Disclaimer :
Kagamine Lenka © Yamaha Crypton Media Future
Kagamine Rinto © Yamaha Crypton Media Future
Kagamine Len © Yamaha Crypton Media Future
Kagamine Rin © Yamaha Crypton Media Future
Suzune Ring © Yamaha Crypton Media Future
Hibiki Lui © Yamaha Crypton Media Future
Dark Flame Master(?) © Yang buat dia \:v/
Mereka bukan punya sayaaaaaa- *le scream*
Warning : Mr typo and miss typo, out of character or topic, alur kecepetan, cerita gajelas dan ganyambung, dan kawan-kawan lainnya.
Rated : Teen
Genre : Romance, Friendship.
Yo! Akhirnya author berhasil ngupdate Utatte! *gelindingan*. Mohon maafkan saya atas update yang lama- well, mohon dimaklumi, saya kan author yang males gitu— jadi, hontou ni gomenasai! Well, silahkan menikmati Utatte chapter 5! Have a nice reading! o/
Lenka POV
Aku membuka kedua mataku dengan berat. Huahm, aku masih mengantuk. Tetapi, kenapa aku merasa tidurku nyaman sekali ya?
Tunggu. Kenapa ... Kenapa di leherku— ada sebuah tangan yang melingkar di situ?
Dengan sangat perlahan, aku membalikkan kepalaku ke arah kiri.
Dan yang kulihat adalah, Kaine Rinto sedang tertidur pulas sambil memelukku. Dan sekarang, mukaku dan mukanya sangat dekat!
Refleks, mukaku memerah. T-Tunggu, k-kenapa d-dia ada di sini?!
Ah— b-bukannya aku yang memintanya menungguiku?
Aku langsung memalingkan mukaku darinya. Dan kemudian, aku memaki pelan diriku sendiri dalam hati. Walaupun sebenarnya aku nyaman dipeluk seperti i— argh, apa sih yang kupikirkan?!
Duh ... Sekarang apa yang harus kulakukan?
Dan tiba-tiba— aku merasakan Rinto bergerak.
Haah, dia untung sudah ba—
Grep.
.
.
Refleks, aku menutup kedua mataku, dan mukaku semakin memerah. Bagaimana tidak, karena Kaine Rinto sedang memelukku dari belakang!
'Argh, jika kau bercanda, ini benar-benar tidak lucu, Rinto!' makiku dalam hati.
Dan kurasakan, ia menarikku mendekat! Oh tidak— kenapa jantungku berdebar-debar makin kencang?
Ia mendekatkan mulutnya ke telingaku, "... Yowane Lenka ... Sukidayo ..."
Argh! Mukaku pasti semerah tomat sekarang!
"Zzz ..."
Tunggu. Itu—
Aku segera menolehkan kepalaku, lagi.
Dan ternyata, ia masih tidur!
B-Berarti— itu tadi- hanya dia ngelindur saja ya-
Tunggu, kalau dia masih tidur, b-bagaimana caraku melepaskan diri nih?
Dan tiba-tiba, aku mendengar pintu kamarku diketuk 3 kali.
Argh, siapa?! Jika siapapun itu; orang di balik pintu itu melihatku seperti ini— mereka bisa salah paham!
"Lenka-chan ... Rinto-kun ... Kalian di dalam?"
I-Itu suara Ring! Apa mereka berempat ke sini?
Jika mereka— sepertinya sih tidak apa-apa.
"Masuklah, aku butuh bantuan kalian!"
Dan aku mendengar suara pintu kamarku terbuka. Aku melirik mereka. Hanya ada Ring dan Lui. Dan mereka berdua sedang melihatku dan Rinto— dengan cengo.
"Lenka-chan, kau dan Rinto-kun ..."
"Tidak kusangka, kalian ..."
"Hey! K-Kalian s-salah pa-paham!"
Mereka menatapku dengan tatapan 'tidak, kami tidak percaya'.
"Oi! A-Aku se-serius! D-Dia t-tiba-tiba ngelindur— dan melakukan hal ini-"
Ring masih menatapku dengan tatapan menggoda, dan Lui berjalan mendekati kami berdua. Ia mengarahkan kedua tangannya ke arah Rinto- dan ia menggelitiki Rinto.
Rinto bereaksi, dan ia pun melepaskan pelukannya itu. Aku langsung bangun, dan berdiri di samping Ring.
"OY! INI TIDAK LUCU, KAINE RINTO!" teriak Lui.
Dan sekarang, Lui yang kewalahan. Ia dipeluk oleh Rinto yang sekarang duduk, tetapi tetap saja ia masih tidur.
Aku menghela nafas, kemudian mendekati mereka. Dan kemudian, aku mengeluarkan jitakan mautku kepada Rinto.
"Itte ... Seharusnya kau tidak menjitakku seperti itu, nenek sihir!"
Rinto pun sibuk mengomel panjang lebar, sementara kami berjalan ke ruang tengah.
"Habis kau kelewatan, baka! Dasar b-o-d-o-h!"
"Apaan sih? Bukannya kau yang minta ditemani?"
"T-Tapi k-kau a-aneh! D-Dasar a-aho!"
"Lah? Kok jadinya aku?! Memangnya apa yang kulakukan?!"
"Memang salahmu, b a k a! D-Dan, k-kau tidak perlu t-tau!"
"Rinto, Lenka-chan, sudahlah. Ayo duduk." ujar Lui menyelaku dan Rinto yang sibuk berdebat hebat.
Rinto pun menjulurkan lidahnya padaku, dan aku hanya cemberut. Rinto duduk di sebelah Lui, dan aku memutuskan duduk di seberang mereka. Ring pun berjalan dari dapur dan membawa baki berisi empat cangkir teh dan cake, kemudian ia menatanya di meja.
"Douzo. Aku dan Lui-kun tadi mampir ke cake shop terlebih dahulu sebelum ke sini." kata Ring yang sudah duduk di sebelahku.
Aku segera mengambil secangkir teh dan mengesapnya pelan. Lui pun begitu. Rinto? Ia langsung mengambil sebuah sus coklat dan melahapnya. Ring? Ia memegang bantal sofa dan memeluknya.
"Jadi ... Bagaimana kabarmu, Lenka-chan?" tanya Ring.
Aku meletakkan cangkir tehku di piring kecil, "Aku baik; sudah baikkan, lebih tepatnya. Tadi aku terkena demam, dan ... Untungnya si baka ini datang."
Rinto menggerutu pelan, "Dasar tidak tahu terima kasih."
Aku dapat mendengarnya, jadi aku melemparkan sebuah glare ke arahnya.
"Memangnya kau kenapa sampai demam begitu, Lenka-chan?" lanjut Lui.
Aku menelan ludah, "I-Itu—"
"Dia kehujanan."
Oh tidak, Rinto. Jangan ceritakan yang sebenarnya.
"Dia lupa bawa payung, jadi ya begitu. Biasa, nenek sihir yang pa —yah."
Aku menghela nafas lega, kemudian menatap Rinto dengan tatapan pura-pura sebal.
"Souka ..." kata Lui sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Aku pun mengambil sebuah pie raspberry dan melahapnya.
"Oh iya, Len dan Rin tidak bisa ikut kami karena ... Yah, biasa. Kencan. Maklumilah mereka. Pasangan baru, begitu."
Aku tersedak, kemudian buru-buru mengambil cangkir teh dan meminum tehnya.
"... Padahal kau dan Ring juga pasangan baru." ujar Rinto datar. Sepertinya dia mengalihkan pembicaraan. Yah, aku harus banyak berterima kasih padanya.
Dapat kulihat pipi Ring memerah dan ia menutupi mukanya dengan bantal. Sementara Lui, dia berkata dengan cuek, "Tentu saja. Tapi Ring tidak mau kuajak nge-date entah kena—"
"B-Bukan b-begitu! A-Aku h-hanya m-malu!"
"Kenapa harus malu? Kan kita pacaran."
Lui tidak sadar ya, kata-katanya itu membuat Ring makin malu?
Lui hanya tersenyum melihatnya, kemudian ia mengambil sebuah donat buah dan memakannya.
"Omong-omong, Rinto-kun kesepian lho saat Lenka-chan tidak masuk~" kata Ring yang sepertinya ingin membalas dendam.
Sekarang gantian Rinto yang tersedak, dan ia buru-buru meminum tehnya.
"Heh? Benarkah?" tanyaku. Entah kenapa— aku merasa senang.
"T-Tidak! D-Dia b-bohong! N-Ngapain juga aku kangen d-dengan n-nenek sihir sepertimu!" sahut Rinto sinis.
"Tidak usah bohong. Ah, Ring, kau ingat tidak, siapa yang bilang 'Duh, tidak ada nenek sihir itu ternyata sepi ya' atau 'Ah, aku tidak punya sasaran untuk dikerjai ... Lenka tidak masuk sih ...'" ujar Lui datar sambil mengabaikan death glare maut dari Rinto.
"Ya ya! Rinto bilang begitu!" sahut Ring sambil tertawa kecil. Dan sekarang, Rinto sibuk menglare pasangan ini.
"Ck— aku tidak berka— argh, lupakan!" seru Rinto salah tingkah. Ia segera mengambil cangkir teh miliknya, dan langsung menghabiskannya.
Ring terkekeh puas, dan ia mengambil kue lapis, dan mulai menggigitnya.
.
.
Dan tak beberapa lama, teh dan cake yang tersedia di meja sudah habis tak bersisa.
Ring pun sibuk membereskan piring dan cangkir kotor, jadi aku pun membantunya. Sementara Rinto dan Lui, mereka sibuk bermain PSP milik Lui.
Ring pun menyabuni peralatan yang kotor. Aku; yang mendapat bagian membilas, pun menunggu di sebelahnya.
"Hei Lenka-chan ..." kata Ring pelan sambil menyabuni cangkir-cangkir.
"Ya?"
"Sebetulnya ... Kau menyukai Len-kun kan?" tanya Ring hati-hati.
Aku menghela nafas panjang, dan akhirnya mengangguk pelan.
Ring tersenyum tipis, "Sudah kuduga."
Aku tersenyum miris, "Aku menyukai sahabat laki-laki sejak kecilku, tapi ternyata ia lebih memilih sahabat perempuanku sendiri. Tragis, bukan?"
"Aku mohon jangan salahkan Rin atas hal ini. Dia tidak bersalah, bukan?"
Aku mengangguk kecil, "Aku tahu, dan aku tidak akan pernah menyalahkannya. Untuk apa? Toh itu juga pilihan mereka berdua sendiri. Itu kebahagiaan mereka, aku tidak berhak merenggutnya. Jika mereka berdua bahagia ... Aku ikut bahagia."
Ring menepuk-nepuk punggungku pelan, "Kau tahu, Rin-chan benar-benar mencemaskanmu. Tadi sebetulnya dia sangat ingin menengokmu, tapi karena dia sudah berjanji pada Len ..."
Aku tersenyum simpul, kemudian mulai membilas cucian yang sudah selesai disabuni oleh Ring, "Ia tidak berubah. Ia tetap Rinny-chan kecil yang kukenal dulu."
Ring tertawa kecil, "Kapan dia akan berubah, ya?"
Aku pun ikut tertawa.
Rinto POV
Aku melirik Lenka dan Ring yang sedang mencuci peralatan minum teh yang kotor di dapur. Aku melihat Ring tertawa, disusul dengan Lenka. Haah, untunglah ia sudah dapat tertawa dengan normal.
" ... Kau selalu memperhatikannya, bukan?"
Aku kaget, dan kemudian menoleh ke arah Lui yang sibuk bermain PSP.
" ... Apa ... Maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, Rinto." katanya sambil sibuk memainkan PSPnya. "Ah sial, dia kuat sekali sih!" makinya pelan, yang kuyakin itu untuk game yang sedang dimainkannya sekarang.
" ... Mungkin?"
" ... Tidak hanya dengan kata 'mungkin', Kaine Rinto." ujar Lui. "Argh, darahku!" erangnya.
" ... Yah ... Kenapa kau tahu?"
"Tatapan matamu. Meskipun kau sedang berbincang ke dua atau tiga orang; atau bahkan lebih, kedua matamu hanya tertuju padanya."
Aku menghela nafas. Anak ini peka sekali, ya?
"Dan juga, sifatmu. Kau memang baik pada semua orang, tapi aku melihat sesuatu yang berbeda dengan perlakuanmu kepada Lenka-chan. Itu lebih mirip ... Dengan sifat yang berusaha menjaganya dan melindunginya."
Aku mendengus pelan, "Lihatlah ketua klub kita. Ternyata ia sepeka ini."
Lui terkekeh, "Well, jangan remehkan aku. Aku pintar membaca sifat dan gerak-gerik orang." ucapnya sambil membuat tanda 'peace' dengan tangan kanannya.
"Yeah, akhirnya menang!" seru Lui gembira. Aku pun hanya tersenyum melihatnya.
"Jadi, Rinto." kata Lui sambil mematikan PSPnya.
"Apa?"
"Kau tidak berencana menembaknya?" kata Lui langsung.
Aku menggeleng pelan, yang membuat Lui melihatku dengan tatapan heran.
"Kenapa?"
"Ada beberapa hal yang menjadi pertimbanganku, tapi tentu saja kau tidak boleh tahu."
Lui mendecak pelan, dan aku melanjutkan kata-kataku lagi.
"Dan aku ... Akan menyatakan perasaanku ... Jika dia sudah ingat akan janji kita berdua saat kita masih kecil dulu."
Lui memiringkan kepalanya, "Jan —ji. Kau masih mempercayai hal-hal kuno seperti itu?"
Aku menganggukkan kepalaku dengan mantap, "He em. Meskipun sekarang dia lupa, aku akan selalu mengingatnya. Dan akan ada waktu, di masa depan; yang kita tidak tahu kapan ... Bahwa dia akan mengingat itu. Ini hanya masalah waktu ... Sampai dia mendapatkan ingatannya pada umur tujuh kembali."
Lui menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau terlalu polos, Kaine Rinto."
Dan aku pun hanya menjulurkan lidahku kepadanya.
"Wah wah, kalian sedang membicarakan apa? Kayaknya seru sekali." ujar Ring yang baru selesai mencuci piring; dan sekarang ia duduk di sofa tempat ia duduk tadi, diikuti oleh Lenka.
"Ra ha si a." kata Lui misterius.
"Jahat sekali sih!" protes Ring, yang hanya dibalas dengan wajah tanpa dosa oleh Lui.
"Memangnya pembicaraan tadi tentang hal yang penting ya?" tanya Lenka ke arah Lui.
"Kenapa tidak bertanya kepada Rinto? Pembicaraan barusan itu tentang sesuatu yang menyangkut dirinya, kok."
Lenka pun segera menghadap ke arahku.
'Oh sial kau, Lui!' kutukku dalam hati.
"Jadi, tentang apa?" tanya Lenka polos.
"B-Bukan tentang apa-apa kok! S-Sung—"
"Muka Rinto-kun terlihat seperti muka orang yang sedang menyembunyikan sesuatu." sela Ring.
"A-Aku tidak menyembunyikan apa-apa!" kataku pura-pura kesal.
"Hoo? Bantahanmu kurang meyakinkan, Rinto-kun." sahut Ring.
PLUK.
Tiba-tiba sebuah bantal kecil melayang dan mengenai wajah Ring. Aku langsung memandang asal bantal itu. Ternyata, Lui yang melemparnya. Dia mengedipkan matanya ke arahku dan memandangku dengan tatapan 'hei, kau harus banyak berterima kasih kepadaku nanti.'
Aku hanya mengangkat bahu, dan—
"HI- BI- KI- LU- I—"
Aku langsung berbalik ke asal suara yang terdengar menakutkan itu. Terlihat Ring yang sedang memegang masing-masing sebuah bantal di tangannya. Ia tampak— mengerikan. Terlihat dark aura di sekitarnya— wah, aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Lui memang hebat ...?
"Nande?" jawab Lui santai.
"RASAKAN INI!"
Ring melempar bantal yang berada di tangan kirinya dengan kecepatan penuh. Sayangnya; dengan gesit, Lui dapat menghindarinya. Kemudian, Ring melempar bantal di tangan kanannya. Lui pun dapat menghindarinya dengan cekatan.
Lui mengambil sebuah bantal, kemudian memandang Ring dengan tatapan meremehkan, "Nona Suzune~ hanya itukah kemampuanmu~?"
Terlihat Ring menatap Ring dengan tatapan kau-makhluk-shota, ayo tunjukkan kemampuan terbaikmu. Aku pun hanya menghela nafas. Lui itu makhluk macam apa sih?
Lui tertawa pelan, kemudian melempar bantal yang dipegangnya itu dengan penuh semangat. Dan akhirnya ... Bantal itu mengenai ...
...
...
Sepertinya, lebih baik aku diam saja.
Aku memandang Lenka yang terkena bantal yang dilempar Lui itu. Ia hanya diam saja. Aku mengalihkan pandanganku ke Ring, dan kemudian Lui. Ring hanya memandang kejadian barusan dengan tatapan —kaget. Lui? Ia hanya berkeringat dingin, menunggu reaksi Lenka.
"Aha. Ahaha. Ahaha. AHAHAHAHAHA!"
Lenka segera mengambil bantal itu, dan menatap Lui dengan tatapan penuh ... Kemenangan?
Haah, saat ini, Lenka sangat mirip dengan Dark Flame Master dari anime Gundam itu deh.
Lenka melempar bantal itu dengan kecepatan penuh. Aku pun hanya tertawa dengan penuh kesenangan.
Dan setelahnya, aku menyesali detik-detik mengapa aku tertawa seperti itu.
Bantal yang dilempar Lenka mengenaiku, sehingga aku terjungkal ke belakang; yang menimbulkan suara *&^?! #?! yang sepertinya tidak dapat dijelaskan. Lui sibuk tertawa terpingkal-pingkal karena hal itu, Ring berusaha keras menahan tawanya, dan Lenka segera menghampiriku dengan cemas.
"Rinto, kau baik-baik saja?" tanyanya sambil mengguncang-guncangkan bahuku.
Aku hanya mengangguk kecil. Lenka pun membantuku berdiri. Aku memegang kepalaku, kemudian menyeringai lebar. Dan dengan kecepatan dewa, aku melempar bantal di tanganku ke arah Lui. Lui yang masih sibuk tertawa, tidak menyadari kedatangan bantal itu. Sehingga, ia langsung jatuh terjembab ke belakang.
Dan setengah menit kemudian, aku dan Lenka sibuk berperang bantal melawan Lui dan Ring.
Yo minna-san~ akhirnya selesai nih~ penasaran kelanjutannya? Makanya review yaaa /maksa
So, mind to review ne?
