FF. Pt. 2
Title: Game
Genre: Mysteri
Cast: Kim Jaejoong (Hero Kim) Jung Yunho (U-know Jung) Jessica Jung, Lucille Scott(OC)
Warn: sama kayak Pt. 1 nya
.
.
.
She said,
I know it's just a game,
But you can't survive it.
-Irenne Adler-
.
.
.
Jaejoong menukar buku-buku di tasnya dengan buku yang ia perlukan untuk kelas selanjutnya dari loker sekolah. Ia masih perasa pening karena tidur terlalu larut dan bangun karena terkejut. Tubuhnya seolah bisa saja ambruk diterpa angin, bahkan jika ia manja ia akan berkata bahwa tulangnya berdenyut-denyut saat ini.
Ia membanting pintu lokernya, dan mendengar seruan menjijikan dari seseorang yang hampir ia tabrak.
"Ouch! Gunakan matamu dengan benar, milky boy."
Itu Jessica. The prettiest, the richest, fuckingly arrogant, and unfortunately, she is blonde.
Jaejoong mengernyit membalas tatapan mengejek wanita itu. Lagipula tidak ada gunanya juga ia merespon The School's Princess. Bunuh diri akan lebih baik daripada berhubungan dengannya.
Ia merapikan tasnya, dan berjalan ke toilet, melewati kumpulan-kumpulan murid sekolah ini yang...menakjubkan.
Mereka berkelompok dengan orang-orang setipe mereka. Princess dengan Princesses, Emo dengan Emo, Nerd? tidak, mereka selalu sendiri meskipun ada lebih dari tujuh puluh nerd di sini.
Jaejoong? Ia menolak untuk disebut dengan penyendiri yang aneh. Ia menyebut dirinya sendiri dengan "Anti-social Leader Club" yang bilamana kau masuk ke dalam klub ini, kau akan sendirian.
Ia melewati segerombolan jurnalis berseragam rapi dengan rambut merah keriting mereka yang dikuncir berantakan. Kemudian tersadar, sekolahnya ini lebih mirip dengan Sesame Street ketimbang disebut pusat pendidikan.
Ia mendorong pintu toilet yang bersih, dan menatap jijik pada isinya yang lebih dari kesan jorok. Sepasang pria berkulit pucat dengan tindikan dan tattoo disana sini, keluar dari satu bilik yang sama, dan ia bisa melihat seorang murid nerd korban bullying duduk di atas toilet, dengan sekujur tubuhnya yang basah. Tidak perlu berpikir jauh-jauh dimana mereka mendapat air untuk menyiram bocah tadi.
Jaejoong berdiri menghadap dinding, dan membuka resleting celananya. Ia bergidik, dan mendesah lega.
Bell berdering dari luar, dan pintu toilet tertutup di belakangnya. Awalnya ia tetap acuh, sampai menit berikutnya ia tersadar. Suasana lebih hening dari yang ia harapkan.
Pintu terbuka lalu tertutup lagi, dan ia bisa mendengar suara ketukan sepatu yang menggema di ruangan itu.
Aneh, suasana ini begitu familiar buatnya. Namun ia bahkan baru kali ini berada sendirian di toilet sekolah.
Seseorang berdiri berjarak beberapa stal di sebelahnya. Ia melirik dan melihat seorang pria berjas berdiri tak jauh darinya.
Jaejoong menutup resletingnya, kemudian berbalik untuk cuci tangan. Air keran yang dingin mengalir lembut di tangannya, ia mendongak dan terkejut saat pria itu menatap lurus dari kaca ke arahnya. Ada sesuatu yang aneh namun tidak bisa ia ungkapkan dari wajah pria itu.
Ia mengibaskan kedua tangannya, dan buru-buru melangkah pergi.
.
.
.
Jaejoong mengernyit, menatap sebuah gerbang besar di depannya dengan bingung. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa sampai ke sini. Setahunya, ia tengah mencari teman-temannya yang lain di ruang bawah tanah, namun berakhir di depan gerbang ini.
Jaejoong menyusuri tiap detil gerbang dengan rantai-rantai yang terpusat pada satu gembok besar di tengahnya. Ia menyentil gembok itu dengan jarinya dan membolak-balikan benda itu.
Sesuatu berbentuk lubang kunci tertanam di inti gembok, dan dengan reflek Jaejoong menyentuh bandul kalung yang ia kenakan.
Entah kebetulan atau apa, namun bandul kalung yang ia kenakan berbentuk klip kertas tebal.
Jaejoong melepas kalungnya, dan meluruskan klip kertas itu dengan jari-jarinya. Ia mengutak-atik gembok besar tadi dengan bandulnya.
Terasa lebih sulit dari yang ia lihat di TV, namun saat terdengar bunyi "Klik" senyumanpun mengembang di bibirnya.
Gembok itu terbuka. Jaejoong baru saja akan menariknya saat pintu di depannya terdobrak dari dalam, dan ia terbangun karena gebrakan di meja kelasnya.
"Mr. Hero, lebih baik anda pulang untuk melanjutkan tidur anda. Karena kelas saya bukanlah area dongeng untuk balita."
Jaejoong mengangguk-angguk. Masih mengumpulkan kesadarannya yang berceceran kemana-mana. Ia menghiraukan tawa mengejek dari teman-teman di kelas sejarahnya ini.
Mrs. Abbington kembali membacakan isi bukunya yang se usang usianya. Sementara Jaejoong mencoba untuk menyingkirkan bunyi besi berat yang terjatuh di otaknya. Entah apa itu, namun ia mendengarnya mendengung sedari tadi.
Bell pulang berdering mengagetkan, dan para murid mengemasi barangnya tanpa mendengar pengumuman yang Mrs. Abbington katakan.
Jaejoong menyimpan buku-bukunya kembali, dan beranjak dari kursinya saat tiba-tiba seseorang menggebrak mejanya.
Seorang wanita dengan rambut hitam dan ikal membungkuk di depannya. Jaejoong hampir tidak ingat bahwa dia adalah teman seangkatannya dalam dua tahun ini, dan mereka pernah berbagi kelas sebelumnya. Kecuali bagian dimana wanita itu mengambil kelas sastra, saat ia mengambil kelas memasak.
"Kita perlu bicara, Hero Kim"
Jaejoong mendesah, lalu mengedik.
"Aku malas." ujarnya. Ia mengambil tasnya, dan beranjak dari kursi. Wanita itu menarik lengannya terlampau kuat hingga tubuhnya limbung, dan Jaejoong dengan cepat menyentakan tangan kurang ajarnya. Sekedar catatan, ia tidak suka disentuh oleh orang asing.
"Ikut aku sekarang." Jaejoong mengerutkan keningnya heran.
"Aku bahkan tidak mengenalmu, nona. Jadi biarkan aku pulang." ia membuat gerakan mengusir dengan tangannya, dan melewati wanita itu saat bahunya di dorong kembali ke tempatnya.
"Namaku Lucille Scott, dan . ." Jaejoong mulai merasa terganggu dengan kekukuhan gadis itu untuk mengajaknya berbicara. Ia melirik ke arah arlojinya sebelum menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Baiklah, aku mendengarkan." Lucille memutar bola matanya. Dan Jaejoong melotot tidak percaya, "Apa lagi?"
"Tidak disini, kau harus ikut aku." desisnya. Jaejoong mendesah dramatis, kemudian menyapu rambutnya kebelakang.
"Aku sedang buru-buru sekarang, Louie-"
"Lucille." potong wanita itu membenarkan.
"Hah, baiklah Louie, atau Lucille. Terserah. Yang terpenting, bicaralah sekarang, atau biarkan aku keluar lewat pintu itu dan pulang ke rumahku yang nyaman." Suara-suara berisik murid-murid lain dari luar menghilang beberapa menit yang lalu, digantikan oleh ketukan-ketukan kaki di lantai yang menggema seperti dalam film-film horor.
"Tidakah kau penasaran?" Gadis aneh itu menatap Jaejoong bak seorang paranormal. Membuat tengkuknya merinding.
"Dan, kenapa aku harus penasaran?" Lucille mengedik.
"Entahlah, tentang hal-hal aneh yang baru-baru ini kau temui?"
"Seperti, bertemu denganmu?" Lucille mendengus keras.
"Astaga, bisakah kau berhenti menjadi jerk seperti ini, Kim?!" pekiknya frustasi.
"Aku tidak pernah menjadi jerk seperti ini, Louie."
"Lucille!"
"Ya, baiklah. Untuk sekedar informasi, kau membuang waktuku." Jaejoong tersenyum, dan berlalu begitu saja dari sana.
Lucille menggeram, kemudian berjalan tegap menarik tubuh Jaejoong sekuat tenaga menuju... gudang?
.
.
.
"Yah! Kau akan membawaku kemana, freak?" Jaejoong melotot sempurna saat pintu asing namun ia kenal terlihat lurus di depannya.
Lucille menyeringai "Aku dengar kau benci kotor, Kim."
Ia mendobrak pintu gudang dengan kakinya, lalu mendorong Jaejoong ke tengah ruangan.
"Ini pesananmu, pak tua." Jaejoong menatap jijik sekitarnya, dan menemukan Lucille membunuh seseorang dengan tatapannya.
U-know menepuk kedua tangannya, dan beranjak dari tempat duduknya. Ia menepuk puncak kepala Lucille yang dibalas dengan tepisan tajam gadis itu.
"Terima kasih, Lucille" Jaejoong dapat melihat rahang tegas pria itu saat ia tersenyum, dan tulang pipinya yang khas.
Laki-laki bernama U-know tadi menatap lurus ke arahnya, dan Jaejoong seolah teriris-iris karena ketajaman dari mata musangnya.
"Apakah... kau tidak memiliki sesuatu untuk ditanyakan, Hero Kim?" Jaejoong melipat kedua tangannya di dada, dan mendesah.
"Siapa kalian? Dan dari mana kalian tahu namaku?" ujarnya.
U-know dan Lucille saling melirik, sebelum gadis itu menutup mulutnya dengan tangan untuk menyembunyikan tawanya. U-know berdehem, merasa malu karena Jaejoong menatap mereka polos seolah bertanya "Apa yang lucu"
"Baiklah, pertama. Namaku U-know Jung, dan dia Lucille Scott. Kami adalah, teman seangkatanmu selama dua tahun ini, jika kau lupa." pria itu terkekeh, saat Lucille menggelengkan kepalanya heran.
"Kami... aku rasa semua. Semua murid di sekolah ini saling mengenal satu sama lain, begitu juga dengan kami." lanjutnya lagi.
Jaejoong memberengut. Itu berarti ia tidak termasuk di dalam kata semua yang U-know itu sebutkan.
"Dan kenapa kalian memaksaku untuk datang ke sini?"
Raut wajah U-know berubah serius. Ia mendekati Jaejoong beberapa langkah, kemudian melirik Lucille untuk meminta ijin.
"Apakah... kau tidak mengalami hal-hal aneh akhir-akhir ini?"
Kening Jaejoong mengerut. Ia ingat beberapa hal aneh, tapi apakah itu termasuk hal aneh? Atau hanyalah hal normal yang ia anggap aneh?
"Tidak? Seperti dimana tubuhmu terluka tiba-tiba tanpa sebab, atau saat kau melihat dan mendengar hal aneh lainnya? Apakah tidak sama sekali?"
Jaejoong mengingat bekas luka di bahunya, dan kerincing besi yang ia dengar siang tadi.
"A-aku tidak yakin." U-know dan Lucille saling berpandangan, kemudian mendekat agar bisa mendengar lebih jelas.
"Aku, aku melihat sebuah bekas lebam di bahuku pagi tadi." Jaejoong meraba bahu kanannya.
"Boleh kulihat?" tanya U-know.
Jaejoong membuka beberapa kancing kemejanya, dan memperlihatkan bahunya pada U-know dan Lucille.
Ia melihat wanita itu melotot melihat bekas kebiruan yang tercetak di bahunya, dan U-know berusaha untuk menyamakan jemarinya tepat di atas bekas tadi.
"Apa kau ingat bagaimana kau mendapatkan bekas ini?"
Jaejoong kembali menutup kemejanya, dan menggeleng. "Tidak." jawabnya.
"Kau tidak ingat bagaimana makhluk itu menyentuhmu, ataupun saat kau membuka gembok itu? Kau tidak mengingatnya sama sekali?" tanya Lucille tidak percaya.
Jaejoong menatap keduanya bingung. "Mahkluk? Gembok?" gumamnya tidak dijawab. Ia ingat mendengar bunyi besi berat seperti gembok jatuh di kejauhan tadi, saat ia tengah dimarahi oleh Ms. Abbington. Tapi, hey! Bagaimana mereka bisa menyimpulkan bahwa dia membuka gembok? Ia bahkan setengah sadar saat mendengar bunyi gembok tadi.
"Kau tidak ingat bagaimana kau mengalami semuanya?" kembali Jaejoong menggeleng. Lucille mendesah putus asa.
"Itu karena seseorang menghapus ingatanmu." U-know bersuara.
Jaejoong mengernyit. "Mengalami apa? Gembok apa? Makhluk apa? Menghapus apa? Kenapa kalian aneh sekali." ujarnya. Ia mengecek arlojinya sekali lagi, dan mendengus keras-keras.
"Begini saja. Apapun yang kalian katakan, silahkan pikirkan sendiri tanpa aku. Karena apa? Karena aku terlalu lelah untuk berada di tempat terkutuk ini dan membicarakan hal-hal yang bahkan aku tidak tahu. Jika memang ada sesuatu yang terhapus, bukankah itu berarti aku telah mengalaminya? Lalu, apa yang harus di khawatirkan? Hidupku masih berjalan normal sampai kalian datang."
Lucille meliriknya seolah dialah orang anehnya disini, marah-marah hanya karena mereka menyita waktu pulangnya selama beberapa menit. U-know menatap Jaejoong ragu, ia mengusap-usap dagunya dengan cara yang menyerupai detektif gadungan.
"Mungkin kau mengetahui sesuatu. Dan seseorang menghapusnya karena tidak ingin kau menyebarkan sesuatu itu."
Sesuatu menjatuhkan kardus berisi bola-bola Ping-pong di ujung ruangan, dan Jaejoong bergidik melihat ekor dari hewan menjijikan yang melakukannya. Ia melihat Yunho dan Lucille yang sibuk berpikir dengan apa yang ia bahkan tidak ketahui dan tidak anggap penting. Sementara dirinya terus mengawasi setiap sudut ruangan, dengan kemungkinan datangnya hewan pengerat berdarah panas yang menjijikan bernama, tikus.
"Beritahu aku, Hero. Kapan kau menyadari luka ini?" Mereka berdua menatap Jaejoong serius, sementara ia balik menatap mereka seolah mereka adalah preman-preman amatir seperti di sekolahannya.
"Saat mandi, pagi tadi." ujarnya, ia mundur satu langkah karena hembusan napas U-know bahkan menyapu ujung hidungnya.
"Apa, apa kau bermimpi sesuatu malam tadi?" Jaejoong melirik pada Lucille, kemudian menggeleng.
"Aku tidak ingat aku bermimpi."
Lucille menarik U-know ke ujung ruangan, dan membisikan sesuatu yang terdengar sama anehnya dengan pembicaraan tadi.
Jam di arlojinya seakan berputar semakin cepat, dan ia yang ia inginkan hanyalah pulang sekarang.
"Setiap orang yang bermimpi pasti mengingat paling tidak satu potong kejadian di mimpinya, U-know. Dia! Dia tidak ingat sama sekali!" Lucille berbisik terlampau keras, dan U-know membungkam mulutnya.
"Aku tahu! Aku tahu! Ia tidak akan mengingat satu pun dari bagian mimpinya, Lu. Karena dia tidak bermimpi." Wajah Lucille berubah horor, dan untuk beberapa saat hanya detakan jarum jam yang terdengar. Sampai Lucille kembali berbisik rendah.
"Maksudmu dia, dia benar-benar mengalami semuanya?" U-know tidak menjawab.
"Ta-tapi, kau, dan yang lain hanya mengalaminya dari mimpi. Mana mungkin ia..." U-know mendesah.
"Kalian bahkan tidak mengalami bekas meskipun kalian tidak... meskipun... U-know! Katakan sesuatu!"
Jaejoong menatap langit-langit begitu U-know meliriknya. Dan ia memainkan tali tas selempangnya untuk mengalihkan kegugupannya dari, menguping.
"Ada dua kemungkinan. Dan aku percaya kau mengetahuinya." Jaejoong tahu mereka berdua tengah menatapnya, namun ia hanya berdiri di sana dan, memperhatikan bagaimana sekeluarga laba-laba membangun rumah mereka di ujung ruangan.
"Ya, tapi aku tidak tahu yang mana dia." bisik Lucille
.
.
.
Jaejoong berjalan kembali ke lokernya saat lorong-lorong sudah sepi. Ia merutuki bagaimana manusia aneh tadi menyita waktunya dengan hal-hal yang bahkan ia tidak mengerti.
Ia memasukan buku-bukunya kembali ke loker, dan mengambil buku fisikanya (mengingat ia memiliki tugas untuk akhir minggu ini). Kemudian membanting pintu lokernya hingga tertutup sempurna, dan berteriak reflek saat melihat Jessica bersandar di pintu loker sebelahnya.
Bisa Jaejoong akui, wanita itu memang cantik dan terawat (jika maksudmu adalah kembali ke Korea untuk melakukan perawatan seharga jutaan dollar). Namun senyuman meremehkan yang selalu ia tampilkan, ugh, memuakkan.
"Aku dengar kau bertemu dengan kumpulan manusia-manusia aneh itu di gudang, Hero Kim?" ia memperhatikan kuku-kuku jemarinya dengan cara angkuh, seolah menunjukan bahwa cat kuku yang ia pakai lebih mahal dari harga diri Jaejoong(?)
Jaejoong menaikan sebelah alisnya, kemudian menggumam.
"Jika yang kau maksud itu U-know dan Lucille. Maka iya."
Jessica tertawa lepas, namun terdengar mengerikan di telinga Jaejoong. Seperti tawa tokoh jahat di kartun-kartun yang biasa adik-adiknya tonton pada minggu pagi.
"U-know, Jung Yunho. Dia tampan, namun bodoh."
'dan aneh' tambah Jaejoong dalam hati.
"Dia menawarimu sesuatu, my Hero?" Jaejoong menyadari cara bicara Jessica yang begitu, lambat. Seperti putri-putri dalam drama musikal yang akan bernyanyi saat mereka tenggelam, dan bukannya meminta tolong.
"Tumpangan pulang, mungkin? Aku menolaknya."
Jessica menyeringai seram. Jaejoong kira, ia akan melihat taring mencuat dari bibirnya. Namun tidak, gadis cantik itu hanya menyeringai. Tanpa darah-darah dan taring tajam, dan berbagai perlengkapan Vampire lainnya. Baiklah, itu membuktikan bahwa ia manusia.
"Aku bisa mengantarkanmu pulang. Ayo ikut aku." wanita itu menarik lengan Jaejoong menuju mobilnya.
Jaejoong tidak pernah melihat Jessica dengan mobilnya, namun ia pernah mengira bahwa wanita itu akan membawa semacam BMW pink, dengan atap terbuka, dan jok bulu-bulu bermotif leopard, juga Cihuahua jelek(namun mahal) di kursi penumpang. Karena percayalah, Jessica adalah duplikat dari aktris utama Legally Blonde. Well, namun ia salah besar. Jessica membawa Ferrari yang belum pernah ia lihat sebelumnya, bukan pink namun abu metalik, tidak juga beratap terbuka. Hanya tipe-tipe mobil kantor yang sangat modis.
Wanita itu memaksa Jaejoong masuk ke kursi penumpang, dan berputar untuk masuk ke kursi kemudi.
Jaejoong melihat foto seekor anjing Maltesse putih seukuran telapak tangan di dashboard, dan satu lagi point untuk kekurangannya dalam menebak.
"Bagaimana, Hero? Terkejut? Aku tahu kau mengira aku akan membawa mobil serba pink ke sekolah. Tapi tidak, aku menyimpan semuanya yang terbaik di rumah, dan berakting anggun di sekolah. Bagus bukan?" wanita itu tersenyum luar biasa manis, dan Jaejoong tahu, mungkin saja ia akan terpesona jika ia, memiliki ketertarikan pada makhluk lain selain dirinya.
Jessica sibuk menyetir sepanjang jalan, dan ia sendiri tidak berminat untuk membuka pembicaraan. Ia memegang pergelangan tangannya yang memerah bekas cengkeraman wanita-wanita di sekolahnya, bahkan memiliki ide konyol untuk mengikuti kelas bela diri untuk mempertahankan kejantanannya.
"Boleh aku memanggilmu Jaejoong saja? Aku tahu kita sama-sama berasal dari Korea." Jaejoong melirik.
"Hm, terserah saja." ia mengedik.
"My Jae. Apapun yang kau dengar di gudang tadi, hapus semua dari pikiranmu." mulai Jessica.
Kening Jaejoong berkerut dalam, ia menoleh tegas menatap wanita itu.
"Kau menguping?" Bukan masalah privasi yang ia permasalahkan disini, melainkan sosok Jessica Jung yang menguping pembicaraanya di gudang. Dua hal yang sangat tidak, Jessica. Ia hanya meringis sembari mengangkat dua bahunya.
"Hubungi aku jika suatu saat nanti kau bingung dengan keadaan sekitarmu, dengarkan, aku menawarimu untuk masuk ke dalam kelompokku. Kau akan selalu diterima di sini." Jessica tersenyum gemas, dan memakirkan mobilnya ke depan rumah Jaejoong.
"Kau mengerti? Sekarang pulanglah, dan telepon aku jika kau memiliki pertanyaan tentang hal-hal aneh yang akan kau alami nanti." Jaejoong beringsut keluar dari mobil mahal itu, dan menatap Jessica dari luar dengan bingung.
"Bye, my Jae." ia melesat pergi dari area perumahan Jaejoong, dan menghilang di belokan jalan.
Jaejoong berbalik, kemudian bergidik ngeri.
"Kenapa seluruh penghuni kota ini lebih aneh dari Fanboy dan Chum-Chum? Aku bahkan tidak mengerti apa yang mereka katakan."
.
.
.
End ._.
Hahaha
Go to chap 3 of?
