A/N: Haphaphap… Akhirnya saya update! Yeah! /digebuk
Arigatou buat Isafuyu-chan, Rye Yureka, dan LonelyPetals yang sudah menyempatkan waktu mereka yang berharga buat baca fic nista ini. Saya terharu /halah. Sini saya kasih komik /gak
Chapter ini sepertinya agak nista dan OOC. Plis jangan gebuk saya karena hal ini ya /sujud2/
Well, akhir kata, Happy reading minna-san! Ditunggu kritik dan sarannya di kotak review ya! /lambai2
xxx
Disclaimer: Free! Not own by me. If I owned Free, I will die /dor
Author: Taiyou no Akashi
Pairing: RinHaru, MakoHaru *grins*
Rating: T
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Warning: BL, Shounen-ai, Yaoi, semi OOC, AU
Don't read this fanfiction if you not a Fudanshi or Fujoshi 'kay?
xxx
"For My Dolphin, Haru…"
Chapter 2. Memories
BLUP...
Haruka membuka mata lalu melihat sekelilingnya dengan tatapan kosong.
'Dimana ini?' tanya Haruka pada dirinya sendiri. Sementara tubuhnya makin tenggelam dalam lautan biru yang menenangkan.
BLUP...
'Air ya...' jawab Haruka lagi lalu mulai memejamkan matanya. Membiarkan air semakin menenggelamkan dirinya.
BLUP...
'Mimpi...' gumam Haruka lalu dengan perlahan, ia kembali membuka matanya. Mata birunya melebar ketika ia melihat sosok Rin berumur 12 tahun, tengah memperhatikannya sambil tersenyum lembut. Perlahan, Haruka mulai mengangkat tangannya, berusaha menggapai Rin.
BLUP... BLUP
"Rin..." ujar Haruka lemah sembari terus berusaha menggapainya. Namun Rin hanya diam dan terus menatap Haruka sementara pemuda bersurai hitam itu makin tenggelam ke dalam air yang tenang itu.
'Apakah ini tanda bahwa hubungan kita telah berakhir, Rin?'
Xxx
-Musim Panas, 3 tahun yang lalu-
"Hei... Haru-chan..." panggil seseorang dengan nada lembut sembari menepuk pelan pipi Haruka.
Dengan enggan, Haruka mulai membuka kelopak matanya dan menatap sesosok wajah tampan yang tengah tersenyum lembut padanya.
"Ohayou, Haru-chan," kata pemuda berambut hijau itu dengan nada riang. Membuat Haruka mengerutkan keningnya.
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan 'chan', Makoto," gerutu Haruka sembari memejamkan mata kembali. Melanjutkan tidurnya yang terpotong karena pemuda yang dipanggil Makoto itu.
Makoto hanya tersenyum geli melihat tingkah Haruka. Dengan lembut, ia mulai mengelus-elus pipi pemuda penyuka air itu.
"Katanya mau pergi berenang. Kenapa malah tidur lagi?" ujar Makoto gemas lalu dengan sengaja mencubit pipi Haruka agar pemuda berambut hitam itu terbangun.
Dengan cepat, Haruka membuka matanya lalu duduk dan menatap Makoto dengan wajah serius. Iris birunya mengunci iris kehijauan milik Makoto.
"Kau dapat tiketnya?" tanya Haruka dengan nada serius. Membuat Makoto tertawa geli melihatnya.
"Begitulah. Nah ayo siap-siap!" jawab Makoto lalu menepuk kepala Haruka lembut.
"Tanpa kau suruh pun aku akan bersiap," ujar Haruka cepat. Lalu ia pun berdiri dan mulai menyiapkan dirinya untuk pergi berenang.
xxx
"Haru-chan! Mako-chan!" panggil seorang pemuda berambut pirang berombak dengan nada riang. Tangannya melambai dengan penug semangat kearah Makoto dan Haruka.
"Ohayou, Nagisa," jawab keduanya dengan serempak. Yang membedakan hanyalah nada keduanya yang saling bertolak belakang. Jika Makoto mengatakannya dengan nada riang, Haruka malah mengucapkannya dengan nada lirih. Nagisa tertawa ketika menyadari hal itu.
"Senpai!" panggil seorang anak berkacamata bertubuh atletis itu dengan kencang seraya menunjuk sebuah kereta. "Keretanya sudah datang!"
"Tunggu kami, Rei-chan!" sahut Nagisa lalu melihat kembali ke arah Makoto dan Haruka.
"Saa- ayo berangkat!" kata Nagisa lagi dengan antusias dan disambut oleh anggukan kepala Haruka.
Dengan ceria, Nagisa lalu berlari kearah Rei. Meninggalkan Makoto dan Haruka berdua saja.
"Tanganmu, Haru-chan?" sebuah senyuman lembut milik Makoto terkembang sempurna di wajahnya begitu ia menawarkan tangannya pada pemuda beriris biru di hadapannya.
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan 'chan'," balas pemuda beriris biru itu sembari menerima tawaran pemuda yang merupakan teman masa kecilnya itu. Tangan mungilnya menggengam erat tangan Makoto, seolah jika tidak melakukan hal itu, Makoto pun akan ikut pergi seperti orang itu.
"Hai... Hai..." jawab Makoto sembari tertawa geli. Iris hijaunya kemudian menatap pemuda dihadapannya dengan tatapan sayang.
"Lalu kau mau dipanggil apa, Haru?" tanya Makoto lagi. Tangannya ikut mengenggam erat tangan Haruka.
"Entahlah... Aku tidak tahu..."
xxx
"Jadi, belum ada kabar apapun dari Rin ya?" tanya pemuda manis berambut pirang itu pada Makoto. Sebagai jawaban, Makoto hanya bisa menggeleng singkat.
"Sejak dia ke Australia, sama sekali tidak ada kabar darinya untuk Haru," jawab pemuda berambut hijau zaitun itu sembari menghela nafas lelah. Pemuda pirang yang tidak lain adalah Nagisa, hanya bisa ikut menghela nafas, lelah.
"Kasihan Haru-chan," gumam Nagisa sembari memperhatikan kolam dimana saat itu objek pembicaraannya dengan Makoto tengah asik berenang tanpa peduli akan sekitarnya.
"Aku benar-benar ingin menghajar Rin," ujar Makoto dingin. Kedua tangannya mengepal erat ketika mengatakan hal itu. Nagisa hanya bisa terkekeh pelan mendengarnya.
"Yah... Kalau dia kembali dari Australia ya!"
"Tachibana-senpai!" tegur beberapa gadis ketika melihat Makoto. Makoto menoleh kearah para gadis itu. Sebuah senyuman sopan dan lembut ala dirinya lalu terkembang sempurna begitu melihat para gadis, yang merupakan adik kelasnya di SMP itu. Dengan ramah, ia mulai membalas salam gadis-gadis itu dan mengajak mereka mengobrol meski matanya sesekali melihat ke arah kolam renang untuk memastikan bahwa keadaan Haruka baik-baik saja.
'Haru kan suka air. Jadi pasti baik-baik saja,' kata Makoto dalam hati untuk menegaskan bahwa dirinya yang mengkhawatirnya Haruka sunggulah sangat bodoh. Namun, tetap saja ia melirik kolam renang dan memastikan keadaan pemuda bersurai hitam tersebut.
'Eh? Mana Haru?' tanya Makoto bingung ketika ia tidak melihat sosok pemuda penyuka air itu tidak lagi berada di kolam.
"Tachibana-senpai!?
"Makoto..."
Gumaman halus nan datar itu segera menarik perhatian Makoto juga berhasil membuatnya membalik badannya dan mendapati sosok Haruka yang tengah berdiri dalam balutan celana renang ketat tengah menatap Makoto dengan tatapan cemburu.
'... Eh? Cemburu?'
"Makoto. Dimana tempat untuk membeli minum kaleng?" tanya Haruka datar sembari menatap tajam gadis-gadis di sekitar Makoto. Membuat gadis-gadis itu ketakutan dan kemudian agak menjauh dari Makoto.
"Errr... Di pintu utara ada mesin minuman kaleng sepertinya," ujar Makoto sambil berusaha mengingat-ingat letak mesin minuman itu.
"Antarkan aku kesana," ujar Haruka datar lalu mulai menarik tangan kekar Makoto menjauhi kerumunan gadis-gadis itu. Sebagai jawaban, Makoto pun mulai melangkahkan kakinya untuk menyamakan langkahnya dengan Haruka, meninggalkan para adik kelasnya tanpa berpamitan sedikit pun.
"Aku tidak suka... Kau dekat-dekat dengan para gadis itu..." gumam Haruka disela-sela perjalanan mereka. Makoto hanya memandangi punggung Haru dengan tatapan penasaran.
"Kenapa?"
"Entahlah... Aku tidak tahu..." gumam Haruka lemah. Pemuda bermarga Nanase itu hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Baiklah, aku tidak akan dekat-dekat dengan para gadis itu," jawab pemuda berwajah ramah itu pada akhirnya. Membuat perasaan Haruka menghangat begitu mendengarnya.
"Arigatou Makoto. Gomenasai..."
"Hm? Minta maaf untuk apa?" tanya Makoto bingung. Dahinya berkerut dalam tanda tidak mengerti.
"Maaf sudah melarangmu dekat dengan mereka. Padahal aku... bukan siapa-siapamu," jawab Haruka. Makoto hanya terkekeh pelan mendengar jawaban Haru.
"Kata siapa Haru bukan siapa-siapaku? Bagiku, Haru-chan sahabatku yang istimewa~" jawab pemuda bermarga Tachibana itu ceria. Membuat sang pemuda bermarga Nanase itu hanya bisa tersenyum tipis.
"Makoto..." panggil Haruka pelan. Makoto memandangi Haruka dengan tatapan penuh tanya.
"Nani?"
"Soal pernyataanmu sebulan yang lalu... Kurasa jawabannya adalah iya," lanjut Haruka pelan sembari tersenyum tipis pada Makoto. Makoto hanya bisa memandangi Haruka dengan wajah tidak percaya.
"Hontou ni?" tanya Makoto begitu bisa kembali bersuara. Sebagai jawabannya Haruka hanya mengangguk kecil.
"Arigatou, Haru-chan!" seru Makoto senang sembari menarik Haruka ke dalam pelukannya. Pemuda bersurai biru itu hanya bisa tersenyum begitu melihat tingkah teman masa kecilnya itu.
"Tenang saja. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku akan selalu menjagamu," janji Makoto sembari mengetatkan pelukannya pada Haruka.
Ya... Tidak akan seorang pun yang akan menyakiti Haruka lagi. Makoto akan menjamin hal itu...
TBC
Catatan:
-Ohayou: Versi singkat dari 'Ohayou Gozaimasu'. Biasanya diucapkan ke sesama teman dan bersifat non formal (?). Artinya tetap 'Selamat Pagi' atau 'Pagi'
-Arigatou: Sama kayak Ohayou. Ini versi singkat juga (?). Artinya ya 'Terima Kasih'
-Gomenasai: Maaf. Kalau versi singkatnya sih 'Gomen'
-Nani?: Apa?
-Hontou ni?: Benarkah?
