Disclaimer : First, Vocaloid bukan punya saya. Punyanya Crypton, Yamaha. Second, Rinto sama Lenka punyanya Vocaloid. Third, fanfict ini yang baru punyanya saya :v

Warning : OOC, OOT, typo dan twin tercinta; semi typo, alur kecepetan, gaje, abal! Buat penyuka incest dan twincest, seribu maaf! Gak ada di fanfict ini! *bow*. Oh ya, MOHON REVIEW YANG LEBIH BANYAK, BANYAK, SUPER BANYAK KALAU PERLU, MINNA-SAMA! *sujud2* #capsjebol

Rated : Teen

Genre : Romance and Friendship


Author : Hmm, halo … Maaf lama update …

Lenka : Uwaah, Author-chan~. Lama nggak ketemu~.

Author : Hai, maaf jarang muncul. Author sibuk di RL, dan mau ngutamain Kimi no Egao, karena hampir selesai. Juga karena author sibuk mikir cerita baru.

Rinto : Hmm, sudahlah. Selamat membaca ya, minna~


Lenka POV

Aku bermimpi. Aku berjalan di pinggir jalan, di siang hari yang terik. Musim panas? Ah … Musim panas yang nostalgik. Aku memandang diriku sendiri, pakaian yang kukenakan, jalan yang kulalui. Berbeda dengan sekarang. Jadi … Ini salah satu kenangan masa kecilku?

Aku mengusap peluh yang membasahi wajahku. Huuh … Tak ada yang mengalahkan panasnya terik matahari musim panas ya~.

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki berambut pirang mendatangiku, mengajakku mengobrol. Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dia … Apa dia Len-kun?

Aku asyik bercanda dengannya. Kami menyebrang jalan. Tiba-tiba, sebuah truk berkecepatan tinggi datang ke arah kami berdua. Aku menutup mata. Lalu, semuanya gelap. Menghilang. A … Apa yang terjadi?

Aku membuka mataku. Ah, hanya mimpi. Aku mengatur nafasku yang tersenggal-senggal, kemudian aku terbatuk-batuk. Aku melihat jam dinding di kamarku. Pukul 06.15.

WHUT? APA? CIYUS ENELAN CUMPAH MIAPAH(?)?! A-AKU BISA TERLAMBAT! A-AKU KAN MASUK PUKUL SETENGAH 7! (Author : Selow aja, Lenka … Selow ==")

Aku segera mengambil handukku, kemudian berlari secepat seorang pelari atletik yang berusaha mendapatkan peringkat pertama. Err, oke, itu agak garing …

.

.

Aku segera memakai pita seragamku dengan agak terburu-buru. Err, bukan agak. Tapi SUPER buru-buru. Ini hari Selasa. Aku tidak mau sampai telat di pelajaran pertama; pelajaran bahasa bersama Taito-sensei, atau aku akan dihadiahi tugas menulis-puisi-kuno-yang-sama-sekali-tidak-kau-sukai atau kumpulan-latihan-soal-yang-bahkan-terlalu-malas-untuk-kau-sentuh. Aku buru-buru turun ke lantai bawah, sambil membawa tasku.

"Kesiangan?" ucap tou-san.

Aku mengangguk cepat. Tou-san hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menyeruput kopinya, dan kembali larut dalam koran yang dibacanya.

"Dasar … Tadi kan sudah kaa-san bangunkan … Hei, jangan lupa sarapan!" seru kaa-san dari dapur. Ia tampak sibuk memasak omelet kesukaan tou-san, dan bekal untuk Yukari. Aku memandang meja makan dengan cepat. Ada roti bakar dan bubur. Tanganku langsung menyambar 2 buah roti bakar, lalu memasukkannya sebuah ke mulutku.

"Twou-swan, kwa-swan, Yuwcwan, Lwenkwa bwangkwat! Jwaa!" ucapku. Hhh, karena roti yang ada di mulutku, ucapanku jadi tidak jelas begini deh.

Aku segera berlari sekuat tenaga menuju sekolah.

(Author : GO GO GO FIGHT WIN! #goblok #salah #diusir)

.

.

Aku berlari ke kelas 2-1, kemudian membuka pintunya dengan keras. Semua menoleh kepadaku. Huft … Untung belum ada guru dan untung belum bel …

Rinto, Len, Rin, Ring, dan Lui sudah datang. Yah … Aku memang selalu mendapat gelar kehormatan (?) Yang-Selalu-Telat di antara semua anggota VoiCe. Aku segera melangkah, dan menaruh tasku di kursi yang kosong di sebelah Rinto.

"Ck, telat lagi?" ucap Rinto yang sedang memainkan ponselnya.

"Hmm. Entahlah, aku tidak tau alasannya." jawabku sambil mengatur nafasku. Jujur, berlari seperti itu sudah menghabiskan sebagian besar tenagaku.

Tiba-tiba, Rinto menyodorkan sesuatu kepadaku. Handuk?

"Payah. Kau lari terus dari rumah sampai sekolah ya? Keringatan tuh. Pakai aja ini. Bersih kok."

"Hah? Bukannya ini handuk untuk latihan basketmu?"

"Aku masih punya satu lagi di loker. Sudah, pakai saja."

Aku menerima handuk itu dari tangannya.

"Hng, arigato, baka pirang super menyebalkan."

Rinto menjitakku pelan.

"Dasar nenek sihir! Gaada rasa terima kasihnya dikit aja kek!"

Kemudian aku menggelitiki dia hingga dia tertawa terbahak-bahak. Beberapa menit kemudian, bel berbunyi, dan Taito-sensei memasuki kelas kami. Setelah itu, pelajaran bahasa Taito-sensei yang dicap super-duper-triple-mixer(?)-membosankan atau pelajaran-yang-dapat-membawamu-mengunjungi-alam-mimpi-dalam-hitungan-menit pun dimulai.


Akhirnya, bel istirahat berbunyi, mengakhiri 2 jam pelajaran SUPER membosankan dari Taito-sensei. Aku merentangkan kedua tanganku, kemudian menguap. Huahm … Penjelasan tentang sastra kuno tadi … Mungkin hanya masuk seperempatnya ke otakku …

"Lenka-chan!"

Aku menoleh. Ring dan Rin yang memanggilku.

"Etto, aku sama Lui ada keperluan. Kami dipanggil Miriam-sensei, untuk ditanyai mengenai lomba yang akan kita ikuti itu. Kau tidak apa-apa kan, ke kantin tanpa kami berdua?" tanya Ring sambil menoleh ke arahku dan Lui; yang sedang memainkan ponselnya di luar kelas.

"Ng, Lenka-chan … Aku dan Len mau mencari bahan untuk PR Biologi, kami kan sekelompok. Jadi … Kami harus ke perpustakaan …"

"Pergilah. Daijobu." ucapku sambil tersenyum. Mereka berdua mengangguk, kemudian masing-masing menemui Lui dan Len yang sudah menunggu di depan pintu kelas.

Aku menghembuskan nafas dengan panjang. Hah … Sendirian …

Tiba-tiba, seseorang menepuk kepalaku pelan. Aku menoleh. Rinto; dengan cengiran lebar di wajahnya.

" … Apa?"

"Kau sendirian? Ayo ke kantin bersamaku!"

Sebetulnya aku ingin mengangguk, tapi entah kenapa aku malah menggeleng. Rinto menatapku dengan tatapan heran. Lalu … Perutku tiba-tiba berbunyi. Rinto tertawa kecil.

"Ahaha, kau bisa bohong, tapi perutmu tidak! Ayo!" ucap Rinto sambil menarikku agar aku berjalan. Aku hanya dapat mengikutinya; dengan memandang arah lain, karena masih malu dengan perutku yang berbunyi beberapa saat yang lalu.

.

.

Kami telah sampai di kantin. Kantin tampak ramai seperti biasanya. Kami mengambil meja dengan dua kursi, yang kebetulan kosong. Aku duduk di situ.

"Lenka, tunggu sebentar ya! Biar kupesankan makanan!" ucap Rinto.

"Heh? A-Aku bisa pesan sendiri!" sahutku kepadanya.

"Tidak usah repot-repot. Duduk saja apa susahnya sih, nenek sihir?" ledek Rinto sambil mengeluarkan lidahnya. Aku ingin menggelitiki atau memukulnya pelan, tapi dia sudah terlanjur ngacir sejauh-jauhnya kayak Matahari sama Pluto (?) dariku untuk memesan makanan. Aku duduk lagi, kemudian menghela nafas.

'Haah … Kenapa ya … Aku selalu bersikap begini kepada Rinto …' lamunku.

Rinto berjalan sambil membawa baki berisi makanan. Dia menaruh baki itu di meja (yaiyalah, masa di kursi ._.), kemudian dia duduk di seberangku.

"Oi, Lenka …"

Aku tidak sadar dengan panggilannya. Aku masih sibuk dengan lamunanku.

Rinto menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menggerakkan tangannya di depan wajahku.

"Oi, oi, Lenka! Nenek sihir! Jawab aku!"

Aku memandang tangan Rinto yang bergerak atas-bawah di depan wajahku. Kemudian, aku tersadar dari lamunanku.

"Ah, gomen, aku melamun. Siapa yang kau sebut nenek sihir?!" seruku.

Dia hanya nyengir dan jarinya membentuk huruf 'V'. Aku hanya cemberut melihatnya.

"Muahaha, canda. Ngelamunin apaan sampai tekun gitu?" godanya.

"Urusai! Bukan apa-apa, dan bukan urusanmu!" ucapku sambil mengalihkan pandanganku. Err … Aku tidak mungkin bilang bahwa aku ngelamunin dia, kan?

"Yare … Yaudah, nih makanannya." kata Rinto pelan, lalu menyerahkan semangkuk sup krim, segelas jus jeruk, dan … Roti kesukaanku.

Anak ini … Kenapa … Dia selalu … Baik kepadaku?

"A-Arigato …" ucapku. Rinto hanya mengangguk. Kemudian, kami mulai menikmati makanan kami.

.

.

Kami sudah menghabiskan makanan kami.

"Hei … Rinto … Aku ke kamar mandi dulu ya! Kau ke kelas duluan saja!" ucapku sambil menepuk punggung Rinto pelan.

"Oke. Hati-hati, nenek sihir." jawab Rinto yang masih menghabiskan minumannya. Aku pura-pura cemberut, kemudian segera melangkah meninggalkan kantin, menuju ke toilet.

Toilet sekolahku ada 2, yang satu di dekat lapangan (kalau toilet yang di sini, lebih dekat kalau ditempuh dari kantin), dan satu lagi di dekat ruang guru (yang dekat dari kelasku). Tentu saja, aku bergegas ke toilet yang berada di dekat lapangan.

Aku melewati jendela perpustakaan. Aku menghentikan langkahku saat melihat seorang anak perempuan berambut blonde dengan pita putih besar di kepalanya, dan seorang anak laki-laki yang berambut blonde juga; dengan rambut yang sedikit dikuncir, asyik bercanda. Aku mengenali mereka. Rin dan Len.

Rin tampak asyik tertawa, sementara Len mengelus kepala Rin. Mereka … Tampak bahagia berdua.

Aku mengambil langkah dari situ. Aku mempercepat langkahku menuju ke toilet.

.

.

Aku sampai di kamar mandi. Err, tidak usah aneh-aneh membayangkannya. Meskipun di dekat lapangan, kamar mandinya super bersih, dan terang; tampak apik juga dengan catnya yang berwarna baby pink. Sepi. Tidak ada siapa-siapa di sini.

Aku segera masuk ke salah satu kamar mandi. Aku duduk di kloset yang tertutup itu. Kemudian, aku mulai sesenggukan, dan menangis.

Len suka Rin-chan?

Rin-chan suka Len?

Bodohnya aku … Kenapa aku tidak pernah menyadarinya … ?

Jika begini terus …

Perasaanku tak akan terbalas.


Setelah selesai menangis, aku segera membasuh mukaku dengan air, dan mengeringkannya dengan handuk, hingga bekas bahwa aku habis menangis tidak terlihat. Aku tidak ingin siapapun tau bahwa aku habis menangis. Ya, aku pintar menyembunyikan perasaanku. Berbeda dengan Rin yang mudah ditebak, ataupun Ring yang selalu curhat kepadaku sambil menangis jika dia sedang sedih; akulah yang paling pintar menyembunyikan rahasia dan perasaanku. Yah, semacam itulah.

Aku melangkah pelan menuju kelasku, kemudian membuka pintunya. Di sana, ada Rinto yang sedang membaca novel, serta Lui dan Ring yang sedang asyik berdiskusi. Tidak tampak Len dan Rin. Aku menghela nafas. Mereka berdua pasti masih asyik berdua.

Aku berjalan, kemudian duduk di sebelah Rinto. Rinto menoleh, menghentikan membaca novel yang dipegangnya.

"Eh, nenek sihir. Kok lama?"

" … Hmm, gapapa kok. Tadi aku ngomong-ngomong sebentar sama Lily, anak kelas sebelah." jawabku berbohong.

Dia mengangguk-angguk, kemudian memandang wajahku.

"A-Apaan sih? Ada yang salah?" tanyaku gugup. Jujur, dipandangi oleh Rinto … Entah kenapa membuat jantungku berdetak lebih kencang.

"Ah, eh, hmm … Kau habis- … ? Ah, tidak. Lupakan. Nandemonai." jawabnya gelagapan, lalu melanjutkan membaca novelnya.

Huft … Yokatta … Kukira dia tau kalau aku habis menangis …


Bel pelajaran terakhir berbunyi, menandai berakhirnya pelajaran seni dari Gakuko-sensei. Aku segera memasukkan peralatan lukisku ke dalam tas.

"Lenka, kau ke ruang klub duluan ya. Aku ada urusan sama kapten klub basket." ucap Rinto sambil menepuk kepalaku pelan. Aku hanya mengangguk. Ring dan Lui, mereka menyerahkan formulir pendaftaran lomba klub kami ke Miriam-sensei. Rin dan Len … Sepertinya mereka sudah ke ruang klub duluan.

Aku menghela nafas, kemudian mengambil tasku. Aku segera melangkah keluar kelas, kemudian naik tangga menuju ruangan klub.

.

.

"Halo … ?" ucapku saat memasuki ruangan klub. Sepi. Aku melihat tas Len dan Rin yang ada di sofa. Juga gitar Len yang disandarkan di dinding.

"Kemana mereka?" ucapku. Aku segera menaruh tasku di sofa. Aku melangkah ke arah dapur. Aku memandang dapur. Ada beberapa tetes kecil darah, lalu ada pecahan gelas kaca yang sudah disapu, pecahan itu ditaruh di ujung dinding. Aku melihat 6 porsi cake yang masih hangat, dan ada 5 gelas jus strawberry. Jangan-jangan …

Aku segera berlari menuju UKS, yang berada di lantai yang sama dengan ruangan klub.


Rin POV

Aku sedang berada di UKS bersama Len. Mukaku masih memerah karena tadi digendong ala bridal style sama Len ke sini. Duh, Len … Berlebihan banget … Padahal hanya karena tangan kananku terkena pecahan gelas. Aku tadi tidak sengaja memecahkannya, dan sedikit berteriak, sehingga Len yang sedang menyetel gitarnya kaget dan segera menghampiriku.

Guru UKS tidak ada, sehingga hanya ada kami berdua di sini. Len sedang membuka-buka rak-rak di sini; mencari antiseptik dan perban. Setelah menemukannya, dia segera menghampiriku. Dia meneteskan antiseptik ke kapas, kemudian mengobatinya ke lukaku.

"I-Ittai yo, Len! H-Hati-hati!" ucapku sambil mengaduh. Len mengangguk pelan. Mukaku masih memerah, dan Len masih mengobati lukaku. Kemudian, dia memperban tanganku.

"Huft … Selesai!" ucap Len.

"A-Arigato Len …"

"Doumo."

"Duh Len, tadi kenapa kau harus menggendongku sih? Ala bridal style pula! Untung nggak ada siapa-siapa! Coba kalau dilihat orang lain … Uuuh, memalukan!" keluhku dengan muka yang masih merah, dan memukul pelan Len.

"Ahaha … Gomenasai … Tadi kau terlihat kesakitan sih!" sahut Len.

"Buu … Tapi tidak begitu caranya!"

"Ahaha … Eh, tanganmu sakitkah? Masih kuat nggak buat megang mikrofon buat latihan?"

"Daijobu … Nggak sesakit itu kok~!"

"Ah, untunglah. Kupikir aku nggak bisa mendengar suara Rin yang enak untuk beberapa saat yang lama …" tawa Len renyah. Mukaku memerah, kemudian memukul Len pelan lagi. Len menahan tanganku, tapi dia tidak sengaja menyentuh lukaku yang dia perban barusan.

"L-Len! I-Ittai!" kataku sambil berusaha menarik tanganku.

Len tersadar, tapi terlambat. Tangan Len ikut tertarik oleh tanganku, sehingga dia terjatuh di tempat tidur UKS, dan dia menindihiku! (Perhatian, ini bukan Rate M. Bukan. Sekian.)

"W-Wuah!" Len panik, dan kemudian langsung menarik dirinya. Mukanya tadi dekat sekali denganku …

Len memandang ke arah lain, tapi aku dapat melihat mukanya memerah. Mukaku juga tak kalah merahnya. Aku dan Len tidak tau, sedari tadi ada yang memandangi dan mendengarkan percakapan kami dari luar …

.

.

"Kami kembali …" ucapku dan Len bersamaan saat kami memasuki ruangan klub. Lui sedang sibuk membaca file, entahlah file apa. Rinto sedang membaca novel, dan kulihat Ring di dapur. Lenka … Dia tidak ada. Ke mana dia?

"Hei, kalian kembali. Dari mana saja kalian?" tanya Lui sambil melepas kacamatanya. Rinto melepaskan pandangannya dari novelnya, dan memandang kami berdua.

"Etto … Tadi aku tidak sengaja memecahkan gelas. Saat memunguti pecahannya, tangan kananku tidak sengaja terkena pecahan, sehingga sikuku terluka …"

"Dan aku menemaninya ke UKS. Aku yang memperban lukanya." lanjut Len. Lui dan Rinto mengangguk-angguk mendengar penjelasan kami berdua.

"Apakah kau masih sanggup untuk memegang mikrofon?" tanya Rinto kepadaku.

"Hmm … Sepertinya bisa kok! Memang agak linu sih … Tapi aku yakin, saat kita lomba nanti sudah pulih!" jawabku mantap.

"Eh, Lenka-chan di mana?" tanya Len.

Rinto dan Lui menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak tau.

"Entahlah … Saat aku datang tadi, hanya ada tas kalian bertiga. Mungkin dia ada urusan …" sahut Rinto.

Aku dan Len kemudian duduk. Len dan Rinto sibuk berbincang-bincang untuk performance kami saat lomba nanti, sementara aku dan Lui sibuk berdiskusi, enaknya kami mau menyanyikan lagu apa nanti saat lomba.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu ruangan klub diketuk, dan seseorang membukanya. Anak perempuan berambut blonde yang diikat … Ah, Lenka-chan!

"Lenka-chan!" seruku riang. Ia hanya tersenyum kecil kepadaku.

"Kemana saja?" tanya Len.

"Err, ada urusan."

Lenka kemudian duduk di sebelah Rinto. Beberapa saat kemudian, Ring datang dan membawa baki berisi jus strawberry dan cake buatanku tadi.

"Ring, biar kubantu!" tawarku.

"Tidak usah, Rin-chan …" tolak Ring sambil tersenyum. Aku kemudian mengangguk, dan kembali duduk. Ring mengedarkan satu persatu gelas dan piring cake itu kepada kami semua.

Kami mulai menikmati hidangan buatanku ini.

"Oishi Rin! Apa nama cake ini?" tanya Lui kepadaku.

"Eh … Ini Chocolate Coffee Cake. Ada rasa kopinya kan?"

Lui mengangguk, kemudian menyendok cake-nya lagi.

"Rin … Enak sekali! Cake buatan Rin enak-enak ya! Rin berbakat sekali memasak! Sekali-kali, masakkan aku juga dong~" ujar Len manja. Mukaku memerah. Aku memandang Lenka-chan. Dia tampak memandang kami berdua dengan … Err, pandangan yang agak sedih? Dia cepat-cepat memakan cake-nya, sehingga dia orang pertama yang menghabiskan cake di antara kami berenam.

Lenka-chan … Ada apa denganmu?


Lenka POV

Setelah menghabiskan cemilan kami semua, aku segera membantu Ring untuk mencuci piring. Aku masih memikirkan tentang Len dan Rin. Dan aku juga tidak sengaja melihat kejadian mereka berdua di UKS tadi. Aku menghela nafas.

"Doushita, Lenka?" ucap Ring. Aku menoleh ke arahnya.

"Eh? Tidak ada apa-apa kok!"

"Kau bohong. Kau tampak menyembunyikan sesuatu. Kau juga terus-terusan menghela nafas. Ada apa?"

Ah … Ring ini … Selalu saja tau apa yang sedang seseorang sembunyikan …

"Tidak apa-apa, Ringy pacarnya Lui yang manis! Aku baik-baik saja! Sungguh~!" kataku sambil nyengir. Yah … Ring memang pernah bercerita dan curhat kepadaku bahwa dia menyukai Lui.

"L-Lenka! A-Apaan sih! Aku bukan pacarnya!" seru Ring dengan nada yang agak panik dan muka yang agak memerah. Aku hanya tertawa kecil melihatnya.

.

.

"Oke, jadi … Aku dan Rin sudah menentukan 10 lagu yang mungkin akan kita tampilkan. Kita akan berlatih terus ya!" seru Lui yang masih mencoba nada gitarnya kepada kami.

Len sudah memegang gitarnya. Ia sudah tampak siap. Rinto sudah siap dengan stik yang dipegang di kedua tangannya. Ring juga sudah tampak siap dengan keyboard-nya. Aku dan Rin berada di bagian depan. Berkali-kali kulihat Rin mencuri pandang ke arahku, tapi aku mengacuhkannya. Sebetulnya, aku sedang tidak punya mood untuk menyanyi, tapi apa boleh buat …

"Lenka, suaramu itu bagus! Pokoknya, suatu hari, kau harus jadi vokalis yang hebat!"

Entahlah siapa yang mengucapkan kata itu. Yang pasti, sepertinya teman masa kecilku. Aku hanya tersenyum kecil mengingatnya.

"Yang pertama … Kita coba Coward Montblanc ya!" seru Lui lagi. Kami berlima mengangguk. Terdengar suara stik Rinto yang dipukulkan; tanda hitungan mundur bahwa musik akan dimulai. 1 … 2 … 3 … Suara gitar Len dan Lui berbunyi, kemudian disusul dengan dentingan merdu dari keyboard-nya Ring.

Aku memandang Rin. Dia mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Dia memegang mike dengan tangan kirinya. Aku mengangguk.

"Arittake no, omoi wa … Kore dake no, kotoba ni …" nyanyiku penuh semangat.

"Aishita kedo, omoi wa … Sore dake no … Koto nano?" lanjut Rin.

Kami kemudian terus bergantian menyanyikan lirik lagu tersebut.

.

.

Hari sudah sore. Aku sudah sampai rumah. Tadi, aku pulang bareng Rin, Len, dan Rinto. Lengkap. Sama seperti saat kami SD dulu.

Aku merebahkan diriku ke ranjang. Aku belum mengganti seragamku. Aku memandang langit-langit kamarku. Berlatih 5 dari 10 lagu itu lumayan membuat kerongkonganku kering. Aku mengambil tempat minum di meja belajarku, kemudian meneguk isinya hingga habis. Tiba-tiba, mataku memandang benda familiar favoritku. Gelang manik-manik warna kuning dan jingga.

Aku lupa siapa yang pernah memberikannya kepadaku. Yang kuingat, pokoknya seorang anak laki-laki berambut blonde. Entah itu Len … Atau mungkin Rinto? Entahlah. Mungkin karena ingatanku hilang. Yang pasti, aku yakin, yang memberikan gelang ini adalah anak yang sama dengan yang muncul di mimpiku.

Aku menggenggam gelang itu.

'Oshiette, Kami-sama. Dari siapakah gelang ini? Apa sebetulnya kecelakaan yang kualami? Siapa yang menolongku hingga aku masih hidup sampai sekarang?'


Author : Ah … Akhirnya selesai -w-

Lui : Author lumayan emejing ya. Sekali apdet 2 fict-

Author : Wohoho, iya dong. Kan author SUPER kece -v- (?)

Lui : *sweatdrop*

Author : Ah, kalian berdua yang ucapin kalimat penutup ya! *dorong Ring ke arah Lui* *ngacir*

Ring : *blush* BAKA AUTHOR-!

Lui : Ah, sudahlah Ring. Yuk kita ucapkan aja ^^;;

Ring & Lui : Minna, review? Mohon review yang banyak, sebagai dukungan untuk author abal nan rewel ini. Dia butuh support lebih banyak buat ngelanjutin fict ini. Arigato~!