FF. Pt. 3
You said,
"I had a long dream...
It was a very sad dream,
But what I saw wasn't one bit clouded..."
I said,
"It's okay to cry,
because I'll stay by your side no matter what.."
What i wish for is a hand, a hand to reach up to me...
-Nakashima Mika-
.
.
.
.
Jaejoong bangun lebih pagi dari biasanya. Ia mematikan alarmnya(yang sebenarnya belum berbunyi) lalu turun untuk mengambil minum.
Pintu kamar orang tua dan keempat adiknya bahkan masih tertutup rapat, ia samar-samar bisa mendengar dengkuran halus Appanya dari luar.
Lolongan anjing milik Mr. Kelly terdengar berbisik. Ia sering merasa kasihan pada anjing itu. Bask adalah jenis anjing kuat, kejam dan pemimpin. Namun Mr. Kelly bahkan lebih kejam dalam mendidiknya menjadi anjing lemah lembut seperti ini. Jaejoong tahu Bask sangat suka melolong apalagi di tengah malam, namun majikannya akan memukulnya begitu anjing itu mengeluarkan suara.
Aneh saja. Jika ia tidak disayangi, lalu kenapa ia dipelihara?
Lampu dari lemari es menyakiti mata Jaejoong yang kuyu. Ia meraba-raba dan menarik satu botol berisi air mineral dingin dari sana, dan menegaknya langsung tanpa repot-repot mengambil gelas.
Ia tahu, Ummanya mungkin akan marah jika menangkap basah ia minum langsung dari mulut botol. Menurut wanita itu, jorok. Menurutnya itu, praktis.
Jaejoong mendengar suara gaduh dari luar, dan ia mendekati jendela untuk mengeceknya.
Ia mendengar suara rintihan dan diakhiri dengan debuman yang mungkin keras diluar, namun cukup lirih untuk ia dengar. Jaejoong mengintip melalui sela-sela tirai, dan melihat seseorang terbaring di trotoar, dengan orang lainnya lagi berdiri dengan kaki mengapit tubuhnya.
Lampu-lampu jalan hanya menambah gelap bayangan yang menutupi wajah dua orang itu, tapi dari siluetnya Jaejoong tahu, bahwa orang yang berbaring itu tengah kesakitan.
Pria yang berdiri mengangkat batu bata besar di atas kepalanya, sebelum menjatuhkan benda itu tepat di wajah pria satunya. Jaejoong terkesiap, dan botol yang ia pegang terjatuh hingga menimbulkan bunyi berisik.
Pria yang disana menoleh ke arahnya, dan ia bisa melihat lekuk wajahnya yang familiar namun tidak ia ingat.
Pria itu berjalan tegas tepat ke arahnya, sebelum mengambil kuda-kuda dan melemparkan batu besar tadi dengan satu tangannya. Tetesan darah kental dan kehitaman mengucur di sudut lancip benda itu. Sebelum melesat lurus, menembus kaca jendela dan,
Drrt, drrt, drrrt.
Jaejoong melompat dan terduduk dari tidurnya. Napasnya terengah dengan sangat cepat, dan bahkan lebih berat dari seekor naga, keringatnya membasahi sekujur tubuhnya, hingga kaus abu-abu yang ia kenakan seolah bisa diperas.
Ia meneliti tiap detil ruangan yang ia tempati sekarang, dan bernapas lega begitu tahu bahwa ia berada di kamarnya yang aman.
Pekikan-pekikan Ellen menyelip lewat celah-celah pintu, membuatnya lebih yakin bahwa apa yang ia lihat tadi hanyalah mimpi.
"Jae sayang. Bangunlah, Umma tidak ingin kau terlambat ke sekolah." ibunya muncul dengan Joseph di gendongannya.
Balita itu sangat bertolak belakang dengan Ellen, kembarannya. Jika Ellen adalah balita yang lincah, nakal, cerewet, dan jahil. Joseph lebih memilih untuk duduk diam, dan bermain dengan kubiknya yang lucu.
Meskipun keempat adiknya adalah imigran sama sepertinya, namun karena mereka lahir di negara ini mereka tidak memiliki nama Korea. Hanya Ulrik Kim adik pertamanya yang berumur 13 tahun dan sangat pendiam, Jonathan Kim adik keduanya yang berumur 6 tahun, lalu ada Ellen dan Joseph, kembar Kim dengan sifat bertolak belakang. Jika Joseph akan sangat cocok dengan Ulrik karena mereka sama-sama pendiam. Maka Ellen adalah partner in crimenya Jonathan. Meskipun baru tiga tahun, tapi mereka berdua termasuk balita yang sangat cepat dalam belajar.
Jaejoong sendiri, ia juga tidak tahu ia masuk dalam kategori apa.
Ia berjalan limbung masuk ke kamar mandi, dan mulai bersiap untuk sekolah.
.
.
.
Lorong sekolahnya pagi ini terlihat agak sepi, mengingat kelompok tim basket dan pemandu sorak dikirim ke ibu kota untuk mengikuti kompetisi antar kota.
Jaejoong berjalan menggendong tas selempangnya menyusuri jalan ke lokernya dengan langkah malas, saat ia melihat Jessica telah berdiri dengan khas sombongnya di loker sebelah miliknya.
Ia jadi teringat akan kata-kata wanita itu kemarin, dan jujur saja, mimpi tadi malam itu sudah sangat mengganggunya.
Jaejoong mempercepat langkahnya bertepatan dengan sepasang murid yang berbelok tiba-tiba, hingga satu detik ia terlambat mengerem pasti akan bertabrakan.
"Whoa! Perhatikan langkahmu, buddy." U-know tersenyum dan memegang kedua pundak Jaejoong hati-hati.
Jaejoong mengernyit. Ia juga ingat dengan perkataan pria ini kemarin, dan seolah ditampar oleh kebodohannya yang mengkhianatinya, ia baru saja sadar apa yang dua kubu itu maksudkan.
Jaejoong melirik ke arah Jessica yang masih sibuk dengan ponselnya dan tidak memperhatikan mereka. Sementara Yunho bahkan tidak melepaskan cengkeraman tangannya dari pundak Jaejoong.
Ia tidak yakin, pada siapa ia harus bercerita tentang mimpinya kemarin. Memang seharusnya dengan jelas ia memilih U-know dan Lucille, karena yaah, paling tidak mereka tidak meninggalkan kesan buruk pada kehidupannya sebelum ini. Tapi kenapa, di dalam hatinya, ia lebih memihak Jessica?
Jaejoong menyingkirkan pendapat tentang kenapa ia lebih memilih Jessica ketimbang mereka, dan baru saja membuka mulutnya untuk bicara saat seorang murid menabrak bahu Yunho hingga ia limbung namun tidak jatuh.
"Pakai matamu, bastard." maki pria tadi. Ia menyentakan lehernya hingga rambut di dahinya terpental kesamping. Jaejoong bisa melihat garis wajahnya yang jelek, seperti pernah terjadi kecelakaan yang berat di wajahnya.
U-know terlihat menahan emosinya dan Jaejoong rasa bisa saja ia melayangkan satu tinju keras meremukkan rahang pria tadi. Dilihat dari besarnya telapak tangan pria ini, ia membayangkan U-know meratakan kaleng soda dengan kedua tangannya.
Pria itu kembali menghadap Jaejoong dan mendengus. Namun tiba-tiba saja sepotong demi sepotong gambar bekelibat di otaknya dan Jaejoong melotot, ia tahu wajah ini. Wajah U-know, tulang pipi itu dan garis wajah itu. Adalah wajah yang sama dengan milik pria di mimpinya semalam.
Jaejoong tertegun untuk beberapa saat, berdebat dengan pikirannya tentang bagaimana bisa Yunho menjadi pria sekejam itu. Mungkin saja mereka hanya mirip. Toh di mimpi itu ia belum seratus persen sadar, juga pencahayaannya yang sangat minim.
Ia menggeleng untuk mengusir pikiran buruk itu dari otaknya. Jaejoong teringat sesuatu yang mengilaukan di tangan pria semalam. Dan berpikir, mungkin saja Yunho juga memilikinya. Dengan jantung yang berdebar dan harapan yang besar untuk tidak menemukan benda itu, ia menoleh.
Namun benda itu disana. Pada jari kelingking Yunho, melilit erat seperti seekor ular. Ular perak dengan dua mata ruby merah Yang berkilauan.
Jaejoong menyentakan kedua tangan U-know, dan berlari lurus ke arah Jessica. Tidak menyadari tatapan bingung dari U-know maupun Lucille di sana.
Jessica terlonjak kaget saat Jaejoong tiba-tiba saja berlari dan hampir menubruknya. Kakinya berdiri goyah karena tubuhnya gemetar hebat.
"Jaga langkahmu, milky boy! Kau hampir menggencet tubuhku di sini." wanita itu bertolak pinggang, dan menatap Jaejoong marah.
"Hhah, A-ada hah, ada yang harus kukatakan sekarang." Jaejoong mengatur napasnya, jantungnya tiba-tiba saja berdetak terlalu cepat. Ia kemudian melirik dari balik bahunya untuk mendapati U-know dan Lucille menatap ke arahnya dan sepenuhnya bingung.
Jessica mengikuti arah pandang pria itu, dan tersenyum tertarik saat menemukan U-know di sana.
"Baiklah, ayo ikut aku. Aku rasa segelas jus akan membantumu saat ini." ia memimpin Jaejoong menuju ke kantin. Dan diikuti patuh oleh pria di belakangnya itu.
.
.
.
.
Jessica berkedip-kedip tidak mengerti. Ia membiarkan sedotan jus rendah gulanya menggantung di depan bibirnya. Ia baru saja membuka mulutnya untuk minum saat Jaejoong menceritakan mimpi dan penemuannya pagi ini.
"Jadi... kau memimpikan U-know semalam?" wanita itu mendorong jusnya, dan mencondong untuk lebih dekat dengan Jaejoong.
"Aku kira begitu. Wajahnya sama.." ia masih berusaha mengingat-ingat.
Murid terakhir disana baru saja membanting pintu kantin, menyisakan Jaejoong dan Jessica di keheningan yang canggung.
"Err, baiklah. Apakah kau mau bercerita, bagaimana tepatnya mimpi basahmu semalam?" ia membuat wajah serius dengan nada meragukan.
Jaejoong menggebrak meja di depannya, kemudian mendesis. "Aku serius, Jess. Aku melihat U-know memukul wajah pria itu dengan batu hingga sekarat. Dan ia bahkan hendak menyerangku." Jaejoong tidak lagi memikirkan nasib absennya di kelas fisika Mr. Parker pagi ini. Bayang-bayang wajah U-know malam itu masih saja membuatnya merinding.
"Jae, dengarkan aku." Jessica menyamankan duduknya, dan menghadap lurus serta dekat-dekat dengan wajah Jaejoong.
"Lupakan mimpimu semalam. Itu tidak berarti apa. Mungkin saja itu tanda bahwa kau menyukai U-know?"
"Dengan memimpikannya membunuh orang lain di depan mata kepalaku sendiri? Kenapa kau sangat cerdas, Jess?"
Jessica memijat pelipisnya, kemudian mendesah.
"Begini saja. Kau, diwajibkan untuk melapor padaku semua mimpi ataupun kejadian aneh yang kau alami. Tapi! Tapi aku tidak ingin mendengar ceritamu tentang U-know, atau wanita itu, Lucille Scott. Boleh jika itu ada hubungannya denganku, namun jika itu hanya sebatas cerita tentang mimpimu yang aneh atau apa, aku tidak peduli." Jessica menarik kedua sudut bibirnya, dan lesung pipinya terlihat jelas, cekung dan panjang.
"Kau mengerti?" Jaejoong mengangguk.
"Nah, berhubung kita sudah terlambat untuk satu jam nanti. Bagaimana kalau kau ikut aku mengecek sebuah tempat?" wanita itu melemparkan tas tangannya dan Jaejoong menangkapnya kelabakan.
"Chop! Chop! Kita buru-buru."
.
.
.
.
Lucille mendesah untuk yang kesekian kalinya, dan menyentakan kepalanya kebelakang. Bagaimana dramatisnya saat Jaejoong melenggang menjauh dan datang ke Jessica, ia bahkan masih ingat tiap detil kejadiannya. Bagaimana ia pergi begitu saja.
"Kau harus berhenti melakukan itu, Lou. Aku takut mungkin saja kebahagiaanmu yang sudah sedikit itu benar-benar habis karena terlalu banyak menghela napas." Yunho mencoret-coret sesuatu pada bagian belakang bukunya, namun tersenyum jahil.
Lucille mendengus. "Apa kau sekarang menjadi satu tim dengannya?"
"Siapa? Tim apa?" pria itu mencoba untuk tersenyum tidak terlalu lebar. Tapi memang tidak ada yang dapat menandingi rasa seru dari menjahili seorang Lucille Scott.
"Aku tahu kau tahu."
Dahi Yunho mengerut tanda tidak mengerti. Lucille mengangkat alisnya, lalu Yunho menirukan ekspresi wanita itu dengan cara lucu.
Lucille memutar bola matanya dan membuat gerakan melempar dengan buku catatannya yang bersampul keras, namun tidak benar-benar melemparnya.
Yunho tertawa "Apa? Aku benar-benar tidak tahu siapa yang kau maksud."
"Kim Jaejoong. Hero Kim itu." Lucille menjawab gemas.
Yunho menjatuhkan tatapannya pada ujung meja yang ia cungkil-cungkil menggunakan pulpennya.
"Apa kau cemburu?" ia melirik Lucille dengan tatapan menggoda.
Wajah gadis itu berubah merah, dan ia kelabakan hendak menjawab.
"Uh, tentu saja tidak!" ia menyimpan rambut hitam keritingnya kebelakang telinga, dan duduk lurus menatap ke papan tulis. Menggigiti bibir bawahnya gugup.
"Aku hanya ingin kau mengingat tujuan kita selama ini." Ia hanya menengok sebentar, lalu berpura-pura menulis sesuatu di bukunya.
Yunho menatap lurus ke arah Lucille dengan mulut terkunci rapat. Ia tahu ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
Mungkin itu salah satunya.
.
.
.
.
.
Jaejoong menatap sekelilingnya dengan jijik. Tidak mengerti bagaimana bisa Jessica mengajaknya ke tempat se-usang ini. Seluruh sekolahan tahu jika ia sangat benci kotor. Dan bagaimana bisa Jessica menjadi ratu tega dalam semalam, menyeretnya untuk membobol pintu usang dari ruangan yang juga usang dan terletak dibagian paling pojok sekolah.
Klik.
Jessica menyeringai lebar sketika gembok di tangannya mengeluarkan bunyi klik, lalu terbuka.
Jaejoong memaksa kakinya untuk berjalan. Ia meringis begitu memasuki ruangan seukuran kelas itu, dan hampir memuntahkan isi perutnya karena bau pengap yang menerjang hidungnya.
Jessica membuka jendela dan terbatuk di seberang ruangan. Gadis itu bisa tampak tetap bahagia meskipun debu-debu gatal dari kaca jendela menempel pada buku-buku jarinya.
Ia menarik sebuah kursi ke tengah ruangan tanpa mengangkatnya, dan Jaejoong memeluk tasnya sambil meringis kesakitan karena kaki kursi itu mengeluarkan decitan keras dengan lantai.
"Kemarilah, jangan takut. Duduklah di sini. Aku sudah membersihkannya untukmu."
Jaejoong menatap curiga pada kursi kayu yang dipegang olehnya. Ia tahu Jessica belum membersihkannya, dan ia ragu untuk mengorbankan celananya pada debu-debu kadaluarsa diatas kursi tadi.
Jessica memutar bola matanya, kemudian menarik Jaejoong untuk duduk. Lalu menekan bahu pria itu, mencegahnya pergi dari sana.
"Nah, Kim J. Apa kau tahu ruangan apa ini?" Kedua mata Jaejoong mengikuti tubuh Jessica yang bergerak memutarinya. Kemudian menggeleng dengan wajah kaku.
"Ruangan ini adalah ruang eksekusi." ia mengangkat dagunya dan melirik Jaejoong melalui sudut matanya.
"Aku tahu kau pasti tidak tahu apa maksudnya. Tapi tenang saja, dalam beberapa bulan, kau akan mengetahuinya."
Jaejoong menelan ludahnya begitu Jessica menyeringai di depan wajahnya.
Gadis itu tertawa lantang, dan membelakangi tempat Jaejoong berada.
"Aku bahkan sudah bisa mencium bau darah di sini!"
.
.
.
Go to chap 4
