Fandom: Kuroko no Basket/Kuroko no Basuke

Jumlah kata: 1.555 kata

Genre: Humor/Parody/Romance/Ecchi(?) (no, just kidding LOL)

Warning: OOC. AU. Random, just random... and absurd. Bahasa semi-baku dan kasar. CRACK. Alay. Humor garing (I'm bad at humor orz). Kinda plotless. SUMPAH DEMI APAPUN INI PENUH DENGAN PEDOFILIA DAN KEAMBIGUAN.

Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. Cover © いその [Tumblr]. No profit made by this fanfiction.

.

.

.

Randoms


[2 — Om-om!Aomine x MuridSMP!Kise]

Kise Ryouta, 14 tahun, seorang pemuda kelas dua SMP, anak alim tapi model, catchphrase "Sharara Goes On!", kini sedang menaiki angkutan umum bernama angkot.

Penasaran kenapa di Jepang ada angkot? Tidak ada yang tahu. Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang.

Bagaimanapun juga, itu tidak irelevan dengan inti cerita ini. Sangat tidak irelevan.

Angkot itu tiba-tiba berhenti. Seorang om-om naik. Kise meneliti penampilan om-om itu. Sangat cetar membahana badai ulala, menurut salah satu selebriti inspirasional yang diam-diam dikagumi Kise. Untunglah Kise belum sampai tahap fanboying.

Om-om itu berambut dan bermata biru tua. Wajahnya menunjukkan kesongongan dan pedofilia dalam kadar tak tertolong. Tapi yang paling menarik perhatian Kise adalah pria (Kise rasa menyebutnya om-om terus dari tadi akan sangat tidak manusiawi) itu berkulit... redup, jika Kise ingin mengatakan dengan sopan, karena serius itu kulit terhitam yang pernah Kise lihat.

Jujur, sebenarnya Kise sudah gatal sekali ingin bertanya pada om-om—pria itu, sebenarnya ia hitam karena gen, terbakar matahari atau... dakian?

Tapi, tidak, Kise masih punya hati nurani agar tidak menyakiti perasaan pria yang kini duduk tepat di sampingnya. Lagipula pria itu tidak mengganggunya, 'kan? Tidak, dia hanya mendempet Kise dengan gaya memaksa, 'kan?

—Tunggu, apa?

OM-OM INI NGAPAIN SIH!?

Terang saja Kise panik. Please, Kise adalah seorang perawan! Percaya atau tidak, dia seorang perawan yang belum disentuh siapapun! Walaupun ia memiliki wajah tampan rupawan, rambut yang lebih lembut dari sutra (perawatan salon sebulan sekali), mata keemasan yang hangat menghanyutkan, hidung mancung, kulit putih susu tanpa cela (spa susu rutin bersama kedua kakak perempuannya), tubuh tinggi ideal atletis, paha mulus tanpa bulu (Kise rajin mencabuti bulunya sejak kecil), dan beberapa daftar lain yang sangat aduhai dan sangat... vulgar.

Intinya, Kise seorang perawan.

(Atau perjaka?)

Peduli amat, yang penting Kise amat sangat TIDAK suka dihimpit om-om (Kise menganggap akhirnya ia tidak perlu terlalu menghormati pria itu) mesum tadi.

"Dek, mau ke mana?" tanya pria itu. Kali ini digunakan kata pria karena narator masih seorang budiman yang kasihan melihat Aomine selalu dinistakan.

"Les, om," jawab Kise sekenanya. Ugh, dia sudah ilfil sekali.

"Oh, les ya? Les dimana?" tanya pria itu lagi.

Om kepo ya, adalah jawaban yang sangat ingin Kise lontarkan. Tapi tidak, Kise seorang anak yang sopan. Jadi ia memasang senyum dan menjawab, "Di bimbel xxx om."

Kise berharap pria itu berhenti bicara, setidaknya berhenti bicara bertanya padanya. Sayang harapan tinggal harapan.

"Adek ini SMP ya?"

"Iya, om."

Kali ini, sepertinya ketidaknyamanan Kise terbaca oleh pria itu. Tetapi ia menafsirkannya dengan salah.

"Ah, kita belum kenalan ya? Maaf, om keasyikan ngobrol. Nama om Aomine. Panggil aja om Mine atau apapun. Nama adek siapa?" tanya pria itu, Aomine.

"Kise, om," jawab Kise, lagi-lagi sekenanya saja. Ia tidak tertarik dengan nama pria di hadapannya ini, jujur saja.

"Oh, dek Kise, ya? Namanya bagus," kata Aomine lagi.

"Iya, makasih om," jawab Kise. Ia mengecek jam tangannya. Namanya angkot, kalau sepi penumpang pasti berhentinya lama sekali. Kise jadi hampir terlambat.

Aomine terlihat berpikir. Sepertinya ia serius ingin mengajak bicara Kise. Entah ia tidak mendapat kode Kise bahwa ia tidak ingin bicara dengan Aomine atau Aomine memang keras kepala. Mungkin malah keduanya. Lalu seakan mendapat pencerahan (serius, tidak ada maksud apapun saat menulis ini), ia menoleh ke arah Kise secepat kilat.

"Eh, dek Kise, tahu arah ke jalan Mangga Satu tidak?" tanya Aomine.

Kise juga menatap Aomine lagi. Ia tidak perlu berpikir untuk menjawab, tentu saja ia tahu. Tiap hari dia 'kan lewat jalan itu untuk pergi ke tempat lesnya. "Jadi nanti saat kita di perempatan kedua dari sini, om turun lalu belok kiri dua ratus meter. Nanti belok kanan di pertigaan pertama. Setelah itu lurus sampai ketemu gang buntu, belok kiri. Lalu belok kiri, belok kiri lagi, belok kanan, lalu blahblahblah—" Aomine sudah pusing sendiri mendengarnya, "Lalu di depan Indoapril cabang Mangga, belok kanan. Itu jalan Mangga Satu."

Kalau dipikir-pikir, jalan ke tempat les Kise membingungkan sekali.

"Oh, begitu ya, dek?" tanya Aomine.

Kise mengangguk. "Iya, om. Tapi hati-hati kalau di dekat Indoapril, banyak preman mes—om, tangannya..."

Baru Kise berbicara tentang mesum, sudah ada orang mesum memegang-megang pahanya.

"A-ah, hehe, maaf dek, kelepasan," kata Aomine sambil cengengesan. Alibi macam apa itu.

"Gak apa-apa kok, om," jawab Kise sambil berusaha beringsut menjauh dari Aomine. Sayang Aomine seperti tidak membiarkan. Ia juga menggeser diri sedekat mungkin dengan Kise.

"Oh, ya, dek Kise ini les di bimbel xxx ya? Bagaimana rasanya? Bagus kualitasnya?" tanya Aomine, semacam modus. Dasar ABG tua.

Karena situasi di sini sama seperti kisah sebelumnya, dimana Kise adalah duta promosi bimbelnya, maka ia—dengan semangat menggebu-gebu—mulai mempromosikan bimbelnya itu, "Iya, om! Tutornya asyik sekali, baik dan bisa diajak curhat. Program-programnya bermutu dan sangat bermanfaat. Fasilitasnya lengkap dan lebih dari memadai. Banyak diskon dan jaminan bagi anak berprestasi. Tempatnya juga strategis. Pokoknya bimbel xxx yang terbaik deh!"

Please, Kise, kau bohong besar soal tempat strategis. Dari mananya strategis kalau penjelasannya saja menghabiskan lebih dari enam puluh kata?

ANYING, LU SHOTA TAPI GANTENG AMAT SIH KIS!

Aomine menatap Kise dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ia tampak tak mendengarkan perkataan Kise sama sekali. Malah, sebenarnya, ia hanya memperhatikan wajah Kise sejak tadi. Kise sudah mengembangkan jurus yang disebut "Sharara MoeDere Punch!" yaitu gabungan penampilan moe dan sifat dere-dere yang ia miliki untuk menggaet target promosinya. Dan Aomine, seperti lalat yang termakan perangkap bunga kantung semar, sudah jatuh oleh keimutan Kise. Hanya saja, di sini lalatnya tidak akan dimakan kantung semar. Justru si kantung semar yang dalam bahaya. Alias Kise dalam bahaya dari belenggu Aomine si pedo.

Karena sebenarnya sejak tadi Aomine sedang memikirkan skenario dirinya dengan Kise yang berlari-larian di taman bunga dengan lagu latar mendayu-dayu khas film India, yang berakhir dengan adegan yang... karena beberapa alasan tidak dapat dijelaskan di sini.

"Om? Om Mine?" tanya Kise. Ia melambai-lambaikan tangan di depan wajah Aomine. Dan, shit, Kise! Jangan buat wajah polos seperti itu! Apa kau tidak sadar bahaya yang mengintaimu?

"Ah, apa? Oh, ya, terima kasih atas informasinya, dek. Kebetulan tetangga om ada yang sedang cari bimbel."

Alibi yang sangat payah, Aomine.

"O-oh..."

Hening sejenak, sebelum Aomine menyeringai (yang segera ia sembunyikan lagi agar Kise tidak melihatnya) dan berkata, "Oh ya, dek, bisa antarkan om ke jalan Mangga Satu itu tidak? Masalahnya om tidak hafal daerah sini. Om takut nyasar."

Kise, yang mood-nya sudah sangat membaik karena promosi itu, kini kembali menyimpan kecurigaan. Apalagi ibu, ayah, kakek, nenek, om, tante, kakak, bahkan sepupunya—Akashi—yang terkenal cuek dan berdarah dingin itu sudah memperingatkannya agar tidak bicara dengan orang asing. Mereka tahu sekali Kise itu terlalu 'mengundang' niatan jahat orang-orang tidak bertanggung jawab. "E-eh, bagaimana ya, om. Saya takut telat lesnya, sih," Kise beralasan.

"Nanti om ajarin kamu deh," elak Aomine. Pantang menyerah sekali dia.

"Tapi 'kan susah banget om, materinya," kata Kise lagi.

"Om ajarin apaaaaa aja. Mau? Coba kamu sebutin mau apa?" tawar Aomine lagi.

"Kalau basket bisa, om?" tanya Kise lagi.

"Bisa dong. Itu sih keahlian om. Yang bisa mengalahkanku hanya aku sendiri," sahut Aomine dengan songongnya.

Dan tiba-tiba mata Kise berkilau seperti puppy yang baru bertemu majikannya. Ekor imajiner mengibas di belakangnya. "AH! Om ini om Aomine Daiki, mantan pemain Teikou yang legendaris itu!?" serunya bersemangat, hampir histeris.

"Kok tahu dek?" tanya Aomine, berharap digombalin. Err, tapi tidak juga.

"Aku 'kan anak basket SMP Teikou, om! Om terkenal sekali! Waaaah, aku ngefans banget sama om!" jawab Kise bersemangat.

Ngomong-ngomong, sekarang sudah pakai 'aku' nih, Kise?

"Aduh, om tersanjung. Jadi, gimana? Mau om ajari 'privat'?" tanya Aomine. Kise sepertinya tidak menyadari ambigunya nada di kata 'privat'.

"Mau, om!" seru Kise tanpa tedeng aling-aling lagi. Ia memang bisa menjadi sangat polos (dan bodoh) jika berhadapan dengan basket.

"Oke, kita turun di sini, ya," kata Aomine. Kise mengangguk. Aomine berseru pada si supir, "Kiri!"

"Di sini, bang?" tanya si supir.

"Bukan, di Ujung Kulon!" seru Aomine kesal.

"Oh, oke, tancep!" kata si supir.

"Ettttt, mau ke mana, pir?" tanya Aomine melihat angkot akan berjalan lagi.

"Lah, katanya mau ke Ujung Kulon, bang?" tanya si supir angkot bingung.

Aomine hanya bisa facepalm. Supir angkot ini adalah supir paling bego yang pernah Aomine tahu. Dalam hati ia berpikir jangan naik angkot ini lagi.

"Bercanda, elah, pir! Udah, gue turun sini, sama anak ini ya. Dia masih SMP, dihitungnya seribu gopek lho, ya!" sembur Aomine. Dan, ngomong-ngomong, Aomine perhitungan sekali. Hemat dan pelit itu beda tipis.

"Iye, iye, bang."

Aomine dan Kise turun lalu berjalan. Mereka terlihat bercanda, tertawa, tanpa sadar bahwa sebenarnya pikiran mesum Aomine sudah berjalan.

"Eh, om Mine? Jalan ke Mangga Satu bukan lewat semak-semak gini, lho, om."

"Oh, kita ke rumah om aja langsung, dek Kise."

Itulah saat terakhir orang melihat Kise Ryouta.

.

.

.

HEADLINE NEWS!

KISE RYOUTA SANG MODEL DIKABARKAN HILANG!

Sabtu (20/6), model remaja Kise Ryouta (14) dilaporkan hilang. Orangtunya yang melaporkan kepada kepolisian mencurigai bahwa Kise Ryouta diculik, mengingat Kise Ryouta memiliki wajah rupawan dan tubuh aduhai (hei, bukankah ini tidak etis ditulis dalam berita?). Kise Ryouta sedang menuju tempat lesnya saat insiden ini terjadi. Menurut saksi mata, ia terakhir terlihat di angkot bersama seorang pria berkulit redup, tapi bukan hitam. Bagi yang melihat, tolong hubungi kepolisian. (Sumanto, 23/6)

.

.

.

"Hiks, hiks... Om Mine, kapan aku boleh pulang, hiks..."

"Ki—Ryouta... Muka nangis kamu..."

"E-eh, om? Om ngapain? Om? Rantai itu buat apa om?"

"Tenang, Ryouta. Aku akan bersikap lembut setelah tadi malam."

"O-om? Om ngapain? Om!? Ja-jangan! Jang—A-AAAKH! A-aaah, aaahn..."


End.


A/N:

Pertama, HAPPY AOKI DAY! Semoga OTP kita ini, AoKi, bakal punya ending yang kawaii pyua-pyua gimana~ gitu, seperti mereka pas jaman-jaman Teikou! Uhuktapitetepangstdulusihperjalanannyasepertikitay angparamasokissukauhuk.

Yep, dan saya juga sengaja update tanggal segini biar pas event-nya! Walaupun rentangnya ada sebulan dari chapter satu, hehe... /dibalang

OH YES! Paragraf ini khusus menyebutkan credits fic ini. Pertama, hadiah jadiannya kak pilong, wkwkwk! /iniapa Tanggal dua sembilan Maret, guys! Mintain PJ ayoooo~ Just kidding kak pilong, peace~ Buat kak shi dan kak kea yang menggila di Twitter pas malming itu sama saya, makasih yaaaa! Gimana, udah ketemu gimana caranya Kimuryo bikin suara-suara itu? /udahcoba Makasih juga buat Aiko, seperti biasa, temen collab saya tercinta. Dan Aya-nee, makasih atas saran film Barat yang hom—uhuk, bukan apa-apa. Dan sekali lagi kak pilong yang akhir-akhir ini fangirling Spirk terus. Hidup threesome Domba/Babi/Sapi! Masih penasaran nih siapa sapinya.

Sudah menyerah membaca paragraf di atas? Saya juga menyerah menulisnya. Terakhir, saya ingin berterima kasih pada semuanya yang sudah membaca chapter dua ini, kalian luar biasa~ /nari utapri/ /didemo

Terakhiiir sekali... Still Wish You All a Very Merry Happy AoKi Day~