Disclaimer: Baik vampire Knight maupun Harry Potter bukan milikku

Warning: Slash, Au, OOC, Mpreg, typo

Rating: T

Genre: Romance


THE POMME DE SANG

By

Sky


Lima bulan setelah pertemuannya dengan Kaname, Kei merasa ada sesuatu yang berbeda. Mungkin ini hanya perasaannya atau bukan, tapi Kei merasa ada seseorang yang selalu memperhatikannya, dan Kei yakin kalau Kaname adalah orang yang melakukan itu. Setiap kali mereka berdua berpapasan di koridor sekolah ataupun ketika Kei keluar dari ruangan Severus dan bertemu dengan Kaname, sang pangeran vampire itu terus menatapnya tanpa mengedipkan mata. Sekali atau dua kali Kei akan menghiraukannya, tapi kalau terus-terusan maka orang mana yang tidak jengkel? Kei tidak memiliki pilihan lain kecuali menghiraukannya, ia tidak bisa mendatangi Kaname untuk meminta penjelasan karena sejak malam itu ia berjanji untuk tidak lagi mengenal orang yang bernama Kaname Kuran.

Begitu banyak yang terjadi setelah malam itu, salah satunya adalah ia bertemu dengan pengasuh lamanya, Shizuka Hiou, di Cross Academy. Wanita itu adalah teman lama ibunya yang selalu menjaga Kei sewaktu ia berada di Jepang, dan bertemu dengannya di tempat ini adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi pertemuan itu hanya berjalan dalam waktu singkat karena Shizuka lebih tertarik dengan Zero dan Yuuki yang mengakibatkan kematiannya berada di tangan Kaname, Kei hanya bersyukur ia sempat menghapus ingatan wanita itu tentang Kei dan keluarganya sehingga Kaname tidak mengetahui ingatan itu dari Shizuka.

Malam ini tepatnya malam di mana bulan sabit berwarna merah muncul merupakan malam yang membuat Kei merasa tidak begitu nyaman. Cross Academy diserang oleh vampire level E yang dipimpin oleh Rido, sepertinya kakak dari Haruka itu menemukan kalau Yuuki berada di Cross Academy sehingga penyerangan pun tidak terelakkan lagi. Kei yang duduk di tempat yang sama di mana ia menyetujui perjanjiannya dengan Kaname, hanya melihat murid-murid kelas malam melindungi Yuuki dari level E. Baik Kei maupun Severus yang tidak memiliki niat untuk bertarung atau mencampuri urusan mereka akhirnya menggunakan sihir untuk menyembunyikan keberadaan mereka berdua. Tapi saat Severus menyuruhnya untuk pergi dari sini, yang ada dalam pikiran Kei adalah Rido dan ia tidak sabar untuk bertemu dengannya di sini.

Kei sangat merindukan Rido, satu-satunya orang yang belum terampas dari hidupnya adalah putranya yang satu itu. Kei yang merupakan seorang veela memiliki sebuah kemampuan untuk mengandung dari buah cinta dirinya dengan suaminya, setahun yang lalu sebelum perang meletus Kei menemukan dirinya hamil dengan bayi Harry. Keduanya memutuskan kalau situasi saat itu sangat berbahaya bagi kondisi Kei maupun bayi yang ada dalam kandungannya, oleh karena itu Harry menggunakan sihirnya untuk mengirim dirinya dengan Kei ke masa lalu. Tepatnya 200 tahun di masa lalu.

Harry yang merupakan Lord Potter akhirnya membangun sebuah manor yang sangat indah di Inggris, dan saat ini dikenal dengan Potter manor. Di tempat itu keduanya hidup dengan bahagia, bahkan beban Harry yang sebenarnya adalah seorang pahlawan perlahan-lahan mulai hilang. Sampai pada 14 Februari dua ratus tahun lalu Kei melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan, penampilan bayi mereka sangat mirip dengan Harry dan juga memiliki heritage dari Harry yang seorang pureblood vampire. Mereka berdua menamai bayi mereka dengan Rido Potter, keduanya berharap hidup putra mereka akan jauh lebih baik dari kedua orangtuanya. Kei tersenyum saat mengingat wajah putra kandungnya, ia benar-benar merindukan Rido dan ia ingin sekali bertemu dengannya.

Baik Kei maupun Harry hanya bisa bersama dengan Kei selama 10 tahun sebelum keduanya memutuskan untuk kembali ke masa depan, Harry yang saat itu merupakan Lord vampire yang sangat kuat akhirnya meminta bantuan Minato Kuran untuk merawat bayi mereka, sehingga nama dari Rido pun berubah dari Potter menjadi Kuran. Baik Kei dan Harry yang tidak sulit untuk menyembunyikan usia mereka menggunakan sihir pun akhirnya meninggalkan Rido di masa lalu dengan harapan agar putra mereka bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan di sana. Tidak ada yang tahu kalau mereka berdua memiliki Rido, semua itu adalah rahasia yang sangat tersembunyi sampai sekarang ini. Kei tidak pernah membayangkan kalau hidup Rido akan menjadi seperti ini, putranya jatuh ke dalam kegilaan pureblood yang ada dalam darahnya.

"Rido Potter, nama itu lebih sesuai untukmu daripada Rido Kuran, Rido-chan." Gumam Kei.

Kei tersenyum kecil saat ia mengingat pembicaraannya dengan Severus beberapa menit yang lalu sebelum ayah baptisnya itu ber-dissaparated dari Cross Academy. Severus mengajak Kei untuk pergi bersamanya, tapi Kei yang ingin melihat bagaimana keadaan putranya langsung menolak ajakan Severus, sehingga di sinilah Kei sekarang, ia duduk sendiri di atas atap gedung sekolah yang mulai hancur. Kei menggigil pelan saat angin malam menusuk tubuhnya, sedikit menyesal mengapa ia tadi tidak mengenakan pakaian tebal di malam dingin seperti ini. Kei hanya mengenakan kemeja sekolahnya tanpa blazer yang bagian bawahnya tidak ia masukkan ke dalam celana hitamnya, ia juga tidak mengenakan sepatu. Mungkin ini dikarenakan Kei adalah seorang High Elven yang darahnya selalu berhubungan dengan alam, sehingga ia lebih menyukai kakinya bersentuhan langsung dengan bumi yang ia pijak.

Kei tersenyum kecil saat ia merasakan kekuatan pureblood yang Yuuki miliki mulai ia gunakan, sepertinya ia harus menyingkir dari tempat ini sebelum ada orang yang mengetahui keberadaannya. Hanya saja ketika ia berdiri dari posisi duduknya, Kei merasakan Level E yang berjumlah sekitar 20 orang mengepungnya, mata mereka berwarna merah menyala dengan nafsu darah yang tergambar jelas di sana dan semua itu ditunjukkan kepada Kei.

"Kumohon, aku tidak ingin terlibat dalam masalah ini. Aku hanya ingin bertemu dengan Rido." kata Kei, ia menghindar saat seorang level E menyerangnya. Karena ia tidak memiliki pilihan, Kei menggunakan sihirnya untuk menghancurkan kedua puluh level E dalam waktu tidak kurang dari tiga detik.

Anak laki-laki itu menatap butiran debu yang tadinya adalah Level E dengan sedih, mungkin seharusnya ia mendengarkan nasehat dari Severus untuk segera pergi dari tempat ini saat ia memiliki kesempatan. Kei melihat ke bawah dan menemukan kalau sekolahnya dikepung oleh para vampire yang haus darah, para murid kelas malam dan kepala sekolah terlihat begitu kewalahan menghadapi semuanya, sementara itu para level B sibuk untuk melindungi Yuuki. Dari tempatnya berdiri Kei bisa mencium bau ketakutan yang muncul dari para manusia yang ada di dalam gedung. Dan Zero? Zero adalah orang yang paling menderita karena ini.

Dari atas tempatnya duduk di atap sekolah, Kei melihat dua orang murid perempuan dari kelas siang yang berlari menuju hutan, di belakang dua orang murid tadi adalah beberapa orang Level E yang dengan haus darahnya mengejar mereka berdua.

Kei merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan setelah perang dunia sihir berakhir, sebuah kemarahan muncul dalam benak dirinya. Bagaimana bisa Kaname membiarkan semua ini terjadi hanya untuk melindungi Yuuki? Apakah Yuuki sepenting itu sampai Kaname membahayakan keselamatan semua orang yang tidak bersalah? Dan mengorbankan nyawa dari si kembar Kiryu adalah hal yang tidak bisa Kei maafkan, tapi Kei jauh tidak bisa memaafkan Kaname bila sang pangeran yang satu itu membunuh satu-satunya orang yang masih tersisa dalam hidup Kei. Kei mungkin tidak begitu mengenal Zero, tapi mereka berdua mencapai suatu pengertian yang bisa dikatakan seperti teman. Kei benar-benar marah, dan kemarahannya ini dikarenakan oleh satu orang yang menurutnya sangat egois. Setelah Kei membereskan semua ini, ia akan memberi pelajaran pada Kaname.

Lord muda Malfoy tersebut menggenggam kedua tangannya di depan dadanya seperti orang yang berdoa, ia melepaskan segel sihir yang terpasang pada tubuhnya untuk membiarkan kekuatannya lepas dengan bebas. Saat sihirnya sudah bebas, Kei menggunakan sihirnya untuk ber-apparate dari sana dan muncul tepat di mana kedua murid tadi terlihat begitu terpojok. Kei menghiraukan tatapan shock yang ditujukan padanya oleh kedua murid tadi ataupun tatapan penuh nafsu yang berasal dari Level E ketika menatapnya, anak laki-laki yang berpenampilan seperti remaja usia 17 tahun itu menyipitkan matanya dan memanggil kekuatannya, dalam hitungan detik semua Leve E yang mengepung mereka langsung hancur, berubah menjadi debu yang meninggalkan pakaian mereka di atas tanah.

"Kei-senpai." Panggil salah seorang murid tersebut.

Kei berbalik, ia memberikan senyuman tipis kepada mereka sebelum keduanya merasakan rasa kantuk yang tak tertahankan, keduanya langsung jatuh ke bawah dan Kei pun menghapus ingatan mereka mengenai kejadian malam ini. Setelah memasang pelindung di sekeliling mereka berdua, Kei pun beranjak dari sana. Ia berjalan terus masuk ke dalam hutan, di sepanjang perjalanannya semua Level E yang mencoba menyerang Kei langsung hancur menjadi debu, hal ini cukup membuat shock murid kelas malam yang mencoba untuk melindungi Cross Academy (atau Kaname dan Yuuki lebih tepatnya).

"Malam ini bulan berwarna merah yang menandakan malamnya para vampire. Apakah bulan merah yang tergantung di langit bisa membuat malam ini menjadi malam Walpurgis seperti tiga bulan yang lalu? Rido-chan, kau benar-benar telah jatuh dalam kutukan itu." Tanya Kei dengan suara lirih, wajahnya masih terlihat kalem meskipun ia telah menghancurkan berpuluh-puluh level E yang mencoba untuk menyerangnya. "Apakah ini sebuah kemarahan yang kau tunjukkan padaku dan Harry?"

Langkah kaki Kei yang halus langsung berhenti, ia melihat para vampire yang haus darah mencoba menyerang segerombolan murid malam yang Kei ketahui adalah anak buah dari Kaname, di sana ia juga melihat Yuuki yang telah bertransformasi menjadi vampire dan Zero yang tangan kanannya dikelilingi oleh duri mawar. Kedua mata silver kebiruan itu menangkap sosok yang mirip dengan Kaname dan Harry, hanya saja lebih tua dan lebih liar dengan kedua mata yang berbeda warna, orang itu adalah orang sama yang pernah hidup di kandungan Kei selama Sembilan bulan. Kedua mata silver kebiruan Kei menyipit, bagaimana mungkin Rido memiliki dua mata yang berbeda? Kei sangat yakin kalau warna mata anaknya adalah silver kebiruan, seperti miliknya.

"Warna mata itu adalah tanda kegilaan yang muncul, sepertinya aku harus mempercayai Harry tentang semua ini." gumam Kei.

Sang Lord Malfoy tersebut menatap sosok putranya yang dikerumuni oleh para vampire murid kelas malam, Rido terlihat menggila dengan aura sihirnya yang suatu saat bisa meledak-ledak. Dia benar-benar insane, tapi Kei tidak tahu apa yang menyebabkan putranya menjadi seperti ini sebab yang ia ketahui Rido adalah anak manis yang sangat mencintai Kei dan Harry. Sebenarnya Kei tidak begitu mempercayai kalau putranyalah yang membunuh Haruka dan Juuri, tapi bila melihatnya sekarang ini maka Kei tidak ragu lagi kalau Rido adalah pelakukanya. Meskipun begitu Kei tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakiti Rido, ia akan melakukan sesuatu untuk membuat Rido tersadar.

Kei menyandarkan tubuhnya pada pohon yang ada di belakangnya, ia yakin kalau mereka tidak bisa menemukan posisinya dan dari sana pula Kei mencoba untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Kei mencoba untuk menahan tawa saat Rido mengatakan kalau Yuuki adalah putri sejati dan sebentar lagi Rido akan memilikinya, kemudian tidak ada orang yang bisa menghentikan Rido.

Mungkin ini memanglah bukan peperangannya, tapi Kei tidak bisa membiarkan manusia yang tidak bersalah menjadi korban dari ambisi kedua belah pihak. Kei yang sudah bosan mendengarkan ocehan dari putranya pun akhirnya turun tangan juga, ia beranjak dari posisinya dan berdiri dengan santai. Tangan kanan Kei ia tadahkan ke langit, ia menggunakan sihirnya untuk menciptakan angin yang sangat kencang dan dengan kekuatan Elvennya, Kei memusnahkan semua Level E yang mengepung para murid kelas malam tersebut.

"Apa yang terjadi!" kata Yuuki yang panik, ia terkejut ketika Level E yang mengepung mereka tiba-tiba hancur.

Rido yang sama terkejutnya tiba-tiba merasakan ketakutan yang luar biasa, ia mengenal kekuatan yang menakjubkan ini dan merasa tidak yakin kalau orang yang ada di pikirannya berada di tempat ini. Satu-satunya orang yang memiliki kekuatan sebesar ini adalah kedua orangtua kandungnya, tapi bukankah keduanya sudah pergi sejak 200 tahun yang lalu? Bagaimana bisa mereka berada di tempat seperti ini? Berbagai pertanyaan muncul di benak Rido, ia sangat merindukan mereka berdua dan setiap malam Rido selalu berharap ia bisa bertemu dengan mereka lagi. Hidup dengan keluarga Kuran adalah siksaan terbesar dalam hidup Rido, meskipun mereka memperlakukannya seperti anak mereka sendiri tapi mereka bukanlah Harry atau Draco yang merupakan orangtua kandungnya. Ia rindu pada belaian ibunya yang selalu berada di sampingnya semenjak ia bayi sampai berusia 10 tahun, ia juga rindu pada suara ayahnya yang sangat melegakan itu. Meski ia rindu pada mereka, Rido tidak ingin keduanya melihat Rido yang berada dalam posisi seperti ini. Dalam hati Rido berdoa agar aura yang ia rasakan tidak berasal dari salah seorang orangtuanya.

Sayangnya takdir berkata lain pada Rido, baik Rido maupun yang lainnya merasakan sebuah aura kuat berasal dari dalam hutan. Aura itu bukan milik dari Kaname maupun para pemburu vampire, tapi berasal dari suatu hal yang lain.

Hanabusha dan Akatsuki yang pernah merasakan aura itu beberapa saat yang lalu saling berpandangan sebelum keduanya mengangguk, aura itu memang sangat khas dan tidak salah lagi milik orang itu. Seseorang berjalan dari dalam hutan menuju tempat mereka, suara langkah kaki yang sangat halus dan hampir tidak terdengar cukup mengejutkan mereka, dan mereka semua tambah terkejut saat sosok yang memiliki aura kuat adalah putra baptis dari guru mereka, Kei Suzumiya berjalan menghampiri mereka dengan kedua matanya menatap lurus pada Rido.


Rido merasakan tubuhnya membeku, lukanya yang disebabkan oleh si pemburu vampire ia hiraukan saat aura yang kuat itu menyelimuti tubuhnya dan menyebabkan keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Aura itu sangat Rido kenal, selalu memberinya kenyamanan dan kelembutan pada saat yang sama, tapi belum pernah Rido merasakan aura ibunya marah seperti ini, rasanya Rido ingin menghilang dari sana dan tidak ingin ibunya melihat apa yang ia lakukan. Rido merasa seperti anak kecil 200 tahun yang lalu, begitu tak berdaya dan hanya bisa meminta perlindungan pada kedua orangtuanya. Rido melihat sosok ibunya berjalan dari dalam hutan, langkahnya begitu tenang seperti seorang raja yang menciptakan permainan ironi yang terjadi di sini. Rido melihat sosok ibunya seperti sosok seorang remaja laki-laki berwajah manis dengan rambut pirang platinum, kulit alabaster yang bercahaya ketika ditimpa bulan, perawakan yang lembut, wajah yang manis, dan sepasang mata silver kebiruan yang sangat tajam dan lebih dingin dari es itu sendiri. Tidak salah lagi kalau orang itu adalah ibu kandungnya, tapi mengapa ibunya berada di tempat seperti ini?

"Kei-senpai, apa yang kau lakukan di sini? Kau harus pergi, tempat ini sangat berbahaya untukmu?!" teriak Yuuki kepada Kei, kelihatannya keponakan Rido yang satu ini masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.

Kei hanya menatap Yuuki secara sepintas sebelum kedua matanya tertuju pada Zero, melihat kondisi Zero yang semakin bertambah kuat berarti apa yang Kei pikirkan beberapa hari yang lalu benar-benar terjadi, Zero mengkonsumsi darah dari Ichiru-san. Entah saat ini Ichiru-san masih hidup apa tidak, Kei tidak memiliki jawabannya.

"Kiryuu-san, di mana Ichiru-san saat ini?" Tanya Kei dengan kalem.

Zero tidak menjawab, dan hal itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Kei. Kei menghela nafasnya karena ini, terpaksa anak itu akan menggunakan Nechromancy pada Ichiru bila saudara Zero tersebut benar-benar mati, Ichiru masih berhutang penjelasan padanya mengenai Harry. Ia akan menangani hal ini nanti, saat ini yang terpenting adalah Rido.

"Okaa-sama, apa itu benar dirimu?" Tanya Rido kurang yakin.

Kei tersenyum tipis, wajahnya yang masih kalem membuat Rido semakin bergidik seperti ia tengah tertangkap basah memakan kue sebelum makan malam oleh ibunya 200 tahun yang lalu. Semua vampire yang berada di tempat itu langsung melihat Kei dengan shock, dalam hati mereka berpikir apakah mereka salah dengar. Rido memanggil seorang remaja laki-laki sebagai Okaa-sama? Apa itu tidak salah?

"Rido-chan, apa kau terlampau jatuh pada kegilaan ini sampai tidak mengenali ibumu sendiri?" Tanya Kei dengan nada sedih, ia berjalan menghampiri Rido yang masih membeku dan menghiraukan semua orang yang berniat untuk mencegahnya.

Lord muda Malfoy tersebut berdiri di hadapan Rido, kedua matanya menatap sedih pada sosok putra semata wayangnya. Jujur, Kei sangat menyesal untuk meninggalkan Rido sendiri di masa lalu, kalau saja ia memiliki kekuatan penjelajah waktu seperti yang dimiliki Harry maka ia akan menggunakannya untuk mengubah semua kenyataan ini. Kedua mata silver kebiruan Kei bertemu dengan mata heterochimia milik putranya, mereka begitu berbeda dan hal itu membuat hati Kei semakin sedih, rasanya ia ingin menangis di sana tapi batin Kei tidak mengijinkan semua itu untuk terjadi.

Kei tahu kalau Rido sangat marah pada dirinya dan Harry karena telah meninggalkannya sendiri, ia tidak menyalahkan Rido. Kalau benar kegilaan yang jatuh pada mental Rido diakibatkan karena trauma yang ia dan Harry lakukan, maka Kei akan mencoba untuk membalikan semua itu agar Rido bisa sembuh dari kegilaan ini.

"Okaa-sama." Ujar Rido dengan suara kecil, ia membelai kedua pipi Kei dengan perlahan dan jantungnya berdegup kencang saat ibunya tidak menolaknya. "Mengapa kalian meninggalkanku sendiri? Apa aku tidak penting bagi kalian? Apa kalian tidak tahu kalau aku sangat merindukan Okaa-sama dan Otou-sama selama ini?"

Pertanyaan itu diutarakan dengan sangat halus, namun makna yang terkandung di dalamnya membuat hati Kei sakit oleh perasaan bersalah. Tentu saja Kei sangat mencintai Rido, Kei telah membawanya selama Sembilan bulan berada dalam kandungannya dan rela melakukan apa saja asalkan putranya selamat.

"Aku tahu, Rido-chan. Baik Okaa-sama dan Otou-sama sangat mencintaimu, lebih dari apapun." Kata Kei, ia mendekatkan pada tubuh putranya yang jauh lebih besar darinya sebelum ia memeluknya dengan erat. "Jangan pernah meragukan itu!"

Keduanya terus berpelukan untuk melepas rindu selama 200 tahun terakhir ini, mereka tidak mempedulikan tatapan shock yang diberikan oleh para vampire yang ada di sekitar keduanya. Kei tetap tidak melepas pelukannya dari Rido ketika Kaname tiba di tempat itu dengan tatapan penuh kemarahan di sana, ia juga tidak peduli saat Kaname menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk menyerang mereka berdua. Tentu saja, dengan reflek cepat Kei menciptakan barrier untuk menghalau serangan itu.

"Kaname-sama!" teriak Hanabusha dan Ruka.

"Onii-sama." Ujar Yuuki.

"Kuran." Kali ini adalah Zero.

Kaname menyipitkan kedua matanya, "Aku tidak tahu apa urusanmu dengan melindungi Rido, Kei. Tapi Rido adalah monster yang harus mendapat hukuman dari apa yang ia lakukan selama ini!" kata Kaname yang sangat dingin.

Kei tidak menjawab, ia tidak melepaskan putranya meski ia merasakan Rido ingin mengakhiri pelukan mereka. Lord muda Malfoy tersebut memfokuskan sihirnya, ia menangkis semua serangan yang Kaname berikan padanya. Mungkin ia harus menggunakan itu.

"Kalau kau mau membunuh Rido, maka kau harus melangkahi mayatku dulu, Kana-san." Kata Kei dengan dingin.

Merasakan sihir ibunya untuk yang pertama kali membuat Rido terhipnotis, sehingga ia tidak menyadari kedatangan keponakannya yang memiliki niat untuk membunuh itu. Kedua mata Rido tertutup dengan rapat dan tanpa diduga kesadarannya langsung lepas kendali, sihir ibunya memang sangat kuat. Sebuah senyum tipis muncul di wajah manis Kei saat ia melihat putranya, kalau ia ingin membawa Rido keluar dari permasalahan ini maka mau tidak mau Kei harus menggunakan sihir yang pernah diajarkan oleh Harry pada saat ini juga.

Semua mata para vampire yang ada di sana terbelalak lebar tidak percaya ketika sepasang sayap putih yang begitu anggun muncul dari punggung Kei, sayap itu begitu besar dan indah. Kei membuka sayapnya lebar-lebar sebelum ia rekatkan untuk menutupi tubuh Rido dan dirinya dari pandangan luar, Lord muda malfoy tersebut mengucapkan sebuah mantra dalam bahasa latin kuno dengan lirih yang membuat cahaya berwarna silver dan keemasan muncul untuk mengelilingi mereka berdua. Cahaya yang sangat terang itu membuat para vampire yang ada di sana memejamkan mata mereka untuk menghindarinya, dan saat cahaya itu menghilang, mereka melihat Kei membuka sayapnya dan sebuah pemandangan yang menakjubkan terlihat di sana.

Di tempat Rido berdiri tadi kini ditempati oleh seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan Kaname Kuran waktu kecil, anak laki-laki itu mungkin berada di usia 10 tahunan dengan rambut pendek kecoklatan dan kulit kecoklatan, ia hanya mengenakan jubah besar yang Rido kenakan tadi, wajahnya yang sangat imut terlihat begitu damai saat ia tertidur di pelukan Kei.

"Apa yang terjadi? Mengapa anak itu berada di tempat Rido?" Tanya Yuuki yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

"Itu karena, anak itu adalah Rido." Jawab Zero yang masih sama terkejutnya dengan mereka semua.

Kei melipat sayapnya di belakang punggungnya, mungkin ia benci dengan bagian tubuhnya karena keturunannya sebagai seorang veela, tapi untuk saat ini Kei merasa bersyukur karena memilikinya. Sihir terlarang itu tidak akan berhasil tanpa bantuan sihir veelanya. Kalau Kei bertemu dengan Harry di kehidupan selanjutnya, ia akan mencium suaminya sebagai ucapan terima kasih karena menciptakan sihir itu untuk dirinya beberapa tahun yang lalu.

"Apa maksud semua ini, Kei? Kau mengubah Rido menjadi anak kecil?!" Tanya Kaname dengan nada dingin.

"Aku tidak hanya mengubahnya saja, Kana-san, tapi aku mengembalikan wujud Rido-chan ke wujudnya yang semula sebelum kutukan itu menyerang tubuhnya." Jawab Kei, ia mengambil sebuah cincin sederhana dari saku celananya dan melingkarkannya di jemari kecil Rido.

Laki-laki yang berada dalam tubuh remajanya itu mencium kening Rido dengan pelan sebelum ia mengucapkan 'portus', kata singkat yang Kei ucapkan itu membuat cincin tadi menjadi sebuah Portkey yang akan membawa Rido pergi dari sana.

"Malfoy Manor." Kata Kei dengan nada lirih, dalam hitungan detik tubuh Rido menghilang dari sana dan muncul di kamar Kei yang ada di manornya di Jepang. "Kana-san, mungkin seharusnya akulah yang harus meminta maaf atas semua kejadian ini. Ku tidak boleh menyalahkan Rido-chan, karena aku dan suamikulah yang bertanggung jawab atas semua ini."

Kata-kata itu menyambar benak semua orang bagaikan sebuah petir, terutama Kaname dan Yuuki yang menatap Kei dengan tatapan tidak percaya. Semua yang terjadi di sini adalah salah Kei? Dan apa maksudnya dengan kata 'suami' yang Kei ucapkan tadi?

Sebuah senyum yang penuh kesedihan muncul di wajah manis Kei, kedua mata silver kebiruannya menatai Kaname dengan lekat dan penuh kesedihan di sana.

"Perlu kalian ketahui, namaku yang sebenarnya bukanlah Kei Suzumiya. Namaku adalah Draco Malfoy dan Rido Kuran yang kalian kenal sebenarnya adalah Rido Potter, putraku yang manis." Kalimat yang muncul dari bibir Kei menjadi bom yang meledak bagi para vampire, terutama bagi Kaname yang sangat tahu tentang nama Malfoy dan Potter yang merupakan nama dua keluarga legendaris yang tidak asing lagi bagi telinga dunia para vampire, di mana keluarga Potter adalah keluarga dari raja para vampire sementara keluarga Malfoy adalah keluarga pemburu vampire tertua yang menjadi mitos sampai saat ini.


AN: Terima kasih sudah mampir

Author: Sky