Something Hidden
Main Chara: Nagato Uzumaki, Tenten, Sai
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
OOC, Typo, Ancur, Gaje, Alur lompat2, Kagak nyambung
Don't like, don't read
RnR!
Hehe,, minna-san, author balik lagi. Dan so pasti bawa chapie terbaru :D Gimana chapie pertama, gaje kah, ancur kah? Yaiyalah pasti :D Author kan lagi coba keluar dari zona aman Author :D Kalo bagus syukur, kalo enggak ya.. gimana ya? :D #lupakan
Bales review dulu ya (: (Bagi yang Log in, silahkan meluncur ke PM masing2 :D)
Yukimaru: Haha, entah kenapa bnyak yg suka adegan angkat dagu :D Saya sendiri gk tau kenapa? Aku juga suka sama Tenten all pair. Tapi paling suka NaruTen :* Merek berdua kliatannya cute banget dah. Tapi sayang, couple Naruto bukan Tenten ): Couple Tenten yg sebenarnya hanya tinggal sebuah nama ): Kasian Tenten, kgak dapet couple sendiri di serialnya ): *puk puk Panda T.T
Laras: Aku pikir itu summary paling buruk di dunia ffn :D Ternyata ad juga yg tertarik sama itu summary :p Haha,, gak sekeren itu kok. Banyak bgt fic yg jauh lebih keren dri ini. Ini fic mah gak ada apa2 nya. Maklum, msih author pemula, jadi msih perlu bnyak belajar (: Eh tpi, mksih udaj sempatin wktu buat baca fic ini (: Ino sama Nagato ya? Ada hubungan apakah mereka? Penasaran bgt ya? Tunggu aja deh ya :D Udh di lnjut, happy read ya minna (:
Udah, skrg tinggal baca aja (: Happy read semua :*
Mentari pagi belum sepenuhnya menampakkan wujudnya di langit Jepang. Namun gadis berambut cokelat itu sudah bersiap akan pergi mengengelilingi Negeri ini. Jauh dari perjajiannya dengan seorang prajurit bernama Nagato yang harus sudah sampai di sini pukul 8 pagi. Entah apa yang terjadi, yang pasti rasa penasarannya akan Negeri ini dan semua hal tentang itu membuatnya makin penasaran. Ia merasa, ada satu hal yang membuatnya kini betah tinggal di sini. Meskipun baru 1 malam ia merasakan udara Negeri Gedo.
Suara knop pintu yang di tekan memecah kesunyiaan di kamar Tenten. Gadis itu melangkah keluar lalu menyapukan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang masih sunyi. Namun suara gaduh yang terdengar sangat pelan masih dapat ia dengar. Ia tau, suara gaduh tersebut berasal dari arah dapur. Sebab bau semerbak masakan yang tengah di buat oleh para juru masak istana sudah tercium olehnya.
Bunyi serangga-serangga dari arah luar menarik perhatian Tenten hingga akhirnya gadis itu meninggalkan kamarnya dan melangkah keluar. Dua pintu yang di buat dari kayu jati dengan tinggi dua meter tersebut dibuka secara bersamaan oleh gadis bermata hazel tersebut. Tenten menutup matanya dan menghirup oksigen memenuhi setiap sudut relung paru-parunya. Udara pagi yang sangat dingin dan segar, serta kabut-kabut tipis yang melengkapinya membuat kedua mata gadis itu terasa berat serasa ingin kembali ke tempat tidurnya dan menghangatkan dirinya di balik selimut tebalnya. Hmh, akan sangat nyaman jika ia melakukan hal itu. Tapi niatnya untuk pergi bersama Nagato lebih besar dari rasa kantuk yang sempat kembali menyelimutinya.
"Tenten-sama…"
Suara berat yang datang dari belakang, membuatnya sedikit terkejut hingga tanpa aba-aba, ia langsung membalikkan badan dan mendapati seorang pria berusia lanjut berdiri beberapa kaki di belakangnya. Tatapan bingung dapat jelas Tenten lihat tersirat dari mata pria berambut putih panjang tersebut.
"Apa Tenten-sama yakin akan pergi sepagi ini?" Tanyanya.
"Ji-Jiraiya Jiisan…"
"Suzugaoka-sama menceritakan semuanya padaku. Beliau memintaku untuk mencari tau prajurit mana yang Tenten-sama maksud… Aku sedikit lega karena prajurit tersebut adalah Nagato Tenten-sama. Kini, aku dapat menjelaskan alasanku membiarkan Tenten-sama pergi bersamanya."
"Terimakasih Jiisan." Tenten tersenyum simpul. "Apa dia sudah di sini?"
"Dia sudah berada di sini sejak tadi. Sekarang mungkin dia berada di kandang kuda."
"Aku akan segera kesana."
oOo
"Jadi… apa Nagato-sama akan menggunakan kuda ini untuk menemani Tenten sama berkeliling?" Suara lembut keluar dari mulut gadis berambut pirang tersebut yang kini tengah memasukkan beberapa ikat rumput kedalam mulut seekor kuda putih.
"Hn. Karena dari semuanya, Rake lah yang paling mudah beradaptasi dengan orang asing." Nagato mengeratkan tali pacu pada kuda di hadapannya.
"Benar. Kita tidak mau melihat istana negeri ini yang cantik dan baik terlukai jika ia menunggangi Janken." Ino tertawa kecil.
Nagato berhenti dan sedikit berpaling menghadap Ino. Dahinya sedikit berkerut melihat gadis pirang itu yang masih sibuk memberi makan Rake. "Darimana kau tau Tenten-sama gadis yang baik?"
Tangan gadis itu menarik rumput yang akan masuk kedalam mulut Rake dan meletakkannya kembali ke peti kayu di sampingnya. Ia berbalik dan menatap Nagato percaya diri. "Karena aku seorang dayang, seorang dayang yang bertugas di dalam istana, juga seorang dayang yang paling dekat dengan Tenten-sama."
Nagato membeo. Ia masih berusaha mencerna kata-kata yang baru saja ia dengar dari Ino. Ia masih tidak percaya, untuk kedua kalinya, gadis pirang itu menjadi orang yang paling dekat dengan seorang putri istana.
"Tenten. Seorang gadis cantik bermata hazel, berambut indah, dengan fisik sempurna. Dia sangat baik, manis, dan juga ramah. Sangat menyenangkan dan beruntung bisa mengenalnya. Meskipun baru satu hari, tapi aku yakin, dia adalah reinkarnasi dari Mouri-sama. Tenten-sama adalah Mouri-sama kedua." Gadis pirang itu melempar senyum manisnya pada Nagato yang masih diam tak bergerak dan bicara.
Srek..
Suara rumput yang terinjak memecah keheningan yang menyelimuti kandang kuda. Kedua manusia yang berada di dalamnya segera melarikan mata ke arah pintu dan telah mendapati seorang gadis berdiri di sana. Perlahan ia berjalan mendekat dan berdiri di sebelah Janken, kuda hitam bertubuh tegap dan gagah yang berhasil menarik perhatiannya.
"Tenten-sama, bukan Janken yang akan Tenten-sama tunggangi. Tapi Rake. Dia ada di sini." Kata Ino.
"Kenapa bukan dia?" Tangan Tenten perlahan menghampiri wajah Janken yang seolah menatap tajam kearahnya. Karena merasa tidak nyaman, Janken sedikit berontak. Kuda tersebut menendang-nendang kandangnya kemudian membalikkan badannya. Ekornya bergerak cepat kesana kemari. Hampir saja ekor Janken mengenai wajah Tenten jika saja Nagato tidak menariknya kebelakang.
"Karena dia tidak akan membiarkan orang asing manapun menyentuhnya." Nagato menatap Tenten lekat.
Ino berlari menghampiri Tenten dan Nagato yang tak jauh darinya. Wajah cemas jelas terlihat dari raut wajah Ino setelah melihat sekilas adegan tadi. Ia menatap Janken sekilas lalu beralih ke Tenten.
"Tenten-sama, apa Tenten-sama baik-baik saja?"
"Hm, kau tidak perlu cemas." Gadis itu mengedipkan kedua matanya cepat berusaha mengembalikan sedikit kesadarannya.
"Syukurlah jika begitu."
"Dan untukmu Nagato… Terimakasih sudah menolongku." Tenten berkedip cepat dan melempar senyum samar pada pria di sampingnya.
"Sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga Tenten-sama."
oOo
Srek..
Satu pintu di ruang para menteri istana Negeri Kogume yang terbuat dari kayu yang di anyam, membuat seorang pria berusia senja menghentikan aktivitasnya. Pria itu tak lantas membalikkan tubuhnya, melainkan hanya berdiam diri dan menunggu penjelasan yang akan di sampaikan oleh seseorang di belakangnya.
"Kita dapat masalah Danzo-sama.."
Pria itu masih diam. Ia menunggu prajuritnya melanjutkan penjelasannya.
"Di sekitar ruangan itu sangat lembab Danzo-sama. Akibatnya, senjata-senjata dan peralatan yang seharusnya sudah siap mulai berjamur dan berkarat. Racun itu ternyata masih bekerja di karenakan kita terlalu banyak menebar bubuk-bubuk tersebut. Kini para menteri masih berusaha meracik penawarnya. Dan mungkin kami juga memerlukan waktu untuk membersihkan jamur dan karat pada senjata-senjata kita."
Danzo berbalik dengan muka yang sangat tidak sedap di pandang mata. Membuat prajurit tersebut sedikit ketakutan. Khawatir ia akan terkena marah akibat dirinya dan teman-temannya tidak melaksanakan tugas dengan baik.
"Lupakan dulu masalah senjata. Ada satu hal yang harus kita bereskan terlebih dahulu."
"A-apa itu Danzo-sama."
"Aku curiga pemilik mata Rinnegan itu ada di sana."
"Ri-ri-rinegan? Da-darimana Tuan tau?" Mata prajurit tersebut terbelalak terkejut mendengar kata itu terlontar keluar dari bibir tuannya.
"Baru saja aku teringat oleh cerita masa lalu. Dulu aku pernah mendengar, salah satu anak lahir dari rahim seorang wanita keturunan Uzumaki sekitar dua puluh tahun yang lalu. Semua orang tau, bahwa pemilik mata Rinnegan tidak bisa di anggap sebelah mata. Mereka mungkin merasa seperti sebagian orang yang hidup selama ini. Namun jika mereka menyadari akan kekuatannya dan mendalaminya, tidak akan ada seorang pun yang dapat menandinginya. Bahkan jika kita menyatukan semua prajurit dari seluruh Negeri."
"Bagaimana cara kita mencarinya Danzo-sama? Dia adalah salah satu di antara ribuan orang di sana."
"Hanya satu cara yang bisa kita lakukan. Dan jika berhasil, bukan hanya dia yang kita temukan. Kita juga bisa menghabisinya saat itu juga."
oOo
Suara angin yang lembut dan sejuk, menerpa kulit wajah putri Negeri Gedo. Helaian rambutnya yang menutupi sebagian mata kanannya, ia sibakkan ke belakang telinganya. Sungguh, ia tidak pernah menyesal untuk bangun sepagi itu, merelakan lehernya yang hampir saja terkena anak panah hingga akhirnya bertemu dengan Nagato dan berada di sini. Tempat yang sangat indah ini. Tempat yang ia yakini tak akan ada orang rela beranjak dari sini.
Setelah hampir dua jam mereka menunggang kuda, serta bibir Nagato yang tak henti-hentinya diam karena Tenten yang selalu melontarkan pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang tidak bisa di katakan singkat. Nagato memutuskan untuk mengajak putri tersebut untuk beristirahat di satu hulu sungai yang masih terhubung dengan air terjun yang berasal dari gunung Noon, yang juga berada di Negeri Gedo. Air terjun tersebut dapat terlihat jelas dari tempat Tenten dan Nagato sekarang berada. Hutan yang rindang, angin semilir yang menyejukkan, serta suara khas hutan yang membuat siapapun merasa damai meskipun hanya sesaat.
Tenten melepas tali sandal yang melingkari tungkainya, ia lantas menaikkan sedikit bajunya. Langkahnya membawanya menuju sebuah batu berukuran besar yang bertengger dengan anggunnya di pinggir sungai. Gadis itu lantas duduk di atasnya kemudian menenggelamkan sebagian lututnya di dalamnya. Darahnya sedikit berdesir ketika permukaan kulitnya mulai bereaksi dengan suhu dingin air sungai tersebut.
"Jika kau berniat mencari rumput untuk mereka berdua, pergilah. Aku akan menunggu di sini." Kata Tenten dengan mata terpejam.
"Tidak Tenten-sama. Mereka hanya makan dua kali. Yang mereka butuhkan sekarang hanyalah air untuk minum."
"Hei, apakah ini tempat terindah di Negeri ini?" Gadis itu memalingkan wajah pada Nagato yang duduk di bawah sebatang pohon berukuran besar.
"Bisa di katakan begitu. Meskipun Gedo adalah Negeri paling besar dan paling maju di antara lima Negeri lainnya, namun yang kami hanya memiliki beberapa tempat indah yang bisa di tunjukkan."
"Maksudmu, Negeri ini hanya memiliki sedikit tempat seperti ini di banding Negeri lain?"
"Bisa di katakan begitu. Kami enam Negara besar memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya, Negeri Gedo. Negeri ini adalah Negeri yang paling besar dan paling maju di antara yang lainnya. Angka kemiskinan di sini juga terhitung yang paling kecil. Lalu Negeri Nanami. Nanami adalah Negeri yang paling melimpah penghasilannya di bidang pangan. Tanah di Negeri tersebut sangat subur. Maka dari itu, Negeri Nanami menduduki peringkat kedua Negeri termaju di peta enam bangsa. Karena Negeri-negeri lain di sekitarnya menggunakan tanah di sana untuk bercocok tanam. Dan setiap Negeri harus membayar sewa atas tanah yang mereka tempati." Pria itu bernafas sesaat.
Gadis itu menggeser sedikit posisinya menghadap Nagato. Ia menarik kakinya ke atas lalu memeluk keduanya di depan dan meletakkan dagunya di atasnya. Dahinya sedikit berkerut, menanandakan ia masih menunggu Nagato berbicara lebih banyak.
"Negeri Kogume adalah yang memiliki persenjataan paling kuat. Setiap hari, para prajurit di sana selalu mencari apapun yang mereka rasa dapat menguatkan pertahanan mereka. Dan Negeri Gedo adalah pembeli tetap senjata dari Negeri Kogume."
"Termasuk panah itu?" Sela Tenten.
"Tidak.. Panah ini adalah pemberian dari para pengerajin kayu yang ingin menyampaikan rasa bangganya memiliki Suzuki-sama dulu. Dan hingga kini, meskipun Suzuki-sama sudah tiada, mereka masih memberikan panah dan anak panahnya secara cuma-cuma. Hal itu di lakukan karena mereka menghormati mendiang Suzuki-sama."
"Cuma-cuma?... Maksudmu, istana sama sekali tidak memberi apapun pada mereka?" Hidung Tenten berkerut serius.
"Mereka sudah mendapatkan lebih dari yang mereka harapkan. Para prajurit di istana berkewajiban melindungi mereka meskipun berada di wilayah orang lain. Maka dari itulah, para penduduk melakukan hal itu... Sederhananya, mereka memberi senjata dan mereka ingin aman."
"Lalu, bagaimana dengan Negeri Boshi, Hake, dan juga Kaguchi?"
"Negeri Boshi. Kami biasa menyebutnya Negeri pelajar. Di sana banyak sekali di dirikan sekolah-sekolah yang sangat menjanjikan masa depan. Kebanyakan saudagar kaya di Negeri lain termasuk Negeri ini menyekolahkan anak mereka di sana. Kebanyakan lulusan sekolah tersebut kini juga menjadi saudagar. Mereka memiliki usaha sendiri. Seperti pertambangan timah, emas, bahkan berlian. Kemudian Hake. Negeri yang satu ini tidak terlalu besar. Bahkan bisa di katakan paling kecil di antara lima lainnya. Konon kabarnya, Hake tidak memiliki apapun untuk di masukkan kedalam peta enam bangsa. Bahkan banyak anak yang mengalami gizi buruk di sana. Akan tetapi, Hake ingin di masukkan ke dalam peta enam bangsa karena setiap pengiriman barang untuk Negeri Gedo, Nanami, Hoshi, Kogume, dan Kaguchi selalu berhenti di pelabuhan mereka lalu di lanjutkan mengirim lewat jalur darat menggunakan kuda. Maka dari itu, Negeri Gedo memasukkannya ke dalam peta enam bangsa karena Hake memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup Negeri lain."
"Apa Negeri lain tidak memiliki pelabuhan?"
"Tentu saja punya. Negeri Gedo memiliki tujuh pelabuhan. Tapi setiap pengirman, sebuah kapal harus melewati pelabuhan Negeri Hake karena letak Negeri Hake tepat di perbatasan laut Jepang. Dan hanya itu jalan satu-satunya untuk para kapal masuk ke wilayah jepang."
"Bagaimana dengan Negeri Kaguchi?"
"Kaguchi…. Negeri yang tidak terlalu besar. Tapi keindahan alam di sana sungguh menakjubkan. Negeri Kaguchi sering di sebut surga dunia. Karena keindahan alamnya yang luar biasa indah. Kaguchi memiliki banyak hal yang patut di perlihatkan pada orang lain. Dan jika seseorang sudah memasuki Negeri Kaguchi, kecil kemungkinan mereka mau kembali."
"Kaguchi… Apakah Raja di sana Tetsuka? Dan juga anaknya bernama Sai?" Tenten memiringkan sedikit kepalanya.
"Darimana Tenten-sama tau? Negeri itu sangat jauh dari sini. Butuh waktu sepuluh hari untuk sampai ke tempat itu menggunakan jalur darat."
"Ino-san memberitahuku." Gadis itu mengedikkan bahunya.
"Oh."
"Hei, bagaimana kalau kau mengajakku kesana? Aku ingin melihat keindahan Negeri Kaguchi secara langsung." Tanya Tenten antusias.
"Se-sekarang?"
"Tentu tidak bodoh. Mungkin di lain waktu. Untuk saat ini, rasanya aku ingin ke Negeri Hake. Aku ingin melihat, seberapa banyak anak penderita busung lapar di sana. Dan kuharap, aku bisa berbuat sesuatu untuk mereka."
"Baiklah, nanti aku akan…"
"Denganmu."
"A-apa?"
"Aku ingin kesana denganmu. Bukan yang lain."
"Ta-tapi Tenten-sama.." Nagato menelan ludahnya bagai seonggok daging mentah yang tersangkut di sana.
"Entahlah Nagato-san. Tapi aku merasa… aku akan aman jika bersamamu." Suara Tenten mengecil. Meski begitu, telinga Nagato cukup tajam mendengar suara yang lebih mirip seperti rancauan kecil.
"Tenten-sama…"
"Apa kau berjanji akan mengajakku kesana?" Suara Tenten seketika berubah ceria. Wajahnya juga tak lagi menampakkan mimik lemah. Senyuman terkembang mereka dari bibirnya. Membuat Nagato tercekat sesaat. "Hei, aku bicara padamu!"
"Ah, ta-tapi Tenten-sama…"
Tenten beranjak berdiri dari batu besar tersebut dan langsung berlari kecil menghampiri Nagato. Ia menyincing sedikit bagian bawah bajunya kemudian duduk tepat di samping pria itu. Nagato sempat berniat sedikit memberi jarak sebelum ia menyadari bahwa tepat di sampingnya ada pohon besar berdiri dengan anggunnya. Sedangkan di sisi lainnya, sang putrid sudah duduk masin dengan senyum merekahnya. Dan situasi yang seperti itu, membuat Nagato kikuk tak bisa berbuat apa-apa.
"Berjanjilah kau akan membawaku ke sana." Kata Tenten menatap lekat mata Nagato.
Tenten tau, bahwasannya pria di sampingnya tersebut mengalami struk sesaat. Ia juga bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu semakin cepat setiap kali ia mendekatkan tubuhnya padanya. Namun hal itu tak membuat Tenten mundur. Ia malah sengaja mendekatkan tubuhnya pada Nagato. Karena ekspresi kikuk pria di sampingnya ini sangat menghibur dirinya. Jika saja ia tidak dapat menahan, mungkin sekarang tawanya sudah meledak. Terlebih ketika Nagato gugup hingga jemarinya bergetar hebat di samping kedua kakinya.
"Aku berjan-ji Tenten-sama." Pria itu memejamkan kedua matanya rapat.
"Bagus." Tenten menjentikkan jari kanannya dan menjauh.
'Kami-sama, kenapa kau menciptakan dua mahkluk dengan sifat yang sama?' Nagato menghela nafasnya panjang.
"Nagato-san, matamu sangat indah. Aku suka." Kata Tenten spontan.
"A-apa?" Pria itu tercekat.
"Kenapa kau terkejut seperti itu?"
"Tidak. Ha-hanya saja, sebagian besar orang yang melihat langsung pada mataku, mereka langsung lari ketakutan. Mereka beranggapan, bahwa aku adalah pria yang di lahirkan dari perut siluman."
"Mereka yang berkata seperti itu sama sekali tidak melihat secara langsung. Asal kau tau. Saat aku berada di tandu, ketika kau bersimpuh tepat di samping tandu yang kunaiki, diam-diam aku menatap matamu. Dan setiap kau menggerakkan mereka, aku merasa mereka ingin menyampaikan sesuatu pada orang yang kau tatap." Tenten menatap kagum mata Nagato yang kini juga menatapnya.
"Saya tidak mengerti maksud Tenten-sama." Kata Nagato polos.
"E-entahlah. Aku sendiri juga tidak tau. Lupakan saja." Gadis itu memalingkan wajahnya.
"Mouri-sama juga mengatakan hal yang sama seperti yang Tenten-sama katakan sebelumnya."
"Mouri-sama? Siapa dia?" Dahi Tenten berkerut menatap Nagato.
"Apa Tenten-sama tidak tau siapa Mouri-sama?" Pria itu sedikit terkejut.
"Tidak."
"Mouri-sama adalah putrid dari Negeri ini sebelum Tenten-sama."
"Oh, ternyata anak Suzuki Jiisan? Pantas aku tidak mengenalnya."
"Bagaimana bisa?"
"Yah, kami di lahirkan di waktu dan tempat yang jauh berbeda. Mouri lahir ketika aku berusia tiga tahun. Dan kudengar dari Ayah, istri Suzuki Jiisan meninggal dunia ketika melahirkan Mouri. Sebenarnya aku ingin melihat bagaimana rupa sepupuku. Tapi karena jarak tempat yang terlampau jauh, hingga saat ini aku belum tau bagaimana rupa Mouri.
Setahun yang lalu, tepatnya ketika kudengar Mouri sudah tidak lagi ada, aku mengurung diriku di kamar. Menyendiri selama berbulan-bulan. Aku sangat sedih mendengar kabar tersebut, sekaligus kecewa dengan Ayah yang selalu menghiraukanku jika sedang merengek memintanya untuk mengizinkanku bertemu Mouri." Pelupuk mata gadis itu tanpa ia sadar sudah di penuhi oleh cairan bening yang siap menjatuhkan dirinya kebawah.
"Apa yang membuat Suzugaoka-sama melarang Tenten-sama bertemu dengan Mouri-sama?"
"Entahlah. Tapi Ayah berkata, jika aku memaksa untuk pergi, mungkin aku tidak akan pernah kembali. Aku sempat tak percaya akan kata-kata Ayahku dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Tapi kini aku percaya. Karena ketika dalam perjalanan menuju kemari, beberapa orang menghadang kami dan menyerang para prajurit. Orang-orang asing itu berusaha melesatkan panahnya ke arah tanduku. Satu panah yang mereka lesatkan berhasil melubangi satu sisi tanduku dan sedikit mengenai bagian leherku. Di tempat yang sama ketika panahmu hampir mengenaiku." Gadis itu menyibakkan rambutnya dan memperlihatkan luka kecil yang cukup besar bertengger di sana.
Baiklah, Nagato kembali merasa bersalah ketika Tenten menyinggung kembali kejadian itu. Jika saja panahnya mengenai Tenten, mungkin luka yang ada di sana akan lebih besar dan dalam. "Siapa mereka?" Tanya Nagato.
"Aku juga tidak tau. Tapi aku merasa, mereka sengaja menyerangku untuk menguasai sesuatu yang aku miliki." Tenten memanggut-manggutkan kepalanya.
"Apa sekarang Tenten-sama baik-baik saja?"
"Hm. Tapi luka ini terkadang terasa menyengat leherku. Aku tidak tau kenapa?"
"Mungkin panah yang mereka gunakan, sebelumnya sudah di lumuri oleh sesuatu." Pikir Nagato.
"Racun maksudmu?" Tenten sedikit tercekat.
"Bisa jadi. Tapi dilihat dari luka itu, mungkin beberapa hari akan mongering dan sembuh."
"Darimana kau tau? Apa kau seorang tabib?" Tenten tertawa kecil.
"Bukan aku. Tapi Ayahku yang seorang tabib. Dan dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu ketika dia memutuskan untuk ikut serta dalam misi rahasia."
"Misi rahasia? Maksudmu, Negeri ini memiliki musuh?"
"Para menteri dan semua penghuni istana berpikir begitu. Mereka merasa ada yang aneh dengan meninggalnya beberapa menteri, dayang istana, termasuk Isri, anak, dan juga Suzuki-sama sendiri. Sebagian besar dari mereka meninggal dengan cara yang sama. Di tubuh mereka terdapat racun dengan dosisi yang cukup besar. Kami mencurigai, ada orang dalam yang berhianat untuk melancarkan rencana busuk itu."
"Apa Ayahku sudah mengetahuinya?"
"Rencananya, para menteri akan menjelaskan semua itu pada Suzugaoka-sama siang ini."
Jujur, Tenten sedikit takut mengingat teror tersebut yang hingga saat ini belum terungkap siapa pelakunya. Ia takut hal yang sama akan terjadi pada Ayahnya atau bahkan padanya. Karena meskipun ia orang baru, bukan berarti ia lepas dari target pembunuhan. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus meminta Nagato untuk selalu berada di sisinya? Baiklah, itu konyol. Apa dia harus berada di samping Ayahnya setiap saat? Lalu bagaimana dengan presepsi orang lain tentang dirinya? Ino mungkin bisa melakukan itu. Tapi gadis pirang itu juga manusia yang memiliki kehidupannya sendiri. Bagaimana dengan prajurit yang lain? Namun sejauh ini, Nagato lah satu-satunya prajurit yang paling ia percaya.
"Ehm, Nagato.." Gadis berpaling dengan tatapan ragu. "Apakah konyol, jika aku takut akan teror itu?"
"Tentu saja tidak Tenten-sama. Tenten-sama tidak perlu takut akan hal itu. Aku akan selalu menjaga Tenten-sama."
Fuuh..
Tenten menghela nafasnya lega. Meskipun Nagato tidak berkata akan selalu di sampingnya, tapi paling tidak, pria itu berjanji akan menjaganya tanpa ia minta. "Aku percaya padamu." Seulas senyum menghiasi bibir Tenten.
"Hei, apa kau sudah sarapan?" Gadis itu kembali memalingkan wajahnya.
"Belum Tenten-sama."
"Bagus. Kalau begitu, ambil ini." Tenten menyodorkan sebuah kotak bekal yang di lapisi kain bermotif bunga teratai pada Nagato.
"A-apa ini Tenten-sama?" Tanya Nagato di buat bingung oleh kotak bekal di tangan Tenten.
"Aku membuatnya tadi pagi. Ini adalah rasa terimakasihku padamu. Ambillah."
"E-eeh, a-a…"
"Bisa kau ambil sekarang? Tanganku pegal. Ini berat." Hidung gadis itu memunculkan kerutan.
"I-iya."
Nagato meraih kotak bekal itu dan meletakkannya di atas pangkuannya. Ia diam melihat kotak bekal tesebut. Tenten di buat bingung dengan sikap Nagato yang diam tanpa ada niatan akan membuka makanan tersebut.
"Tenang saja, aku tidak menambahkan bubuk racun kedalamnya." Kata Tenten asal.
"Ti-tidak Tenten-sama. Aku hanya merasa.. Bagaimana bisa aku makan sementara Tenten-sama tidak?" Kata Nagato kikuk.
"Jangan khawatirkan aku. Aku sudah sarapan tadi. Jika kau merasa canggung aku berada di sini selagi kau makan, tidak apa-apa. Aku akan bermain bersama Rake dan Yumi."
"Tidak.. Bu-bukan begitu. Maksudku…"
Tenten tak menggubris perkataan Nagato melainkan segera beranjak dari duduknya dan menghampiri kedua kuda yang masih bermain-main di hilir sungai. Beberapa langkah setelah pergi, Tenten sempat berbalik dan melontarkan senyuman penuh arti pada Nagato. Dan hal tersebut membuat pria itu terkejut untuk kesekian kalinya.
'Hanya makanan dan sebuah senyuman bukan berarti apa-apa Nagato. Tenanglah.' Pria itu meyakinkan dirinya sendiri.
TBC..
Hehe, udahan nih chapie yg ini. Silahkan sampaikan komentar di kolom review. Author bakal segan sama reader yg ninggalin jejak (: Kalo mau lanjut cepet, ksih review ya :D
