Between Friendship and Love

.

KyuMin

.

EYD berantakan, typo(s), amatir, GS, OOC, DLDR

.

This fanfiction belongs to me but the characters belong to themselves

.

Siwon membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada Kibum. Kibum membalas lambaian tangan itu. Setelah Siwon pergi, Kibum memasuki rumahnya.

Di dalam rumah, Kibum terkejut dengan kedatangan kakak perempuannya yang menyambut dirinya dengan amat tidak mengenakan. Kibum paling tidak suka kalau kakaknya kembali ke Korea. Bukannya gimana-gimana, tapi selama kakaknya itu ada di Korea hidup Kibum tak senang.

"Adikku yang cantik ini sudah pulang rupanya. Senang kalau aku tak ada di rumah, bukan?" Kakak perempuan Kibum memang bermulut pedas. Sampai saat ini Kibum tidak tahu kenapa kakaknya itu sangat membencinya.

"Eonni... jam berapa eonni sampai di rumah?"

"Tidak perlu sok baik. Aku tahu kau senang kalau aku tak ada di rumah. Dengar, ya. Aku akan di Korea selamanya. Mulai besok aku satu sekolah denganmu bahkan satu kelas."

Kibum refleks mendongakkan kepalanya yang tertunduk. Gadis itu sangat terkejut. Satu kelas katanya? Satu rumah saja sudah tidak menyenangkan apalagi satu kelas. Umur keduanya hanya terpaut satu tahun. Kibum lebih muda tentunya.

"Kau kaget, ya? Dengar, ya adikku yang selalu disayang appa dan eomma. Mulai besok bawakan tasku dari rumah sampai kelas. Mengerti?"

Kibum tidak menjawab. Ingin rasanya gadis itu menangis. Kedua tangannya meremas ujung lengan seragam sekolahnya.

Merasa diacuhkan, sang kakak mulai naik pitam. "Kau dengar tidak, Kim Kibum?! Atau kedua telingamu sudah tak berfungsi, hah?!"

"Aku dengar, eonni.."

"Kalau begitu jawab aku. Kau mengerti dengan apa yang kukatakan sebelumnya?"

"Aku mengerti, eonni.."

"Bagus kalau begitu. Semoga tidurmu nyenyak malam ini." Setelah berkata demikian, sang kakak pergi ke kamarnya yang berada tepat disebelah kamar Kibum.

Air mata Kibum keluar begitu saja tanpa permisi setelah kepergian sang kakak. Selamanya kakaknya itu akan tinggal di sini. Selamanya juga dia akan menderita. Tidak. Tidak selamanya Kibum menderita. Setelah dia menikah nanti, Kibum akan pergi dari rumah ini. Tapi itu masih sangat lama, kan? Masih beberapa tahun lagi. Dan selama itu Kibum harus kuat menghadapi kakak perempuannya itu.

.

.

.

Kyuhyun terus menerus menghubungi ponsel Sungmin. Dan tak ada panggilan satu pun yang di jawab Sungmin. Kyuhyun mulai frustasi karena Sungmin tidak menjawab panggilannya. Dan ponselnya sendiri menjadi pelampiasan kemarahannya. Ponsel hitam itu dia banting ke lantai. Untung saja ponsel itu masih bisa berfungsi dengan baik walaupun layarnya agak retak.

Kyuhyun menatap dunia luar melalui jendela kamarnya. Salju masih menutupi pepohonan dan juga atap rumahnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Kyuhyun mengambil ponsel itu. Satu pesan masuk dari Sungmin.

Kenapa menghubungiku? Ada yang penting? Maaf aku tidak menjawab. Aku sedang mandi tadi hehe.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya lega. Dia pikir Sungmin akan marah karena tindakan bodohnya tadi saat di depan rumah Sungmin. Kyuhyun membalas pesan itu. Kyuhyun meminta maaf pada gadis itu karena tindakan bodohnya. Dan Sungmin memaafkannya. Dia hanya kaget dan sedikit kecewa. Kyuhyun mengernyitkan dahinya.

Kecewa?

Kyuhyun menanyakan kenapa Sungmin kecewa. Sungmin menjelaskan pada Kyuhyun apa yang membuat Sungmin kecewa pada laki-laki berambut coklat itu. Setelah mendapat penjelasan, Kyuhyun terkekeh pelan. Dia lupa bahwa dirinya tidak boleh berbuat macam-macam.

Setelah puas berkirim pesan dengan Sungmin, Kyuhyun pergi keluar kamarnya dan menunggu kedatangan ayah dan kakaknya pulang setelah seharian bekerja.

.

.

.

Kibum merasa pegal pada tangan kirinya. Pasalnya dia membawa dua tas, miliknya dan milik kakaknya. Sang kakak memasuki kelas setelah guru yang mengajar mempersilahkan masuk. Lalu gadis itu memperkenalkan dirinya.

"Annyeonghaseyo. Aku Kim Heechul. Kalian bisa memanggilku Heechul. Aku pindahan dari luar negeri. Senang bisa bertemu kalian."

Heechul terlihat sangat ramah dan baik jika seperti tadi. Tapi sayangnya tidak. Heechul tidak seperti itu. Kibum hanya bisa berharap sang kakak tidak mengacaukan hari-harinya di sekolah.

Heechul dipersilahkan duduk oleh guru yang sedang mengajar itu. Gadis itu memilih duduk tepat di belakang Kibum. Jujur saja Kibum ingin sekali Heechul duduk sangat jauh darinya. Tapi keinginannya harus ia buang jauh-jauh.

.

.

.

Sekarang semua sudah tahu kalau Kim Heechul adalah kakak dari Kim Kibum. Beberapa ada yang berpendapat bahwa mereka mirip, beberapa ada yang mengatakan tidak. Kebanyakan murid laki-laki mengatakan bahwa kedua kakak-beradik itu sama-sama cantik.

Kibum sedang bersama-sama dengan sahabat-sahabatnya dan pacarnya di kantin sekolah. Mereka sedang asyik bercanda. Itulah mereka. Jika sedang berkumpul pasti selalu seru dan menyenangkan. Sejenak Kibum melupakan penderitaannya. Kibum bersyukur mempunyai kedua sahabat dan kekasih yang selalu mengerti dirinya.

Disaat sedang seru-serunya bercanda, Heechul datang dan langsung menarik Kibum keluar kantin. Semua perhatian jadi tertuju pada mereka berdua. Sungmin merasa ada yang tak beres dengan kakak-beradik itu. Sungmin segera mengejar kakak-beradik itu. Kyuhyun dan Siwon mengikutinya.

.

.

.

Heechul membawa Kibum ke dalam kamar mandi perempuan yang kebetulan sedang kosong itu. Didorongnya kasar tubuh Kibum ke dinding. Kibum meringis saat punggungnya membentur dinding.

"Siapa bilang kau di sekolah bisa bersenang-senang, hah?!" Heechul meninggikan suaranya. Bukannya sengaja, tapi dia memang begitu jika sedang marah.

"Kau harus selalu bersamaku di sekolah. Karena kau adalah asisten -tidak, pembantuku. Kau tak boleh bersama teman-temanmu yang tadi. Kau hanya boleh bersama denganku!"

"Kim Kibum bukan pembantumu. Dia adikmu." Sungmin masuk ke dalam kamar mandi perempuan tempat dimana Kibum dan Heechul berada. Heechul memandang remeh Sungmin. Senyum miring tercetak jelas di wajah gadis bermulut pedas itu.

"Kau mau apa? Membela anak ini? Seharusnya yang kau bela itu aku! Bukan gadis menjijikkan seperti dia!"

"Apa untungnya aku membelamu, Kim Heechul-ssi?"

Heechul tertawa mendengarnya. Gadis itu memandang Kibum tajam. "Hei, Kibum-ah. Temanmu itu bertanya apa untungnya membelaku."

Tak lama datang Kyuhyun dan Siwon. Sebenarnya mereka berdua takut jika masuk. Bukan takut karena Heechul, tapi takut karena ini adalah kamar mandi perempuan.

"Bertambah lagi pahlawanmu, Kibum-ah." Heechul memandang tajam Kyuhyun dan Siwon yang baru saja datang.

"Tolong lepaskan dia. Jangan menekannya ke dinding." Mohon Siwon pada Heechul yang tertawa karena perkataan Siwon tadi.

"Memangnya kenapa kalau aku menekannya ke dinding?" Tanya Heechul sambil menekan Kibum ke dinding. Kibum kembali meringis.

"Tolong jangan lakukan itu. Aku mohon.."

"Memangnya kenapa? Begitu istimewakah Kibum ini?!"

"Jelas dia istimewa. Dia pacarku."

"Wow, wow, wow. Jadi kau sudah punya pacar, Kibum-ah?" Heechul bertanya pada Kibum yang menjawabnya dengan anggukan.

"Pacarmu tampan juga, ya." Heechul melepaskan Kibum dan mendorongnya ke arah Siwon. Siwon langsung menangkap Kibum.

"Sayangnya pacarmu itu adalah anak haram! Anak hasil hubungan gelap ayahku dengan ibunya! Karena dia aku jadi harus kehilangan ibuku. Aku memang menerima kehadiran ibunya tapi tidak dengannya!"

Sebelum keluar dari kamar mandi, Heechul kembali berkata, "Sampai kapan pun aku tidak akan mau menerimanya! Aku tidak mau menerimamu, Kim Kibum! Dengar itu."

Air mata Kibum mulai berjatuhan di pipinya. Siwon menghapus air mata kekasihnya itu dengan ibu jarinya. "Uljima, Kibum-ah.."

Siwon membawa Kibum keluar dari kamar mandi perempuan itu. Sungmin dan Kyuhyun menyusul di belakang. Mereka pergi ke taman belakang sekolah. Itu kemauan Kibum. Kibum ingin menenangkan pikirannya. Dan sepertinya taman belakang sekolah tempat yang cukup bagus untuknya saat ini.

.

.

.

Kibum masih menangis dipelukan Sungmin. Sungmin jadi merasa iba padanya. Kyuhyun dan Siwon masih setia menemani mereka berdua di taman belakang sekolah.

"Uljima, Kibum-ah.. Itu bukan kesalahanmu. Kau di sini menjadi korban." Sungmin mengelus surai hitam milik Kibum dengan pelan.

"Aku tahu.. hiks tapi aku tetap bersalah pada Heechul eonni hiks."

"Coba katakan apa kesalahanmu?"

"Karena kelahiranku, ibunya Heechul eonni jadi meninggalkannya. Dan aku juga baru tahu kalau ternyata.. hiks aku anak haram."

"Tidak ada yang namanya anak haram, Kibum-ah." Kyuhyun menimpali ucapan Kibum.

Kibum melepas pelukannya pada Sungmin dan menatap lurus ke mata Kyuhyun. "Lalu aku ini disebut apa, Kyuhyun-ah?"

"Ya...kau tetap anak kandung dari kedua orangtuamu. Kau juga sudah menjadi anak yang sah-"

"-Eomma dan appa belum menikah." Kibum memotong ucapan Kyuhyun.

"Apa?" Kyuhyun, Sungmin dan Siwon terkejut.

"Darimana kau tahu?" Tanya Sungmin.

"Eomma pernah bilang padaku. Katanya dia belum menikah dengan appa. Saat itu aku masih sangat kecil, tapi aku masih dapat mengingat ucapan eomma."

"Anak kecil tidak akan mengerti dan hanya menganggap sebagai gurauan." Timpal Sungmin.

"Kau benar, Ming. Lalu sekarang appa dan eommamu sudah menikah, Kibum-ah?"

Kibum menggeleng. Bukan karena belum, tapi karena ia sendiri tidak tahu apakah ayah dan ibunya telah menikah atau belum. Bel istirahat telah berakhir. Sungmin mengajak Kibum untuk kembali ke kelas. Dan mereka berempat pergi meninggalkan taman belakang sekolah.

.

.

.

Seharian Heechul mendiamkan 'adik'nya itu. Biasanya Heechul selalu menyuruh 'adik'nya ini itu dan tak segan mengomelinya. Tapi hari ini gadis itu lebih memilih diam. Heechul memang sedang emosi hari ini. Dimulai dari sekolah saat istirahat makan siang sampai pulang sekolah.

'Adik'nya, Kibum, selalu mendapat perhatian lebih dibanding dirinya. Itulah yang membuat Heechul membenci Kibum. Ingin sekali Heechul protes pada ayahnya karena dia tidak mendapat perhatian lebih seperti Kibum padahal Kibum adalah anak perusak rumah tangga kedua orangtuanya.

Heechul sudah berada di kamarnya. Ketika sampai rumahnya tadi, Heechul menghiraukan ayah dan ibunya yang menyambut kepulangannya bersama Kibum. Gadis itu langsung masuk begitu saja. Begitu sampai di kamar, Heechul menangis dengan menutupi mulutnya dengan bantal agar tak terdengar.

Dia menangis karena ayahnya lebih menyayangi Kibum dibanding dirinya. Semenjak Kibum lahir, ayahnya tidak pernah mengajaknya jalan-jalan atau pun sekedar bermain dan bercanda. Heechul merasa kalau rasa sayang ayahnya sudah mulai pudar saat itu. Dan benar saja. Ayahnya lebih mempedulikan Kibum dari dulu sampai sekarang.

Berbeda dengan ibu tirinya. Si ibu tiri itu sangat menyayangi Heechul. Kasih sayang yang diberikan sang ibu pada Heechul, sama seperti kasih sayang yang diberikannya pada Kibum. Si ibu tidak pernah membedakan keduanya. Si ibu menganggap keduanya butuh kasih sayang seorang ibu, terutama Heechul. Ibu Heechul memang sudah pergi. Bukan pergi dari rumah itu, tapi pergi selama-lamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.

Ibu kandung Heechul dimakamkan di tanah kelahiran ibunya, Argentina. Itu mengapa Heechul memilih tinggal bersama sang kakek dan nenek di Argentina agar bisa mengunjungi makam sang ibu setiap hari. Namun sang kakek menyuruhnya untuk kembali ke Korea karena di sana keberadaan Heechul tak aman. Banyak orang yang mengincar Heechul di sana. Bukan untuk dijadikan pacar atau istri, tetapi ingin dijadikan sandera dan bahkan ada yang ingin membunuhnya. Kakek dan nenek Heechul yang tinggal di sana memang orang berada. Sayangnya kakeknya memiliki banyak musuh di sana. Karena perusahaannya berhasil mengalahkan perusahaan lain, jadi banyak yang ingin membuat perusahaan sang kakek gulung tikar. Namun tak ada satu pun yang berhasil membuat perusahaan sang kakek gulung tikar.

Heechul mengambil foto ibunya yang berada di meja samping tempat tidurnya dan memeluknya. Air mata kembali membasahi kedua pipinya. Dia merindukan ibunya. Ibunya yang selalu mengerti dirinya, menyayangi dirinya dan selalu sabar menghadapi dirinya. Kalau saja Tuhan memberikan sebuah keinginan, Heechul ingin sekali ibunya kembali hidup. Namun yang sudah mati tidak akan bisa hidup lagi.

.

.

.

Kibum memainkan makanan yang ada dihadapannya itu dengan garpu dan sendoknya. Sejak tadi gadis itu tidak memakan makanan tersebut. Dia hanya memainkannya. Sepertinya rasa lapar itu sudah hilang karena Kibum kebanyakan melamun.

Siwon hanya menghela nafasnya melihat tingkah kekasihnya itu. Siwon tahu betul kalau Kibum sedang banyak pikiran. Semenjak kedatangan Heechul, Kibum sering sekali melamun. Bahkan sehari bisa dua sampai tiga kali melamun.

Siwon menjentikkan jarinya di depan wajah Kibum. Dan itu berhasil membuat Kibum tersadar dari lamunannya.

"Makanlah makananmu itu, Kibum-ie. Kau, kan dari kemarin belum makan."

Kibum menggelengkan kepalanya pelan. Memang betul dari kemarin gadis itu belum makan sama sekali. Padahal perutnya sudah minta jatah dan Kibum hanya menghiraukannya.

"Ini masih musim dingin. Kalau perutmu tak diisi kau bisa kedinginan dan parahnya kau bisa mati karenanya. Aku tidak mau kehilanganmu.." Siwon kembali berbicara. Dan Kibum hanya menggelengkan kepalanya seperti sebelumnya.

Kyuhyun menghampiri mereka sembari berlari. Sesampainya di meja Kibum dan Siwon, lelaki itu menetralkan nafasnya. "Kibum-ah.. hah.. Heechul.. dia.. terjatuh dari tangga."

Sendok dan garpu dalam genggaman Kibum terjatuh ke lantai. Kedua mata Kibum terbelalak. Tak lama gadis itu bangkit dari duduknya dan menarik tangan Kyuhyun untuk menunjukkan dimana tempat kejadian itu terjadi. Tentunya hal tersebut menarik banyak perhatian penghuni kantin. Tinggallah Siwon sendiri di meja itu. Siwon menghabiskan makanannya dan kemudian menyusul Kibum dan Kyuhyun.

.

.

.

Heechul terbaring di atas tempat tidur UKS. Matanya belum terbuka sejak tadi. Terdengar suara pintu UKS dibuka. Sungmin menoleh ke arah pintu tersebut dan mendapati Kyuhyun dan Kibum di sana. Kibum langsung berlari ke samping tempat tidur.

"Sungmin-ah, apakah dia baik-baik saja?" Kibum membelai lembut surai hitam milik kakak tirinya itu.

"Kibum-ah.. dia mengalami patah tulang di kaki kanannya. Tidak terlalu parah. Saat terjatuh tadi, kaki kanannya menghantam besi pinggiran."

"Apakah dia tahu soal kakinya?"

"Dia tahu. Sebelum dibawa ke sini Heechul-ssi dalam keadaan sadar. Setelah diberi tahu kalau kaki kanannya mengalami patah tulang ringan, barulah dia pingsan."

Tak hanya Kibum yang iba pada Heechul setelah mendengar penuturan Sungmin, Kyuhyun pun juga. Kibum makin merasa bersalah. Kibum tahu kalau kakak tirinya itu sedang banyak pikiran, salah satunya adalah Kibum. Kibum memutuskan untuk menemani Heechul sampai gadis itu tersadar. Bel berbunyi. Sungmin dan Kyuhyun meninggalkan UKS. Tinggallah Kibum dan Heechul di sana.

"Eonni... maafkan aku..."

.

.

.

Kibum membantu Heechul turun dari mobil. Heechul tidak memberi penolakan sama sekali. Semenjak Heechul sadar, dia hanya terdiam dan bahkan tidak mengeluarkan suara sama sekali.

Kibum memang izin pada jam pelajaran yang selanjutnya. Kibum membawa Heechul ke rumah sakit. Tentunya dengan bantuan ayah dan ibunya. Sang ibu menangis mendengar kabar yang tidak mengenakan itu, tetapi sang ayah terlihat biasa-biasa saja.

Heechul telah berbaring di tempat tidur kamarnya. Kibum melipat kursi roda milik Heechuk dan meletakkannya di samping lemari pakaian. Ibu dari Kibum masuk ke dalam kamar Heechul setelah membuat bubur untuk Heechul. Meskipun bukan anak kandungnya, si ibu sangat menyayangi Heechul seperti ia menyayangi Kibum.

Heechul kemudian memakan bubur buatan ibu tirinya itu. Si ibu menyuapi Heechul dengan telaten. Kibum pergi keluar kamar. Dia ingin mandi. Jam menunjukkan pukul delapan malam dan ia masih mengenakan seragam sekolahnya.

Selesai mandi, Kibum pergi ke ruang makan. Mereka semua belum makan malam, kecuali Heechul. Ayahnya sudah menunggu kedatangan Kibum dan ibunya di meja makan.

"Kau sudah mandi, Kibum-ie?" Tanya sang ayah setelah Kibum duduk di kursinya.

"Sudah, Appa." Kibum hanya menjawab singkat.

Tak lama, ibunya datang. "Heechul demam tinggi. Sepertinya dia harus dirawat di rumah sakit. Eomma rasa dia punya penyakit lain."

"Kau terlalu peduli pada anak itu, Yeobo."

"Jelas aku peduli. Dia sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Kau ini bagaimana yang ayah kandungnya."

"Sudah kubilang aku bukan ayah kandungnya."

Kibum merasa kalau nada bicara ayahnya terdengar dingin. Sepertinya ayahnya marah. Dan ada yang membuat Kibum heran. Ayahnya bilang kalau ia bukan ayah kandung dari Heechul Eonni. Apa maksud perkataan ayahnya itu.

"Apa maksudmu berkata begitu, Yeobo?"

"Kau tidak tahu yang sebenarnya. Kau dan Kibum hanya tahu kebohongan yang dibuat Heechul saja."

"Kebohongan?" Kibum mengeluarkan suaranya.

"Ya. Heechul berbohong. Sebenarnya Heechul juga tidak diberi tahu kebenarannya."

"Heechul Eonni bukan pembohong kalau begitu. Dia juga sama seperti aku dan Eomma. Korban dari kebohongan."

"Jadi yang sebenarnya itu apa?" Sang ibu mulai memijat pelan pelipisnya.

"Baiklah jika keadaannya seperti ini. Aku akan menceritakan kebenarannya."

Kibum menunggu ayahnya melanjutkan pembicaraannya. Ia sendiri juga penasaran dengan kebohongan yang dimaksud ayahnya itu.

Si ayah membetulkan letak kacamatanya. "Sebenarnya Heechul itu adalah anak hasil hubungan gelap ibunya sendiri dengan teman ibunya."

Kibum dan ibunya terkejut bukan main. Jadi selama ini Heechullah anak hasil hubungan gelap bukan Kibum.

"Tapi kau menikah dengan ibunya karena kau yang menghamilinya dan menceraikanku." Ibu kandung Kibum mulai menangis.

"Maafkan aku, Yeobo. Aku menceraikanmu waktu itu karena Appaku dan juga wanita sialan itu. Appa memaksaku untuk menikahi wanita itu karena pengaruh wanita itu. Wanita sialan itu bilang pada Appa kalau anak dalam kandungannya itu adalah anak hasil hubunganku dengan wanita itu."

"Tapi Eomma pernah berkata padaku kalau Appa dan Eomma tidak menikah." Kibum menimpali. Gadis itu mulai bingung.

"Appa minta maaf, Kibum-ie. Eommamu berkata begitu karena saking marahnya pada Appa. Eommamu menganggap kalau Appa tidak menikah dengan Eomma. Appa minta maaf.." Sang ayah memeluk istri dan anaknya. Kibum membalas pelukan ayahnya itu.

"Appa... Heechul Eonni selalu memperlakukanku sebagai pembantunya. Dia terus membentakku jika aku tidak menuruti kemauannya atau melalukan kesalahan." Kibum refleks menutup mulutnya. Dia keceplosan sepertinya.

Sekarang giliran ayahnya yang terkejut. "Benarkah itu?"

Kibum ragu untuk menjawab iya atau pun menganggukkan kepalanya. Ia tidak mau menjadi anak yang pengaduan. Ini semua karena kebodohannya yang tidak bisa mengontrol dirinya.

"Jawab Appa. Benar itu, Kibum-ie?" Sang ayah ingin tahu kebenarannya dari mulut anaknya.

Kibum akhirnya menganggukkan kepalanya. Tatapan mata sang ayah berubah. Saat ini ayahnya sangat marah. Sang ayah berdiri dan berjalan menuju kamar Heechul. Kibum dan ibunya mengekor dibelakang.

.

.

.

Heechul terisak pelan dibalik dinding kamarnya. Jadi selama ini ibunya telah berbohong padanya. Heechul mengusap air matanya. Ia jadi merasa sangat bersalah pada Kibum.

Pintu kamarnya terbuka lebar dan muncullah 'ayah'nya dari luar kamarnya. Heechul tak berani menatap mata sang 'ayah' yang berkilat marah itu. Heechul tertunduk.

"Berani-beraninya kau berbuat seolah bos pada Kibum! Kau pikir kau siapa?! Kau bukan siapa-siapa!" Sang 'ayah' membentak Heechul. Air mata Heechul kembali terjatuh.

"Appa! Jangan membentak Heechul Eonni." Kibum masuk dan memeluk ayahnya. Kibum tidak bisa melihat 'kakak'nya dibentak seperti itu.

"Kau masih membelanya, Kibum? Setelah apa yang dia lakukan padamu, kau masih membelanya?"

"Iya, Appa. Tidak baik membentak seseorang apalagi yang sedang sakit seperti Heechul Eonni."

Ibunya masuk ke dalam kamar dan ikut bergabung dengan Kibum dan sang ayah. "Kau baik sekali, sayang."

"Kibum-ah.. Eonni minta maaf.. hiks." Heechul kembali terisak.

Kibum menghampiri 'kakak'nya dan memeluknya. "Tidak apa, Eonni. Aku sudah memaafkan Eonni."

Setelahnya sang ayah meminta maaf karena telah membentak Heechul dan rasa bencinya terhadap Heechul selama ini. Kemudian mereka berempat saling berpelukan.

.

.

.

Sungmin turun dari mobil hitam milik ayahnya. Gadis itu masih belum diizinkan sang ayah untuk membawa kendaraan sendiri. Jadi, sang ayah yang setiap hari mengantar Sungmin.

Setelah ayahnya pergi meninggalkan lingkungan sekolah, Sungmin berjalan masuk ke dalam sekolah. Merasa tasnya ditarik ke belakang, Sungmin menoleh dengan cepat. Di belakangnya Kibum tersenyum tiga jari sambil memberikan Sungmin sebuah hadiah.

"Selamat ulang tahun! Maaf aku sangat terlambat memberikannya." Ujar Kibum setelah memberikan hadiah itu pada Sungmin.

Sungmin menerimanya. "Kau tak perlu repot-repot memberikanku hadiah, Kibum-ah."

Kemudian keduanya berjalan beriringan memasuki kelas mereka yang terpisah. Kelas Kibum berada di lantai dua sedangkan kelas Sungmin berada di lantai tiga.

Sebelum Kibum memasuki kelasnya, Sungmin memanggilnya. "Kibum-ah! Heechul-ssi masih dirawat?"

Sepengetahuan Sungmin, Heechul sedang dirawat di rumahnya sendiri. Heechul tidak pernah mau dirawat di rumah sakit. Rumah sakit adalah tempat yang menurutnya menyeramkan. Heechul juga tak tahan dengan bau obat-obatan.

"Heechul Eonni sudah tak di sini lagi. Dia memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran kakek neneknya."

"Kapan dia berangkat?"

"Tadi pagi jam 4, Min. Sudah, ya aku mau masuk kelas."

Setelah Kibum menghilang dibalik pintu kelasnya, Sungmin kembali melanjutkan langkahnya. Tidak sengaja Sungmin menabrak seseorang saat dirinya ingin menaiki anak tangga.

"Maafkan, aku." Sungmin meminta maaf pada orang yang tak sengaja ia tabrak.

"Sungmin?" Ternyata orang itu adalah Kyuhyun. "Kau tak perlu minta maaf. Aku yang salah. Aku tadi buru-buru."

"Buru-buru? Memangnya ada apa?"

Menurut Sungmin jam masih menunjukkan pukul 06.15, masih lama waktunya bel masuk berbunyi. Kyuhyun tidak memberitahukan alasan kenapa ia terburu-buru. Lelaki itu menggenggam tangan Sungmin dan berlari ke lantai tiga. Sungmin merasakan ada yang aneh dengan perasaannya. Biasanya jika berada didekat Kyuhyun perasaan Sungmin biasa saja. Tetapi ini tidak biasa saja.

.

.

.

"Jadi ini yang membuatmu buru-buru ke kelas?"

Kyuhyun hanya terkekeh. Sungmin menghela nafasnya. Jadi yang membuat Kyuhyun terburu-buru karena lelaki itu belum mengerjakan tugasnya. Kalau memang begitu bawa saja buku Sungmin ke kelas tidak perlu membawa Sungminya.

Sungmin mengambil tempat di samping Kyuhyun. "Kyuhyun-ah."

Kyuhyun berdehem menyahuti. Lelaki itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.

"Aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku."

Kyuhyun masih sibuk mengerjakan tugasnya yang tak selesai itu.

"Saat kau menggenggam tanganku tadi. Aku merasa jantungku berdetak cepat."

Kyuhyun meletakkan pulpennya di atas meja. Lelaki itu menatap Sungmin yang juga menatapnya.

"Benarkah?" Kyuhyun bertanya pada Sungmin. Lelaki itu ingin memastikan benar atau tidaknya perkataan Sungmin tadi.

"Iya."

Satu kata yang terlontar dari mulut Sungmin berhasil membuat Kyuhyun terbang. Dia berhasil membuat Sungmin menyukainya. Saking senangnya Kyuhyun memeluk Sungmin yang masih diam tak mengerti.

"Terima kasih, Lee Sungmin."

.

.

.

TBC

akhirnya ch7 selesai juga huft. terima kasih buat readers yang udah baca maupun yang udah review ^^ semoga ceritanya gak ngebosenin, ne? boleh minta reviewnya lagi? :)

GyuMing: iyaaa :)

Thanks to:

JeongHyun137, kiikyunnie, Cho Hyun Ah Sparkins 137, dewi. k. tubagus, Guest, abilhikmah, beebee ming, chominhyun, PaboGirl, choleerann, KyuMinElfcloud, Shin, anakyumin, SEungyo, hanna, jihyunelf, jouley. peetz, Anggunyu, Guest, borntobesnower, missapple05, Sera Lee, Snow1215, ajid kyumin, kyuxmine, ratu kyuhae, melee, GyuMing, the horse loves snowy, Namesparkins137

Dan

Silent readers

*mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan pen name kalian