Disclaimer: Harry Potter dan Vampire Kngiht bukan milikku

Warning: AU, OOC, Slash, Mpreg, typo, etc

Rating: T

Genre: Romance


THE POMME DE SANG

By

Sky


Saat Draco menyadari bahwa dunia merupakan panggung sandiwara bagi para manusia, ia mulai belajar untuk mengendalikan emosinya. Dia tidak ingin seseorang untuk menyakiti hatinya bila ia menggunakan hati dalam setiap tindakan, sebab ia tahu kalau hati yang tersakiti tidak akan sembuh dalam waktu yang sebentar. Draco selalu berhari-hati dalam memilih siapa yang nantinya akan dekat dengannya dan siapa yang akan ia pilih menjadi musuhnya, ia tahu kalau apa yang ia lakukan adalah hal yang sangat egois, tapi ia tidak bisa membantu untuk tidak melakukannya. Ia melakukan itu untuk melindungi dirinya, melindungi keluarganya, dan yang terpenting adalah melindungi hatinya.

Namun benteng perlindungan yang ia ciptakan untuk membendung hatinya sedikit demi sedikit retak ketika Draco menerima Heritage-nya pada usia 16 tahun. Ia tidak pernah menyangka kalau ia akan menjadi seorang high elven dan seorang veela. Mungkin menjadi makhluk yang pertama tidak ada buruknya dan sama sekali tidak Draco sesalkan sedikitpun, tapi menjadi makhluk yang kedua? Draco tidak tahu harus menangis atau tertawa karena semua ini adalah ironi. Veela adalah makhluk sihir yang sangat langka, mereka cantik dan kuat namun mereka tidak bisa hidup sendiri tanpa ada perasaan cinta yang mengelilingi mereka. Dan yang lebih buruk dari semua itu adalah mereka memiliki seorang soulmate. Untuk kebanyakan orang bila mereka berada pada posisinya pasti mereka akan menganggap kalau ini adalah berkah, tapi bagi Draco ini semua adalah kutukan atau hukuman. Pada minggu pertama ia menganggap semuanya demikian, tapi semuanya berubah ketika ia menemukan kalau Harry adalah soulmate-nya.

Mungkin dari semua yang terjadi dalam hidupnya, kehadiran Harry adalah hal yang tidak pernah ia sesalkan. Laki-laki itu tidak pernah membiarkannya jatuh, selalu melindunginya baik itu dari musuh maupun dari kejamnya dunia. Setiap hari Harry selalu menyiraminya dengan perasaan cinta kasih, hal inilah yang terkadang membuat Draco merasa ingin menangis dan memeluk Harry dengan erat, berusaha agar ia tidak akan melepaskannya. Mungkin Draco bukanlah orang yang sempurna seperti Harry, tapi ia akan menjadi seseorang terbaik bagi Harry, sebab secara perlahan-lahan atas kesabaran dan perlindungan Harry itu ia mulai merasakan apa itu yang dinamakan cinta.

Meski dunia mereka berdua tengah berada dalam peperangan, kebahagiaan keduanya bertambah saat Draco menemukan dirinya hamil dengan bayi Harry. Rido, Harry menamakan bayi mereka dengan nama Rido Julian Potter. Draco tidak pernah menyangka kalau ia akan melahirkan Rido di tengah peperangan seperti ini, melihat keadaan Draco tersebut membuat Harry memutuskan untuk membawanya ke tempat yang sangat jauh 200 tahun di masa lalu. Di waktu itu keduanya hidup sangat damai selama 10 tahun, bahkan Harry yang merupakan seorang Pureblood pun mendapatkan julukan sebagai seorang Lord di kalangan para vampire, seorang Lord yang memiliki kedudukan sangat tinggi. Mungkin karena itu keluarga Potter menjadi sangat dikagumi dan menjadi legenda, dengan status social dan kekuatannya yang di atas pureblood normal membuat Harry menjadi sosok yang sangat ditakuti bila menjadi seorang musuh.

Draco tahu kalau ia tengah membayangkan masa lalu di mana Harry masih hidup, ia tahu kalau semuanya hanya sebuah mimpi yang tidak akan terulang kembali, bukan hanya ia tidak memiliki kekuatan seperti Harry yang membiarkannya menjelajahi waktu tapi juga karena Harry telah meninggal untuk melindunginya. Dalam angannya Draco mencoba untuk memegang pita-pita memori yang berterbangan di hadapannya, tapi sekeras apapun ia berusaha pita kenangan itu tidak sampai dalam genggamannya.

Saat ini Draco berada dalam dunianya sendiri, tubuhnya yang masih kehilangan banyak energi akibat sihir Necromancy yang ia lakukan tidak lama sebelum ini belum begitu pulih. Sekali dua kali Draco mencoba untuk membuka kedua matanya, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan itu, jadi ia membiarkan dirinya berada dalam keadaan seperti ini untuk beberapa saat.


Kaname melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana remaja yang ada dalam pelukannya ini menggunakan kekuatannya untuk menghidupkan orang mati, ia tidak menyangka kalau Draco sekuat ini, tapi Kaname tahu kalau ia tidak perlu terkejut lagi sebab bila Draco tidak kuat maka ia tidak bisa menjadi seorang Lord pada usia semuda ini.

Wajah Draco yang begitu damai begitu melekat dalam ingatan Kaname, ia membelai pipi halus Draco dengan perlahan sebelum kedua matanya jatuh pada bibir merah muda yang ranum milik remaja itu. Raja vampire tersebut ingin sekali mengecupnya dan memiliinya, monster buas yang ada di dalam tubuhnya menyuruh Kaname untuk mengklaim Draco sebagai miliknya, tapi Kaname mencoba untuk menahan hasratnya itu.

"Ichiru." Panggil Zero kepada saudara kembarnya.

Pandangan Kaname beralih dari Draco kepada kedua saudara Kiryuu yang tidak jauh dari tempatnya berada. Ia melihat Zero yang masih shock dengan kebangkitan Ichiru mencoba untuk mendekati saudaranya, sementara Ichiru sendiri yang duduk di atas tempat tidur mencoba untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan dirinya.

"Tidak mungkin, aku hidup lagi." Hanya itu yang sedari tadi Ichiru katakan pada dirinya sendiri. "Aku sudah memastikan itu."

Nada dari suara Ichiru terdengar tidak yakin, ia masih melihat kedua tangannya dengan tatapan penuh keraguan di sana. Zero sangat ingin memegang adik kembarnya, tapi Ichiru bukanlah anak kecil lagi yang senang mendapat perlindungan dari dirinya, anak itu sudah tumbuh menjadi seseorang yang telah dewasa.

"Draconis." Desah Ichiru, membuat Zero dan Kaname menatap padanya. Keduanya sedikit terkejut saat mereka mendapat tatapan dari Ichiru beranjak pada sosok pucat yang ada di pangkuan Kaname.

Ichiru melihat wajah damai Draco untuk sesaat, ia terlihat begitu tenang seperti seorang anak usia sepuluh tahun yang menjadi adik angkatnya. Dengan perlahan Ichiru beranjak dari tempat tidurnya, ia mencoba berdiri dengan kedua kakinya, tapi tubuhnya yang terasa sangat lelah membuatnya hampir jatuh kalau bukan Zero yang dengan sigap menangkap tubuhnya.

"Hati-hati." Ujar Zero kepada Ichiru, suaranya penuh kecemasan yang tidak bisa Ichiru tangkap dengan jelas sebab perhatiannya tertuju pada sosok kecil Lord muda Malfoy.

Untuk sesaat Ichiru ingin diam di dalam dekapan saudara kembarnya yang hangat, tapi ia tahu kalau dirinya tidak bisa melakukan itu. Remaja yang memiliki rambut sedikit panjang dari Zero itu mencoba untuk berdiri dengan benar. Meski ia telah mencoba namun tetap saja tubuhnya yang lemah tidak mampu menopang berat badannya, sehingga Zero yang tidak tega melihat adiknya itu langsung memegang pinggangnya dan membantunya untuk berdiri. Ichiru menyandarkan tubuhnya pada Zero.

Melihat remaja berambut silver kebiruan yang merupakan adik kembar Kiryuu itu ingin berjalan ke arahnya atau lebih tepat kepada Draco, akhirnya Kaname berdiri dengan menggendong Draco bridal style dan membaringkannya ke tempat tidur di mana Ichiru tadi berbaring. Tangan kanan Kaname membelai rambut pirang platinum milik Draco, rasanya begitu lembut seperti sutera dan saat ia meletakkan tangannya pada pipi kanan Draco, ia bisa merasakan kehangatan menjalar dari tubuh itu. Wajah Draco yang tertidur mirip sekali dengan sebuah boneka porcelain yang sangat mahal, begitu cantik namun rapuh, bahkan Kaname tidak berani untuk memperlakukan anak itu dengan keras sebab ia takut sosoknya akan menghilang dan hancur bila ia melakukannya, dan ia menghiraukan sebuah perasaan kalau Draco bukanlah orang yang sangat lemah seperti bayangannya, anak itu telah membuktikannya dengan pertarungan mereka.

'Sebenarnya apa yang kau sembunyikan, Draco?' tanya Kaname pada dirinya sendiri. Kedua mata merah marunnya beralih pada Ichiru yang dibantu oleh Zero kembali duduk di pinggir tempat tidurnya.

Untuk sesaat kedua mata Kaname bertemu dengan Ichiru, kedua mata lavender yang jauh lebih lembut dari milik Zero tersebut menatap Kaname dengan penuh tanda tanya. Kaname sendiri balik memperhatikan Ichiru. Remaja itu memiliki wajah yang identik dengan Zero, namun raut wajahnya jauh lebih lembut dari kakaknya, juga rambutnya yang berwarna silver itu sedikit lebih panjang. Sementara itu kedua mata lavendernya terlihat begitu terang dan tidak terhinggapi oleh perasaan dendam di sana, bahkan Kaname menemukan keluguan yang masih terpancar di balik sepasang mata berwarna lavender. Dalam benak Kaname, Ichiru Kiryuu adalah versi kecil dan lembut dari Zero Kiryuu.

Ichiru balik melihat antara Kaname dengan Draco, ia melakukan itu untuk beberapa kali sebelum senyum kecil muncul di wajahnya. Ichiru meletakkan tangan kanannya di atas tangan Zero yang masih memeluk pinggangnya, dengan perlahan Ichiru memegang tangan itu sebelum mengangkatnya dan menyentuhkannya pada pipinya. Zero yang sudah terbiasa dengan kelakukan Ichiru itu hanya membiarkannya.

Zero membantu adik kembarnya itu mendekati tubuh Draco, ia melihat Ichiru melepaskan genggaman tangan mereka berdua untuk membelai pipi pucat Draco dengan perlahan. Untuk sesaat Ichiru melihat Kaname yang masih terus mengawasi mereka seperti seekor induk yang begitu protective kepada anaknya, yang tentu saja hal itu Ichiru hiraukan. Ichiru mendekatkan wajahnya pada Draco untuk sesaat, kedua mata lavender beningnya berkilat penuh humor sebelum ia mencium kening penerus keluarga Malfoy.

"Sleep well, Milord." Kata Ichiru pelan kepada Draco sebelum dirinya berbaring di sampingnya. Ichiru menggengam jemari Draco untuk perlahan sebelum memejamkan kedua matanya.

"Nii-san, Kuran-san." Panggil Ichiru pelan, "Tolong tinggalkan kami untuk sesaat, kami ingin beristirahat."

"Ichiru…" Zero yang terlihat khawatir langsung memanggil namanya untuk protes.

"Hush, kau tidak perlu khawatir, Nii-san. Aku hanya lelah saja." Jawab Ichiru, ia membuka kedua matanya lagi. Ichiru memberikan senyum lembut kepada Zero, mengisyaratkan pada kakaknya agar ia tidak perlu khawatir lagi.

Zero mengangguk, ia mengerti maksud dari Ichiru untuk meninggalkannya sendiri. Zero beralih pada Kaname, sang raja vampire tersebut masih terlihat ragu untuk meninggalkan Ichiru bersama Draco sendirian, dan apakah itu rasa cemburu yang berkilat di mata Kuran? Zero menyipitkan matanya, barusan saja ia melihat kilatan penuh cemburu di mata Kuran yang ditujukan pada Ichiru.

"Kuran, kita keluar dari sini!" ujar Zero dengan nada yang kasar pada raja vampire itu.


Cinta itu adalah anugrah yang terindah, itulah yang Draco sering dengar dari ibunya. Narcissa selalu bercerita kalau hidup akan indah bila diwarnai oleh cinta, bahkan sebuah kesedihan dan sakit hati seseorang akan sembuh bila orang itu menerima cinta yang mereka dambakan. Meski kedengarannya hal itu adalah sebuah lelucon dalam kehidupan manusia, Draco harus belajar untuk menerimanya. Saat ia berusia dua tahun, Draco tidak mengerti mengapa ibunya sering menceritakan hal itu padanya, bahkan kata-kata mengenai cinta adalah hal asing yang ia dengar waktu itu, Draco tidak mempermasalahkan hal itu sebab ia tahu dirinya terlalu kecil untuk mengerti mengenai cinta. Saat Draco berusia tujuh tahun, ia mulai mengerti apa itu cinta. Draco yakin kalau dirinya sangat mencintai keluarganya lebih dari apapun, sebab ia tidak ingin kehilangan keluarganya untuk apapun. Bahkan Draco tidak segan-segan untuk memberikan glare pada orang-orang yang mengejek keluarganya.

Pada saat dirinya menginjak usia remaja, Draco mulai bertanya-tanya mengenai hatinya. Terkadang Draco merasa begitu hangat saat ia menemukan seekor burung hantu telah menantinya di dalam kamarnya dengan setangkai mawar merah dan sepucuk surat, bahkan Draco tidak tahu siapa pengirimnya. Draco yang terkenal dengan julukan boneka es itu bisa merasakan wajahnya panas ketika orang yang sama hampir tiap pagi mengiriminya sebuah puisi ketika Draco dan teman-temannya sarapan di aula besar, seekor burung hantu selalu mengirimkan benda itu padanya, bahkan tidak jarang surat itu selalu diselingi dengan bunga.

"Dari penggemar rahasiamu lagi, Dray?" tanya Pansy dengan seringai penuh humor di wajahnya, cukup untuk membuat wajah Draco memerah lagi. Draco ingin sekali mengontrol emosinya, tapi hatinya yang pemberontak berkata lain, ia sangat menyukai kiriman itu.

"Tatapan berbahayamu itu tidak ada efeknya bila kau menggunakannya dengan rona merah di wajahmu, Dray." Imbuh Blaise sebelum ia tertawa, diiringi oleh Theo dan Daphne tentunya. "Sangat imut seperti gadis usia 12 tahun yang mendapatkan surat cinta pertama mereka."

Wajah Draco tentunya semakin memerah karena itu, tapi ia tidak bisa marah pada temannya. Tentu dirinya tidak suka disebut Lovestruck boy atau cute oleh Daphne dan Pansy, apalagi candaan Blaise dan Theo yang selalu mengirinya. Draco tidak bisa marah pada temannya, bahkan ia sering menemukan dirinya tersenyum tanpa seizin otaknya ketika mereka melakukan itu padanya. Dan yang jelas Draco akan merindukan semua ini suatu saat nanti.

Kisahnya mencari apa artinya cinta tidak berhenti begitu saja. Ketika Draco menginjak usia 16 tahun, ia menemukan sebuah kejutan yang tidak pernah Draco sangka-sangka sebelumnya. Draco menemukan kalau keluarganya bukanlah penyihir normal yang ia sangka selama ini. Draco menemukan ayahnya adalah seorang High Elven yang berdarah murni, sementara ibunya adalah seorang Veela. Sebuah pasangan yang aneh, tapi dari buah cinta mereka lahirlah Draco. Malam itu Draco menerima takdirnya sebagai setengah High elven dan Veela serta mengetahui rahasia terbesar dari keluarga Malfoy.

Hal itu memang membuatnya terkejut, tapi itu bukanlah apa-apa dibandingkan saat ia menemuka seorang pemuda menatapnya pada malam itu. Draco tidak akan terkejut bila hal itu terjadi tidak di kamarnya apalagi ketika Draco membuka matanya dimalam ia menerima takdirnya, justru saat Draco membuka matanya pada malam itu ia menemukan seorang pemuda berdiri di samping tempat tidurnya dan menatapnya penuh arti. Kedua mata emerald milik pemuda itu membuat Draco bertanya-tanya di mana ia pernah melihatnya, sebab Draco yakin aura pemuda itu tidaklah familier baginya.

"Akhirnya aku menemukanmu, Mon Cherry." Kata-kata dari pemuda itu membuat Draco membelalakkan kedua matanya.

Draco menemukan dirinya lebih terkejut lagi saat menemukan kalau pemuda yangn bertubuh tinggi dan beraura gelap itu adalah Harry James Potter, seorang Potter yang menjadi rivalnya di Hogwarts dan sering dielu-elukan sebagai pahlawan dunia sihir. Rasanya Draco tidak ingin mempercayai hal itu, sebab pemuda yang ada di sini dan Potter sangat berbeda. Bahkan dari fisik dan auranya pun sangat berbeda. Di mana Potter itu bertubuh pendek, berambut berantakan, dan tubuhnya kurus kering serta auranya begitu terang seperti cahaya yang menyebalkan maka pemuda itu adalah sebaliknya. Pemuda itu memiliki tubuh tinggi, sangat tinggi menurut Draco, dengan tubuh kekar yang proporsional, berkulit alabaster, dan rambutnya yang hitam berantakan itu memberikan kesan begitu seksi. Pemuda itu sangat tampan, bahkan pembawaannya yang tenang itu memberikan kesan yang misterius dan begitu regal. Dari semua itu yang membuat Draco terpana adalah sepasang mata emerald yang tajam balik menatapnya, serta aura sihirnya begitu gelap seperti malam dan coklat hangat. Pada malam itu Draconis Lucien Malfoy untuk pertama kalinya bertemu dengan mate-nya, rajanya, penyeimbang dirinya, dan ayah dari putranya di masa depan di balik semua topeng yang Harry Potter kenakan selama ini.


"Kau begitu diam sejak terakhir kau terbangun, Dray." Ujar Ichiru yang menatap temannya dari tempatnya berdiri di depan jendela besar di kamar tersebut. Kalimat itu membuat Draco tersadar dari lamunannya.

Draco tidak menjawab Ichiru, ia masih terduduk di posisinya semula sejak ia terbangun dari istirahatnya. Saat ini sihir dan tenaga Draco mulai pulih, meskipun itu cukup lambat. Mungkin Draco harus mengingat-ingat kalau dirinya tidak akan lagi menggunakan sihir terlarang lagi yang memerlukan energy besar di saat ia kehilangan energy untuk berperang semalam sebelumnya. Meskipun Draco kehilangan banyak energy sampai membuatnya pingsan, ia tidak menyesal untuk memanggil jiwa temannya. Ichiru membutuhkan kesempatan kedua dalam hidupnya, mungkin dengan ini Ichiru bisa bersatu lagi dengan kakak kembarnya, terlebih lagi ada beberapa hal yang ingin Draco tanyakan padanya mengenai Harry dan bukankah Rido membutuhkan ayah baptisnya saat ini?

Pemuda berambut pirang platinum itu menurunkan kedua kakinya dari atas tempat tidur ke lantai, ia menghiraukan rasa dingin yang menusuk pada telapak kakinya. Dengan perlahan ia berjalan menghampiri Ichiru dan berdiri tepat di sampingnya.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ichiru lagi, kedua matanya masih menatap ke luar jendela, melihat sinar orange yang ditinggalkan oleh matahari yang tenggelam.

"Lelah, tapi sekarang sudah mendingan." Jawab Draco.

"Dasar bodoh." Celetuk Ichiru, Draco tidak mengalihkan wajahnya padanya namun ia melihat Ichiru dari sudut mata kanannya. "Menggunakan Necromancy pada keadaan seperti itu, kau sadarkan kalau dirimu bisa terbunuh karena itu?!"

Draco mengangguk pelan, "Tapi pada kenyataannya aku tidak terbunuh 'kan? Dan lihatlah sekarang, kau hidup dan berbicara padaku." Katanya dengan nada sarkatis pada suaranya.

"Jangan gunakan nada itu padaku, Dray. Aku tidak mengerti untuk apa kau menghidupkanku lagi, kau itu bukanlah Master of Death seperti Lord Potter. Meskipun kau adalah mate dari seorang Lord kematian, bukan berarti kau bisa menghidupkan orang sesuka hatimu!"

Draco tersenyum kecil mendengarkan Ichiru mengatakan itu padanya, lebih tepatnya Ichiru memarahinya secara halus. Tapi semua itu tidak Draco ambil hati, yang penting baginya sekarang Ichiru masih hidup dan temannya kembali lagi padanya, meskipun konsekuensi mendapat kemarahan dari Ichiru harus Draco terima.

"Aku tahu itu, Ichiru."

"Kalau kau tahu dirimu bisa terbunuh, lalu untuk apa kau tetap melakukannya? For God sake, Draco. You aren't a God who can do anything, you're just a human. Tolong jangan bertindak bodoh seperti itu lagi."

Pemuda bermata silver kebiruan itu menghela nafas panjang-panjang, "Kalau bertindak bodoh artinya bisa membawamu di sampingku, maka aku akan melakukannya." Jawab Draco singkat dengan senyum kecil di wajah manisnya.

Ichiru yang mendengarnya hanya bisa menatap remaja yang berdiri di sampingnya itu, seolah-olah Draco telah kehilangan akal karena tertelan stress yang telah menghinggapinya sejak kematian suaminya.

"Kau bercanda, bukan?" tanya Ichiru yang masih berada dalam keadaan shocknya.

Draco melirik Ichiru, "Sejak kapan aku bercanda dalam situasi seserius ini, Ichiru? Untuk sekali saja, anggap saja kebodohan yang kulakukan ini adalah keegoisan yang sejak dulu ada dalam diriku."

"Kau memang orang yang egois sejak dulu." Ujar Ichiru, ia menghela nafasnya melihat argument di antara mereka berdua tidak ada gunanya. Baik Draco dan dirinya masih lemah karena efek sihir itu, dan Ichiru tidak ingin bertengkar karena masalah kebodohan yang Draco lakukan itu sebab ia tahu kalau hal itu akan membuat mereka berdua semakin buruk.

"Aku tahu itu." Jawab Draco. 'Tapi keegoisanku itu setidaknya membuat hati Zero-kun tidak bersedih lagi.' Imbuh Draco dalam hati. "Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu."

"Mengenai Lord Potter?" tanya Ichiru sambil mengerutkan keningnya.

Remaja bermata silver kebiruan itu melihat Ichiru dengan penuh humor namun serius pada saat yang sama, tentu saja itu yang ingin Draco tanyakan pada Ichiru sebab Draco memiliki firasat baik Ichiru dan Shizuka-san mengetahui sesuatu yang Draco tidak ketahui. Draco tidak menjawab asumsi dari Ichiru, ia hanya mengangguk sebagai balasannya.

"Mengapa kau berpikir harus bertanya padaku, Dray?"

"Mengapa kau bilang begitu? Itu karena aku punya firasat kalau kau tahu, dan firasatku itu jarang salah." Balas Draco. "Jadi, Ichiru, kau bisa mengatakannya sekarang."

Ichiru menatap Draco untuk beberapa saat, cukup untuk membuat Draco merasa tidak nyaman ketika melihat ekspresi temannya itu. Wajah Ichiru begitu damai sebelum semburat kesedihan dan sedikit kemarahan muncul di kedua mata violetnya. Draco memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup untuk melihat ekspresi itu pada diri temannya. Ekspresi itu selalu mengingatkan Draco pada mimpi buruk yang tidak pernah ia lalui, seperti ada sesuatu yang sangat buruk dan akan lebih baik untuk menjadi sebuah rahasia daripada diceritakan.

"Ichiru?" panggil Draco dengan kalem.

Pemuda berambuh silver tersebut menghela nafas panjang sebelum ia membuka mulutnya. "Kau benar, aku mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang lain." Kata Ichiru, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menguasai emosinya. "Tapi apapun itu, aku tidak bisa memberitahumu, Draco. Lord Potter memintaku bersumpah agar aku tidak memberi tahu siapapun mengenai apa yang terjadi padanya."

"Shizuka….." belum sempat Draco selesai mengucapkan pertanyaannya, Ichiru langsung memotongnya.

"Shizuka-sama juga mengetahui hal itu sebab beliau memiliki kekuatan untuk melihat ke masa depan. Tapi sama halnya denganku, Lord Potter juga meminta Shizuka-sama untuk menjaga rahasia itu."

Draco memejamkan kedua matanya rapat-rapat, kedua tangannya yang berada di sisi kanan dan kiri tubuhnya juga mengepal sampai putih. Harry, suaminya tercinta tidak menginginkan Draco untuk mengetahui hal ini. Bahkan Harry menyuruh Ichiru dan Shizuka bersumpah untuk tidak memberi tahu Draco. Lalu apa yang harus Draco lakukan? Mimpi-mimpi itu, belaian Harry yang bisa ia rasakan dalam mimpinya sampai bisikan Harry pada Draco untuk mencarinya itu membuat Draco semakin bertanya-tanya. Remaja itu sangat optimis kalau Ichiru tahu akan jawaban yang sangat Draco cari, tapi sayangnya temannya itu bersumpah untuk tidak memberitahunya. Mengingat siapa Harry, Draco tidak ragu lagi kalau suaminya itu menggunakan sihir pada Ichiru dan Shizuka untuk bersumpah padanya.

Lalu apa arti mimpi yang Harry berikan pada Draco itu? Apakah misteri itu terus Harry bawa sampai kesadarannya yang terakhir? Draco menggigit bibir bawahnya sedikit keras, ia bisa merasakan darah keluar dari bekas gigitannya itu, saat ini Draco tidak peduli kalau darahnya merupakan nyanyian merdu bagi para vampire atau tidak, sebab yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Harry dan keluarganya.

"Dray…" panggil Ichiru yang masih sedikit ragu.

Draco membuka kedua matanya, ia memberikan senyuman tipis kepada teman baiknya tersebut.

"Aku baik-baik saja, Ichiru. Kurasa misteri ini masih akan bertambah panjang dari apa yang kupikirkan." Jawab Draco, "Entah apa yang ingin Harry beritahukan padaku, sepertinya akan menjadi misteri yang semakin lama semakin aneh."

"Tapi kau sangat mencintai Lord Potter 'kan, Dray?"

"Aku sangat mencintainya, Ichiru. Kalau aku tidak mencintainya, buat apa aku melakukannya sampai sejauh ini?" balas Draco, ia mengacak rambutnya. "Awalnya aku pikir semua masalah sudah teratasi dan bayang-bayang Harry tidak akan menghantuiku ketika ibu merencanakan untuk pindah ke Jepang, tapi kenyatannya berbeda dengan apa yang ibu rencanakan. Cross Academy menyimpan banyak misteri sehingga membuatku ikut masuk ke dalamnya. Urusan keluarga Kuran, kemunculan Rido, dirimu, sampai misteri mimpi Harry yang saat ini masih menghantuiku."

"Kau menginginkan untuk memulai hidup baru, tapi malah mendapat hal rumit seperti ini. Kurasa Lady Fate memang senang mempermainkanmu." Kata Ichiru dengan senyum kecil di wajahnya.

Senyuman getir kali ini muncul di bibir Ichiru, "Dan kau malah memperburuk semuanya dengan tidak memberitahuku."

"Hei, sebenarnya aku ingin membantumu tapi kau tahu sendiri kalau aku terikat dengan sumpah oleh Lord Potter. Suamimu itu memang pintar, membuat teka-teki yang sangat sulit."

Kalimat yang Ichiru katakan tadi dibumbui dengan sedikit humor, membuat Draco menggelengkan kepalanya. Harry adalah seorang Gryffindor yang sering bertindak tanpa berpikir dulu, namun bukan berarti suaminya bukanlah orang yang cerdik. Harry adalah master strategi sewaktu perang masih berlangsung, ia begitu brilian sampai membuat Draco berpikir-pikir mengapa Harry tidak masuk ke asrama Slytherin daripada Gryffindor.

Ichiru dan Draco terdiam untuk sesaat, keduanya berpandangan secara sekilas sebelum suara tawa lembut dari keduanya terdengar. Ketegangan yang menyelimuti tubuh Draco rasanya sedikit demi sedikit mulai menghilang, digantikan oleh perasaan senang dan lega karena sahabat yang ia anggap sebagai saudara sendiri itu kini berada di sampingnya. Karena perasaan lega itulah Draco membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Ichiru dengan erat, ia memang membutuhkan sebuah pelukan hangat pada situasi seperti ini, hal ini mengingatkan Draco kalau ia masih memiliki orang-orang yang sangat mencintainya dan selalu berada di sisinya. Dan berbicara mengenai hal itu, Draco ingin segera pulang ke manor untuk bertemu dengan putra dan ibunya.


AN: Terima kasih sudah mampir

Author: Sky