.
Title:
M.I.R.A.C.L.E series
Author:
Enma R. Eyes
Rating :
T
Genre:
Romance, comedy, friendship
Casts:
Akashi Seijuurou
OC (You)
Mayuzumi Chihiro
Murasakibara Atsushi
Kuroko Tetsuya
Himuro Tatsuya
Disclaimer:
Kurobas milik om Fujimaki Tadatoshi, this plot is mine
Setting:
Akashi bersekolah di SMA Teikou, Murasakibara di Yosen dan Kuroko di Seirin
(setting bisa berbeda tiap chapter)
Warning:
FF khayalan semau author, apresiasi buat perasaan suka pada member GoM
yang paling penting OOC-ness pasti ada, typo(s) juga mungkin haha but overall happy reading pecinta kurobas! ^v^
chapter 2: I for Irresistible
– Akashi Seijuurou POV –
BRAKK! Aku menutup pintu mobil dengan kasar. Air mukaku sudah menunjukkan bahwa aku sedang bad mood, tck.
"Lho! Tuan muda mau kemana? Kenapa tuan muda keluar mobil?" aku mendengar supir itu bertanya padaku.
Aku melihatnya dengan tatapan dinginku seperti biasanya dan membalas, "Cih! Kau terlalu lama, aku bosan di dalam... sekarang aku mau keluar untuk jalan-jalan, kau tunggulah di dalam sampai aku datang kemari."
"Ta-tapi tuan..." ucapannya terdengar seperti sebuah penolakan bagiku.
"Jangan membantah! Kerjakan saja apa yang sudah kukatakan" sergahku cepat. Aku pun mulai berjalan menjauhi supir dan mobil sedan hitam yang biasanya dipakai untuk menjemputku dari sekolah.
Aku terus berjalan hingga sampai di tikungan sana aku berbelok. Dalam hati aku sudah merutuk. Kenapa? Katanya hanya bersahabat, lalu tadi itu apa? Mencium kening... mereka pasti bercanda! Kalau saja, aku bisa melempar Midorima dengan gunting merahku, heh~ "Mati saja, kau Midorima" gumamku pelan hingga,
BUKK! Aku tak sengaja menabrak seseorang. Orang itu jauh lebih tinggi dariku dan kulihat di bawah kakiku sudah ada beberapa bungkus maibou berjatuhan dengan berbagai rasa, "Aka-chin!?" sapa seseorang dan saat aku mendongakkan kepalaku dapat kulihat pemuda yang tak asing bagiku.
"Atsushi..." aku membalas menyapanya.
Oh, kami jadi seperti reunian disini? Ya Atsushi memilih untuk melanjutkan sekolahnya di SMA Yosen. Kami para pemain Generasi Keajaiban terpencar setelah kami lulus SMP kecuali aku dan pemuda tsundere itu.
Kulihat ia memungut maibou-nya yang terjatuh dan memasukkannya ke dalam kantung plastik berwarna putih dengan ukuran cukup besar. Dia ini... sama sekali tak berubah, masih saja suka makan, tck.
"Aka-chin, sendirian..? Sedang apa?" tanyanya sembari membuka maibou rasa jagung bakar dan kemudian melahapnya.
"Aku sedang jalan-jalan," jawabku pendek.
"Mmh begitu... krauss~ oke" dia membalas dengan ucapan yang lagi-lagi terdengar tak terlalu penting, seperti biasanya. "Tapi, wajah Aka-chin sepertinya terlihat marah..." tambahnya membuatku menatapnya tajam.
"Begitukah? Heeh~ Aku sedang kesal memang" aku jadi mulai bercerita.
"Ngg, kesal kenapa.. krauss~ Aka-chin?" ia bertanya sembari tetap melanjutkan aktivitasnya menghabiskan maibou.
"Menurutmu, Shintarou... apa dia lebih baik dariku?" tanyaku tiba-tiba.
Ia melihatku cukup lama kemudian menjawab, "Hmm apa ya, Mido-chin cukup tampan, krauss~ dan juga dia tinggi... krauss~" sensitif dengan kata 'tinggi' aku langsung menunjukkan gunting merahku padanya, "tapi Aka-chin juga keren" tambahnya membuatku mengurungkan niatku untuk mengirimnya ke rumah sakit sore ini.
Aku terdiam sejenak, berpikir lalu kembali berkata, "Aku melihat Shintarou dengan sahabatnya, sahabatnya perempuan tapi kenapa mereka terlihat tidak hanya bersahabat melainkan lebih dari itu..?"
"Baguslah, Mido-chin tidak jomblo lagi kalau begitu, krauss~" lagi-lagi jawaban pemuda yang mirip titan ini kembali menyulut amarahku. Aku sudah bersiap untuk benar-benar membuang gunting merahku padanya tapi, "Oh, Aka-chin apa cemburu? Aka-chin jomblo juga, cari pacar juga kalau begitu... krauss~" dan saat itu aku membuang guntingku padanya tapi sial guntingnya malah mengenai orang lain.
"Ah, sudahlah. Tidak ada gunanya juga aku bercerita padamu, Atsushi. Kau tidak akan mengerti" aku lantas berbalik membelakanginya.
"Apa sahabat Mido-chin adalah orang yang Aka-chin suka, ahh itu benar-benar buruk" ia berkata dengan nada datarnya membuatku semakin jlebb.
Aku langsung melihatnya bingung, kenapa titan ini bisa tahu? Apa setelah ia bersekolah di Yosen, ia sudah mulai dewasa? Aku pun tak habis pikir, mungkin hanya Atsushi dan Tuhan yang tahu. *wooy ini kok jadi genre comedy gaje pls -_-*
"Sebenarnya dia mantanku dan aku melihat mereka semakin akrab pasca kami putus tapi entah kenapa aku selalu merasa panas setiap melihat mereka bersama" ujarku mulai curcol *ciee Akashi #dikirimrudal ;-;
"Ah, itu tandanya Aka-chin masih suka dia... udah balikan aja" Atsushi tiba-tiba menari hula-hula di depanku sembari mendendangkan tembang 'udah balikan aja' karyanya semenit yang lalu, aku pun lantas melemparnya jumroh lalu melakukan tawaf dan berlari-lari kecil diantara bukit safa-marwah *baik, seketika gelar haji diperoleh Akashi ==*.
"Uhuk, sou ka? Apa menurutmu aku harus kembali lagi dengannya?" aku mulai kembali serius.
"Hmm, ya aku dukung Aka-chin rujuk lagi(?)" jawabnya sembari memasukkan pocky rasa strawberry ke dalam mulut(lubang buaya)nya.
Setelah berpikir beberapa menit (dan mulai terdengar adzan maghrib), aku pun lantas pamit pergi, "Hmm ya sudah, aku mau pergi, kokoro ini sudah lelah, Atsushi" ungkapku.
Atsushi sendiri hanya mengangguk-anggukkan kepalanya ke kanan-kiri atas-bawah mirip nenek-nenek lansia lagi senam SKJ. Melihat pemandangan itu, aku hanya membiarkannya dan segera menemui supirku.
.
.
Aku duduk di kursi meja belajarku. Sebuah papan shogi lengkap dengan bidaknya terhampar di depanku. Aku berpikir dan mulai menggerakkan bidak-bidak itu tapi pikiran lain mulai menggangguku.
'Apa ia aku harus balikkan? Tapi, apa gadis itu masih menyukaiku?' pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi otakku membuat konsentrasiku sedikit menurun.
'Tapi kan aku yang memutuskannya terlebih dahulu, masa iya aku yang mau minta balikan duluan juga kenapa gadis itu malah terlihat semakin baik sekarang?' lagi-lagi aku berpikir dengan keras.
Dapat kuingat gadis itu pada awal kami putus, ia terlihat begitu kacau. Kulihat dia sangat sering melamun, dia bahkan sering sekali menampakkan wajah kusutnya pada semua orang tapi akhir-akhir ini dia seakan kembali menjadi gadis yang ceria seakan tidak ada hal penting yang terjadi sebelumnya.
Aku menyibakkan rambut merahku. Aku yang memutuskan hubungan ini terlebih dahulu tapi kenapa malah aku yang tidak bisa move on? Haah, memang benar kata orang,
Orang yang memutuskan hubungan yang pertama belum tentu ia bisa lebih cepat move on dibanding orang yang ditinggalkan
Sial! Aku merutuk dalam hati. Baiklah, mungkin aku terlihat bodoh karena tidak bisa move on tapi alasanku untuk memutuskannya, aku pikir benar. Gadis itu, ia masih menyukai senpai-nya, si Mayuzumi Chihiro.
Aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri kalau dia sedang bermesraan dengan Chihiro. Kulihat mereka sangat akrab dan dekat. Mereka terlihat tertawa bersama, begitu lepas layaknya sepasang kekasih. Hey, lupakah dia kalau waktu itu aku masih menyandang status pacarnya? Kemudian, pemuda berambut abu-abu itu malah memasangkan kacamatanya pada gadis itu, cih! Aku benar-benar tidak tahan. Aku langsung pulang setelah melihat itu semua.
Lagipula tidak hanya itu, aku juga pernah mendengar gadis itu sering menyebutkan nama Chihiro di depanku.
.
"Ngg, Seijuurou jangan suka marah donk? Kau jadi seperti Mayuzumi senpai saja,"
..
"Sei-kun! Jangan bersumpah serapah seperti itu... kau ini kebiasaan deh, haah jadi mirip Chi-san, kan?"
..
"Ngg, Chi-san ya... ah sebenarnya dia kakak kelasku sewaktu aku SD tapi dia sudah pindah ke Kyoto hehe dia sebenarnya baik, Chihiro senpai juga tampan. Mungkin disana dia punya banyak fans hehe sewaktu SD, dia punya banyak fans lho! Sungguh... tapi tenang, aku bukan salah satu fans-nya kok"
.
Oke, sudah cukup! Sudah selesai dengan cerita itu.. Meskipun, dia tak pernah mengakuinya tapi aku tidak bodoh. Aku tahu, gadis itu menyukai Chihiro. Mungkin sebelum aku bertemu dengannya, gadis itu sudah menyimpan rasa pada pemuda bersurai kelabu itu, minimal dia pasti mengaguminya.
"Aargh!" aku membalik papan shogi itu membuat semua bidak yang ada diatasnya jatuh berceceran.
.
.
##Flash Back##
Ia berjalan ke bangkuku seperti biasa. Bel pertanda bahwa jam istirahat telah berbunyi. Aku memandangnya sekilas lalu merapikan barang-barang yang ada diatas mejaku.
"Sei-kun, kita ke kantin yuk~ Aku lapar nih, he" ajaknya sembari memasang sebuah senyuman di depanku.
Aku masih merapikan mejaku dan mengambil beberapa buku, sebuah map dan juga pulpen. "Aku sedang sibuk, kau kesana sendirian saja" balasku dingin.
"Ta-tapi, Seijuurou..."
Tak memperdulikannya lebih lama, aku langsung bangkit dari tempat dudukku dan segera berjalan keluar kelas. Gadis itu masih mengikutiku, ia bahkan berjalan di sampingku.
"Seijuurou sangat sibuk ya, ya sudah aku bantu deh" ucapnya tapi aku terdiam tak membalasnya.
Kami masih terus berjalan hingga langkah kakiku terhenti. Tepat di depan sebuah pintu berwarna coklat kayu, aku melihatnya. Ia balas melihatku dengan tatapan seolah bertanya, 'Kenapa? Ada apa sebenarnya?'.
"Mulai sekarang, sebaiknya kita akhiri hubungan ini" akhirnya aku mengucapkan kalimat itu juga.
"Nani?" ia melihatku dengan tatapan terkejut kemudian memasang ekspresi tak mengerti.
"Aku ingin kita putus, berakhir sekarang." tambahku lagi.
"T-ta-tapi kenapa? Sei, kau tidak bisa melakukan ini,"
"Maaf, aku sedang sibuk." balasku kemudian masuk ke ruang OSIS.
Saat di dalam, aku masih mendengar gadis itu bertanya, "Akashi, kau bercanda, kan? Kenapa harus putus tiba-tiba? Apakah aku melakukan kesalahan? Kalau iya, tolong beritahu aku karena aku tidak tahu apa kesalahanku... aku mohon Akashi, jangan seperti ini. Aku masih mencintaimu," ia berteriak sembari menggedor pintu itu beberapa kali.
Aku hanya bisa mendengarkan. Tidak ingin membalas. Bagiku, keputusanku sudah mutlak. Pemandangan kemarin sudah cukup untuk menjadi bukti bagiku.
"Akashi, tolong beritahu alasannya kenapa? Kau tidak bisa memutuskan hubungan ini tanpa alasan yang jelas! Aku tahu pasti ada alasan kenapa kau melakukan ini, setidaknya beritahu aku, Akashi... Seijuurou!" ia berteriak memanggil namaku.
Aku pun melihat pintu itu cukup lama sampai akhirnya aku membuka pintu itu sekali lagi. Dapat kulihat Ia sudah menatapku dengan tatapan penasaran.
"Sudah cukup sampai disini. Aku pikir kau lebih bahagia dengan kakak kelasmu itu"
"Kakak kelas? Kakak kelas siapa, Seijuurou!? Aku sama sekali tak mengerti maksudmu"
"Mayuzumi Chihiro, kau menyukainya, kan?"
Kulihat pupil di matanya membesar kemudian kembali ke ukuran semula. Gadis itu tampak benar-benar terkejut mendengar pertanyaanku, SKAK MAT!
"A-aku tidak menyukainya. Tidak, aku dan dia hanya seperti kakak-adik. Tidak lebih... dan kenapa kau tiba-tiba membawa namanya ke dalam hubungan kita, dia bahkan tidak tinggal disini, Seijuurou"
"Jangan bohong! Aku tahu kau menyimpan perasaan padanya, jadi berhentilah membohongi dirimu sendiri"
"..." selanjutnya tak ada sanggahan lagi yang bisa kudengar darinya.
Jadi, aku benar, kan? Selama ini, kau masih menyukai Chihiro dan mungkin kau takkan pernah melupakannya, karena dia adalah cinta pertamamu? Orang yang pertama kau sukai sebelum aku hadir di hadapanmu.
Melihat ia yang terdiam, itu sudah cukup jelas untukku. Aku benar dan urusan ini selesai. Aku pun lantas menutup pintu itu kembali dan mulai berjalan ke arah meja berwarna coklat tua di sudut ruangan dengan sebuah papan nama tertulis disana, 'Ketua OSIS Teiko Kouko – Akashi Seijuurou'.
##Flash Back end##
.
.
Beberapa hari kemudian
Aku masih duduk di bangkuku dengan kalemnya. Seorang wanita berambut blonde dengan potongan rambut bob dan mengenakan kacamata ber-frame merah muda itu sedang memberikan tugas pada kami, anak kelas 2-A.
"Ya hari ini kalian akan praktek membedah katak dan tugas ini akan dikerjakan secara berkelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Ya Shitzune dan Fukuoka, Fuji dan Takashi lalu Akashi dan [name]..." aku tak mendengarkan perkataan Alice sensei lagi.
Guru Biologi itu membuatku sekelompok dengannya? Ah apakah ini takdir? Setelah dua bulan lebih kami tidak berkomunikasi banyak. Segera sebuah senyuman penuh arti terlukis di wajahku.
Menarik.
.
"Ya, jadi tugas hari ini kalian harus bisa membedah katak dengan baik. Ingat, sebelum membedah tubuh katak yang sudah ada di depan kalian, bius katak itu! Kalian tidak boleh membunuhnya dan tunjukkan padaku organ-organ yang ada di dalamnya lalu aku akan memberikan nilai tambahan untuk kelompok yang bisa menemukan telur di kataknya. Baik, itu penjelasan untuk hari ini. Segera kerjakan tugas kalian!" terang Alice sensei panjang.
Aku melihat katak berukuran sedang berada di depanku. Katak itu masih melompat-lompat di tempatnya, tepatnya sebuah kotak yang terbuat dari plastik mika yang sudah dilubangi.
"Ehmm, kataknya masih lompat-lompat ya.." gadis itu terlihat cukup geli melihat objek kami hari ini.
Aku tersenyum kecil. "Cepat pakai sarung tanganmu, kau yang akan membiusnya" beritahuku.
"Eh? Kok aku? Ah jangan! Ayolah kau tahu kan aku paling benci katak, ayolah Sei-kun" ia merengek padaku.
"Cepat lakukan atau kau yang membedahnya? Pilih mana?" aku menatapnya tajam.
"Ah, baik-baik! Aku yang membiusnya, kau senang?" aku pun hanya bisa menahan tawaku mendengar ucapannya itu tapi aku berusaha untuk tetap kalem di depannya.
Kini kami telah memakai sarung tangan kami. Ia terlihat masih ragu saat memasukkan tangannya pada tempat penyimpanan katak itu. Melihatnya yang seperti itu aku jadi tidak tahan.
"Hey, pegangnya seperti ini" aku langsung menarik tangannya dan membantunya mengambil katak itu dan meletakkannya di nampan lilin, tempat untuk membedahnya nanti.
Ia melihatku dengan ekspresi heran.
"Apa? Cepat bius kataknya atau nanti dia lompat lagi dan aku tidak mau membantumu menangkapnya kalau katak itu lepas" aku memalingkan wajahku.
"Iya... iya.. Aduh kenapa semua pemuda itu menyebalkan sih, aah~" aku mendengar ia mengeluh. "Ah tidak apa-apa hehe tenanglah, aku akan membius katak ini, sungguh" ia tersenyum saat sadar aku melihatnya.
.
Aku berkonsentrasi penuh dalam membedah katak yang sudah terbaring di depanku. Aku membuka kulitnya dengan gunting bedah dan mulai mengamati organ-organ yang ada di dalamnya.
Sadar bahwa ia juga sedang ikut mengamati organ-organ milik objek bedah kami, aku pun sedikit bergeser ke samping, mempersilahkannya untuk ikut mengamati.
"Kau juga mau mengamati kan, tuh.." ujarku.
Ia lagi-lagi melihatku dengan tatapan heran kemudian seulas senyuman segera tampak dari wajah manisnya.
"Ah, sangkyuu nee~ Sei-kun!" ujarnya.
Aku pun berusaha bersikap biasa saja. Aku hanya bisa terus memandangi gadis itu. Tak disangka, jantung ini masih suka berdetak tak karuan kalau ia ada disampingku. Haah~ Aku memang masih menyukainya, ya?
"Bagaimana? Akashi? [name]? Kalian sudah berhasil membedah kataknya?" suara Alice sensei membuatku segera tersadar dari lamunanku.
"Kami sudah selesai membedahnya, sensei" laporku.
"Hmm ya bagus.. bagus... terus kalian sudah menemukan apa saja organ yang ada di katak tersebut?" tanya Alice sensei lagi.
"Kami menemukan jantung, hati, empedu, lambung, usus halus, usus dua belas jari, usus besar dan kloaka. Untuk pernafasan kami menemukan bukofaring, nostril, mulut, otot petrohioid, kartilagohioid, glottis, faring, esofagus dan paru-paru" jelasku sembari menunjukkan beberapa organ yang kusebutkan.
"Ya kau memang anak yang jenius, aku tidak kaget dengan hasil pengamatanmu, Akashi" Alice sensei memuji hasil kerjaku.
"Arigatou gozaimasu, sensei" aku pun membungkuk memberi hormat.
"Ah sepertinya aku melihat ada telur di dalam katak itu," gadis itu segera menambahkan membuatku melihatnya.
"Benarkah? Tolong tunjukkan padaku, [name]" pinta Alice sensei.
"Ini... ini telur kan, sensei?" gadis itu dengan dibantu penjepit menunjukkan benda berwarna oranye kekuningan yang bercampur dengan darah pada sensei.
"Benar, itu telur... kalau begitu kalian dapat nilai sempurna 100 dan akan kutulis A++ untuk laporan kalian" beritahu Alice sensei kemudian guru itu pergi meninggalkan kami.
"Yeaaay! Yuhuu~ A++ keren sekali hari ini!" gadis itu segera tesenyum dengan mata berbinarnya. Ia terlihat melompat-lompat di tempatnya saking senangnya. Melihat pemandangan itu, aku hanya bisa tersenyum simpul.
"Berhenti melompat-lompat, kau jadi seperti katak sungguhan" ujarku tapi ia malah mengejutkanku dengan,
GLEPP! Ia memelukku selama beberapa detik. Namun, tak lama ia melepaskan pelukannya dariku.
"Ah maaf, aku tidak bermaksud. Ta-tadi aku hanya terlalu senang," ia terlihat menundukkan wajahnya padaku.
Aku pun lantas hanya bisa melihatnya lekat kemudian berkata, "Sudahlah, tidak apa-apa" ujarku sedikit melunak dan entah sudah keberapa kalinya, gadis itu lagi-lagi menunjukkan ekspresi kagetnya padaku.
Membuatku sedikit merasa canggung di depannya.
.
.
Sore ini langit yang tadinya terlihat cerah kini telah berganti dengan langit gelap dan udara seketika berubah menjadi lebih dingin. Sepertinya akan turun hujan. Para murid SMA Teikou langsung berhamburan keluar tepat setelah bel pertanda pelajaran usai untuk hari ini terdengar. Mungkin mereka takut kehujanan.
Aku masih merapikan bangkuku dan merapikan semua barang-barangku serta memasukkannya ke dalam tas berwarna merah dengan paduan liris-liris hitam sebagai ornamennya.
Saat aku menoleh ke belakang, tepatnya ke kursi no tiga dari depan persis di samping jendela, tempat gadis itu duduk. Oh dia sudah pulang ya, sayang sekali... ujarku dalam hati.
Aku pun segera memakai tasku dan berjalan keluar kelas. Saat aku menuruni tangga dapat kudengar suara seseorang yang tak asing bagiku sedang mengeluh.
"Astaga~! Kenapa langitnya begitu gelap? Sungguh menyeramkan sekali, mana ini sekolah udah lumayan sepi lagi... aah kenapa juga sih Shin-chan pake acara enggak masuk sekolah hari ini? Aku kan jadi pulang sendirian huhuu~" saat aku turun tangga, gadis itu sedang berjalan sembari menoleh ke samping kanan-kirinya sesekali. Terlihat ia begitu kesepian karena memang biasanya yang menemaninya adalah Shintarou.
Ia terus berjalan di depanku dan aku terus berjalan membututinya. Tampaknya ia tak sadar kalau aku sedang ada di belakangnya. Gadis ini benar-benar tidak peka memang.
"[name]!" akhirnya aku memanggilnya.
Ia menoleh kemudian memasang ekspresi terkejut sekali lagi, "Oh Seijuurou? Kau belum pulang ternyata.." ujarnya.
"Belum, aku keluar terakhir tadi.." balasku.
Ia pun hanya mengangguk. Melihatnya seperti itu, aku jadi terpikirkan akan satu hal.
"Aku ingin bicara sesuatu" kataku.
"Oh bicara apa? Apa harus sekarang? Sepertinya akan turun hujan sebentar lagi, kalau tidak keberatan aku ingin cepat pulang Sei-kun" ujarnya membantah seperti biasanya.
"Sangat penting dan kau harus mendengarnya sekarang.." sergahku cepat kemudian ia pun hanya melihatku, "Watashi wa mada anata o aishite, mada... karena itu, ayo kita kembali" akhirnya aku mengutarakan apa yang akhir-akhir ini sudah kupikirkan.
Ekspresinya benar-benar memperlihatkan bahwa ia sangat syok. Ia bahkan kini telah menutup mulutnya dengan punggung tangannya kemudian kedua matanya hanya menyorot padaku seorang.
Hening.
Bahkan hanya suara petir menggelegar yang terdengar. Angin berhembus sangat dingin kemudian hujan mulai turun. Awalnya hanya rintik-rintik hujan tapi semakin lama semakin deras hingga suara hujan terdengar cukup bising di telingaku. Aroma khas tanah yang basah karena hujan pun turut hadir diantara kami.
"Kau tidak berbohong kan, Akashi? Kau tidak sedang mempermainkanku, kan?" ia bertanya dengan ekspresi yang benar-benar menandakan bahwa ia ingin tahu yang sebenarnya. Dapat kulihat kalau ia masih merasa ragu terhadapku.
Aku pun lantas berjalan semakin mendekatinya lalu memegang kedua pundaknya, aku berkata, "Aku serius. Aku masih mencintaimu dan bahkan ketika aku melihatmu sudah bisa tertawa lepas, aku masih suka memperhatikanmu... tentu aku tak mau kau tahu, tapi ini kenyataannya. Aku tidak pernah bisa move on karena aku terlalu menyukaimu, because you're my first love, [name]" aku memasang senyum manisku dihadapannya.
Ia terlihat berkaca-kaca setelah mendengar perkataanku, kemudian ia menundukkan wajahnya tapi aku segera mengangkat dagunya. Kulihat ia sudah menangis tapi aku langsung menyeka air matanya kemudian memeluknya hangat.
Cukup lama, rupanya ia masih menangis dalam pelukanku. Aku pun tersenyum kemudian mulai membelai rambutnya pelan. Kini daguku telah menempel pada kepalanya.
"Maafkan aku, aku tahu aku terlalu posesif tapi percayalah mulai sekarang aku tidak akan seposesif kemarin. Aku akan mencoba menjadi lebih baik karena aku percaya kau hanya akan menyukaiku, bukan? Dan Chihiro... aku sudah menganggapnya sebagai masa lalumu dan selamanya akan begitu karena sekarang akulah masa sekarang dan juga masa depanmu" kemudian aku melepas pelukanku dan kemudian mencium keningnya.
"Seijuurou jahat! Kau benar-benar jahat memutuskan semuanya secara sepihak, kau benar-benar tega membuatku menderita, Seijuurou kejam" ia memukul dadaku sesekali tapi aku langsung mendekapnya dengan tangan kananku.
"Aku tahu aku jahat maka dari itu bantu aku menjadi baik, kau mau membantuku kan, [your full name]?" kali ini aku tersenyum sampai memejamkan kedua mataku lalu aku bisa merasakan ia menciumku cepat, tepat di bibir ini.
"Aku mau tapi awas kalau Seijuurou berlaku jahat sekali lagi padaku, aku akan benar-benar meninggalkanmu, aku bersungguh-sungguh" gadis itu mencoba memperingatkanku tapi aku hanya bisa balas tersenyum.
"Kalau begitu kau harus bekerja keras untuk merubahku" aku pun lantas mengacak-acak rambutnya.
"Ah, berhenti mengacak-acak rambutku, Seijuurou nakal~" ia memalingkan wajahnya padaku lalu terlihat ia mengerucutkan bibirnya dan tak lupa kedua tangannya telah terlipat di depan dadanya.
Melihat pemandangan menggemaskan seperti itu, aku pun lantas mencium pipi kanannya dan sukses melihat raut ekspresinya kaget tapi kemudian sebuah senyuman mulai mengembang di wajahnya juga wajahnya yang terlihat merah itu... aku menyukainya.
– Akashi Seijuurou POV end –
.
.
– Author POV –
*Special Epilog*
Malam itu, di sebuah restoran cepat saji bernama Maji Burger, seorang gadis sedang berdiri guna mendapatkan minuman pesanannya. Tak membutuhkan waktu yang lama, seorang gadis berumur 20-an memberikan pesanannya.
"Ini strawberry milkshake-nya, terima kasih telah berkunjung. Semoga selamat sampai tujuan" ucap pegawai itu ramah.
Gadis dengan tinggi badan 170 cm itu hanya balas tersenyum kecil dan membungkukkan dirinya pelan kemudian segera membawa minumannya sembari sesekali meminumnya.
Namun, saat ia ingin keluar dari restoran, suara seseorang membuat gadis itu menoleh, "[name]!" serunya.
"Oh!? Chi-san?" ucapnya heran melihat siapa yang ada di depannya sekarang.
Seorang pemuda dengan tinggi badan 182 cm berambut kelabu tersenyum manis kepadanya. Tangannya mengisyaratkan untuk membuat gadis itu menghampirinya.
Akhirnya, gadis itu pun mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia langsung duduk di depan pemuda itu. Pemuda yang mengenakan kaos abu-abu dan jaket shirtless berwarna putih. Sebuah novel tergeletak di atas meja bersama segelas espresso dan burger beserta kentang goreng.
"Kenapa Chi-san ada disini? Bukannya Chi-san harusnya ada di Kyoto? Ya ampun sudah lama sekali kita ga ketemu... Chi-san tambah ganteng deh," gadis itu tersenyum cerah dengan mata berbinarnya.
"Hehe aku sedang ada perlu disini makanya aku datang kemari dan aku kebetulan lapar jadi ya makan disini, kau masih tinggal di rumahmu yang itu?" tanya pemuda itu sembari membenarkan kacamatanya.
"Ngg ya, aku masih tinggal disana. Tapi, hey! Sejak kapan Mayuzumi senpai memakai kacamata, kau jadi terlihat seperti mahasiswa hahaha"
"Apakah ini terlihat bagus padaku? Hehe aku minus jadi pakai kacamata kalau sedang membaca, ya sudah aku lepas deh" ujar pemuda itu sembari melepaskan kacamata dengan frame dark grey itu.
"Ah aku juga mau coba ah.." gadis itu yang memang punya rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu segera mengambil kacamata yang Chihiro letakkan kemudian mencoba mengenakannya.
"Nih aku bantu," pemuda yang biasanya terlihat tidak peduli akan dunia sekitarnya seakan berubah 180 derajat di depan gadis itu. Ia pun membantu gadis itu memasangkan kacamatanya. "Cantik... tapi lebih cantik kalau tidak usah pakai kacamata" ujar Chihiro dengan dagunya yang menempel pada tangannya. Terlihat pemuda jangkung itu tersenyum kecil.
Sejenak, gadis itu terlihat tersipu malu lalu ia membalas, "Eeh~ Mayu-chan senpai masih suka saja menggombaliku, awas nanti pacar senpai ngambek lho!"
"Hehe aku tidak punya pacar juga jadi aku bebas dong merayu siapa saja" jawabnya enteng. "Oh iya bagaimana dengan Midorima? Dia masih jadi sahabatmu? Lalu kau sudah punya pacar belum? Ayo beritahu senpai-mu ini" Chihiro terlihat benar-benar akrab dengan gadis itu.
Gadis itu melepaskan kacamata yang sempat ia kenakan lalu ia juga meniup poninya sesekali. "Masih... Shin-chan masih jadi sahabatku kok dan itu... ngg, ya aku sudah punya pacar, Chi-san senpai!" gadis itu terkekeh.
"Oh benarkah? Woo kare dare?"
"Namanya Akashi Seijuurou, dia pemain basket dan juga ketua OSIS di Teiko Kouko... tapi dia sama seperti Chi-san, menyebalkan dan suka marah. Dia itu suka menyuruhku ini, itu... haah tapi aku menyukainya kok"
"Hemm? Sou ka? Sepertinya kau sangat menyukainya, ya?"
"Tentu saja, aku sangaaaaat menyukainya. Oh chotto!" gadis itu merogoh saku celananya lalu menunjukkan sebuah foto di depan Chihiro, "Itu orangnya, bagaimana? Dia tampan, kan?"
"Ya lumayan tapi dia terlihat tidak menyenangkan ya? Wajahnya tidak terlihat ramah," komentar Chihiro terdengar negatif seperti biasanya.
"Eey~ Senpai juga seperti itu. Senpai itu sangat cuek dan individualis juga realistis, lihat saja tatapan mata senpai yang seakan kosong itu ckckck kau lebih menakutkan, Mayu-chan senpai"
"Dasar, tidak berubah! Berhenti memanggilku Mayu-chan, baka [name]... kuso!"
"Ish, tuh senpai kumat lagi marahnya" gadis itu tampak memalingkan wajahnya lalu mengembungkan kedua pipinya dan tangannya sudah terlipat di depannya.
"Berhenti, bersikap moe seperti itu... kau ini benar-benar menggemaskan ya?" dan Chihiro segera berdiri dari tempatnya, mengacak-acak rambut gadis itu, mencubit kedua pipinya dan sempat ia mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Sangat dekat sampai gadis itu hanya bisa melihat Chihiro seorang. "Kau jaga diri baik-baik ya, selalu bersikap ceria seperti ini dan jangan pernah merasa sedih, aku tidak mau melihatmu menangis lagi seperti dulu" setelah mengatakan itu, Chihiro tersenyum dengan begitu manisnya lalu kembali duduk. Gadis itu pun hanya diam mematung, terpana dengan apa yang baru saja dilihatnya.
.
Sementara itu, di depan pintu masuk seorang pemuda dengan rambut baby blue telah membuka pintu itu tapi kemudian ia menoleh guna melihat sosok yang tak asing untuknya.
"Akashi-kun, kau tidak mau masuk? Katanya tadi kau lapar?" pemuda itu bertanya dengan nada datarnya.
"Aku tidak jadi makan disini, kalau kau mau beli vanilla milkshake belilah... aku mau pulang, Tetsuya" Akashi seakan berbeda, ia memasang wajah masam dan matanya seakan tertuju pada sesuatu.
"Kau kenapa Akashi-kun? Apa terjadi sesuatu?" Kuroko yang penasaran mencoba mencari tahu apa yang sedang dilihat oleh Akashi.
"Tidak ada, Tidak ada apa-apa, Tetsuya. Baiklah, aku pergi. Selamat tinggal" pemuda bersurai scarlet itu pun segera berjalan menjauhi Kuroko dan masuk ke dalam mobil.
Melalui kaca, sang supir melihat anak bossnya bingung. "Tuan muda, tidak jadi makan?" tanya sang supir dengan rasa sedikit takut.
Akashi tertunduk tak langsung menjawab. Sejenak ia melihat kembali seorang pemuda berambut kelabu dan gadis yang benar-benar familiar untuknya, yang tak lain adalah kekasihnya, mereka terlihat begitu akrab dengan tawa yang menghiasi wajah keduanya serta beberapa momen yang sempat membuat Akashi panas lagi geram.
"Kita pulang sekarang, aku sudah tidak lapar lagi" ujar pemuda dengan mata heterokromatik itu dingin.
"Tapi tuan muda belum makan dari tadi sore?"
"Berhenti membantahku dan cepat antarkan aku pulang atau..." sang pemuda dengan rambut khas merahnya itu langsung menunjukkan gunting merahnya pada sang supir.
Melihat kilatan yang berasal dari benda tajam yang ditunjukkan oleh anak bossnya, sang supir pun menjawab, "B-baik tuan muda, saya mengerti". Pria paruh baya yang masih sayang nyawanya itu pun langsung menginjak pedal gas dan menuju sebuah rumah mewah nan megah milik Keluarga Akashi tempat bossnya tinggal.
*Special Epilog end*
.
.
– Spoiler –
"Kau kenapa? Dari tadi cemberut terus.." seorang pemuda dengan rambut sehitam malam bertanya pada gadis yang sedang duduk tak jauh darinya.
"Aku tidak habis pikir dengan teman nii-san yang mirip mutan itu, heeh~ Dia benar-benar menyebalkan! Tidak bisakah dia tidak makan maibou dan pocky serta keripik kentangnya sehari saja, dia benar-benar akan mati karena itu semua."
Sang pemuda dengan tahi lalat yang ada di bawah mata kanannya dan mata kirinya yang tertutup oleh rambutnya itu hanya bisa tersenyum penuh arti.
"Sudahlah [name], aku tahu kau tertarik padanya, kan? Sudah mengaku saja, jangan bersikap sekeras itu... sekarang dia sedang pergi ke Tokyo lho!" pemuda berwajah manis lagi ramah itu malah menyulut amarah gadis yang merupakan adik kandungnya itu.
"A-aku tidak tertarik padanya. Apanya yang menarik dari titan yang suka makan itu, heeh~ kau benar-benar menyebalkan, Tatsuya nii-san! Berhenti menggodaku, oke!?"
– Spoiler end –
– Author POV end –
##T.B.C##
A/N: hullo~ ini chapter 2 nya, otte otte? Bagus kah? asli ane ga pede update chapter ini ._. mana ganti genre jadi komedi gajelas gitu '-' hiks hiks maafkan aku nee~~ *nangis bombay sama kise*
baik silahkan kritik, saran, dukungan #tsaah *saya masih ngarep ._. haha* apa aja deh yang bikin ane bisa semangat lanjut chap selanjutnya fufu~ buat fans nya Akashi, kontak lensanya mana? -_- oke, maksud akikah moga ente-ente pada hepi sama ini chapter.. sorry bingit kalo ngecewain haghag :(
oh iya ane kasih bonus epilog khusus ama spoiler, gmana gmana? bagus gak? udah, asli deh ini ngetiknya ane ragu beneer T.T
ok buat yg ga sign in, ini balesannya.. yg udh repiu, ane udah bales ya gan ;D
Hoshi Shinju: zumpah deh ana zuzur, aku ketawa baca repiu hoshi lol xDD haha Akashi emang gitu kok, nyebelin-nyebelin gmana gitu '-' tapi ya mau gimana lagi kalo udah cinta eaaak cinta blind ini namanya xP
Aoki: karena mereka ga jodoh #eh *seketika mido+[name] nyanyi jodohku maunya ku dirimu heaaak sudahlah ini kok jadi OOC maks ;-; btw ini chap lanjutannya ;)
yosh, sangkyuu buat yg udah mau baca, fave, follow apalagi repiu... ya salam, ane sayang kaliandt pull~ ntar yg chap 3 ane update habis yg unbeatable chap 8 di update ya.. btw yg chap ini depan2nya komedi gegara ane baca komenan kalian membuat saya ketawa jadinya kebawa kesini *ya salam maap ._.v* oke deh hentikan cuap2 gajelas ini... buat para kolega, aoethor tjintah kaliandt, nanoedajo! Last,
R
E
V
I
E
W
info:: untuk chap terakhir (chap 7) akan diadakan press conference dengan para GoM member, jadi nanti ada wawancara gitu... yang punya pertanyaan buat member Kisedai, bisa kirim via repiu ya... ntar mereka yg langsung jawab, ok ;)
ini interview ekslusif jadi author tunggu pertanyaan dari para fans Kisedai tertjintah, nanodayo #tebarjerseykisedai
