Desclaimer : Lenka, Rinto, Rin, Len, Lui, Ring; punyanya Vocaloid. Vocaloid; punyanya Crypton. Utatte, Lenka!; punyanya Lon.
Warning : OOC, OOT, typo with mister *salah* *miss maksudnya* typo, alur kecepetan, pergantian POV terlalu cepat, gaje, de el el. Don't like, don't read.
Rated : Teen.
Genre : Romance, Friendship.
Author : Yo! Akhirnya apdet ;w;
Lenka : Ah … Author-chan no baka na! Lama banget apdetnya ==
Author : Gomenasai! Habis sibuk, terus … Gitulah … Muehehe. Tapi lain kali janji deh apdetnya bakalan cepet =w=b
Rinto : Ah, udahlah. Daripada ndengerin janji manis bin palsu (?) si author aho ini, langsung aja~
Lenka POV
Piiip. Piiip. Piiip. Pii-
Aku segera terbangun, kemudian mematikan alarm yang membangunkanku itu. Aku mengatur nafasku, dan kemudian duduk sambil memijit pelan kepalaku yang benar-benar nyeri.
Aku … Memimpikan seperti apa yang kumimpikan biasanya. Aku sedang berjalan berdua bersama seorang anak laki-laki di musim panas. Kemudian kami bercengkrama. Hingga ada sebuah truk yang lewat … Dan segalanya menjadi gelap tiba-tiba.
Seharusnya aku senang beberapa bagian ingatanku mulai kembali. Tapi, tidak. Aku justru penasaran. Siapa anak laki-laki itu? Apa yang terjadi kemudian?
Aku benar-benar ingin tau tentang hal ini. Mengetaui kebenaran tentang hal ini.
Karena selama ini hanya terbesit seseorang di kepalaku tentang 'anak itu'.
Len-kun.
Tapi … Jika anak itu Len-kun, mengapa … dia tidak pernah mengatakan apapun?
Apa … Selama ini … Aku salah orang?
Tidak … Tidak Lenka. Kau tidak boleh berpikiran negatif dulu. Kau harus memastikannya … Pelan-pelan.
.
.
Aku melangkah di koridor dengan langkah pelan, karena bel kira-kira masih setengah jam lagi. Kulihat banyak anak laki-laki yang memberikan bungkusan kepada anak perempuan. Tunggu … Ada apa dengan hari ini?
Aku berjalan sambil memikir-mikir ada event apa hari ini. Tiba-tiba, tanpa kusadari, ada yang menarikku. Hingga kepalaku menempel ke badannya yang tinggi, dan dadanya yang bidang.
"E-Eh?"
Aku menoleh. Dan ternyata itu Rinto.
"Mattaku … Kau ngelamunin apaan? Jalan lihat-lihat juga kali." ujarnya lirih sambil menunjuk sebuah papan peringatan yang berada tepat di depanku.
Hati-hati, licin. Baru dipel. Awas terpeleset.
"A-Ah, gomen, a-aku … Err …" ujarku speechless. Mukaku memerah, sekaligus … Merasa terancam dengan tatapan menusuk dari fangirls Rinto yang berada di koridor.
"A-Ano … Rinto …"
"Nani?"
"B-Bisakah kau m-melepaskanku? Eng … Kita … Jadi pusat perhatian sekarang."
Rinto menoleh ke sekeliling. Para fans-nya yang tadinya sedang memandangi kami, langsung pura-pura sibuk berbicara, dan pura-pura mengalihkan pandangan dari kami.
"Hoo? Mana? Nggak ada kan?"
"E-Etto-"
"Ah. Peduli amat. Ayo." lanjutnya cuek sambil merangkulku. Mukaku memerah lagi. Dan sekaligus berdebar.
Berdebar … Bukan karena banyak tatapan maut yang ditujukan kepadaku sekarang.
Entah kenapa …
Rinto … Membuatku berdebar.
'Argh! Ini tidak boleh terjadi, Lenka!' erangku dalam hati.
"Dan untuk memberi rasa pedas pada masak-, eh salah, untuk mencari akselerasi, kita harus …"
Dan aku sudah menguap selama 3 kali saat pelajaran Akaito-sensei berlangsung. Benar-benar membosankan. Ia sudah berkali-kali out of topic ke bagaimana cara membuat kare menjadi super pedas, atau tempat menjual ramen terpedas di kota ini, dan sebagainya. Setelah itu, dia akan tersadar, dan kemudian meminta maaf, lalu menjelaskan materi fisika. Itupun materi yang sudah diajarkan, masih diulang lagi. Itu … Betul-betul … Membosankan.
Rinto pun sama denganku. Bosan. Sekarang dia sedang memasang headseat pada kedua telinganya.
Berbeda dengan Lui dan Ring. Mereka tampak asyik mendengarkan penjelasan Akaito-sensei dengan seksama, asyik, meresapi … Uuuh. Benar-benar anak rajin.
Aku menoleh ke belakang sambil bertopang dagu. Len … Tampak asyik bercanda dengan Rin. Mereka … Tampak sangat akrab. Bahkan, sekarang, Len mendekatkan mulutnya ke telinga Rin, berbisik pelan.
"Hei Rin. Nanti … Sebenarnya … Ada yang mau kukatakan kepadamu."
"Eh? Hontou ni? Apa?"
"Psst, jangan keras-keras, baka!" bisik Len kesal sambil menjitak Rin pelan.
"A-Ah, ittai yo! Len-kun no baka naaa!"
"Ah, sudahlah. Nanti ya. Pas istirahat kedua. Kutunggu di taman!"
Dan merekapun masih sibuk berdebat dengan asyiknya.
Mereka seperti tidak memedulikanku. Aku … Dianggap tidak ada.
Dan aku juga tidak tau … Daritadi juga ada yang memperhatikanku … Berharap aku memperhatikannya.
"Ah, akhirnya istirahaaat!" teriak Rin gembira saat bel berbunyi 3 kali, membuat seisi kelas menoleh kepadanya. Tapi, Rin tetap tidak peduli pada tatapan anak-anak sekelas. Maklum, Rin memang anak yang periang dan sering tidak peduli dengan keadaan di sekelilingnya.
"Ah, Rinto, kita bukannya ada panggilan dari manager klub basket ya?" kata Len kepada Rinto yang sedang membereskan bukunya.
"Eh, iya ya. Sampai lupa. Kalau begitu, kami keluar dulu ya." ucap Rinto kepada kami. Kami berempat mengangguk, lalu Rinto dan Len keluar meninggalkan kelas.
"Nah, jadi, sekarang kita mau ngapain?" tanyaku.
Rin hanya mengangkat bahu, dan Lui hanya memasang tampang entahlah, apa tunggu Len dan Rinto aja? Aku menoleh ke arah Ring. Dia tampak gugup, dan ingin sepertinya ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
"Ringy-chan? Doushita?"
Ring cepat-cepat menggait lenganku, "Eng, Rin-chan, Lui, aku pinjam Lenka-chan sebentar!"
Dan kemudian aku digeret keluar kelas oleh Ring, dengan cepat, disertai tatapan heran dari Rin dan Lui.
.
.
Ring menarikku dengan kecepatan inhuman menuju toilet. Dan di toilet ini, hanya ada aku dan dia.
"Haah … Haah … Ringy-chan, kau mau membicarakan apa denganku? Kenapa nggak di kelas aja?"
"Eng … N-Nggak bisa-"
"Kenapa?"
Ring hanya diam dan salting. Aku kemudian bisa menebak apa yang ingin dia bicarakan.
"Pasti … Menyangkut Lui?"
BLUSH. Muka Ring memerah, kemudian dia menundukkan kepalanya. Aku hanya tertawa kecil melihat kelakuan sahabatku yang satu ini.
"Ahaha … Ringy-chan … Kau benar-benar mudah ditebak ya …"
"U-Urusai yo Lenka-chan! N-Nggak a-ada y-yang lu-lucu!"
"Ahahaha, oke, oke, aku akan berhenti ketawa. Jadi … Apa masalahmu?"
"Eng, a-aku, e-eh, s-sebetulnya, e-eng-"
Aku diam menunggu sahabatku ini melanjutkan kata-katanya. Hingga semenit, dia tak berhasil juga menyelesaikan kata-katanya.
"Kalau begitu, aku akan kembali ke kelas-" ujarku sambil mengangkat kakiku menuju ke arah pintu.
"U-Uwaah! C-Chotto matte yo, Lenka-chaan!" ucap Ring panik sambil menarikku, membuatku menghela nafas.
"Haah … Ayolah, Ringy-chan. Aku janji nggak akan ketawa. Ayo, katakan saja. Aku sudah lapar nih."
"Eng, a-aku … Ng … L-Lui bilang, h-hari ini d-dia mau n-ngomong s-sesuatu s-sama aku …"
"Uwaah, ditembak? Si shota itu berani juga ya!"
"B-Bukan begitu! Ng, m-maksudku, a-aku g-gatau p-pasti sih. T-Tapi m-mungkin d-dia m-mau mem-memberikan hadiah White Day, jadi-"
"Chotto. Hari ini … White Day?"
"Eh? Lenka-chan gimana sih? Hari ini kan 14 Maret! Lagian tadi pagi Lenka-chan sama Rinny-chan dapat bungkusan kecil dari Lui kan? Itu kan balasan atas cokelat persahabatan kalian! Pocky itu juga?"
Tring. Aku baru ingat sekarang. White … Day? Aku benar-benar lupa, entah kenapa.
Aku memang memberi semua anggota Voice cokelat persahabatan pada hari Valentine; berisi 4 coklat berbentuk hati buatanku sendiri. Tapi, aku juga memberikan coklat yang berisi lebih banyak untuk Len. Hanya untuk Len.
Dan aku baru ingat. Lui memang memberikan bungkusan kecil kepada semua anggota Voice, tadi pagi. Ring juga memberikan kami pocky rasa favorit kami masing-masing, sebagai balasan White Day.
"Eh … A-Aku baru ingat kalau hari ini White Day, jadi … Eh, bukannya kau sudah dapat balasan dari Lui?"
Ring mengangguk pelan, "Tapi, a-aku memberinya coklat lagi, lebih banyak, dan kubilang itu sebagai rasa terima kasih atas selama ini. Dan tadi saat pelajaran fisika, dia bilang mau memberikanku balasan lagi, dan dia bilang ada yang mau dia bicarakan denganku, hanya berdua saja. Mukanya terlihat serius, jadi aku- ah, Lenka-chan! Kau janji nggak akan tertawa kan!"
Aku mengendalikan ketawaku, "Ah, g-gomen ne-"
"Mattaku, Lenka-chan pembohong ah!"
"Ah, Ringy-chan, jangan marah dong! Iyadeh, aku memang salah. Jangan marah dong, onegai …"
"Baiklah. Tapi kasih aku saran dong, aku benar-benar malu kalau di dekat Lui nih-"
"Hmm, semua pasti akan baik-baik saja. Lui kan orang yang baik, dia pasti akan menjagamu, Ringy-chan. Kau percaya padamu kan? Dia pasti akan melakukan hal yang terbaik untukmu, 'kay? Kau harus percaya padanya. Dan ah, ikuti kata hatimu juga!" nasihatku sambil menepuk kepalanya pelan.
"Ng … Demo …"
"Daijobu dayo! Ayolah, kalau kalian saling menyukai, nggak akan jadi masalah kan?"
Ring terdiam mendengar perkataanku, kemudian mengangguk mantap.
"Arigato … Lenka-chan. Kalau misalnya dia nanti tidak menyampaikan perasaanya, aku yang akan menyampaikannya."
Rinto POV
"Nee, Rinto. Kau sudah tau Lui mau nembak Ring?" tanya Len sambil membawa setumpuk kertas berisi pengumuman tentang pendaftaran anak klub basket.
"Eh? Hontou ni?" tanyaku sambil mengangkat kedua alisku.
Len mengangguk mantap, "Dia cerita sama aku kemarin. Dia cemas, habisnya banyak anak laki-laki yang berencana memberi Ring-chan kado White Day, padahal Ring-chan nggak memberi mereka coklat saat Valentine Day." lanjutnya, lalu menempelkan kertas pengumuman di papan pengumuman.
"Wah … Souka …" tanggapku, lalu membagikan kertas pengumuman itu kepada anak-anak junior yang lewat di lorong ini.
"Ah, ngomong-ngomong, kau tau kan kalau hari ini-?"
" … White Day?"
Len mengangguk mantap, "Bagaimana? Kau sudah membalas para fansmu?"
Aku kemudian terdiam mengingat pengalamanku pada saat Valentine Day. Saat aku, Len, dan Lui baru sampai di sekolah dan membuka rak sepatu kami, terisi penuh dengan coklat. Membuat kami kelabakan setengah mati. Begitu juga dengan kolong meja kami di kelas. Ah, mengingatnya saja membuatku malas.
Aku menggeleng pelan, "Aku terlalu malas membalas mereka satu-persatu. Yah … Sebetulnya nggak enak sih sama mereka, tapi … Aku kan juga nggak mengharapkan coklat dari mereka."
"Tapi kau pasti sudah menyiapkan hadiah untuk Lenka-chan kan?" ucap Len dengan tampang menggoda.
Skakmat.
"E-Eh? A-Apa m-maksudmu? Untuk nenek sihir itu? Buat apa juga-!" elakku.
Len tertawa melihatku, "Kapan kau akan menyatakan perasaanmu kepadanya?" tanyanya di sela tawanya.
"A-Apaan sih! Kau ini aneh-aneh saja!" sewotku.
Tentu saja aku tidak bisa melakukannya. Dia kan menyukaimu, Len. Bukan aku.
Len menghentikan tawanya.
"Kalau aku …"
Aku menoleh ke arahnya, "Kau? Kenapa?"
Len tersenyum simpul, lalu melirik ke arah kantongnya, lalu memandang jam tangannya, "Mungkin … Hari ini … Aku akan menyatakan perasaanku pada Rin."
Serasa ada petir yang menyambarku, membuatku terdiam kaku beberapa saat.
"Oi, Rinto? Kau kenapa? Kau nggak suka Rin, kan?"
Aku menggeleng lemas, "Tentu saja tidak …"
"Maka dari itu, doakan aku ya. Kau juga segeralah susul aku dan Lui." senyum Len sambil berjalan ke arah kelas, karena tugas kami berdua sudah selesai.
Aku hanya mengikuti Len dengan lemas. Aku memandang sebuah bungkusan di kantongku. Dan hanya ada satu nama yang terpikir di benakku, orang yang akan mendapatkan bungkusan ini.
Lenka …
Aku segera duduk di bangku dan menenggelamkan kepalaku di meja.
"Rinto?"
Aku menoleh. Lenka.
"Hmm?"
"Kau baik-baik saja? Kenapa kelihatan lemas gitu?"
Karena aku memikirkanmu, bodoh. Bagaimana reaksimu kalau mengetahui Len dan Rin jadian nanti. Bagaimana … Agar kau tidak mengetahui semua ini.
… Dan kau memang tidak boleh tau.
"Aku baik-baik saja, nenek sihir. Hanya capek habis menyebarkan poster sama Len." ujarku malas.
"Ngomong-ngomong soal Len-kun …"
Aku segera menatap kedua mata azure-nya, "Apa?"
"Aku … Ingin memberikan balasan White Day untuknya … Tapi, kapan waktu yang tepat ya?"
… Jangan.
"Terserahmulah." kataku dengan sewot.
Lenka menoleh dengan kaget, "Eh? Kenapa kau seperti itu? Kau marah?"
Aku menghela nafas.
Tentu saja. Mengapa kau begitu berjuang untuk orang yang tidak akan pernah mencintaimu?
"Karena- …"
"LENKA-CHAN!"
Tiba-tiba Ring muncul sambil memeluk Lenka.
"Eh? Ringy-chan? Doushite? Bagaimana?"
"A-Aku … S-Sudah jadian …"
"Aaah, omedetou gozaimashu!" ucap Lenka gembira sambil balik memeluk Ring.
"Omedetou, Ring-chan. Semoga kau bahagia sama Lui. Kalau dia membuatmu menangis, bilang saja padaku atau Len. Akan kami hajar dia." candaku.
Ring mengangguk sambil tersenyum lebar, kemudian dia sibuk bercerita dengan Lenka tentang kejadian yang dialaminya barusan. Dan Lenka tersenyum tulus mendengar sahabatnya yang sedang berbahagia tersebut.
… Akankah senyum itu tetap terpasang di wajahmu, jika Rin yang berbahagia?
.
.
"Rin, ayo ikut aku." ucap Len sambil menarik tangan Rin yang blushing saja.
Mereka keluar meninggalkan kelas, kemudian menghilang dari pandangan.
… Sudah hampir waktunya. Dan sebaiknya Lenka tidak melihatnya.
Dan sebaiknya tidak ada yang membahas tentang hal ini.
"Katanya Len mau nembak Rin ya?" tanya Lui yang sedang mendengarkan musik dengan Ring.
... Oh tidak. Kumohon jangan.
"Eh, benarkah? Aku belum dengar soal ini." tanggap Ring.
"Wah … Begitu ya … Rin-chan pasti akan bahagia. Oh, aku mau ke toilet sebentar ya." ucap Lenka sambil tersenyum lebar, lalu beranjak keluar kelas.
Dan aku mengejarnya. Berharap dia tidak melihatnya.
Lenka POV
Aku mempercepat langkahku menuju taman. Pantas saja Len-kun membatalkan janjinya saat istirahat ini. Ternyata …Ternyata …
Aku tidak dapat mengendalikan diriku sendiri. Entah kenapa … Rasanya sesak.
Oke, aku tahu mereka berdua adalah sahabat baikku. Tapi … Aku tidak dapat menerimanya.
Langit mulai tertutupi awan mendung. Seharusnya sudah mau bel pulang dan sekarang masih pelajaran, tetapi semua guru mengadakan rapat.
Aku makin mempercepat langkahku, dan tiba-tiba ada yang menarik tanganku. Rinto.
"Apa yang mau kau lakukan, Lenka?"
"Lepaskan, Rinto! Dan ini bukan urusanmu!" seruku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"Nggak."
"Aku mau ke taman!"
"Untuk apa? Melihat Len dan Rin? Lalu apa? Kau mau terluka? Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri jika kau pergi ke sana!"
Aku terdiam, kemudian Rinto melepaskan gengaman tangannya.
"Mengapa kau begitu berjuang untuk orang yang tidak mencintaimu, Lenka?" ucapnya lirih.
"Memangnya kenapa?!" teriakku, lalu berlari ke taman, dan dia mengejarku.
Aku tak peduli. Aku hanya ingin memastikannya.
Ini semua tidak benar-benar terjadi kan, Len-kun?
Yoo, arigato for reading chapter 3 … Endingnya nge-gantung nih, ufufuh.
Mau gak nge-gantung? Repiu dong biar author cepet apdet 8D #ctarr.
Oke, sekian. Sekali lagi, RnR?
