DIFFICULT OF STRING
1
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, Yaoi
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
.
.
.
…. …..New House For Life To Come
….
LaFerrari yang di tumpangi Luhan memasuki sebuah pekarangan rumah. Tidak, itu lebih pantas di bilang istana dari pada rumah. Megah, elit, indah dan betapa mewahnya rumah itu tak bisa di deskripsikan dengan kata-kata. Mobil itu berhenti tepat di depan teras rumah. tak lama, 2 orang pria berjas hitam menghampiri mobil guna membukakan pintu lalu membungkuk hormat.
Luhan keluar bersama pemuda yang datang bersamannya. Luhan berjalan di belakang si pemuda memasuki rumah mewah itu dan setiap pekerja yang mereka lewati senantiasa membungkuk hormat.
"ah, kalian sudah pulang ?"
Seruan itu mengintrupsi Luhan. Ia berhenti dan mengarahkan pandangannyanya pada sumber suara. seorang wanita paruh baya masih terlihat cantik tersenyum menghampirinya dan Sedikit melirik pemuda yang sudah menaiki tangga menuju lantai atas
"Sehun.."
Merasa namnya di sebut. Si pemuda—Sehun menghentikan langkahnya di tengah anak tangga menoleh kebelakang guna melihat wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibunya—Key.
"kemarilah, eomma ingin bicara dengan kalian berdua."
Key memberi isyarat pada Sehun dan Luhan untuk mengikutinya ke halaman belakang. Menyuruh mereka duduk di salah satu bangku yang mengelilingi meja bundar dengan atap berbentuk jamur terbuat dari kaca dengan corak pelangi. Keduanya hanya duduk diam. Ini pasti sesuatu yang penting sampai-sampai Key membawa mereka ke tempat terbuka, bertujuan agar lebih rileks
Dan sesuatu yang di letakkan Key di atas meja membuat mereka berdua mengerutkan alis. Bukan, tepatnya itu Luhan karna Sehun selalu tanpa ekspresi. Kadang orang berpikir, apa Sehun tidak tau cara mengekspresikan perasaannya ?
"ehem…, kalian pasti bertanya kenapa aku memberi kalian sebuah kunci. Buka ?" Ucap Key mengerti perubahan raut wajah Luhan.
"besok, eomma akan kembali ke Jerman. Appa membutuhkan eomma di sana. Dan Luhan, minggu depan eommamu akan datang ke sini."
"Jeongmall ?" sadar atau tidak, Luhan memekik girang mendengar kabar itu. Dan ia harap, kali ini ibunya tak memberi harapan palsu. Key mengangguk tersenyum. Sementara Sehun tetap dengan ekspresi datarnya. itu bukan jawaban 'kenapa kau memberi kami kunci'…
Key menatap Sehun sekilas yang terlihat sangat bosan. Ia kembali berdehem
"baiklah, kembali ke tujuan awal. Eomma memberi kalian kunci bukan tanpa alasan. Eomma dan appa belum memberi kalian hadiah karna terlalu sibuk dengan perusahaan. Jadi, silahkan datangi alamat ini dan cocokkan kuncinya. Semua fasilitas dan berbagai keperluan sudah eomma sediakan di sana. Kecuali, tenaga kerja. Eomma harap kalian menyukainya. Selamat bersenang-senang…"
Tanpa berkata apa-apa lagi. ket beranjak pergi meninggalkan kedua pemuda itu.
Sejujurnya Luhan tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Key. memberi kunci dan sebuah kertas bertuliskan sebuah alamat ? untuk apa ?. seperginya Key, tak lama pula di susul oleh Sehun. sementara Luhan ? ia masih bingung dengan kedua benda yang ada di tangannya
Baiklah… hanya datang ke alamat ini, bukan ?.
Tak mau terlalu memikirkannya. Ia mengedikkan bahu tak perduli dan beranjak dari duduknya.,
..
.
Luhan meletakkan tasnya di meja belajar. Berjalan beberapa langkah ke tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya di sana. ia dapat mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi di kamar itu. tanpa berpikir panjangpun ia tau siapa yang tengah mandi saat ini. tak mau membuang waktu, ia bangkit berjalan ke arah lemari. Bukan, itu lebih pantas di sebut ruang took pakaian. Bagaimana mungkin lemari bisa seluas itu. Bahkan, semua berjejer dan tertata rapi di sana, seperti sebuah toko pakaian lengkap dengan assesorisnya
Luhan membuka kamejanya, hanya menggunakan celana panjang ia berjalan memilih baju yang akan ia kenakan
Cklek…
Mendengar suara pintu terbuka, Luhan langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Namun, belum melihat siapa di sana. Pintu itu sudah tertutup kembali. Luhanpun mengedikkan bahu tak perduli.
Tak selang beberapa lama, Luhan keluar dengan pakaian yang baru saja ia ganti. Ia melihat Sehun dengn bathrob yang melekat di kulit putuhnya berdiri di depan jendela kaca melihat ke luar sana. Luhan tak perduli dan berjalan ke arah meja belajar
Blam….
Kadang Luhan berpikir bahwa ia harus membiasakan diri dengan Sehun yang selalu melakukan sesuatu secara tiba-tiba demi kesehatan jantungnya. Seperti mengunci pintu tanpa mendengar langkah kaki Sehun lebih dulu kea rah pintu
Luhan duduk di depan meja belajarnya memandangi kertas yang di berikan Key
"gangnam ?."
Kenapa letak alamatnya di gangnam ?. memangnya rumah siapa yang ada di gangnam ?.luhan berkutat dengan pikirannya tak menyadari Sehun yang mondar-mandir di depannya. Sehun membuka knop pintu berniat keluar dari kamar itu. namun, ia menggantungkan niatnya dan melihat Luhan yang masih tak menyadari keberadaannya. Sehunpun tak perduli dan kembali melanjutkan niatnya. Dentuman pintu yang di buat oleh Sehun menyadarkan Luhan
Luhan menatap ruang ganti dan ia yakin Sehun sudah tak berada di sana. Tak lama kemudian ia mendengar suara ketukan pintu
Tok… tok…. Tok…
Luhan bangkit guna membuka dan melihat siapa yang ada di balik pintu. seorang pelayan berdiri di sana langsung membungkuk hormat sebelum mengutarakan niatnya berada di depan pintu
"Tuan muda sudah menunggu anda di bawah, noona."
"noona ?."
. Luhan memandang kesal si pelayan sebelum berjalan menuruni tangga. Sepertinya ia juga harus membiasakan diri dengan panggilan konyol semua pekerja di rumah ini untuknya. Itu perintah dari Key. Luhan benar-benar tidak terima. Hei, bagaimanapun ia seorang pria…, tapi, ia tak bisa menolak jika Key mengatakan seperti itu
Sesampainya di teras, ia langsung di sambut dengan sebuah mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh seorang pelayan. Luhanpun masuk dan pintu di tutup. Seperti sebelumnya, Sehun berada di jok pengemudi. mereka akan ke daerah gangnam seperti yang tertulis di kertas itu. sehunkan sangat patuh dengan ibunya. Jadi, ia akan tetap melakukan kata ibunya meski ia terlihat malas dan tak ingin melakukannya
Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang terus menemani mereka hingga tiba di tempat tujuan. Sehun dan Luhan keluar dari mobil menginjakkan kaki di depan pagar sebuah rumah yang terlihat sangat besar, namun tak lebih besar dari rumah Sehun. dua pemuda itu menengadah melihat rumah dengan kesan elegan berlantai 2 itu.
"hei, Kau harus menekan bel dulu. Pemilik rumah bisa marah kau masuk halaman rumah mereka seenaknya." Ucap Luhan saat Sehun berjalan lebih dulu memasuki halaman rumah. Namun Sehun tak memperdulikan ucapannya dan terus berjalan hingga kini ia berhenti di depan pintu rumah bergaya minimalis itu
Luhan hanya memperhatikan dari depan pagar. Ia takut memasuki halaman rumah yang entah milik siapa itu. mulut dan mata Luhan terbuka lebar saat Sehun memasuki rumah itu seenaknya setelah memasukkan kuci di ganggang pintu. luhan tak habis pikir dengan tingkah Sehun yang selalu melakukan semuanya sesuka hati
Hei, ayolah…. Memangnya Siapa yang berani dengan Sehun kalau ia berlaku seenaknya. Tidak adakan ?. jadi untuk apa Luhan khawatir ?.
Khawatir ?
Tunggu, kenapa ia harus khawatir dengan Sehun ?
Luhan menggelengkan kepalanya dan mengedikan bahu tidak perduli. Luhan menengadah, cuaca benar-benar panas.
tak mau berpanas-panasan di depan pagar, Luhan memilih masuk ke dalam mobil yang kebetulan tidak di kunci. Ia ingin menyalakan AC, tapi tidak tau caranya. Melihat cara Sehun memprogram mobilnya saja ia sudah bingung, tidak ada tombol. Hanya ada sebuah layar lcd yang Luhan tau Sehun hanya perlu memainkan jarinya di sana dan mobil ini akan melakukan apa yang di kehendaki untuk sebuah mobil. Bukannya ia bodoh. Tapi, Hei… ayolah, ia tak pernah melihat program seperti ini. lagipula, perusahaan ayahnya hanya berkutat dengan mesin. Bukan fasilitas teknologinya seperti ini
Luhan mulai gerah. Keringat sudah bercucuran di setiap pori-pori kulitnya. Ia membuka pintu mobil, membiarkan angin yang panas karena sinar matahari sedikit masuk. Namun bukannya merasa sejuk, hal itu justru membuatnya semakin gerah. Ia mengibaskan bajunya berharap sedikit mengurangi gerah
Ckelek…
Blam…
Seperti yang Luhan bilang. Ia harus membiasakan sikap Sehun yang selalu melakukan sesuatu secara tiba-tiba. entah ia yang terlalu memikirkan dirinya yang kegerahan sampai tak menyadari Sehun sudah memasuki mobil dan duduk di jok pengemudi. atau Sehun yang memang entah bagaimana sudah berada di situ
"eh."
Blam…
Luhan sedikit terkejut karna Sehun mendekati dirinya dan menumpukan tangan kanannya di sisi kiri kepala tempat duduk Luhan. ternyata Sehun hanya mengunci pintu mobil yang sebelumnya di buka oleh Luhan karna kegerahan dengan tangan kirinya. Namun, itu cukup berefek untuk Luhan. ia langsung memalingkan wajahnya ke sisi kanan saat Sehun kembali duduk dengan tegak di jok pengemudi. Luhan merasa hawa dingin dan sejuk menerpa kulitnya, ia sedikit melirik ke jok pengemudi. Sehun sudah menyalakan AC-nya
Luhan menghembuskan nafas dan sedikit menyugingkan senyum masih melihat ke luar kaca sebelah kanan. mesin mobil di nyalakan. Tapi yang membuat Luhan terheran-heran, kenapa mobilnya tidak mengarah pulang ?
"eh ?."
Luhan makin bingung saat mobil itu berjalan memasuki gerbang samping yang baru saja di masuki Sehun tadi. Dan Luhan baru menyadari rumah itu sangat luas saat Sehun mengendarai mobilnya mengitari halaman rumah memasuki garasi
Sehun keluar dari mobilnya. Luhan masih terlihat enggan, ia tidak tau ini rumah siapa. Bagaimana mungkin ia bertingkah seenaknya. Sehun yang melihat Luhan masih di dalam mobil menghampirinya dan membuka pintu mobil agar Luhan keluar dari sana
Jujur saja Luhan sangat terkejut . kenapa Sehun membukakan pintu mobil untuknya ?. ia pikir Sehun benar-benar baik dan menjijikan karna ia terlihat seperti seorang yeoja di depan Sehun. namun, pendapat bahwa Sehun itu baik langsung lenyap saat pemuda yang lebih muda darinya itu menarik paksa dirinya keluar mobil dan menutup pintu mobil cukup kasar. Sehun langsung berjalan meninggalkan Luhan yang masih mematung tak mengerti. setelahnya ia juga mengikuti Sehun memasuki rumah itu
Suasana yang sangat sepi langsung menyambutnya. Dapat di lihatnya Sehun yang benar-benar seenaknya duduk di sofa depan TV dan menonton dengan kaki yang di angkat ke atas meja. Luhan masih melihat-lihat isi rumah itu. tiba-tiba pandangannya terhenti pada sebuah kertas yang ada di atas meja ruang utama
Ia pikir itu hanya kertas biasa. Namun saat ingin mencaari si pemilik rumah, Luhan baru menyadari ada banyak kertas di setiap barang yang ada di rumah itu. bukan kertas, tapi.. lebih ke sebuah memo
Luhan berpikir untuk membaca salah satu memo yang terpajang di sana, bukan berniat tidak sopan. Tapi, kenapa ada begitu banyak memo ?. itu mengundang ke ingin tauan Luhan
Iapun mengambil sebuah memo yang ada di anak tangga dan membacanya
'kamar kalian ada di atas. maaf eomma hanya menyediakan 1 kamar tidur dan 1 ranjang seperti di rumah. Eomma harap kalian akan menyukai kamar baru kalian.'
Luhan bingung
Kamar baru ?
Apa maksudnya ?
Tanpa pikir panjang Luhan mengambil dan membaca setiap isi memo yang di dapatnya
'ini Cuma salah satu fasilitas sederhana dari kami. Kalian bisa menonton di sini, tapi tetap ingat waktu saat menonton. Ingat, kalian masih bersekolah.'
Dan isi memo yang Luhan dapat dari sofa tempat Sehun duduk adalah yang kesekian kalinya. Dapat Luhan simpulkan, maksud dari perkataan Key beberapa jam yang lalu…, \\
Belum memberi hadiah ?
Apa maksudnya, Key eomma memberi kami rumah ini ?.
Luhan berjalan menuju ruang utama membaca sebuah memo yang ada di ats meja itu
'CHAAA… CHUKAE…, bagaimana ? kalian suka rumahnya ?. Luhan, kau tau ? ini juga pilihan eommamu... ,Kami sudah merencanakan ini jauh-jauh hari sebelumnya, memberikan kalian sebuah rumah di daerah gangnam. Tapi, karna appa dan eomma yang sangat sibuk, jadi kami tidak punya waktu untuk memberitau kalian soal hadiah ini. eomma berpikir dating ke seoul akan gunakan untuk member kalian hadiah yang sudah lama tertunda. Semuanya sudah kami lengkapi. Kecuali tenaga kerja. Eomma dan eomma Luhan sepakat kalian hanya hidup berdua di sini agar kalian lebih mandiri. Eomma juga akan selalu mengirimkan uang bulanan untuk kalian. Nah… selamat bersenang-senang dengan rumah baru kalian…'
HAH…?
Rumah baru ?. tidak ada pekerja ?.
luhan menatap Sehun yang membelakanginya menontong TV
Aku akan tinggal berdua dengannya ?. ANDWEEEEE….., pasti akan sangat sepi. Ini namanya sama saja aku tinggal sendirian. Dan, oh… kau tinggal berdua dengan seorang pria…?
Eh,? Tunggu. Kalau kami hanya berdua… bukankah itu artinya kebebasan untukku ? ah… aku bisa berkumpul lagi dengan Lay dan Baekhyun seperti biasa.. ahahaha…. Benar juga. Wah.. aku harus berterimakasih pada eomma. Tidak ada pelayan yang mengatur, tidak ada yang melaporkan segala sesuatu pada eomma, tidak ada yang mengharuskan kami pulang bersama dan aku meninggalkan kedua sahabatku ?. HOREEE… aku terbebas. Astaga… ini benar-benar berkah kkkk~
,
,
Luhan merasa haus dan iapun berjalan menuju dapur. Saat ingin membuka kulkas, ada sebuah memo lagi yang menempel di pintu kulkas. Cepat Luhan membacanya
'ah, ya… jangan lupa berbelanja kebutuhan kalian setiap hari. Eomma sudah mentransfer uang ke rekening kalian. Jadi, silahkan berbelanja karna tak ada apapun di kulkas. Ah, Luhan… jangan lupa kau harus memasak setiap hari kalau kalian ingin makan. Eomma akan selalu mengecek pengeluaran kalian setiap bulan. Eomma harap mulai sekarang kau mulai belajar. Kau harus memasak, jangan sering makan di luar, itu tidak baik. Luhan, kau harus melayani Sehun dengan baik. Arra ?'
Kau harus melayani Sehun dengan baik ?. apa ini ?.
memasak ? hehhh…. Akukan seorang pria, mana bisa memasak ?. eumm…. Kalau mengingat soal memasak. Kenapa aku jadi merindukan Hara ?
tnapa pikir panjang Luhan langsung mengeluarkan smartphonenya. mengetik beberapa angka, Meletakkan benda persegi empat itu di telinga kanannya. Menunggu bunyi TUT berubah menjadi suara seorang yeoja yang sangat ia rindukan
"yeoboseo ?. oppa.."
"Chagi-ya… bogoshipoooo…"
"nado, oppa. kau sedang apa oppa ?"
"meneleponmu ?"
"aisshh…"
"ahahaha…. Ne.. ne… aku sedang merindukanmu. Kapan kau pulang ?"
"nado oppa. Mian oppa, sepertinya masih lama… kau harus bersabar nae namja.."
"ne… aku akan menunggumu. Ah, hei… kau tidak macam-macamkan di sana ?"
"ani, oppa. Aku mana berani hehehe…, lagi pula, tidak ada yang semenarik oppa di sini kekeke~. Justru yang aku khawatirkan oppa yang di sana. Apa oppa berselingkuh ? atau, oppa sudah menikah dengan seseorang..?"
DHEG…
"o..aah-a-ani…. ani, hahaha… tidak mungkin aku menduakanmu. Kau segalanya chagi… makannya cepat pulang agar aku tak kesepian dan mencari selingkuhan lalu menikah."
"ya! Oppa. Aku akan segera pulang beberapa bulan lagi, kau harus menungguku oppa.."
"ne… aku akan selalu menunggumu, kau harus cepat pulang aku—"
Perkataan Luhan terputus saat ia melihat Sehun yang Entah sejak kapan Sehun berada di sana. Sehun berjalan ke arahnya. Luhan tidak tau kenapa ia bisa setegang ini. apa Sehun mendengar percakapannya dengan Hara di telepon ?. sehun semakin dekat dan dekat, Luhan semakin takut sampai-sampai tangannya lemas dan ponsel yang di genggamnya jatuh membentur lantai. Mata Luhan masih fokus pada Sehun
Bagus, Luhan jadi gemetar saat Sehun tepat berada di hadapannya. Ia menelan kasar liurnya. Ia sudah siap dengan kemungkinan apa yang akan terjadi, dan dia akan jujur. Lalu meminta Sehun agar tak memberitau orang tuanya. tapi hei…? Apa yang terjadi ? Sehun hanya membuka kulkas dan menutupnya kembali saat melihat tak ada apapun di dalam sana.
Hah.. ? apa-apaan ini ? Luhan sudah setengah hidup ketakutan dan Sehun hanya melihat isi kulkas lalu pergi begitu saja ?. astaga…
Setelah kepergian Sehun. cepat-cepat Luhan mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai. sambungannya belum terputus
"oppa ?.. oppa ? kau kenapa ?" terdengar kekhawatiran di seberang sana
"a-ah… Hara. Tidak ada apa-apa chagi…. Aku sangat merindukanmu, aku harap kau bisa cepat pulang ne…, aku tutup dulu, nanti aku akan menghubungimu lagi nae chagi.. saranghae~"
Tut… tut… tut…
Tanpa menunggu respon dari Hara. Luhan mematikan sambungan teleponnya sepihak. Ia tidak mau Sehun tau hubungannya dengan Hara. Entah apa yang akan terjadi dengannya
…..``````
Sehun dan Luhan baru saja menikah 3 minggu yang lalu. Memang ini kedengarannya gila karna mereka berdua sama-sama seorang pria. Tapi, ini bukan keinginan mereka, melainkan keinginan keluarga. mereka di jodohkan atas dasar bisnis keluarga. Sebelumnya Luhan bersikeras menolak perjodohan ini karna ini sangat gila. Bagaimana bisa ia yang pria normal di nikahkan dengan seorang yang ternyata juga pria. Dia juga menjabat sebagai seorang istri. Hah.. konyol. belum lagi, Luhan sudah memiliki seorang yang di cintainya. Dan tentu saja orang itu bukan pria
Luhan berpendapat orang tuanya menjual dirinya pada Scuderia grup. Yeah… perjodohan itu terselangara karna perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Namun, scuderia grup atau Enzo kakek Sehun memberi sebuah penawaran dengan mengikat tali persaudaraan antara mereka. Karna enzo tau tidak mungkin Kyuhyun mengembalikan uang yang sudah ia salurkan guna menyelamatkan perusahaan itu. yang ada, perusahaan milik keluarga Luhan bangkrut untuk kedua kalinya
Awalnya para orang tua juga tidak setuju. Namun, Enzo yang menjelaskan mereka sama-sama mendapat keuntungan dari perjodohan inipun menyetujinya. Bagaimana tidak dengan perusahaan yang sama-sama berkembang di bidang otomotif menjalin kerja sama. bukankah itu hebat ?. apa lagi jika membuat kedua perusahaan terikat lewat anak-anak mereka. yang pasti akan terjadi penemuan-penemuan baru menakjubkan. Belum lagi, kedua perusahaan mempunyai cabang yang berbeda di beberapa negara. Jika di gabungkan, bukankah banyak keuntungan yang di dapat ?
Para orang tua yang suka menumpuk uang itu memang tidak pernah mau memikirkan perasaan anak mereka. Luhan yang menolak mati-matian terpaksa menerima karna ayahnya mengancam dengan menyangkut pautkan Hara dalam masalah ini. ayahnya berkata tidak akan membiarkan yeojanya itu hidup dengan tenang jika ia masih bersi keras menolak perjodohan ini. orang tuanya juga berkata untuk mengakhiri hubungannya dengan Hara jika ingin yeoja itu baik-baik saja. namun, untuk yang satu ini Luhan tak mematuhinya. Yang ia katakan pada orang tuanya, ia sudah mengakhiri hubungan dengan Hara, tapi.. kenayataannya…
Sehun sendiri, ia tidak terlalu memperdulikan perjodohan ini. dari dulu orang tuanya memang sudah suka mengaturnya. Sehun hanya menuruti kemauan mereka tanpa protes sedikitpun. Tak seperti Luhan, ia tak mempunyai seseorang yang ia cintai atau di beri perhatian lebih. Ia hanya menikmati hidupnya dan melakukan semua hal sesuka hati. kecuali perkataan orang tuanya. Ia tak pernah menentang mereka
Di sekolah sendiri, tidak ada yang tau tentang pernikahan mereka. Yah… kecuali kepala sekolah dan orang tua dari beberapa murid. semua orang yang menghadiri pesta pernikahan mereka di Jerman sudah pasti tutup mulut saat Enzo-kakek Sehun- memberitaukan perihal setelah pesta, semuanya tutup mulut dan jangan ada yang mengungkit soal pernikahan mereka
Dengan kekuasaan yang di meliki kedua pihak keluarga. Tentu saja semuanya menjadi sangat mudah seperti membalik telapak tangan. Bahkan, para wartawanpun tak ada yang mencium seputar penikahan mereka. Yang di undang hanya tamu-tamu terhormat
Luhan dan Sehun sendiri tidak begitu mengenal atau akrab satu sama lain. meskipun mereka sering bersama di luar sekolah. Tidak ada sesuatu yang menarik untuk di bicarakan. Apa lagi Sehun yang selalu diam. Tak pernah sekalipun Luhan mendengarnya bicara.
Luhan juga merasa bersalah dirinya menyembunyikan ini dari Lay dan Baekhyun. Ingin rasanya ia memberitau mereka tentang kegilaan situasi yang ia alami. Tapi, mengingat kedua sahabatnya itu adalah fans Sehun, dan situasi yang sangat tidak normal membuatnya harus berpikir berkali-kali untuk memberitau mereka
Kadang Luhan berpikir, kenapa orang tuanya tak mengangkat seorang anak perempuan dan menikahkannya dengan Sehun. atau, jika Lay dan Baekhyun benar seorang gay, kenapa tidak mereka saja. kenapa harus dia sendiri yang jelas-jelas tidak tertarik dengan seorang pria. hei… ayolah… Luhan normal, ia ingin menikah dengan seorang wanita bukan seorang pria.
Luhan sering memikirkan bagaimana bisa Sehun bertingkah seperti itu. yah, maksudku… ia seperti robot yang hanya melakukan apa yang di katakan orang tuanya. Ia hanya melakukan apa yang ia inginkan jika tak ada orang tuanya. Dan kenapa Sehun menerima perjodohan ini dengan begitu mudahnya. apa tak ada rasa menyesal sedikitpun di kemudian hari karna tak bisa menikah dengan seorang yang ia cintai ?. atau jangan-jangan, Sehun mempunyai kehidupan yang tidak bisa di masuki seorang gadis. Tidak, Sehun terlihat normal-normal saja, ia hanya tidak perduli dengan lingkungannya. Yah… mungkin begitu. Luhan akan merasa sangat jijik tinggal dengan Sehun jika benar Sehun seperti itu
.
Luhan berjalan menghampiri Sehun yang masih duduk di depan TV sekembalinya dari dapur. Luhan rasa ia benar-benar lapar sekarang
"apa kau lapar ?" tanya Luhan berdiri di samping Sehun. Sehun mengacuhkan Luhan. ia lebih memilih menikmati tontonannya dari pada Luhan
"Hei… aku bertanya, bisakah kau tak mengacuhkanku ?."
Sepertinya Luhan mulai kesal. Sehun masih tak menjawab, hanya menatapnya sekilas dan kembali ke layar TV.
"kalau kau tak lapar. Setidaknya antarkan aku ke supermarket, kau sudah melihat isi kulkas itu kosong bukan ?."
Sehun benar-benar menjengkelkan. Luhan mengepalkan kedua tangannya dan menghentakan kaki kanannya sebelum pergi dari hadapan Sehun. Sehun hanya menatap sekilas pintu yang berbunyi keras saat kepergian Luhan.
Cklek…
tak lama kemudian, Sehun mendengar pintu kembali terbuka. Terdengar pula Suara langkah kaki mendekat ke arahnya. dan Sehun mendapati Luhan kembali berdiri di sebelahnya.
"eum… b-berikan kartu kreditnya." Ucap Luhan tampak ragu sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Sehun. pemuda tampan itu hanya menatap tangan Luhan sekilas dan kembali menatap layar TV. Luhan benar-benar di buat jengkel. Dia benar-benar lapar sekarang, dan pemuda di hadapannya ini benar-benar menjengkelkan
"he-hei…," Luhan makin menyodorkan tangannya dan sedikit menggoyang telapak tangannya mengisyaratkan Sehun. Namun, pemuda tampan itu sepertinya tak memperdulikan Luhan. akhirnya Luhan menyerah dan meninggalkan Sehun menuju lantai dua memasuki kamar dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia ingin beristirahat saja, siapa tau rasa laparnya bisa hilang
Sehun yang dari tadi menonton sebenarnya juga lapar. Hanya saja saat ini ia begitu malas keluar rumah. Sehun bangkit dan berjalan menuju dapur, untuk kedua kalinya ia membuka kulkas kosong di sana. Sehun menghembuskan nafas dan menutup kulkasnya. Matanya tertuju pada dispenser di sudut ruangan, ia menghampirinya menuangkan air dan meneguknya.
Sehun berjalan menaiki tangga masih memegang remote TV. Ia mematikan TV dengan mengarahkan remote itu sambil terus berjalan menaiki tangga menuju lantai 2 lalu menjatuhkan remote itu ke lantai dekat pintu kamar
Sesampainya di kamar, ia melihat Luhan sudah terlantang di atas tempat tidur. Ia menghampiri ranjang. sedikit menggeser pemuda yang terlelap di sana dan ia berbaring di sampingnya
Kruukk… krruuukkkk…
Sehun akan memulai petualangannya ke alam mimpi kalau saja suara keroncongan perut yang tentu saja ia yakini bukan miliknya tidak menganggu. Sehun bangkit memposisikan dirinya duduk, ia menatap pemuda yang tidur di sampingnya. Pemuda itu memang terlihat sedang tidur. Tapi, Sehun yakin ia tidak benar-benar tidur karna alisnya berkerut dan pemuda itu juga menggigit bibirnya gelisah. Tangannya terlihat tengah menekan perutnya
Apa ia sangat kelaparan ?
Kruuukk…. Krruuukkk….
Sehun masih memperhatikan pemuda itu. namun, detik kemudian ia kembali berbaring membelakangi Luhan. Coba mengebaikan suara itu. Sehun terlalu malas untuk keluar rumah, dan ia tidak mau kartu kreditnya habis di hamburkan Luhan membeli sesuatu yang—menurutnya—tidak penting. Lagi pula, siapa Luhan ? ia bukan istri sungguhan, yah…. Walaupun mereka sudah menikah.
.. cih, siapa perduli kau kelaparan
Krruuuuukkk… kruukk..
Suara perut Luhan benar-benar mengganggu. Sehun tak bisa memejamkan matanya.
Ia sedikit mengintip ke belakang. Tapi, yang di lihatnya hanya ada punggung Luhan.
kruuuuukkk…
Suara keroncongan kembali terdengar.
Ck, benar-benar menyusahkan.
Sehun bangkit memposisikan dirinya duduk di atas ranjang. Tangannya sudah terangkat ke udara hendak menepuk punggung Luhan, tapi… ia sedikit ragu.
Hingga tiba-tiba Luhan bangun, duduk di atas ranjang menghadap Sehun. Sebenarnya Sehun terkejut dengan tindakan Luhan yang tiba-tiba. Namun, seperti biasa, Sehun selalu bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan dengan poker facenya
"jika kau tidak lapar, setidaknya beri aku uang….., dan biarkan aku pergi mencari makan untuk diriku sendiri. jika kau takut aku menghabiskan uang bulanan pemberian eomma, kau hanya perlu memberiku beberapa lembar won. Setidaknya aku bisa mengisi perutku, atau setidaknya antarkan aku ke supermarket, kalaupun kau tidak mau, setidaknya antarkan aku di dekat rumah temanku." Luhan memberi jeda
" Tadinya aku ingin pergi, tapi aku baru sadar aku tak tau ini daerah gangnam sebelah mana. apa kau menerima perjodohan ini karna ingin membuatku mati kelaparan ?. aku tau sikapmu memang sudah seperti ini, tapi setidaknya bisakah kau tak mengacuhkanku saat meminta makan ?.. aku benar-benar lapar."
Terang Luhan panjang lebar. Ia masih terus menekan perutnya. Sehun sedari tadi menatapnya datar tidak merespon apapun. Hingga detik kemudian ia menuruni ranjang dan berdiri. Luhan yang melihat tidak mengerti, ia hanya menatap Sehun yang berjalan keluar kamar. Saat pintu tertutup, ia merintih menekan perutnya. Sungguh ia kelaparan saat ini
Cklek…
Mendengar pintu terbuka. Luhan mengarahkan pandangannya ke sana. ia melihat Sehun yang berdiri di ambang pintu menatapnya tajam. Luhan memalingkan wajahnya. Sejujurnya suara perutnya tadi itu benar-benar membuatnya merasa malu …
Tapi, mau bagaimana lagi. itu sudah kehendak alam
"kau mau terus di situ atau ikut aku "
To Be Countinue
A/N : eum, Ell belum bisa menuhin saran atau perbaikin kritikannya readers. Ell masih harus banyak belajar. Mianhae juga updatenya lamaaaaaa…, Ell Cuma nyuri-nyuri waktu buat On di PC. Jadi telatkan updatenya. Eum.. apa lagi yah ?, oh iya, chap depan mungkin ada tambahan pemain (?)
Sekian.
