Disclaimer: Baik Harry Potter maupun Vampire Knight bukan milikku

Warning: Slash, AU, OOC, Mpreg, etc

Rating: T

Pairing: KanamexDraco, HarryxDraco

Genre: Romance, Drama


THE POMME DE SANG

By

Sky


Kei menemukan dirinya berada di tempat yang tidak ia ketahui, ia melihat ke segala arah untuk mencari sesuatu yang membuatnya familiar tentang tempat itu, namun hasilnya sama saja yaitu ia tidak tahu ada di mana. Remaja itu mendapati dirinya berada di sebuah kastil yang sangat besar, kastil itu sudah tua namun Kei mengagumi keindahan yang ada di dalamnya. Meskipun terlihat seperti kastil biasa, tetapi Kei masih bisa merasakan sihir kuat yang menyelimuti tempat itu, siapapun yang berada di tempat itu bukanlah orang yang sembarang.

Sihir adalah hal yang tidak asing lagi bagi Kei, selama hidupnya Kei selalu dikelilingi oleh sihir, entah itu sihir netral maupun sihir yang berdasarkan nafsu sang penggunanya, bahkan sekolah asal Kei sendiri adalah sekolah yang membantu muridnya untuk mengontrol sihir mereka. Meskipun begitu, tempat ini membuat perasaan Kei tidak menentu dan hal itu membuatnya sedikit kesulitan untuk mengontrol sihir yang ada di dalam tubuhnya.

Remaja berwajah manis rupawan tersebut tidak mengerti bagaimana ia bisa berada di sana, hal terakhir yang ia ingat sebelum berada di tempatnya berdiri sekarang adalah... tidak ada, Kei tidak ingat apa-apa sebelum ini. Semuanya tidak masuk akal, ia serasa berada di dunia lain yang tidak ia kenal. Kei menggenggam kemeja depannya, mencoba untuk menenangkan jantungnya yang berdebar keras. Sesuatu yang berada di tempat ini membuat ingatannya mengarah pada sesuatu yang begitu melankolis, suatu hal yang membangkitkan kenangan Kei akan masa lalunya bersama seseorang. Kedua mata Kei terbelalak lebar saat ia mendengarkan sebuah senandung indah yang keluar dari sebuah piano, melodi itu sangat kuat dan jantung Kei berdegup semakin keras saat mendengarnya.

"Tidak mungkin." Hanya itu yang melesat keluar dari bibir Kei saat ia mendengar melodi yang indah tersebut.

Tanpa sadar kedua kaki Kei membawanya mengikuti ke arah melodi itu berasal, ia tidak peduli seberapa jauh kedua kakinya membawa Kei dan ataupun rasa capek yang ia rasakan. Kei harus memastikan siapa yang memainkan melodi itu, bahkan tanpa sadarpun air mata Kei mulai bercucuran saat ia menuruni anak tangga dari istana indah itu. Sesuatu tengah menunggunya di sana, sesuatu yang sangat berharga bagi diri Kei.

"HARRY!" teriak Kei saat ia berada di ujung tangga istana dan menemukan seseorang tengah memainkan sebuah grandpiano yang berada di sana.

Punggung orang itu berhadapan dengan Kei, namun Kei bisa melihat tubuh kekar milik laki-laki yang memainkan piano tersebut. Air mata Kei bercucuran lagi saat kedua jemari milik sang pemain piano menghentikan permainannya, sang pemain itu tidak berbalik ke arahnya namun ia berdiri dari tempat duduknya, membuat jubah hitam panjang yang ia kenakan memberikan kesan begitu majestic bagi sang pemain melodi tersebut.

"Hello, my little angel." Sapa sang pemain melodi tersebut, suaranya begitu dalam dan terdengar sangat indah di telinga Kei. Saat ia menengok ke belakang, sepasang mata emerald yang berkilat miliknya bertemu dengan sepasang mata silver kebiruan milik sang remaja berwajah manis tersebut.

"Harry, apakah itu dirimu?" tanya Kei dengan suara pelan dan perlahan, ia tidak menggunakan suara keras sebab ia takut ketika Kei menggunakannya maka Harry yang berdiri di hadapannya itu hanyalah sebuah ilusi dan meninggalkan dirinya di sana sendirian.

Mendengar suara indah dari suaminya itu membuat senyuman manis muncul di wajah tampan Harry, ia berbalik dan membuka lebar kedua tangannya untuk Kei. Dan seperti yang telah ia perhitungkan sebelumnya, Kei pun berlari dan jatuh ke dalam pelukan hangat dari dirinya sebelum ia menenggelamkan wajahnya pada dada Harry.

"Draco, aku sangat merindukanmu." Kata Harry lembut, ia membelai rambut pirang platinum milik suaminya dengan lembut. Senyuman bahagia Harry berubah menjadi senyuman sayu saat ia menyadari kalau tubuh Draco menjadi lebih kurus sekarang. "Kau terlihat begitu manis seperti biasanya. My little angel, my cute Draco."

Kei tidak menjawab Harry, ia hanya memejamkan kedua matanya sambil menikmati pelukan hangat dari suaminya tercinta, Kei sangat merindukan hal ini dan selama tiga bulan belakangan ini ia mulai berpikir kalau ia tidak akan menemukan pelukan sehangat ini lagi. Kei merasakan aura Harry, ia berpikir kalau auranya sangat familier namun ternyata tidak. Kei menemukan aura yang dimiliki oleh Harry sedikit berbeda dari sebelumnya, aura milik Harry masih sama namun ada sesuatu yang berbeda, tetapi hal itu tidak membuat Kei merasa tidak nyaman pada pelukan suaminya. Remaja itu melepaskan pelukannya dari Harry tanpa menjauh dari tubuh kekar Harry, ia menatap pada sepasang mata emerald yang sangat ia kagumi itu. Kedua mata itu terlihat begitu berkilat lebih dari biasanya, efek dari hilangnya kacamata yang dikenakan oleh Harry membuat kedua matanya begitu cemerlang.

"Apakah ini adalah mimpi?" desah Kei perlahan, ia meraba kedua pipi Harry.

Ia menemukan Harry memberikan senyum lembut padanya, kedua matanya terlihat begitu sayu seperti ada maksud tersembunyi di dalamnya yang Kei tidak ketahui apapun itu. Keduanya tidak mengatakan apa-apa, hanya saling bertatapan satu sama lain.

Perasaan yang berkecamuk menjalar dalam tubuh Kei, ia tahu kalau semua ini adalah ilusi dan meskipun ia tahu tetapi Kei tidak mau mengakuinya, ia berharap apa yang ia lihat adalah nyata, tidak akan menghilang dalam pandangannya ketika ia membuka kedua kelopak matanya. Remaja berparas seperti malaikat tersebut memberikan senyuman lembut pada suaminya, ia merasa senang karena bisa melihat wajah suami yang sangat ia cintai tetapi ia juga tidak bisa memungkiri kalau ia juga merasakan kesedihan yang sangat mendalam karena kenyataan yang ada, Harry tidak mungkin hidup sebab ia telah meninggal dan Kei sangat yakin dengan hal itu sebab ia adalah orang terakhir yang berada di samping Harry sewaktu suaminya memejamkan kedua matanya untuk selamanya.

Tapi, apakah Kei tidak boleh untuk merasakan egois untuk sesaat? Ia ingin Harry terus berada di sampingnya dan tidak akan meninggalkannya, dengan itu Kei meremas kemeja Harry dengan sanga erat. Remaja itu berjinjit pelan dan meletakkan tangan kanannya pada bahu kiri Harry sementara tangan kirinya berada di belakang kepala Harry, mencoba untuk mendekatkan wajah suaminya dengan dirinya, dan pada saat itu Kei pun mencium bibir Harry. Remaja itu merasa senang saat Harry balas menciumnya, lidah mereka pun saling berduel untuk menemukan siapa yang paling dominant dan Kei pun dengan senang hati mempersilakan Harry untuk mendominasi dirinya. Tanpa sadar Kei memejamkan kedua kelopak matanya untuk merasakan hangatnya tubuh Harry.

"Kita akan bertemu lagi." Desah Harry pada telinga Kei, membuat Kei untuk membuka kedua matanya. "You're mine, angel, don't forget it."

Betapa shock-nya Kei saat ia mendapati Harry sudah tidak berada di sana, ia benar-benar sendirian di tempat asing tersebut. Berbagai perasaan berkecamuk satu sama lain, salah satunya adalah rasa panik yang menyelimuti Kei. Kei tidak merasakan kehadirannya, hanya saja yang Kei rasakan adalah rasa sakit yang sangat intensif pada dadanya, dan saat ia melihat ke bawah ia pun menemukan sebuah panah yang terbuat dari emas tertancap begitu dalam pada dada kirinya, tepat di mana jantungnya berada. Darah yang segar merembes dari dadanya, membuat kemeja putih yang ia kenakan ternoda oleh darah. Panah itu pun tanpa sadar juga membuat sihirnya menjadi liar, Kei tidak mempunyai kekuatan untuk mengendalikannya sebelum sihir miliknya akan menghancurkan dirinya sendiri. Sebelum Kei kehilangan kesadarannya, hal terakhir yang Kei lihat adalah sepasang mata kelabu yang menatapnya tanpa emosi di sana.

Saat mimpinya berakhir, Kei membuka kedua kelopak matanya. Nafasnya terengah-engah, keringat bercucuran dari pelipisnya dan jantungnya berdetak begitu keras. Tanpa sadar Kei meraba dada kirinya, ia tidak menemukan panah emas Appolon ataupun rembesan darah dari sana, ia mencoba untuk fokus pada tempat di mana ia berada dan beberapa menit kemudian Kei baru sadar kalau ia masih berada di dalam kamarnya yang ada di Cross Academy.

'Ternyata hanya mimpi.' Pikir Kei, ia memejamkan kedua matanya lagi dan mengambil nafas panjang untuk mengontrol sihirnya yang sejak tadi mulai tak terkontrol. Kei hanya berterima kasih karena ia ingat untuk memasang sihir peredam di kamarnya, sehingga baik bau, suara, maupun sihirnya tidak akan terasa di luar ruangan itu.

"Harry." ujar Kei lembut. Ia merasakan kekosongan di dalam hatinya saat ia tidak menemukan Harry berada di sampingnya.

Kei memeluk bantalnya dengan erat, ia menenggelamkan wajahnya pada bantal itu saat air matanya mulai bercucuran dari pelupuk matanya.


Di sebuah kastil besar yang letaknya begitu tersembunyi oleh sihir, seorang sosok tengah berdiri di depan sebuah jendela besar yang ada di sana, ia menatap pemandangan sang cakrawala yang mulai bersinar bersama terbitnya matahari.

"Lady Malfoy, apa yang anda lakukan di pagi-pagi seperti ini?" tanya sebuah suara lembut dari seorang wanita yang bernama Shizuka Hiou.

Narcissa Malfoy atau Lady Malfoy tersebut tidak menjawab Shizuka, kedua matanya masih fokus pada pemandangan menakjubkan yang ia lihat menghiasi langit pagi. Wanita itu memejamkan kedua matanya, merasakan sihir yang menyelimuti tempat tinggalnya tersebut begitu familier. Sihir milik putranya memang sangat kuat, dan Narcissa bisa merasakan hal itu dengan sangat jelas. Draco memang memiliki sihir dan kemauan yang sangat kuat, bahkan Narcissa sendiri tidak segan-segan untuk menyebut putranya sebagai penyihir yang sangat kuat namun begitu keras kepala, tapi Narcissa tahu kalau semua itu Draco gunakan untuk menyembunyikan hatinya yang begitu rapuh. Anak itu memang telah seperti itu semenjak ia lahir, tetapi semuanya bertambah begitu berat saat Harry meninggal. Semua yang ada di dunia ini memang tidak adil bagi bagi putra tersayangnya, Draco adalah putra kecil manisnya yang seharusnya mendapat sesuatu yang membahagiakan dirinya, bukan untuk membuatnya sedih seperti ini. Kalau saja sihir memperbolehkan Narcissa untuk memutar waktu, Narcissa memilih untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki segalanya, ia ingin membuat putra semata wayangnya selalu tersenyum, tidak pernah sedih seperti apa yang ia rasakan saat ini.

"Seperti yang kau lihat sendiri, Shizuka, aku tengah melihat cakrawala." Ujar Narcissa dengan suara lirih.

Postur tubuh dari sang Lady Malfoy membuat Shizuka kagum pada wanita itu, wanita yang ada di depannya tersebut adalah figur seorang ibu yang sangat kuat, selalu menyayangi keluarganya dan mau melakukan apa saja untuk menjaga kebahagiaan keluarganya. Namun takdir memang berkata lain, tragedi yang begitu berat telah menimpa wanita cantik ini, Shizuka merasakan simpati dan kekagumannya terhadap seorang Narcissa Malfoy semakin tinggi.

Kedua mata biru cemerlang milik Narcissa beranjak dari pemandangan alam yang sedari tadi ia lihat, kini ia menatap sang putri vampire dengan tatapan sayu seperti biasanya.

"Aku merasa berterima kasih karena kau mau menghadiri undanganku, Shizuka." Kata Narcissa.

Shizuka memberikan senyum kecil pada Narcissa, "Ini adalah sebuah kehormatan bagi saya karena anda mau mengundang saya, Milady." Jawab Shizuka, "Manor anda kelihatan sepi pada pagi ini. Kalau boleh saya tahu, di mana master Draco sekarang?"

"Cross Academy." Jawab Narcissa singkat.

"Tempat itu? Mengapa Master Draco menginginkan tinggal di tempat seperti Cross, bukankah master Draco tidak begitu menyukai makhluk non-magical?" tanya Shizuka.

Sebuah senyum kecil muncul di wajah Narcissa, "Akulah yang mengirim Draco ke sana."

"Mengapa anda melakukan itu? Bukankah anda tahu kalau Kaname Kuran berada di sana? Ini adalah ide buruk kalau anda bertanya pada saya, Lady Malfoy." Kata Shizuka, nadanya menandakan keterkejutan di sana.

"Mungkin yang kau katakan memang benar, tapi mungkin juga salah. Jangan mempertanyakan alasanku mengapa mengirim Draco ke Cross Academy, tapi ini semua demi kebaikannya sendiri." Jawab Narcissa dengan nada dingin, 'Aku ingin Draco bisa melupakan kesedihan dirinya.' Narcissa menambahkannya di dalam hari.

Untuk kesekian kalinya sang Lady Malfoy itu menghela nafas panjang, andai saja Lucius masih hidup pasti suaminya itu tahu bagaimana menghadapi situasi yang semacam ini. Sampai bertindak dan bertahan sejauh ini adalah sebuah keajaiban yang Narcissa rasakan, keinginannya hanya satu untuk saat ini, yaitu bisa melihat Draco tersenyum lagi tanpa ada beban yang menghalanginya.

"Shizuka, aku punya sebuah permintaan padamu." Kata Narcissa pada wanita berambut silver yang ada di sampingnya.

"Apa itu, Lady Malfoy?"

Narcissa menatap sang vampire berdarah murni itu dengan tatapan kalem, ia memberikan seulas senyuman manis yang Shizuka ketahui adalah sebuah topeng, kedua matanya tetap dingin saat tersenyum begitu.

"Aku ingin kau pergi ke Cross Academy, Shizuka. Aku ingin kau melindungi putra tersayangku di sana, itu adalah permintaan terakhirku saat ini." Kata Narcissa, "Aku ingin kau melindunginya dari para vampire yang ada di sana, terutama dari Kaname Kuran. Kau adala satu-satunya orang yang kupercaya di sini."

Untuk sesaat Shizuka membatu, ia terkejut dengan permintaan dari Lady Malfoy. Ia tahu kalau Master Draco adalah remaja yang sangat kuat, bahkan kalau mau ia bisa mengendalikan para pureblood vampire dengan mudahnya seperti membalikkan telapak tangan, dan ketika ia mendengatkan permintaan seperti ini dari ibu Master Draco tentu membuatnya terkejut. Sebenarnya apa yang direncanakan oleh wanita ini?


AN: Terima kasih sudah mampir

Author: Sky