Title : FATE

Author : cindyjung / jungharu

Pairing : YunJae (Jung Yunho X Kim Jaejoong)

Genre : Sad, Romance

Haloo kembali lagi dengan cindy haru haru disini XD hehe

Udah hampir sebulan ga update Fate, semoga masih pada nunggu kelanjutan cerita yang cukup menistakan ummppa kita ini ya *plak

Mian sebelumnya bagi yang merasa kesal karena cindy ngebuatnya ga bahagia-bahagia terus u.u habisnya, emang gendre cindy yah semacam ini, jadi sukanya bikin ga bersatu-bersatu dulu, tapi justru itu kan asiknya, jadi saat mereka bersatu rasanya bakal lebih lega XD

Balasan Review :

Izca RizcassieYJ : Iyah, semacam itulah J ne, sesuai kemauan para reader ini happy end kok ^^ *mudah-mudahan sih beneran happy ntar* hehehe^^v

NaraYuuki : *ketodong* eh iya, happy kok, happy . Sedih kenapa? Ih mian ne kalo malah jadi sedih L

Himawari Ezuki : Gommeenneeee yes, i will! I will!

YunHolic : Heyah, akhirnya cindy juga menceraikan mereka hahahaha

MaghT : Soal pertanyaanmu, akan dijawab dalam part ini, dan part selanjutnya *semoga* wkwkw. Yes, i will!

Meybi : kita semacam satu pemikiran tapi beda juga (?). Hahaha

JaeMilk : Ntar dibahas di chap ini, ama chap depan J. Anni, aku ga akan misahin mereka kok J

Yuuka Shim : Mian, ntar kubikin juga kok, tenang aja huahaha. Bersukurlah Chami kuceraikan tah hahaha

Balas Review End

Karena pada minta happy end, cindy janji deh bakal bikin happy end. Tapi mungkin happy end nya akan agak beerbeda dengan apa yang kalian semua harapkan hehehe. Mian lagi kalo ada yang merasa ga suka karena YunJae nya cindy ga satuin-satuin huhuhu L

Makasih yang udah mau baca, review, follow dan favorit cerita ini *bow . Makasih juga buat yang udah ngedukung Hello , Baby! I love you alll :*

Now, let's the story begin

.

.

.

I Love You

I Really Love You

Yeah, I'm Stuck With You

But, Good Bye

#YunJae#

Changmin menghentikan mobilnya di lapangan parkir di apartementnya setelah kembali dari Gereja. Changmin pergi ke Gereja karena telah merasa dirinya sangat kebingungan atas apa yang terjadi diantara dirinya dengan Tiffany. Ia merasa masalah ini terlalu berat bagi dirinya. Ia kembali, namja yang Fanny cintai itu kembali dan membuat Changmin jatuh ke dalam lubang keputus asaan.

Walaupun ia merasa yakin Tifanny akan memilihnya karena ia adalah suaminya, tapi melihat selama ini keyakinannya perlahan pudar. Bahkan saat namja itu memasuki rumahnya, Changmin enggan untuk bertanya dia itu siapa dan memilih mengacuhkannya.

Changmin tetap pada mobilnya hingga tiba-tiba ia mendengar suara bising dari arah pintu keluar parkiran tersebut. Suara itu.. suara yang amat familiar baginya.

"Bagaimana jika aku masih benar-benar mencintaimu , Oppa!?" pekik suara yeoja itu

DEG! Itu suaranya. Suara istrinya. Tifanny Hwang.

"Ya! Tiffany Hwang!" suara lain yang Changmin tau itu siapa. Ya, itu pasti dia. Jung Yunho

"Apa kau sudah menyukai orang lain?! Jawab aku oppa! Jawab!" suara Fanny yang begitu menggema di lapangan parkir yang cukup sempit tersebut

"Memang kenapa jika aku menyukai orang lain eoh?! Bukankah aku hanya menyukainya?! Aku tidak pernah menghianati siapapun seperti apa yang kau lakukan padaku!" pekik namja yang Changmin yakini adalah Yunho

Yunho berjalan keluar dengan terburu-buru, sementara Fanny tampak seperti berusaha menghentikannya. DEG! Hati Changmin sangat sakit saat mendengar perkataan-perkataan Fanny. Yah, sebagai seorang suami, hati Changmin sangat terluka kini. Mendengar orang yang dicintainya dan telah bersamanya ternyata mencintai orang lain. Siapa yang tidak akan sakit dengan kenyataan seperti itu?

"Jadi kau akan terus membahas ini oppa?! Apa yang kau inginkan dariku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" pekik yeoja yang ia cintai itu dengan penuh keputus asaan

"Fanny ah..." kata Changmin menatap wajah Fanny yang putus asa diseberang sana

"Aku masih mencintaimu!" pekik Yunho yang cukup keras dan seketika membuat jantung Changmin semakin berdebar kencang

"Fanny ah..." batin Changmin lagi sambil memanggil nama yeoja itu

Mata Changmin terbelalak kala memandangi dua insan itu kini tengah menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman. Hatinya berdebar kencang. Sangat kencang. Terlalu kencang. Dan membuat dadanya sangat kesakitan kala itu.

Changmin mengalihkan pandangannya ketempat lain sambil memejamkan matanya danmenutupi telinganya. Enggan mendengar, atau melihat hal lain lagi. Hati Changmin sudah cukup sakit mendengarnya. Mereka masih saling mencintai. Itulah yang Changmin pahami kini.

Changmin meminta jawaban dan ya, ini mungkin adalah jawaban untuk segala masalahnya. Pikiran Changmin menerawang pada suatu keputusan yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya. TIDAK! Ia tidak akan menyesali keputusan itu.

Changmin yang masih berada dalam mobilnya kemudian menjalankan mobilnya dan melaju ke suatu tempat yang sesungguhnya paling tidak ingin ia datangi. Tapi untuk saat ini, ia harus mendatanginya.

Demi kebaikan semuanya.

#YunJae#

Changmin memasuki apartemennya sambil membawa sebuah berkas yang tampaknya sangat penting. Nafasnya tersengal setiap kali ia melangkahkan kakinya dan membawanya menuju ruangan apartemen yang ia tuju. Matanya memerah menandakan amarah yang sudah tidak bisa ia pendam lagi kala itu.

Perlahan tangannya memutar kenop pintu itu dan lalu membwanya masuk kedalam atmosfer yang paling tidak ingin ia temui saat ini. namun perasaannya tidak bisa bertahan lagi kini. Semuanya harus terselesaikan. Sekarang.

"Ah yeobo, kau sudah pulang?" kata seorang yeoja yang sangat ia kenal adalah Fanny dengan wajah yang penuh senyum

Changmin menatap yeoja itu dengan pandangan yang tidak biasa. Dingin, bahkan sangat dingin dan membuat Tiffany merasakan perasaan yang tidak enak dalam dadanya.

"Tiffany Hwang..." kata Changmin menyebut nama istrinya dengan lengkap itu kemudian

"Ayo kita bercerai" lanjutnya lagi sambil menunjukan sebuah map disebelah tangannya dan menunjukkannya pada Fanny

"Eh?" saut Fanny kaget sambil membelalakan matanya

"Aku bilang... ayo kita bercerai" kata Changmin menegaskan masih menatap dingin yeoja itu sementara Tiffany hanya dapat terdiam membisu sambil menatapi wajah dingin Changmin dan map yang disodorkannya secara bergantian

"Changmin ah... Kau..."

"Kau tuli? Ini untuk ketiga kalinya. Aku. Ingin. Bercerai. Denganmu." Kata Changmin tegas dengan tatapan penuh amarah

Fanny membulatkan matanya ketika mendengar kata-kata Changmin yang tampak tidak seperti biasanya. Kata-kata Changmin kali ini terdengar pedas dan terlalu menusuk hatinya.

"Tapi... kenapa?" tanya Fanny tidak mengerti

"Haruskah aku memberikan alasan padamu?' tanya Changmin sambil melmpar map itu ke bawah kaki Fanny

"Changmin ah... kau kenapa?" kata Fanny dengan suara yang bergetar kala melihat Changmin yang tidak seperti biasanya

"Aku kenapa?" kata Changmin sambil mendesahkan nafasnya kecil diantara senyum penuh lukanya

"Seharusnya aku yang bertanya padamu" kata Changmin dengan nada yang ditekan

"Ada apa denganmu Tiffany Hwang?!" pekik Changmin yang berusaha ia tahan

"Yeobo..." kata Fanny sambil menuju ke arah Changmin mengacuhkan map yang ada dibawah kakinya dan mengait tangan Changmin

Changmin menghempaskan tangan Fanny dan mengalihkan pandangannya dari Fanny. Fanny yang melihat hal itu hanya dapat terdiam dan merasakan panas pada matanya. Jantungnya berdebar kencang namun bercampur perasaan tidak tenang didalamnya. Ada apa dengan suaminya?

"Berhenti memanggilku dengan panggilan penuh kebohongan itu" kata Changmin

"Kata itu sekarang..." kata Changmin masih enggan menatap Fanny

"Terdengar sangat menjijikan" kata Changmin yang membuat Fanny tidak berkutik sedikitpun

Changmin melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan mengambili semua pakaiannya dan ia masukkan dalam tas gendong miliknya. Sementara Fanny hanya dapat merasakan hatinya terasa perih saat Changmin mengatakan kata itu dengan dinginnya.

"Menjijikan"

"Apakah itu yang kau rasakan padaku sekarang, Shim Changmin?" batin Fanny sambil meremas kemeja putih kesayangannya tepat dibagian dada sebelah kirinya

Bagian itu terasa sangat sakit kini.

Tampak Changmin yang berjalan sambil membawa tasnya yang ia gendong dengan ia tumpukan pada bahu sebelah kanannya. Ia masih memandang lurus padanya dan tidak mengindahkan Fanny yang kini tengah meneteskan air matanya ketika melihat Changmin keluar sambil menggendong tasnya tersebut.

"Changmin ah..." panggil Fanny dengan suara tercekat ketika ia merasakan dadanya sangat sesak saat ini

"Tanda tanganilah. Aku menunggumu" kata Changmin ketika tepat berdiri di depan pintu apartementnya

Setelah berkata seperti itu Changmin lalu memutar kenop pintu itu dan pergi melangkahkan kakinya keluar dan lalu menutup pintunya dan menghentakkannya keras.

Ketika pintu itu tertutup seutuhnya, Fanny merasakan kakinya melemas dan membuatnya tidak dapat menopang tubuhnya sehingga ia terjatuh terduduk di lantai apartemen itu. ia terjatuh dengan map coklat itu dihadapannya. Air matanya mengalir membasahi map tersebut. Fanny menangis dengan begitu terluka. Ya, ia terluka. Karena pada akhirnya, ia kehilangan orang yang mencintainya.

"Mianhae..." ulang Fanny membatin

Sementara diluar sana Changmin tetap berdiri didepan pintu apartement itu dan mendengar isak tangis Fanny yang sesungguhnya amat menyakitkan baginya. Mata Changmin terasa panas kala itu dan membuatnya mengeluarkan sebuah cairan dari pelupuk matanya. Changmin menangis. Ia menangis, karena hatinya sudah terlalu sakit.

#YunJae#

Disinilah Jaejoong sekarang. Terduduk disebuah kursi taman bermain dengan pakaian yang membuatnya sangat menarik. Dengan sweater merah-hitamnya dan celana pensilnya, ia berhasil membuat semua mata yang melewatinya mencuri pandang padanya. Namun penampilan itu ternodai oleh wajah muram Jaejoong. Ia hanya terdiam dan menatap dataran dibawahnya dengan hambar tanpa ketertarikan apapun. Pikirannya melayang kepada sebuah pembicaraan yang ia lakukan sebelumnya.

Flash Back

"Pulanglah denganku" kata yeoja yang ia kenal dengan panggilan "oemma" kini

"Aku tidak mau" kata Jaejoong acuh

"Kenapa? Ada apa denganmu? Ini sudah setahun Jaejoong ah" kata yeoja yang bernama Dara itu dengan muka memelas

"Lalu kenapa jika ini sudah menginjak setahun? Kau pikir akan ada perbedaan dariku?" kata Jaejoong sinis

"Jaejoong ah, ayahmu sakit" kata Darayang mau tidak mau membuat Jaejoong membelalakkan matanya

"Mwo?! Apa kau bilang?!" kata Jaejoong mulai tampak panik

Setidak suka- tidak sukanya Jaejoong pada hubungan ayahnya dengan yeoja yang pernah ia cintai dulu itu, Jaejoong bukanlah anak yang durhaka. Setelah ia merasa frustasi karena tidak dapat mengingat kenapa oemma kandungnya meninggal , Jaejoong hanya bisa berharap yang terbaik untuk ayahnya. Bahkan pergi untuk berpergian selama setahun terakhir ini pun karena ia ingin ayahnya untuk dapat menjalani hubungannya dengan baik dengan Dara. Karena ia sadar jika Jaejoong ada diantara mereka, ia hanya akan mengacaukan semuanya.

"Karena itu, pulanglah" ajak Dara sambil menggenggam tangannya

Jaejoong terdiam memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil. Ia merasa hatinya tidak enak saat dari mengatakan bahwa ayahnya sedang sakit kini. Hatinya berkecamuk saat ini hingga sebuah nama melintas dalam kepalanya. Jung Yunho. Ya, mengingat nama itu saja telah membuat Jaejoong terpaku pada segala apa yang pernah mereka lewati bersama, dan apa yang pernah Yunho lakukan.

Tidak terkecuali ciuman yang baru saja ia lihat.

Jantung Jaejoong berdebar kencang yang menyebabkan dadanya terasa sesak setiap kali ia mengingat kejadian itu. Perlahan Jaejoong menatap yeoja dihadapannya dan lalu menegak salivanya dalam sebelum akhirnya mengeluarkan suara.

"Kapan kau akan berangkat?" tanya Jaejoong yang dibalas senyuman oleh Dara

Flash Back End

"Apa kau sudah menunggu lama?" kata seorang namja yang membuat Jaejoong tersadar dari lamunannya

Jaejoong menatap namja yang tengah berdiri dihadapannya sambil terengah tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan. Air wajahnya tampak sangat menyedihkan kala itu.

"Aigo, kau marah eoh?" tanya namja bermata musang itu sambil mengambil tempat disamping Jaejoong dengan wajah panik

Jaejoong hanya menatap wajah itu dengan seksama. Ia bukannya marah. Ia hanya berusaha merekam wajah namja itu dengan baik. Rambut hitamnya, mata musangnya, hidung mancungnya, rahang seksinya, dan... bibirnya. Bibir yang telah direbut oleh yeoja itu. Seketika Jaejoong mengalihkan pandangannya dari namja yang ia kenali bernama Yunho itu.

"Jaejoong ah... kau benar-benar marah karna aku terlambat eoh?" kata namja itu khawatir

Jaejoong terdiam sambil berusaha merekam suara itu dalam kepalanya. Tidak. Bukan kesakitan yang ingin ia rasakan sekarang. Bukankah ia menyetujui bermain bersamanya karena ingin memberikan kenangan yang indah padanya?

"Kim Jaejoong, aku punya dua tiket taman bermain! Jja! Kita pergi bersama!" kata Yunho diseberang sana

Jaejoong terdiam. Dalam kepalanya masih terbersit segala kejadian yang baru saja ia amati tersebut. dadanya masih terasa sesak. Bahkan terasa sangat sesak kala suara namja itu kembali berngiang disekitar telinganya dan terekam dalam kepalanya.

"Halo? Kim Jaejoong?" kata suara yang terdengar diseberang sana lagi

Jaejoong masih terdiam dan memegangi dada sebelah kirinya yang terasa sesak kembali melayang pada pembicaraannya terakhir dengan Dara. Dia akan pergi. Mungkin tidak untuk waktu yang sebentar. Namja yang ia sadari telah berhasil mengikat hatinya itu... Walau Jaejoong bukanlah namja yang dicintainya juga, setidaknya, ia ingin memberikan kenangan yang indah sebagai sahabat. Sahabat. Itu alasan yang bagus bukan?

"Ya!" kata namja itu sambil mengambil wajah Jaejoong dengan kedua tangannya dan membuatnya menatap wajah Yunho

DEG! Jantung Jaejoong kembali berdebar ketika menyadari wajah mereka amat sangat dekat. Desiran darah dalam tubuhnya mau tidak mau membuat perasaan hangat pada pipinya dan membuat rona merah muda disana.

"Mianhae. Ne? Maafkan aku" kata Yunho dengan muka penuh penyesalan

Jaejoong terdiam sambil merekam wajah Yunho yang tampak sangat khawwatir itu. Jaejoong menarik kedua ujung bibirnya dan membentuk sebuah senyum kecil disana.

"Aku merekammu" batin Jaejoong dalam hati

"Anniyo. Aku tidak marah." Kata Jaejoong sambil memegangi tangan Yunho yang kini memegangi kedua pipinya yang menghangat

"Tapi dari tadi kau diam saja" kata Yunho memoutkan bibirnya

"Ah~ Aku merekammu lagi" batin Jaejoong lagi saat melihat Yunho dengan bibir yang ia pout kan

"Aku hanya menggodamu" katanya lagi sambil tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Yunho

Yunho menyunggingkan senyumnya ketika mendengar jawaban Jaejoong dan ketika mendapatkan sentuhan halus dari Jaejoong. Firasatnya mengatakan hari ini akan menjadi hari yang baik.

"Baiklah, kalau begitu, Jja! Kita mulai bermain!" kata Yunho sambil mengambil alih tangan Jaejoong dan menggenggam salah satunya lalu menarik Jaejoong menuju kesebuah wahana yang amat menarik perhatiannya sejak lama

Yunho dan Jaejoong menaiki wahana Halilintar untuk sesi pertama. Jujur saja Jaejoong agak sedikit takut ketika menaiki wahana itu. Tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak baik-baik saja hingga tiba-tiba sebuah tangan menyentuh tangannya lembut dan menggenggamnya erat.

"Percayalah padaku" kata Yunho sambil tersenyum pada Jaejoong disampingnya

"Aku merekamnya" batin Jaejoong lagi sambil membalas senyum YUnho

"Berteriaklah, lepaskanlah" kata Yunho tanpa menatap Jaejoong

Seketika setelah Yunho mengatakan itu halilintar itu melaju dengan perlahan menuju puncak rel dan lalu turun dengan ganasnya dan membuat Jaejoong menggenggam tangan Yunho erat.

"Berteriaklah, lepaskanlah"

Kata tersebut terngiang pada kepala Jaejoong dan membuatnya langsung memekikan suaranya sekerasnya. Melepaskan segala sesak pada dadanya. Melepaskan segala sakit dari hatinya. Setelah melepaskan semuanya Jaejoong harap hanya akan ada kenangan indah dirinya dengan Yunho disana.

"Bagaimana?" kata Yunho kala wahana tersebut sudah berhenti

Jaejoong hanya menatap Yunho dengan raut wajah horor. Tenggorokkan terasa sakit dan perutnya terasa mual ketika wahana tersebut sudah berhenti.

"Aku mual" kata Jaejoong tercekat

Yunho membantu Jaejoong turun dari wahana itu dan kemudian membawanya ke kursi taman bermain tersebut. Baru ronde satu dan Jaejoong sudah sangat terlihat buruk kini.

"Mian, seharusnya aku tidak mengajakmu bermain itu" kata Yunho merasa bersalah sambil memberikan sebotol air putih pada Jaejoong sambil berlutut dihdapan Jaejoong agar dapat melihat wajah Jaejoong yang kini tengah menunduk

"Anniya, tidak apa. Aku baik-baik saja" kata Jaejoong sambil mengibaskan tangannya tanda ia berkata "tidak"

"Apa kau masih kuat melanjutkannya?" kata Yunho kemudian

"Ne, tapi untuk sekarang, permainan yang biasa saja dulu ne?" kata Jaejoong dengan wajah agak pucat

"Baiklah" kata Yunho mengangguk lalu memberdirikan tubuhnya

"Jja!" kata Yunho sambil mengulurkan tangannya pada Jaejoong seakan Jaejoong adalah orang yang harus ia lindungi

Ya, Jaejoong memanglah orang yang harus Yunho lindungi.

Jaejoong meraih tangan Yunho dan lalu berjalan menuju tempat selanjutnya dengan Yunho yang sibuk mengoceh tentang apapun tentang dirinya dan membuat Jaejoong tertawa. Bahkan kadang Jaejoong menanggapinya juga. Tawa itu. Senyum itu. Tangan itu. Adalah hal yang ingin Yunho simpan sampai kapanpun.

Jaejoong melihat sebuah boneka beruang berwarna coklat yang menarik perhatiannya. Yunho hanya memandangi Jaejoong dengan bingung kala ia memperlihatkan ke-antusias-annya pada boneka tersebut. Yunho dan Jaejoong lalu mendatangi wahana itu dan mencoba memainkannya. Permainannya sangat mudah, mereka hanya harus menyemprotkan air pada bebek bebek dihdapan mereka dan membuat bebek tersebut jatuh dan mereka akan mendapatkan boneka tersebut.

Awalnya permainan berlangsung dengan serius namun Yunho lalu mengalihkan pistol airnya pada Jaejoong dan membuat Jaejoong terkejut dan lalu membalas air dari semprotan Yunho tersebut. Mereka lupa dengan bebek dihdapan mereka dan malah terkunci dalam dunia mereka sendiri. Mereka saling tertawa dengan Jaejoong memukul-mukul Yunho kecil kala mereka dimarahi oleh pemilik permainan.

Setelah selesai Yunho meninggalkan Jaejoong sebentar di kursi taman –lagi- dan membeli tissue untuk mengeringkan dirinya dengan Jaejoong. Yunho pergi cukup lama sebelum akhirnya terlihat kembali dengan sebungungkus tissue ditangannya

"Ah, kau menyebalkan, padahal aku ingin sekali boneka itu, kenapa kau malah menyemprotku eoh?" kata Jaejoong sambil memoutkan bibirnya ketika melihat Yunho kembali

"Boneka apa? Boneka ini?" kata Yunho kemudian sambil menunjukkan boneka beruang yang sangat diinginkan Jaejoong dari punggungnya

Jaejoong melebarkan matanya kala menatap boneka beruang itu kini sudah berada ditangan Yunho yang dimainkan lucu oleh Yunho. Yunho lalu mengambil tangan Jaejoong dan menyerahkan boneka itu pada tangan Jaejoong dan lalu mengambil sebuah tempat di kursi taman tersebut. Jaejoong masih terdiam.

"Aku lihat kau sangat menyukainya" kata Yunho sambil mengambil beberapa lembar tissue di tangannya

"Jadi tadi aku berusaha memainkannya lagi" lanjutnya sambil mengusap kening Jaejoong yang tampak basah dan membuat Jaejoong terlonjak kaget dan kembali menatap Yunho

"Dan aku berhasil" kata Yunho sambil tersenyum dan mengusap pipi Jaejoong yang juga tampak basah akibat permainan mereka tadi

Jaejoong semakin terdiam dengan banyak pertenyaan yang berkelebat dalam kepalanya. Untuk apa seorang Jung Yunho melakukan itu? Pertanyaan itu terus berkecamuk seraya Jaejoong merasakan usapan lembut dari Yunho. Wajah mereka terlalu dekat. Sangat dekat sampai Jaejoong dapat melihat senyum itu lebih dekat. Sangat dekat hingga Jaejoong mencium wangi parfum Yunho yang sangat manly. Dan itu membuat jantung Jaejoong berdebar sangat keras.

"Aku menyukaimu" batin Jaejoong

"Ah, anni. Aku mencintaimu. Jung Yunho" batinnya lagi berusaha memperbaiki

"Tapi..."

#YunJae#

Yunho dan Jaejoong bermain dengan bahagia hingga tidak menyadari bias matahari yang mulai menghilang. Enggan mengakhiri hari ini, Jaejoong memilih untuk menaiki Bianglala untuk menjadi penutup mereka pada hari ini.

Jaejoong menatap nanar keluar jendela bianglala. Ia menutup matanya dan menghelakan nafasnya perlahan berusaha untuk menyimpan memori hari ini baik- baik. Dari awal mereka bermain, saling melempar canda, tawa, saling menyemprotkan air, saling berpegangan tangan, saling berpelukan saat berada di rumah hantu.

Menyimpan saat Yunho menyentuh pipinya lembut, saat Yunho tersenyum, saat Yunho menyemprotnya dengan air, saat Yunho menggenggam tangannya, saat Yunho memberikan boneka itu, saat Yunho membersihkan air tersebut dari wajahnya, saat Yunho memeluknya. Dan. Saat Yunho menatapnya.

Seperti sekarang.

"Kau sudah mengantuk eoh?" kata Yunho menatap Jaejoong saat Jaejoong membuka matanya

"Sedikit" jawab Jaejoong singkat sambil mengalihkan pandangan kembali pada jendela bianglala yang kini tengah terhenti tersebut

Langit sudah menjadi gelap dan ini tandanya hari ini sudah berakhir. Hari ini. Hari terakhir ia akan bersama Yunho. Bagaimana pun, ini perpisahan yang indah bukan? Walaupun masih ada sesuatu yang mengganjal dihati Jaejoong tapi setidaknya ini indah bukan?

"Kim Jaejoong" panggil Yunho lengkap masih menatap Jaejoong

"Hum?" saut Jaejoong sambil menatap Yunho

Yunho menatapi Jaejoong yang kini walau dengan wajah yang lelah masih tetap terlihat cantik diantara bias cahaya lampu biang lala. Hari ini sudah berakhir hum? Benarkah? Secepat itukah? Yunho bahkan masih belum puas merasakan detak jantung yang membuatnya nyaman itu. Yunho masih ingin melihat tawa itu, senyum itu, masih ingin menggenggam tangan itu, memeluk tubuh hangat itu.

Kenapa saat matahari itu mulai tenggelam, Yunho merasakan bahwa ini adalah yang terakhir?

Yunho membangkitkan tubuhnya sedikit dan lalu menekukan lututnya dan membuatnya berlutut dihadapan Jaejoong. Yunho menatap Jaejoong sejenak sebelum kedua tangannya mengambil kembali kedua pipi itu dan membawa wajah Jaejoong menghadap wajahnya. Jaejoong yang mendapat perlakuan tersebut hanya dapat membulatkan matanya sempurna dan terdiam.

"Aku menyukaimu" kata Yunho sambil tersenyum dan membawa kepala Jaejoong mendekati wajahnya

Jaejoong dapat merasakan nafas hangat Yunho yang semakin dekat pada wajahnya. Semakin dekat hingga ia dapat merasakan hidung mancung itu kini tengah menyentuh pipinya. Sangat dekat hingga bibir hatinya sudah bersatu dengan bibir cherrynya kini.

Yunho hanya mengecupnya pelan sebelum akhirnya bibir itu mulai bergerak dan memberikan irama pada bibir Jaejoong dan mulai memagutnya perlahan. Sensasi pagutan Yunho memberikan kenyamanan pada Jaejoong dan membuatnya menutup matanya karena merasakan hangat. Perlahan, Jaejoong mulai menggerakan bibirnya dan membalas pagutan Yunho.

"Aku merekamnya" batin Jaejoong sambil membalas ciuman itu dan melingkarkan tangannya pada leher Yunho sementara Yunho semakin menekankan wajah Jaejoong pada wajahnya dan membuat ciuman mereka semakin dalam

#YunJae#

"Shim Changmin!" panggil Yunho sambil mengetuk pintu apartement Changmin keras

Fanny membuka pintu itu dan kaget melihat Yunho yang tampak sangat tidak seperti biasanya.

"Mana suamimu?" pekik Yunho frustasi

"Dia.." belum sempat Fanny menjawab Yunho langsung memasuki apartement tersebut dengan menggenggam sebuah kaos yang sangat tidak asing baginya

Yunho mencari keseluruh aprtement Changmin sambil memanggil manggil nama Changmin frustasi. Ada apa dengannya?

"Oppa! Ya! Kau kenapa?!" pekik Fanny khawatir

"Mana suamimu?! Aku ingin bertemu dengannya!" kata Yunho sambil menatap Fanny dengan pandangan kalut

Fanny terlonjak kala mendapati Yunho yang seperti ini. Terakhir ia melihat Yunho yang seperti ini adalah ketika Yunho pertama kali memergokinya sudah menikah dengan Changmin. Ia terlihat sangat buruk seperti ini. Ah tidak, kali tampak lebih buruk.

"Dia tidak tinggal disini lagi, Oppa" kata Fanny dengan nada sedih

"Mwo?! Bagaimana bisa?! Kenapa?! Aish! Lalu bagaimana bisa aku menemukan Jaejoong!" pekik Yunho semakin frustasi

DEG! Jantung Fanny berdetak ketika mendengar nama itu disebutkan oleh Yunho. Nama yang berhasil membuat Yunho tampak kelimpungan seperti ini. Ternyata Yunho memang menepati kata katanya.

Flash Back

"Ya! Apa yang kau lakukan!" kata Yunho sambil melepaskan ciumannya dengan Fanny

"Oppa bilang masih encintaiku, kenapa kau melepasnya?" kata Fanny kaget saat Yunho melepasnya dengan paksa

"Bukankah aku juga sudah berkata bahwa aku sudah menyukai orang lain? Ya! Aku memang masih mencintaimu. DULU" kata Yunho menekankan kata dulu yang berhasil membuat Tiffany terdiam

"Oppa..." kata Fanny kala merasakan matanya memanas

"Tidak sadarkah kau Tiffany? Diluar sana, ada orang yang jauh mencintaimu dari pada aku?" kata Yunho sambil menatap Fanny

"Ya, aku memang mencintaimu, tapi tidak sadarkah kau itu seorang istri? Aku bahkan menyadari kau bukan milikku lagi Fanny ah. Aku sudah melepasmu, lama setelah aku mendengar kau akan menikah. Aku sudah merelakanmu. Ya aku mencintaimu, tapi aku tidak akan bisa mencintaimu seperti dullu. Didalam rasa cintaku padamu, ada juga rasa benciku padamu Fanny ah" terang Yunho

Fanny merasakan lututnya melemah dan membuat badannya terhuyung sejenak dan terjatuh. Matanya terasa semakin panas. Panas dan membuatnya mengeluarkan air mata yang sedari tadi berusaha ia tahan. Ia terisak pelan ketika berbagai pikiran melayang dan menusuk kedalam hatinya.

"Didalam rasa cintaku padamu, ada juga rasa benciku padamu Fanny ah" kata-kata Yunho itu melayang dalam pikirannya

Benci?

Yunho membencinya?

Jika Yunho membencinya pada siapa lagi ia akan bersandar?

Seketika kepalanya membawanya kembali pada pertemuan pertamanya dengan Changmin. Shim Changmin yang dingin namun ternyata sangat hangat. Shim Changmin yang sangat serius saat bekerja namun sangat kekanak-kanakkan saat bermain bersamanya. Shim Changmin yang bisa menjadi kakak dan adikmu secara bersamaan. Shim Changmin yang senyumnya mampu melelehkan hatinya. Shim Changmin yang dengan berani berlutut dihadapannya dan menautkan sebuah cincin pada jari manisnya. Shim Changmin yang dengan bangga ia panggil yeobo.

Fanny meraung kencang dalam tangisnya dan kembali terisak kala ia menyadari segala kebodohannya. Ya, ia benar-benar yeoja bodoh. Hanya karena Yunho kembali dalam hidupnya, ia melupakan sosok Changmin yang selama ini menjadi tempatnya bersandar.

Bodoh! Kau sangat bodoh Tiffany Hwang!

Yunho berlutut dan menatap Tiffany yang tampak terpuruk kini. Sejujurnya ada perasaan tidak tega pada yeoja dihadapannya ini. Bagaimanapun yeoja ini pernah mengisi hatinya.

"Kembalilah" kata Yunho sambil menggenggam pundak Fanny erat berusaha memberinya kekuatan

"Jadilah Fanny seorang istri yang baik untuk suaminya" kata Yunho sambil menatap Fanny yang semakin terisak kini

"Aku juga" kata Yunho

"Akan segera kembali pada orang yang aku sukai" lanjutnya

Flash Back End

"Oppa..." panggil Fanny kemudian ketika ia mengingat sesuatu

#YunJae#

Yunho melangkahkan kakinya cepat ketika mobil milih Fanny berhenti disebuah rumah sederhana yang tampak minimalis itu. Ia menggenggam erat baju yang tampak tidak asing itu. ya, itu adalah baju yang Yunho pinjamkan kepada Jaejoong saat Jaejoong mabuk. Baju yang Yunho terima pagi itu beserta sebuah surat. Surat yang membuat Yunho tidak bisa berfikir jernih hingga saat ini.

"Terimakasih dan Selamat Tinggal" itulah kata yang tertulis di surat tersebut

"Kim Jaejoong!" pekik Yunho kala memasuki gerbang rumah tersebut

Yunho yang berlari cepat tidak menyadari seseorang dengan kardus besar yang dibawanya dengan susah payah dihadapannya dan lalu menabraknya dan membuat segala isi dalam dus tersebut tersebar kemana mana. Yunho yang tadinya masih melangkahkan kakinya maju lalu berbalik dan membantu namja yang ia tabrak tadi untuk membereskan barang yang berserakan tersebut.

"Mianhae" kata Yunho frustasi sambil mengambil barang-barang tersebut dengan menumpukan bajunya itu pada sebelah pundaknya

Namja yang ia tabrak itu hanya terdiam sambil memandangnya, sementara Yunho terus mengambil barang tersebut hingga ia mengambil beberapa fot yang berserakan disana. Ia menatap foto dua orang disana. Keduanya namja. Dan keduanya amat tidak asing.

Itu dirinya. Dan Jaejoong.

Tengah saling memeluk pinggang dengan wajah tertawa dan sebotol champange yang mereka pegang erat secara bersama-sama. Dan tanggal yang tertulis disana adalah 06-10-08.

"Apa-apaan ini?" kata Yunho tidak percaya

Ia merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat dan kepalanya terasa sangat sakit setiap kali ia berusaha mencerna apa yang tengah terjadi disini. Ia memegangi pelipis kepalanya ketika ia merasakan denyut yang membuat kepalanya amat tersiksa kini.

"Yoochun ah apa..." pekik sebuah suara yang tak asing dari arah pintu

Yunho menatapnya. Suara itu sangat tidak asing. Bahkan namja itu tidak asing.

"Junsu ah?" panggil Yunho pada namja yang kini hanya menatapnya kaget didepan pintu itu

"Yunho ah..." panggil namja dihdapannya tercekat saat menatap Yunho kini ada dihadapannya

Yunho menatapi Yoochun dan Junsu secara bergantian. Tangannya menggenggam erat foto yang ia yakini itu adalah dirinya dengan Jaejoong sambil memegangi kepalanya yang terasa berat kini.

"Bisa kalian jelaskan ada apa ini?" kata Yunho sambil menatap Yoochun dan Junsu bergantian dengan wajah tidak sabaran

TBC

Hyaaaa... maapkan kalo ceritanya jadi anehhh dan maapkan kalo romancenya gagalll

Cindy ngetik ini baru hari ini dan jadilah hasilnya seperti ini. Semoga ga mengecewakan yah

Maapkan juga segala ke-typo-an cindy disini. Wuaaahhh gagal deh pokoknya. Mianhae banget ya buat semuanya. Tapi tetep makasih buat yang udah mau review, follow, dan favoritin cerita ini. Thank you thank you very very Much! :*