THREE : A Flashback (part 2)

Balutan perban melilit didada Gareth. Sesekali ia merintih kesakitan ketika perban yang sudah dilapisi oleh cairan beralkohol menyentuh lukanya.

Air mata Kyros masih belum mengering. Seraya melilitkan perban, ia terus saja terisak pelan. Sesekali ia memegang dada Gareth yang terluka olehnya. "Maafkan aku, Gareth.. maafkan aku.."

"Sudahlah.. aku 'kan tidak apa-apa.."

"Tapi d-darahmu.. "

"Geez! Wajar saja, 'kan! Yang penting aku tidak mengalami pendarahan."

"Tapi justru itu yang aku takutkan.. aku menyerangmu menggunakan sebuah.. sebuah.. se-"

Gareth melihat sabit yang diletakkannya diatas meja makan. Masih terlihat bercak darah pada ujung sabit itu. Ia tidak menyangka akan diserang secara tiba-tiba dengan alat selain pedang.

Gareth memeluk Kyros erat dengan tiba-tiba. Kyros menjatuhkan perban yang dipegangnya. "Syukurlah." Ucapnya berbisik ditelinga Kyros.

"S-syukurlah?"

"Syukurlah tak ada yang tahu soal ini.."

"T-tapi kau terluka.."

Gareth melepaskan pelukannya. "Aku akan lebih terluka kalau kau terkena hukuman, Kyros! Bagaimana kalau mereka tahu kau melukaiku dengan sabit itu?!"

Kyros terdiam. Dalam benaknya ia merasakan ketakutan akan kematian yang hampir saja menghampirinya.

"Maafkan aku! maafkan aku, Gareth! Maafkan aku!" Kyros semakin terisak. Seperti seorang bocah yang baru saja memecahkan vas milik orang tuanya, ia menangis begitu kencang.

Namun dengan lembutnya, Gareth justru memeluknya dan mengelus kepala Kyros.

"Asalkan kau tak apa, aku baik-baik saja, Kyros.." Gareth tersenyum seraya memandang wajah Kyros yang sudah penuh air mata. Ia tahu Kyros begitu menyesal, itulah mengapa ia berusaha untuk memaafkannya dan berusaha untuk tidak mengingat lagi kejadian itu. Tapi yang membuatnya heran, menapa dirinnya tidak bisa menghindar? Saat itu, ia memang tidak sadar akan di serang seperti itu. Ia menatap Kyros yang mulai menangis lagi. "Baiklah, keluarkan saja.. jangan ditahan.."

Kyros tahu, ia sudah tidak mungkin lagi menahan air matanya. "Gareeeetttttthhhhhh!" Kyros berteriak dan mulai menangis.

[...]

Seling beberapa menit Kyros menangis dipelukan Gareth, akhirnya ia dapat berhenti. Matanya berasa sembab sehingga tidak bisa memandang wajah Gareth dengan jelas yang sedikit menertawainya.

"Kau ini, lucu sekali.." tukas Gareth seraya menahan tawa.

"Kenapa kau tertawa, Gareth?"

"Kau imut sekali dengan wajah seperti itu. Sering-sering saja menangis ya, Kyros!" Gareth menggosokkan tangannya diatas kepala Kyros. "Tapi tadi kau itu seperti grim reaper saja.. aku ketakutan loh.."

"Berhenti menggodaku, Gareth..."

"Mungkin kau lebih ahli dalam menggunakan sabit itu dibanding menggunakan pedang, Kyros.."

"Aku bukan grim reaper, Gareth.."

"Ya, kau benar.." Gareth terkekeh. "Grim reaper tak ada yang manis dan imut kalau sedang menangis. Hahaha!"

"Grim reaper tak ada yang menangis.. dan aku bukan Grim Reaper."

"Kau terlalu serius, Kyros.. kau tidak manis kalau seperti itu.."

Kyros menatap Gareth yang terkekeh. Sesekali ia menatap luka di dada Gareth yang ia sebabkan. Bagaimanapun, ia memang pelakunya. Kalau bukan karena perlindungan Gareth, ia mungkin saja akan dikenakan hukuman mati.

"Gareth, kenapa kau melindungiku? Kenapa kau tidak marah padaku?" tanya Kyros kemudian. "Harusnya kau bisa saja memba-"

"Aku tidak mau ada orang yang menggantikanmu dirumah ini.." Gareth memotong kalimat Kyros seraya menyentuhkan jarinya ke meja makan mungil tempat mereka sarapan dan makan malam bersama. "Seandainya makan siang boleh dilakukan dirumah, aku ingin sekali makan masakkanmu. Pagi, siang, malam, aku ingin makan masakanmu!"

"Jadi kau hanya ingin masakanku?"

"Terserah kalau kau ingin menganggapnya seperti itu.. tapi aku tidak berpikiran seperti itu, loh.."

Jantung Kyros berdegup kencang ketika mendengar ucapan Gareth yang terakhir itu. Ditambah, ia mengucapkannya dengan sebuah senyuman manis yang langsung tertuju untuknya.

.

[...]

Keesokan harinya, sepucuk surat datang ke kediaman mereka yang tertuju untuk Gareth. Kyros yang mengambilnya pagi itu segera memberikannya kepada Gareth.

"Gareth, ada surat untukmu.." tukas Kyros seraya menghampiri Gareth dikamar yang sedang berganti baju untuk pergi ke Head-Quarter.

"Letakkan saja di meja makan. Kubaca nanti ketika sarapan.." jawab Gareth. "Kau tidak pergi?" tanya Gareth ketika melihat Kyros masih menggunakan t-shirt putih polos dengan celana panjang.

"Aku sedang buat sarapan. Akan repot kalau seragamku terkena cipratan minyak panas."

"Kau buat apa?"

"Omelet, permintaan maaf mungkin?"

Gareth segera berlari dan memeluk Kyros. "Aku mencintaimu, Kyros! Nikahi aku, ya!"

Muka Kyros merah padam. Gareth memeluknya begitu kencang. Ditambah lagi, ia belum mengancingi kemejanya dan kata-kata itu..

"L-lepaskan aku! K-kompornya belum kumatikan!"

"H-oooh, baiklah.."

.

[...]

Kyros duduk berhadapan dengan Gareth pagi itu. Ia sedang menghabiskan sarapan seraya memandang keluar jendela. Sementara Gareth sibuk membaca surat yang Kyros sebutkan untuknya itu.

"Jadi, apa isinya?" Kyros terlihat ingin tahu. "Kau membacanya terlalu serius.."

Gareth menatap wajah Kyros yang memandangnya. Kemudian tersenyum seraya memasukkan surat itu ke sakunya. "Bukan sesuatu yang penting."

Kyros terdiam. Gareth tidak pernah bertingkah laku seperti itu sebelumnya. "Kalau begitu, cepat habiskan. Aku ke HQ duluan, ya.."

Gareth mengangguk. Kyros segera beranjak berdiri dan memberekan bekas makannya. Lalu tak lama kemudian, ia segera berangkat meninggalkan Gareth sendirian di meja makan.

"Maafkan aku, Kyros.." bisik Gareth seraya menatap pintu.

.

[...]

Siang itu selama pelatihan, semuanya berjalan baik-baik saja. Kyros bergabung dengan murid-murid selevelnya, sementara Gareth datang menemui komandan di ruangannya. Kyros tidak tahu apa yang Gareth lakukan karena kelas latihan mereka berbeda. Jadi, ketika Gareth dipanggil oleh komandan, ia juga tidak tahu. Tapi HQ sama seperti sekolah, kabar yang beredar pasti cepat tersebar ke murid-murid yang lain sama seperti gosip.

"Tidak kusangka, ya.. murid yang baru mendapatkan pedang platina akan segera bertugas di luar gerbang bersamaan dengan para senior." tukas seseorang seangkatan Kyros ketika sedang istirahat makan siang.

"Masa'? Mereka 'kan baru kemarin mendapatkan si platina!" tukas yang lain.

"Senior serumahku hari ini ia mendapatkan surat panggilan, dan katanya murid yang baru mendapatkan platina juga akan langsung ditugaskan. Mereka pasti sedang diruang komandan."

"Hee.. ternyata benar, ya.."

"Siap-siap sendirian dirumah ya, Berg! Bebas sekali rasanya senior tidak dirumah.."

"Aku bisa makan sepuasnya, hahaha!" pemuda bernama Berg tertawa. "Kyros, kau serumah dengan Gareth 'kan? Bukannya ia juga baru mendapatkan platina? Apa dia juga akan ditugaskan diluar gerbang?"

Kyros yang kebetulan satu meja dengan Berg dan kawan-kawannya, tidak mungkin ia tidak mendengar ucapan mereka. Dan lagi, tak ada yang tidak mengetahui sosok Gareth yang disebut-sebut sebagai 'Genius Swordsman' itu tinggal serumah dengan pemuda selevel silver. Semuanya pasti menganggap Kyros beruntung.

"A-aku tidak tahu.." jawab Kyros.

"Yah, tak aneh. Biasanya jenius itu tidak terbuka karena mereka merasa dirinya berbeda dengan orang-orang rendahan seperti kita, ya.." tukas Berg.

Kyros tidak bisa berkata apa-apa meskipun ia tahu, Berg sedang mengatai Gareth. Ia merasa pusing ketika akhirnya ia menyadari surat yang tadi pagi datang adalah surat panggilan Gareth untuk melakukan tugasnya di luar gerbang Sheridan.

.

[...]

Sore itu, Gareth pulang dengan kondisi lesu. Wajahnya tampak lelah setelah seharian berlatih di HQ.

Ketika ia membuka pintu, Kyros sedang duduk dikursi meja makan seraya memandang keluar jendela. Ia menenggelamkan setengah wajahnya pada lipatan lengannya.

"Aku pulang, Kyros.."

"Ah, Gareth. Kau sudah pulang?"

"Sudah pulang? Kau tidak menyadari pintu terbuka?"

"T-tidak. Kepalaku sedikit pusing.."

"Kenapa kau sakit?"

"Gareth, jujur saja. Aku sudah tahu.."

"O—oh.. d-darimana kau tahu?"

"Sudah jadi pembicaraan di HQ. Dan lagi, tak ada yang tidak mengetahuimu."

Gareth menunduk dan tersenyum pilu. "Maafkan aku, Kyros. Tapi.. memang mulai besok pagi.. aku akan bertugas di luar gerbang Sheridan.."

"10 bulan.. rumah ini akan sepi tanpamu.."

"Aku pasti pulang.. percayalah.."

"Tapi 10 bulan bukan waktu yang sebentar! Dan diluar gerbang itu.."

"Aku tahu!" bentak Gareth. "Maka dari itu aku akan bertahan agar tetap hidup, Kyros! Aku akan tetap hidup demi bertemu denganmu lagi.."

Dada Kyros berasa dihantam. Ia begitu sesak ketika mendengar jawaban Gareth. Kyros ingin sekali menangis. Tapi ia masih mengurungkan niatnya. Ia beranjak dari kursi dan berdiri.

"Gareth.." panggil Kyros. "Pulanglah dengan selamat.. aku akan menunggumu.. a-aaku.. a-aku menyukaimu, Gareth.." Akhirnya Kyros mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sejak kemarin. Menyadari kebaikan hati Gareth dan perlakuan spesialnya ketika menyelamatkannya dari hukuman maut itu menyadarkannya kalau dirinya memang menyukai si jenius itu.

Gareth tersenyum bahagia. Kemudian berlari dan memeluk Kyros erat.

Kyros tidak ingin menutup-nutupi perasaannya lagi untuk saat itu. Ia membalas pelukan Gareth. "Aku ingin cepat bertemu denganmu lagi.."

"Berjanjilah padaku, Kyros.. aku ingin menguatkan hatiku." Bisik Gareth.

"Pulanglah.. kau akan melihatku sudah selevel denganmu.." jawab Kyros. "Lalu apa yang dapat menguatkan hatiku agar tetap menunggumu pulang?"

"Aku akan menciummu setelah kau memenangkan pertandingan denganku."

"H-ah?! K-kenapa? Pertandingan apa?"

"Aku akan menantangmu sebagai seorang pengguna platina.."

"B-baiklah!" Kyros mengangguk dan melepas pelukan Gareth. "Aku akan menunggumu.."

"Dan.."

"Jangan lupa dengan janjimu.." tukas Gareth dan Kyros bersamaan.

.

[...]

Lalu bagaimana dengan janji itu?