Disclaimer: Harry Potter dan Vampire Knight bukan milikku
Warning: Slash, Au, Mpreg, OOC, typo
Rating: T
THE POMME DE SANG
By
Sky
"Aku tidak pernah bermimpi kalau Kei Suzumiya adalah Lord Malfoy. Rasanya seperti lelucon yang diucapkan oleh seseorang." Kata Kaname yang telah tersadar dari rasa keterkejutannya itu.
Draco hanya tersenyum kecil karena itu, tidak banyak orang yang berasal dari dunia vampire mengingat nama keluarganya, hanya beberapa vampire yang berada dalam garis keturunan keluarga tertualah yang tahu siapa keluarga Malfoy dan Potter. Dan Kaname yang mengetahui hal itu bukanlah sebuah kejutan yang besar lagi, Draco merasa lega karena ia tidak perlu menjelaskan siapa dirinya lagi. Yang saat ini ingin ia lakukan adalah kembali ke rumahnya untuk bertemu dengan Rido, Draco yakin kalau putranya yang satu itu pasti akan mencari-cari dirinya sebab Draco telah memodifikasi ingatan dan usianya agar kembali pada saat Draco dan Harry meninggalkannya. Draco ingin berada di samping Rido ketika anak itu membuka kedua matanya, Draco yakin ibunya pasti membutuhkan penjelasan yang lebih dari semua ini, sebuah penjelasan bagaimana Draco memiliki seorang anak berusia 10 tahun pada usia semuda ini. Dalam hati Draco ingin mengutuk Harry karena telah meninggalkan semua ini pada dirinya sendiri, kalau saja mereka bertemu sekali lagi pasti Draco akan menghajar suaminya yang tercinta itu.
Anak itu menghiraukan rasa hampa yang terlintas di hatinya ketika memikirkan mendiang suaminya, saat ini Draco tidak boleh terlihat lemah. Ia memiliki masalah yang lebih berat, yaitu seorang raja vampire yang berniat membunuh putranya, tentu saja Draco tidak bisa membiarkan Kaname untuk memenuhi ambisinya.
"Kau tidak terkejut kalau aku mengetahui siapa dirimu, Lord Malfoy?" Tanya Kaname dengan nada kalem.
Draco menatapnya dengan dingin, "Aku akan lebih terkejut lagi kalau kau tidak mengetahuinya, Kana-san. Nama Malfoy dan Potter bukanlah nama yang asing di telinga para pureblood. Aku bisa bertaruh kalau sewaktu kecil kalian mempelajari nama kedua keluarga itu."
Nama Malfoy dan Potter tidaklah asing, hampir semua pureblood yang masih ada kaitannya dengan hubungan darah tua mengenal kedua nama keluarga yang legendaries itu. Meski sebelum Draco dan Harry pergi ke masa lalu, nama keluarga mereka telah besar dengan sendirinya, dan kasus yang terjadi di antara kedua Lord muda ini adalah hal yang sangat taboo di mana seorang pureblood vampire (raja lebih tepatnya) menikah dan menjadi mate dari Lord yang merupakan pemimpin dari vampire hunter yang legendaries. Apa yang terjadi di antara mereka berdua adalah hal yang terlarang di mata dunia vampire dan pemburu, namun mereka semua tidak tahu kalau apa yang terjadi di mata mereka adalah yang wajar. Sihir dari Harry adalah pasangan dari sihir Draco dan begitu pula sebaliknya.
"Tentu, kau adalah Lord Malfoy, kepala dari keluarga terhormat dan tertua Malfoy, Marques of Wiltshire, Earl of Greenwood, dan Viscount of Sidney. Aku mendengar banyak tentang dirimu dan Lord Potter ketika Haruka-san bercerita tentang Rido, tapi aku tidak pernah menduga kalau kau masih semuda ini."
"Jangan melihat buku dari sampulnya, kau akan terkejut bila mengetahui usiaku yang sebenarnya." Kata Draco, ia menghiraukan tatapan shock yang diberikan para vampire di sana setelah mendengar title-nya yang begitu panjang.
"Oh benarkah? Tapi kurasa kau masih sangat muda bila dibandingkan denganku, Lord Malfoy."
"Aku tidak heran dengan itu, Kana-san, bila dibandingkan denganmu maka aku ini bisa disebut dengan seorang bayi kecil." Ujar Draco, ia menghilangkan sayapnya dari punggungnya dan hembusan angin yang mengalir di sana sedikit pelan sebelum menjadi sangat kencang. Draco memanggil sihirnya, ia mengucapkan stupefy saat Kaname kembali menyerangnya dengan cepat.
Draco merasakan tekstur Lunar yang ia panggil di sana di tangan kanannya, dengan cepat Draco menebas bola energy berwatna merah yang Kaname lemparkan padanya. Semua mata melihat keduanya dengan tatapan tidak percaya, mereka bertempur dengan sangat liar dan tanpa sadar menghancurkan tempat itu.
Yuuki yang masih shock dengan semuanya merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi, ia tidak percaya kalau dirinya adalah seorang pureblood vampire, putri dari keluarga Kuran, dan juga tunangan dari Kaname. Tentu saja semua ini seperti mimpi, tapi mimpi itu bertambah semakin aneh saat ia mengetahui pamannya yang gila dan selalu menargetkan dirinya ternyata adalah putra dari Kei-senpai. Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah Yuuki mendapati fakta kalau Kei-senpai bukanlah manusia normal pada umumnya. Dia bukan vampire, tapi sesuatu yang lain dan dari apa yang Kaname katakan Yuuki mengetahui kalau Kei-senpai adalah seorang Lord yang sangat kuat. Pertarungan di antara mereka berdua adalah saksinya.
"Kita harus menghentikan mereka berdua." Kata Akatsuki yang cukup mengejutkan mereka semua.
Hanabusha yang mendengarnya langsung melihat padanya, "Apa kau sudah gila? Kita bisa terbunuh bila melakukan itu?" protesnya.
"Kalau kita tidak melakukan itu, tempat ini tidak akan bertahan lama. Kekuatan Kaname-sama dan Malfoy-sama bisa menghancurkan Cross Academy dalam hitungan detik." Kata Akatsuki, "Kita tidak meragukan kalau Kaname-sama sangat kuat, tapi kita tidak bisa memungkiri kalau Malfoy-sama kemungkinan jauh lebih kuat dari Kaname-sama."
Zero, Yuuki, Ruka, dan Hanabusha semuanya melihat pada vampire berambut orange tersebut.
"Apa kalian tidak pernah mempelajari sejarah tertua dunia vampire?" Tanya Akatsuki sedikit kesal, melihat wajah blank mereka semuanya maka ia bisa mengatakan iya. Akhirnya Akatsuki pun menjelaskan, "Keluarga Malfoy seperti yang kalian ketahui adalah keluarga pemburu vampire yang sangat legendaries, menurut sejarah mereka adalah keluarga pertama yang mengorbankan diri mereka untuk menjadi pemburu dan mendirikan perserikatan. Mereka sangat kuat seperti pureblood vampire, dan rumor mengatakan kalau mereka bukanlah manusia, aku tidak akan heran dengan hal itu sebab Malfoy-sama yang ada di sini bukanlah manusia."
"Tapi bangaimana mungkin aku tidak pernah mendengarnya?" Tanya Ruka.
"Itu karena mereka memilih untuk menghilang, arsip yang memberitahukan keberadaan mereka lenyap begitu saja. Tapi aku tahu kalau mereka masih ada di sekeliling kita, dan ternyata itu adalah benar."
Mereka melihat pertarungan itu untuk kedua kalinya, dan tidak untuk pertama kalinya mereka merasa terkejut sekaligus terkagum-kagum. Zero yang sedari tadi diam sejak pertarungan itu dimulai hanya memikirkan satu hal, Kei adalah seorang pemburu vampire tapi bagaimana mungkin ia memiliki anak yang seorang pureblood serta bagaimana bisa?
"Jadi ini kekuatan pemburu vampire yang sebenarnya, sungguh luar biasa." Komentar Hanabusha, "Dan juga menakutkan."
"Pureblood vs pemburu vampire legendaries, aku tidak tahu mana yang lebih kuat." Tambah Akatsuki, ia menengok ke belakang ketika dirinya merasakan kehadiran kepala sekolah Cross tiba di tempat itu.
Kaien yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi di tempat itu meilihat Kaname dan Draco dengan tatapan penuh horror, mereka berdua bertarung dan kelihatannya tidak akan ada pemenang di antara mereka untuk sesaat, kalau semua ini dibiarkan maka pertarungan ini bisa menghancurkan sekolah, hal ini yang tidak bisa Kaien biarkan.
"Kaname-kun, Kei-san, hentikan pertarungan ini?!" teriak Kaien, pedang pemburu vampirenya masih ia pegang dengan erat di tangan kanannya.
Baik Kaname dan Draco yang mendengar suara Kaien langsung menghentikan duel mereka, keduanya menengok ke arah Kaien yang tengah memberikan glare kepada mereka berdua. Draco memberikan senyum kecil kepada kepala sekolah Cross tersebut, ia merasa duel yang ia lakukan dengan Kaname akan berhenti di sini, oleh karena itu ia mengambil posisi rileks sebelum kedua mata silver kebiruannya menatap Kaien dengan kalem.
"Kepala sekolah." Sapa Kaname, ia menurunkan penjagaannya ketika ia melihat Draco tidak akan menyerangnya lagi dalam waktu dekat ini.
"Aku ingin kalian berdua menjelaskan apa yang terjadi di sini padaku juga!" perintah Kaien, kedua matanya yang berada di balik kacamata tepat tertuju pada Draco sebelum beralih kepada Yuuki, ia tidak terkejut melihat perubahan pada diri putri angkatnya tersebut, namun Kaien cukup terkejut ketika melihat tangan kanan Zero tertutup oleh duri tanaman mawar, kekuatannya memang telah meningkat setelah mengkonsumsi darah Ichiru.
Draco menghela nafas panjang, pembicaraannya dengan Kaien dan Kaname memakan waktu yang lama. Selama tiga jam ia duduk di kantor kepala sekolah dan menjelaskan apa yang terjadi, tidak hanya Draco saja tapi juga Kaname menjelaskan semuanya. Draco yang sudah tahu dengan rahasia keluarga Kuran tidak heran lagi dengan penjelasan Kaname, bahkan saat pembicaraan itupun ia ingin kabur dari sana untuk melihat bagaimana kondisi Rido.
Tiga jam setelah itu Draco langsung kabur ke dalam kamarnya, ia membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya. Jadi di sinilah ia berada, Draco berdiri di dalam kamarnya setelah mengganti pakaiannya dengan sebuah kemeja berwarna ungu santai berlengan panjang yang ia lipat ke siku dan sebuah celana longgar berwarna abu-abu. Ekspresinya begitu kalem, untuk beberapa kali Draco menatap ke arah luar, pikirannya terbang jauh dan membayangkan apa yang Rido lakukan pada saat ini.
Draco tersenyum kecil saat ia memikirkan Rido, putranya itu sangat mirip dengan Harry, mulai dari keras kepalanya sampai keberanian Gryffindor yang Harry turunkan padanya. Sudah sejak lama Draco ingin menghapuskan sifat jelek Harry dari Rido, tapi sayangnya semua itu gagal. Rido memang sangat bergantung pada dirnya, tapi ia adalah copy carbon dari suaminya. Mereka berdua adalah orang yang sangat Draco sayangi, sekaligus dua orang yang tidak pernah gagal untuk membuat Draco sakit kepala.
Kedua mata silver kebiruannya menatap foto mendiang suaminya yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, Harry terlihat begitu bahagia di sana dan itu cukup untuk membuat Draco merasa gembira.
"Kalau saja kau masih ada di sini, pasti kau akan menganggap semuanya sangat lucu. Dua orang memiliki wajah sama sepertimu, satunya sang raja vampire sendiri dan satunya adalah putra kecil kita." Ujar Draco dengan nada lembut, ia berjalan menghampiri bingkai foto itu dan mengangkatnya mendekat pada wajahnya, "Aku tidak sabar untuk menceritakan semua ini jika kita bisa bertemu kembali, Harry. I love you so much, my king."
Draco memberikan ciuman kecil pada foto itu sebelum meletakkannya kembali di atas meja kecilnya. Saat ini yang ingin ia lakukan adalah kembali ke Malfoy manor dan melihat bagaimana keadaan putranya, tapi Draco masih memiliki sebuah urusan di tempat ini sehingga ia tidak bisa kembali ke rumah sebelum menyelesaikannya. Pertemuannya dengan Ichiru beberapa hari yang lalu sangat mengusik pikirannya, pemuda itu mengatakan kalau ia memiliki sesuatu yang berhubungan dengan Harry dan itu sangat penting untuk Draco. Sebelum Draco bisa bertanya lebih jauh lagi, pertemua kecil mereka harus terhenti karena kedatangan Kaname yang ingin berbicara dengannya.
Draco tahu siapa Ichiru, bahkan dia sangat mengenal baik saudara kembar Zero yang satu itu. Mereka pertama kali bertemu ketika Shizuka membawa Ichiru menghadiri pesta ulang tahun Draco yang ke-11 tahun, tepat sebulan sebelum Draco pergi ke Hogwarts. Kesan pertama Draco mengenai Ichiru adalah anak itu sangat lemah, seperti orang yang sakit-sakitan dan tidak memiliki usia yang panjang. Bahkan ketika Draco tahu alasan di balik semuanya, pendapatnya masih sama terhadap Ichiru, tapi semua itu berubah ketika keduanya mulai berteman dan Draco mulai mengenal baik siapa Ichiru. Sejak saat itu mereka menjadi teman yang baik, bahkan saat Draco mendapatkan heritage-nya sebagai high elven dan Veela serta mengetahui kalau Harry adalah mate-nya, Ichiru adalah orang pertama yang memberikan selamat padanya. Meski Draco tidak pernah mengakuinya secara langsung, ia sangat merindukan sosok teman baiknya, dan mengetahui kalau ia telah meninggal karena Rido adalah sebuah pukulan yang telak bagi Draco.
Mungkin ia bisa menemui Ichiru untuk yang terakhir kalinya, atau mungkin ia bisa menggunakan Necromancy untuk menghidupkannya lagi. Cepat pikiran itu datang, cepat juga berlalunya. Seseorang yang telah mati tidak boleh Draco hidupkan lagi meskipun ia menguasai sihir terlarang Necromancy, ia harus menghormati jiwa mereka yang telah beristirahat.
"Aku harus berbicara dengan Ichiru saat ini juga." Ujar Draco pada dirinya sendiri.
Pemuda itu mengambil tongkat sihirnya yang tergeletak di atas tempat tidurnya sebelum memasukkannya ke dalam saku celana, dengan keinginan yang pasti Draco pun keluar dari dalam kamarnya untuk menuju ke tempat di mana Ichiru meninggal malam itu.
Saat menuju tempat yang ia maksud, Draco berpapasan dengan beberapa murid kelas malam, mereka memberinya sebuah tatapan yang penuh dengan kekaguman dan semua itu Draco hiraukan, ia sudah biasa menerima tatapan seperti itu di Inggris dan mendapatkannya di sini bukanlah halangan terbesar baginya.
"Draco." Sapa sebuah suara baritone yang sangat Draco kenal.
Draco menghentikan langkah kakinya, ia tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa yang memanggilnya sebab Draco sudah tahu siapa orang itu. Satu-satunya orang yang berani memanggil nama pertamanya tanpa embel-embel Lord atau –kun ataupun –san.
Pemuda berwajah manis itu menghela nafas, "Kana-san, senang bertemu denganmu di sini." Balas Draco, ia menghiraukan Kaname yang menjejeri langkahnya dan berdiri tepat di sampingnya.
Kaname tersenyum lembut padanya, seolah-olah apa yang terjadi semalam tidak terjadi dan mereka berdua adalah teman yang sangat baik. Draco yang sangat ingin memberikan glare pada Kaname memaksa hasratnya untuk turun, sehingga ia hanya menatap pureblood vampire itu dengan tatapan netral. Meski Kaname Kuran memiliki wajah yang sama dengan suaminya, ia terlalu sombong untuk menjadi seperti Harry.
Remaja berambut pirang platinum itu menampis tangan kanan Kaname yang mencoba untuk membelai rambutnya, ia tidak suka ada orang yang terlalu dekat dengannya kecuali kalau mereka adalah keluarga, dan mendapati seseorang yang menyerangnya tidak lebih dari lima jam tadi melakukan hal itu tentu saja tidak bisa Draco terima.
"Apa yang kau inginkan, Kana-san?" Tanya Draco sesopan mungkin, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan memberikan Kaname tatapan dingin.
"Kau sangat dingin, Draco. Apa aku tidak boleh menyapa seorang teman sepertimu?" balas Kaname, ia menghiraukan tatapan dingin yang diberikan Draco padanya.
Alis kiri Draco terasa berkedut saat Kaname menyebut dirinya sebagai 'teman', tidak ada seseorang yang menyerang temannya sendiri seperti yang Kaname lakukan semalam karena masalah yang egois. Draco menghiraukan itu, ia malas menanggapi seseorang yang terlalu sombong seperti Kaname. Ia masih memiliki urusan penting yang harus ia selesaikan saat ini juga sebelum pulang untuk menemui putranya.
"Kana-san, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau inginkan, tapi aku yakin kalau menyapa seorang 'teman' seperti yang kau katakan tadi adalah hal terakhir yang kau inginkan." Kata Draco dengan lembut, kedua mata silver kebiruannya menatap lurus ke arah Kaname.
Senyum Kaname yang tadi terpasang di wajah tampannya sedikit meredup karena itu, tapi bukan berarti senyuman tersebut hilang. Kaname menatap sosok Lord muda tersebut dengan tatapan penuh perhatian dibalik eksterior dinginnya. Kaname tahu kalau remaja yang ada di hadapannya ini tidaklah berusia 17 tahun lagi seperti penampilannya saat ini, kalau benar Draco adalah orangtua dari pamannya berarti usia Draco sudah lebih dari 200 tahun, bagaimana ia bisa hidup sampai sekarang ini dan terlihat begitu muda adalah sebuah misteri.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, Draco." Jawab Kaname yang sebenarnya. Pangeran vampire itu berjalan mendekat pada Draco, ia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Draco dengan lembut.
Draco menghiraukan itu, ia tidak ingin menganggapnya meskipun sentuhan itu sangat lembut seperti yang pernah ia terima dari Harry, orang yang ada di belakangnya ini bukanlah Harry Potter, Lord Potter yang merupakan suami serta mate dari Draco, tapo orang ini adalah Kaname Kuran, raja vampire yang merupakan pureblood di sini. Tapi sekeras apapun Draco mencoba untuk menghiraukannya, sentuhan itu terus merambat ke hatinya, bahkan darah sihir yang sangat mengenali sentuhan dari Harry pun tidak memberontak padanya ketika Kaname menyentuhnya. Sebuah tanda tanya besar bagi diri Draco.
"Wajah mereka sangat sama, bukan? Bahkan auranya pun sangat mirip, apa kau yakin kalau Kaname Kuran bukanlah Lord Potter?"
Draco membelalakkan kedua matanya, kata-kata Ichiru tempo hari membuatnya terkejut. Apa maksud Ichiru mengatakan hal itu? Apa ia hanya ingin menggoda Draco saja sebagai ucapan belas kasihan? Wajah Draco memerah karena marah, ia menggeretakkan giginya dan melepaskan tangan Kaname dari bahunya. Dengan langkah cepat ia menuju ke tempat Ichiru terbunuh, ia menginginkan jawaban itu sekarang juga. Nada yang Ichiru berikan padanya beberapa hari yang lalu mengatakan kalau ia tahu sesuatu yang Draco tidak ketahui, dan semua orang tahu kalau Draco Lucien Malfoy tidak suka berada di bawah bayangan ketidaktahuan.
Remaja itu menghiraukan Kaname yang tengah mengikutinya, ia terlalu larut dalam pikirannya.
"Lord Potter tidaklah selemah itu, Lord Malfoy, dia tidak akan terbunuh seperti itu." Kata Shizuka dengan suara lirih.
Kali ini wajah Shizuka muncul di benak pikirannya, Draco masih bisa merasakan belaian tangan wanita yang sudah ia anggap seperti bibi itu ketika ia mengatakan hal tersebut seminggu setelah peperangan berakhir. Bahkan Shizuka saja tahu akan sesuatu seperti Ichiru. Sebenarnya apa yang ingin mereka sampaikan padanya!
Draco menjerit di dalam kepalanya, dengan langkah tidak sabaran ia membuka pintu besar yang ada di hadapannya, pintu ini mengarahkan langsung ke ruangan tempat Ichiru meninggal.
"Kei!" ujar seseorang yang sangat mirip dengan Ichiru, Draco baru menyadari kalau Zero ada di sana.
Keduanya saling berpandangan satu sama lain, yang satunya terlihat terkejut sementara yang lainnya sama tercengangnya, tapi Draco yang memiliki misi yang sangat penting langsung tersadar, ia menghiraukan Zero yang masih menatapnya dengan tatapan dingin, bahkan tatapan itu semakin bertambah dingin saat Kaname masuk ke dalam ruangan.
"Kuran."
"Kiryuu."
Baik Kaname maupun Zero slaing memberikan glare kepada satu sama lain, Draco lagi-lagi menghiraukannya. Draco berjalan ke arah tubuh Ichiru yang masih berbaring di atas tempat tidur yang ada di sana, ia menatapnya dengan tatapan sedih sebelum memejamkan kedua matanya karena pemandangan itu terlalu menyedihkan untuk ia lihat. Ichiru terlihat begitu pucat dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, melihat teman masa kecilnya berbaring tidak berdaya dan tidak bernyawa di hadapannya membuat hati Draco menjadi terluka lagi. Rasanya seperti melihat pemandangan di mana orang-orang terpenting dalam hidupnya diambil oleh takdir dengan kejamnya tepat di hadapannya.
"Ichiru, mengapa kau harus pergi secepat ini? mengapa kau harus dibutakan oleh api balas dendam seperti ini?" Tanya Draco lembut, ia berlutut di samping tubuh Ichiru berbaring dan membelai pipinya yang pucat, rasanya begitu dingin.
"Draco." Desah Kaname, ia menghiraukan Kiryuu yang masih memberikan glare padanya, tapi saat melihat pemandagan yang Draco buat langsung mengalihkan pandangan Zero dari Kaname.
Mereka berdua tidak tahu harus mengatakan apa, sepertinya hubungan antara Draco dengan Ichiru sangat dekat.
"Kau berjanji pada Harry kalau kau akan terus di sampingku bila Harry sudah tiada, mengapa kau ingkar janji, Ichiru?" Tanya Draco pelan, dengan perlahan ia mengecup kening sahabat lamanya, "Rido sangat membutuhkan sosok ayah baptisnya di sampingnya, Ichi, kau tidak mau kan membiarkan Blaise mempengaruhinya?"
Draco tersenyum kecil, wajah Ichiru terlihat begitu damai dalam tidur abadinya. "Maafkan aku, Ichiru, aku tahu kalau kau menginginkan tidur abadi setelah semuanya berakhir, tapi kau harus segera bangun dari tidur panjangmu. Saat ini bukanlah waktumu untuk pergi selamanya." Kata Draco.
Pemuda itu berdiri dari tempatnya di samping Ichiru, ia memejamkan kedua matanya dan memanggil sihirnya. Kaname dan Zero yang berdiri di belakang Draco ikut memejamkan mata mereka saat angin yang sangat kencang membuat jendela besar di kamar itu terbuka, membuatnya masuk dan menyelimuti tubuh Draco. Sihir itu sangat besar dan begitu kuat, Kaname bisa merasakannya dengan jelas, bahkan Zero yang tidak peka terhadap sihir juga bisa merasakannya. Keduanya melihat lantai tempat Draco berpijak muncul sebuah lingkaran sihir yang bersinar begitu terang, simbol-simbol aneh juga muncul di sana, dan yang begitu kontras adalah sebuah tanda seperti Cross yang terlilit bulan dan matahari muncul di kening Draco dan punggung tangan kirinya, tanda itu bersinar keemasan.
"Uno solvius elsyet spirit!" gumam Draco pelan, setelah ia mengucapkannya energy yang tadi menyelimutinya kini terfokus pada tubu Ichiru yang di hadapannya.
Draco membuka kedua matanya, ia bisa melihat aura jiwa yang menyelimuti tubuh Ichiru mulai berputar dan berpusat pada tubuh temannya. Apa yang Draco lakukan adalah hal yang dianggap sangat terlarang, ia menggunakan Necromancy, sihir tergelap yang pernah ada.
"Atas nama Draco Lucien Malfoy, Necromancer apprentice dari Morgana Le Fay, aku memanggil jiwa dari Ichiru Kiryuu untuk kembali ke tubuhnya. Relisio!" dengan ucapan itu Draco merasa jiwa Ichiru kembali masuk ke dalam tubuhnya secara berangsur-angsur.
Saat mengetahui apa yang ia lakukan sudah berhasil, Draco melepaskan sihirnya, angin keras kembali reda dan simbol aneh yang ada di lantai serta tubuhnya menghilang. Tubuhnya terasa begitu letih, dan apabila bukan karena Kaname yang menangkapnya pasti ia akan jatuh ke lantai. Draco mencoba untuk membuat matanya terus terbuka, ini bukan saatnya untuk tidak sadarkan diri. Tenanganya yang habis serta tubuhnya yang lemah membuat Draco tidak protes saat Kaname mendudukkannya di atas pangkuannya dengan kepalanya berada di leher Kaname, membuat dada Kaname menjadi sandarannya. Kedua matanya yang terlihat begitu lelah fokus pada Ichiru.
"Apa yang kau lakukan, Draco?" Tanya Kaname dengan lembut di telinga Draco.
Draco tidak menjawab, ia terlalu lemah untuk melakukannya. Ia tidak boleh pingsan sebelum melihat Ichiru hidup lagi. Dan apa yang ia harapkan terjadi, ketika Ichiru membuka kedua matanya, Draco langsung memejamkan miliknya karena energinya mulai meninggalkan tubuhnya.
An: Terima kasih sudah mampir
Author: Sky
