Disclaimer: Harry Potter milik J.K. Rowlings dan Vampire Knight milik Hino Matshuri

Warning: AU, OOC, slash, creature!fic, mpreg, typo, etc.

Rating: T


THE POMME DE SANG

By

Sky


Seminggu kemudian kita menemukan Kei tengah berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar mandinya, ia menatap dirinya yang tampak di sana. Remaja manis berambut pirang platinum itu mengenakan seragam laki-laki murid kelas siang Cross Academy seperti yang lainnya, namun refleksinya itu malah menggambarkan dirinya masih seperti anak perempuan meskipun ia sudah berpakaian seperti laki-laki. Kei memberikan glare pada refleksinya yang balik memberikan glare padanya, mungkin kalau ia mengenakan seragam perempuan pasti yang lainnya juga tidak akan sadar kalau dia adalah anak laki-laki. Kei terlihat begitu manis dan imut pada seragam barunya, ia memberikan senyuman kecil saat ia mengingat kesusahan yang harus ia jalani untuk mendapatkan seragam ini. Kepala sekolah yang bodoh itu terus memaksanya untuk mengenakan seragam murid perempuan, namun dengan glare yang Kei berikan padanya membuat Cross tutup mulut dan menyerah, namun tetap saja ukuran tubuhnya yang menjadi masalah. Kei dilahirkan dengan tubuh yang sangat kecil, hampir mirip dengan ukuran Yuuki, sehingga seragamnya pun sedikit telat dalam penerimaannya.

"Selamat pagi, Kei-chan." Sapa Yuuki saat Kei berjalan menuju kelasnya.

Sudah beberapa kali Kei menyuruh Yuuki untuk tidak memanggilnya dengan tambahan –Chan pada namanya, namun tetap saja Yuuki keras kepala dan memanggilnya dengan nama itu. Bahkan hari pertamanya pun adalah petaka, semua murid yang melihatnya mengira Kei adalah perempuan dan ini cukup memalukan bagi Kei namun menjadi hiburan bagi Zero dan Arashi ketika ia menceritakannya pada mereka, dan sampai saat ini juga meskipun semuanya tahu ia adalah laki-laki tapi masih banyak orang yang dalam penyangkalan, bahkan murid laki-laki pun masih sering mengajaknya untuk berkencan meskipun mereka tahu yang sebenarnya. Ingin sekali Kei meng-crucio mereka satu-satu.

"Selamat pagi, Yuuki. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Kei, ia memberikan senyum kecil pada gadis yang berusia jauh lebih muda dari dirinya itu.

"Aku baik-baik saja, oh apa kau tahu kalau seminggu lagi akan ada pesta dansa di Cross Academy? Pesta dansa ini sangat spesial di mana murid dari kelas siang dan murid kelas malam bisa bergabung." Ujar Yuuki dengan kilatan bahagia di sana.

Jadi itu alasan mengapa hampir semua murid yang ada di kelas siang menggila lebih dari biasanya, Kei kira itu adalah hal yang sangat normal namun nyatanya memang tidak.

"Em, sepertinya menarik kalau kau bertanya padaku." Komentar Kei yang datar-datar saja, perkataannya bertentangan

"Menarik? Ayolah, Kei-chan, ini adalah hal yang sangat super menarik dan menyenangkan, kita bisa berdansa, mengenakan gaun yang cantik..." Kei tidak mendengarkan perkataan Yuuki dan memilih untuk masuk ke dalam kelasnya. Kalau saja ia perempuan mungkin Kei akan menemukan semua itu menarik, tapi yang kita bicarakan ini adalah Kei atau orang yang bernama Draco Malfoy, laki-laki atau perempuan tetap saja ia tidak menemukan semua ini menarik.

Kei menghiraukan semua kebisingan yang dibuat oleh teman sekelasnya saat ia memasuki kelas, ia duduk di bangku paling belakang dan melamun lagi. Kei membayangkan dirinya terbang di atas sapu terbangnya seperti dulu lagi, perasaan bahagia dan bebas mengucur dalam tubuhnya, angin yang membelai wajahnya itu membuat sensasi luar biasa menetramkan perasaan remaja itu. Ia menggunakan metode itu untuk menghiraukan semua kebisingan dan antusias dari teman sekelasnya, kalau saja Kei boleh menggunakan sihirnya maka ia akan menggunakan Avada Kedavra pada dirinya sendiri agar ia tidak terjebak dalam antusias yang berlebihan dari murid perempuan lainnya. Namun sayangnya Kei masih sayang nyawa, dan tidak mungkin ia menggunakan kutukan pembunuh pada dirinya sendiri, mungkin ia bisa menggunakan pada mereka?

Pelajaran yang diberikan guru pun ia hiraukan, meskipun tubuhnya hadir di dalam kelas namun pikirannya melayang jauh entah ke mana. Kei barus tersadar dari lamunannya saat bel yang menandakan pelajaran berakhir berbunyi, dengan sangat sigap Kei membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas sebelum ia keluar dari kelas. Saat ini Kei tidak ingin kembali ke asrama, oleh karena itu Kei memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke kota terdekat dari Cross Academy.

Kei menghindari kerumunan murid-murid perempuan yang berjejer-jejer menunggu murid kelas malam yang menjadi idola mereka, remaja itu terus berjalan masuk ke dalam hutan dan ketika melihat situasi sudah aman, Kei berdissapparate dari sana untuk menuju ke kota. Ia muncul di salah satu gang terpencil yang ada di kota, ia berjalan-jalan menyusuri jalanan kecil yang ramai dan memberikan senyuman kecil pada beberapa orang yang menyapa dirinya. Kedua mata Kei menangkap pemandangan sebuah kafe kecil yang ada di ujung jalan, lokasinya sangat strategis dan kelihatannya cukup nyaman sehingga Kei memutuskan untuk masuk ke dalamnya.

Bunyi lonceng kecil yang ada di ambang pintu berbunyi saat Kei membuka pintunya, dugaan remaja itu benar kalau suasana di sana sangat nyaman. Pengunjungnya tidak terlalu ramai, namun Kei menyukai atmosfer yang ditimbulkan oleh kafe tersebut. Kei mengambil tempat duduk di samping jendela, ia meletakkan tasnya di kursi samping tempat duduknya dan mengamati pemandangan jalanan di sore hari dari balik jendela yang ada di sana.

"Selamat datang, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan yang menghampiri Kei.

Kei menoleh ke arah pelayan itu dan menemukan seorang laki-laki yang mungkin berusia beberapa tahun lebih tua dari Kei memberikan senyuman padanya, Kei balik membalasnya. "Aku ingin segelas Capucinno hangat dengan cream yang banyak." Jawab Kei.

"Itu saja?" tanya pelayan itu, Kei hanya mengangguk.

Pelayan tadi kembali ke dapur dan tidak beberapa lama kemudian ia balik ke tempat Kei dengan membawa pesanan remaja itu di atas nampan, Kei mengucapkan terima kasih dan pelayan itupun meninggalkannya sendiri. Kei menyeruput Capucinno hangatnya sambil menikmati pemandangan matahari yang terbenam, cahayanya yang berwarna merah kepucatan itu membuat Kei tersenyum karena merasakan tubuhnya menjadi rileks, sepertinya ia sudah lama tidak merasakan serileks ini.

Kei menghela nafas pelan, dan menggenggam kedua tangan kecilnya. Sepasang mata silver kebiruan itu menangkap sosok cincin elegant yang ia kenakan di jari manis di tangan kirinya, cincin itu sangat indah dan sederhana, Harry memberikan cincin itu saat keduanya mengucapkan janji suci untuk selalu bersama-sama sampai mereka menghembuskan nafas terakhir. Kei memejamkan kedua matanya, mencoba untuk menahan air mata yang ingin jatuh dari pelupuk matanya.

'Merlin, sepertinya kami tidak bisa menepati janji sehidup semati itu. Harry..' pikir Kei dengan getir.

Ia tersenyum, ekspresinya begitu sayu dan sedih, membuat sosok malaikat yang terus ia perlihatkan itu menjadi sangat abadi untuk disentuh oleh siapapun. Kei sudah seminggu berada di kota ini dan sudah sebulan lamanya pindah ke Jepang, namun ia masih belum bisa melupakan mendiang suaminya, mungkin memang mustahil baginya untuk melupakan kenangan manis dirinya dan Harry.

'Apa yang aku lakukan? Bagaimana mungkin aku bisa melupakan Harry!' pikir Kei.

Merasa dirinya sedikit depresi lagi, Kei membenamkan kepalanya di atas tumpuan kedua tangannya yang berada di atas meja. Ia memejamkan kedua matanya, dan pada saat itu Kei sadar kalau air matanya telah tumpah dan untuk sesaat Kei tidak peduli kalau ia tengah menangis di tempat umum, namun apa yang tengah terjadi itu tidak diketahui oleh pengunjung lainnya sebab Kei membenamkan wajahnya pada tumpuan tangannya. Tidak lama kemudian Kei pun merasakan kedua pelupuk matanya begitu berat, dan ia memutuskan untuk beristirahat beberapa saat saja sebelum ia kembali ke Cross Academy.

"Ugh.." desah Kei, ia merasakan kesadarannya kembali dan ia mengangkat wajahnya.

Kesadarannya belum pulih secara sempurna, tapi ia bisa mengatakan kalau hari sudah gelap dan sepertinya Kei ketiduran di dalam kafe. Saat kesadarannya pulih seratus persen, ia menyadari kalau ada seseorang yang duduk di hadapannya tengah memperhatikan dirinya. Kei menatap ke depan dan matanya bertemu dengan sepasang mata lavender milik sang Mr. Prefect dari Cross Academy.

Kei membelalakkan kedua matanya, Zero ada di sini dan duduk dengan santainya di hadapan Kei seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Zero duduk dengan santai sambil menyeruput secangkir kopi hangat, tapi kedua matanya tidak meninggalkan wajah Kei begitu saja.

"Kiryuu-san, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kei, bingung dengan apa yang terjadi.

Zero meletakkan cangkir kopinya di atas meja dan menatap Kei seolah-olah remaja itu adalah orang bodoh.

"Mungkin aku yang harus bertanya padamu, Suzumiya. Kau telah melanggar peraturan sekolah untuk tidak keluar dari lingkungan Academy namun kau berada di sini, aku tidak mengerti bagaimana kau bisa berada di sini sementara semua gerbang yang ada di Academy tertutup dengan rapatnya." Ujar Zero, ia pun melanjutkan lagi, "Dan untuk menjawab pertanyaanmu itu, kepala sekolah menyuruhku untuk membeli beberapa bahan untuknya di kota."

"Maaf." Hanya itu yang Kei katakan sebelum ia menatap tangannya.

"Huh, sudahlah."

Mereka berdua duduk dalam diam, untuk sesaat Kei memperhatikan pemuda yang duduk di hadapannya itu. Kei harus mengakui kalau Zero itu adalah laki-laki yang sangat tampan dan menarik perhatiannya, dengan rambut yang berwarna silver, kulit alabaster, dan sepasang mata lavender itu membuat penampilan Zero sangat menonjol. Sementara kepribadian Zero yang dingin itu malah membuat nilai tambah bagi dirinya, dan aura yang mengatakan kalau ia sangat berbahaya namun sedih pada saat yang sama itu juga membuat Kei semakin tertarik pada pemuda yang ada di depannya tersebut. merasa pikirannya melantur ke mana-mana, Kei merasakan wajahnya memanas dan memerah. Ia menyembunyikan hal itu dengan menatap ke arah jalanan.

"Suzumiya." Panggil Zero.

Kei menoleh padanya, dalam hati ia berharap wajahnya tidak memanas lagi.

"Kita harus kembali ke Academy sekarang juga!" ujar Zero lagi.

Merasa tidak percaya dengan apa yang akan ia katakan, Kei memilih untuk tidak menjawab dan menganggukkan kepalanya saja. Setelah membayar tagihan mereka berdua, baik Kei dan Zero keluar dari dalam kafe. Keduanya berjalan beriringan dalam diam, tidak satupun dari mereka berdua ingin mengatakan sesuatu, meskipun begitu suasana yang menyelimuti keduanya sangat nyaman. Baik keduanya tidak ingin membuyarkan suasana itu, tidak hanya sekali Kei mencuri pandang ke arah Zero yang berjalan di sampingnya, dan tidak pertama kalinya apa yang dilakukan oleh Kei itu tertangkap basah oleh Zero yang membuat remaja manis itu blushing lagi. Melihat tingkah Kei yang imut itu membuat Zero memberikan seringai tipis.

Kei merasakan dunia ini tidak adil, ia merasa dirinya sangat pendek saat ia berjalan di samping Zero yang tinggi. Mungkin ia harus menggunakan sihir untuk membuat tubuhnya lebih tinggi lagi, namun Kei ragu kalau sihir yang seperti itu ada.

Suasana nyaman di antara mereka buyar saat keduanya mendengar teriakan tidak jauh dari sana, Kei merasakan sihirnya menjadi liar saat aura aneh menusuk kulitnya. Ini bukan pertama kalinya Kei merasakan hal yang seperti ini, di sampingnya juga Zero merasakan hal yang sama namun tentu saja bukan sihir yang Zero rasakan. Tanpa mengucapkan sesuatu, mereka berdua berlari ke arah sumber suara itu. Dan Kei merasakan dirinya terkejut hebat saat ia melihat sekumpulan vampire tengah memangsa seorang wanita yang mulai kehilangan kesadaran, mereka berjumlah tujuh orang dan Kei mempunyai firasat kalau vampire yang bukan murid Cross Academy itu pikirannya sudah dibutakan dengan haus darah.

"Suzumiya, berada di belakangku!" perintah Zero, ia memberika glare kepada ketujuh vampire itu dan Kei sedikit terkejut saat Zero mengeluarkan sebuah pistol berbentuk aneh dan menembakkannya ke arah mereka.

Dan pertarungan pun tidak terelakkan lagi, Zero menangkis serangan para vampire dengan Bloody Rose sementara Kei melihat Zero bertarung. Kelihatannya perhatian para vampire itu tidak lagi berada pada mereka saat mereka mencium aroma harum dari tubuh Kei, mereka mencoba menyerang remaja itu namun usaha mereka gagal karena Zero terus menangkis serangan mereka bertujuh. Zero melepaskan pelatuk dari Bloody rose saat seorang vampire Level E menyerang Kei lagi dari belakang, dan kali ini tembakannya tepat mengenai kepala sang vampire dan mambuatnya hancur menjadi debu.

"Sial!" runtuk Zero, ia menembakkan Bloody Rose ke arah vampire yang mencoba menerkam Kei, dan membuat vampire itu hancur menjadi debu. "Mengapa Level E muncul di tempat seperti ini."

Kei melihat Zero melindungi dirinya dengan menembakkan beberapa peluru ke arah vampire, kedua mata silver kebiruan Kei menatap sosok Zero yang terus bertarung itu.

"Zero!" teriak Kei saat salah satu dari level E berhasil mencakar Zero di dadanya, membuat pemuda itu terhuyung.

"Cepat lari?" perintah Zero.

Kei merasakan radarnya mengatakan 'bahaya' padanya, ia menoleh dan mendapati Level E itu menyerang dirinya. Karena Kei tidak mempunyai pilihan lagi, oleh karena itu ia menggunakan sihirnya.

"Incendio!" gumam Kei, dan api yang besar muncul di sekeliling Kei dan melindungi dirinya.

Tiga orang level E yang tidak sempat melarikan diri pun berubah menjadi debu saat api sihir milik Kei yang panas itu menyambar tubuh mereka dengan cepat, Kei menatap tiga Level E yang selamat dari serangannya.

"Kalian benar-benar membuatku kesal sekali. Bombarda maxima!"

Sebuah ledakan hebat membuat dua orang Level E hancur, tinggal satu vampire lagi dan pekerjaannya beres untuk malam ini. Namun saat Kei akan mengucapkan Incendio lagi, ia mendapati tubuh vampire itu berubah menjadi debu karena tembakan yang Zero berikan padanya.

"Sepertinya kita berdua sama-sama memiliki rahasia." Kata Zero dengan nada puas di sana.

Kei menoleh ke arah Zero dan membantu pemuda itu berdiri.

"Jangan bicara dulu, bagaimana lukamu?" tanya Kei khawatir.

"Aku baik-baik saja, kau sendiri?"

Kei menggelengkan kepalanya, ia melihat ke arah wanita yang menjadi korban tadi dan menemukan dirinya bersedih saat mengetahui nyawa dari wanita itu sudah tidak tertolong lagi.

"Kalau saja kita lebih cepat maka ia tidak akan tewas seperti ini." Gumam Kei yang masih memegang lengan Zero.

Zero memilih untuk tidak memberikan komentar, ia sendiri masih belum pulih akan keterkejutannya melihat remaja kecil yang memegang lengannya itu mampu menghabisi lima vampire Level E dengan sangat mudah. Berbagai pertanyaan muncul di benak Zero akan siapa sebenarnya Kei Suzumiya itu, atau lebih tepatnya apa sebenarnya Kei itu?

Seperti tahu tentang apa yang ada di benak Zero, Kei memberikan senyum kecil kepada pemuda berambut silver tersebut, namun senyum itu sedikit meredup saat Kei melihat darah yang merembes dari luka Zero.

"Apa ini bayanganku atau memang kenyataan kalau kau memang terluka parah?" tanya Kei dengan seringai kecil.

Merasa tahu kalau remaja bertubuh kecil itu tengah menggodanya, Zero memberikan tatapan ganas pada wajah Kei, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Kedua mata Zero terbelalak lebar saat ia melihat telapak tangan Kei diselimuti oleh aura yang berwarna putih, ia merasa begitu hangat saat tangan kecil yang berselimut aura tersebut Kei tempelkan pada dadanya yang tengah terluka. Seperti halnya keajaiban terjadi, Zero tidak lagi merasakan sakit, lukanya tertutup begitu sempurna saat Kei mengalihkan tangannya, memperlihatkan kulit putih bersih tanpa bekas luka sedikitpun. Satu hal yang mengingatkan Zero kalau dirinya tengah terluka adalah bercak darah yang masih menempel pada kemeja yang tengah ia kenakan.

"Bagaimana mungkin kau bisa menyembuhkan aku dalam sentuhan saja?" tanya Zero tidak mengerti pada apa yang dilakukan oleh Kei.

Kei memberikan senyuman kecil yang penuh dengan misteri, ia mengacungkan telunjuk kanannya di depan bibir pink-nya, "Anggap saja itu adalah kekuatan rahasiaku yang kugunakan untuk menyembuhkanmu."

"Kau tidak mau memberitahuku?"

"Tentu saja tidak, aku punya rahasia dan kau juga punya rahasia sendiri, dan kita tahu kalau baik aku dan dirimu tidak ingin memberitahukan rahasia kita masing-masing. Jadi anggap saja kalau kita impas." Kata Kei dengan senyum kecil, dalam hati ia menambahkan kalau ia tahu akan rahasia Zero sebagai vampire.

Zero menatap Kei untuk beberapa saat, apa yang Kei katakan memang benar kalau mereka berdua punya rahasia dan tidak ingin dibicarakan, masuk akal juga. Tapi ada satu hal yang mengganjal pikiran Zero, apakah kekuatan yang Kei miliki itu sangat berbahaya bagi mereka? Secepat pikiran itu muncul, cepat pula hilangnya sebab bagaimanapun juga Kei telah menolongnya, dan apabila Kei itu berbahaya atau menjadi musuhnya pasti sudah sejak tadi Zero mati.

"Baiklah, kita tidak akan membicarakan hal ini lagi. Anggap saja kalau semua ini tidak pernah terjadi." Kata Zero pada akhirnya.

Kei mengangguk mengerti, "Setuju." Jawabnya dengan senyum kecil di wajah manisnya.

Dengan itu baik Kei dan Zero berjalan beriringan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke arah Cross Academy, rahasia apapun yang disembunyikan oleh Kei, Zero harap itu tidak akan membahayakan dirinya ataupun Yuuki.


"Kei, apa kau harus selalu menggangguku di saat-saat seperti ini?" tanya Arashi untuk kesekian kalinya. "Kau bisa membaca di tempat lain."

Kedua mata hitam milik Arashi menatap ke arah remaja berwajah manis yang merupakan putra baptisnya itu, Kei hanya memberikan sebuah tatapan terhibur pada Arashi sebelum melanjutkan kegiatannya yaitu membaca sebuah buku. Mereka berdua tengah berada di dalam kelas Arashi, tepatnya sebelum murid kelas malam masuk ke dalamnya.

"Tentu, hal ini jauh lebih menarik dari yang kau duga, Arashi." Jawab Kei tanpa berpaling dari bacaannya.

"Mungkin memang menarik untukmu, tapi kau membuatku tersiksa."

Kei tersenyum kecil, ia membalik bukunya ke halaman selanjutnya. "Apa kau khawatir kalau murid-murid 'unik'mu akan meminum darahku sampai kering?" tanya Kei.

Untuk kesekian kalinya mantan professor pelajaran ramuan dari Hogwarts itu menghela nafasnya, tentu saja ia khawatir dengan kemungkinan yang Kei katakan tadi, bagaimanapun juga darah dari seorang High elven seperti milik Kei itu memiliki rasa yang jauh lebih manis dari darah manusia atau penyihir lainnya. Tidak hanya itu saja, kepekatan dan kekuatan yang terkandung dalam darah seorang High elven itu sangat besar, bahkan bisa memberikan keabadian bagi peminumnya. Jadi tidak heran kalau Arashi sangat khawatir pada Kei yang terus-terusan mengunjungi kelasnya, apa yang membuat remaja itu ke tempat ini pun sama sekali tidak ia ketahui.

"Godfather." Panggil Kei lembut, membuat Arashi melihat ke arahnya. "Like I said a few days ago, don't worry about me. Aku bukan anak-anak lagi yang membutuhkan perlindungan ekstra."

Kei menatap pemandangan yang ada di luar jendela di kelas Arashi, dari sana ia bisa melihat langit yang mulai berwarna merah keoranye-an, menandakan kalau hari telah sore. Ia tidak suka melihat ekspresi khawatir di wajah Arashi, ia tidak ingin menjadi beban bagi siapapun dan tidak ingin membuat Arashi atau siapapun bernasib sama seperti suaminya karena terlalu khawatir pada keselamatan Kei.

'Harry.' kata Kei dalam hati, hatinya masih terasa begitu perih namun gembira pada saat yang sama ketika mengingat nama itu.

"Kei." Panggil Arashi, ia sedikit khawatir ketika melihat ekspresi sedih melintang pada wajah Kei.

"Aku tidak apa-apa, mungkin aku harus kembali ke asrama matahari." Ujar Kei dengan nada ceria di sana, namun Arashi tidak tertipu dengan nada itu.

Ada satu hal yang membuat putra baptisnya seperti ini, dan memikirkan apa itu saja sudah membuat Arashi tidak suka. Ia hanya ingin melihat wajah manis Kei penuh dengan senyum dan kegembiraan seperti dulu, tidak ada beban berat yang dipikul oleh putra baptisnya, kalau saja Arashi boleh memiliki keinginan untuk dikabulkan maka ia akan menggunakan hal itu untuk membuat Kei melupakan semua kesedihannya.

Arashi melihat Kei turun dari salah satu bangku yang menjadi tempat duduknya tadi, remaja itu berjalan menuju ke arah pintu, namun Arashi mencegahnya dengan memegang pinggang kecilnya dan memeluknya dari belakang, membuat Kei terperangkap dalam tubuh kekar milik ayah baptisnya.

"Arashi, apa yang kau lakukan?" tanya Kei sedikit bingung dengan tindakan ayah baptisnya.

Arashi menghiraukan pertanyaan itu, "Aku hanya ingin kau tahu kalau aku selalu ada di sini, jangan memendam semuanya sendirian. Aku dan ibumu selalu mendukungmu, Kei." Kata Arashi.

Untuk sesaat Kei tidak mengatakan apa-apa, ia mencoba mencerna perkataan itu sambil merasakan kehangatan dari figur ayahnya tersebut. Arashi membuat Kei sangat nyaman, seperti yang Kei rasakan terhadap Lucius. Mungkin Arashi tidak bisa menggantikan figur Lucius Malfoy sebagai ayah kandungnya, namun Kei sendiri sangat mencintai Arashi layaknya ia mencintai ayahnya, dan hal itu saja sudah cukup untuk membuat hatinya merasa hangat.

"Terima kasih, Godfather." Ujar Kei, ia memberikan senyum manis kepada ayah baptisnya.

Arashi membalas senyuman itu sebelum melepaskan tubuh Kei, ia senang saat ekspresi wajah Kei sudah tidak menampakkan kesedihan seperti tadi meskipun senyuman sayu itu masih muncul di wajah manis putra baptisnya. Senyuman Arashi semakin berkembang, membuatnya jauh tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya, saat Kei mencium pipi kirinya dengan lembut.

"Aku pergi dulu, be a good teacher, Godfather!" kata Kei dengan senyuman sayu sebelum ia keluar dari kelas Arashi.

Kei merasa hatinya begitu longgar setelah keluar dari kelas Arashi, ayah baptisnya memang tidak pernah berubah, selalu merasa khwatir pada dirinya namun Kei tidak akan memprotesnya sebab Kei tahu kalau kekhawatiran itu adalah cara Arashi menunjukkan kepada dunia kalau ia peduli pada Kei. Wajah Kei menjadi gloomy lagi saat ia memikirkan apa yang terjadi di dalam kelas tadi, entah mengapa namun semenjak ia berada di Cross Academy Kei sedikit sulit untuk mengontrol emosinya seperti dulu lagi.

Apa ini adalah imbasnya karena Harry telah melumerkan es batu yang menghuni hati Kei? Mungkin itu memang benar, Harry selalu memiliki cara untuk melumerkan es yang membekukan hati Kei. Kei masih ingat dengan sangat jelas sebelum ia bertemu dengan Harry, dirinya adalah orang yang sangat dingin yang orang-orang biasa memanggilnya dengan Ice prince (atau mungkin lebih cocoknya kita memanggil Kei dengan Ice princess atau Ice Queen), Kei tidak bisa terbuka kepada siapapun terkecuali kepada keluarganya. Namun kebiasaan itu sedikit demi sedikit menjadi lumer saat Harry memasuki kehidupannya, sejak saat itu Kei menjadi terbuka kepada Harry dan kepada teman-temannya, ia mulai banyak tersenyum, bahkan ia mulai bisa mempelajari apa itu cinta dari Harry. Dan ketika Harry meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya, hal ini bisa diibaratkan cahaya mulai menghilang dari jiwa Kei.

Jujur, dari semua orang yang sedih atas kehilangan sosok seorang Harry, Kei-lah yang paling terpukul atas kenyataan itu. Remaja itu meremas seragam yang menutupi dadanya, rasanya begitu sakit menerima kenyataan kalau Harry sudah tidak ada di sampingnya.

'Ayolah, Malfoy, kau harus bisa menguasai dirimu.' Pikir Kei kepada dirinya.

Kei menghentikan langkahnya, ia menyandarkan tubuhnya pada dinding yang ada di koridor kelas tersebut sebelum memejamkan kedua matanya. Ia mencoba untuk merilekskan pikirannya dan membuat dirinya tenang, Kei mengambil nafas panjang untuk beberapa kali untuk mengusir semua rasa sedihnya. Beberapa menit telah berlalu dan kita masih menemukan Kei dalam posisi yang sama, dan ketika Kei telah merasakan dirinya cukup baikan, ia membuka kedua matanya.

Betapa terkejutnya remaja berwajah manis itu ketika ia membuka kedua kelopak matanya, ia menemukan dirinya menatap dua buah bola mata berwarna merah marun milik sang presiden asrama bulan sendiri. Kaname Kuran kalau tidak salah adalah namanya, ia menatap Kei dengan kalem dan Kei bisa mengatakan kalau Kaname sedikit khawatir dengan dirinya.

"Suzumiya-san, apa kau baik-baik saja?" tanya Kaname, suaranya yang begitu dalam itu secara tidak langsung membuat tengkuk Kei merinding.

"Ah, aku baik-baik saja, presiden Kuran." Jawab Kei dengan suara kecil, ia bisa merasakan wajahnya sedikit memerah saat menyadari sang pangeran vampire itu berdiri begitu dekat dengan tubuh Kei.

"Apa kau yakin? Wajahmu sedikit pucat." Kata Kaname lagi, ia menghiraukan wajah manis Kei yang begitu kontras dengan semu merah di sana. Kaname cukup senang karena bisa membuat manusia manis di hadapannya ini blushing.

Kei menatap Kaname untuk sesaat, ia bertanya-tanya dengan apa yang Kaname lakukan di sini kalau jadwal bagi murid kelas malam belum datang. Harus Kei akui kalau Kaname itu sangat menarik, bahkan semua vampire itu sangat menarik, namun Kaname itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh vampire lain. Kalau saja Kei tidak tahu suaminya telah meninggal, maka Kei akan mengatakan sang pangeran vampire yang berdiri di hadapannya ini adalah suaminya. Harry dan Kaname itu memiliki wajah yang sangat sama, mulai dari tinggi badan sampai helai akhir rambut. Aura mereka sama-sama mengandung kekuatan yang sangat besar, bahkan meneriakan kebangsawanannya di sana. Meskipun aura mereka sedikit mirip, Kei bisa menemukan perbedaan di antara keduanya, aura mereka sangat berbeda namun mirip pada saat yang sama. Satu hal yang membuat Kaname dengan Harry berbeda adalah bila Kaname memiliki rambut yang lebih panjang dengan sepasang mata merah marun, maka Harry memiliki rambut yang lebih pendek dari Kaname dan sepasang mata emerald cemerlang yang sangat Kei cintai. Meskipun mereka berdua memiliki wajah yang sama, namun mereka begitu berbeda. Oh... betapa Kei sangat merindukan Harry sekarang ini.

Pertama kali Kei bertemu dengan sang pangeran vampire ini, ia sendiri juga terkejut melihat Kaname. Ia sempat berpikir apakah orang ini adalah Harry, namun setelah melihat aura Kaname, maka Kei dapat menyimpulkan kalau Kaname bukanlah Harry dan Harry bukanlah Kaname, mereka sangat berbeda bagaikan langit dengan bumi.

"Kau tidak perlu terkejut, sudah sejak dulu aku memang pucat." Jawab Kei dengan lembut, "Apa yang kau lakukan di Academy pada jam segini, presiden Kuran? Bukankah jadwal dari murid kelas malam masih dua jam lagi?"

Kaname tersenyum kecil, tapi Kei bisa melihat senyuman dari Kaname begitu palsu sebab kedua matanya masih menatap Kei dengan dingin.

"Aku hanya ingin bertemu dengan Arashi-sensei, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada beliau. Kau sendiri bukankah dari sana?" tanya Kaname.

Kei tidak menjawabnya, ia hanya mengangguk pelan. Ada satu hal yang membuat Kei penasaran dengan perkataan sang pangeran, sebenarnya apa yang ingin Kaname tanyakan? Ia tidak bodoh kalau Kaname akan menanyakan masalah sekolah dan sebagainya, pasti ada sesuatu yang Kei lewatkan. Tapi apa itu?

Remaja berwajah manis itu menghiraukan rasa penasarannya, ia yakin kalau ayah baptisnya itu bisa menangani semua ini sendirian dan Kei tahu kalau Arashi tidak ingin dirinya terlibat dengan urusan vampire.

"Kalau begitu aku pergi dulu, aku tidak ingin menghambat perjalananmu untuk menemui Arashi-sensei." Kata Kei, ia beranjak dari sana dan akan meninggalkan Kaname sebelum sang pangeran memanggilnya. "Iya."

Kaname memberikan senyuman kecil yang palsu seperti biasanya, ia menyodorkan setangkai mawar merah yang sedari tadi ia pegang dari tadi kepada Kei.

"Eh, apa ini?" tanya Kei tidak mengerti.

"Ambillah, aku harap kau menjadi lebih baikan lagi, Suzumiya-san." Ujar Kaname lagi. Ia tersenyum lagi saat Kei menerima bunga mawar merah itu dan mencium aromanya.

"Terima kasih, presiden Kuran." Sahut Kei dengan senyuman lembut di wajah manisnya. "Aku pergi dulu, selamat sore." Setelah mengatakan itu Kei berjalan meninggalkan Kaname.

Untuk sesaat Kaname hanya menatap sosok kecil Kei, ia tidak mengerti untuk apa ia melakukan hal itu lagi. Belum pernah ia memberikan perhatian lebih kepada murid kelas siang selain Yuuki, dan mengapa ia memberikan perhatian lebih kepada Yuuki adalah hal yang masuk akal, tapi kepada murid baru itu? Kaname tidak mengerti, ia hanya merasakan kalau ada sesuatu yang memanggil jiwa sang pangeran untuk ingin dekat kepada remaja yang berwajah rupawan tersebut. Apapun itu, Kaname tidak tahu apakah ia harus merasa senang ataupun kesal, murid baru yang bernama Kei Suzumiya itu merupakan misteri bagi dirinya.


Author: Sky