Fandom: Kuroko no Basket/Kuroko no Basuke
Author: Shana Nakazawa
Jumlah kata: 3.585 kata
Chapter: 3/?
Genre: Romance/Humor/Parody/Friendship/Suspense/Ecchi (?) (no, just kidding LOL)
Warning: OOC. Alternate Reality. Random, just random … and absurd. CRACK. Alay. Bahasa gaul untuk dialog. Humor garing (I'm bad at humor orz). Kinda plotless. Kise nista. Terinspirasi dari Overly Attached Girlfriend.
Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi. If I was Your Girlfriend © Liana (Overly Attached Girlfriend). Cover © shyshy [Pixiv ID: 38193388]. No profit made by this fanfiction.
.
.
.
Randoms
[3 — Overly Attached Uke]
Aomine terbangun atas sinar matahari yang menerpa wajahnya. Matanya yang kelam mengerjap beberapa kali hingga pandangannya tidak buram lagi. Hal pertama yang dilihatnya adalah tirai yang sudah tersibak lebar dan ibunya dengan kemoceng di tangan, bandana putih tersemat cantik di rambutnya. Sudah jelas bahwa nyonya Aomine, sebagai ibu rumah tangga yang baik, telah bersiap membereskan rumah dan membangunkan putra tunggalnya yang malas.
"Oh, Daiki, udah bangun toh," ujar wanita berambut biru itu. Ia sepertinya senang tidak harus menghabiskan banyak waktu untuk berteriak-teriak menghabiskan tenaga hanya untuk membangunkan anaknya.
Aomine menguap lebar sebelum menggerutu, "Aku 'kan gak semalas itu, Bu."
Ibunya tidak segan tertawa atas kalimat itu. "Pfft! Kamu ngelindur, Daiki? Ngebangunin monyet aja lebih gampang daripada ngebangunin kamu!"
"Ibu!" Aomine menggeram sebal.
Akhirnya wanita itu berhenti tertawa, walau di wajahnya masih ada senyum yang terlalu lebar bagi preferensi Aomine. "Baiklah, baiklah. Udah, cepetan mandi sana. Biar ini hari Minggu, gak baik males-malesan, nanti rejeki dipatok ayam," ujarnya.
Aomine masih sedikit menggerutu walaupun akhirnya bangkit dan berjalan menuju pintu, ingin mandi di lantai bawah.
"Oh ya, Daiki," panggil ibunya saat Aomine akan meninggalkan ruangan. Pemuda itu menoleh tanpa suara. Ibunya tersenyum. "Selamat ulang tahun."
Aomine sedikit tersentak. Ia hampir lupa hari ini tanggal 31 Agustus. Pikirannya melayang pada tadi malam.
"Apa Ibu yang pertama ngucapin?" tanya wanita itu lagi.
Aomine mengedikkan kepalanya sedikit sambil tersenyum. "Ya nggaklah, Bu," katanya, dan ia berlalu.
Ibunya tersenyum. "Kalah lagi dari pacarnya, ya."
Aomine kembali mengecek ponselnya setelah sarapan, memastikan bahwa tadi malam bukan mimpi. Senyumnya diam-diam mengembang setelah layar ponselnya menunjukkan pesan dari kekasihnya tadi malam.
Sunday, August 31 20xx. 00:00 a.m.
From: kiseryo xxx
To: ace_aomine xxx
Subject: Selamat ulang tahun, Aominecchi! \(*^ v ^*)/
Selamat ulang tahun, Aominecchi! Hehe, maaf ya membangunkanmu tengah malam begini. Aku hanya ingin jadi yang pertama mengucapkan selamat untukmu. Bagaimana rasanya sudah hidup tujuh belas tahun? Tidak terasa sudah empat tahun kita bertemu, sudah delapan bulan juga kita bersama. Aku selalu berharap segala yang terbaik bagimu.
Oh ya, nanti aku punya hadiah lain untuk Aominecchi. Aku yakin ini akan sangat mengejutkanmu! Selamat tidur, Aominecchi. Aku mencintaimu.
"Daiki, Ibu dan Ayah pergi dulu, ya. Kami akan pergi ke bioskop, mungkin sampai larut. Kamu jaga rumah. Hati-hati, ya, sayang."
"Oke, Bu. Bersenang-senanglah sama Ayah."
Aomine menguap malas. Sudah jam sebelas dan Kise belum juga memberikan hadiahnya. Ponselnya sudah banyak bergetar tadi pagi oleh kiriman ucapan selamat dari teman-temannya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar sekali lagi. Ia membukanya dengan agak tidak sabar. Lega dan kesal bercampur saat ia melihat pengirim pesan; kekasihnya, Kise Ryouta.
Setelah selesai membaca, alis Aomine terangkat satu. Kise tidak menggunakan kata-kata puitis bak pujangga, tetapi Aomine tidak mengerti. Kise menyuruhnya membuka e-mail dari laptop. Akan tetapi, Aomine yang tidak menaruh kecurigaan apapun pada sang pemuda pirang akhirnya menurut.
You've got mail!
Tulisan itu menyambut Aomine saat ia mengakses akunnya. Ia membuka pesan terakhir yang belum ia baca. Kise mengaitkan sebuah video. E-mail-nya sendiri hanya berisi perintah membuka video itu, ditambah dengan emotikon super ceria yang biasa Kise gunakan, yang Aomine anggap menjijikkan.
Tanpa kecurigaan, Aomine membuka video itu. Lalu hari penuh terornya dimulai.
Aomine hampir jatuh terjungkal dari kursinya hanya di detik pertama. Ada Kise yang sedang melotot sambil tersenyum lebar—benar-benar lebar, hingga hampir tidak normal. Ia terus melotot dan tersenyum seperti psikopat selama sepuluh detik penuh. Aomine sempat mengira videonya rusak.
"Hai, Aominecchi!"
Aomine merinding dengan sapaan itu. Senyum Kise melebar—ya Tuhan, seakan senyum itu bisa lebih lebar lagi!
"Aominecchi, selamat ulang tahun! Khusus untuk sweet seventeen-mu, aku membuatkan lagu. Dengarkan, ya~"
Aomine tahu bahwa Kise sangat suka mengerjainya jika ada kesempatan, balasan atas keusilan Aomine padanya yang tiada batas. Karena itu, ia memutuskan untuk tetap menonton video itu. Hal apa yang bisa ada di video itu sampai bisa menakutinya?
Aomine akan sadar ia salah, sangat salah.
"Jika aku pacarmu, aku akan selalu mengikutimu
Bukan cemburu, sayang, hanya mengawasimu
Lihat semua pesanmu, melihat apapun yang kau lakukan
Semua tentangmu, tentangmu, tentangmu!
Tanya semua tentang masa lalumu, dan menguntit Facebook-mu
Aku tak peduli mereka, aku hanya peduli kita.
Jadi katakan hai padaku, pacarmu, yeah!"
Aomine ternganga. I-itu benar Kise? Kise Ryouta, kekasihnya, yang tampan dan model itu? Serius!? Sejak kapan dia jadi overprotektif, psikosis begitu!?
"Aku akan selalu mengecekmu
Hai sayang, kau bicara dengan siapa? (Kise tersenyum seperti psikopat yang membuat Aomine hampir pingsan.)
Jika aku pacarmu, aku takkan membiarkanmu pergi
Tanpa alat penyadap di bajumu
Dan kau akan selalu terlihat baik, hanya untukku
Jangan sembunyikan apapun di rumahmu karena, sayang, … aku mencuri kuncimu! (Tawa Kise membuat Aomine lemas.)
Jangan lihat orang lain, sayang
Akulah yang terbaik bagimu
Kau akan bersamaku, aku pastikan itu, aku akan marah jika kau tidak
Aku akan jadi pacar sejatimu, aku akan jadi pacar sejatimu
Aku akan jadi pacar sejatimu, AKULAH PACAR SEJATIMU!"
Kise masih menyanyi, tapi Aomine tidak lagi berkonsentrasi. Ia tidak tahu jika kekasihnya yang manis dan ceria itu ternyata seorang psikopat penguntit! Tidak, yandere lebih tepatnya! Dari mana Kise mendapat DNA itu? Akashi!? Pasti Akashi! Jangan-jangan Kise dan Akashi adalah kembar yang terpisah!? Tidak, tidak, mereka tidak mirip, tidak mungkin rasanya.
Jangan-jangan Akashi mati tertabrak shinkansen, dan arwahnya menggentayangi Aomine karena dendam, lalu memasuki tubuh Kise dan membuat Kise jadi yandere agar Aomine menderita!? Sial, Aomine memang belum mengembalikan gunting yang waktu itu ia curi dari Akashi!
Walaupun jika Aomine berpikir ulang, tentu saja itu tidak mungkin. Otak seorang Ahomine Daiki memang terlalu bebal.
"Ehem. Jadi, bagaimana lagunya, Aominecchi?"
Nada Kise yang ceria membuat Aomine memberanikan diri melihat layar laptopnya. Ia merinding lagi.
"Nah, Aominecchi, sekarang coba lihat ke belakang~"
Aomine menelan ludah gugup dan menoleh perlahan-lahan ke belakang.
"Hai, Aominecchi!" sapa Kise dengan senyum yang lebar—terlalu lebar, seperti psikopat. Aomine menatapnya horor—apa itu pisau di tangannya!?
"H-hai, Kise. G-gimana kamu bisa masuk?" tanya Aomine.
"Eeeh? Aominecchi gak dengerin laguku, ya? Aku 'kan udah nyuri kunci rumahmu~" serunya dengan nada merajuk kekanak-kanakan. Jika situasinya tidak seabnormal ini, Aomine mungkin akan menganggapnya menggemaskan.
Kise mendekati Aomine dan mengangkat pisau yang tadi ia bawa. Ia menjilat mata pisau dengan tatapan menggoda. Aomine menelan ludah lagi. Bahkan dalam keadaan seperti psikopat, Kise masih mampu membuat libido Aomine berdesir.
Kise berjalan menuju kursi Aomine dan memutarnya hingga mereka benar-benar berhadapan. Ia menyandarkan kaki kanannya pada paha Aomine dan kaki kiri sebagai tumpuan di lantai dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Aomine. Ia menargetkan telinga Aomine dan berbisik, "Aominecchi~"
Tanpa Aomine sadari—bagaimana mungkin bisa sadar, dari tadi ia meraba-raba bokong Kise yang aduhai menggoda iman. Oh, Aomine bisa meremasnya seharian. Perasaan yang lembut dan melayang ini … Aomine sudah tidak tahan lagi.
"Eh?"
Aomine tiba-tiba menyadari bahwa tangannya terkunci. Ia tidak sadar bahwa Kise tadi dengan cepat memborgol pergelangan tangannya.
"Aominecchi nakal! Dan anak nakal harus diberi hukuman~" goda Kise sambil mengedipkan matanya.
Kise meloloskan diri dari pelukan Aomine dan mengancam dengan mengacungkan pisaunya, "Aominecchi jangan berani-berani kabur, ya."
Kise mengeluskan mata pisau itu ke wajah Aomine, membuat jiwa pria itu hampir terbang keluar.
AKASHI GUE MINTA MAAF ATAS SEGALA KESALAHAN GUE KE LO ASAL LO BALIKIN KISE GUE TERCHAYANK! PLIS AKASHI, TUHAN, JASHIN-SAMA, SIAPAPUN TOLONG GUE, batin Aomine sambil menangis.
"Ada apa, Aominecchi?" tanya Kise sambil menoleh. Ia tampak sibuk dengan tasnya. Aomine baru sadar ia membawa tas yang cukup besar. "Jangan gerak-gerak, Aominecchi."
"G-GYAAA! KISE, APA-APAAN!?" seru Aomine melihat Kise mengambil kapak besar dari tasnya, seperti punya gadis yandere berambut merah muda dari anime sebelah.
"Ini? Ini jelas kapak sih, Aominecchi." Kise menatap kapaknya dengan polos dan menatap Aomine seakan dia anak SMA yang bertanya berapa satu tambah satu.
"Iya gue tau itu kapak tapi kenapa lo bawa-bawa kapak ke rumah gue!?" seru Aomine lagi. Ia makin yakin bahwa ia akan keluar dari rumah dengan keadaan seperti daging cincang.
Kise menatap Aomine polos dan dengan kepala sedikit terteleng ke samping. Aomine menatapnya bingung karena Kise tiba-tiba berhenti. Lalu tiba-tiba Kise mengayunkan kapak itu ke kepala Aomine. Aomine dengan cepat menghindar. Wajahnya menjadi pucat pasi.
"KISE! NGAPAIN LO!?" seru Aomine. Jantungnya sudah dag-dig-dug tak keruan. Keringat dingin mengalir di wajahnya dengan deras bagai air terjun.
"Tadi ada lalat," jawab Kise polos, membuat Aomine berharap nyawanya dicabut saat itu juga.
Kise terus melakukan penyiksaan demi penyiksaan. Untung tubuh Aomine masih utuh tanpa luka. Tadi Aomine mengintip tas Kise, dan ternyata isinya tidak kalah dengan isi tas gadis yandere anime sebelah. Pisau dapur, pisau roti, pisau daging, pisau sayur, pisau nasi, pisau bubur, segala jenis pisau ada di sana. Belum lagi kapak, gergaji, jarum suntik, lalu botol berisi pil-pil mencurigakan. Aomine ingin menangis rasanya.
"Aominecchi, aku mau ke toilet dulu, ya. Jangan nakal dan diem di situ, oke~?" tanya Kise. Ia pergi ke belakang.
Aomine menatap ponsel Kise di atas meja. Ini kesempatannya. Ia menelepon nomor darurat dan tersambung. Ia tidak bisa membayangkan betapa leganya ia saat itu.
"Dengan layanan nomor darurat 110, ada yang bisa saya bantu?" tanya suara di seberang.
"Ya! Ada pacar gue yang berubah jadi psycho gila di rumah gue! Cepet kirim polisi atau FBI atau Recon Corps atau apapun itu, pokoknya selametin gue! Alamatnya di Distrik Usagikawa nomor lima belas!" seru Aomine dengan cepat. Ia khawatir Kise akan kembali dan menangkap basah ia sedang menelepon bala bantuan.
Sebenarnya operator 110 di seberang tidak yakin dengan laporan yang baru ia terima—percayalah, masih ada saja orang-orang kurang kerjaan yang suka iseng melaporkan kejadian kriminal palsu. Laporan Aomine juga kurang meyakinkan. Sang operator sampai berpikir jangan-jangan anak yang menelepon ini terlalu banyak menonton anime yang booming baru-baru ini karena menyebut-nyebut nama organisasi fiktif pembantai raksasa.
"Sial, pacar gue dateng! Oi, cepet kirim bantuan, sialan!"
Lalu sambungan diputus. Operator itu hanya mendesah dan mengangkat telepon, berniat menghubungi kantor polisi terdekat dari Distrik Usagikawa. Setelah berbicara beberapa menit, polisi itu setuju untuk menyelidiki.
Samar-samar, sebelum memutus sambungan telepon, sang operator dapat mendengar suara, "—nang, Bos, rencana siap dilaksanakan."
"Aominecchi~ Aku kembali~"
Aomine menoleh horor. Ia masih terborgol. Ia tidak cukup bodoh untuk kabur, karena dapat dijamin kapak, pisau dan teman-temannya akan menghujaninya.
"Ada apa, Aominecchi? Kok keringetan gitu? Kepanasan ya?" tanya Kise dengan senyum iblis-berkedok-malaikat miliknya.
"Ng-nggak apa-apa kok, Kise sayang," jawab Aomine.
"Kyaaaa! Aominecchi manggil aku sayang! Aku seneng banget~" seru Kise sambil menari-nari bahagia, membuat Aomine ngeri. Bagaimana tidak, Kise menari-nari dengan pisau dapur di tangan, siap menusuk apapun dan siapapun.
Tiba-tiba terdengar huru-hara di luar. Kise menoleh curiga. Aomine sebisa mungkin tidak ingin terlihat menghela napas lega. Akhirnya polisi datang!
Pintu menjeblak terbuka saat dua orang polisi berpakaian lengkap masuk dan menodongkan pistol mereka.
"Ini polisi! Jangan bergerak! Berlutut! Taruh semua senjata di lantai dan taruh tangan di atas kepala!" perintah polisi yang lebih tinggi.
"Cih!" desis Kise saat ia dipaksa berlutut. Polisi yang lebih pendek datang untuk memborgolnya. Tetapi kedua polisi itu tidak tahu bahwa Kise yang dalam mode psikopat bagaikan ular; licin dan licik.
Kise menusuk perut polisi itu dengan pisau lipat yang ia sembunyikan di balik lengan bajunya. Polisi itu roboh dengan darah menggenang. Polisi yang satu lagi menoleh dengan kaget, tetapi terlambat. Kise segera mengambil pistol polisi yang sudah roboh dan menembak dada polisi tadi. Akhirnya polisi kedua roboh juga dengan berdarah-darah.
Aomine menatap Kise dengan ketakutan. Ia mengakui Kise tampak mengesankan dan, err … seduktif, hanya saja itu bukan waktunya memikirkan itu.
"Aominecchi, kenapa polisi bisa tahu?" tanya Kise dengan nada kecewa. Wajahnya tampak terluka oleh pengkhianatan Aomine. Mau tak mau Aomine merasa bersalah, walaupun ia melakukan itu demi keselamatannya.
"Aominecchi, aku gak mau bunuh siapa-siapa. Aku cuma mau sama Aominecchi. Kenapa Aominecchi berkhianat? Aominecchi gak cinta ya sama aku?" tanya Kise. Air mata tampak menggenang di kedua bola mata keemasannya.
"Bukan gitu, Kise! Ini—"
"Terus gimana, Aominecchi!?"
Aomine diam. Kise menatapnya lekat. Aomine terserap dalam manik emas itu. Begitu indah, begitu rapuh, begitu … terluka. Aomine tidak ingin melihat ekspresi itu. Bagaimanapun juga, Kise adalah kekasihnya, dan Aomine telah berjanji bahwa ia akan menerimanya bagaimanapun keadaannya.
"Maaf, Kise." Hanya itu yang dapat dikatakan Aomine. Bola mata Kise melebar sebelum kembali seperti normal. Ia tersenyum pedih.
"Aku ngerti kok, Aominecchi," jawabnya, "maaf udah egois, ya."
Kise memeluk Aomine, membuat pemuda berambut biru itu tampak terkejut. Kise melepas borgol Aomine. Pemuda berambut pirang itu menenggelamkan kepalanya dalam kehangatan dada Aomine dan menangis di sana. Aomine menyentuh kepala Kise dengan ragu-ragu, tetapi Kise tak bereaksi, sehingga ia lebih yakin mengelus-elusnya.
"Maaf, Aominecchi. Aku mencintaimu …," bisik Kise. Aomine membelalak dan menatap tangan kanan Kise yang mengayunkan pisau. Aomine memejamkan mata menerima kematian.
Ah, mungkin mati dibunuh Kise tidaklah buruk.
Akan tetapi walau Aomine telah siap mati dan berpikiran seperti itu, rasa sakit tak pernah datang. Setelah keheningan menyiksa selama beberapa puluh detik, Aomine memberanikan diri membuka mata. Pemandangan yang disaksikannya membuatnya tercekat.
"K-Kise!"
Tenggorokan Aomine terasa kering. Ia merasa dingin, seakan darah meninggalkan tubuhnya. Di sana Kise terbaring tak bergerak dengan pisau menancap di perutnya. Lalu kesadaran menghantam Aomine bagai serbuan bola basket.
Kise bunuh diri.
"Kise, jangan bercanda! Oi, Kise! Kise!" seru Aomine panik. Ia mencabut pisau itu dan menekan luka Kise kuat-kuat, berusaha menahan darah yang mengalir deras bagai air bah. Sayang semuanya sia-sia. Aomine berdecak putus asa. "Sial! Kise, bertahanlah! Bantuan segera datang, aku janji!"
Akan tetapi setelah tiga menit—yang terasa bagaikan tiga abad—berusaha tanpa hasil, Aomine sadar bahwa itu tak ada gunanya. Kise sudah tiada. Tidak ada napas, tidak ada detak jantung, tidak ada kehidupan.
"Kise … maaf …," lirih Aomine sambil menangis. Ia menopang kepala Kise dengan salah satu tangannya dan memegangi tangan Kise dengan tangannya yang lain. Aomine mencium lembut bibir Kise yang masih lembab. Rasanya masih sama; hangat, basah, dan manis. Sayang ini untuk terakhir kalinya, pikir Aomine.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, lampu mati. Aomine bingung dan panik. Tetapi ia tak sedetikpun meninggalkan sisi Kise, melepaskan genggamannya saja tidak. Ia hanya diam, berharap semuanya akan berakhir sebelum ia menyadarinya.
Hei, kau tahu, Aomine? Mungkin Dewi Fortuna memang sedang berpihak padamu.
"Selamat ulang tahun!"
"Eh?"
Lampu kembali menyala. Aomine melongo. Keluarganya dan teman-temannya dari Kiseki no Sedai termasuk Momoi datang sambil membawa kue ulang tahun berukuran besar.
"I-ini apa …?" Aomine tidak sanggup berkata-kata.
Momoi cengar-cengir dan berkata, "Kaget, ya, Dai-chan?"
Perlahan-lahan Aomine mulai terbebas dari syok dan mengerti apa yang terjadi. Ia lalu menatap ke arah Kise. Pemuda itu membuka mata dan mengedipkan matanya. "Hai, Aominecchi."
Kise bangun dan duduk. Aomine langsung sadar bahwa Kise hanya pura-pura mati—tapi aktingnya terasa riil sekali—dan ia bingung harus marah atau tertawa. "Kiseeee!"
"Ahahaha, maaf, Aominecchi, aku cuma bercanda, kok. Tapi keliatan kayak beneran banget, 'kan? Iya dong, siapa dulu yang punya rencana!" pamernya. Melihat Kise berbangga hati telah berhasil mengerjainya, Aomine jadi kesal sendiri.
"Duh! Jantungan, tau gak!? Untung gue gak mati beneran!" seru Aomine kesal.
Dengan Aomine mengomel panjang lebar, yang ada di ruangan itu hanya bisa berdesis menahan tawa. Kise menenangkan Aomine dan tersenyum minta maaf, hingga pemuda berkulit tan itu mampu menenangkan diri dan diam.
"Jadi … jelasin semuanya. Sekarang," perintah Aomine dengan nada yang berusaha kalem.
Kise kembali tersenyum geli. "Jadi aku udah ngerencanain pengen bikin kejutan buat ultah Aominecchi. Karena terinspirasi sama video dari internet judulnya Overly Attached Girlfriend tentang cewek psycho yang nge-stalk cowok yang dia suka. Aku bikin video kayak gitu juga, aku ubah dikit liriknya, terus aku latihan jadi yandere dengan nyontoh 'seseorang'—" Aomine diam-diam melirik Akashi, "—dan latihan pura-pura mati dari anak buah Vongola Decimo kenalanku—" Aomine berpikir Kise benar-benar salah pergaulan, "—lalu aku menyewa polisi untuk pura-pura mati. Makasih, Matsuda-san, Tomoya-san. Terus aku siapin darah palsu, ngasih tau rencana ini ke temen-temen dan keluarga Aominecchi, dan taraaa! Aominecchi bener-bener ketipu!"
Aomine hampir ternganga mendengar pengakuan Kise. Ia tidak tahu kekasihnya itu segenius itu. Tetapi yang paling membuat Aomine terkesan adalah segala kerepotan yang mau Kise lalui dengan susah payah demi memberikan kejutan ulang tahun yang berkesan baginya.
Akhirnya Aomine memutuskan untuk tidak jadi marah-marah dan malah memeluk Kise erat. Kise awalnya terkejut, tapi Aomine membisikkan kata-kata yang membuatnya ingin menangis sekaligus tertawa.
"Kalau begini, aku juga rela membunuh demi bersama kamu, Kise."
"Ehem," Akashi berdeham sebelum Aomine melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, "Daiki, lebih baik kamu cepat ke sini dan tiup lilinnya, sebelum … Kise kenapa-napa."
Baik Kise dan Aomine merona (ada orang tua Aomine di situ!) dan mereka bergegas mendekati kue yang dipegangi Momoi.
Aomine memejamkan mata dan mengajukan permohonan sebelum meniup lilin. Beberapa tamu yang hiperaktif bak cacing kepanasan—Momoi, Kise, Murasakibara (hanya karena ia akan memakan kue) dan Takao bertepuk tangah riuh. Orang tua Aomine hanya dapat geleng-geleng kepala karena geli.
"Nah, ayo makan kuenya~" seru Murasakibara yang sudah berbinar-binar.
"Atsushi, jangan rakus. Ingat kalau kita harus berbagi," peringat Akashi.
"Maaf, Aka-chin," jawab Murasakibara. Ia masih tetap penurut terhadap Akashi. Himuro cukup terkesan bahwa ada yang bisa mengendalikan Murasakibara seperti itu.
Akhirnya sampailah pada acara potong kue. Aomine memotong kue dan meletakkannya pada piring porselen yang disediakan.
"Potongan pertama untuk Ibu, soalnya Ibu yang selalu repot karenaku. M-makasih, Bu," ujar Aomine dengan pipi memerah. Ia rupanya tipikal remaja yang malu-malu saat menyatakan kasih sayangnya terhadap ibunya. Ibu Aomine tersenyum terharu dan menerima potongan pertama kue cokelat itu.
"Kedua untuk Ayah. Makasih atas kerja kerasnya, Yah," kata Aomine. Ayahnya menerima potongan kedua dengan senang hati dan mengacak rambut anak semata wayangnya dengan sayang.
Kise tersenyum lebar. Kekasihnya sangat mulia. Ia mengutamakan kedua orang tuanya di atas segalanya. Kise sangat terharu. Nah, sekarang potongan untukku!—Kise pikir dengan bahagia.
"Selanjutnya, untuk … Akashi."
Kise mengernyit. Mengapa Aomine mendahulukan Akashi atas dirinya? Oh, batin Kise, mungkin karena Aomine tidak ingin kena gunting mantan kaptennya itu.
Kise pikir potongan selanjutnya untuknya, tetapi ternyata bukan.
"Ini untuk Satsuki. Jangan suka ngerepotin gue lagi, mak lampir."
"A-APA!? Dai-chan sembarangan!" jerit Momoi tidak terima. Tapi ia akhirnya menerima kue itu, walau sambil bersungut-sungut, karena tahu Aomine hanya bersikap tsundere.
"Lalu selanjutnya Tetsu," kata Aomine.
Kise menahan amarah. Oke, mungkin Momoi dipilih karena dia teman masa kecil Aomine yang selalu bersamanya, dan Kuroko karena ia adalah mantan bayangan berharga Aomine di SMP dulu.
Kise terus berusaha berpikir positif, tapi makin lama ia makin dongkol. Namanya tak juga disebut. Bahkan setelah Imayoshi, yang jelas-jelas tidak disukai Aomine, ataupun Himuro yang bahkan hampir tak pernah bicara dengan Aomine. Bahkan kedua polisi yang Kise sewa mendapatkan bagian sebelum dirinya!
"Dan terakhir, yang spesial … untukku!" seru Aomine. Ia menggigit kue cokelat itu dalam ukuran besar dan mengunyahnya.
Kise merengut. Apa Aomine lupa siapa pacarnya sekarang? Apa Aomine marah karena kelakarnya kelewatan?
"Kise, lihat sini," perintah Aomine dengan nada yang dimainkan. Kise mendongak untuk bertanya ada apa saat bibirnya disapu benda asing yang basah dan terasa … menyenangkan.
Aomine menciumnya! Ternyata potongan spesial itu juga dimaksudkan untuknya. Aomine mendorong sebagian kue yang ada di dalam mulutnya ke dalam mulut Kise. Lidah Aomine sempat bermain sedikit di dalam mulut Kise, yang tiap teritorinya telah ia hafal bagaikan telapak tangannya sendiri. Kise hampir mendesah jika saja ia tidak ingat bahwa ada orang lain di ruangan.
"Kamu gak berpikir aku lupa, 'kan?" tanya Aomine sambil menggoda.
Kise menelan kuenya dan membersihkan ujung bibirnya yang berhias krim cokelat. Ia sedikit merengut manja, walau ia sebenarnya sudah sepenuhnya memaafkan Aomine. "Aominecchi bodoh sih."
Aomine hanya tertawa. "Kamu ngerjain aku, aku juga berhak dong ngerjain kamu. Lagipula, potongan spesial itu untukku, karena kamu juga bagian dari aku. Tanpa kamu, aku gak akan ada," jawab Aomine.
Perkataan Aomine terdengar ringan, tetapi Kise merasa itu hal paling romantis yang pernah ia dengar di seluruh dunia. Ia memeluk Aomine erat dan menyandarkan diri di dada bidang Aomine. Aomine hanya tertawa dan mencium puncak kepala Kise dengan penuh cinta.
Semua yang melihat mereka tampak sangat terpengaruh. Bahkan ibu Aomine hampir meneteskan air mata. Selama tujuh belas tahun ia mengasuh Daiki kecilnya, ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini. Ia terharu; ia merasa kerja kerasnya selama ini tak sia-sia.
"Jadi kita boleh makan, Mine-chin?"
Kerja bagus merusak suasana, Murasakibara.
Aomine menoleh dengan urat muncul di pelipisnya. Ia tersenyum menahan kesal. Yang lain hanya memandangi Aomine dengan kasihan.
"Silakan," jawab Aomine sebal. Murasakibara yang tidak peka hanya bersorak dan mengambil makanan sebanyak yang ia bisa. Akashi dan Himuro sampai harus turun tangan menangani pemuda titisan raksasa berambut ungu itu.
Kise hanya tertawa kecil. Ia beserta ibu Aomine mengatur bagian makanan. Awalnya wanita itu menyuruh Kise agar bersantai dengan Aomine, tapi Kise hanya tersenyum dan menolak dengan sopan, mengatakan bahwa ia tak bisa membiarkan wanita bekerja sendirian. Ibu Aomine benar-benar tersanjung akan kesantunan kekasih putranya itu. Ingin rasanya ia segera menjadikannya menantu.
"Sabar, Bu. Tunggu beberapa taun lagi," jawab suaminya saat wanita itu mengutarakan keinginannya.
"Ih, sayang! Ryouta bener-bener manis, gimana kalau kita nikahkan dia dengan Daiki sekarang juga?" kata ibu Aomine, hampir meracau. Untung suaminya bisa menahannya, walaupun ia juga terkesan oleh pemuda berambut pirang itu. Ia tak memiliki keraguan apapun atas kekasih yang dipilih putranya.
Keadaan selama makan berlangsung ramai. Orang tua Aomine terlihat senang kedatangan tamu sebanyak itu. Mereka beranggapan bahwa sangat putra mereka telah banyak bertemu teman-teman yang baik.
Di pojok, terisolasi dari keramaian, Aomine memangku Kise di pahanya sementara si pirang menyuapi kekasihnya itu kue cokelat.
"Kamu enteng banget. Kamu turun berat badan lagi?" tanya Aomine dengan nada tidak suka.
"Nggak, kok!" sanggah Kise sambil mengerucutkan bibir. Aomine mencium lembut bibir Kise. Kise mengeluarkan desahan pelan, tanda ia menyukai gestur yang diberikan Aomine.
Aomine menanamkan kepalanya dalam leher Kise, memberikan kecupan-kecupan ringan. Kise hanya tertawa dan memeluk Aomine erat. Aomine menatapnya dan menempelkan kedua dahi mereka bersama. Mata keemasan Kise yang awalnya terpejam kini terbuka, menatap langsung ke kedalaman mata biru kelam Aomine. Kedua pasang mata itu seakan tersenyum.
Hampir tanpa suara, Kise berbisik.
"Selamat ulang tahun, Aominecchi. Aku mencintaimu."
—End.
A/N:
What kind of a shitty ending is this! Astagay apa salahku! /banyak
Jadi, karena kesambet setan kurang kerjaan, akhirnya lahirlah chapter 3 ini. Ahaha, sedih saya. Saking gak direncanainnya, akhirnya semuanya kacau balau. Apalagi ada beberapa anime nyantol, walau saya sempilin secara implisit aja sih. Ada tiga, Anda nyadar?
Saya tau banyak orang bilang Author's Note jangan dijadikan ajang curhat, tapi karena inilah saya, jadi sebodo deh. Kalau gak suka, silakan lewatkan, karena ini emang gak penting-penting banget.
Pertama, HBD Aomine Daiki! Pokoknya tetep dim, tetep tinggi, tetep jadi bahan nistaan, jangan kurangin mesumnya (?) terus jangan sok-sokan chuunibyou lagi ya. Jangan suka nyakitin perasaan orang lain! /lirik blondie di belakang/ Jangan males lagi di sekolah, dan jangan pelit berbagi BL CD dan sex tape-mu dengan Kise, ya~ /HEH /frontal
Lanjut! Bagi saya, hal yang paling mengganjal pas bikin chapter ini adalah bahasanya. Saya gak tau harus pake bahasa gaul atau bahasa baku untuk dialognya. Akhirnya saya putusin bahasa gaul aja, hitung-hitung ini genrenya humor. Kalau ada yang mau versi bahasa bakunya, bisa aja sih saya publish di blog atau Tumblr saya, tergantung permintaan. Tapi gak ada bedanya, cuma dialognya dibakuin aja.
OOC? Gak usah ditanya. Sejak kapan sih Randoms gak OOC? Ahahahahah~ /shot Maaf, saya gak bisa menghindari ke-OOC-an, emang rasanya imposibru banget orz
Kalau masih belom mabok, biar saya tambahin lagi. Kise pura-pura mati, 'kan? Saya baca dari manga Katekyou Hitman Reborn volume dua atau tiga gitu, ada anggota gak penting keluarga Vongola yang bisa pura-pura mati. Nah saya terapkan. Gak logis? Emang gue pikirin, hahahah~ /killed Karena buat ngecek kematian itu 'kan gak ada detak jantung, gak bernapas, dan pupil membesar. Urusan napas dan pupil, bagi Kise sih gampang. Cuma kalau menghentikan detak jantung itu susah banget. Tapi ada yang inget acara The Master? Seinget saya Joe Sandy (favorit saya, Mas Joe, ai laph yu!) pernah menghentikan detak jantungnya sendiri. Anggap aja Kise ngopi skill Mas Joe. /nonsens
Oh ya, nomor darurat Jepang itu 110, 'kan? Seinget saya sih itu. Kalau saya salah, ya saya sunting deh nanti. Lalu soal sistem pelaporan kejadian kriminal di Jepang, saya gak tahu-menahu, jadi berdasarkan imajinasi aja yah. /wink/ /duesh Alamat Aomine juga fiktif! Saya gak tahu sama sekali alamat para anggota Kisedai. Yang tau kasih tau ya, siapa tau bisa mampir. /gak
Terakhir—karena otak saya juga udah berasap—tonton video Overly Attached Girlfriend! Maji 2000% recommended! Kalo ngerti sih, bisa bikin ngakak sambil merinding. Liana, you're a genius bitch! We love you!
Terakhir, karena ini udah panjang banget, terima kasih sudah membaca. Saran, pendapat dan pertanyaan bisa disampaikan lewat review, ditunggu! Yep, sampai berjumpa di chapter berikutnya~
