Disclaimer: Vampire Knight milik Matshuri Hino sementara Harry Potter milik J.K. Rowlings
Warning: Post!War, slash, OOC, OC, AU, etc
Rating: T
THE POMME DE SANG
By
Sky
Hanabusha membelalakkan kedua matanya saat ia melihat sesuatu yang sangat ajaib, duel yang Kei dan orang asing itu lakukan sungguh luar biasa, mirip dengan pertarungan vampire yang menggunakan kekuatan besar. Rasanya seperti melihat pertarungan di antara dua orang pureblood, keduanya melancarkan serangan dan sinar pada satu sama lain. Hanabusha merasakan matanya tambah melebar saat orang asing itu memanggil petir dari atas langit yang langsung menyerang Kei dengan brutal, namun anak laki-laki bermata silver kebiruan itu dengan lincahnya menghindar serangan petir dari lawannya, ia menghelat dan melompat sangat tinggi seolah-olah ia tengah terbang. Rasa takjub yang Hanabusha rasakan itu juga mirip dengan yang Akatsuki rasakan, mereka tidak tahu kalau dua orang manusia bisa menggunakan kekuatan yang hanya bisa dilakukan oleh vampire kelas tinggi, terlebih lagi kekuatan itu jauh lebih kuat dari yang mereka berdua ataupun murid dari kelas malam miliki.
Keduanya melihat Kei terus menghindar dari petir besar yang terus menyambar, ia menoleh ke samping dan menemukan sebuah sinar berwarna merah yang keluar dari ujung tongkat lawannya terbang ke arahnya dengan sangat cepat, sambil menghindari petir Kei juga mengayunkan tongkatnya untuk menangkis serangan berwarna merah dengan sinar berwarna kuning yang keluar dari ujung tongkatnya. Baik Kei mauapun lawannya saling menyerang satu sama lain dengan niat saling membunuh dan sangat brutal, bahkan tempat mereka bertarung pun dalam hitungan menit telah rusak. Pepohonan tumbang, tanah yang menjadi pijakan sekarang mulai hancur, begitu pula bebatuan. Lapisan es yang merupakan serangan dari Kei memerangkap api yang menyala, bahkan hujan yang mengguyur Kei dan lawannya pun berubah menjadi jarum yang sangat tajam dan siap menghunus lawan Kei, tentu saja serangan itu berhasil digagalkan dengan perangkap dari elemen tanah yang lawan Kei lakukan.
"Wow, duel ini sungguh luar biasa." Komentar Hanabusha dengan suara lirih, "Sebenarnya siapa mereka berdua ini?"
"Andai saja aku tahu jawabannya." Jawab Akatsuki yang sama takjubnya dengan Hanabusha, kekuatan yang dimiliki Kei mirip seperti yang Kaname-sama miliki, mungkin lebih besar malah.
Keterkejutan mereka berdua semakin bertambah saat mereka melihat tongkat sihir yang dimiliki oleh lawan Kei berubah menjadi sebuah pedang western yang berwarna perunggu. Akatsuki melihat ekspresi Kei masih tenang, seperti tidak terjadi apa-apa atau malah seperti ia tidak berduel dengan lawan yang kuat.
"Keluarkan benda itu, Dray! Aku ingin mencoba kekuatan yang sebenarnya dari senjataku ini." ujar lawan Kei kepada Kei yang berdiri dengan tenang menatapnya.
"Apa ibumu membuatkan pedang itu untukmu, Blaise?" Tanya Kei.
Lawan Kei yang bernama Blaise itu tersenyum kecil, "Apa yang kau harapkan dari wanita itu saat kau berkata demikian? Kakekku yang membuatkannya, aku mengambil benda ini dari dalam brankas keluarga di Gringotts sebelum diperbaiki oleh kakek."
"Jadi kau mulai serius?"
Blaise menyeringai, "Tentu saja, pemanasan yang kita lakukan kurasa sudah cukup. Sekarang saatnya aku akan mengalahkanmu."
"Baiklah kalau itu maumu, mon cherry." Kata Kei.
Kei memejamkan kedua matanya, sebuah kekuatan besar yang berpusat padanya mengitari tubuh kecil Kei. Mereka berdua bisa melihat mahkota mawar merah beterbangan dengan bebas saar angin mulai bertiup dengan kerasnya, namun yang membuat Hanabusha dan Akatsuki takjub adalah sebuah pedang berwarna silver platinum muncul di tangan kiri Kei. Pedang itu panjang, bertatahkan batu cemerlang berwarna emerald dan merah marun pada pegangannya, sementara pada pedangnya sendiri terdapat ukiran yang terlihat seperti huruf petir, sangat rumit. Meski terlihat seperti pedang, namun kedua vampire itu bisa merasakan kekuatan yang sangat besar berasal dari pedang silver platinum di tangan kiri Kei.
"Lunar, saudara dari Solar yang Potter pegang sampai kematiannya. Kau memang penuh dengan kejutan, Dray." Ujar Blaise.
Kei hanya tersenyum pahit mendengarkan penjelasan dari temannya, ia menggenggam pedang itu dengan erat. Hanabusha merasa ada sesuatu yang aneh antara Kei dengan orang yang Blaise sebut dengan Potter, sebab ini adalah pertama kalinya ia melihat Kei bersedih seperti itu ketika duel berlangsung di antara mereka berdua. Jadi pedang yang memiliki sumber kekuatan itu bernama Lunar? Lalu apa yang Blaise maksud dengan Solar?
Dan pertarungan yang membuat jantung kedua vampire berdegup keras pun akhirnya dimulai, tidak pernah sekalipun mereka melihat sebuah hal yang semenakjubkan seperti ini. Hanabusha merasa kalau Kaname-sama perlu mendengar hal ini.
Kaname masih menggunakan ekspresi dinginnya saat ia mendengar laporan dari Aido dan Kain, ekspresi wajahnya memang dingin tapi ia bisa merasakan sesuatu yang menakjubkan, panik, penasaran, dan ambisi yang keluar dari dalam dirinya ketika Hanabusha menceritakan pertarungan Kei dengan seseorang yang bernama Blaise.
Teori yang Kaname ciptakan beberapa hari yang lalu memang terbukti, Kei Suzumiya bukanlah manusia normal pada umumnya, tidak ada manusia yang bisa menggunakan kekuatan seperti itu. Sebelum ia mendengar cerita dari Hanabusha dan Akatsuki, Kaname telah menebaknya terlebih dahulu, aura yang keluar dari tubuh Kei sedikit berbeda dengan manusia pada umumnya, namun Kei bukanlah seorang vampire tapi sesuatu yang lain. Apapun itu Kaname tidak bisa menjangkaunya, tapi bukan berarti ia tidak akan mencari tahu. Kaname merasa khawatir kalau rencana yang ia siapkan sejak lama akan terganggu dengan kedatangan Kei ke Cross Academy, kekuatan yang dimiliki oleh anak itu bisa mengubah segalanya. Sebenarnya apa tujuan Kei datang ke tempat ini? Kaname sangat mencemaskan keselamatan adiknya yang tersayang, ia takut kalau Kei sangat berbahaya bagi Yuuki. Ketakutan itu semakin terbukti saat Kaname mulai menemukan dirinya berpikir tentang Kei, bahkan pikirannya mengenai Yuuki pun semakin jarang muncul di benaknya. Kei memang sedikit membahayakan, ia tidak boleh melupakan Yuuki, semua yang Kaname lakukan adalah untuk Yuuki. His beloved Yuuki.
Untuk saat ini ia akan mengawasi Kei, kalau benar ia berbahaya bagi Yuuki maka Kaname tidak punya pilihan lain selain membunuhnya. Memang sangat disayangkan makhluk semanis Kei harus terbunuh, tapi kalau itu demi Yuuki maka Kaname akan melakukannya. Tapi jauh di lubuk dalam hatinya Kaname merasa ragu, apakah ia sanggup untuk membunuh seorang makhluk tidak berdosa seperti Kei? Terlebih lagi Kei selalu muncul dalam mimpinya beberapa hari ini, ia tidak tahu apakah ia bisa membunuh Kei.
"Kaname-sama." Kata Seiren yang muncul di hadapan Kaname, gadis itu berlutut di hadapan sang pureblood.
"Aku ingin kau membawa Kei Suzumiya ke kamarku, Seiren. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya." Jawab Kaname tanpa melihat ke arah penjaganya.
Permintaan Kaname itu memang terdengar aneh, tapi Seiren yang menjadi tangan kanan Kaname tidak mempertanyakan hal itu. Gadis itu mengangguk dan keluar dari ruangan Kaname. Sang pureblood itu menatap papan caturnya dengan bidak-bidaknya yang tertata dengan rapi di atasnya. Kaname menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk menggerakkan bidak ratu pihak hitam dengan perlaham sebelum membawanya ke hadapannya, ia memegang benda itu di antara jari telunjuk dengan tengahnya sebelum mendekatkannya pada wajahnya. Bidak Ratu dan Raja, dalam kehidupan normal ratu akan selalu mendampingi seorang raja, Kaname selalu membayangkan kalau dirinya adalah raja dari permainan ini sementara Yuuki akan menjadi ratu yang adalan terus berada di sampingnya.
Sebuah suara ketukan dari pintunya membuat Kaname meletakkan bidak ratu yang ia pegang itu, Kaname mempersilakan orang yang mengetuk pintunya untuk masuk dan ia tidak terkejut saat Seiren masuk ke dalamnya.
"Maafkan saya, Kaname-sama. Kei Suzumiya menolak untuk menemui anda di asrama bulan." Kata Seiren dengan halus.
"Oh. Lalu apa yang dia katakan selanjutnya?" Tanya Kaname, ia tidak terkejut mendengar Kei menolak untuk bertemu dengannya.
"Dia mengatakan kalau anda ingin bertemu dengannya, anda yang harus menemui Kei Suzumiya sendiri. Dia menunggu anda di atas gedung Cross Academy saat ini."
Kaname mengangguk mengerti, ia menyuruh Seiren untuk pergi dari sana setelah mengucapkan terima kasih. Sang pangeran vampire itu menghela nafas panjang, sepertinya Kei mengetahui apa yang ia pikirkan bila anak itu menolak untuk bertemu dengannya. Sebenarnya siapa Kei Suzumiya itu sebenarnya? Tanpa sadar Kaname merasa begitu tertarik dengan anak yang selalu mengeluarkan aura melankolis itu, ia begitu misterius dan memiliki masa lalu yang tidak diketahui oleh siapapun. Kaname berdiri dari tempat duduknya, ia mengambil sebuah jubah hitam dan mengenakannya di atas kemeja putih yang ia kenakan sebelum keluar dari kamarnya serta dari asrama bulan. Dengan langkah tenang Kaname berjalan menuju Cross Academy, tepat di mana Kei tengah menunggunya saat ini.
Udara malam yang dingin sama sekali tidak membuat Kaname dingin ataupun tidak nyaman, rasa dingin adalah hal yang wajar dirasakan oleh seorang vampire dan Kaname bukanlah pengecualian tentang hal itu. Saat ia tiba di tempat yang Seiren katakan tadi, Kaname mencari-cari sosok Kei dan tepat dihadapannya Kaname menemukan sosok yang ia cari.
Kei duduk dengan tenang membelakanginya, kedua kakinya terjuntai ke bawah dari atas gedung tempatnya duduk di tepi atap sekolah. Sosoknya terlihat begitu sempurna, kulitnya yang berwarna alabaster terlihat begitu bersinar saat cahaya bulan menimpanya, rambut pirang platinumnya terlihat seperti silver dari sana dan begitu lembut. Tubuh kecilnya hanya berbalut sebuah piama berwarna putih pucat, sementara kedua kakinya yang tidak menggunakan alas kaki pun bergerak senada dengan indahnya. Dalam artian singkat, Kaname menemukan sosok Kei yang ada di hadapannya ini sangat mirip dengan sosok seorang malaikat yang hanya minus sepasang sayap.
Kaname tidak memiliki waktu banyak untuk mengagumi sosok kalem dari makhluk yang ada di hadapannya ini karena Kei yang mendengar langkah kakinya langsung menoleh ke arahnya. Saat sepasang mata merah marun milik Kaname bertemu dengan sepasang mata silver kebiruan milik Kei, Kaname merasa nafasnya tercekat dan lututnya terasa sangat lemas, tatapan itu tajam namun juga lembut pada saat yang sama, aura yang menyelimuti sosok Kei juga sangat melankolis seperti biasanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang membuat Kei begitu sedih, hal ini membangkitkan jiwa protective dan possessive yang Kaname miliki, membuatnya ingin memeluk Kei dan menyembunyikannya dari dunia kejam yang ada selama ini.
Sang pangeran vampire itu melihat kedua mata Kei terbelalak lebar, mengisyaratkan kalau ia sama terkejutnya seperti Kaname.
"Harry." Gumam Kei dengan lirih sebelum ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, untuk sesaat Kaname melihat segelintir emosi yang tidak begitu asing menyelimuti wajah Kei sebelum anak itu menggelengkan kepalanya dengan pelan dan memberikan senyum kecil di wajah manisnya, "Kaname."
Mendengar Kei mengucapkan namanya cukup membuat perasaan hangat muncul di dada Kaname, ia mencoba mengusir perasaan kesal saat Kei mengatakan nama 'Harry' tadi padanya. Meskipun sedikit kesal, Kaname juga merasa penasaran dengan pemilik nama 'Harry' sampai membuat Kei salah mengucapkan namanya. Kaname berjalan menghampiri Kei yang masih menatapnya dengan sayu, entah apa yang ada dalam pikiran anak itu Kaname tidak bisa menerkanya. Apakah itu sebuah kesedihan? Atau sebuah rahasia masa lalu? Apapun itu sepertinya cukup menyiksa batin Kei secara perlahan.
"Aku tidak tahu." Kata Kei dengan pelan, kedua matanya masih menatap Kaname lekat.
"Apa?" Tanya Kaname tidak mengerti.
Sebuah senyum kecil muncul di wajah Kei, "Bukankah kau ingin bertanya tentang siapa Kei Suzumiya itu sebenarnya?" kata Kei, seperti ia bisa membaca pikiran Kaname, "Dan aku tidak tahu jawabannya."
Sedikit terkejut karena Kei dapat membaca pikirannya membuat Kaname menyipitkan matanya, ia terus menatap sosok anak kecil yang ada di hadapannya dengan tenang. Dugaannya memang benar, Kei tahu kalau Kaname menemukan rahasianya.
"Kei, kau ini bukanlah seorang vampire tapi juga bukan seorang manusia. Sebenarnya makhluk apa kau ini sebenarnya?" Tanya Kaname dengan tenang. "Dan aku yakin kau pasti mengetahui kalau kami yang berada di kelas malam adalah vampire."
Kei menggenggam kedua tangannya di depan dadanya, mirip seperti orang yang tengah berdoa. Anak itu mengalihkan tatapan matanya dari Kaname untuk memandang bulan purnama yang tergantung besar di langit malam, tatapannya begitu lembut dan tenang, seperti seseorang yang sudah terbiasa melakukan itu seumur hidupnya. Anak laki-laki itu berdiri dari tempat dudunya dengan perlahan, tinggi tubuhnya yang hanya mencapai bahu Kaname tentu membuatnya seperti anak kecil tapi aura yang menyelimuti tubuhnya mengatakan kalau ia adalah orang yang sangat berbahaya.
"Mengapa kau mengatakan kalau aku bukan manusia biasa, Kaname?" Tanya Kei.
Kaname mengernyitkan dahinya, ia menghela nafasnya sebelum dengan tiba-tiba ia menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk menyerang Kei. Tapi serangan yang dilancarkan oleh Kaname langsung hancur di hadapan Kei, sebuah penghalang yang tembus pandang menghalangi serangannya.
"Tidak ada manusia biasa yang bisa melakukan hal seperti yang kau lakukan, Kei." Jawab Kaname, sebuah seringai muncul di wajah tampannya.
Perasaan marah atau frustasi yang muncul di wajah Kei karena rahasianya terbongkar adalah yang terbayang dalam benak Kaname, tapi sayangnya jangankan marah atau frustasi, ekspresi wajah anak itu tetap kalem seperti biasanya.
Kei meletakkan jari telunjuk kirinya di bawah dagunya sementara tangan kanannya menyangga siku tangan kirinya, ia merasa takjub karena Kaname melakukan serangan tanpa terduga, tapi namanya bukan Malfoy kalau dia tidak membaca serangan itu sebelumnya. Memiliki darah seorang seer yang mengalir dalam tubuhnya memang menjadi keuntungan yang luar biasa bagi Kei, mungkin dengan ini ia tidak akan menyalahkan keluarganya yang sangat membingungkan itu.
Dalam dunia sihir keluarga Malfoy memang terkenal sebagai keluarga berdarah murni, meskipun begitu hal ini bukan berarti darah yang mengalir dalam tubuh mereka seratus persen murni darah penyihir. Dari apa yang Kei tahu, banyak makhluk sihir seperti High Elven, veela, dragonian, maupun penyihir yang seorang seer masuk ke dalam keluarga besar Malfoy, dan hasilnya adalah Kei yang terlahir sebagai penyihir, High elven, dan veela. Namun setidaknya keluarga Malfoy tidak memiliki darah muggle dalam tubuh mereka.
Berdiri di hadapan Kaname Kuran yang memiliki wajah seperti suaminya memang menyakitkan bagi Kei, tapi orang yang berdiri di hadapannya ini bukanlah suami tercintanya meskipun mereka memiliki wajah dan tubuh yang sama.
Kei menurunkan tangan kirinya, ia menggenggam jemari tangan kirinya dan merasakan cincin jalinan sucinya dengan Harry melingkar dengan anggunnya di jari manis tangannya. Untuk sementara Kei memejamkan kedua matanya, menyembunyikan kedua bola mata silver kebiruan yang indah miliknya dari pandangan Kaname. Kei tahu kalau cepat atau lambat identitasnya akan terbuka, dan mungkin inilah saatnya. Meski Kei tengah berada pada posisi yang sulit, bukan berarti ia akan menyerah begitu saja, ia tidak akan memberi tahukan kalau Kei adalah Draco Malfoy yang merupakan pewaris keluarga Malfoy, Kaname tidak perlu tahu itu. Mungkin sekarang ini adalah saatnya Kaname Kuran bertemu dengan jiwa slytherin yang dimiliki oleh Kei, kalau Kaname mau bermain maka siapa Kei untuk menolaknya? Dua orang bisa memainkan permainan yang sama.
Orang yang ada di hadapannya ini sangatlah mirip dengan Harry, baik wajah maupun sifatnya, bahkan terkadang Kei sering melihat diri suaminya berada dalam diri seorang Kaname Kuran. Dalam hati Kei menggelengkan kepalanya, merasa bodoh karena melihat Kaname sebagai Harry. Orang yang ada di depannya ini bukanlah Harry, suaminya telah tewas sejak tiga bulan yang lalu, Kei yakin akan hal itu sebab Kei adalah orang terakhir yang memeluk tubuh Harry sampai ia memejamkan kedua matanya untuk selama-lamanya. Peristiwa tiga bulan itu adalah peristiwa yang tidak bisa ia lupakan, bahkan sampai seumur hidupnya saja ia tidak akan pernah melupakannya. Terlalu banyak rasa kehilangan yang terjadi pada malam itu, mulai dari sahabat, seorang ayah yang ia cintai, sampai suaminya yang tercinta.
Kei mengalihkan pandangannya dari Kaname, ia tidak ingin melihat wajah Kaname saat ini, wajah mereka berdua terlalu mirip dan Kei tidak ingin mengambil resiko untuk kehilangan kontrol dirinya bila ia terus memandang wajah Kaname. Kalau boleh ia menentukan jalan hidupnya, Kei ingin pergi dari hadapan Kaname pada saat ini juga, dan untuk melakukan itu maka ia akan mendengarkan apa yang pangeran vampire itu inginkan darinya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Kaname?" Tanya Kei dengan nada lembut, ia menghela nafasnya. "Kau menyuruh Seiren untuk mengantarkanku padamu, bukan? Jadi, apa yang kau inginkan?"
Kaname mendekatkan dirinya pada Kei saat ia melihat tubuh remaja itu mulai rileks dan nyaman dari sebelumnya, tubuh mereka begitu dekat sampai bahu Kaname bersenggolan dengan Kei, namun hal itu Kei hiraukan saja.
"Aku ingin tahu, sebenarnya kau itu makhluk apa, Kei? Lalu apa tujuanmu berada di tempat ini?" Tanya Kaname.
"Kalau aku menjawab pertanyaanmu, apa kau akan meninggalkanku sendirian?"
Kei menghiraukan kedua tangan Kaname yang memegang kedua bahunya dari belakang, bahkan rasa hangat yang menjalar dari tangan Kaname sangat mirip dengan yang dimiliki oleh Harry. Merlin, semua ini membuatnya sangat bingung.
"Tergantung, apa kau berbahaya untuk Cross Academy atau tidak." Jawab Kaname, ia tersenyum kecil saat Kei dengan keras kepalanya mencoba untuk menghiraukan keberadaan dirinya, dan Kaname merasa hangat saat ia melihat semburat berwarna pink yang muncul di wajah Kei.
Kedua mata silver kebiruan milik remaja itu menatapnya untuk sekali lagi sebelum melihat ke arah bulan, sebuah objek yang membuat Kei begitu terpesona sejak ia tiba di tempat itu.
"Aku hanya berharap kau akan meninggalkanku sendirian dan tidak melibatkanku pada rencanamu apapun itu, Kaname." Gumam Kei dengan lirih, kalau saja Kaname bukan seorang vampire yang memiliki pendengaran tajam pasti ia tidak akan mendengar gumaman itu. "Apa yang kau ketahui tentang High Elven?"
Kaname menatap Kei untuk sesaat, High Elven adalah makhluk mitos yang terkenal dengan kecantikan mereka yang luar biasa. Para vampire menganggap mereka sebagai legenda, seorang makhluk yang sangat suci dan kuat, tapi keberadaan mereka hanyalah sebuah mitos bagi semua orang karena tidak banyak yang mereka ketahui atau membuktikan kalau mereka memang ada. Dari buku tua yang pernah Kaname baca, seorang High Elven menguasai sihir yang sangat hebat dan merupakan penyembuh yang baik. Kaname mengatakan itu kepada Kei, dan Kei hanya tersenyum kecil mendengar Kaname mendiskripsikan High Elven padanya.
"Tapi High Elven itu adalah sebuah mitos." Kaname menambahkan.
Sebuah senyum misterius yang memiliki penuh arti muncul di wajah manis Kei, "Benarkah? Kalau memang mereka adalah sebuah mitos atau dongeng tidur bagi pureblood vampire, lalu bagaimana kau menjelaskan aku bisa berada di hadapanmu secara utuh di sini?" Tanya Kei dengan nada lembut seperti biasanya.
Sebuah ekspresi shock muncul di wajah tampan Kaname sebelum ia kembali tenang seperti tidak terjadi apa-apa, sementara itu Kei begitu menikmati hal ini. membuat seorang pangeran vampire seperti Kaname terkejut adalah pekerjaan yang menyenangkan baginya.
"Aku adalah seorang High Elven, Kaname. Sesuatu yang menurutmu adalah sebuah mitos sebenarnya nyata, dan dia berdiri tepat di hadapanmu serta berbicara padamu saat ini." di sini Kei membalikkan tubuhnya sehingga keduanya berdiri berhadapan, ia juga melepaskan tangan Kaname dari bahunya. "Tentu saja aku bukanlah High Elven normal seperti yang kau kira, aku juga setengah veela."
"Veela? Menakjubkan." Kata Kaname, ia tahu apa itu Veela. Seorang makhluk cantik yang sudah jarang ditemukan, bahkan menurut rumor mereka telah musnah tapi ia sedikit ragu sebab Kei adalah seorang Veela, tidak heran kalau anak itu memiliki paras yang begitu angelic dan aura yang berbeda dari yang lainnya. Tidak hanya dia seorang High elven, tapi juga seorang veela.
Kedua mata merah marun milik Kaname memperhatikan sosok Kei dengan seksama, dari ujung rambut sampai ujung kaki sebelum berhenti pada wajahnya, ia menatap ekspresi yang Kei perlihatkan saat ini. Ekspresi lembut memang selalu terlihat pada wajah angelic milik Kei, tapi ia juga melihat kesedihan yang luar biasa menyelimuti Kei. Kaname tahu kalau seorang Veela memiliki seorang soulmate yang selalu menemani mereka sejak mereka berusia 16 tahun, dan melihat Kei berada di tempat ini sendirian pada usianya yang telah menginjak 17 tahun adalah pemandangan yang aneh. Kaname mulai mengerti, kesedihan yang selalu tampak pada diri Kei apakah itu disebabkan ia belum menemukan soulmate-nya atau karena soulmate-nya telah mati? Kaname lebih cenderung pada pendapatnya yang pertama, sebab kalau yang kedua pasti Kei tidak akan berada di sini. Seorang Veela akan meninggal tidak lama setelah orang terkasih mereka meninggal.
Kaname merasa iba saat melihat kedua mata silver kebiruan itu begitu sendu, sepertinya pemikirannya yang kedua lebih tepat menggambarkan ekspresi yang Kei perlihatkan saat ini. sang pangeran vampire itu melihat sebuah cincin indah yang melingkar di jari manis Kei, berarti dugaannya memang benar. Kaname bisa merasakan hal itu dengan jelas, kehilangan seorang mate adalah hal yang tidak bisa dibayangkan dan sangat menyakitkan sampai membuat mereka ingin membunuh dirinya sendiri. Jiwa Kei sebagai seorang Veela pasti merasa begitu tersiksa, tapi jiwanya yang sebagai High Elven membuatnya lebih kuat sehingga Kei masih tetap hidup sampai saat ini. Kei pernah menceritakan kalau ibunyalah yang menyuruh Kei masuk ke Cross Academy, mungkin ia menginginkan putranya untuk tetap kuat dan melupakan hatinya yang terluka.
"Kurasa kau sudah mengerti mengapa aku berada di tempat ini, Kaname." Kata Kei dengan senyum kecilnya. "Aku tidak mempunyai tujuan lain seperti mencelekakan Cross Academy atau adikmu, kuharap kau mengerti."
"Aku adalah anak tunggal, Kei. Sama sekali tidak memiliki adik atau saudara yang lain!" kata Kaname.
"Kau tidak perlu bohong padaku, aku sudah tahu semuanya." Ujar Kei, ia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. "Aku tahu rahasia yang keluargamu tutupi sampai saat ini. Kedua orang tuamu bernama Haruka dan Juuri Kuran, mereka berdua merupakan kakak beradik yang saling jatuh cinta sebelum menikah, namun perjalanan cinta mereka tidaklah mulus karena Rido Kuran yang merupakan kakak dari Haruka dan Juuri sangat mencintai Juuri. Rasa cemburu dan benci yang berlebih akhirnya membuat Rido menculik Kaname yang merupakan putra Haruka dan Juuri, Rido menggunakan darah Kaname kecil untuk membangkitkan Kaname sang ancestor sehingga Rido bisa meminum darahnya dan menjadi vampire yang kuat. Sayangnya, hal itu malah membuatnya terluka karena Kaname sang Ancestor mengambil alih tubuh Kaname kecil dan melukainya, namun karena Rido adalah orang yang membangkitkannya maka Kaname tidak bisa membunuhnya. Dan di sinilah dirimu, Kaname Kuran adalah sang ancestor dari keluarga Kuran. Bukankah begitu, Kaname?
"Satu hal lagi yang kau sembunyikan adalah, kau memiliki seorang adik yang berada di Cross Academy dan menjadi seorang manusia karena pengorbanan yang Juuri lakukan. Adikmu itu bernama Yuu….."
Kei menemukan Kaname menutup mulut Kei dengan tangannya dan memeluk tubuhnya dari belakang, gerakan Kaname yang sangat cepat itu sudah tidak membuat Kei terkejut lagi sebab Kaname adalah vampire, dan reflek cepat dari seorang vampire adalah hal yang wajar.
"Bagaimana kau bisa tahu hal itu, Suzumiya?!" desis Kaname, nadanya begitu dingin dan mengatakan kalau ia marah dan terkejut pada saat yang sama.
"Aku memiliki sumberku tersendiri." Jawab Kei setelah ia melepaskan tangan Kaname dari mulutnya, tapi sayangnya ia tidak bisa melepaskan pelukan sang pangeran. "Dan jangan coba-coba untuk menghapus ingatanku kalau kau tidak ingin mantramu malah berbalik padamu, Kaname. Aku adalah High Elven dan Veela, keduanya jauh lebih kuat dari pureblood vampire."
Terlahir sebagai penyihir sebelum memasuki heritage-nya membuat Kei begitu percaya diri, bahkan untuk menghadapi masalah seperti ini iapun tidak ambil pusing. Sebuah mantra protego mampu melindungi dirinya dari sihir yang Kaname lakukan padanya nanti.
"Aku janji untuk tidak akan mengatakan hal itu pada siapapun asalkan kau mau meninggalkanku sendiri tanpa melibatkanku pada masalahmu." Ujar Kei. "Aku tidak ingin terlibat dengan masalah yang kau buat, dan aku sudah lelah bertarung. Aku juga tidak ingin kau menggunakanku sebagai sebuah tameng seperti yang kau lakukan pada Kiryuu-san, Kaname."
Kaname membelalakkan kedua matanya, bagaimana Kei tahu kalau ia menggunakan Kiryuu sebagai tameng untuk melindungi Yuuki? Anak yang ada dalam pelukannya ini terlalu tahu untuk ukuran kebaikannya.
"Aku hanya ingin kau meninggalkanku sendiri!" kata Kei lagi.
Setelah menimbang permintaan Kei untuk sesaat, akhirnya Kaname menghela nafas. "Baiklah kalau itu yang kau inginkan, aku tidak akan melibatkanmu dalam masalah vampire atau masalahku asal kau tidak membuka rahasia dan tidak menyakiti Yuuki." Di sini Kaname melepaskan tubuh Kei, untuk saat ini tentunya.
"Percayalah, aku tidak tertarik pada Yuuki atau mempunyai niat untuk menyakitinya. Bahkan kalau bisa aku akan dengan senang hati untuk menghindarinya." Kata Kei.
"Baiklah, kurasa kita memiliki kesepakatan di sini."
Kei mengangguk, senang karena pada akhirnya Kaname mau mengerti juga. Ia akan menawarkan perjabatan tangan untuk menyegel perjanjian mereka, tapi sayangnya Kaname memiliki pemikiran lain untuk menyegel perjanjian, ia menggunakan bibirnya untuk melakukan hal itu. Untuk sesaat Kei membeku di tempat ketika ia merasakan Kaname mencium bibirnya secara tiba-tiba, tapi lima detik kemudian Kei baru sadar setelah Kaname melepas ciumannya. Sebuah seringai yang sangat lebar muncul di wajah tampan Kaname, secara reflek Kei menggunakan tangan kanannya untuk menampar wajah Kaname namun Kaname yang menggunakan reflek cepatnya langsung menangkap tangan kanan Kei, hanya saja sang pangeran vampire itu tidak pernah menyangka saat tangan kanannya tertangkap maka Kei menggunakan tangan kirinya untuk menamparnya dengan keras.
"Bastard." Runtuk Kei dalam bahasa Inggris, ia menarik tangan kanannya dari genggaman Kaname. Dengan itu Kei berbalik dan pergi dari sana, meninggalkan Kaname yang masih mengelus-ngelus pipi kanannya yang memerah karena tamparan Kei.
Kaname tahu kalau Kei telah kehilangan seorang mate, dan hal itu membuat remaja tersebut selalu berduka dan diselimuti oleh aura kesedihan yang luar biasa. Tapi saat Kaname menciumnya tadi, ia bisa merasakan ekspresi dan aura lain selain kesedihan serta melankolis yang biasa menyelimuti Kei. Mungkin sejenis kekesalan kalau Kaname tidak salah mengartikan, tidak heran kalau Kei langsung menamparnya. Membuat Kei jengkel dengan ciumannya tadi adalah balas dendamnya karena Kei tahu terlalu banyak akan dirinya dan Kaname tidak bisa menghapus ingatannya, tapi Kaname juga menyadarinya kalau ia merasa tertarik saat ia mencium bibir yang mungil tadi. Kaname mungkin telah berjanji untuk tidak mengganggu Kei lagi atau melibatkannya dalam urusannya, tapi dalam hati ia menambahkan kalau ia akan memegang janjinya sampai urusannya dengan Rido berakhir. Tapi setelah itu?
Sebuah seringai lebar muncul di wajah Kaname, ia mulai merencanakan sesuatu yang berhubungan erat dengan Kei. Sambil mengelus-elus pipinya yang masih panas karena tamparan Kei, Kaname mulai merancang untuk mendapatkan perhatian Kei. Kaname memang sedikit bersalah karena ia akan membuat Kei untuk melupakan mate-nya, tapi bukankah mate dari Kei sudah meninggal? Jadi Kei adalah orang yang bebas untuk dimiliki siapapun, dan Kaname mulai merencanakan hal itu. Sedikit yang Kaname ketahui kalau rencananya tidak akan berjalan mulus sebab Kei adalah seorang Slytherin dan juga Lady Fate memiliki rencana lain untuk remaja bermata silver kebiruan dan berparas angelic tersebut.
AN: Terima Kasih sudah mampir
Author: Sky
