Title : 30 Days with Miracle
Author :Arinna Neo Conquerra
Rating : obviously T
Pairing : Shizuo x Izaya (sekarang masih dalam tahap 'musuh jadi teman')
Disclamer : Durarara! punyanya Narita-sensei.
Warning : Chapter berikut sebenarnya cuma teaser buat chapter selanjutnya, jadi lebih pendek. Mengandung OOC-ness, ke-gaje-anness, dan basa basi busuk #slap
Baca author note di paling bawah untuk informasi penting mengenai chapter selanjutnya.
Happy Reading~!
Chapter 5 : Mysterious Call
Izaya POV
Lima hari berlalu setelah aku mulai hidup di apartemen Shizu-chan.
Yah, bukannya aku masih hidup sih. Tepatnya aku tidak tahu apa aku betulan sudah mati atau belum. Tapi kalau aku bilang 'tinggal', ini kan bukan apartemenku. Kalau aku bilang 'menumpang' atau 'tinggal bersama', rasanya ya, kok mudah menimbulkan salah paham? Apalagi ini bukan sembarang apartemen. Apartemen ini disewa oleh Shizu-chan Heiwajima, musuh besarku sampai zaman paus bisa menyusui(?). Bahkan meski kini aku hidup disini bersamanya kami masih berstatus musuh. Entah apa yang ada di kepala Shizuo sampai dia mau 'menampung'ku disini.
Hari pertama aku mulai menumpang disini, aku pontang-panting mencari tahu apa yang terjadi pada diriku. Entah sejak kapan aku mulai bisa mengendalikan 'tenaga spiritual', kata Shizuo, sehingga memungkinkanku menyentuh berbagai benda; ponsel, laptop, dan yang lainnya meski masih terbatas. Aku juga mendesak Shizu-chan membeli koran supaya aku bisa mencari tahu. Tapi aku tidak bisa menemukan apa-apa. Nihil. Entah aku yang kurang gigih mencari atau keluargaku yang terlalu hebat menyembunyikan rahasia, aku tidak tahu.
Kalau dipikir-pikir sejak dulu keluargaku memang hebat menyembunyikan rahasia. Contoh paling jelasnya tentu saja aku (meski kadang aku lebih pantas disebut ngeles daripada pintar menyembunyikan rahasia). Seperti saat perceraian orangtuaku sekitar 7 tahun yang lalu. Aku dan adik-adikku baru mengetahuinya dua tahun kemudian. Mungkin sekarang juga begitu? Mungkin mereka menyembunyikan kematianku dengan cara yang sama…? Entahlah. Yang jelas, dari pertama kali aku memulai karir sebagai informan, baru kali ini aku merasa benar-benar kehilangan harapan.
Sebenarnya aku masih punya satu cara yang biasa kugunakan untuk mencari informasi; kerja lapangan. Tapi dengan keadaan tidak punya tubuh begini… Jangan-jangan aku keburu dikirim kealam sana oleh pengusir setan. Meski aku meragukan adanya kehidupan setelah mati, bukan berarti mustahil 'kan aku bakal 'hilang' sebelum mengetahui kebenarannya? Kalau begitu jadinya aku takkan bisa tenang di alam sana.
Aku tahu ketakutanku sedikit keluar karakter. Orihara Izaya tak pernah takut! Tapi entahlah. Aku tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Dan yang jelas aku tidak butuh bantuan! Aku tidak meminta bantuan pada siapapun!
Begitulah. Hari ini aku berhenti mencari tahu tentang diriku. Bukan, bukannya berhenti. Aku hanya istirahat sebentar. Otakku yang bahkan tidak ada bersamaku sekarang terasa capek setelah tiga hari tiga malam menatap layar laptop. Mengapa sulit sekali sih mencari tahu tentang kematianku sendiri? Di situs manapun hanya dijelaskan 'Orihara Izaya Mati!'. Tidak ada penjelasan lanjut yang mendetail. Karena itu aku memutuskan untuk berhenti sebentar. Namun imbasnya, hari ini aku jadi bosan setengah mati. Shizuo belum pulang kerja. Katanya dia pulang larut, jadi aku bakal sendirian sampai sekitar tengah malam. Tidak ada yang bisa kulakukan, serius. Nothing to do…
Aku tidak makan. Aku tidak punya tubuh untuk diisi nutrisi. Aku terkadang tidur, tapi itu hanya 'untuk memulihkan tenaga spiritual', kata Shizu (sejujurnya aku terkejut dia percaya hal semacam itu). Aku masih bisa menembus berbagai benda atau tembok meski aku sudah bisa mengendalikan 'tenaga arwah' (atau apalah namanya) hingga aku bisa menyentuh benda-benda. Aku bisa saja sih mengacak-acak apartemen Shizuo, tapi terakhir kali aku melakukannya dia marah buessaaarr sampai nyaris menghancurkan apartemennya sendiri. Sebesar apapun keinginanku untuk menjahili Shizzy, aku tidak berniat untuk hidup dijalanan juga.
"Tsk, bosaaaaan~" keluhku keras-keras sambil menguap, "Bosan, bosan, boosaaaaan~!"
Aku berpikir untuk mengunjungi seseorang. Tapi kalau dipikir-pikir sejauh ini hanya Shizuo yang bisa mendengar dan melihatku. Tetangganya yang kemarin berkunjung tidak bisa melihatku atau mendengarku. Begitu juga pengantar barang, Tanaka Tom si boss-nya Shizu, Kasuka (yang cuma mampir sebentar, tapi tidak bisa melihatku meski kupikir dia bisa mendengarku), Dotachin dkk, dan Shinra. Pfft, coreng ide mengunjungi orang lain. Aku tidak akan bisa mengunjungi, bahkan menjahili orang kalau mereka tidak bisa melihat atau mendengarku.
Tapi aku masih bosan. Akhirnya aku bangkit dan memutuskan untuk menjelajah apartemen Shizzy saja.
Aku menemukan beberapa buku. Kesemuanya terlihat lama dan berdebu, tapi setiap sampulnya dilapisi plastic, mungkin supaya tidak cepat rusak. Kesemuanya tidak terlalu menarik perhatianku, tapi aku hanya menaikkan bahu. Lebih baik daripada tidak ada apa-apa.
Kubawa buku-buku itu ke meja dekat sofa dan duduk memandang buku-buku itu. Novel 'Gone With The Wind' menatapku balik. Aku sudah pernah membaca novel ini. Heh, bahkan aku punya satu kopi di perpustakaan pribadiku. Menghela nafas, aku mengambil buku itu dan mulai membaca, dan menyelesaikannya tak sampai dua jam kemudian. Maklum, membaca cepat memang keahlianku. Setelah itu aku membaca buku lain dan menyelesaikannya. Dan buku lain, buku yang lain, dan buku yang lainnya… Sampai aku menyelesaikan semua buku dan jam masih menunjukkan pukul 3 sore. Oh astaga, aku masih bosaaaaan…
Aku menghela nafas lagi sambil menjatuhkan diri ke sofa. Suasana disini tenang… Terlalu tenang… Ikebukuro sudah tidak greget ketika aku tidak ada. Dan itu membosankan…
Suara OST anime membuyarkan lamunanku. Dengan sedikit ogah-ogahan kuraih ponselku dan melihatnya sekilas. Nomor tak dikenal. Mungkin dia calon klien yang belum tahu kalau aku sudah mati…? Aku menaikkan bahu dan menekan tombol answer.
"Halo?"
"Permisi, apa ini Orihara Izaya?" suara diseberang telepon menyahut. Suara perempuan muda.
"Yap. Anda siapa?" tanyaku balik, bersiap mengatakan pada orang yang mungkin adalah calon klienku ini bahwa aku sudah mati dan bahwa yang menjawab teleponnya sekarang adalah Nakura, sepupunya. Bagaimanapun niat itu terlempar jauh-jauh dari jendela dengan kata-kata selanjutnya yang diucapkan gadis di seberang.
"Siapa aku tidak penting, Orihara-san. Aku hanya akan menanyakan beberapa pertanyaan," kata gadis itu, "Dan yang pertama adalah; apa kau membutuhkan keajaiban?"
Author Note:
Chapter 5 selesai~ maaf saya lama gak update. Nungguin gak? #slap XD
Saya minta maaf chapter ini cuma sedikit. Sebenarnya ini cuma chapter persiapan untuk menyongsong chapter greget selanjutnya. Apa yang akan terjadi chapter selanjutnya? Mohon ditunggu jawabannya minggu depan 8D
Saya juga mau memberitahukan bahwa chapter depan bakal ada seorang OC. Tapi cuma figuran kok.
Anyway, gimana chapter ini menurut kalian?
