Disclaimer: Baik Harry Potter maupun Vampire Knight bukan milikku
Warning: Slash, Au, OOC, creature!fic, post war, typo, etc.
Rating: T
Pairing: HPDM, KKDM
Genre: Romance, angst, adventure
THE POMME DE SANG
By
Sky
Hari ini begitu berat bagi Kaname, para tetua vampire terus mencoba untuk memanipulasinya untuk kepentingan mereka yang tentu saja hal itu gagal sementara pekerjaannya sebagai pangeran tidaklah mudah, ia harus menjaga para vampire yang ada di Cross Academy dan tentu saja menjaga keselamatan adiknya yang tercinta. Kaname tahu kalau dirinya sangat kuat, bahkan vampire legenda yang menjadi dirinya itupun tahu akan hal itu, namun sekuat apapun dirinya tetap saja ia memiliki batasnya.
Hari itu matahari bersinar begitu terang sehngga membuat hari sedikit lebih panas dari biasanya, sebuah waktu yang sangat tepat bagi seorang vampire untuk beristirahat, namun sebanyak apapun Kaname mencoba memejamkan matanya tetap saja rasa kantuk tidak menyerangnya, meskipun ia merasa begitu lelah. Melihat ia tidak akan tertidur untuk sesaat lamanya, Kaname memutuskan untuk mencari udara segar di luar asrama bulan, mungkin dengan begini ia bisa tidur lebih nyenyak lagi. Dengan perlahan sang pangeran itu beranjak dari tempat tidur besarnya, ia mengambil sebuah kemeja berwarna biru laut dan mengenakannya. Tidak peduli dengan penampilannya (yang tentu saja selalu sempurna), Kaname keluar dari kamarnya dan berjalan keluar dari asrama bulan untuk menuju ke arah hutan. Satu hal yang Kaname harapkan adalah ia bisa bertemu dengan Yuuki, gadis itu selalu membuatnya semangat dan bahagia meskipun itu hanya saling bertegur sapa.
Dengan langkah tenang Kaname berjalan masuk ke dalam hutan, tidak pernah sekalipun ia memikirkan kalau tindakannya itu melanggar peraturan yang ada di Cross Academy, Kaname tidak peduli pada aturan itu meski ia adalah orang yang membuatnya bersama Kaien, masalah Kiryuu yang nantinya akan menangkapnya juga tidak pernah terbersit dalam pemikirannya saat ini.
Meski hampir semuanya tidak pernah terpikirkan olehnya, Kaname merasa begitu takjub dan hampir tidak percaya kalau ia akan bertemu dengan orang itu di tempat seperti ini, orang yang sering berada di dalam pikirannya semenjak mereka bertemu beberapa minggu yang lalu. Sekarang ini di hadapan Kaname tengah berdiri Kei Suzumiya yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya. Kaname melihat remaja manis itu dari atas sampai bawah, ia terlihat begitu sempurna, mirip seorang malaikat yang sangat manis.
Tubuhnya yang langsing hanya berbalut kemeja putih dan celana hitam, memperlihatkan lekukan tubuh yang sangat sempurna, pose tubuhnya sangat rileks dengan sebuah biola cantik berwarna ivory berada di bahunya, sementara itu tangan kanan Kei yang lentik memegang penggesek biolanya. Kaname memperhatikan kedua mata Kei tertutup, dia begitu larut pada permainan biolanya. Dalam artian singkat, Kei Suzumiya benar-benar mirip dengan gambaran seorang malaikat yang begitu elegant.
Kaname terus memperhatikan remaja itu memainkan biolanya, sosok yang ada di hadapannya itu membuat Kaname sedikit tertegun untuk sesaat, tidak pernah dalam mimpinya pun kalau ia akan menemukan sosok Kei yang lembut seperti ini. Senandung lembut yang Kei mainkan terdengar begitu pilu dan sedih, bahkan Kaname sendiri yang tidak mengerti dengan apa yang Kei rasakan saat ini begitu tersentuh ketika ia mendengarkan musik itu.
Rasanya Kaname ingin memeluk Kei dan membisikkan kata-kata manis di telinganya untuk mengusir kesedihan yang ada dalam hati Kei, apapun itu Kaname tidak suka ketika melihat wajah manis Kei berbalut kesedihan seperti ini. Seperti tertimpa oleh beban yang sangat berat, Kaname akhirnya tersadar dengan apa yang ia pikirkan. Bagaimana mungkin ia memikirkan sosok Kei ketika ia sendiri tidak begitu mengenal Kei? Seharusnya ia memikirkan Yuuki, sebab Yuuki adalah orang terpenting dalam hidupnya saat ini dan tidak memikirkan orang asing seperti Kei Suzumiya. Pemikiran seperti ini bukanlah yang pertama kali mampir di otak Kaname, meskipun sampai saat ini sang pangeran Kuran itu dalam penyangkalan tetapi ia tetap menemukan sosok remaja dari Inggris tersebut sangat menarik perhatiannya.
Kaname tahu kalau ada suatu hal yang membuatnya begitu tertarik pada diri Kei, ia tahu kalau itu bukanlah penampilan Kei yang sangat menarik (dalam hati Kaname menambahkannya sendiri), tapi karena ada hal yang tidak normal di dalamnya. Kaname mempunyai teori kalau Kei bukanlah manusia normal pada umumnya, sebab tidak ada manusia yang memiliki aroma darah yang sangat lezat seperti yang Kei miliki, terlebih lagi Kaname memperhatikan kalau ada hal tidak normal selalu terjadi di sekeliling Kei. Apapun jati diri Kei, Kaname akan terus menyelidikinya. Aura melankolis yang selalu muncul menyelimuti Kei pun juga membuat Kaname penasaran dengan latar belakangnya, tapi sejauh apapun Kaname menyelidikinya tetap saja ia tidak menemukan siapa Kei yang sebenarnya, rasanya seperti Kei tidak pernah ada sebelum ia muncul di Cross Academy.
Konsentrasi Kaname terpecah saat musik dari permainan Kei tidak terdengar lagi, kedua mata merah marun miliknya mendapati Kei berhenti memainkan biolanya, dan kalau saja Kaname bukanlah seorang pureblood vampire pasti ia akan merasa terintimidasi saat Kei menatapanya dengan sepasang mata silver kebiruan yang terlihat begitu dingin itu.
Untuk sesaat mereka hanya saling menatap satu sama lain, mereka berdua tidak mengucapkan sepatah kata apapun sebab dari tatapan saja semuanya sudah jelas.
Perasaan tegang yang menyelimuti mereka berdua perlahan-lahan mulai memudar saat Kei memberikan senyuman hangat kepada Kaname, remaja itu menurunkan biolanya dan memasukkannya ke dalam tas biolanya sebelum kembali menatap sang pangeran, hanya saja saat ini tatapannya tidaklah sedingin yang ia berikan seperti tadi.
"Kuran-san, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?" suara lembut yang keluar dari bibir mungil Kei mengejutkan Kaname. "Murid kelas malam seharusnya ada di asrama bulan saat ini."
"Aku bisa bertanya pada hal yang sama, Suzumiya-san. Bukankah saat ini seharusnya kau berada di dalam kelas." Kata Kaname.
Kei memberinya senyuman kecil, "Kepala sekolah Cross memberiku hari libur, jadi aku tidak masuk ke dalam kelas. Apa jawabanku membuatmu puas, Kuran-san?"
Untuk sesaat Kaname termenung memikirkan alasan mengapa Cross memberikan hari libur pada Kei, mungkin ia bisa menanyakannya nanti.
"Iya. Permaianan biolamu sangat bagus, saat mendengarnya tadi aku sampai mengira kalau kau adalah pemain biola profesional dalam orkestra." Komentar Kaname dengan senyum kecil, "Apakah itu rahasia kecilmu, Suzumiya-san?"
Wajah Kei memerah karena pujian Kaname, tidak banyak orang yang memberinya pujian mengenai permaian biolanya, bukan karena ia tidak bisa memainkan biola yang merdu tetapi karena Kei meman jarang menunjukkan permainannya kepada orang lain. Jadi Kei sedikit terkejut saat ia memainkan biolanya saat itu dan mendapati Kaname Kuran muncul dari semak-semak dan memberinya pujian.
"Kei, Kuran-san." Ujar Kei kecil, melihat wajah Kaname yang kebingunan akhirnya Kei melanjutkannya. " Panggil aku dengan Kei, rasanya aneh kalau orang-orang memanggil nama keluargaku terus menerus."
"Baiklah, Kei. Tapi kau harus memanggilku dengan nama Kaname." Kata Kaname, "Kau tadi belum menjawab pertanyaanku, Kei."
"Oh, aku bukanlah pemain biola profesional seperti maestro. Bermain biola hanya sekedar hobi saja." Jawab Kei, ia memeluk tas yang berisi biolanya dengan erat di dadanya. Biola ini adalah benda yang sangat berharga baginya, sebab benda ini adalah hadiah pertama yang Harry berikan padanya saat kencan mereka yang pertama.
"Tapi permainan biolamu sangat mahir, senandung yang kau mainkan juga penuh dengan perasaan. Kuharap kau mau memainkannya lagi." Kata Kaname, ia mengamati tingkah Kei untuk sesaat.
Kei melihat Kaname, senyum kecil yang berbalut dengan kesedihan muncul di sana. "Maaf, Kaname, aku sudah tidak memainkan biola lagi sesering dulu. Permainanku yang sekarang saja hanya untuk memastikan kalau biola ini masih bisa dimainkan atau tidak, maafkan aku untuk sekali lagi, Kaname."
"Meskipun itu hanya di hadapanku saja?" tanya Kaname, ia mencoba membujuk Kei untuk mengubah pendiriannya. Permainan yang bagus itu akan menjadi sayang bila tidak dimainkan lagi, terlebih lagi Kei sangat berbakat dalam memegang alat musik sehingga Kaname tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat permainan Kei yang sempurna itu.
"Maaf, aku sudah tidak bermain lagi sejak..." di sini nafas Kei merasa tercekat, ia ingin mengatakan kalau ia sudah tidak memainkan biola sejak Harry meninggal. Terakhir kali Kei memainkan serenade pada saat pemakaman Harry, pada saat itu ia terpaksa harus memainkan itu sebab Kei ingin menghormati suaminya dengan permainannya yang terakhir.
Seperti tahu inner konflik yang melanda dalam diri remaja yang berdiri di sampingnya itu, Kaname memutuskan untuk tidak mendesak Kei lagi sebab ia takut kalau Kei terus terdesak maka remaja itu akan menghindarinya di masa depan. Kaname mengganti topik pembicaraan mengenai hal-hal yang tidak penting dengan harapan mampu membuat suasana di antara mereka berdua menjadi ringan lagi, usaha yang dilakukan Kaname tidak sia-sia sebab Kei terlihat antusias ketika mereka membicarakan masalah Jepang dan bagaimana Kei beradaptasi di Jepang.
Sewaktu mereka berjalan sambil membicarakan sesuatu hal, Kaname tidak luput memperhatikan Kei yang perasaannya jauh lebih baikan dari pada tadi, hal ini tentu saja membuat Kaname tersenyum kecil.
"Kebudayaan yang ada di tempat ini tentu saja sangat berbeda, lebih kental dari yang kukira sebelumnya. Aku cukup senang bisa datang ke tempat ini, kurasa apa yang ibu katakan memang benar kalau Jepang adalah tempat yang indah." Kata Kei.
"Jadi ibumu yang menyuruhmu untuk darang ke tempat ini?" tanya Kaname sedikit penasaran.
Kei mengangguk kecil, wajahnya masih diselimuti aura melankolis tetapi saat ini lebih baik daripada tadi. "Iya, ibu yang memberikan ide padaku. Kupikir datang ke tempat ini adalah ide buruk, tapi aku tidak bisa berkata 'tidak' pada ibu."
"Lalu bagaimana pemikiranmu tentang Cross Academy sekarang ini?" tanya Kaname, sedikit penasaran dan ingin mencari tahu tentang sosok misterius Kei itu.
"Entahlah, aku tidak bisa mendiskripsikannya." Jawab Kei singkat.
"Oh, begitu." Kata Kaname, sedikit kecewa dengan jawaban Kei, tetapi ia tidak menunjukkannya pada Kei. Kaname meletakkan tangan kanannya di atas kelopak matanya, mencoba untuk menghalangi sinar matahari secara langsung menyentuh kedua matanya.
"Tapi kurasa Cross Academy cukup menarik, memang sedikit berbeda dengan sekolahku yang dulu. Bangunan yang ada di sini memiliki arsitektur klasik yang sangat bagus."
Kaname tersenyum kecil, "Kau benar-benar berbeda dengan murid kelas siang yang kutemui selama ini."
"Berbeda bagaimana?" Tanya Kei dengan nada lembut.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu berbeda dari mereka, tapi aku bisa merasakannya seperti saat ini."
Di sini Kei tersenyum misterius melihat tingkah sang pangeran vampire, sinar matahari dengan vampire adalah musuh abadi sejak zaman dahulu. Meskipun sinar matahari tidak membunuh vampire, namun sebagian vampire sangat sensitif akan cahayanya sehingga sebisa mungkin mereka akan menghindari matahari, karena alasan itulah vampire akan terlihat lebih aktif di malam hari ketimbang di siang hari. Sedikit berbeda dengan satu vampire yang Kei kenal, suaminya tidak pernah mendapat masalah dengan cahaya matahari sehingga ia sama sukanya menghabiskan waktu baik di siang hari maupun di malam hari. Senyum Kei sedikit meredup saat mengenang suaminya. Kei benar-benar merindukan Harry berada di dekatnya.
Sedikit yang orang ketahui mengenai Harry, sebenarnya Harry berasal dari garis keturunan keluarga pureblood vampire tertua yang pernah ada. Baik keluarga Potter maupun Black memiliki garis keturunan vampire di sana, dan karena Harry memiliki darah Potter maupun Black (dari neneknya, yaitu Dorea Potter nee Black) maka menjadikan Harry mewarisi karakteristik vampire, terlebih lagi Lily Potter yang sebenarnya berasal dari keluarga vampire de Lune (Lily adalah putri adopsi keluarga Evans) adalah ibu Harry maka darah vampire yang ada dalam tubuh Harry menjadi lebih kental. Tapi karena darah Harry bercampur dengan darah manusia, hal ini menjadikan Harry vampire level B, namun sebuah keajaiban terjadi saat Harry berusia 16 tahun dan mendapatkan heritage-nya seperti perubahan dalam dirinya, ia tidak berubah menjadi vampire pada level B melainkan menjadi salah satu dari pureblood vampire. Kei memiliki teori mengenai hal ini, ia berpendapat kalau perubahan genetika dalam tubuh Harry disebabkan sihir yang ada dalam tubuhnya sangat kuat, tidak heran kalau ia berubah menjadi pureblood vampire.
Berbicara mengenai suaminya memang tidak ada habisnya, bagaimanapun juga Kei sangat bangga pada Harry meskipun itu sangat menyakitkan. Kei melihat jam tangannya, ia sedikit terkejut kalau hari sudah semakin sore. Remaja itu memberikan salam pada Kaname sebelum kembali ke dalam asrama matahari.
Kei masuk ke dalam kamarnya sebelum mengunci pintu kamarnya, ia memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang gurunya berikan padanya. Namun belum sampai ia duduk di atas kursi meja belajarnya, seekor burung hantu berbulu cokelat masuk ke dalam kamarnya melalui jendela yang terbuka. Kei yang mengenali burung hantu itu milik Blaise segera melepaskan sebuah surat yang tergantung di kaki burung tersebut, setelah memberikan sebuah biskuit padanya, Kei membiarkan Hades (nama peliharaan Blaise) terbang keluar dari dalam kamarnya. Dengan perlahan Kei melepaskan segel keluarga Zabini yang ada dalam surat itu untuk ia baca, rupanya Blaise mengetahui di mana Kei berada sekarang dan memutuskan untuk bertemu dengannya jam tujuh malam nanti. Melihat hari ini adalah akhir pekan, Kei memutuskan untuk memenuhi undangan teman lamanya itu.
Tepat saat jam tujuh malam pada hari itu kita menemukan Kei tengah berjalan menyusuri kota untuk menuju ke tempat pertemuannya dengan Blaise. Kei berjalan berada di bawah payung berwarna hijau emerald, mencoba untuk berlindung dari hujan yang mengguyur kota kecil itu. Untuk sesaat Kei berhenti, ia mendongak ke atas langit untuk melihat guyuran gerimis hujan di malam itu, meskipun tubuhnya terlindung di bawah payung tapi beberapa tetes air yang bening tersebut menghampiri wajahnya ketika ia menegadah ke atas. Kei tersenyum kecil, sejak dulu ia sangat menyukai hujan gerimis seperti saat ini, butiran air yang bening selalu membuatnya tenang seperti seorang bayi yang tengah tidur dan berada dalam belaian ibunya, sementara angin yang menyertai hujan meskipun itu sangat dingin namun sangat menyejukkan. Saat-saat seperti ini Kei sangat ingin melempar payung yang melindungi tubuhnya lalu berlari menghampiri hujan, ia tidak peduli kalau bajunya basah ataupun suasananya yang sangat dingin, Kei tidak memperdulikan karena ia sangat menyukainya. Namun keinginan kekanak-kanakannya harus ia tahan terlebih dulu, ia ada pertemuan yang jauh lebih besar daripada mengikuti permintaan yang bodoh itu.
"Kau masih menyukai hujan sama seperti dulu 'kan, Draco." ujar sebuah suara yang sangat Kei kenal sejak ia masih kanak-kanak.
Tanpa melihat ke belakang, Kei sudah tahu siapa pemilik suara itu. Kei bisa membayangkan pemilik suara tadi tengah berdiri di belakangnya dengan senyuman kecil khas di wajahnya.
"Blaise, senang bisa mendengarmu lagi." Balas Kei, kali ini ia menoleh ke belakang untuk melihat temannya.
Blaise Isaiah Zabini, temannya sejak ia masih bayi sampai sekarang sama sekali tidak berubah. Blaise masih tampan dengan wajah oriental Italianya, berkulit kecoklatan, berambut hitam tebal dan sepasang mata hazel yang cemerlang. Tubuhnya jauh lebih tinggi dan kekar dari Kei, baik Harry dan Blaise itu dapat diartikan sebagai Mr. Tall-dark-and-handsome. Kei masih bisa tersenyum ketika ia teringat kalau dirinya pernah iri pada Blaise mengenai hal itu, Kei tidak pernah suka bila orang selalu mengatakannya cantik, imut, atau sebutan lainnya yang lebih sering ditunjukkan pada perempuan, Kei ingin menjadi seperti Blaise ataupun Harry dengan tubuh kekar dan wajah maskulin, tapi sayangnya gen dari Malfoy dan Black tidak mengijinkan demikian, sehingga ia terus terkutuk dengan keadaan seperti ini. Pretty boy adalah sebutannya ketika masih di Hogwarts, dan kelihatannya sebutan itu tidak akan tanggal sampai kapanpun, bahkan remaja laki-laki di Jepang yang terkenal dengan penampilan bishounennya masih kalah manis dengan Kei, Kei tidak tahu harus menganggap itu sebagai pujian atau malah lelucon.
"Mau berlindung di bawah payungku?" tawar Kei sambil mengangkat payungnya.
Kei memperhatikan keadaan temannya yang dari ujung rambut sampai sepatu basah kuyup dengan tatapan penuh humor, dia tidak pernah membayangkan kalau Blaise lebih suka basah-basahan seperti ini semenjak usia keduanya masih kanak-kanak, Kei masih ingat saat mereka masih kecil baik Blaise maupun dirinya sangat suka bermain di bawah guyuran hujan sampai mereka berdua basah kuyup, yang tentu saja membuat Narcissa dan Olivia selalu menegur mereka berdua. Kebiasaan itu sudah semakin berkurang saat usia keduanya menginjak delapan tahun ketika mereka berdua mulai serius sebagai penerus keluarga. Kei menghela nafas panjang, bertemu dengan Blaise di tempat seperti ini benar-benar membuatnya terbayang akan kenangan masa kecil.
"Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku bisa menggunakan mantra pengering untuk mengeringkan pakaianku." Ujar Blaise.
"Di hadapan para muggle?" tanya Kei dengan penuh humor.
Blaise tersenyum kecil, "Tidak kalau aku melakukannya dengan hati-hati."
"Oh, di toilet ternyata. Kau memang tidak berubah, Blaise. Baiklah, kita ke tempat pertemuan yang sudah kau janjikan." Sahut Kei, ia berjalan duluan meninggalkan Blaise di sana, yang tentu saja disusul oleh Blaise dengan cepat sehingga mereka berdua berjalan beriringan. "Ada satu cafe yang sering kukunjungi di kota kecil ini, teh dan es krim yang mereka sajikan di sana sangat nikmat."
"Aku harap mereka memiliki Earl Grey di sana."
"Tenang saja, mereka mempunyainya kok." Kata Kei, "Kita di sini sekarang."
Blaise menatap bangunan kecil yang Kei maksud, bangunan itu terlihat seperti café kecil dengan perapian yang hangat berada di dalamnya. Saat Blaise menginjakkan kaki ke dalam bangunan tersebut, ia mengenali kalau tempat ini mirip dengan Leaky Couldron, hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang memiliki sihir, hanya saja tempat ini lebih mirip dengan café kecil dengan perabotan klasik yang modern daripada bar sihir yang kumuh seperti yang ada di Inggris. Blaise menggumamkan mantra pengering yang membuat baju dan tubuhnya menjadi kering, sementara Kei melipat payung yang tadi ia kenakan dan menaruhnya ke dalam tempat payung yang ada di sudut ruangan.
Mereka berdua masuk ke dalam café dan mengambil tempat duduk di samping perapian yang hangat di sana, setelah memesan teh hangat untuk Blaise dan coklat panas untuk Kei, keduanya diam untuk sementara waktu.
"Bagaimana kabar yang lainnya, Blaise?" Tanya Kei kepada temannya.
Blaise meletakkan cangkir teh hangatnya dan melihat ke arah temannya, "Mereka baik-baik saja, Dray. Setelah perang berakhir beberapa bulan yang lalu mereka memang sedikit terguncang, tapi sekarang sudah mendingan. Theo mulai mengambil pekerjaannya sebagai Lord dari keluarga Nott dengan serius, begitu pula dengan Pansy dan Daphne melihat mereka adalah anak tunggal dari keluarga masing-masing. Tahun ini Hogwarts kembali buka, semua murid-murid angkatan kita masuk ke dalam tahun kedelapan dan hanya tujuh orang dari asrama Slytherin yang mengisi tahun ajaran ini termasuk diriku." Kata Blaise dengan senyum kecil di wajahnya.
"Kau kembali lagi ke Hogwarts? Kukira kau dari semua orang lebih memilih Durmstrang ketimbang Hogwarts kalau kau punya kesempatan untuk pindah." Ujar Kei, "Apa yang membuatmu berubah pikiran?"
"Entahlah, mungkin waktu yang merubahnya." Jawab Blaise, ia tertawa kecil saat ekspresi temannya terlihat lebih lembut daripada dulu. "Kau tahu, Dray, Hogwarts terasa berbeda tanpa ada dirimu dan Potter di sana."
"Benarkah? Kupikir tanpaku maupun Harry rasanya akan tetap sama saja."
"Apa kau bercanda? Tanpa kalian berdua Hogwarts terasa begitu membosankan. Pansy saja mengatakan kalau dirinya bisa mati kebosanan tanpa hiburan di sana."
"Bukankah ada Weasley dan Granger di sana?"
Blaise memberikan ekspresi pahit ketika Draco mengatakan mantan teman baik dari Harry, "Mereka itu lebih mirip menjengkelkan. Semenjak perang berlalu beberapa bulan yang lalu keluarga Weasley menerima penghargaan yang seharusnya diterima Potter dan dirimu, si Weasel (Ron Weasley) malah mengatakan kalau dia adalah pahlawan yang hebat dan seterusnya, sementara Granger tidak melakukan apa-apa kecuali mendukung Weasel. Dan yang paling menjijikkan mereka berdua saat ini bertunangan."
"Benarkah? Kurasa tidak lama lagi kau akan melihat anak-anak kecil dari Weasel akan berkeliaran di Hogwarts." Ujar Kei, senyum penuh humor terlukis di wajahnya ketika ia melihat ekspresi Blaise berubah dari pahit menjadi menunjukkan rasa jijik.
"Kalau itu terjadi, kurasa aku akan segera pindah dari sana."
Baik Blaise dan Kei tertawa kecil karena itu, mereka berbicara mengenai apa yang terjadi dengan teman-teman mereka yang saat ini masih berada di Hogwarts. Ada humor maupun pahit yang Kei rasakan ketika Blaise menceritakan hal itu padanya, jujur Kei akui kalau ia sangat merindukan segelintir teman yang ia miliki dan pindah ke tempat ini adalah sebuah langkah yang sebenarnya menyakitkan bagi Kei karena harus berpisah dengan mereka semua. Tapi kalau Kei tidak pergi dari Inggris, sampai kapanpun ia tidak akan sembuh dari luka hatinya, sudah banyak kenangan pahit tentang orang-orang yang ia sayangi pergi di sana sehingga Kei tidak bisa tinggal di Inggris lagi. Narcissa yang melihat keadaan putranya semakin hari semakin parah akhirnya memutuskan untuk pindah secara diam-diam dari Inggris.
Meskipun saat ini luka hatinya masih dalam penyembuhan, Kei masih belum rela untuk melupakan semuanya. Panggil saja Kei itu seorang masochist, tapi Kei akan lebih memilih mati daripada untuk melupakan semuanya, terutama bila kenangan itu adalah kenangan mengenai mendiang suami tercintanya. Memang hampir semua kenangan itu sangat menyakitkan, tapi bagi Kei semua itu adalah harta yang tidak bisa dibeli dengan semua harta kekayaan yang ia miliki di beberapa brankas milik keluarga Malfoy yang ada di Gringots.
"Ceritakan padaku, Dray, apa saja yang kau lakukan di kota kecil seperti ini?" Tanya Blaise.
"Tidak banyak yang bisa kuceritakan padamu, Blaise. Beberapa minggu setelah kami tiba di Jepang, ibu memasukkanku ke dalam satu sekolah yang ada di kota ini. Mungkin kau pernah dengar tentang Cross Academy?" ujar Kei, ia menganggap Blaise mengerti karena ia diam saja, sehingga ia pun melanjutkan lagi. "Cross Academy adalah sekolah muggle pada umumnya, namun lebih elit dan spesial karena di sekolah ini tidak hanya muggle saja yang memasukinya, vampire juga mendapatkan pendidikan di sana. Tentu saja muggle yang ada di sini tidak tahu kalau beberapa murid yang ada di Cross Academy adalah vampire."
"Oh, apakah para vampire yang ada di sekolah muggle ini meminum darah dari murid-murid muggle?" Tanya Blaise.
"Kurasa tidak, mereka mendapatkan nutrisi dari tablet yang bernama pil darah, begitu yang Severus katakan padaku."
Kedua mata Blaise terbelalak lebar, "Severus? Maksudmu Severus Snape? Orang sama yang pernah menjadi kepala asrama Slytherin kita dan terkenal sebagai professor paling menyeramkan sepanjang masa itu?!" Blaise terlihat tidak yakin dan sangat terkejut.
Kei tertawa melihat ekspresi teman baiknya tersebut, "Iya, dia orang sama seperti yang kau katakan. Severus Tobias Snape yang pernah bersumpah untuk tidak mengajar lagi setelah Hogwarts, jadi aku juga sangat terkejut ketika bertemu dengannya di sini."
"Merlin, Theo pasti akan menganggapku gila kalau aku menceritakan hal yang menakjubkan ini padanya. Merlin, professor Snape sebagai guru di sekolah muggle."
Bayangan Blaise mengenai Severus yang menjadi guru di Cross Academy dan bagaimana dia menakut-nakuti murid-muridnya membuat gelak tawa dari Blaise dan Kei terdengar, mereka tertawa terpingkal-pingkal untuk beberapa saat, bayangan Snape itu memang penuh dengan sensasi humor dan mereka berdua pun tidak berhenti untuk tertawa.
10 menit kemudian saat mereka berhasil menguasai diri untuk tidak tertawa lagi, Kei pun melanjutkan ceritanya kalau para vampire yang ada di Cross Academy berada di kelas malam, mereka memiliki satu pureblood yang memimpin mereka.
"Kaname Kuran? Putra dari Haruka dan Juuri Kuran yang tewas beberapa tahun yang lalu?" Tanya Blaise.
"Satu-satunya." Hanya itu jawaban dari Kei.
Kei tidak heran kalau Blaise tahu akan hal itu, mereka berdua berasal dari keluarga penyihir pureblood dan keluarga tertua yang memiliki sihir murni mengalir dalam nadi mereka, mereka tentu tahu akan hal itu seperti membalikkan tangan kanan. Informasi vital mengenai apapun adalah makanan keseharian mereka, sehingga hal sekecil mengenai Kaname Kuran pasti mereka ketahui dengan mudah.
"Apakah Kuran tahu kalau kau adalah penyihir ataupun sebagai High Elf, Dray?" Tanya Blaise sedikit khawatir, darah seorang elf terlebih lagi High Elf mirip sebagai ambrosia bagi para vampire, begitu memabukkan. Tidak heran kalau Blaise khawatir terhadap temannya yang satu ini.
"Aku tidak tahu dan tidak peduli."
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu, Dray? Mereka bisa membunuhmu dengan mudah."
Kei tersenyum, "Memang, tapi kau harus ingat kalau aku adalah penyihir dan bukannya muggle. Apa kau lupa kalau aku menikah dengan salah satu dari jenis mereka?!"
"Potter memang pureblood vampire, tapi dia tidak bisa kau sebut sebagai vampire buas kalau dia sangat mencintaimu. Aku yakin kalau Potter akan lebih memilih untuk mati daripada menyakitimu, tapi yang kita bicarakan ini adalah vampire pada umumnya yang tidak segan-segan untuk membunuhmu."
"Sudah kukatakan, kau tidak perlu khawatir dengan keadaanku. Aku bisa menjaga diri."
"Aku tidak meragukan hal itu, kau selalu independent sejak kecil."
Kei tersenyum penuh kemenangan karena ia bisa membuat Blaise melihat ke arah pikirannya, mereka berdua menghabiskan waktu malam ini untuk membahas apapun. Kei sangat senang karena bisa bertemu dengan salah satu teman lamanya, mungkin sekali-kali ia harus mengunjungi temannya yang lain untuk merekatkan persaudaraan mereka.
Mereka berdua berbicara lebih dari tiga jam sejak keduanya masuk ke dalam café, hujan gerimis yang mengguyur kota kecil itu juga tidak kunjung reda selama mereka berada di dalam café. Banyak hal yang mereka bicarakan, salah satunya adalah bagaimana Blaise menghadapi kementrian sihir sebagai Lord Zabini sementara usianya masih belia, semua orang tahu kalau kementerian sihir dengan senang hati akan menghancurkan keluarga pureblood bila kepala keluarganya masih di bawah usia 20 tahun. Tapi satu hal yang mereka lupakan, mereka tidak bisa bertindak banyak ketika lawan yang mereka hadapi adalah murid asrama Slytherin yang terkenal sangat licik dan pandai memanfaatkan kesempatan yang ada serta memiliki kekuatan politik yang kuat, karena itulah Blaise tidak terlalu sulit untuk mengendalikan situasi di Inggris. Hal yang sama terjadi pula pada Kei, tidak ada yang berani mengangganggu Lord muda keluarga Malfoy dan Black karena kekuasaannya. Terakhir kali seseorang berani melakukannya, mereka memilih untuk mati ketimbang hidup sebab Kei memberikan pelajaran yang tidak bisa dilupakan pada mereka.
"Hei, apa kau masih leluasa menggunakan sihir?" Tanya Blaise tiba-tiba.
"Tentu."
"Bagaimana kalau kita bertaruh dalam sebuah permainan? Hanya kau dan aku dalam duel yang sering kita lakukan sewaktu masih di Hogwarts."
"Duel? Apa kau serius, Blaise?" Tanya Kei dengan seringai tipis di wajahnya, melihat kepala Blaise mengangguk pelan malah membuat seringai itu semakin melebar, "Kalau kau serius, bersiap-siaplah untuk menangis karena kau akan kupermalukan dalam duel."
Blaise memberikan senyuman penuh humor pada Kei, "Hei, kemampuan duelku sudah semakin meningkat sejak terakhir kali kita berduel. Kau 'kan belum tahu seberapa hebat kemampuanku, mungkin saja nantinya kau yang kupermalukan."
"Kita lihat saja nanti siapa yang menang, kau atau diriku."
Kei mengulurkan tangan kanannya yang dengan segera dijabat oleh Blaise sebagai persetujuan, secara positif mereka berdua akan berduel malam ini di bawah guyuran gerimis air hujan. Mereka berdua keluar dari dalam café setelah membayar minuman mereka (tentunya Kei yang membayar semuanya, mengingat ia memiliki kebanggaan diri yang besar dan tidak membiarkan Blaise untuk membayar minumannya). Keduanya berjalan beriringan untuk menuju tempat duel yang Kei katakan pada Blaise, tanpa mereka berdua sadari kalau sepasang mata biru dan sepasang mata kecoklatan tanpa sadar menangkap bayangan mereka berdua.
Malam ini adalah malam yang sangat menyebalkan bagi Hanabusha Aido, seharusnya malam-malam dingin seperti ini ia bisa bersantai di dalam kamarnya yang hangat atau meminum darah yang nikmat, apalagi malam ini ia mendapatkan jatah libur dari Kaname. Hanya saja rencana yang Hanabusha susun sejak beberapa waktu yang lalu harus hancur ketika Kaname memanggil dirinya dan sepupunya, Akatsuki Kain, ke dalam kantornya. Kaname menyuruh mereka berdua untuk mengeliminasi beberapa Level E yang muncul di kota.
'Level E terkutuk, kenapa juga mereka tidak musnah begitu saja. Menghancurkan malamku saja!' rajuk Hanabusha dalam hati, ia membunuh Level E terakhir yang ia temui pada malam ini. dengan tatapan bosan vampire beramput pirang keemasan itu menatap tumpukan abu tepat di mana Level E tadi berdiri.
Hanabusha melirik ke arah Akatsuki, ia menemukan sepupunya itu juga terlah selesai memburu beberapa Level E yang kabur.
"Kurasa ini yang terakhir, mungkin kita harus kembali ke Cross Academy dan melapor pada Kaname-sama." Usul Akatsuki.
Hanabusha mengangkat kedua tangannya ke atas untuk metenggangkan sendi-sendinya yang kaku, "Akhirnya selesai juga. Menyealkan sekali, mengapa juga mereka harus muncul di malam-malam yang dingin seperti ini, terlebih lagi pada waktu hujan." Keluhnya.
"Sudahlah, kita harus segera kembali sebelum Kaname-sama marah lagi pada kita."
"Iya-iya." Jawab Hanabusha singkat.
Mereka berdua meninggalkan tempat itu dengan cepat, hujan yang sedari tadi tidak reda-reda membuat emosi Hanabusha menjadi buruk. Ia lelah dan tidak ingin keluar untuk memburu para Level E yang bodoh itu, tapi Hanabusha tidak bisa mengatakan 'tidak' pada Kaname sebab bagaimanapun juga Kaname adalah pureblood, dan menolak seorang pureblood itu artinya adalah hukuman berat baginya. Hidup itu memang sulit, tapi Hanabusha tidak punya pilihan di sini.
Sang vampire level B tersebut tiba-tiba berhenti saat Akatsuki menarik tangan kanannya, Hanabusha yang sejak tadi tidak memiliki mood untuk bercanda langsung menoleh ke ara sepupunya untuk bertanya mengapa mereka berhenti tapi Akatsuki tidak membalasnya, ia malah menatap lurus ke depan. Merasa sedikit penasaran dengan apa yang membuat sepupunya aneh itu, Hanabusha mengikuti arah pandang Akatsuki dan betapa terkejutnya saat ia menemukan salah seorang murid kelas siang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Biasanya Hanabusha tidak akan peduli kalau itu adalah murid kelas siang, mereka tidak pantas untuk mendapatkan waktunya, tapi ia tertarik karena murid kelas siang yang dimaksud adalah murid pindahan yang bernama Kei Suzumiya, murid paling misterius yang pernah Hanabusha temui.
"Bukankah itu murid baru di kelas siang Cross Academy?" Tanya Hanabusha memastikan.
"Iya, apa yang ia lakukan di tempat seperti ini?" Tanya Akatsuki balik, mereka berdua memperhatikan Kei berjalan bersama dengan seseorang yang sama sekali tidak mereka ketahui.
Melihat gelagatnya, sepertinya baik Kei maupun orang asing itu sudah saling mengenal satu sama lain. Hanabusha menyipitkan matanya, ia memang tidak pernah tertarik dengan urusan murid kelas siang, tapi kasus Kei ini sedikit berbeda dengan kasus murid kelas siang lainnya. Kei itu pendiam dan kalem, namun kalau ia bisa menarik perhatian dari Kaname Kuran maka Hanabusha akan semakin penasaran terhadapnya, itulah yang membuat Hanabusha sedikit penasaran dengan murid baru yang pendiam tersebut. Setiap kali Hanabusha melihat Kei, ekspresi anak itu selalu kalem dan penuh dengan melankolis, seperti orang yang ditinggalkan oleh orang-orang tercintanya untuk selama-lamanya, entah apa yang membuat Kei seperti ini tapi hal itu membuatnya penasaran.
Hanabusha dan Akatsuki memutuskan untuk mengikuti Kei, mereka penasaran dengan apa yang dilakukan oleh murid kelas siang pada jam-jam seperti ini, bukankah murid kelas siang dilarang keluar dari pekarangan Akademi?
Mereka berdua mengikuti Kei yang tengah berjalan bersama orang asing tersebut memasuki sebuah hutan yang ada di pinggiran kota kecil. Saat orang yang mereka buntuti itu berhenti di sebuah lapangan tersembunyi yang ada di hutan itu, baik Hanabusha dan Akatsuki menyembunyikan diri mereka di balik sebuah pohon besar sehingga mereka tersembunyi dari jarak pandang Kei.
"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Hanabusha tidak mengerti, ia melihat Kei berdiri di hadapan orang asing itu sejauh lima meter.
Baik Kei dan orang asing itu mengeluarkan sebuah tongkat dari jaket mereka berdua dan saling menunduk untuk memberikan hormat bagi satu sama lain.
"Apakah tempat ini cukup bagus untuk berduel?" Tanya Kei pada Blaise yang berjalan di belakangnya.
"Tentu, aku tidak peduli ada di mana yang penting kita bisa berduel dengan bebas." Balas Blaise, mereka tiba di sebuah lapangan yang cukup luas.
Kei berjalan dan berhenti di hadapan Blaise, ia mengambil jarak sejauh lima meter di depan Blaise. Keduanya mengambil tongkat sihir mereka dari dalam jaket yang mereka kenakan, baik Blaise maupun Kei memiliki senyum kecil di wajah saat keduanya menyentuh tongkat sihir mereka. Bagi Kei hal ini sangat mengagumkan, ini adalah kali pertamanya ia berduel setelah perang selesai dan melihat lawannya adalah Blaise yang jago berduel tentu saja membuat adrenalin Kei semakin terpacu.
"Secara tradisional, Dray. Mari kita berduel sampai satu di antara kita berdua mengaku kalah." Kata Blaise dengan seringai kecil di wajah tampannya.
"Baiklah." Kata Kei, mereka berdua membungkukkan punggung mereka untuk memberikan hormat kepada satu sama lain. Memberikan hormat dengan cara membungkukkan badan ke depan adalah tradisi duel di dunia sihir, di mana pun mereka berada kalau mereka melakukan duel maka mereka tidak boleh melupakan tradisi tersebut.
AN: terima kasih sudah mampir
Author: Sky
