semakin dekat padanya. Kim Jaejoong apakah kau sudah jatuh cinta padanya?
"Kim Jaejoong. Ini adalah sahabatmu sejak kecil, Park Yoochun" Kata Dara sambil mengenalkan seorang yang memang dirasa tidak asing bagiku
"Jaejoong ah..." panggil suara itu yang terdengar penuh kesedihansementara aku hanya terdiam sambil terduduk ditempat tidur pasien dan menatapnya
Entah apa yang harus aku pikirkan tentang namja ini. Tentang siapa dia dan bagaimana hubungan kami dulu. Tapi dari tatapan matanya aku mendapatkan sebuah kesedihan, kebahagiaan, dan... penyesalan?
"Aku akan meninggalkan kalian dahulu" kata Dara lagi sambil meninggalkan kami berdua
"Apa kaubenar sahabatku?" tanyaku padanya yang membuatnya terlonjak kecil
"Ah, aku lupa kau tidak mengenaliku hum? Ne, aku sahabatmu. Kita sudah bersahabat sangat lama. Sangat sangat lama" kata Yoochun sambil mengambil sebuah tempat disampingku untuk duduk
"Kalau begitu, apakah kau tau apa yang terjadi padaku sebelumnya?"
Yoochun terdiam. Aku menatapnya dan berharap ia akan memberikan jawaban yang aku benar-benar ingin tau. Rasa penasaran pada kepalaku membuatku seakan-akan ingin meledak.
"Kau kecelakaan" jawab Yoochun singkat enggan menatapku balik
"Lalu sebelumnya? Apa yang terjadi padaku sebelumnya?" tanyaku lagi yang kembali dibalas keterdiaman olehnya
Hening sangat lama dalam ruangan ini hingga akhirnya ia mengeluarkan suara yang kuharap memberikan jawaban atas pertanyaanku tadi. Tapi ternyata tidak.
"Dara ssi itu cantik sekali ya?" kata Yoochun malah merubah topik pembicaraan kami
"Yoo..."
"Suatu saat nanti, Kim Jaejoong. Tidak sekarang" Sanggah Yoochun kemudian
Kini aku yang terdiam. Sesulit itukah hanya memberitahukan masa laluku?
"Jadi bagaimana? Dara ssi itu cantik bukan?" kata Yoochun lagi yang membuatku akhirnya mengalihkan pikiranku pada Dara
Ya, sejujurnya Dara memang sangat cantik walaupun ia hanya lebih tua setahun dariku. Dan memikirkan Dara tanpa sadar membuat semu merah muda pada pipi putihku. Aish ini menyebalkan. Kim Jaejoong apa kau benar benar telah menyukainya?
#YunJae#
Dua tahun telah berlalu. Aku memang tidak berhasil mengingat masalaluku dengan jelas namun aku tidak peduli lagi pada semua itu, karena kini dihadapanku ada seseorang yang benar benar telah berhasil mengambil hatiku. Dan saat aku menyadarinya, dia masih ada didekatku. Dara ya, aku menyukaimu, sangat sangat menyukaimu.
Hari ini aku berencana menyatakan cintaku padanya, senyum terus mengembang diwajahku. Aku memakai kemeja terbaikku dan mekaikan jaket jeans yang tidak kalah trendy dan sangat pas dengan kemejaku itu. Sungguh rasanya tidak asing dengan perasaan ini hanya saja tetap memberikan efek tertentu bagiku. Aku berjanjian dengannya disebuah cafe dekat rumah sakit dan telah menyiapkan sebuah kalung baginya yang tentu saja kusembunyikan disaku jaketku. Lalu aku melangkahkan kakiku menuju cafe itu.
Aku melihatnya disana. Cukup cantik dengan gaun sederhana yang dipadukannya dengan cardigan tanpa lengan itu. Rambut sebahunya menjuntai indah dan memperlihatkan pipi v=chubby dan bola mata indahnya. Aku benar benar tidak salah memilih gadis.
"Kau sudah tiba lebih dulu rupanya" kataku membuka percakapan sambil mengambil tempat duduk dihadapannya
"Tentu saja, karena aku juga punya suatu hal yang ingin kubicarakan padamu" katanya
"Benarkah? Apa itu?" kataku masih tetap sumringah
Kami terdiam cukup lama. Aku menatapnya yang kelihatan yakin-tidak yakin ingin mengatakan hal itu. Tiba-tiba suatu firasat tidak enak mengenai dadaku saat itu. Debaran hangat yang aku rasakan tadi kini berubah menjadi debaran penuh tanya. Ada apa ini?
"Katakan saja, wanita lebih dulu" kataku sambil berusaha tersenyum padanya
"Kim Jaejoong.. apa kau menyukaiku?" tanya Dara yang membuat jantungku seakan berhenti seketika. Pertanyaan yang benar-benar membuatku kaget dan membuat senyum kembali terkembang diwajahku
"Kenapa.." kataku sambil sedikit tergagap
"Jika ya... aku harap kau menerimaku.." lanjut Dara yang membuatku semakin terdiam
Aku memasukan tanganku pada kantung jaketku karena merasakan kegugupan yang amat sangat. Aku menggenggam kalung yang akan kuberikan pada Dara dan berharap ia akan mengatakan hal baik padaku. Apa ini artinya Dara juga merasakan hal yang sama padaku?
"Aku harap kau menerimaku sebagai ibu mu" lanjutnya kemudian sambil menatapku dengan pandangan sunggu- sungguh
Aku terdiam. Kembali aku merasakan seakan jantungku berhenti berdetak. Namun rasa setelahnya, tidak seindah seperti saat Dara berkata bahwa ia menyukaiku. Dara menyukaiku? Heh, aku hanya dapat mendengus pelan saat memikirkan itu. Jadi selama ini dia bersikap baik dan memanjakanku agar aku menyukainya dan menerimanya sebagai ibuku? Ibu tiriku? Tidak taukah kau Sandara Park? Aku menyukaimu lebih dari itu.
Aku menundukkan kepalaku sambil kembali menggenggam kalung yang akan kuberikan pada Dara itu. Aku mengambil nafas panjang dan kemudian memandang wajahnya dengan pandangan penuh kecewa.
"Aku menyukaimu" jawabku kemudian yang mendapatkan respon senyum darinya. Respon yang sesungguhnya kunantikan sedari tadi tapi tidak dengan keadaan seperti ini
"Sebagai pria aku menyukaimu Sandara Park" kataku lagi yang berhasil membuat pandangan matanya berubah menjadi kaget
"Aku menyukaimu, tapi aku tidak bisa menerimamu sebagai ibuku" kataku lagi masih menatapnya yang kini semakin terdiam
Aku memberdirikan tubuhku sambil masih menatapnya. Kecewa. Hatiku sangat kecewa kini. Sangat sangat sangat.
"Maaf jika kau mendapatkan rasa suka dariku yang tidak sesuai dengan harapanmu, tapi itulah perasaanku" kataku lagi sambil akhirnya mengambil langkah dan meninggalkan cafe itu
Aku pergi dan tidak menengok kebelakang lagi. Saat ini aku tidak ingin menatapnya. Tidak ingin melihatnya. Tidak ingin merasakan apapun lagi tentangnya. Saat aku sudah tiba diluar cafe aku menghentikan langkahku sebentar. Aku mengambil sebuah benda yang kini sangat menggagu tanganku. Aku mengambil kalung hati itu dan lalu membuangnya pada tempat sampah didekat sana dan kemudian menarik nafas dan melanjutkan perjalananku.
Takdir, memang sesuatu yang sangat kejam.
Jaejoong POV End
#YunJae#
"Jangan bercanda denganku Park Yoochun, apa maksudmu berkata seperti itu?" suara nyaring itu mau tidak mau membuat para pengunjung restoran menatapnya
"Junsu ah! Tenanglah sedikit" kata namja yang adalah Park Yoochun itu pada Junsu dihdapannya
"Jangan katakan padaku kalau mereka berhasil bertemu!" kata Junsu kemudian
"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat namun aku tidak yakin benar atau tidak bahwa pakaian itu adalah miliknya" kata Yoochun cemas kemudian
"Haruskah mereka bertemu lagi? Setelah tiga tahun ini... haruskah mereka dipertemukan kembali?" kata Junsu dengan pasrah
"Bagaimana jika mereka memang ditakdirkan bersama Junsu ah? Bagaimana jika akhirnya mereka memang harus saling menyukai lagi?" kata Yoochun sambil menatap namja dihdapannya itu
"Yang benar saja! Aku tidak mau melihatnya! Tidak mau melihat wajah sahabatku yang harus kehilangan kasih sayang dari orangtuanya hanya karena pria itu!" jawab Junsu sedikit kasar
"Kau pikir aku mau melihat sahabatku menangis tersedu karena kehilangan ibu yang paling dicintainya saat itu?!" jawab Yoochun juga kasar
"Padahal saat dirumah sakit... kita sudah berhasil tidak mempertemukan mereka..." kata Junsu tanpa menatap Yoochun dan mengembalikan pikirannya ke kejadianyang lalu
Flash Back :
"Sudah, tenang saja. Dia pasti pria yang kuat. Kau temannya, kau pasti lebih mengenalnya bukan?" kata seorang berusaha menyemangati Junsu
"Ya, Yunho memang pria yang kuat. Sangat kuat bahkan hingga sampai saat ini." kata Junsu berusaha mendalami kata-kata orang itu dan terdiam setelahnya
Setelah beberapa lama seorang dokter keluar dari ruangan yang dimasuki Yunho tadi dan memanggil kerabat terdekat Yunho.
"Dia selamat dan kita dapat memindahkannya ke ruang perawatan" kata Dokter tersebut
Junsu merasakan ia dapat bernafas lega kini setelah mendengarkan perkataan dokter. Ia tersenyum pada dokter dihdapannya dan memberikan bungkukan kecil pada dokter itu sebelum dokter itu meninggakannya. Senyum mengembang diwajahnya dan membuatnya kembali dapat berpikiran jernih hingga akhirnya ia menyadari satu hal. Suara familiar yang baru saja menyapanya itu... terasa sangat dekat disini.
Junsu menengok kebelakangnya dan tidak mendapati seorangpun didekatnya namun suara tadi terasa amat nyata baginya. Junsu meraih ponsel dalam sakunya dan mencari sebuah nomor yang sesungguhnya sempat menghubungi dia sebulan sebelumnya. Dan ia rasa kini, ia harus menghubungi nomor itu.
"Yoboseo?" kata seorang diseberang sana
"Park Yoochun? Ini aku Kim Junsu" kata Junsu kemudian
.oOo.
"Jaejoong ah, kata dokter kau sudah boleh pulang" kata seorang bersuara husky pada namja dihadapannya
"Benarkah? Bukankah kata dokter seharusnya aku tinggal lebih lama?" tanya namja yang bernama Jaejoong itu kemudian
"Sebenarnya, dokter menyarankan pengobatan dirumah saja, karena dia melihat kau sangat kebosanan dirumah sakit hahaha" kata Yoochun sambil berusaha tersenyum
"Aeh? Haha bagaimana ia bisa tau? Ahhh senangnya aku boleh pulaaangg" pekik Jaejoong senang tanpa mengindahkan rasa sakit didadanya
"Aduh" keluh Jaejoong ketika rasa sakit didadanya lebih terasa
"Ya! Walau kau boleh pulang kau harus tetap menjaga paru-parumu! Kau taukan lubang diparu-parumu itu bisa semakin membesar jika kau tidak waspada" kata Yoochun kemudian menasihati Jaejoong
"Aih mianhae, mianhae, baiklah, ayo kita beres-beres!" kata Jaejoong masih tetap semangat
Jaejoong mengambil seluruh pakaiannya dan memasukkannya pada koper dihadapannya sampai tiba-tiba ia terhenti sejenak
"Ada apa? Setelah tadi kau bilang kau tidak selera makan lalu tersedak, kini kau bilang kau tidak selera beres beres?" pekik Yoochun kesal saat melihat sikap aneh temannya
"Yoochun ah, aku keluar dulu ne?" kata Jaejoong lalu meninggalkan Yoochun sendirian
"Ya! Ya! Yang kubereskan ini baju siapa sebenarnya! Ya! Kim Jaejoong! Aish" kata Yoochun kesal karena Jaejoong menghilang dengan begitu cepatnya
TRRRTTT! Sebuah getaran pada saku celana Yoochunpun membuatnya melirik pada ponselnya dan lalu menjawabnya.
"Bagaimana?" tanya seorang dengan suara nyaring tersebut
"Sudah kuatur. Kami akan pulang hari ini. Semoga mereka tidak mempunyai kesempatan bertemu" kata Yoochun pada suara diseberang sana
Flash Back End
.oOo.
"Padahal aku sangat berharap pada Tiffany saat itu..." desah Junsu lemas
"Aku juga sangat berharap pada Dara kala itu tapi..." desah Yoochun juga lemas
Junsu dan Yoochun tertunduk dan termenung pada pikiran masing masing. Beberapa bulan yang lalu, dua orang itu datang ke Seoul pada waktu yang sama dan menimbulkan kepanikan dari kedua orang ini. Bukan tentang bagaimana mereka tidak boleh dipersatukan, tetapi tentang apa yang akan mereka sebabkan jika mereka dipersatukan lagi.
Kim Jaejoong dan Jung Yunho, memiliki masa lalu bersama. Memiliki kisah kasih yang amat menyedihkan bersama. Banyak air mata dan duka yang telah mereka rasakan ketika bersama. Dan kini ketika takdir telah memberi mereka waktu untuk menjalani hidup masing masing, haruskah mereka dipertemukan kembali?
#YunJae#
Jaejoong menatapi pakaian yang baru saja selesai ia cuci dan setrika itu. pikirannya menerawang jauh pada tiga hari yang lalu saat ia pertama kali mengenakan pakaian ini. Pakaian milik Yunho.. Senyum kecil mengembang dibibir peach Jaejoong dan membuatnya memikirkan hal hal yang telah ia lewati bersama Yunho. Tidak banyak memang namun cukup berkesan baginya. Selain memberikan kesan pada kepalanya, begitu juga pada hatinya. Seperti perasaan familiar yang selama ini telah hilang dari sebagian diri Jaejoong. Perasaan yang bahkan Dara masih sulit untuk meng-utuh-kannya.
"Kim Jaejoong, apa kau menyukaiku?" sebersit pertanyaan kembali menghantui kepala Jaejoong saat itu
"Jung Yunho, kau itu orang yang sangat jauh. Tapi kenapa aku merasa sangat dekat denganmu?" kata Jaejoong sambil melepaskan tatapannya pada pakaian itu dan menatap tempbok putih dihadapannya
"Kim Jaejoong, apa kau menyukaiku?" kembali pertanyaan itu berkelibat dalam kepala Jaejoong
"Jung Yunho, apa aku memang menyukaimu?" kata Jaejoong kembali menatap pakaian itu dan merasakan rona merah pada pipinya
"Aahh~~~" rajuknya sambil merebahkan tubuhnya ditempat tidurnya
Pandangannya menatap langit langit kamarnya sementara pikirannya melayang ketempat yang sangat jauh darinya. Jaejoong merasakan perasaan yang lain yang mirip yang dirasakannya pada Dara dulu, hanya saja kali ini bersubjek pada seorang pria dan itu adalah Jung Yunho. Namun perasaan kali ini masih mengawang dalam dirinya
Jaejoong mengerjapkan matanya pelan sebelum akhirnya ia menyadari suatu perbuatan yang harus dilakukannya. Dan ia sangat berharap bahwa ia akan menemukan jawaban yang benar benar tepat untuknya. Kim Jaejoong, apa kau menyukai Jung Yunho?
Jaejoong melangkahkan kakinya menuju mobilnya dan lalu mengarahkan mobil itu menuju ke apartemen milik Jung Yunho. Bahkan ia tidak perduli dengan awan yang semakin menghitam itu dan terus melajukan mobilnya kencang. Tiba di basement aprtemen tersebut, Jaejoong lalu mencoba melangkahkan kakinya sebelum akhirnya sebuah suara menyita telinganya
"Bagaimana jika aku masih benar-benar mencintaimu , Oppa!?" pekik seorang yeoja yang suara masih samar ditelinga JAejoong
"Ya! Tiffany Hwang!" pekik suara lain yang kali terdengar lebih familiar baginya
Dua orang yang tampak tidak asing itu kini berada jauh dari pandangan Jaejoong namun Jaejoong dapat mengenali mereka. Mereka saling melemparkan teriakan didepan pintu keluar yang terdapat di basement.
"Apa kau sudah menyukai orang lain?! Jawab aku oppa! Jawab!" suara seorang yeoja yang adalah Fanny
"Memang kenapa jika aku menyukai orang lain eoh?! Bukankah aku hanya menyukainya?! Aku tidak pernah menghianati siapapun seperti apa yang kau lakukan padaku!" pekik Yunho tak kalah keras
"Jadi kau akan terus membahas ini oppa?! Apa yang kau inginkan dariku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" pekik Fanny
"Aku masih mencintaimu!" pekik Yunho yang didengar sangat jelas saat itu oleh Jaejoong dan berhasil membuat jantung Jaejoong seakan berhenti seketika
Jaejoong mengalihkan pandangan sejenak sebelum akhirnya memutuskan kembali menatap pasangan itu. DEG! Jantung Jaejoong terasa perih saat itu dan rasa sesak yang ia rasakan kembali menyerangnya. Pemandangan yang ia lihat kini sangat tidak mengenakan hatinya. Terlihat tangan Fanny yang mengambil wajah Yunho dan lalu mencium bibirnya. Mencium. Bukan mengecup. Jaejoong yang sedari tadi hanya terdiam kini mulai merasakan nafasnya terhirup lagi. Namun oksigen itu terasa memberikannya kesesakkan yang lebih lebih sakit dari apa yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Ya, Jaejoong mendapatkan jawabannya. Dari rasa sakit ini, Jaejoong tau bahwa ia menyukai Jung Yunho.
Ya, Jaejoong menyadarinya. Dan Jaejoong menyadari juga bahwa Jung Yunho ternyata memang jauh. Sangat jauh darinya.
Jejoong kembali memasuki mobilnya dan menatap sebelah kanannya. Pakaian Yunho masih terlipat rapi disana. Sangat terbalik dengan perasaan Jaejoong saat ini. Sangat berantakan. Dan benar-benar berantakan.
TRRRTTT. Sebuah getar pada ponsel Jaejoong membuat Jaejoong melirik ponselnya sejenak dan lalu menekan tombol hijau itu.
"Kim Jaejoong, ayo kita bertemu lagi" kata yeoja diseberang sana
"Aku tidak mau" jawab Jaejoong dingin
"Sekali ini, aku mohon" kata yeoja itu dengan nada suara yang memohon membuat Jaejoong menghela nafasnya pelan dan lalu kembali pada pandangan dinginnya
"Baiklah, dimana?" jawab Jaejoong kemudian
#YunJae#
Changmin memasuki apartemennya sambil membawa sebuah berkas yang tampaknya sangat penting. Nafasnya tersengal setiap kali ia melangkahkan kakinya dan membawanya menuju ruangan apartemen yang ia tuju. Matanya memerah menandakan amarah yang sudah tidak bisa ia pendam lagi kala itu.
Perlahan tangannya memutar kenop pintu itu dan lalu membwanya masuk kedalam atmosfer yang paling tidak ingin ia temui saat ini. namun perasaannya tidak bisa bertahan lagi kini. Semuanya harus terselesaikan. Sekarang.
"Ah yeobo, kau sudah pulang?" kata seorang yeoja yang sangat ia kenal adalah Fanny dengan wajah yang penuh senyum
Changmin menatap yeoja itu dengan pandangan yang tidak biasa. Dingin, bahkan sangat dingin dan membuat Tiffany merasakan perasaan yang tidak enak dalam dadanya.
"Tiffany Hwang..." kata Changmin menyebut nama istrinya dengan lengkap itu kemudian
"Ayo kita bercerai" lanjutnya lagi sambil menunjukan sebuah map disebelah tangannya dan menunjukkannya pada Fanny
"Eh?" saut Fanny kaget sambil membelalakan matanya
"Aku bilang... ayo kita bercerai" kata Changmin menegaskan masih menatap dingin yeoja itu sementara Tiffany hanya dapat terdiam membisu sambil menatapi wajah dingin Changmin dan map yang disodorkannya secara bergantian
"Changmin ah... Kau..."
TBC
Otte? Otte? Bagaimana dengan ini? Sudah adakah titik terang ? XD Maaf kalo tiba tiba alurnya jadi kecepetan gini abisnya bingung mau dibikin kaya gimana lagi, takut Chapternya kepanjangan wkwkwkwk. ada yang mau usul SAD ato HAPPY endingkah? Soalnya Cindy juga lagi bingung wkwkwk. well semoga kalian suka yahh part ini XD Makasih :D
