Title : 30 Days with Miracle

Author:Arinna Neo Conquerra

Rating : T ajah.

Pairing : Shizuo x Izaya

Disclamer : Durarara! punya Narita Ryohgo

Warning : Gaje, OOC, belibet, de el el.

Maaf saya baru update! QAQ Dunia ini banyak banget godaannya, serius. Parahnya lagi, saya gak bisa ngetik kalau gak mood! Makanya waktu liburan udah mau selesai saya baru update...

Yang penting sekarang, selamat membaca...

Chapter 4 : Uh, Okay, You May Stay

Shizuo POV

Ikebukuro, jam 11.30 PM

Setelah seharian menghajar orang-orang yang banyak alasan karena tidak mau bayar hutang, aku berjalan memasuki kompleks apartemen tempatku tinggal. Aku menunggu lift naik dengan tidak sabar. Hari ini adalah hari yang melelahkan. Seharian orang-orang membuatku naik darah. Tidak ada kutu yang muncul seharian sehingga aku tidak bisa mengusirnya keluar Ikebukuro—

Tunggu, Izaya kan sudah mati.

Entah kabar itu benar atau tidak. Tom sudah meyakinkan bahwa itu benar, tapi tetap saja rasanya sulit mempercayai kalau kutu itu sudah mati. Meski tidak pernah membicarakannya dengan siapapun, kuakui, acara kejar-kejarannya dengan si kutu bermata merah itu lumayan bisa melepas stress. Hitung-hitung olahraga. Lagipula, seumur-umur cuma Izaya saja yang berani main kucing-kucingan denganku dan kembali dengan selamat, tapi tidak pernah kapok untuk kembali. Kalau Izaya tidak ada… Meski tiap berjumpa aku selalu bersumpah untuk membunuhnya, aku sendiri tidak pernah membayangkan bagaimana jadinya Ikebukuro tanpa Izaya. Aku terlalu focus memburu Izaya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kalau dia tertangkap. Sekarang setelah berita itu muncul, aku jadi bertanya-tanya. Yang jelas Ikebukuro takkan sama lagi…

Ah, tapi siapa perduli? Cepat-cepat kusingkirkan pikiran itu jauh-jauh. Aku ingin membunuh kutu yang dulu pernah sekelas denganku 'kan bukannya tanpa alasan. Alasannya, si sulung Orihara itu selalu bikin kerusuhan. Bagiku yang benci kekerasan, bukannya wajar jika aku berusaha menyingkirkan sumber yang selalu membuatku naik darah dan akhirnya menggunakan kekerasan? Lagipula, si kutu itu memang kerjaannya bikin kekacauan dimanapun dia berada, 'kan?

Hah. Lupakan Izaya. Aku lapar, lelah, dan mengantuk. Sekarang sudah hampir tengah malam dan besok aku harus kerja pagi-pagi. Serius, kalau aku tahu liftnya lama begini, lebih baik tadi aku naik tangga saja seperti biasa. Benar-benar bikin senewen.

Akhirnya sampai juga. Tinggal membuka kunci pintu dan masuk. Dimana kuncinya? Ini dia. Uh, sepertinya aku butuh gantungan kunci supaya aku tidak kelupaan dimana kunciku. Sepertinya dulu Kasuka pernah memberiku satu. Dimana ya aku meletakkannya? Mungkin ada di atas kulkas atau di laci kamarku. Yang penting sekarang masuk dulu deh. Setelah itu mandi, dan makan malam, lalu—

Bau apa ini!?

"Uh, sial!" umpatku pelan sambil membuka sepatu. Bau ini… sangat familiar. Darimana datangnya!? Sepertinya sebelum pergi apartemenku baunya tidak begini. Aku sangat kenal bau ini. Masalahnya adalah mustahil udara bisa bau seperti ini, kecuali kalau si kutu busuk berbulu (baca: berjaket bulu) itu ada disekitar sini…

Sebuah suara hampir membuatku melompat kaget, "Shizu-chan?"

"HUH!? Flea!?" bulu kudukku serasa berdiri mendengar suara itu. Cepat-cepat kunyalakan lampu. Dan disanalah dia, meski terlihat berbeda, berdiri menghadap pintu masuk di dekat sofa di ruang tamuku. Rambut hitam, mata kemerahan, dan jaket bulu yang sama. Siapa lagi kalau bukan si-kutu-busuk-penghisap-darah Izaya Orihara. Bedanya? Senyumnya tidak terlihat menyebalkan dan raut wajahnya terlihat lega, membuatku bingung. Kenapa dia terlihat lega begitu tahu aku ada satu ruangan dengannya? Demi apapun, aku bisa menimbunnya dengan sofa kapan saja aku mau!

"Sedang apa kau disini!?" bentakku.

Senyumnya perlahan jadi menyebalkan seperti biasa, "Nah, nah, Shizu-chan. Tidak perlu pakai otot begitu. Mari kita bicara pelan-pelan, bagaimana?"

"Bicara!? Kita sudah cukup bicara, kutu!" teriakku geram sambil mengangkat benda terdekat dariku; kali ini sebuah meja dekat pintu masuk. Vas bunga dan telepon rumah yang sudah lama tak berfungsi karena lupa kubayar tagihannya jatuh ke lantai dan rusak. Aku tidak memperhatikan. Kuangkat meja tersebut diatas kepala, bersiap melemparnya kapan saja.

"Shizu-chan! Tunggu! Dengarkan dulu!" Izaya terlihat panik.

Huh? Aneh. Baru kali ini kulihat dia panik begitu. Tapi aku mengabaikannya, "Aku tidak perlu basa basimu, Kutu! Kau yang cari perkara karena berani-berani masuk apartemenku. Bersiaplah IZAAAYAAA-KUUUUUUN!" seruku geram sambil melempar meja tersebut kearah Izaya. Dia panik dan pada akhirnya hanya berusaha melindungi kepalanya dengan tangan. Terdengar bunyi mebel kayu yang membentur sesuatu, dan meja itu hancur. Yang membuatku terkejut, Izaya baik-baik saja!

Bukannya aku baru melempar meja kearahnya? Meja tadi seharusnya mengenainya; melihat jarak kami yang tak terlalu jauh dan dia yang tidak menghindar sedikitpun. Meja itu sendiri tergeletak rusak di dinding dibelakangnya. Tapi Izaya tidak lecet sekalipun! Hah? Kok bisa? Bukannya tadi dia hanya melindungi diri dengan tangan? Mengapa dia bisa selamat dari serangan jarak dekat dariku? Dan bagaimana bisa meja itu rusak jika tidak mengenainya?

"Uh… bagaimana bisa?" gumamku heran. Aku menoleh kearah si Kutu dan mendapati bahwa dia sedang memandangku seperti akan berkata 'nah-kan-kubilang-juga-apa-dengar-dulu-dong'. Kubalas pandangannya dengan alis terangkat, "Apa?" tanyaku ketus. Izaya menghela nafas.

"Shizu-chan, sudah kubilang 'kan, dengarkan aku dulu!" katanya sambil berkacak pinggang, "Kau terlalu cepat meledak, sih. Lihat apa yang terjadi pada meja malang itu."

"Diam, Kutu! Kau membuatku makin bingung!" geramku, "Sekarang katakan, ada apa ini!? kau tidak menghindar, tapi mejaku rusak!"

Izaya hanya berdiri diam.

"Kenapa kau diam, kutu!?"

"…kau bilang aku harus diam…?"

"AARGH! MAKSUDKU BERHENTI BICARA YANG TAK PERLU, KUTU! JANGAN MEMBUATKU HARUS MELEMPARMU DARI SINI! DAN CEPAT, SEBELUM KUTENDANG KAU KELUAR!"

"Ouch, Shizu-chan, kuyakin itu bukan cara memperlakukan tamu yang baik!" Izaya duduk di lengan sofa menghadapku sambil pasang tampang sakit hati. Aku hendak berteriak lagi, tapi Izaya memotongnya dengan tampang serius, "Nah, nah. Hentikan, Shizu-chan. Kau ingin aku menjelaskan, 'kan? Jangan berteriak padaku lagi atau aku akan jadi malas bicara."

Aku mendengus dan duduk di sofa diseberangnya. Izaya? Malas bicara? Pfft, kalau itu terjadi, kucing pasti bisa terbang, "Aku menunggu, kutu."

Izaya menghela nafas lagi, "Nah, Shizu-chan," dia melipat tangannya didepan dada, "Pertama-tama, jangan bilang kalau kau lupa bahwa aku sudah mati."

Aku berkedip. Sekali, dua kali, "Hah?" hanya itu yang keluar dari mulutku.

"'Hah'? hanya itu? Kau tidak bisa berakting terkejut lebih baik lagi, Shizu-chan?" Izaya menggoda.

"…mati?" kataku pelan, tak terlalu memperdulikan godaan Izaya barusan.

"Yup! Aku sudah mati Shizu-chan~!" sahut si kutu dengan nada ceria, "Kubilang juga apa 'kan? Kau tidak mau dengar dulu sii~h, lihat akibatnya. Meja mungilmu rusak 'kan?" dia berpura-pura cemberut.

Sekali lagi, aku mendapati diriku tidak terlalu memperdulikan celaannya, "Uhm… Tapi… bagaimana…?"

"Waha, Shizzy, ternyata kau tidak kreatif bertanya! Kau bahkan tidak menyelesaikan pertanyaanmu. Orang-orang tidak akan tahu apa yang kau maksud jika kau tidak bertanya dengan lengkap, Shizu-chan," dia tertawa menyebalkan, "Atau kau tidak bisa melanjutkannya karena ke-sempurnaan-ku? Atau…" kutu itu berlagak berpikir keras, lalu tiba-tiba menjentikkan jarinya dan tersenyum seperti anak TK yang baru menangkap penjelasan gurunya, "Aah, aku tahu! Jangan-jangan Shizu-chan takut hantu ya?"

"I-itu tidak benar! Sekarang jelaskan, kutu! Atau—"

"Atau apa, Shizzy? Melemparku keluar jendela? Mencincangku jadi sushi? Pfft, lupakan! Kau bahkan takkan bisa menyentuh sehelai rambutku!" dia tertawa lagi, dan aku mengatupkan rahangku karena marah, "Taapiii~ kalau kau memang sangat ingin tahu, baiklah. Pertama, aku sudah mati. Singkatnya aku ini hantu. Kedua, karena aku sudah mati, yang kau lihat sekarang ini hanya jiwaku, dan tidak seperti tubuh manusia secara fisik, jiwa bisa menembus apapun. Lemparanmu bagaimanapun sia-sia karena benda apapun akan melewatiku. Begitu~" jelasnya dengan nada main-main, "Lalu kalau kau bertanya mengapa mejamu rusak, ya begitulah! Tubuhku sekarang transparan dan tak bisa disentuh benda apapun. Mejamu menembusku dan membentur tembok hingga rusak. Selesai~! Jelas 'kan?"

Aku merasa keringatku mendadak dingin, dan bulu kudukku berdiri. Tidak, aku tidak lupa berita kalau Izaya sudah mati. Tapi setelah 8 tahun lebih mengejarnya tanpa bisa benar-benar melukainya (uh, maksudku luka serius, seperti yang kadang dia lakukan padaku dengan pisau sialannya itu), rasanya sulit percaya bahwa dia bisa mati. Aku yang merupakan orang terkuat di Ikebukuro saja tidak pernah berhasil melukainya! Bagaimana caranya dia bisa mati? Kenyataan bahwa sebab kematiannya yang misterius semakin membuatku ragu akan berita itu. dan lagi, ketika aku melihat kutu itu disini, di apartemenku, aku hampir yakin berita itu bohongan. Pasti berita itu dibuatnya sendiri untuk rencana-busuk-entah-apa yang dibuatnya. Tapi setelah apa yang kulihat barusan, dan penjelasannya…

…mungkin berita itu memang benar. Itu cukup menjelaskan mejanya dan tembok retak didekat mebel itu tergeletak. Dan menjelaskan juga mengapa aku mencium bau kutu busuk itu tadi saat aku bersama Tom, tapi tetap tidak bisa menemukannya dimanapun. Huh. Izaya hidup saja sudah sangat menyebalkan, apalagi matinya…?

Dan sebelum kalian bertanya, tidak, aku tidak takut hantu

Aku BENCI hantu!

Izaya POV

"Shizu-chan~" kataku main-main. Dia diam dan berpikir terlalu lama, aku bosan menunggunya! "Mengapa kau diam saja, hm? Masih belum terima kalau aku sudah mati?" kulihat Shizuo menatapku dengan mata melebar dan wajah pucat. Oh? Dia lupa ya aku disini?

Shizu-chan melangkah mundur, "Uh-huh, begitu ya?" katanya amat pelan—hampir berbisik—sambil terus mundur. Aku ingin tertawa melihatnya. Lucu juga melihat Pria Terkuat di Ikebukuro takut hantu, meski dia tidak mengakuinya. Padahal aku sendiri juga tidak yakin apa aku benar hantu atau bukan.

"Anyway, meski sudah mati, aku tetap tamumu. betul 'kan?" kataku sambil menguap. Lucu, kukira hantu tidak tidur, "Jadi—"

"TIDAK!" potong Shizuo lantang, membuat jantungku serasa hampir melorot sampai ke usus kalau saja aku punya jantung sekarang. Rasa kantukku hilang seketika. Aku menatapnya bingung, "MESKI KUCING BISA MENYETIR MARCEDES SEKALIPUN, AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU BERSANTAI DIRUMAHKU, FLEA! SEKARANG KELUAR!" Shizu-chan meneriakkan kata terakhir dengan begitu keras. Dia membuka pintu masuk apartemennya lebar-lebar dengan paksa, handle-nya hampir lepas. Dan wajahnya terlihat amat sangat marah.

"…maaf?" tanyaku, tak percaya pada apa yang kudengar.

"Kau mendengarku, kutu! KELUAR!"

"Tapi—"

"Tidak ada tapi! Kau musuhku, tidak akan kuizinkan kau masuk! Hidup atau mati, KELUAR!" potong Shizuo, sekali lagi membanting pintu sampai tembok dibelakangnya retak dan rontok.

"Shizu-chan—"

"K.E.L.U.A.R.!"

Shizu-chan benar-benar serius. Bahkan dia tak mengizinkanku menyelesaikan kalimatku. Aku cepat-cepat melangkah keluar dan Shizu-chan membanting pintu dibelakangku—seolah tindakannya membanting pintu terbuka barusan tidak cukup. Aku menoleh kebelakang dan menghela nafas. Dengan langkah gontai kutinggalkan apartemen Shizu-chan dibelakang.

Hilang sudah kesempatanku. Mestinya aku tidak usah kemari saja. Tapi bagaimana lagi, hanya Shizu-chan yang menyadari aku ada di Ikebukuro tadi, meski hanya dari bauku. Sebagai 'hantu', aku tidak tahu harus kemana. Kupikir kalau aku 'menumpang' di apartemennya, aku akan mendapat sesuatu, berhubung aku 'terbangun' sebagai hantu di Ikebukuro ini. Aku tidak menyangkan dia ternyata bisa melihatku. Bagus juga sih, jadi bakal lebih mudah bertanya-tanya padanya. Kupikir kalau aku menjelaskan yang sebenarnya dia bakal membantuku. Tapi ternyata dia malah mengusirku begitu saja. Padahal aku sudah mengabaikan harga diriku dengan minta tolong pada musuhku. Huh, tidak terduga seperti biasanya ya.

Aku menghela nafas sekali lagi. Sekarang bagaimana? Aku selalu punya rencana, tapi saat ini aku tidak bisa memikirkan rencana yang bagus. Apa karena sekarang tubuhku (dan otakku) tidak bersamaku? Aah, beginikah yang Celty rasakan saat kepala dan tubuhnya berpisah?

Malam semakin larut dan jalanan Ikebukuro makin sepi. Hanya ada beberapa orang dipinggir jalan. Aku terus berjalan tak tentu arah. Tanpa sadar aku berjalan ke arah taman Ikebukuro. Kebanyakan orang sudah kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, dan yang masih diluar rumah biasanya memilih jalan utama yang lebih ramai. Jadi, disini cukup sepi.

Mungkin sebaiknya aku pulang saja ya? Tapi kalau semua orang sudah tahu aku mati, berarti apartemenku kemungkinan sudah dikosongkan. Sepertinya percuma. Tapi tidak ada salahnya mencoba 'kan? Aku tidak tahu lagi harus kemana. Lagipula apartemenku di Shinjuku dan Shibuya sudah resmi milikku. Tak mungkin orang lain bisa menempatinya. Kalaupun keluargaku sudah mengosongkannya, barang sebanyak itu takkan muat di rumah mereka. Kecuali kalau mereka memutuskan untuk melelangnya.

Kulangkahkan kaki menuju apartemenku di Shinjuku. Aku harus melewati kompleks apartemen Shizu-chan lagi kalau ingin cepat sampai. Baru berjalan sebentar, sesuatu menabrakku.

"Aduh!" seruku kaget. Tidak sakit sih, cuma kaget.

"Izaya!" pekik seseorang. Aku membuka mata dan terbelalak melihat apa—tepatnya, siapa—yang kutabrak.

"Shizu?"

Shizuo mengangguk. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri, "Uhm, begini…" dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aku tidak bermaksud minta maaf, karena kau sendiri yang menyelinap masuk ke rumahku dan tiba-tiba bilang kalau kau itu hantu. Aku cuma… kaget, mungkin? Habisnya kau datang dan memohon bantuan padaku…"

Biasanya aku bakal protes mendengar kata-katanya. Aku tidak memohon! Aku cuma minta tolong. Tapi kali ini aku diam saja dan menunggu kalimat selanjutnya.

"…Secara, kita kan musuh. Lagipula kau mati juga paling karena salahmu sendiri. Kalau dipikir-pikir sih, semua hal buruk di kota ini juga mungkin salahmu," Auh, kata-kata Shizzy kejam! "Tapi… uhm, gimana ya… pada intinya, setelah kupikir-pikir, mungkin aku bisa membantumu. Mengirimmu ke alam baka misalnya… berhubung kau juga sudah memohon-mohon padaku…"

"Shizu-chan, aku tidak memohon padamu. Hanya minta tolong!" potongku, tidak tahan mendengarnya mengulang-ngulang kata 'memohon'. Demi apapun, aku tidak memohon! 'Memohon-mohon' dan 'minta tolong' jelas dua kata yang berbeda! "Aku datang ke apartemenmu karena aku tidak tahu harus kemana lagi. Tidak ada yang sadar saat aku mendapati diriku di Ikebukuro tadi, kecuali kau. Yah, walau awalnya kau juga tidak bisa melihatku. Tapi itu sudah cukup bagus. Kupikir kalau aku datang ke apartemenmu, aku bisa minta tolong," aku menghela nafas, lalu melanjutkan, "Aku tahu kita musuh, Shizu-chan. Tapi aku tidak tahu harus apa lagi. Tidak banyak yang bisa melihat hantu. Aku juga tak tahu menahu mengenai kematianku. Dan yang paling penting, aku tidak bisa memegang benda, tidak bisa menyentuh apapun…"

"Uh, flea?" Shizu-chan memotong, "Sebentar, tapi bukannya tadi kau menabrakku sampai terjatuh?"

Aku terdiam mendengarnya.

Benar juga. Barusan dia menabrakku sampai jatuh ya?

"Iya, ya," gumamku. Shizuo mengangguk. Berarti dia bisa menyentuhku..?

Padahal tadi siang aku tidak bisa menyentuh apapun, dan siapapun…

"ANYWAY, aku datang ke apartemenmu bukan untuk menganggumu kok," kataku mengalihkan pembicaraan. Shizuo bukan tipe penyabar, jadi sebaiknya lagsung ke pokoknya saja, "Aku cuma… mau menumpang sementara…" bagaimanapun, kata-kataku semakin pelan diakhir kalimat.

Shizuo menaikkan alis.

"Begitu ya?" gumamnya lebih kepada diri sendiri, "Hmph, sulit dipercaya."

"Aku juga sulit percaya bakal minta tolong padamu dari semua orang di dunia."

"Bukan, maksudku sulit dipercaya kau takkan menggangguku," ujarnya sambil menyilangkan tangan didada.

"Ooh, jadi Shizu-chan lebih suka kuganggu?" godaku.

"Bukan begitu, kutu. Maksudku, kemungkinanmu tidak mengganggu seseorang itu sama besarnya dengan kemungkinan kucing bisa pakai daster."

"Pfft, tidak ada hubungannya," sahutku.

"Maksudnya hampir mustahil," dia menjelaskan, "Tapi kalau kau serius, mungkin aku bisa mempertimbangkannya."

"Serius?"

"Mungkin," jawab Shizuo, menaikkan bahu, "Dengan satu, tidak, dua syarat."

"Syarat?"

Shizu-chan menatapku serius,"Jangan pernah menyentuhku, dan jangan membuatku senewen lagi."