Title : 30 Days with Miracle
Author:Arinna Neo Conquerra
Rating : T ajalah
Pairing : Shizuo x Izaya
Disclamer : Faktanya, Durarara! punya Oom Narita.
Warning : Gaje, OOC, bertele-tele, de el el.
Chapter 3 UP! Chapter kali ini agak pendek… dan sedikit bertele-tele. Saya ngerasa ada yang salah, tapi nggak nemu salahnya apa. Maaf ya… "
BTW, chapter kali ini ada dua side. Enjoy the new chapter! 8D
Chapter 3 : I'm… WHAT!?
Izaya's POV
"Orihara Izaya… sudah meninggal."
…
…
…huh?
Aku sudah…
…APA!?
"HUH!?" aku dan Shizuo berteriak kaget bersamaan. Tom hampir melompat kaget meski dia tidak bisa melihat maupun mendengarku. Itu pasti karena suara Shizuo.
"Mati? Kutu itu sudah mati?" oke, Shizu-chan benar-benar terdengar terkejut. Tapi lalu dia tertawa keras sampai membuat siapapun yang mendengarnya bergidik.
"Izaya mati? Jangan bercanda, Tom-san! Dia bahkan tidak mati setelah ketiban vending machine!" Shizuo berkata sambil terbahak-bahak memegangi perutnya. Tampang Tom yang serius menghentikan tawanya.
"…siapa?" Tanya Shizuo mendadak serius melihat tampang bossnya.
Tom menggeleng, "Tidak ada yang tahu. Aku juga cuma mendengar kabar. Keluarganya yang mengurus segalanya setelah dia mati. Tapi detil kematiannya tidak diungkapkan. Tidak ada yang tahu juga dimana dia dimakamkan," katanya.
Normal POV
"…jadi ini serius?" Tanya Shizuo memastikan.
"Sayangnya, sepertinya itu benar," jawab Tom, "Apartemennya di Shinjuku dan Shibuya kabarnya sudah dikosongkan. Semua kliennya sudah tahu itu. Seisi Ikebukuro juga sudah tahu. Hanya saja, keluarganya seperti menyembunyikan segalanya kecuali fakta bahwa Orihara Izaya sudah mati."
"Uh, jadi begitu, ya…" Shizuo menggumam. Dia meraih kantong bajunya, mencari-cari rokok dan pemantiknya. Setelah ketemu, dia menyalakannya dan menghirup aromanya dalam-dalam. Tom diam menunggu reaksi bodyguard sekaligus mantan adik kelasnya itu. Tapi 'ledakan' yang dinanti tak kunjung datang. Justru, Shizuo berbalik dan berkata, "Baguslah kutu itu mati. Aku jadi tak perlu mengotori tanganku dengan darahnya. Siapapun yang membunuhnya, aku berterima kasih padanya."
Tom menaikkan alis, heran dengan reaksi kohei-nya yang, anehnya, kalem. Tapi dia memutuskan untuk tak memikirkannya lagi dan berjalan menyusul Shizuo, meninggalkan seseorang yang secara fisik seharusnya tidak ada disitu.
Izaya berdiri mematung. Pikirannya serasa diacak-acak oleh percakapan Shizuo dan atasannya barusan. Dia? Mati? Orihara Izaya mati? Tidak mungkin! Itu pasti hanya rumor saja. Jelas-jelas dia berdiri disini, di Ikebukuro, saat ini juga. Tapi kalau yang dibicarakan Tom benar… itu menjelaskan mengapa orang-orang tidak bisa melihat atau mendengarnya. Juga tubuhnya yang terlihat transparan, dan mengapa dia tidak bisa memegang atau menyentuh sesuatu.
Berarti dia itu hantu? Uh, berapa kalipun dia memikirkannya, tetap saja itu terdengar tidak masuk akal. Hantu, bagaimanapun, tidak nyata kan? Ini aneh. Aneh, membingungkan, dan mustahil! Ini mimpi kan? Ya! Ini pasti cuma mimpi! Dan ketika terbangun, dia akan mendapati dirinya terbangun diatas kasur kingsize-nya yang empuk, dengan selimutnya yang tebal dan nyaman, dan dia akan menertawakan mimpi yang aneh itu. Ini cuma mimpi! Pasti!
Izaya masih berdiri mematung disitu. Dia melihat telapak tangannya yang tembus pandang, dan melihat titik-titik air hujan yang menetes melewati tubuh transparannya. Hujan turun makin deras. Orang-orang disekitarnya sudah menyingkir dari jalan untuk berteduh atau masuk ke rumah mereka yang hangat. Tapi yang dirasakan Izaya sekarang hanya dingin dan kosong. Tubuhnya sudah basah kuyup karena hujan (meski dia tidak tahu mengapa bisa basah, padahal air hujan selalu melewati tubuhnya seperti melewati asap). Izaya memandang ke langit yang masih menurunkan airnya.
Ini… bukan mimpi…
Author's note:
Gimana chapter kali ini? nggak greget ya? Iya, saya juga ngerasa gitu kok. Kali ini terasa bertele-tele dan cuma kepanjangan dari chapter sebelumnya aja. Yah, manjang-manjangin chapter adalah keahlian saya… #dihajar massa XD
Oke, see you next chapter! Tenang, chapter selanjutnya bakal saya bikin greget 8D
