Disclaimer: Baik Harry Potter maupun Vampire Knight bukan punyaku

Warning: Slash, OOC, Au, Mpreg, typo, etc

Rating: T

Genre: Romance


THE POMME DE SANG

By

Sky


Draco tersenyum kecil pada dirinya sendiri, mungkin semua persoalan mengenai mimpi dan penglihatan itu bisa ia tunda untuk sementaram, mungkin di saat ia tidak mempunyai seorang anak kecil yang sangat ia sayangi. Dalam hati Draco mengangguk, ia bangkit dari posisi sebelumnya dan menghadap ke arah Ichiru.

Dengan senyuman lembut dan penuh kegembiraan di sana meskipun itu tidak penuh, Draco mengangkat dagu temannya sehingga kedua mata mereka bisa bertemu.

"Mungkin kau benar, semuanya akan terjawab suatu saat nanti. Entah kapan itu tidak terprediksi, tidak ada gunanya aku terlalu terburu-buru." Kata Draco, ia berjinjit sedikit dan mengecup kening Ichiru dengan perlahan. Sebuah kecupan yang sering ia berikan kepada teman dekatnya sebagai arti kalau Draco menghargai orang itu dan menganggapnya sebagai saudara. "Terima kasih karena kau telah hadir dalam hidupku, Ichiru Kiryuu."

Kedua mata Ichiru melembut, ia menikmati kecupan itu dan bisa merasakan sihir keberuntungan yang selalu Draco berikan padanyal. Begitu hangat dan mirip seperti dekapan seorang ibu. Ichiru membalas senyuman Draco dengan senyumannya sendiri, remaja itu mengangguk sebelum membiarkan Draco mundur beberapa langkah dan pergi dari ruangan itu.

Sang Lord muda Malfoy tersebut menutup pintu di belakangnya dengan perlahan, meninggalkan saudara angkatnya di sana sendirian. Namun, Draco tidak segera beranjak dari sana meski ia telah berada di luar. Pemuda itu menyandarkan tubuh kecilnya di depan pintu, dengan nafas yang sedikit berat ia memejamkan kedua matanya.

'Mungkin ini adalah yang terbaik.' Ujarnya dalam hati.

Cahaya matahari yang berwarna merah sedikit orange itu jatuh di wajah Draco, membuat penampilannya bertambah ethereal seperti seorang malaikat. Kedua mata silver kebiruannya menatap ke luar jendela tak berbingkai yang ada di depannya, melihat bagaimana pemandangan luar setelah kejadian kemarin malam berlalu.

Draco memejamkan kedua matanya, kepalanya terasa sedikit pusing merasa tidak enak. Semua misteri yang Harry tinggalkan padanya semakin membuat Draco sedih, Draco tidak mengerti apa yang Harry pikirkan hingga ia melakukan hal itu. Dalam mimpinya, untuk beberapa kali Harry datang dan memberitahu Draco kalau ia akan mencari dirinya suatu saat nanti, mimpi itu merupakan sebuah pertanda sebab Draco merasakan gelombang sihir menyelimuti dirinya meski pun itu terasa sangat lemah. Tapi apa benar Harry masih hidup? Kalau pun itu adalah benar, mengapa suaminya tidak mencarinya. Apa mungkin terjadi sesuatu terhadap Harry? Berbagai pertanyaan muncul di benak Draco, tapi saat pemakaman itu Draco melihat sendiri kalau yang ada di dalam peti mati adalah tubuh Harry.

Tiba-tiba kedua mata Draco terbelalak lebar, sebuah ekspresi penuh keterkejutan muncul di wajah manisnya. Fakta itu, bagaimana mungkin Draco baru menyadarinya sekarang.

"Demi Merlin, Potter! Kalau aku menemukanmu, aku akan membunuhmu!" runtuk Draco, ekspresinya berubah menjadi marah secara sekilas sebelum kembali normal.

Suaminya itu adalah seorang pureblood vampire, dan mereka akan tetap hidup asalkan jantung dan kepala mereka masih menempel dengan tubuh mereka. Dalam artian singkat mereka adalah immortal, kalaupun mereka mati pasti tubuh mereka akan hancur seperti pecahan Kristal. Bagaimana mungkin Draco bisa melupakan fakta itu dan bagaimana bisa Harry memalsukan kematiannya? Draco sudah memeriksa inti sihir Harry dan yang lainnya, ia menemukan kalau sihir suaminya memang lenyap tapi bukan berarti Harry meninggal. Harry telah merencanakan semua ini dengan baik, ia mengkamuflase kematiannya. Satu-satunya cara untuk memastikan semua ini adalah pergi ke pemakaman Harry, apa benar kalau suaminya itu hilang apa tidak. Kalau benar Harry masih hidup, Draco akan mencarinya sampai ketemu sebelum memukulnya dengan sangat keras sebelum meminta penjelasan. Draco berharap suaminya masih hidup, ia tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk.

'Kalau diam di tempat ini terus aku tidak akan menemukan apa-apa, ternyata liburan yang kuharapkan tidaklah menjadi kenyataan. Malah membuat beban hidupku bertambah.' Pikir Draco dengan hati berat.

Sang Lord muda Malfoy itu beranjak dari tempat berdirinya tadi, ia berjalan pelan mengikuti langkah kakinya membawa dirinya, tidak peduli itu di mana. Di sepanjang perjalanan Draco menghiraukan beberapa vampire dari kelas malam yang berjaga-jaga di tempat itu, sepertinya kedatangan Rido kemarin malam cukup membuat suasana memanas, ditambah lagi dengan bangkitnya Yuuki sebagai putri berdarah murni.

Jujur, Draco tidak peduli dengan gadis itu, mau dia mati maupun hidup itu bukanlah urusannya. Apa yang Draco inginkah sudah terpenuhi dengan kedatangan Rido, sang High elven mendapatkan putranya kembali setelah satu tahun berpisah (dan lebih dari 200 tahun bagi Rido). Dengan kembalinya Rido ini, Draco berharap bisa menebus kesalahannya di masa lalu. Draco masih tidak percaya kalau putra kecilnya telah tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa yang sangat kuat, meski ia memiliki kesalahan mental yang terobsesi dengan sesuatu, tapi itu adalah hal wajar sebab kesalahan mental itu adalah perbuatan Draco dan Harry juga. Dengan sihir pemurnian yang Draco lakukan semalam untuk mengubah Rido ke usia awalnya membuat Draco berharap bisa mengisi masa kecil putranya lagi.

"Uggh…."

Angin yang keras memukul wajah Draco ketika ia melangkahkan kakinya ke luarg gedung, Draco memicingkan kedua matanya ketika angin itu membelai wajah dan rambutnya, membuat helaian rambut pirang platinum Draco yang sedikit panjang melambai pelan. Elemen alam yang dimiliki suaminya itu serasa senang bisa bertemu dengannya, Draco mengulurkan tangan kanannya dan memutarnya perlahan, membuat gerakan memegang dan dengan bantuan sihirnya ia mengipasnya, membuat angin berhembus pelan dan kencang saling berkejaran.

Draco melepaskan sedikit sihirnya ke udara ke arah angin yang berputar di hadapannya, beberapa helai rambut Draco menyapu wajahnya namun ia tidak memperdulikan hal tersebut. Dengan senyum kecil Draco melihat seorang wanita berkulit pucat muncul dari dalam pusaran angin di hadapannya. Wanita itu sangat pucat dari atas sampai bawah dengan gaun panjangnya yang berwarna kuning pucat, tapi Draco bisa melihat kalau wajah wanita tersebut sangat cantik. Dua pasang sayap berwarna kuning pucat muncul di punggung wanita itu, ia melayang di hadapan Draco dan memberikan senyum manis dan tatapan ramah.

"Master Draco, senang sekali bisa melihatmu lagi." Ujar wanita itu.

"Eliza." Ujar Draco dengan senyum kecil di wajahnya.

Eliza adalah roh angin yang selalu mendampingi Harry saat berperang, dan Draco tidak pernah melihatnya lagi setelah Harry menggunakannya untuk melawan Voldemort beberapa bulan yang lalu, sehingga melihat Eliza menampakkan dirinya di hadapan Draco tentu sebuah kejutan yang tidak terduga.

"Kau kelihatan sedih, Master Draco." Kata Eliza, ia terbang di samping Draco saat remaja itu masuk ke dalam hutan yang ada di dalam sekolah.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Draco penasaran, ia tidak pernah membiarkan orang lain melihat emosinya kecuali mereka yang benar-benar dekat dengannya.

Eliza memberikan senyuman penuh kesedihan di sana, remaja yang mungkin tidak bisa ia sebut remaja lagi yang ada di sampingnya ini adalah orang yang kuat. Ia terus mengikuti Draco kemanapun ia pergi, sebab itu adalah permintaan terakhir dari master Harry. Menjaga Master Draco adalah tugasnya, dan Eliza akan meminjamkan kekuatannya pada remaja ini untuk melindungi dirinya dan orang-orang yang disayanginya.

Sejak Master Harry menghilang, Eliza sering mendapati Master Draco bersedih dan bersembunyi di balik topeng kalemnya. Eliza merasa sakit melihat keadaan remaja ini, Master Harry tidak menginginkan Master Draco untuk bersedih sebab ia terlalu mencintai Master Draco, dan dengan sekuat tenaga Eliza akan melindungi Master Draco.

"Kau, terus berada di sini dan melihat semuanya?" tanya Draco sedikit tidak yakin, ia menghentikan langkahnya, saat melihat anggukan kepala dari sang roh angin Draco menghela nafasnya, "Sebenarnya apa yang diinginkan Harry dari semua ini?"

"Master Harry hanya menginginkan Master Draco untuk bahagia."

Draco memicingkan matanya, ia mengepalkan tangan kanannya sampai memutih. "Kebahagiaanku? Omong kosong, bagaimana mungkin aku bahagia kalau dia menghilang begitu saja. Aku membutuhkan si brengsek itu, dan Rido membutuhkan ayahnya untuk berada di sampingnya. Bukan untuk bermain Hide and Seek seperti ini."

"Master Harry memiliki alasannya tersendiri."

"Jadi kau tahu kalau Harry tidak tewas dalam pertarungan terakhir itu? Dan kau tidak memberitahukannya padaku?!" di sini suara Draco sedikit meninggi.

Kedua mata silver kebiruan itu memberikan glare panas pada Eliza, memuat wanita itu sedikit berjengit karena tajamnya sepasang iris itu.

"Maafkan saya, Master Draco. Master Harry meminta saya untuk tidak memberitahukannya kepada anda, dia meminta anda untuk mencaritahu sendiri." Ujar Eliza.

Semuanya mengatakan sama, baik Ichiru maupun Eliza semuanya pada tutup mulut untuk menjaga rahasia Harry, dan hal ini semakin menyiksa batin Draco. Emosinya kali ini tidak bisa dibendung. Sihirnya terasa begitu liar menyelimuti diri Draco, begitu transparan dan tidak terkontrol.

Angin yang menyelimuti daerah itu menjadi liar, bahkan Eliza yang sebagai roh angin itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali melihat. Bumi bergoncang begitu keras dan air danau pun bergolak begitu hebat. Langit yang tadinya berwarna cerah kini terselimuti oleh awan hitam yang pekat, membuat daerah di Cross Academy menjadi gelap. Suara petir yang menggelegar terdengar di mana-mana, membuat para vampire yang memiliki pendengaran begitu sensitif merasa kesakitan.

Sihir Draco tidak terkontrol, begitu pula dengan air matanya, mereka mengalir ke wajahnya. Eliza mengerti bagaimana perasaan Draco. Perasaannya begitu sakit seperti terkoyak-koyak, kemarahan, kesedihan, dan pengkhianatan menjadi satu.

"Master Draco, kendalikan diri anda!" Pinta Eliza, ia mencoba untuk menyentuh tubuh Draco yang mengigil dan bergetar itu, tapi ia tidak berani melakukannya karena tubuh Draco diselimuti oleh sihir liar yang berputar-putar di sekelilingnya. Sihir Draco berasal dari alam, dan semakin kuat Draco maka ia bisa mengendalikan alam dengan emosinya, sebuah sihir yang sangat menakutkan dan terkutuk.

Eliza menggunakan sayapnya untuk melindungi dirinya dari terpaan angin bercampur air yang bergolak begitu hebat, Master Draco benar-benar kehilangan kendali akan emosinya, dan ini pertama kalinya Eliza melihat emosi yang berputar dan berbahaya seperti ini. Master Harry pernah mengingatkan kalau emosi suaminya itu sangat berbahaya apabila ia tidak stabil, tapi Eliza tidak pernah membayangkan akan seperti ini. Master Draco terlihat seperti malaikat melankolis yang mengeluarkan emosinya kepada manusia, begitu kalem namun di balik kekalemannya itu ia tengah menderita luka batin yang tidak bisa disembuhkan oleh siapapun kecuali Master Harry.

Dari sudut penglihatannya Eliza melihat para vampire mulai muncul di tempat itu, mereka tidak berani mendekat karena barier yang dicipatakan oleh ledakan sihir Draco begitu hebat. Kilatan petir mulai menyambar di mana-mana, membuat sebagian besar murid kelas malam yang ada di tempat itu berjengit hebat. Eliza bisa mencium ketakutan dan rasa penasaran yang muncul dalam diri mereka, namun roh angin tersebut menghiraukannya sebab ia fokus kepada Master Draco.

Dan berdiri tidak jauh dari mereka berdua adalah Kaname Kuran, ia berdiri dengan aura regalnya dan kekuatan sangat hebat, mengingatkan Eliza pada Master Harry. Di samping Kaname berdiri Yuuki Kuran, kepala sekolah, dan Ichiru beserta Zero.

"Draconis! Kendalikan dirimu! Apa kau mau menghancurkan sekolah?" teriak Ichiru, ia mencoba untuk mendekat ke arah temannya namun Zero menghalanginya, kakaknya itu tidak ingin dirinya terluka oleh sihir liar yang keluar dari tubuh Draco. "Zero-niisan, lepaskan aku! Aku harus mendekat ke arah Draconis, dia lepas kendali akan kekuatannya."

Zero memeluk tubuh Ichiru dari belakang dengan erat, "Apa kau gila?! Kau bisa terbunuh kalau mendekat. Anak itu sedang tidak stabil sekarang!"

"Zero-niisan!" Teriak Ichiru, dia terus meronta tapi apapun yang ia lakukan sia-sia sebab Zero jauh lebih kuat dari dirinya

"Master Draco….." bujuk Eliza, tapi suaranya pun tidak terdengar oleh Draco.

Hujan yang lebat tiba-tiba muncul di sana, membuat mereka basah semua kecuali Eliza. Kedua mata Draco tersembunyi di balik helaian rambutnya yang jatuh ke wajahnya, membuat mereka semua tidak mengetahui ekspresi mata Draco, tapi semuanya bisa merasakan emosi itu. Rasa pengkhianatan dan emosi kemarahan begitu kental terasa di udara, semua itu adalah emosi yang dikeluarkan oleh Draco, bahkan saking tebalnya aura itu beberapa vampire kelas C tidak mampu mengendalikan tubuh mereka dan membuatnya terjatuh ke tanah.

"Kaname-kun, kita harus melakukan sesuatu…. Kalau tidak maka academy akan hancur. Sihir Draco-san terlalu kuat, dan dia kehilangan kontrol akan emosinya." Kata Kaien dengan nada khawatir.

Air mata itu, Kaname bisa melihatnya dengan jelas. Remaja manis itu tengah merasakan sakit hati yang sangat hebat, sehingga ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Kaname melihat sihir liar Draco, dan wajah wanita yang ada di depannya itu terlihat begitu cemas. Sebuah bunyi plop keras tiba-tiba terdengar di sana yang diikuti oleh bunyi derap langkah kaki.

"Mommy!" teriak suara anak kecil dari belakang, mereka semua kecuali Draco melihat ke arah sumber suara itu.

Rido Potter yang berada dalam tubuh anak kecil berusia 10 tahun berlari dengan kencang ke arah tempat itu, wajah imutnya menunjukkan kecemasan yang sangat besar, anak itu berlari terus dan mencoba melewati kepala sekolah dan lainnya namun Kaname menahannya di sana. Kaname menahan tubuh kecil itu, meski dirinya sangat membenci pamannya namun Kaname tidak bisa membiarkan anak kecil yang tidak tahu apa-apa ini mendekati bahaya.

Anak ini tidak mungkin pamannya yang gila, bahkan sedikit saja ia tidak mirip. Kaname memperhatikan wajah Rido Potter dengan seksama, dia adalah anak kecil yang sangat imut dengan rambut hitam pendek dan kulit alabaster cemerlang, dan Kaname sedikit terkejut kalau anak ini mirip sekali dengan dirinya sewaktu dia masih kecil, bahkan Rido Potter bisa menjadi putranya kalau orang lain tidak tahu siapa kedua orang tua anak ini sebenarnya. Namun yang membuat Kaname sangat tertarik adalah kedua mata Rido, mereka tidaklah berwarna merah-emerald, tapi berwarna silver kebiruan yang cemerlang, mirip dengan mata milik Draco Malfoy. Tidak ada yang meragukan kalau Rido Potter adalah putra dari Lord Malfoy dengan Lord Potter.

"Lepaskan aku! Aku ingin ke mommy!" Rido meronta dengan hebat, tapi Kaname tidak melepaskan tubuhnya. "Mommy!"

Rido melihat ibunya berdiri di tengah pusaran angin itu bersama seorang wanita asing. Ibunya hanya diam, bahkan tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Rido ingin mendekat dan memeluknya, tapi laki-laki ini tidak mau melepaskan tubuhnya. Rido merasa sangat sedih, ia ingin memeluk tubuh ibunya dan mencoba untuk menghilangkan emosi yang ia rasakan sejak di Malfoy manor, apapun yang terjadi Rido tidak bisa menebaknya.

Anak itu bertanya-tanya ke mana ayahnya dan mengapa ibunya hanya ada di sana sendirian dengan perasaan terluka seperti itu. Rido adalah anak yang cerdas dan cemerlang, ia menggabungkan ini dan itu untuk beberapa saat sebelum sebuah ide muncul di dalam pikirannya.

"Mommy…." Desah Rido dengan kecil, kekangan laki-laki ini sangat keras, bahkan Rido yang menggunakan kekuatan vampire-nya tidak bisa melepaskan pelukan itu. Ia menoleh ke samping dan kedua matanya jatuh pada sosok Ichiru yang berada dalam posisi yang sama dengannya, hanya saja orang yang menahannya itu memiliki wajah yang sama dengan Ichiru. "Uncle Ichiru!" Panggil Rido dengan lantang.

Kedua mata lavender milik Ichiru terbelalak lebar ketika ia melihat sosok keponakannya berada dalam dekapan Kaname, dengan kekuatan yang entah dari mana datangnya Ichiru melepaskan dirinya dari Zero dan berjalan menuju Rido. Ia memberikan glare keras kepada Kaname untuk melepaskan keponakannya, awalnya Kaname merasa enggan untuk melakukannya tapi akhirnya ia melepaskan Rido. Anak kecil itu langsung berlari dan memeluk Ichiru dengan erat yang Ichiru balas dengan sama eratnya.

"Uncle Ichiru, what happen with mommy?" tanya Rido dengan nada penuh kekhawatiran di sana.

Ichiru memeluk Rido dengan erat, betapa ia sangat merindukan keponakannya. Terakhir kali ia bertemu dengannya, Rido masih berusia lima tahun yang Draco dan Harry bawa dari masa lalu dan sekarang anak itu sudah tumbuh seperti ini, Ichiru tidak peduli dengan apa yang Draco lakukan untuk mengubah Rido, tapi ia sangat merindukan keponakannya.

"Ibumu kehilangan kendali, Rido. Kita harus membangunkannnya sebelum dia menghancurkan tempat ini." jawab Ichiru dengan lembut, ia merasakan kehadiran Zero berada di dekatnya, Ichiru melihat ke samping dan ia melihat kakaknya itu berdiri di sana dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca.

"Mommy. Aku harap Daddy ada di sini, dia selalu tahu apa yang harus dilakukan." Kata Rido dengan suara kecil, anak itu melepaskan tangan Ichiru dengan perlahan sebelum berlari menuju sumber kekuatan ini.

"RIDO…..!" Teriak Ichiru, ia tidak bisa melihat banyak saat anak itu berlari menuju ke arah Draco dan Eliza. "Kuran, tahan keponakanku untuk tidak mendekat pada Draco!"

Rido terus berlari, ia menggunakan kekuatan vampire-nya untuk menghindari beberapa guncangan maupun akar pohon yang berniat menyerangnya. Anak itu berhenti saat ia merasakan laki-laki yang mirip ayahnya tadi mengejarnya, ia tidak akan membiarkan laki-laki itu untuk menangkapnya sekali lagi. Dengan mantra kecil yang ia pelajari dari kedua orang tuanya, Rido menggunakan sihir untuk menyerang Kaname yang tentu saja dapat dihindari Kaname dengan mudah.

"Apa yang kau inginkan! Aku tidak punya masalah denganmu, jangan halangi aku untuk mendekati Mommy!" teriak Rido, tubuhnya sedikit menggigil karena hujan yang mengguyurnya.

Kaname menatap anak itu dengan tatapan dingin, aura pamannya masih terasa namun perlahan-lahan menghilang. Sang raja vampire itu berjalan dengan tenang ke arah Rido, ia melambaikan tangannya dengan santai dan dua buah akar dari dalam tanah muncul, kedua akar itu dengan cepat melilit tubuh kecil Rido dengan erat.

"Lapaskan aku!" teriak Rido, kedua mata silver kebiruannya berubah warna menjadi merah darah ketika ia mencoba untuk memberontak.

"Aku tidak akan membiarkan kau mendekat pada Draco, Rido. Apa kau tidak tahu kalau ibumu tengah kehilangan kendali di sini?" tanya Kaname dengan lembut, ia memperhatikan anak itu masih memberontak.

Harus ia akui kalau pamannya itu sangat kuat meski berada dalam tubuh anak-anaknya, dia bisa melakukan sihir seperti Draco, terlebih lagi dia adalah seorang vampire seperti Potter-san. Kaname pernah mendengar kalau Harry Potter adalah pureblood vampire yang sangat kuat dan sangat ditakuti meski berusia masih sangat muda, namun setiap vampire yang mendengar namanya langsung mengeluarkan keringat dingin. Kaname tidak bodoh, anak ini memiliki darah seorang Potter dan Malfoy yang mengalir dalam tubuhnya, kalau saja Rido tidak gila pasti ia bisa menjadi raja vampire yang mampu mengalahkan Kaname sendiri. Dan melihat kondisi Rido yang telah sembuh dari kegilaannya itu, tidak lama lagi ia akan tumbuh menjadi vampire yang sangat kuat.

Kaname mengalihkan pandangannya dari Rido ketika ia merasakan sepasang mata tajam menatap ke arahnya, ia melihat ke arah mata itu dan menemukan sepasang mata berwarna silver kebiruan yang tidak terlalu fokus bertemu dengan dirinya.

Draco Malfoy memang sosok yang sangat elegant, bahkan dalam kondisinya yang sekarang ini ia masih bisa terlihat sangat mengagumkan dan membuat Kaname semakin ingin memilikinya.

"Draco." Ujar Kaname dengan suara pelan, ia menatap sosok itu dengan lembut sebelum senyum kecil terlihat di wajah tampannya.

Sang raja vampire itu menghiraukan tatapan ganas yang diberikan oleh Rido sebab kedua matanya masih fokus pada sosok ibu anak itu. Kaname bisa melihat kekuatan yang sangat besar menyelimuti Draco, sehingga ia tidak mungkin mendekatinya secara tiba-tiba, hanya wanita itu yang bisa berada di sana.

"Mommy!" teriak Rido ketika ia melihat tatapan ibunya mengarah padanya.

Untuk sementara Draco tidak bereaksi, namun ia bisa mendengar suara putranya memanggil dirinya. Sang Lord muda itu memejamkan kedua matanya, ia merasa lelah tapi sihirnya masih terasa sangat liar. Sekujur tubuhnya basah kuyup, meski tubuhnya kedinginan tapi pikirannya masih terselimuti oleh emosi yang membuat sihirnya semakin tidak terkendali.

"Harry." Gumam Draco dengan suara kecil namun pada saat yang sama tidak fokus.

"Kau memanggilku, dear?" tanya sebuah suara yang sangat familier dari belakang.

Seekor kunang-kunang muncul dari dalam hutan, kunang-kunang itu diikuti oleh yang lainnya. Mereka terbang dan berkumpul menjadi satu, membentuk sebuah sosok sebelum mereka menghilang, meninggalkan sosok itu berdiri di tempat tadi.

Semua yang ada di tempat itu kecuali Draco terlihat begitu terkejut dengan kemunculan sosok itu. Berdiri di belakang Draco adalah seorang laki-laki yang mungkin berusia 18 tahunan, tapi aura pureblood vampire yang muncul dari tubuhnya membuat mereka semua menyadari kalau usianya jauh lebih tua dari penampilannya. Laki-laki itu sangat mirip dengan Kaname, hanya saja dengan rambut yang lebih pendek dan sepasang mata emerald cemerlang yang tajam, seperti seekor predator.

Laki-laki itu bukanlah orang sembarangan sebab mereka bisa merasakan sihir kuat yang menyelimuti tubuhnya, sebuah senyuman kecil muncul di wajah laki-laki itu ketika sepasang mata emerald tersebut fokus kepada sosok malaikat yang ada di hadapannya. Dan senyuman lembut itu berubah menjadi penuh humor saat tatapan matanya tertuju pada Kaname Kuran yang berada di samping Rido.

"Hello, Rido. Long time no see." Ujar laki-laki itu dengan hangat.

Sebuah senyuman lebar muncul di wajah Rido, "DADDY!" Teriak Rido dengan nada senang.

Dan semua pun tahu kalau Lord Harry Potter akhirnya muncul di hadapan mereka setelah mendapat panggilan dari sihir Lord Draco Malfoy, dan tentu saja Kaname tidak menyukai hal ini.


AN: Terima kasih sudah mampir

Author: Sky