Desclaimer :
Kagamine Lenka © Crypton Media Future
Kagamine Rinto © Crypton Media Future
Kagamine Len © Crypton Media Future
Kagamine Rin © Crypton Media Future
Ring Suzune © Crypton Media Future
Hibiki Lui © Crypton Media Future
Utatte, Lenka! © Lon Noah
Warning : Typo dan mis typo, mungkin ada chara yang OOC atau topiknya OOT, cerita nggak jelas, alur kecepetan, dan lain-lain.
Don't like, don't read.
Genre : Romance, Friendship.
Rated : Teen
Aloha~. Akhirnya berhasil(?) ngapdet Utatte, Lenka! Well, selamat datang di chapter 4! Maaf untuk kebiasaan buruk saya yang suka ngapdet kelamaan! Jadi, untuk para readers yang telah menunggu chapter ini … Have a nice reading~!
Lenka POV
Aku mempercepat lariku ke arah halaman sekolah, berusaha lari dari kejaran Rinto. Aku berharap-harap cemas, berharap hal yang kudengar itu tidak benar.
Tapi sekeras apapun kau berusaha, itu tidak akan mengubah keadaan, Lenka. Len tetap menyukai Rin, dan begitu sebaliknya. Kau tidak boleh menganggu mereka, dan harus menerima kenyataan.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha melawan suara di kepalaku itu. Terlalu pahit untuk menerima kenyataan. Dan lagi, aku belum menanyakan banyak hal kepada Len-kun.
Akhirnya aku menginjakkan kakiku di kantin, yang dekat dengan halaman sekolah. Terlihat banyak siswa—tidak, banyak juga para siswi, yang sepertinya fansnya Len. Mereka tampak histeris—entah karena senang atau kecewa. Aku melihat Len yang sedang berdiri berhadapan dengan Rin yang menundukkan kepalanya karena blushing berat.
Len memberikan bungkusan coklat berbentuk hati dan menekuk salah satu lututnya di hadapan Rin, lalu berkata,"Kamine Rin, aku menyukaimu sepenuh hatiku. Maukah … Maukah kau menjadi pacarku?"
Deg. Rasanya … Perih.
Rin mengangguk pelan, membuat para siswa dan siswi heboh. Len langsung memeluk Rin. Sontak, para siswa dan siswi berteriak,"Cium! Cium! Ayo Len, cium Rin!"
Rin makin blushing. Len hanya cengar-cengir, tapi tak beberapa lama ia langsung menempelkan bibirnya di bibir Rin, yang membuat semuanya langsung berteriak heboh.
Aku membalikkan badanku, dan mulai berlari lagi, sambil menitikkan air mata.
Untuk apa aku di sini?
… Mereka berdua bahkan tidak menyadari keberadaanku.
Aku bersandar pada tembok, dan di koridor ini tidak ada orang sama sekali, karena kebanyakan sudah masuk ke kelas atau ke halaman sekolah. Aku menangis tertahan sambil menggigit bibirku, berusaha melampiaskan semua emosiku. Tanpa kusadari, ada seseorang yang sedari tadi melihatku, dan sekarang ia berharap dapat menenangkanku, tetapi ia tidak melakukannya, dan dia hanya tertunduk saja melihatku menangis.
.
.
Aku membuka pintu kelas dengan kasar, lalu langsung berjalan ke arah bangku milikku dan langsung menggait tasku. Lui dan Ring menyeringitkan dahi melihat kelakuanku yang benar-benar tidak seperti biasanya.
"Lenka, kau kenapa?" tanya Lui bingung.
Aku menatap mereka, yang langsung membuat mereka berdua kaget.
"Lenka-chan? K-Kau habis menangis?" tanya Ring panik.
"Ada apa, Lenka?" lanjut Lui.
"Aku? Aku baik-baik saja." jawabku sambil terkekeh pelan, membuat mereka berdua makin bingung dan cemas. Tentu saja, jelas-jelas terlihat di wajahku bahwa aku habis menangis, tapi mengapa aku malah tertawa?
… Karena aku merasa hatiku benar-benar sakit. Rasanya, aku ingin hatiku mati sekarang juga. Supaya aku tidak merasakan apa-apa lagi.
Aku mulai melangkahkan kakiku menuju keluar kelas.
"Lenka-chan. kau mau ke mana? Bel pulang sekolah belum berbunyi!" seru Ring panik.
"Lenka, kembalilah! Setidaklah bercerita kepada kami—apa masalahmu!" lanjut Lui.
Aku tidak mempedulikan ucapan mereka berdua, dan langsung membuka pintu kelas dengan kasar dan mulai berlari … Entah ke mana.
Rinto POV
Aku membuka pintu kelas dengan lesu, dan berjalan ke arah bangku milikku dan Lenka. Dia tidak di sini, dan tasnya tidak ada. Ke mana dia?
"Rinto." panggil Lui.
Aku langsung menoleh, dan Lui serta Ring sedang menatapku lekat-lekat dengan tatapan cemas.
"Ada apa?" tanyaku.
"Lenka-chan … Dia … Dia pulang duluan, padahal bel belum berbunyi." kata Ring terbata-bata.
"Dia … Pulang?"
Ring mengangguk, lalu melanjutkan kata-katanya, "Dia … Wajahnya … Juga kelihatan seperti habis menangis."
" … Menangis?"
Oke—aku merasa bodoh karena sedari tadi hanya mengulangi kata-kata Ring. Padahal aku tau dia tadi menangis di koridor, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kau tau dia kenapa, Rinto?" tanya Lui.
Aku mengangguk dengan sangat pelan, dan tiba-tiba bel pulang berbunyi. Aku langsung menggait tasku dan mulai melangkahkan kaki keluar.
"Oy Rinto! Kau mau ke mana?" seru Lui.
"Mencari dia. Hari ini tidak ada latihan kan?" balasku, lalu segera keluar dari kelas.
Hujan. Bau tanah, bau khas hujan, tercium. Dan hujan hari ini deras sekali. Apakah—apakah dia sudah tiba di rumah?
Aku menghela nafas, sambil tetap memegang payung warna biru muda milikku. Aku menatap jam tanganku, mengecek pukul berapa sekarang.
Tiba-tiba, mataku menatap sesuatu di taman bermain. Lenka? Kenapa … Kenapa dia berdiri di pinggir sungai? Bukankah dia tidak bisa berenang?
Aku segera berlari menghampirinya, melemparkan payung yang kupegang dan tas yang kuselempangkan. Kemudian memeluknya dan menariknya ke belakang, menjauhi sungai itu.
"Apa yang barusan kau lakukan, Yowane Lenka?!" seruku.
Lenka menatapku dengan tatapan kosong. Dia benar-benar kacau. Seifukunya basah—tidak, sekujur dirinya basah kuyup karena dia tidak memakai payung. Rambutnya acak-acakan dan terurai—entah ke mana ikat rambut pink yang biasanya ia pakai. Ia tampak menggigil. Wajahnya kacau, matanya sembab.
" … Rinto?"
Aku menatapnya lekat-lekat. Sepertinya Lenka sudah mendapatkan pikirannya kembali—setidaknya.
"Ya, ini aku."
Dia menundukkan kepalanya, kemudian menutup kedua wajahnya dengan tangan. Aku segera melepas jasku, lalu memakaikannya kepada Lenka.
"Kenapa … Kenapa kau menolongku?"
Aku menghela nafas, "Baka, memangnya kau pikir kau mau melakukan apa barusan?"
"Aku mau lompat."
Mulutku menganga, kemudian aku tertawa kecil, berusaha menghilangkan kecemasanku, "Oy nenek sihir, kau bercanda kan? Itu tidak lucu."
"Aku serius. Aku ingin lompat tadi."
Aku segera menarik tangannya, dan kemudian menatapnya serius, "Jangan coba-coba."
Ia tampak kaget dan berusaha melepaskan genggaman tanganku, tapi aku tidak mengizinkannya.
"Kau mau mengakhiri hidupmu, begitu, Yowane Lenka? Itu tidak lucu! Kau tau, masih banyak yang membutuhkanmu dan memikirkanmu! Orang tuamu, aku, Ring, Lui, Rin, Le—"
"Hentikan!"
Aku segera menghentikan perkataanku. Lenka yang semula duduk, langsung berdiri begitu mendengarkan ucapanku.
"Kau tau? Sekeras apapun aku mencoba, Len tidak pernah berpaling kepadaku. Dan mereka berdua TIDAK PERNAH PEDULI KEPADAKU!"
Lenka langsung melemparkan jasku kepadaku, dan lalu mengambil tasnya dan berlari keluar taman, menuju ke arah rumahnya.
Aku memutuskan tidak mengejarnya. Dia marah kepadaku, begitu yang kupikirkan. Dan aku harus memberinya waktu untuk sendiri.
Aku menghela nafas dalam, dan kemudian memungut jasku dan memakainya. Oke, aku basah kuyup juga sekarang. Tapi aku tidak peduli.
… Kapan dia akan sadar? Bahwa aku memedulikannya, lebih dari siapapun?
Keesokan harinya, bangku di sebelahku kosong. Ia tidak masuk.
"Apakah Lenka-chan baik-baik saja?" tanya Ring cemas, sambil menyeruput jasmine tea untuk meredakan kekhawatirannya—setidaknya begitu.
Kami berlima sedang berada di ruang klub kami, sepulang sekolah. Sebetulnya kami berencana untuk latihan—tapi tetap saja ada yang kurang jika tanpa Lenka.
"Apa kemarin kau bertemu dengannya, Rinto?" tanya Lui lagi.
Aku menganggukkan kepalaku pelan, "Dia baik-baik saja kok." jawabku berbohong.
Tentu aku tidak mungkin menceritakan bahwa kemarin dia berniat melompat ke sungai kan? Itu hanya akan membuat mereka makin cemas.
"Memangnya Lenka-chan kenapa?" tanya Len sambil mencoba memainkan gitarnya.
"Dia tidak seperti biasanya ya." ujar Rin polos.
Aku segera berdiri dari dudukku, kemudian mengambil tasku.
"Oy Rinto, kau mau ke mana?" tanya Lui.
"Menengok keadaannya. Mungkin—mungkin dia membutuhkanku. Jaa." ucapku, lalu keluar dari ruangan klub.
.
.
"Halo, ada orang?" seruku sambil mengetuk pintu kediaman keluarga Yowane.
Tidak ada jawaban. Aneh. Apa dia pergi?
KROMPYANG.
Tiba-tiba terdengar bunyi keras dari dalam rumah Lenka, membuatku cemas dan segera masuk ke dalam. Ternyata pintunya tidak dikunci. Aku segera mencari sumber suara itu, dan aku mendapati Lenka jatuh terduduk di lantai dapur, dengan banyak panci berserakan.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku kaget sambil membantunya berdiri. Dia mengangguk pelan.
Aku memandang wajahnya. Kenapa—kenapa merah sekali?
Aku segera memegang dahinya dengan tangan kananku. Panas.
"Yowane Lenka, apa kau terkena demam?"
" … Ng … Iya … Tapi kaa-san harus pergi hari ini, sehingga aku ditinggal sendirian, dan barusan aku mau mengambil makanan da—uwaaa?"
Aku segera menggendongnya dengan gaya bridal style, karena sepertinya dia tidak kuat untuk berjalan, dan sepertinya dia separuh sadar. Aku segera melangkah menuju kamarnya, dan menidurkannya di kasur.
"Kau ini—hah, sudahlah. Tunggu di sini sebentar ya. Jangan ke mana-mana."
Dia mengangguk pelan, dan aku menyelimutinya. Aku melepas jas seifuku-ku dan menaruhnya di kursi di sebelah tempat tidur Lenka, bersama tasku. Kemudian aku segera keluar kamar.
Aku segera berjalan menuju dapur, dan melihat sebuah note tertempel di kulkas.
Lenka, kaa-san pergi ke rumah bibimu, mungkin hingga malam. Maafkan kaa-san karena meninggalkanmu sendirian. Obatmu ada di meja makan, dan kaa-san sudah buatkan sup, panaskan kalau mau makan. Hati-hati ya.
Aku menghela nafas. Mengapa Haku oba-san meninggalkan anaknya yang sedang sakit, sendirian di rumah sih?
Aku segera menggulung kedua lengan seragamku, dan mulai menghangatkan sup buatan Haku oba-san. Aku juga membuat herbal honey tea, dan menyiapkan obat Lenka. Lalu mengambil kompres dan airnya juga.
Setelah semua siap, aku membawanya dengan sebuah baki ke kamar Lenka.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku sambil menaruh baki itu di meja dekat tempat tidurnya.
Ia tampak lemas, namun ia tetap melemparkan senyum kepadaku. Entah kenapa—mukaku jadi agak memerah dan—ah, Rinto, dia sedang sakit bakaaa! Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh!
Aku segera merendam kompres di air, lalu memerasnya, dan kemudian menaruhnya di dahi Lenka.
"Makan dulu ya, baru minum obat?" ujarku lembut.
Dia menggeleng pelan, "Aku nggak nafsu."
"Tapi kalau kau nggak makan, nanti nggak sembuh. Kalau begitu aku harus menyuapimu."
Aku mengambil mangkuk berisi sup yang hangat itu, dan kemudian mulai menyendokinya. Awalnya Lenka tidak mau memakannya, tapi akhirnya dia mau dan malah menghabiskannya. Kemudian dia meminum obat dan teh yang kubuat.
Aku membereskan semuanya. Ketika mau mengangkat baki itu ke dapur, Lenka mencengkeram pelan bagian belakang seragamku, "Kau … Sudah mau pergi?"
Aku menoleh dan tertegun, kemudian menaruh kembali baki itu di meja, "Aku bisa menemanimu di sini, jika kau mau."
Aku menarik kursi dan duduk di situ.
Dia kemudian menenggelamkan kepalanya di dadaku, membuatku kaget dan mukaku memerah, "Oy nenek sihir, a-ada apa?"
"Biarlah aku begini … Sebentar saja …"
Awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi kemudian aku memeluknya dan mengelus pelan kepalanya. Dia mulai sesenggukan, dan aku memeluknya makin erat.
"Kau baik-baik saja?"
Dia tidak menjawab pertanyaanku dan tetap menangis. Membuatku hanya menghela nafas dan tersenyum kecil. Setidaknya dia tidak marah kepadaku, hal itu sudah membuatku lega.
"K-Kau t-tau, m-membohongi p-perasaan sendiri t-ternyata r-rasanya s-sesakit i-ini."
"Eh—"
Dia melanjutkan kata-katanya, "S-Selama i-ini, a-aku selalu b-berpura-pura, p-pura-pura s-senang d-dan m-mengganggap s-semua a-akan b-baik-baik s-saja. T-Tapi, n-nyatanya—hiks … Hiks …"
Dia menangis makin keras, dan aku hanya bisa memeluknya. Setidaknya dia sudah terbuka kepadaku. Seragamku basah, tapi aku tidak peduli.
Aku menepuk-nepuk punggungnya, "Aku tau, aku mengerti. Setidaknya kau bisa menceritakan semuanya di hadapanku. Kau tidak perlu berpura-pura di hadapanku. Aku mengerti semuanya."
Dia mengangkat wajahnya. Wajahnya penuh air mata, tetapi matanya menatap ke arahku. Aku hanya tersenyum, kemudian menghapus air matanya dengan jariku.
"K-Kau s-serius?"
"Tentu saja."
"K-Kau t-tidak a-akan me-menertawakanku?"
"Untuk apa?"
"B-Bukannya k-kau s-sebal k-kepadaku? A-Apalagi se-setelah y-yang k-kulakukan p-padamu k-kemarin?"
"Kata siapa?"
Dia tersenyum, dan kemudian balas memelukku, membuat mukaku memerah. Oke, inilah derita menjadi seorang tsundere.
"A-Arigato, R-Rinto …" bisiknya pelan.
Mukaku makin memerah, dan kemudian mengalihkan pandanganku ke arah lain. Dan setelah beberapa lama, Lenka melepaskan pelukannya setelah dia tenang.
"K-Kau tau, wajahmu saat menangis sungguh-sungguh lucu." ujarku mencairkan suasana, dan dia hanya cemberut sambil menghapus air mata di pelupuk matanya.
"Oke, oke, aku hanya bercanda. Sekarang waktunya kau untuk tidur."
"Eh?"
"Sepertinya demammu bertambah naik. Kau sih, pakai nangis segala."
" … "
"Oke, hanya bercanda."
" … Apakah … Apakah kau akan tetap di sini?"
"Eh?"
Aku menatap wajahnya. Dia tampak serius. Oke—dan sepertinya dia tidak mengingau.
"Apa maksudmu?"
Dia hanya diam, dan memberikan tatapan kau-tau-apa-maksudku.
"Yang ada malah kau akan menghajarku saat kau bangun, lalu kau akan marah dan mengusirku keluar, lalu—"
"Tidak akan. Ayolah …"
"Oke, baiklah. Asalkan kau tidur. Ayo cepat tidur."
Dia tersenyum simpul dan kemudian mengangguk. Aku segera menarik selimutnya. Tak beberapa lama, dia sudah tertidur.
Aku mengelus rambutnya yang terurai. Wajahnya saat tidur … Sangat manis.
Mukaku memerah. Oke, Rinto. Jangan melakukan dan memikirkan hal yang aneh-aneh.
Oke—oke—aku memang sering memikirkan Lenka dan—argh, cukup!
Lenka sepertinya dapat mendengar gumamanku, atau entah karena mengingau, dia menggenggam tangan kananku yang berada di atas kasurnya. Mukaku memerah. Argh, kenapa aku seperti ini sih?
Aku pun menenangkan diriku sendiri dan menatap wajahnya lagi.
"Rin … To …"
Eh? Dia … Memanggil namaku saat tidur?
Aku terkekeh pelan—mukaku memerah, lagi.
Dan kemudian aku terdiam, dan—mencium dahinya.
Hohoho! Akhirnya chapter ini selesai juga~. Lega rasanya(?). Tentang adegan cium itu, awalnya author mau bikinnya si Rinto cium bibir, tapi nanti rasanya nggak enak kalau Lenka tau kalau ciuman pertamanya sudah direbut tanpa sepengetahuannya, jadi ya—gitulah! *heh. Oke, sekian. Mau saya cepat apdet? Jangan lupa review! Oke, mind to RnR? Arigato gozaimashu~
