Between Friendship and Love
.
KyuMin
.
EYD berantakan, amatir, typo(s), GS, OOC, DLDR
.
This fanfiction belongs to me but the characters belong to themselves
.
Hari semakin gelap dan Kyuhyun masih betah berada di lapangan basket indoor itu. Sebelumnya Kyuhyun mengatakan pada ketiga sahabatnya itu kalau dia pulang duluan. Ketiga sahabatnya itu mengiyakan. Tetapi Kyuhyun mengubah arah tujuannya. Memang benar dia tadinya ingin cepat-cepat sampai rumah. Namun Kyuhyun tidak mau orang tuanya khawatir kalau sampai Kyuhyun jadi pendiam. Jadilah dia berada di tempat persembunyiannya.
Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sebelum dia masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang berada di bawah tempat duduk penonton -tempat persembunyiannya. Setelah selesai memandangi seluruh ruangan itu, Kyuhyun tidak masuk ke ruang kecil yang berada di dalam lapangan basket indoor itu. Kyuhyun melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar. Sepertinya lelaki itu ingin pulang ke rumahnya.
.
.
.
Kibum yang sedang asyik mendengarkan lagu melalui headsetnya terkejut karena ibunya melepas salah satu headset tersebut dari telinganya.
"Ada temanmu di bawah."
Kibum mengernyitkan dahinya. Teman? Dia tidak ada janji dengan salah satu temannya malam ini.
"Siapa, eomma?"
"Cho Kyuhyun. Sudah cepat sana. Kasihan dia sendirian di bawah. Dia juga sepertinya sedang banyak pikiran."
Setelah berkata demikian, si ibu pergi keluar kamar Kibum. Kibum masih memikirkan penyebab Kyuhyun datang malam-malam ke rumahnya.
.
.
.
"Kupikir kau sudah pulang duluan tadi. Ternyata belum. Darimana saja kau memangnya?"
Kibum dan Kyuhyun telah berada di halaman belakang rumah Kibum. Kyuhyun sudah sering main ke rumah itu. Jadi orang tua Kibum sudah mengijinkan Kyuhyun untuk masuk ke dalam rumah bahkan sampai ke halaman belakang.
Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan Kibum. Dia tetap terdiam sedaritadi. Kibum yang melihatnya jadi bingung sendiri. Tidak biasanya seorang Kyuhyun jadi pendiam. Kecuali karena dia sedang mendapat masalah yang tak dapat diselesaikannya sendiri.
"Kau ada masalah, ya? Ceritakan saja padaku. Kalau bisa kubantu, aku akan membantumu."
Kyuhyun menatap Kibum. Tatapannya kosong. Sepertinya hanya ada tubuhnya saja yang berada di sini, jiwanya entah kemana.
"Kyu-"
"Boleh aku memelukmu, Kibum-ah?" Tanya Kyuhyun lirih.
Kibum terkejut. Memeluk? Tidak. Kibum tidak mau dipeluk oleh lelaki yang jelas-jelas tidak ada hubungan darah dengannya. Lagipula kenapa Kyuhyun mau memeluk Kibum.
"Jangan salah paham, Kibum-ah. Aku memang begitu jika ada masalah. Biasanya selalu ada ibuku yang membantu menyelesaikan masalah yang menimpaku, tapi sekarang tidak ada."
Kibum tahu betul jika ibu Kyuhyun sudah meninggalkan dunia ini sejak setahun yang lalu. Saat dirinya sedang berkunjung ke rumah Kyuhyun. Ibu Kyuhyun menderita sakit keras yang memang sulit untuk disembuhkan. Meskipun sudah dibawa berobat sampai ke luar negeri, obat untuk menyembuhkan penyakit itu belum ada. Dan besoknya, ibu Kyuhyun meninggalkan dunia ini.
Kyuhyun menangisi makam ibunya setelah sang ibu dimakamkan. Bayangkan saja jika kalian mendapatkan hasil yang sangat bagus diraport dan kalian ingin menunjukkannya pada orang tua kalian, tapi salah satu dari mereka telah tiada. Sedih, kan? Itulah yang dirasakan Kyuhyun.
Kembali pada Kibum dan Kyuhyun. Kibum akhirnya mau menuruti keinginan Kyuhyun. Jika dilihat, Kyuhyun seperti anak kecil yang sedang memeluk ibunya. Kibum tak tega melihat Kyuhyun yang seperti itu.
"Kibum." Suara serak Kyuhyun mengisi kekosongan di malam hari itu.
"Ada apa?"
"Aku dan sahabatku menyukai orang yang sama."
"Kau dan Siwon sama-sama menyukai Sungmin?"
Kyuhyun mengangguk dalam pelukan Kibum. Tentu saja ini menjadi sulit. Kibum mulai memikirkan jalan keluarnya. Saat sedang berpikir, Kibum merasakan bajunya basah. Kyuhyun sedang menangis. Kyuhyun sangat rapuh saat ini. Ada satu cara yang mungkin dapat membantu Kyuhyun. Tapi mungkin cara itu tidak mudah.
"Kyu, aku punya solusinya. Tapi...aku tak yakin.."
Kyuhyun melepas pelukannya dan manatap Kibum. Dia menantikan solusi dari permasalahan ini.
"Kau harus memilih. Persahabatan atau cinta. Kau harus memilih salah satu. Tapi tentu saja pilihanmu itu akan ada konsekuensinya yang harus kau tanggung sendiri."
"Memilih? Kalau aku memilih persahabatan, aku harus mengorbankan cintaku, begitu?"
"Iya. Dan begitu juga sebaliknya. Jika kau memilih cinta, kau harus mengorbankan persahabatanmu."
"Tidak ada cara lain? Aku bingung."
"Aku rasa cuma itu satu-satunya cara."
Kyuhyun memikirkan kedua pilihan tersebut. Haruskah ia memilih sahabatnya ataukah cintanya? Pilihan yang sangat sulit bagi Kyuhyun. Tetapi lelaki itu harus memilih salah satu diantaranya.
.
.
.
Hari ini adalah hari pengambilan raport. Semua sekolah pasti sedang ramai dengan orang tua murid yang ingin mengetahui hasil belajar anak mereka selama satu semester. Di luar sedang hujan salju. Tapi itu tidak membuat para orang tua mundur. Mereka tetap berangkat ke sekolah anak mereka.
Di depan kelas sebelas unggulan dua, Kyuhyun sedang memperhatikan si ketua kelas yang sibuk memberikan makanan beserta minuman untuk orang tua murid yang datang setelah mengisi daftar hadir.
Cintanya.
Sungmin adalah cintanya. Haruskah Kyuhyun mengorbankan cintanya demi persahabatannya? Kyuhyun memandang lurus ke depan dan dia melihat Siwon yang asyik berbincang dengan teman sekelasnya.
Sahabatnya.
Siwon adalah sahabatnya. Mereka bersahabat bukan dari kelas sepuluh. Mereka bersahabat sejak kelas tiga tingkat sekolah dasar. Haruskah ia mengorbankan persahabatannya demi cintanya?
"Kyuhyun. Kuharap kau masih ingat janjimu." Suara Sungmin membuat Kyuhyun tersadar.
"Janji apa?"
"Sudah kuduga kau melupakannya. Kau berjanji tidak akan sering melamun lagi. Tapi nyatanya?"
"Iya maaf.."
Siwon sudah berada di depan mereka berdua. Lelaki itu mengambil kursi yang berada di sebelah Kyuhyun untuk duduk.
"Min-ah, kau tidak ada acara, kan nanti setelah ini?" Tanya Siwon sambil meminum air putih yang disediakan di depannya.
"Tidak ada. Kenapa, Siwon-ah?"
Ada yang aneh dengan obrolan mereka berdua. Kyuhyun merasa ada yang tak beres dengan hatinya. Jangan katakan kalau Siwon ingin mengajak Sungmin berkencan. Tidak. Bukan berkencan, tapi jalan-jalan.
"Kau mau, kan menemaniku jalan-jalan?"
"Kemana?"
"Ya...kemana saja."
Kyuhyun yang mulai tidak betah dengan obrolan mereka berdua berdiri dan pergi dari sana. Sungmin merasa ada yang tak beres dengan Kyuhyun. Selain sering melamun, Kyuhyun juga suka pergi seenaknya saat ia dan Siwon sedang mengobrol. Seperti tadi contohnya.
.
.
.
Siwon dan Sungmin sedang berada di sebuah pusat permainan yang dikenal orang-orang dengan nama Lotte World. Sungmin memang menerima ajakan Siwon saat di sekolah tadi.
Mereka berdua sedang menaiki wahana kincir raksasa atau yang biasa kita kenal dengan nama Bianglala. Hari semakin senja dan mereka berdua menikmati tenggelamnya matahari dari kincir raksasa tersebut.
Indah.
Itulah kata yang terlontar dari mulut Sungmin saat ia menyaksikan tenggelamnya matahari. Tidak perlu pergi ke pantai jika bisa menyaksikan matahari tenggelam dari sini.
Setelah puas bermain, Sungmin mengajak Siwon untuk pulang. Ya berhubung hari sudah gelap juga. Siwon menuruti Sungmin. Mereka sudah berada di dalam mobil yang sebentar lagi akan mengatarkan mereka berdua pulang.
.
.
.
Sungmin sudah sampai di depan rumahnya. Siwon ikut turun dari mobil untuk melihat apakah Sungmin benar-benar sudah masuk rumah atau tidak. Dan dia juga ingin mengungkapkan perasaannya pada gadis manis berambut sebahu itu.
"Min.."
Sungmin yang ingin mengunci pintu gerbang rumahnya terdiam dan menyahuti panggilan Siwon.
"Aku mencintaimu, Min-ah." Tiga kata yang keluar dari mulut Siwon membuat Sungmin diam. Gadis itu kemudian menatap Siwon dengan tatapan kecewa. Siwon sendiri tidak mengerti kenapa Sungmin menatapnya begitu.
Sungmin tidak memberikan respon apa-apa. Setelah ia mengunci pintu gerbang rumahnya, gadis itu langsung berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Siwon dengan rasa sakit di hatinya. Sungmin jelas-jelas menolaknya. Dengan meninggalkannya begitu, Siwon sangat tahu kalau Sungmin menolak perasaannya. Dengan rasa sakit di hatinya, Siwon pergi meninggalkan rumah Sungmin.
.
.
.
Sungmin mengeringkan rambutnya dengan hairdryer berwarna merah muda miliknya. Setelah kering, gadis itu duduk di kasurnya dan mengambil ponselnya. Dia menyentuh ikon telepon berwarna hijau pada layar yang menampilkan nama Kyuhyun. Sungmin sendiri juga tidak tahu kenapa dia malah menelepon Kyuhyun.
Tersambung.
Sayangnya Kyuhyun tidak mengangkat telepon dari Sungmin. Lelaki itu sedang bermain pspnya dengan volume yang cukup keras. Suara nada dering ponselnya kalah dengan suara pspnya. Kyuhyun sedang melampiaskan emosinya pada game tak berdaya itu. Kyuhyun sengaja menekan tombol-tombol yang ada di pspnya itu dengan kencang. Ia tidak peduli jika pspnya itu rusak. Yang penting emosinya telah tersalurkan.
Sungmin melempar ponselnya ke kasur empuknya itu. Dia kesal karena panggilannya itu tidak dijawab. Sungmin merebahkan dirinya dan tak lama gadis itu terlelap dalam tidurnya.
.
.
.
Keesokan harinya, Kyuhyun nekat pergi ke makam ibunya. Ayahnya sudah memperingati bahwa sebentar lagi akan ada badai salju, tetapi Kyuhyun tetap pergi.
Sesampainya di makam sang ibu, air mata Kyuhyun tumpah seketika. Ia berlutut di samping makam ibunya. Kyuhyun mengelus nisan ibunya. Air matanya tidak mau berhenti.
"Eomma.. aku merindukanmu.." Suara serak Kyuhyun cukup meramaikan pemakaman yang sepi itu.
"Eomma.. aku punya masalah lagi. Aku... tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Aku... butuh bantuan eomma."
Kyuhyun berbicara dengan makam sang ibu seolah-olah makam itu mengajaknya berbicara.
"Eomma.. aku payah dalam memilih. Dan sekarang aku dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit. Tolong beritahu aku apa yang harus aku pilih. Sahabatku atau cintaku?"
Kyuhyun kembali tenggelam dalam tangisnya. Tiba-tiba ada sebuah tangan mengelus lembut pundaknya. Kyuhyun menelusuri pemilik tangan itu. Ternyata Sungmin.
"Aku tahu rasanya kehilangan orang yang dicintai. Aku juga merasakan hal yang sama."
Sungmin baru pertama kalinya melihat Kyuhyun serapuh itu. Dalam pandangan Sungmin, Kyuhyun itu orang yang kuat. Tapi ternyata tidak. Kyuhyun tidak sekuat yang ia kira jika sudah berhubungan dengan ibunya. Sungmin juga baru tahu kalau Kyuhyun sudah tidak memiliki seorang ibu.
"Kyu, sebentar lagi akan ada badai salju. Lebih baik kita segera pulang." Ajak Sungmin.
Kyuhyun masih diam di tempat. Lelaki itu memang ingin pulang karena ia tidak mau mati kedinginan, tetapi ia masih merindukan ibunya. Walaupun Kyuhyun memasang wallpaper foto almarhum ibunya di ponsel, ia tetap merindukan sosok ibunya. Sosok nyata sang ibu yang selalu menemani Kyuhyun dalam suka maupun duka.
Salju turun semakin banyak. Sungmin yang tidak sabar menunggu Kyuhyun langsung menarik lelaki itu menjauh dari makam. Kyuhyun tidak protes. Dia tetap diam seperti sebelumnya.
Kini mereka telah berada di dalam mobil Sungmin. Sungmin memang bisa menyetir kendaraan. Umurnya juga sudah 17 tahun. Setelah mengunci pintu, badai salju datang. Sungmin memandangi badai itu dari kaca depan mobilnya. Tak mungkin ia menerobos badai.
Sungmin merasakan sebelah tangannya digenggam. Dia menoleh dan mendapati Kyuhyun sedang menggenggam sebelah tangannya. Sorot matanya menampakkan kesedihan. Ingin Sungmin melepaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun, namun ia tidak tega.
"Aku mohon biarkan seperti ini, Ming. Sebentar saja."
Sungmin hanya mengangguk. Lama-lama Sungmin merasakan tangan Kyuhyun makin panas. Dan selanjutnya muka Kyuhyun yang pucat. Sungmin benar-benar khawatir. Diletakkannya punggung tangan Sungmin pada dahi Kyuhyun.
Panas.
Kyuhyun memang sudah tertidur daritadi. Sungmin pikir lelaki itu kelelahan ternyata karena dia sakit. Badai belum juga berakhir. Sungmin melepaskan jaketnya dan memakaikannya ke Kyuhyun. Genggaman Kyuhyun pada Sungmin sudah terlepas sejak gadis itu melepaskan jaketnya. Sungmin mencoba menghangatkan Kyuhyun dengan menggenggam kedua tangan Kyuhyun dan meniupinya.
.
.
.
Kyuhyun terjaga dari tidurnya. Ia melihat sekeliling. Badai sudah berakhir dan Sungmin masih terlelap dalam tidurnya. Kyuhyun tidak tega untuk membangunkannya. Saat ia ingin membetulkan posisi duduknya, Kyuhyun baru menyadari kalau kedua tangannya digenggam Sungmin. Karena pergerakan itu Sungmin terbangun.
"Kau sudah bangun, Kyu?" Suara serak bangun tidur Sungmin terdengar jelas di dalam mobil itu.
"Iya.. belum lama." Kyuhyun merasa ada yang aneh dalam dirinya. Badannya terasa panas. Bahkan kedua matanya mengeluarkan air mata karena saking panasnya suhu tubuh lelaki itu.
Sungmin tersadar akan sesuatu. Dia segera mengambil kunci mobilnya dan menjalankan mobil tersebut. Kyuhyun bingung melihat Sungmin mengendarai mobil itu bukan ke arah rumah mereka, tetapi ke arah lain.
"Kau mau kemana, Ming?"
"Aku mau membawamu ke rumah sakit. Badanmu panas. Dan... ya, aku sedang khawatir sekarang. Lebih baik kau tidur. Setelah sampai akan kubangunkan."
Kyuhyun tersenyum mendengarnya. Sungmin khawatir padanya. Itu membuat Kyuhyun senang. Kyuhyun memandangi pemandangan sepanjang jalan melalui kaca samping. Tak lama Kyuhyun jatuh tertidur.
.
.
.
"Kyu.. kita sudah sampai." Sungmin mengguncang pelan tubuh Kyuhyun. Akhirnya Kyuhyun bangun dari tidurnya itu. Kyuhyun mengerjapkan matanya dan menguap sebentar. Lalu ia turun dari mobil dan mengikuti Sungmin masuk ke dalam rumah sakit.
Setelah memeriksa kondisi Kyuhyun, mereka berdua pun pulang. Sungmin bersyukur karena Kyuhyun hanya terkena demam biasa bukan penyakit yang berbahaya.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil sedan berwarna putih itu. Sebelum Sungmin menjalankan mobilnya itu, Kyuhyun ingin berterima kasih padanya.
"Ming, terima kasih telah khawatir padaku dan membawaku ke dokter."
Sungmin menatap Kyuhyun. "Tidak perlu berterima kasih, Kyu. Aku senang bisa membantu orang lain."
Kyuhyun tersenyum dan Sungmin membalas senyuman itu. Mereka saling menatap satu sama lain. Sungmin menyadari kalau Kyuhyun makin lama makin mendekati dirinya. Sungmin langsung mundur. Kyuhyun tersadar dan langsung meminta maaf. Tentu saja Sungmin memaafkannya. Setelah itu suasana menjadi canggung. Tak ada satu pun yang memulai bicara. Suasana canggung itu tetap berlangsung sampai Kyuhyun turun dari mobil setelah sampai rumahnya.
.
.
.
Keesokan harinya, Sungmin berkunjung ke rumah Kyuhyun. Gadis itu ingin menjenguk sahabatnya. Dengan berbekal buah-buahan, Sungmin memencet bel yang berada di samping pagar rumah Kyuhyun. Setelah berbicara lumayan lama di interkom, akhirnya Sungmin diperbolehkan masuk.
Gadis itu sudah berada di dalam kamar Kyuhyun. Warna biru mendominasi kamar tersebut. Kesimpulannya adalah Kyuhyun menyukai warna biru.
Kyuhyun masih tidur di atas kasurnya. Ayah Kyuhyun sebelumnya memberitahu Sungmin kalau suhu tubuh Kyuhyun semakin panas. Didekatinya Kyuhyun yang masih tertidur pulas itu. Sungmin meletakkan punggung tangannya ke dahi Kyuhyun. Benar apa yang dikatakan ayah Kyuhyun. Suhu tubuh Kyuhyun meningkat.
Kyuhyun yang merasa tidurnya sedikit terganggu membuka matanya. Dilihatnya Sungmin yang sedang menaruh buah-buahan di atas meja samping tempat tidurnya. Senyum terkembang di bibir Kyuhyun.
Sungmin hampir saja menjatuhkan buah-buahan bawaannya kalau saja tidak ada tangan Kyuhyun yang membantu menahanya. Sungmin tentu saja kaget. Setahu dia Kyuhyun sedang tertidur pulas tadi.
"Maaf membuatmu terbangun, Kyu."
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Tidak, Ming. Aku memang sudah puas tidur, jadi ya terbangun."
"Aku kira aku penyebab kau terjaga. Oh, iya. Kenapa kau bisa makin panas? Kau meminum obat dari dokter yang semalam, kan?"
Kyuhyun mengangguk. Dia memang meminum obat penurun demam yang diberikan dokter semalam. Sayangnya panas itu tidak mau hilang dari tubuh Kyuhyun.
"Kau sudah makan?"
"Belum, Ming."
"Kyuhyun, Kyuhyun. Kau ini bagaimana. Aku akan membuatkanmu makanan, oke? Tapi harus dimakan sampai habis."
"Aku tidak yakin bisa habis."
"Kalau tidak habis aku akan membantumu menghabiskan makanan itu."
Setelahnya, Sungmin langsung beranjak dari kamar Kyuhyun menuju dapur. Dia membuatkan bubur untuk Kyuhyun. Orang sakit memang makanannya itu, kan? Tapi Sungmin akan membuat bubur yang enak untuk orang sakit.
Sungmin masuk ke dalam kamar Kyuhyun sambil membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Kyuhyun langsung menyandarkan tubuhnya pada sandaran kasur.
Sungmin menyerahkan sendok pada Kyuhyun, sedangkan mangkuknya ia pegang sendiri. Perlahan demi perlahan bubur itu masuk ke dalam mulut Kyuhyun dan akhirnya habis. Sungmin menaruh mangkuk tersebut di atas nampan dan memberikan Kyuhyun segelas air putih.
"Buburnya enak sekali, Ming." Puji Kyuhyun setelah menelan air putih yang berada di mulutnya.
"Hehe terima kasih. Setelah ini jangan lupa minum obatmu. Aku harus pergi. Ayah dan ibuku menungguku."
Tangan Sungmin yang ingin membuka pintu kamar Kyuhyun terhenti saat Kyuhyun memanggilnya. Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun.
"Ming... ada yang harus kubicarakan padamu. Tapi... setelah ini kumohon kau jangan menghindar dariku."
"Katakan saja, Kyu."
Kyuhyun mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Sungmin. Setelah keberanian itu terkumpul, Kyuhyun menatap Sungmin.
"Aku... mencintaimu, Ming."
.
.
.
Sungmin mondar-mandir di dalam kamarnya. Dua orang sahabatnya mengatakan padanya kalau mereka mencintai dirinya. Kenapa mereka berdua bisa sama-sama menyukai aku? Batin Sungmin.
Sungmin yang mulai lelah karena kegiatan mondar-mandirnya itu merebahkan dirinya di atas kasurnya. Sungmin ingin tidur sebentar untuk menghilangkan rasa pusingnya. Dan tak perlu waktu lama, gadis itu sudah jatuh tertidur.
.
.
.
Kyuhyun merenungkan perkataan Sungmin tadi siang sebelum gadis itu pergi dari kamarnya.
"Kalau kau mencintaiku, aku menghargainya. Terima kasih telah mencintaiku, Kyu. Tenang saja, setelah ini aku tidak akan menghindarimu. Kau boleh mencintaiku tapi jangan memaksaku untuk membalas cintamu dan kau juga jangan berbuat hal yang tidak-tidak."
Jangan memaksaku untuk membalas cintamu.
Maksudnya apa? Kyuhyun masih belum paham maksud perkataan Sungmin yang satu itu. Bisa jadi Sungmin tidak akan mau mencintainya karena dia sudah menganggap Kyuhyun sebagai sahabatnya. Dan bisa juga Sungmin tidak mau dipaksa untuk mencintai dirinya karena Sungmin membutuhkan waktu untuk membalas cintanya.
"Sungmin mungkin butuh waktu untuk membalas perasaanku." Ujar Kyuhyun dengan percaya dirinya.
.
.
.
Kibum tidak sengaja bertemu dengan Siwon disebuah pusat perbelanjaan. Lelaki itu seperti mayat hidup. Pandangannya kosong. Kibum jadi teringat masalah Kyuhyun. Atau mungkin Siwon telah mengetahui kalau Kyuhyun menyukai Sungmin? Tapi tidak mungkin.
Kibum mengajak Siwon untuk mampir ke salah satu tempat makan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Siwon hanya menuruti. Kibum tidak heran jika Siwon jarang bicara. Memang Siwon orangnya jarang bicara dari dulu.
"Won-ah, kau kenapa? Sepertinya kau sedang mendapat masalah, ya?"
Siwon hanya mengangguk menyahuti.
"Kau bisa ceritakan masalahmu itu padaku. Mungkin aku bisa membantu."
Akhirnya Siwon mau berbicara. Dia menceritakan kalau dia menyukai Sungmin. Tidak. Mencintai Sungmin. Dan Sungmin menolak cintanya. Kibum jadi merasa tak enak pada Siwon. Disatu sisi dia senang karena Kyuhyun masih mendapat kesempatan untuk mendapatkan Sungmin, tapi disisi lain dia kasihan pada Siwon.
"Aku tahu ini sulit bagimu, Won-ah. Sungmin itu cinta pertamamu. Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kurasa kau harus belajar mengikhlaskan kalau Sungmin tidak membalas cintamu. Dan kau juga harus belajar perlahan-lahan melupakan dia."
"Aku tidak bisa begitu saja melupakannya."
"Tadi, kan sudah aku katakan. Perlahan bukan langsung."
"Maaf aku tidak mendengarkan dengan baik."
"Tidak apa. Sekarang aku mau memesan makanan. Kau mau makan apa?"
"Cordon Bleu Steak. Minumnya Lemonade." Ujar Siwon setelah melihat-lihat buku pesanan.
Kibum memanggil pelayan yang kebetulan melintas di depannya. Setelah Kibun memesan dan si pelayan mengulangi pesanannya, pelayan itu segera pergi ke belakang sambil membawa buku pesanan.
Sekitar lima sampai tujuh menit, pesanan mereka berdua telah datang. Siwon memperhatikan Kibum yang mulai memakan makanan pesanan gadis itu. Kibum yang merasa diperhatikan, bertanya, "Kenapa?"
Siwon masih memperhatikan Kibum. Sepertinya lelaki itu tidak menyadari kalau Kibum bertanya padanya. Karena tak dijawab, Kibum kembali melanjutkan makannya. Suara ponsel Siwon yang cukup kencang itu berhasil membuat si pemilik tersadar. Siwon membuka ponselnya. Ternyata sebuah pesan dari Kyuhyun.
Siwon tidak suka dengan pesan yang dikirimkan Kyuhyun padanya. Selera makannya langsung turun seketika. Amarah mulai menyelimuti dirinya. Kibum yang menyadari gelagat Siwon menaruh pisau dan garpunya. Kibum meminum Lemon Tea Ice-nya dan menepuk pelan tangan Siwon.
"Ada apa?"
Siwon tak langsung menjawab. Dia menetralkan emosinya terlebih dahulu. Kibum tetap menunggu sampai Siwon mau menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Kyuhyun. Dia mengirimiku pesan berisi pengakuan kalau dia menyukai Sungmin."
.
.
.
TBC
this is the chapter 5! semoga ceritanya tidak membosankan, ne? makasih buat readers yang setia nunggu ff ini update dan juga readers yang review^^ review dari kalian membantu aku dalam menyeselesaikan ff ini, so maukah kalian review lagi? :)
borntobesnower: pemilihan kelas disini ga berdasarkan peringkat tapi secara acak. jadi biar setiap kelas adil. gitu hehe
Thanks to:
JeongHyun137, kiikyunnie, Cho Hyun Ah Sparkins 137, dewi. k. tubagus, Guest, abilhikmah, beebee ming, chominhyun, PaboGirl, choleerann, KyuMinElfcloud, Shin, anakyumin, SEungyo, hanna, jihyunelf, jouley. peetz, Anggunyu, Guest, borntobesnower, missapple05, Sera Lee, Snow1215, ajid kyumin
Dan
Silent readers
*mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan pen name kalian
