A/N: Ini chap 2 nya! Apa yang terjadi pada mereka, bacalah selanjut ini

Disclaimer: Bukan milik author, kalau udah, habislah kewarasan para anggota KuroBasu :v

.

.

.

' bunyi apa itu? ' batin Himuro sambil mengucek matanya. Dia tidak mempunyai alaram bersuara begitu, suaran deringnya pun tiada hentinya. Kenapa keadaannya merah-merah? Apa yang terjadi sebelum Himuro tertidur? Dia tak bisa ingat, yang penting ia mempunyai fisarat buruk. Dia segera menggendong Kagami dalam tanganya, menjaganya dari hal yang akan terjadi.

Dia pergi ke ruangan pilot, membuka pintu aluminiumnya...tidak ada orang. " Shit! " kutuknya dalam inggris. Ia bergegas ke arah Akashi dan menggoyangkan tubuhnya. " Diam...5 menit lagi... " gumam Akashi. " It's emergency! " teriaknya lagi pakai bahasa inggris ( dikarenakan panik ) Akashi yang mengerti segera terbangun dan matanya menatap horor keadaan disekitarnya.

Kenapa ada muntahan? Yah biarkan saja, nanti cleaning cervice bersiin kok. Akashi segera mengambil iphonenya hendak menelepon backup, tetapi mereka kehilangan signal. Autopilotnya tiba-tiba mati, pesawatnya dengan cepat terjatuh. Kise yang tertidur segera bangun dan mulai berteriak gaje, Aomine masih berada diantara kolam darah, Murasakibara tidak gerak, Midorima, Kuroko dan Takao juga.

Di tempat lain.

' Pesawat MH370 ( Kan peswat Malaysia untuk daerah Asia, kok tujuan ke Russia? Well, keajaiban terjadi )tidak dapat diketemui. Signal telah tiba-tiba hilang '

" Aa, Kiyoshi, bukannya ini pesawat privat yang di naiki Kuroko dan Kagami? " Tanya Hyuuga yang barusan menonton berita. " Berarti...Kagami dan Kuroko... " Kiyoshi menatap horor Hyuuga. Hyuuga menatap horor Kiyoshi.

Kembali ke adegan normal.

" Argh...kepalaku sakit-ssu..." gumam Kise memijit kepalanya yang sakit. Kenapa basah? Kise menatap horor, di kepala nya berlumuran -coret-fases burung-coret- darah. "A...aa...AAAAA!" teriaknya, dia melihat sekeliling panik, dimana yang lain? Dia di mana? Kenapa sejuk?! Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di punggung Kise. Kise menjerit kaget, tetapi perlahan melihat ke belakangnya. Dibelakanya berdirilah sosok Aomine dan Midorima, yang juga sama-sama terluka di beberapa bagian.

" Aominecchi...Midorimacchi...apa...apa yang terjadi?! " Kise tanya, air mata mulai keluar dari matanya. " Oi, Kise... " " Sepertinya kita mengalami kecelakaan pesawat, nanodayo...". Puing-puing pesawat berserakan, syukurnya bagian belakang pesawat hancur di daerah mereka. Midorima segera mencari dan mengambil kotak PPPK. Syukurnya mereka mendarat pada tepi sungai dari suatu tempat yang sangat luas. Dia mencuci lukanya di tangan lalu memberinya perban.

Selanjutnya ia melakukan hal yang sama pada Kise dan Aomine. Kise di kepala dan Aomine di paha. Lukanya tidak terlihat dalam, cuman sekedar luka yang dapat mengeluarkan darah tetapi tidak akan mempengaruhi kemampuan basket mereka. Setelah itu mereka segera mencari yang lain. Di tengah perjalanan, " Kise..." panggil Aomine, yang di panggil menoleh. " Kenapa-ssu? "jawabnya. Aomine mulai menunduk kepalanya. " Aku...Aku turut berduka cita..." gumamnya tetapi masih sempat didengar Kise

Kise mulai bingung. " Kenapa tiba-tiba-ssu? Siapa yang meninggal? ". Aomine menghentikan jalannya. " Mukamu yang begitu tambah rusak..." Katanya. Kise cengo. " Whut? Aominecchi bilang apa?...MUKAKU INI YANG TAMFANNYA MINTA AMPUN DI BILANG RUSAK! "

Aomine cuma cengar-cengir gaje. Sedangkan Midorima cuma bisa menahan amarahnya karena dari tadi Kise komplen sana sini. " Amfun deh Kise! Kau ini berlebihan! Suara melengkingmu itu nyakitin telingaku! Diam bisa tak?! Haduh...! "

Aomine dan Kise cengo. Midorima jadi alay ya? 'p' aja jadi 'f'. " Midorimacchi/Midorima...kau tak apa-apa (ssu)?! " berdua tanya bersamaan. Midorima cuma menghela nafas dan melanjutkan perjalanannya.

Di tempat lain.

" Arhg! a-apaan ini? Puing-puing?" Terdengar suatu isakan ringan. Himuro melihat ke bawah, Kagami terlihat aman tertapi ia ketakutan. Setelah kecelakaan itu, Kagami langsung terbangun dan berada pada pelukan Himuro. " T-Tatsuya..." isaknya. " A-aku tak apa-apa..gh! "

Tiba-tiba puing-puing peawat yang menimpa mereka berdua terangkat. Terlihat Murasakibara dan Akashi yang juga sedikit berluka. " Muro-chin! "panggil Murasakibara. " Aah...Atsushi..." ia lalu bergerak untuk mengambil Kagami. " Tolong jaga Taiga sebentar. " Murasakibara segera mengambil Kagami dalam gendongannya, hendak menenangkan Kagami yang mulai menangis memanggil nama Himuro.

Akashi yang tidak tau kenapa menghampiri Himuro dan mengulurkan tangannya. " Ayo, keluar dari tumpukan puing-puing ini." Himuro pun menerima bantuan Akashi. Saat dia berdiri, Akashi terkejut. Punggungnya Himuro berlumuran darah. Akashi pertama kali dalam hidupnya mulai panik untuk orang lain.

" Himuro. Duduk dulu. " Himuro bingung, tetapi tetap mengikuti perintah Akashi. " Lepaskan bajumu. " Himuro semakin bingung. apa Akashi orang mesum? " Cepat! " Akashi tidak peduli Himuro satu tahun lebih tua atau apa. Himuri segera melepaskan bajunya.

" Ada apa? Akashi-kun? " tanya Himuro. Akashi terdiam sebentar. Syukur ia ada kain lap di koceknya, ia mengeluarkannya dan segera mecelupkannya di air sungai ( mereka juga mendarat di tepi sungai ) yang jernih.

Ia peras sampai airnya hilang dan segera menglap punggungnya Himuro. Himuro mendesis. Ia baru sadar dirinya terluka. Kenapa tadi sama Kagami tidak terasa sakit? " Himuro. Lukamu cukup parah. Tapi tidak akan mempengaruhi alat gerakmu. Sampai kau sembuh total, Taiga dalam asuhan Atsushi. "

Himuro kaget. Tapi ia percaya dalam teman sekalian kouhainya. " Baiklah. Tapi tolong jangan terlalu sering memberinya snack " Himuro tertawa kecil. Akashi hanya tersenyum sedikit.

" Aka-chiiin! Muro-chiiin! " Atsushi yang tadi pergi menenangkan Kagami berlari kembali melambaikan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menggendong Kagami yang sudah berhenti menangis.

" Ada apa Atsushi? " tanya Akashi. " Kami ketemu Kise-chin, Mine-chin dan Mido-chin " katanya sambil menunjuk ke belakang dimana Kise datang berlari dan Midorima beserta Aomine mengikutinya di belakang.

" Hah! Yokatta! Apa semua disini? " tanya Kise. Midorima langsung berkata " Akashi. Dimana Takao?" Akashi diam. " Kazunari? Dia tak sama kalian? " tanyanya kembali. Midorima menggeleng kepalanya. Tiba-tiba sebuah tangan mendarat di punggung Midorima. " Yo! Shin-chan." di sana berdiri Takao dan Kuroko.

" Takao..."

Sepertinya Takao dan Kuroko terpisah dari kedua grup. Midorima langsung memeluknya. Awalnya Takao kaget, tetapi habis dia sadar Shin-chan tercintanya khawatir, dia tertawa kecil. Setelah reuni kecil itu, Midorima segera mambantu membersihkan luka di tangan Takao dan di punggung Himuro. Kenapa Kuroko tidak luka? Yah, dia berhasil memakai pengaman.

" Etto...Akashi-kun. " panggil Kuroko. Yang di panggil menoleh. " Kita dimana? "

Akashi diam sejenak melihat keadaan sekitar. Sungai yang bersih. Kincir angin everywhere. " Sepertinya kita di Belanda. " jawabnya. Kuroko hanya mengangguk-angguk.

Beberapa meter dari mereka.

Taiga yang dari tadi di gendong Murasakibara, tiba-tiba minta di turunin. Murasakibara hanya menurutinya, dan Kagami di turuni. Sampai di tanah, Kagami langsung berlari ke arah Aomine. Ia menarik-narik celana Aomine. Aomine terkejut. Sejak kapan Kagami ingin menghampirinya? " Apa? " tanyanya ke Kagami.

Kagami merentangkan tangan tanda minta di gendong. Aomine tersenyum, ia tidak pernah sebahagia ini. " Hahaha...anak manja " lalu Kagami terangkat dari tanah ke pelukan Aomine.

Sesuatu mendarat di pipi Aomine. Cuman sebentar, tapi dia yakin. Hangat dan sedikit geli. Kagami baru memberinya sebuah kecupan! " Yokatta, Daiki tidak apa-apa. " kata Kagami sambil tersenyum. Aomine merasa hatinya meleleh. " Taiga..." Lalu ia tersenyum lebar dan memeluk Kagami erat, dan mengembalikan kecupan kecil itu. ( A/N: Ah...so sweet. Taiga-chan, berikan aouthor kecupan juga dong. Ao: Tak boleh! Taiga punyaku! )

" Aominecchi, Taigacchi, ayo, kita jalan lagi. " dan Aomine tersadar dari alam indahnya. Hari ini hari yang indah ya, buat seorang Aomine Daiki yang sebenarnya baru selamat dari kecelakaan pesawat.

Mereka berjalan berjam-jam, tiada tujuan, tetapi sang pemimpin, Akashi terlihat sangat yakin dengan tuhuannya sendiri. Lalu, mereka pun sampai di suatu lapangan luas. " Akashi-kun. Ngapain di sini? Tak ada ring basket kok. "

" Huh...Tetsuya, Aku sudah meminta tim penyelamatku untuk datang. Mereka akan mendarat di sini. " ( Akashi sudah dapat signal :v ) " Kiranya Akashi juga bodoh-bodoh mimpin jalan ke lapangan ini untuk main basket. " kata Aomine. Wah, Aomine lagi cari mati ya? Bukan kah hari ini hari keberuntungannya? ' Virgo berada pada rengkin 1! Selamat! Jangan lupa degan lucky item mu, boneka anak harimau! Tapi Virgo harus jaga jarak dengan Aquarius dan Sagitarius, karena kau bisa membuat mereka sangat marah! '

" Oh Aomine yang malang. Padahal hari ini Virgo rengking 1, lucky item, boneka anak hatimau. Eh, malah buat Akashi dan Kuroko marah. " kata Midorima. Yang dibicarakan mukanya muncul perempatan nadi.

Lucky item boneka anak harimau? Mana mungkin Aomine punya! Apa Kagami dihitung begitu? Wah, hidoi (ssu). Kagami itu malaikat, bukan boneka! Tapi, sebagian hari Aomine indah bukan? Berarti Kagami dihitung lucky item?! Langsung Aomine peluk Kagami erat-erat, enggang untuk melepaskannya. Kagami yang polos itu cuman mengembalikan dengan pelukan yang oh-gemes-polos-indah-gitu.

" Ao-mi-ne-kun...lepaskan tanganmu dari Kagami-kun " gumam Kuroko dengan aura yang sangat, SANGAT gelap dan mengerikan. JAUH lebih mengerikan daripada punya Akashi. Aomine telah berhenti memeluk Kagami, tapi Kagami malah enggang melepaskan Aomine. " Taiga, ayo lepaskan Daiki. " Perintah Akashi. Tapi Kagami berani melawannya dan berkata " Tidak! Taiga mau sama Daiki! " lalu memeluknya lebih erat. Aomine cuma bisa menyengir dan dibalas tatapan pembunuh Akashi dan Kuroko.

Duo-yandere pun menyipitkan mata dan berjalan kebelakang sambil melihat Aomine setiap 1 detik. " Taiga." panggil Aomine. " Hm? " jawab yang ditanyakan. Aomine menatap serius ke Kagami. " Taiga. Kenapa tiba-tiba kau suka bersamaku? " tanyanya. " E-eh? D-Daiki be-be-be-benci sama T-Taiga? " Tanya Kagami yang mulai keluar air mata. " E-eh?! J-jangan ngangis... huh...Aku cuma penasaran. "

Kagami pun tak jadi menangis dan mengelap matanya. " J-jadi Daiki...tidak benci sama Taiga kan? " Aomine menggeleng kepalanya lalu tersenyum. Kagami pun mulai tersenyum lagi. " Bersama Daiki itu asik! Daiki baik dan Taiga suka sama Daiki! " dengan itu, Kagami tersenyum lebar dengan senyuman indah-nan-tenshi itu dan memeluk erat Aomine.

" T-taiga suka aku? S-sejak kapan? " tanya Aomine yang mukanya mulai menunjukkan rona berwarna merah. " Hm? Sejak pertama kali ketemu. " jawab Kagami. Aomine merasa hatinya baru meleleh. Aomine baru menyukai Kagami saat mereka selesai Inter Cup, tapi Kagami telah menyukainya sejak pertama kali ketemu?! Rona dimuka Aomine menggelap.

" Aominecchi! Taigacchi! Ayo kita pergi sekarang! Helikopternya udah datang! " dan muncul lah suatu suara cempreng-indah seorang Kise Ryouta diantara keadaan (b)romantis AoKaga itu. Dan keduanya pun tersadar dan segera lergi menuju helikopter.

Sampainya di hotel mewah...

" Jadi, semua, tim ku sudah mendaftarkan kita semua pada hotel ini. Silahkan nikmati. Ada kolam berenang, pantai buatan, restoran dan café. Setiap kamar berisi 2 orang dengan 2 queen size bed. " jelas Akashi. " Whoa...ini benar-benar hotel bintang lima. Sasuga Eropa! " seru Takao.

Setelah mereka turun dari tempat mendaratnya helikopter, yaitu lantai 50 hotel itu, mereka pergi ke lobi di lantai 30 dan mengambil kunci-kunci mereka. " Baiklah, semua, ini pasangan kamar kalian!" lalu Akashi memberi mereka suatu kertas. " Ini, semuanya sama, Aka-chin. Cuma Kaga-chin sama Muro-chin? " tanya Murasakibara. Akashi cuma mengangguk.

" Taiga mau sama Daiki! " teriak Kagami tiba-tiba. Akashi terkejut, begitu pula yang lain. " Taiga, kau dengan Himuro." Lalu Kagami pun mulai memeluk erat Aomine dan mulai menangis. Akashi menghela nafas. " Baiklah. Kau sama Daiki. Maka... " Akashi mengambil kertas itu lagi, dan menganti pasangan kamarnya.

Taiga-Daiki

Shintaro-Kazunari

Atsushi-Himuro

Ryouta-Tetsuya

Me alone.

" Akashi-kun. Kau terlihat menyedihkan. Maukah aku menemanimu? " tanya Kuroko, dan tersedaklah Kise. " K-Kurokocchi...j-jangan gitu-ssu " " Kau bersediakah? Tetsuya?" tanya Akashi, dan Kuroko mengangguk. Kise ngangis di pojok. Jadi, sekarang kise yang sendiri, tapi dia di ganti dengan kamar Akashi yang ber-king size bed.

" Ruangan kita semua punya pintu pengubung. Kalau ada apa-apa yang terjadi, langsung buka saja pintu itu. Boleh di kunci kalau sedang *** " jelas Akashi. Dan Takao pun tertawa. Yang lain menatap dia, mereka tau apa yang Takao lakukan pada number one shooter Teikou mereka.

sampainya di kamar...

Kise:

Kise menaruh tas-tasnya ( yang entah gimana, bukan hanya dia, yang lain juga, tasnya masih ketemu dan utuh) di lantai dan mengeluarkan barang-barangnya.

" Waa...kamar ini luas-ssu, tapi sendiri jadi ngeri..."

AoKaga:

Aomine juga menaruh barang-barangnya, dan langsung buka baju, " Yah! Taiga! Ayo pergi mandi! "

" Yee mandi sama Daiki! "

MuraHimu:

Murasakibara langsung menjatuhkan diri di tempat tidur, sedangkan Himuro menaruh barang-barangnya. " Aah~ Muro-chin, sudah lama tak sekamar gini lagi ya~"

" Hahaha...ya, sejak( di hotel ) Winter Cup. "

AkaKuro:

Kedua orang ( tau diri ) ini langsung menata barang mereka dengan rapinya. " Akashi kun, setelah ini kemana? " " Makan? "

MidoTaka:

Midorima yang baru masuk kamar langsung didorong Takao, dan Takao pun senyum licik. " Shin-chan~ ayo- " " Tidak! Kita makan dulu! "

Dan begitu lah keadaan dalam setiap kamar.

Dinner time...

" Taiga lama..." gumam Himuro. " Aomine-kun juga... " begitu pula Kuroko. Mulailah para KiseDai dan Himuro + Takao mulai curiga. " Aaah! Mou! Aku akan pergi memeriksa Taiga!" teriak Himuro sambil memukul meja. Dia berdiri kemudian pergi ke lift, naik lantai 37 ke ruangan 510.

Tok tok tok~ suara ketuk di pintu 510~ ( Abaikan...)

" Aomine-kun! Apa yang kau lakukan dengan Taiga?! " teriak Himuro dari luar. Terdengar suara Aomine menabrak benda-benda. Dan Aomine pun membuka pintu. " A...a...Himuro...Taiga, normal lagi... " dan Aomine pun menunjuk ke arah Kagami, yang kembali normal lagi.

flashback, 45 minutes ago...

" Aah...airnya enak~ " seru Aomine. Dia dan Kagami memasuki bathtub luas itu bersama-sama. Tapi Aomine mulai heran, kenapa Kagami makin berat? Ia membuka mata dan terkejut. Di depannya, Kagami tersayangnya kembali normal, dan mukanya merah gelap.

" Ta-Taiga? " panggil Aomine. Kagami cuma diam. Dan Aomine pun mulai sadar apa yang terjadi. Dia langsung keluar dari bathtub mereka. " Ba-Bakagami?! Kau kembali?! " dan Kagami mengangguk pelan-pelan. " A-aku...ingat semuanya...Daiki..." guman Kagami, dan hati Aomine pun meleleh. Kagami memanggilnya Daiki. Kagami MASIH memanggilnya Daiki walau dia sudak kembali! " Ja-jadi? T-Taiga...kau nanti pakaian gimana? " tanya Aomine yang sebenarnya tak tau mau bicara apa. " Akan kupinjam punya kau! " Kagami balas, kali ini dengan muka serius. " HAAAA?" Aomine cengo.

Oh iya ya, dia lupa. Mereka punya ukuran baju dan sepatu tak beda jauh. Kalau sepatu mah sama persis. Setelah mandi, Kagami pun memakai baju Aomine. Aomine kebetulan membawa sepatu cadangan, dan memberi Kagami pakai. Lalu, heninglah keadaan...

" Ne, Taiga..." panggil Aomine. Kagami yang maih belum biasa di panggil Aomine begitu mukanya mulai berona lagi. " Apa? "

" Kau bilang kau ingat semuanya kan? " Kagami mengangguk. " Jadi kenapa kau bisa bilang hal yang tidak biasa kau bilang? " Kagami menatap Aomine sebentar, lalu menggerakkan bahu tanda tak tau. " Gak tau, aku tau apa yang kalian bicarakan, tapi mulutku bergerak sendiri dan tidak seperti apa yang ku mau bilang. "

Dan Aomine terdiam. Ia masih gugup dengan keadaannya, sekarang ia tau Kagami menyukainya. " Taiga, kau ingat kau bilang bahwa kau menyukaiku sejak pertama kali ketemu? " Kagami mulai berona lagi dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. " Aku...aku minta maaf...selama ini, aku bersikap kurang ajar, sombong, dan kurang perhatian sama kau. " Kagami cuma mengangguk-angguk. Memang Aomine bersikap kurang ajar, sombong, dan kurang perhatian, tapi Kagami masih menyukainya.

" Ja...jadi, Taiga, akan kubilang secara jelas dan padat. MAUKAH KAU MENJADI PACARKU? " Kagami mata lebar tetapi masih membalas suatu kata " iya "

Dan begitu lah keadaanya sebelum Himuro mengetuk keras pintu 510.

TBC

A/N: sekian chapter 2. Sepertinya humornya sedikit di chap ini :v Aothor mengetik cerita ini jangka waktunya jauh-jauh, sampai kadang kelupaan si Takao atau Kuroko, oh sedinya /di mirage shoot sama Tatsuya

Author juga ketiknya malam-malam T-T satu-satunya waktu istirahat.

Dan 510, tau gak? Hari AoKaga ( Mei 10 ) tuh? Author ambil dari hari mereka :v kirain yang lain mau juga nomor kamarnya sesuai pairing mereka, tapi kalo gitu, kamarnya beda lantai dong. Kan kamarnya semua terhubung.

Yah, terakhir, author minta maaf kalau ada Typo dan penggunaan bahasa yang jelek, author masih pemula, belum pro :v