Title : FATE
Author : cindyjung
Pairing : YunJae (Jung Yunho X Kim Jaejoong)
Genre : Sad, Romance
Author Note : Halooooo akhirnya datang kembali membawa seri si FATE ini hehehe. Maaf kalo penantiannya sangat lama karena bikin cerita ini itu harus memutar otak. Terimakasih buat para pembaca yang sudah me-Follow dan me-Favorit cerita ini ya :D TERIMAKASIH BANYAK-BANYAK-BANYAK! XD
Balasan Review :
NaraYuuki : Itu sudah jelas J terimakasih sudah mau baca dan review ya Yuuki-chan :D
Chris1004 : eh astagah hahaha. Iya sip ini lanjut kok :D terimakasih udah mau baca dan review!
Vic89 : Heheheh *nyengir dengan watadosnya* vic, terimakasih mau baca dan review terus yah :D
Izca RicassieYJ : Dara? Pake umur asli kaya di real kok, 28 kah? Atau 29? Pokoknya lebih tua dari Jeje setaun aja ._.a hehehe. Terimakasih ya udah mau terus baca dan review :DD
Yuuka Shim : waduh aku ga berani kalo kekerasan fisik mah lebih dari napar ato nonjok, kalo kekerasan batin baru aku suka *loh. Hahaha iya siap, Yuu-chan dilanjutin kok wkwkwk
Gege : pasti dikasih tau kok :D supir bis nya? Yah ada sedikit lah, tanpa ada supir bis itu kan Jae ga akan kepo kaya gitu soal masa lalunya hahaha. Dara bisa dong bisa heheh terimakasih yah udah mau baca dan koment cerita ini :D
MaghT : Jae akan ingat masa lalunya? Kita lihat nanti J terimakasih udah mau baca dan review terus yah :D
Meybi : soal Yunho akan diungkap chap ini J) makasih udah mau baca dan review ne :D
Dee : Ah, iya makasih sarannya :D itu emang miss aku banget , maaf ya kalo udah bikin bingung pas bacanya tapi semoga kamu tetap menikmati hehehe. Makasih yah udah mau baca dan udah mau review :D
I was a Dreamer : terungkapnya chap ini :D tunggu saja dan nikmati yah . terimakasih udah mau baca dan review cerita ini :D
Yoon HyunWoon : Thank You :D
Zheyra Sky : Junsu ngelakuin itu demi sahabatnya-Yunho- :'). Hehe soal itu ada di chap ini kok :D terimakasih udah mau baca dan review
Balasan Review End
Huahhh, terimakasih sekali lagi buat semuanya yang udah bikin Cindy bersemangat untuk nerusin cerita ini :DD semoga karya ini endingnya bisa kalian nikmati dan ga mengecewakan-mengecewakan amat yah :D hehehehe. Sorry for TYPO(S) bertebaraaannn dan kalimat yang aneh bin ajaib dalam setiap part (?). Sekali lagi TERIMAKASIH, ARIGATOU, KAMSAHAMNIDA,XIE-XIE, AND MANY MANY THANKS BUAT SEMUANYA :DD . I LOVE YOU ALL MY READER :*
Okey, Now let's the story begin
.
.
.
Bahkan saat waktu sudah berdetik dan berlalu
Aku masih berdiri di waktu dan tempat yang sama
#YunJae#
Tubuh itu masih terdiam kala pemilik suara husky tersebut menceritakan dengan detailnya setiap rinci hidup yang pernah ia lalui bersama Jaejoong. Hidup berdua didalam sebuah apartemen, dan menjadi sepasang kekasih. Sulit bagi kepala Yunho untuk mencerna semua yang dikatakan oleh Yoochun dikarenakan berbagai macam pertanyaan yang masih mengelilingi kepalanya. Jika memang mereka sepasang kekasih, jika memang mereka hidup berdua, jika memang semua itu benar adanya, kenapa mereka sekarang menjadi dua sosok manusia yang tidak saling mengenal?
"Kenapa..." tanya Yunho sedikit lemah
Kedua sosok dihadapannya hanya dapat menatapnya dengan penuh kecemasan kala sosok itu dengan bahu yang bergetar perlahan mulai membuka suaranya.
"..aku... bahkan tidak mengenalnya sama sekali..." kata Yunho kini dengan suara yang tertahan
"Kau lupa penyakitmu sendiri, Jung Yunho?" kata Yoochun sambil menatap Yunho dan memperlihatkan senyum dengan sebelah ujung bibirnya
"Maksudmu..." kata Yunho sambil menegadahkan kepalanya berusaha menatap Yoochun yang masih dengan berani menatapnya
"Kau kira itu semua benar karena kau diserang preman hum? Kepalamu terluka saat itu karena lebih daripada kecelakaan karena hendak diserang preman, kau tahu?" kata Yoochun sambil menatap Yunho sedikit tajam
"Yoochun ah!" pekik Junsu hendak menghentikan pembicaraan yang kembali membahas kecelakaan itu. Kecelakaan yang membuat Junsu membenci dirinya sendiri.
Seandainya saja saat itu ia tidak menyuruh Jaejoong untuk meninggalkan Yunho, mereka tidak akan mengalami kecelakaan mengerikan itu bukan? Yunho dan Jaejoong tidak akan menaiki bis yang hampir saja membuat mereka kehilangan nyawa mereka. Seandainya... Seandainya saja saat itu Junsu lebih mengerti keadaan Jaejoong. Seandainya saja... tiga tahun yang lalu itu tidak pernah terjadi...
Flash Back
Jaejoong melangkahkan kakinya menjauhi kamar apartemen itu dengan langkah yang sangat berat. Denyutan pada kepalanya membuat kepalanya terasa sakit dan terasa lebih berat dari biasanya. Matanya memanas dan memanas saat setiap langkah demi langkah ia rasakan semakin menjauh dari pintu apartemen itu dan.. CES! Tetesan air mata pertama jatuh dari pelupuk matanya dengan mulus.
Jaejoong terhenti.
Terdiam.
Dan kemudian tubuh itupun jatuh seketika.
Seakan kaki yang selalu menopang tubuhnya itu kini hanya sebuah kayu penyangga yang telah rapuh dan membuat sosok tersebut terjatuh dalam diam.
CES! Air mata kedua terjatuh dari pelupuk mata yang lain tak kalah mulus.
Jaejoong masih terdiam.
Pikirannya terhenti saat kehangatan itu meninggalkan jejaknya dipipi Jaejoong. Seketika berbagai macam pernyataan yang Junsu ucapkan terngiang dalam kepalanya.
"Aku tau ini bukan waktu yang tepat tapi... aku... mohon...aku.."
"Tolong... jauhi Yunho hyung..."
"Aku tidak mau melihatnya kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya..."
"Terusir dari rumah itu... pasti sangat berat baginya..."
"Aku tau ini sangat jahat tapi ... aku... aku sangat memohon hyung"
"Aku hanya tidak ingin melihatnya menderita..."
"Aku... menyayanginya hyung..."
"Kau.. menyayanginya juga bukan?."
Jaejoong menutup mulutnya yang terdengar mulai mengeluarkan isakan disana. Ia tidak percaya, bahkan walaupun telah dengan tekad yang teguh ia berniat meninggalkan Yunho, kakinya masih saja dapat melumpuh seperti ini. Bahkan dengan kata-kata benci yang telah ia lemparkan, ia masih dapat meneteskan air mata seperti ini untuk menyesalinya.
"Junsu ah... bagaimana ini?" kata Jaejoong sambil menatap pemandangannya hampa ditemani dengan air mata yang terus mengalir dari mata doenya tersebut
"Aku tidak menyayanginya seperti yang kau katakan" matanya sedikit disipitkan saat sebuah kata dalam kepalanya benar-benar menyentil logikanya
"Aku mencintainya" katanya sambil menundukan kepalanya dan membiarkan dirinya tertunduk dalam duka
#YunJae#
Jaejoong melangkahkan kakinya dengan malas menelusuri sepanjang jalan yang dikenalnya sebagai jalan dari provinsi dengan penghasilan terkaya di Korea Selatan tersebut. Sejujurnya Jaejoong tidak tau kemana arah yang akan ditujunya. Kerumahnya? Jangan gila. Ayahnya mungkin saja masih belum dapat menerimanya sejak kejadian itu, belum lagi, karena kejadian itu ia harus kehilangan oemma yang paling disayanginya. Ke rumah Yoochun? Ah, mungkin itu ide yang cukup bagus.
Sudah 5 menit waktu berlalu sejak ide kerumah Yoochun terbersit dalam kepalanya, namun kakinya tidak mempercepat langkahnya sama sekali. Langkah itu masih sangat lambat mengikuti pemikiran kepala sang pemilik yang mencerna juga dengan lambatnya. Jaejoong masih terdiam menunduk hingga sebuah getar dalam sakunya mengagetkannya dari segala lamunannya dalam setiap langkah kakinya yang terasa sangat lamban tersebut.
"Yoboseyo, Junsu ah?" jawab Jaejoong sedikit lemah saat ini. Tenaganya telah terkuras cuup banyak untuk menangis kala ia meninggalkan apartemen tersebut.
"Jaejoong hyung, apa kau sedang bersama Yunho hyung?" tanya suara diseberang sana
DEG! Jantung itu berdetak kencang kala sebuah nama yang ingin dilupakannya kini kembali bertengger di kepalanya.
"Aku baru saja keluar dari apartemen, Junsu ya" jawab Jaejoong semakin melemah kala pertahanan tubuhnya mulai terasa akan ambruk lagi
"Hyung..." suara diseberang sana kini terdengar tercekat kala mendengar Jaejoong mengatakan hal tersebut
"Sebentar lagi, dia akan pulang" kata Jaejoong berusaha memasang senyum diwajahnya. Tentu saja Junsu tidak akan melihat senyum itu, hanya saja Jaejoong sedang berusaha menguatkan hatinya kini diantara senyumannya itu
"..." tidak ada jawaban diseberang sana
"Percaya..."
"Tidak" kata Junsu diseberang sana menyanggah pernyataan yang belum diselesaikan Jaejoong dan membuat Jaejoong terdiam
"Dia tidak akan pulang, hyung" kata Junsu dan seketika Jaejoong terkesiap mendengarnya
Langkahnya yang tadinya terasa lambat kini terhenti. Jantungnya berdebar tidak nyaman kala sahabat kekasihnya ehem.. mantan kekasihnya itu menyebutkan hal yang tidak diduganya sama sekali.
"Apa maksudmu?" kata Jaejoong dengan nada yang khawatir
"Dia memang pergi, tapi bukan pulang" jelas Junsu dengan sedikit bergetar
"Aku kira Yunho hyung mengajakmu pergi bersamanya... Astaga.. Bagaimana ini... ia bahkan meninggalkan ponselnya" jelas Junsu cemasa
Jantung Jaejoong berdebar kala mendengar yunho bahkan meninggalkan ponselnya. Suatu hal yang sangat tidak mungkin dilupaka oleh seorang Jung Yunho. Sejenak kepalanya yang tadi terasa lamban itu kini dipaksa untuk berpikir lebih cepat.
"Junsu ah, hubungi nomor terakhir yang dihubunginya, lalu beritahu aku hasilnya, mengerti?" kata Jaejoong diantara kecemasannya juga
Kakinya yang sedari tadi terasa lambat kini dilangkahkannya lebih cepat. Tidak, bukan ini yang Jaejoong mau. Ia hanya ingin Yunhonya kembali pada keluarganya. Ia hanya ingin Yunhonya kembali merasakan kehangatan keluarganya. Ia hanya ingin, orang yang dicintainya itu merasakan kehilangan seperti apa yang dirasakannya.
"Jung Yunho, dimana kau?" batin Jaejoong cemas sambil melirikkan matanya kesegala arah berharap menemukan sosok yang dicarinya
Kembali ponselnya terasa bergetar dan menunjukkan kontak yang paling ditunggu-tunggunya.
"Yoboseyo?"
#YunJae#
Jaejoong melangkahkan kakinya menuju sebuah terminal bis dengan langkah yang terburu-buru. Nafasnya memburu beriringan dengan degup jantugnya yang berdebar kencang. Matanya dengan lincah dan panik mencari sebuah bis yang dicarinya.
"Seoul...seoul...seoul..ah, mian, seoul..seoul...seoul.." ucap mulutnya berulang-ulang sambil mencari bis yang menurut Junsu membawa Yunho menuju Seoul
Ia tidak memperdulikan orang-orang yang tengah menatapnya dengan sinis kala tubuhnya yang tampak oleng dan lemah itu menabrak siapa saja yang ada dihadapannya. Kecemasannya terlalu besar bahkan cukup untuk menutupi semua harga dirinya. Dalam kepalanya hanya ada satu nama yang paling ingin ditemuinya saat ini. Yunho, Yunho, Yunho.
"Jung Yunho, dimana kau?" batin Jaejoong berulang-ulang sambil mencari sosok itu dengan cemas
Jaejoong menaikan kakinya terburu-buru menuju ke sebuah bis yang ia yakini akan menuju ke Seoul.
"Apakah ini bis menuju Seoul?" tanyanya dengan terengah engah
"Ya, benar" kata seorang supir bis yang hendak turut menaiki bis tersebut menandakan bis tersebut akan segera berangkat
Segera setelah mendengar hal tersebut tanpa basa-basi kakinya melangkah semakin memasuki bus tersebut dan matanya dengan sigap mencari sosok yang dicrinya sedari tadi.
DEG! Mata itu melebar sempurna kala sosok yang ia cari kini tengah terduduk diujung belakang dengan tangan yang menumpukan dagunya. Pandangan matanya menatap pemandangan di luar jendela tersebut dengan sangat tidak berminat seakan bukan pada pandangan tersebutlah kepalanya tengah merekam kini. Tapi kepalanya sedang mereka ulang seiap kejadian dalam kepalanya yang membuatnya mendesah panjang.
Kaki Jaejoong melangkah pelan menuju arah namja yang ia ketahui bernama Yunho tersebut.
DRAP! Langkah itu terhenti bertepatan dengan kepala Yunho yang mulai teralihkan untuk menatap kearahnya.
Mata musang itu membesar kala mendapatkan penampakan yang tengah dipikirkannya tadi kini telah berdiri dihadapannya dengan air wajah yang tidak dapat diartikan. Senang, sedih, kecewwa, marah, semuanya. Semuanya seakan menjadi satu berbaur dengan wajah cantik dihdapannya ini.
Tubuh mereka bergetar pelan menandakan bis tersebut akan mulai meninggalkan tempat singgahnya ini.
"Kim Jae..."
"DASAR BODOH!" pekik Jaejoong saat namja itu mulai mengeluarkan suaranya untuk memanggilnya
Yunho terdiam kala suara itu menyentak dengan sempurna kearahnya.
"AKU PERGI AGAR KAU KEMBALI PADA KELUARGAMU!" pekik Jaejoong lagi dengan mata yang sangat panas dan siap menjatuhkan air mata lagi itu kapan saja
Ia tidak memperdulikan semua tatapan yag kini menatapnya karena merasa terganggu dengan suara teriakannya. Ia bahkan tidak perduli dengan Yunho terus terdiam tanpa menatapnya tersebut. Baginya keterdiaman Yunho ini hanya meng-iya-kan tindakan bodoh yang sedang dilakukannya kini.
"AKU HANYA TIDAK INGIN KAU MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN!"
"APA KAU TIDAK TAHU SAKITNYA KEHILANGAN KELUARGA?!"
"BISAKAH KAU MEMBIARKANKU MELIHATMU BAHAGIA?!"
"AKU INGIN KAU BAHAGIA, JUNG YUNHO!"
"Karena aku..." kata Jaejoong mulai merasakan isakan dalam tubuhnya sementara Yunho mulai menegadahkan kepalanya berusaha mencari penyelesaian kata yang akan diucapkan oleh Jaejoong
"Aku sangat mencintaimu" kata Jaejoong sambil terisak dan menundukkan kepalanya sambil menutupi segala luka yang seakan kembali terbuka kala Jaejoong mengucapkan kata yang paling ingin diingkarinya itu
Yunho menatap Jaejoong yang tengah tertunduk kini. Jantungya bergemuruh keras kala mendengar kata cinta dari namja yang juga sangat dicintainya itu. Akan sangat menyenangkan bila kata cinta itu harus terucap tanpa ada air mata yang mengiringinya seperti ini. Kim Jaejoong tidak taukah kau cinta Jung Yunho yang juga sangat besar untukmu ini?
Yuho menarik tangan kanan Jaejoong yang bebas tersebut dan memutar tubuhnya hingga memunggungi Yunho dan lalu membawanya kedalam pangkuan namja itu. Yunho memeluk erat tubuh Jaejoong sambil menyembunyikan wajahnya di punggung yang tengah bergetar karena menangis itu. Hidungnya menghirup wangi vanilla yang menyeruak dari dalam tubuh Jaejoong tersebut dengan penuh perasaan rindu. Yah, rindu. Walaupun belum ada sehari mereka berpisah namun rasa yang dirasakannya kini adalah perasaan rindu yang sangat besar.
"Aku tidak akan pulang tanpa dirimu disisiku..." kata Yunho membuka suara
"Kau adalah keluargaku juga..." katanya lagi yang menyentil hati Jaejoong dan membuatnya menjauhkan air matanya lagi dalam keterdiaman
"Aku tidak ingin tinggal di apartemen itu sendirian tanpa dirimu..." lanjutnya
"Karena aku..."
"Aku juga ... mencintaimu..." sambung Yunho dengan sayang sambil memeluk perut Jaejoong yang ada dalam pangkuanya tersebut sementara tangan Jaejoong menggenggam tangan yang tengah mengunci perutnya itu erat
Mereka terdiam dalam posisi itu dengan cukup lama. Getaran pada bis tersebut menambah rasa nyaman kedua sejoli ini didalamnya. Rasa hangat saling tersalur diantara mereka tanpa ada niat sedikitpun dipisahkan. Lagipula jika Jaejoong akan duduk, ia akan duduk dimana? Bis ini sangat penuh dengan orang-orang. Orang-orang yang sedang mencuri pandang, berceloteh, atau bahkan menggosipkan mereka berdua pastinya.
"Kim Jaejoong ayo kita menikah" kata Yunho dengan mata terpejam masih menyembunyikan kepalanya di punggung Jaejoong
Tubuh Jaejoong sedikit teras terlonjak sebelum akhirnya sebuah senyum terulas pada bibirnya. Tangannya mengelus tangan Yunho yang tengah berada dalam perut Jaejoong tersebut.
"Ya..." jawab Jaejoong dengan senyum yang cukup lebar
"Ayo, kita menikah" lanjutnya yang membuat senyum pemilik wajah dibalik punggungnya itu terkibar
Perasaan romantis yang sangat indah. Namun siapa yang menyangka perasaan tersebut akan menjadi sebuah akhir?
#YunJae#
Sebuah lonjakan hebat terjadi kala supir bis tersebut mengemudikan kemudianya dengan oleng dan membuat stir tersebut mengarah pada jurang disamping mereka. Sebuah truk yang mencoba melawan arah dan hampir menabrak truk tersebut membuat bis ini terpaksa mengarahkan stirnya kearah yang lain yang membuat keadaanya semakin tampak buruk.
Bis tersebut berputar kencang dalam sebuah jurang pendek namun curam tersebut hingga terhenti kala badan bis yang tengah penyok itu kemudian menabrak sebuah pohon besar dihadapannya. Keadaan di dalam bis tersebut tidak kalah buruk dengan keadaan luarnya. Banyak penumpang yang sudah tidak bernyawa disana, walaupun masih ada penumpang lain yang tampaknya dapat diselamatkan. Asap berkumpul dalam bis tersebut dan membuat siapa pun didalamnya merasakan sesak yang amat sangat.
Tidak terkecuali bagi Yunho dan Jaejoong.
#YunJae#
Dua tubuh itu ditaruh secara berdampingan pada sebuah rumah sakit yang kini tengah menangani semua korban dari kecelakaan bis tersebut. Keluarga Jaejoong dan Yunho sudah dihubungi seketika oleh pihak berwajib kala KTP mereka ditemukan di tempat kejadian.
"INI SEMUA KARNA ANAKMU YANG MENJIJIKAN ITU!" pekik pria paruh baya pada pria lain yang juga tengah berada dalam ruang tunggu yang sama dengannya
"SIAPA YANG KAU SEBUT MENJIJIKAN EOH?! ANAKMU ITU YANG MENJIJIKAN! SI JUNG YUNHO ITU" pekik pria paruh baya berambut hitam itu tak mau kalah kala orang asing itu menghina putra satu-satunya
"TAK AKAN AKU BIARKAN ANAKKU BERSATU LAGI DENGAN ANAKMU!" bentak namja yang adalah Mr. Jung itu sambil menunjuk pada ayah Jaejoong
"KAU PIKIR AKU AKAN MEMBIARKAN ANAKKU BERTEMAN DENGAN ANAKMU LAGI HUH?! TIDAK AKAN!" pekik Mr. Kim melotot dengan ata bundar yang ia turunkan pada Jaejoong tersebut
"KALIAN TENANGLAH! INI RUMAH SAKIT!" teriak Mrs. Jung tidak tahan lain meihat kelakuan dua orang ayah dihadapannya
"Setelah pemeriksaan selesai, aku akan membawa Yunho sangat jauh dari sini" kata Mr. Jung
"Ahjussi..." kata Junsu membuka suara setelah sedari tadi ia dan Yoochun hanya dapat terdiam sambil menyalahi diri mereka sendiri atas kecelakaan yang menimpa dua orang tersebut
"Junsu ah, jangan pernah kau biarkan... Yunho bertemu lagi dengan namja bernama Kim Jaejoong itu" pesan Mr. Jung pada Junsu yang membuat Junsu terdiam seketika
"Yoochun ah kau juga..." panggil Mr. Kim pada Yoochun yang akhirnya mengalihkan perhatiannya padanya
"Jangan sampai Jaejoong menemui pria ini..." lanjut Mr. Kim pada Yoochun
"Aku mengerti..." kata YooSu bersama dalam kedukaan sambil kembali menundukan kepalannya dan menatap lantai rumah sakit tersebut hampa
Flash Back End
"Bukan hanya kau, yang harus kehilangan ingatan saat itu, Jung Yunho" lanjut Yoochun membuka pembicaraan itu lagi sementara Junsu hanya mendesah pelan kala Yoochun berusaha menjelaskannya dengan seutuhnya
Yunho terdiam. Jantungnya masih bergemuruh keras kala setia kata dan cerita dalam kepalanya kini tercerna sangat lamban pada otaknya.
Inikah alasannya? Mengapa ia dan Jaejoong tampak seperti dua orang asing yang tampak tidak pernah mengenl sama sekali. Mereka berdua hilang ingatan. Dan mereka berdua telah dipisahkan dengan jarak yang sangat jauh oleh kedua orang yang mereka anggap sebagai keluarga yang mereka percayai. Mereka dipisahkan.. karena ketidak percayaan orang tua mereka terhadap mereka. Mereka dipisahkan karena...hal tabu dalam diri mereka. Mereka dipisahkan karena.. takdir menginginkannya begitu.
Ini tidak adil. Sangat tidak adil.
#YunJae#
Jaejoong masih terus berlari menuju rumahnya hingga sebuah getar menginterupsi kegiatannya dan membuatnya terhenti dari langkahnya yag terburu-buru itu. Digesernya tombol hijau pada layar ponselnya dan lalu ia menjawab panggilan tersebut.
"Yoboseyo?"
"Hyung..." panggil suara itu lemah
"Changmin ah! Kau kenapa? Suaramu lemah sekali" kata Jaejoong saat menyadari suara Changmin yang tidak seperti biasanya
"Hyung temani aku..." kata Chagmin dengan suara yang mulai bergetar
"Hyung..." panggilnya lagi
"Changmin ah! Kau kenapa? Dimana kau sekarang?!" kata Jaejoong cemas dan melupakan apa yang menjadi tujuannya tadi ketika mendengar suara Changmin yang bergetar
"Hyung aku takut..." kata Changmin lagi dan membuat jantung Jaejoong bergetar dengan tidak nyaman. Ada apa dengan sepupunya?
.
Jaejoong menatap pintu apartemen yang cukup familiar dimatanya itu. Sedikit ragu kala tangannya hendak mengetuk pintu yang didalamnya kini tengah berisikan namja yang tadi tengah memohon padanya tersebut.
TOKTOKTOK
Jaejoong akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut dan menunggu seorang didalamnya untuk memberikan jalan masuk.
Pintu itu kemudian terbuka perlahan dan akhirnya memperlihatkan keadaan orang yang ada didalamnya tersebut. Terlihat Shim Changmin dengan eadaan yang kacau kini. Muka yang sangat lusuh, rambut yang berantakan, dan bau bir begitu terhirup dari badannya.
"Masuklah hyung" ajak Changmin sambil memberikan sedikit jalan masuk bagi Jaejoong dengan sedikit memiringkan tubuhnya
Jaejoong memasuki aprtemen itu dengan perasaan yang tidak asing. Tampaknya ia pernah meninggali aprtemen itu namun entah kapan. Matanya melirik kesegala arah dan memperhatikan keadaan yang ia rasa tidak jauh berbeda dari keadaan sebelumnya. Bagaimana Jaejoong tau? Jaejoong bahkan tidak mengerti soal itu.
Jaejoong menjatuhkannya pada sofa yang kini tampak sangat berantakan. Di meja yang tak jauh dari sofa tersebut tampak beberapa kaleng bir yang sudah gepeng mungkin karena perbuatan Changmin pada botol tersebut.
"Sudah berapa kaleng yang kau tegak, Shim Changmin?" batin Jaejoong saat melihat minuman tersebut kini tengah memenuhi meja dihadapanya
"Changmin ah.. ada apa denganmu?" tanya Jaejoong dengan khawatir kala adik sepupunya itu kini sudah duduk disampingnya
"Aku akan bercerai" kata Changmin datar sambil mengambil sekaleng bir dan lalu meneguknya
Nada itu begitu datar. Bahkan terlalu datar untuk menyembunyikan bersitan kesakitan yang terselip di nada yang datar tersebut.
"MWO?! Kenapa?!" pekik Jaejoong kaget kala namja tinggi ini mengatakan akan memutuskan hubungan pernikahannya dengan yeoja yang selalu dibanggakannya tersebut
"Dia lebih mencintai namja lain" kata Changmin sambil menatap hampa pada ruangan disekitarnya dan enggan menatap Jaejoong
Jaejoong terkesipa. Ia memang mengetahui hungungan antara Fany dan Yunho yang baru saja ia sadari saat mengingat wajah Fanny saat dirumah sakit. Namun tidak pernah ia berniat memberitahukan kenyataan itu pada Changmin sedikitpun. Jadi, darimana Changmin mengetahuinya?
"Aku melihatnya... berciuman... dengan namja masa lalunya..." kata Changmin dengan mata yang sedikit menyipit berusaha untuk menghentikan rasa panas pada matanya
Jaejoong terdiam. Ternyata Changmin melihatnya juga eoh? Ciuman yang sangat ingin dilupakan Jaejoong itu kini terngiang kembali dikepalanya dan membuat Jaentungnya brgemuruh tidak nyaman. Namun diantara pemikirannya yang berat tentang ciuman itu ada satu kata yang menyita kepalanya.
"Namja... masa lalu...?" tanya Jaejoong sambil menatap Changmin
"Aku sudah tau... Yunho hyung... adalah namja yang pernah dicintai oleh Fanny, hyung. Aku sudah tau itu tapi... aku tetap saja bertahan... dan yang kudapatkan kini... apa? Perpisahan" kata Changmin dengan perasaan yang begitu terluka
Ia memalingkan wajahnya dan lalu menaruh kepalanya di bahu Jaejoong yang tampak menjadi satu-satunya bahu yang dapat menjadi tempat sandarannya kini. Air matanya membasahi pakaian yang dipakai Jaejoong kini yang dibalas Jaejoong dengan elusan sayang bada bahu namja yang tengah bergetar diantara isakannya tersebut.
Pantas saja Yunho begitu mencintai yeoja itu. Karena yeoja itu pernah mengisi hatinya.
"Aku menyukaimu" kata-kata terakhir yang diucapkan Yunho sambil menciumnya pun terkelibat dalam kepala Jaejoong dan membuat Jaejoong menarik kedua ujung bibirnya dan menampakkan senyum sinisnya
"Apa kau benar-benar menyukaiku, Jung Yunho?" batin Jaejoong sambil membayangkan Yunho yang kini kembali dalam ingatannya
Melupakan seorang Jung Yunho nampaknya sangat tidak mudah bagi Kim Jaejoong .
#YunJae#
"Kim Jaejoong tunggu aku" batin Yunho yang kini tengah melangkahkan kakinya terburu sambil menuju sebuah halte bis
"Aku akan menjemputmu" batin Yunho lagi
"Ayo kita menikah" sebuah suara kini berngiang dalam kepala Yunho dintara langkahnya yang menderu dan nafasnya yang terengah itu
Perlahan namun pasti, bisikan ingatan Yunho mulai kembali menyapanya.
"Kita lanjutkan... takdir kita yang tertunda"
TBC
Hayahhhh TBCnya gaje! Maaf! Maaf! Soalnya bingung mau bikin tbc yang kaya gimana lagi hehehehe. Next chap adalah end so, jangan sampe keinggalan eoh?
Makasih buat semua yang sudah mengikuti FF ini dari awal *bowbow. Very very Thank You dah XD Dan makasih juga yang udah mendukung FF sayonara! Cindy senang sekali! :D
Ditunggu kritik dan sarannya :D Arigatou! *bow
