TWO : A Flashback (part 1)


11 bulan yang lalu..

"KYROS! KYROS!" seru Gareth seraya menggebrak pintu rumah yang ditinggalinya bersama seorang pemuda seumurannya. Ia tampak begitu gembira sehingga tidak memperdulikan sang pemuda yang tengah terkejut setelah dipanggil namanya.

"Heeh, Gareth! Kita sudah berapa kali dimarahi ketua karena kita selalu minta ganti pintu baru, dan sekarang kau ingin kita dimarahi untuk yang ke 14 kalinya?!"

"He? 14?! Sebanyak itu kah?"

"Menurutmu, berapa kali jatah makan daging kita dikurangi?"

"14!" jawab Gareth lantang.

"Lalu menurutmu apa yang membuat jatah makan daging kita dikurangi?"

"Pintu?"

Kyros menatap Gareth dengan tatapan malas. "Perlu kujawab?"

"AAAH! ITU TIDAK PENTING!" Gareth mengalihkan pembicarannya. "LIHAT INI!"

Gareth mengeluarkan sebuah gulungan. Kyros begitu terkejut setelah melihat gulungan itu. Tidak perlu bertanya itu gulungan apa, sepertinya Kyros sudah mengerti.

"WHOAAAAAAAAAAAAA!"

"Benar 'kan apa kataku!" tukas Gareth dengan bangganya.

"MANA! DIMANA DIA! DIMANA SI PLATINA BERSINAR ITU?!"

"Si manis itu akan datang besok pagi!"

"S-selamat, Gareth. Akhirnya kau sampai di level terakhir.."

"Kyros.." Gareth menggosok kepala pemuda berambut biru dihadapannya itu. "Cepat susul aku, ya!"

"Mana bisa?" Kyros tertawa kecil. "Aku masih pakai silver, masih harus melewati satu tingkat untuk sampai dilevelmu."

Gareth tersenyum manis kepadanya. "Berusahalah.."

Benar seperti apa yang Gareth katakan. Keesokan harinya, tepat pagi-pagi sekali, seorang komandan bersama 2 orang panglima berbaju zirah datang mengunjungi kediaman mereka. Mereka membawa sebuah peti berwarna platina dan sebuah sertifikat yang tujuannya tak lain adalah untuk Gareth. Tanpa berlama-lama, setelah urusan mereka selesai komandan itu segera kembali ke Head-Quarter.

"Kyros! Kyros! Lihat apa yang kupegang!" tukas Gareth seraya memegang pedang platina dengan kedua tangannya. "Benda ini berkilau sekali..."

"Iya, Gareth! Ayo coba!"

"Uwoooh! Boleh! Ambil pedangmu, kita latihan!"

Kyros segera bergegas mengambil pedang silvernya. Karena kecerobohannya, ia menyenggol peti tempat pedang platina diletakkan sehingga terjatuh ketanah. Dari peti tersebut muncul selembar kertas mengkilap. Tanpa pikir panjang, Kyros mengambilnya.

"Finley Hallen.." tukas Kyros ketika membaca tulisan yang terdapat didalamnya.

"Finley Hallen?" Gareth mendekati Kyros dan mendekatkan wajahnya kesamping wajah Kyros untuk membaca tulisan itu. "Apa itu Finley Hallen?"

Jantung Kyros berdegup kencang ketika ia menyadari Gareth sudah medadahkan kepalanya diatas bahu kanannya. Aroma shampo yang Gareth gunakan begitu menyengat. Harum wewangian bunga lavender memenuhi pikirannya.

-W-wanginya...

Tanpa sadar Kyros sudah menempelkan hidungnya pada rambut Gareth. Ia menghirup aroma di rambut Gareth seraya menutup kedua matanya. Sekali, dua kali, ia tidak berhenti melakukannya. Sementara Gareth tidak menyadarinya karena sibuk membaca tulisan pada kertas mengilap yang Kyros pegang.

Karena tidak merasa terganggu, tanpa sadar tangan kanan Kyros -yang tidak memegang apapun- memegang pipi Gareth.

"Kyros.." sahut Gareth dengan reaksi standar.

"Ha!" Kyros tersadar dan segera menarik tangannya kembali.

"Kau ini sedang apa?" Gareth tertawa seperti seolah tak ada yang terjadi, sementara Kyros sibuk menyembunyikan wajah malunya.

Kyros jatuh tersungkur diatas halaman berumput siang itu. Beruntungnya ia tidak terluka. Pedang silver yang ia gunakan menancap di tanah tak jauh dari tempatnya terjatuh.

Seraya memegang punggungnya yang terasa nyeri, ia merintih-rintih kesakitan. "Kau tidak perlu sekasar itu padaku, tahu!" bentaknya kepada lawan mainnya yang tak lain adalah Gareth.

"Kau saja yang terlalu lembek." Gareth menancapkan pedang platina barunya ke tanah. Kemudian mengulurkan tangan untuk membantu Kyros berdiri. "Kau itu kurang fokus. Cara menyerangmu juga masih asal-asalan. Mau sampai kapan kau menggunakan Konane Locke?"

"Aku rasa aku sudah maksimal." Kyros tidak meraih tangan Gareth dan membiarkan tubuhnya terkapar di tanah. "Apa yang kurang dariku sebagai seorang swordsman?"

"Banyak." Jawab Gareth ketus. Ia melipat lengannya.

"Haa?"

"Kau masih sering melakukan kesalahan. Mulai dari mengayunkan, menyerang, strategi, kelincahan, bahkan.. cara memegangpun kau kadang masih salah! Kau ini bisa apa sih?!"

"Tidak tahu.." Kyros menggaruk-garuk kepalanya.

"Mungkin sebaiknya kau ganti gender. Kau itu terlalu lembek! Lebih mirip perempuan dibanding laki-laki.."

Bukannya merasa tersindir, ia bermaksud ingin menunjukkan kemampuannya. Kyros menyambar sabit yang letaknya tanpa sengaja memang bersebelahan dengan pedang silver yang tertancap ditanah. Mungkin ia pikir ia mengambil pedangnya. Padahal..

*srakk!*

Cairan merah kental mengalir disekujur tubuh Gareth. Lelaki tinggi berambut ungu itu tidak bisa memprediksi serangan mendadak dari sahabatnya itu.

Sementara sang pelaku, Kyros, baru menyadarinya ketika melihat darah yang sudah mengotori t-shirt milik sang korban.

"GYA—"

Gareth segera membekap mulut Kyros dengan tangannya dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku tidak apa-apa, tenanglah.. jangan buat keributan." Bisiknya.

Kyros tidak bisa berkata apa-apa. Dibanding membalas perbuatannya, Gareth justru menyuruhnya diam dan tetap tersenyum. Tanpa sadar ia pun menangis.

"K-yte! K-kenapa menangis?!"

"H-hwaa!"

"W-waaa!" Gareth semakin membekapnya dan sibuk melihat sekeliling memastikan tidak ada yang melihat kejadian itu.

Prinsip seorang swordsman yang menempati daerah didalam gerbang Lynx adalah: "Melukai atau dilukai. Membunuh atau dibunuh." Tidak peduli terluka atau terbunuh selama pelatihan, selama mereka menggunakan pedang mereka sebagai medianya, maka sang pelaku akan dibebaskan dari hukuman. Dengan kata lain, bagi siapa saja yang tinggal didalam gerbang Lynx, semuanya harus bisa bertahan hidup dengan mengandalkan kekuatan berpedangnya. Cara seperti itu bukanlah tindak kriminal atau sebagainya. Kerajaan memberlakukan peraturan yang ketat demi menjaga wilayah teritorialnya. Dari serangan penyusup, ataupun mahluk non-human yang berasal dari luar gerbang Sheridan. Dan untuk melakukannya, kerajaan membutuhkan seorang swordsman yang tangguh, yang siap tempur dengan mahluk-mahluk seperti itu. Cepat atau lambat, kasarnya, swordsman yang lemah pasti tewas.

Berbeda dengan terluka ataupun terbunuh dengan pedang sebagai medianya, terluka atau terbunuh dengan alat lain selain pedang dapat membuat pelakunya terkena hukuman yang sudah berlaku sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Hukumannya pun tak tanggung-tanggung. Sang pelaku bisa terkena hukum penggal atau menjadi makanan bagi mahluk non-human. Dengan kata lain, sang pelaku pasti mati.

Dan Kyros...

continued to part 2


Author:

karna kepanjangan, terpaksa dijadiin 2 part.

part selanjutnya menyusul /entah kapan, cuma memang dalam pengerjaan/

thx. [end]