DIFFICULT OF STRING
2
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
.
.
.
…
Di sebuah café masih di daerah gangnam. Sehun dan Luhan duduk berhadapan menikmati santapan mereka. Kedua orang itu terlihat seperti orang yang tak makan berbulan-bulan. Cara makan mereka mereka mengundang perhatian pengunjung café lainnya.
Sehun yang menyadari itu menghentikan aksinya memasukan makanan ke dalam mulut berturut-turut. Ia mengambil air dan meneguknya pelan. Sehun meletakkan gelasnya dan mengelap sudut biirnya dengan tisu lalu menatap Luhan yang makan dengan brutal
Astaga… apa mereka ini benar-benar anak orang kaya ?. kenapa makan seperti gelandangan….?
Sehun menoel kepala Luhan, membuat pemuda yang lebih tua darinya itu mendongak menatap Sehun dengan kedua pipi yang kembung penuh makanan. Sehun mengisyaratkan Luhan dengan kepalanya melihat sekitar mereka.
Uhukk.. uhukk…
Luhan tersedak melihat sekeliling mereka dan langsung meneguk airnya tak tersisa. Ia lalu menepuk-nepuk dadanya. Luhan kembali melihat sekelilingnya dan tersenyum pada setiap orang, sementara Orang-orang itu menatap dengan Luhan aneh dan Sehun hanya menutup wajahnya dengan tangan kanannya. Sungguh ia malu dengan tingkah Luhan
Luhan kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda. sementara Sehun sudah tak berselera lagi. ia memilih berkutat dengan smartphonenya setelah situasi kembali normal. Luhan makan tidak sebrutal tadi, dan orang-orang tidak lagi memandangi mereka
.
.
.
"kenapa kau membeli banyak bir ?."
Sehun terus mengambil betol bir berbagai jenis tak menanggapi pertanyaan Luhan. merasa percuma bicara dengan Sehun, pemuda yang lebih tua itupun meninggalkan sehun dan pergi ke tempat cemilan lalu mulai memilih cemilan yang ingin di belinya.
Hei ? inikah yang namakan belanja ?. mereka tidak membeli beras, tidak sayuran, tidak daging atau kebutuhan pokok sehari-hari lainnya. Lalu, apa dapur hanya akan di lengkapi dengan cemilan, minuman kaleng dan botol-botol bir ?
Puk…
"Luhan…"
Luhan berbalik dan melihat siapa yang menepuk punggungnya
"Lay ?." Luhan tersenyum lebar melihat sahabatnya itu. Ia tak menyangka akan bertemu Lay di sini.
"kau sedang apa ?." tanya Lay melihat tangan Luhan yang penuh dengan snack
"huh. Kebiasaan.." tambah Lay, ia tau kebiasaan Luhan yang suka mengemil (?). mendengar itu Luhan hanya tersenyum menujukan deretan gigi kecilnya, Ia lalu melihat troli yang di bawa Lay
"kau berbelanja ?." Lay mengangguk mengiyakan pertanyaan Luhan
"mau temani aku ?. eh, bukankah kau bilang tadi berbelanja di supermarket-"
"aniyo, tidak jadi."jawab Luhan cepat memotong ucapan Lay sebelum pemuda berdumple itu ikut-ikutan mengintograsinya seperti Baekhyun. Luhan menemani Lay belanja. Mereka berjalan beriringan, memilih barang yang mereka perlukan, tepatnya yang Lay perlukan. Tidak seperti 'belanja' Luhan dan Sehun. Lay lebih mementingkan kebutuhan pokok sehari-hari dari pada cemilan atau bir
Kini mereka tengah berada di tempat minuman kaleng. Lay memilih beberapa minuman kaleng yang ia butuhkan dan Luhan sibuk mengurusi snack yang terlalu banyak di tangannya. Saat ingin mengambil salah satu kaleng, ternyata ada orang lain juga yang mau mengambil kaleng itu
"eh ?."
Lay menoleh ke tangan orang itu, lalu beralih ke wajahnya. Seakan melihat pemandangan yang tidak biasa, Lay melebarkan matanya selebar-lebarnya dengan mulut menganga. Itu berlangsung beberapa detik sebelum ia kembali ke dunia nyata
"u-untukmu s-saja..hehehe…" sangat jelas Lay terlihat gugup. Ia langsung melepaskan genggamannya pada minuman kaleng tersebut dan membiarkan orang di hadapannya—Sehun mengambil minuman kaleng itu. luhan yang dari tadi menyaksikan kejadian itu sudah menegang di belakang Lay. Ia menatap Sehun cemas, berharap pemuda itu tak melakukan sesuatu yang membuatnya terancam. Sehun menatap Luhan sekilas lalu mengambil lagi beberapa minuman kaleng yang sama
Selesai dengan minuman kaleng, Sehun pergi meninggalkan Lay dan Luhan tanpa berucap sepatah katapun. Luhan langsung menghela napas legah dan Lay masih terpaku di tempat memandang punggung Sehun makin menjauh dengan senyum tak jelas di bibirnya
Puk..
Luhan menepuk punggung Lay dan itu sukses membuat Lay tersadar dari lamunannya
"kau tid—" ucapa Luhan terpotong saat tiba-tiba Lay membalik tubuhnya menghadap Luhan
"Luhan…. tadi itu aku tidak bermimpikan ?. aku berada sedekat itu dengan Sehun, kau melihatnya. oh, astaga…. Aku harus mengendalikan diriku, bagaimana ini… Kyaaa… itu Sehun, Luhaaaaannnn….. tadi itu Sehuuuunnn…" tanpa memperdulikan sekelilingnya Lay berteriak heboh seperti seorang fangirl. Orang-orang yang berlalu lalang melihat mereka dengan tatapan aneh
"Lay… Lay.." Luhan mengguncang bahu Lay yang benar-benar, entah saat ini jiwa sahabatnya itu tengah terbang ke mana hanya karena Sehun. wajah sahabatnya itu terlihat memancarkan kebahagiaan luar biasa. Ia pasti tengah memikirkan wajahnya akan berubah setampan Sehun. tak mendapat respon, Luhan menarik Lay menuju tempat kasir dan di sanalah Luhan baru menyadari ia membawa begitu banyak cemilan yang tak bisa di bayarnya karna seharusnya yang membayar semua itu adalah Sehun
Luhan melihat Lay yang belum kembali dari keterkaguamanya akan sosok Sehun, luhan tak mungkin meminta bantuan sahabatnya ini kalau begitu. Luhan melihat sekelilingnya tampak aneh, banyak gadis remaja yang tersenyum dan menjerit sambil melihat ponsel mereka. Ada apa ?
"Kyaaa… oppa itu tampan sekali…"
"..cepat, cepat ambil fotonya…"
"..ah, pasti aku akan sangat beruntung seandainya aku menjadi pacarnya.."
Entah kenapa Luhan langsung percaya diri mendengar pujian-pujian yang di lontarkan gadis-gadis itu. ia langsung merapikan penampilannya saat mendengar gadis-gadis itu ingin mengambil gambar objek yang dengan percaya dirinya, ia yakini bahwa itu adalah dirinya.
"OMOOO…"
Jeritan Lay langsung membuat Luhan menatap sahabatnya itu. astaga, apa sekarang Lay akan menjadi gila setelah kembali dari lamunan panjangnya ?
Lay menatap Luhan dengan mata yang membulat sempurna. ia meraih kedua pipi Luhan dengan tangannya yang jelas membuat Luhan kebingungan dengan sahabtnya itu
"Lu, Sehun ada di sana. Kenapa sangat kebetulan seperti ini…? tadi aku bertemu dengannya di tempat minuman kaleng. Dan sekarang di kasir ? apa kami berjodoh ? katakan Luhan…" ucap Lay dramatis
Luhan memasang wajah datar saat sahabatnya itu memutar kepalanya ke arah Sehun yang tengah mengantri di kasir sebelah dan memutarnya kembali menatap wajah Lay.. Ini hanya Lay, bagaimana kalau ia juga bersama Baekhyun ?. luhan tak ingin membayangkan apa yang akan terjadi
"ya, kalian berjodoh kalau kau mau membayar belanjaanku. Bagaimana ?" raut wajah Luhan berubah dratis menatap Lay penuh harap
Seharusnya ia menghampiri Sehun dan meletakan semua belanjaanya ke dalam troli yang di bawa Sehun. namun, itu tidak bisa ia lakukan menyadari kondisi saat ini.
Bagaimana jika saat ia meletakkan semua belanjaan ke troli dan ada yang melihatnya, menyadari gadis-gadis di sekitar mereka yang terus mengawasi gerak gerik Sehun, dan mengambil foto tanpa izin. Ohh… itu akan mengundang rasa ingin tau lingkungan sekitar, dan membuatnya hidup di bayang-bayangi teror dari para fans pemuda yang berstatus suaminya itu, atau di pandang jijik dan di kucilkan banyak orang yang akan mengira dirinya seorang gay karna menikah dengan seorang pria
Tentu saja ia tak ingin itu terjadi. Jadi, berdoalah agar Lay mau membayar semua belanjaanya ini
"..eumm…. baiklah, karna saat ini suasana hatiku sangat baik. maka aku akan membayar semua belanjaan sahabatku yang bernama Luhan ini..," Lay menoel pipi Luhan gemas melihat sahabatnya itu memandang penuh harap padanya. Setelahnya ia kembali menatap Sehun di seberang sana tengah membayar belanjaannya. Lay mendengus melihat dengan jelas kasir itu sengaja memperlambat kerjanya agar Sehun lebih lama di sana
"jinjjayo ?." Luhan menatap Lay memastikan. Lay mengangguk singkat tanpa memandang Luhan. matanya tetap focus pada sosok yang ia kagumi di seberang sana hingga sosok itu berjalan keluar supermarket. Beberapa gadis remaja dan pria cantik langsung mengekori kepergian Sehun
Seperginya Sehun, Lay langsung membayar cepat semua belanjaanya dan Luhan saat orang yang mengantri sebelum mereka selesai. Cepat Lay keluar supermarket guna mencari keberadaan Sehun. namun, ia tak menemukan pemuda tampan itu. lay berbalik kea rah Luhan yang terngah memeriksa isi belanjaanya.
"kau pulang sendiri ?"
"tidak, aku datang bersama—" Luhan yang sadar hampir saja mengucapkan sesuatu yang sangat fatal langsung mendongak menatap Lay, menghentikan kegiatannya mengobrak-abrik isi belanjaanya
"datang bersama siapa ?." lay mengeryitkan alisnya. kenapa Luhan tak melanjutkan kalimatnya ?. lalu, kalau datang dengan seseorang kenapa ia merasa dari tadi Luhan sendirian saja ?
"a-ah… tidak, maksudku aku datang bersamamu. Hehehe…" Luhan cepat-cepat mengoreksi ucapannya tadi sebelum Lay curiga. Untung ia tak bersama Baekhyun, kalau tidak, habislah ia di intograsi oleh Baekhyun. untunglah Lay tak sekepo Baekhyun sehingga sahabatnya itu percaya saja
"yasudah, kajja… kita pulang. Kebetulan aku bawa mobil." Ajak Lay menarik lengan Luhan menuju tempat parkiran
.
.
.
Selama perjalanan, Luhan tak focus dan menanggapi ucapan Lay yang berusaha memecah keheningan. Ia terus memikirkan, bagaimana kalau sudah sampai di rumah—mantan rumahnya—dan Lay ingin mampir. sedangkan rumah itu sudah menjadi milik orang lain karna perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut, ayahnya menjual rumah itu. lalu, jika ia katakan ia tidak tinggal di situ, Lay pasti bertanya tempat tinggalnya sekarang. bagaimana ia harus menjawab…
Luhan terus berkutat dengan pikirannya tak sadar mereka telah sampai
Sepertinya Dewi fortuna tengah memihak Luhan. Lay buru-buru pulang karna ada kejadian tak terduga di rumahnya, kesempatan itu di gunakan Luhan agar Lay menurunkannya di depan pagar.
Laypun pergi, Luhan bersorak gembira akan hal itu karna artinya ia aman. namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama menyadari dirinya yang tak mengingat alamat rumahnya di gangnam
Kalau dia pulang ke rumah Sehun, itu tidak mungkin. Eomma Key masih berada di sana. ia tak mau menjelaskan panjang lebar atau membuat cerita karangan yang nanti malah membuatnya bingung sendiri.
Kalaupun Luhan menceritakan yang sebenarnya. ia yakin, eomma Key akan semakin mendekatkannya dengan Sehun
.
.
Luhan duduk di halte bis merenungkan nasibnya hari ini. jika ia naik bis, memangnya mau turun di mana ?. jangankan turun di mana, uang untuk sekedar naikpun ia tak punya.
Di saat seperti ini, ia juga tak bisa menghubungi siapapun karna handphonenya tertinggal di rumah, Sehun mengajaknya saat ia benar-benar kelaparan hingga tak bisa berpikir selain mengisi perutnya sesegera mungkin. Cemilan yang di belinya nyaris habis di makannya.
Kalau tau seperti ini, seharusnya tadi ia ikut saja dengan Lay ke rumah sahabatnya itu. dari pada ia duduk tidak jelas di halte ini.
.
.
.
Tak terasa hari sudah gelap dan Luhan masih setia mendudukkan dirinya di bangku halte. Orang-orang terus berganti mendatangi halte itu, ada yang pergi, dan ada yang datang lagi. hanya dirinya saja yang dari tadi berdiam diri di sana
Hhh….
Entah itu helaan napas yang keberapa kalinya. Ia bersyukur hari ini tidak turun hujan. Jadi ia tak perlu menggigil kedinginan di sini. Namun, tetap saja, perubahan suhu di malam hari sedikit memberi efek yang menusuk kulitnya dalam balutan pakaian
.
.
.
Dasar bodoh, kenapa dari tadi tidak terpikirkan olehnya ?.
Luhan berjalan dengan cepat menuju rumah Baekhyun. Dari pada ia di halte, akan lebih baik jika ia ke rumah Baekhyun. Jalan kaki tidak masalah meskipun jaraknya cukup jauh. Yang penting, sesampainya di sana ia tak perlu merasakan hawa menusuk malam hari. Dan mungkin ia akan menginap saja. kalau dia ke rumah Lay itu tidak mungkin.
Lay pasti akan bertanya banyak hal seperti penampilannya yang tidak berubah, di tambah kantong plastik yang masih setia di genggamannya.
Tin… tin….
Sebuah mobil berhenti di hadapan Luhan. pemuda berdarah China itu memicingkan matanya merasa familiar dengan mobil itu. tak perlu waktu lama untuk mengenali mobil itu. iapun beranjak mendekati mobil dan segera duduk di sebelah jok pengemudi.
"dasar bodoh, kemana saja kau. Eoh ?"
Belum juga ia menyamankan diri dan mengunci pintu mobil. Luhan langsung di sambut sebuah bentakkan dari Sehun yang duduk di jok pengemudi. Refleks ia menoleh ke arah Sehun yang tak menampakan ekspresi datarnya. Sehun terlihat kesal, Luhan baru tau kalau Sehun juga bisa mengekspresikan wajahnya. Hahaha..
"kau bilang aku apa ?." tidak mau kalah, Luhan balas membentak Sehun
Ck! ayolah, Sehun mengatainya bodoh. Itu tidak sopan mengingat Luhan lebih tua darinya. sopanlah sedikit, Oh Sehun!
Pemuda di jok pengemudi diam saja, tak ada niat sedikitpun menanggapi bentakan Luhan. ia kembali menatap lurus ke depan tak lupa ekspresi datar andalannya yang telah kembali ia menjalankan mobil itu.
.
.
.
Seperti biasa, keheningan selalu menyertai perjalanan mereka. Luhan yang bosan dengan keadaanpun angkat bicara. Ia ingin menanyakan, kenapa Sehun bisa berada di sana ?. belum lagi, kalau di perhatikan, penampilan Sehun tak berubah sejak mereka berpisah di supermarket. Seharusnya ia sudah mandi dan berganti pakaian bukan ? inikan sudah malam. Ehem.. bukannya dia terlalu percaya diri. Tapi, apa Sehun mencarinya ?
"..ternyata kau bisa bicara. Kenapa selama ini kau selalu diam ?." Bodoh, kenapa itu yang kau tanyakan ?
Menjengkelkan, Sehun tidak menjawabnya. Ia selalu diam seperti biasa. Ingin rasanya Luhan meremukkan wajah datar pemuda menjengkelkan itu. tapi, hehh… ayolah, pertanyaan macam apa itu ? tidak penting sekali untuk di jawab
"…kenapa kau—"
"diamlah."
Luhan mendengus. Ia memalingkan wajahnya melihat ke luar. Melihat pemandangan kota Seoul dari kaca samping tempatnya duduk.
.
.
.
Eomma Key yang berada di rumah menjelaskan kenapa Sehun tak mengganti pakaiannya. Belanjaan Sehun juga masih berada di garasi. Ini juga menjelaskan kenapa Sehun membentaknya, ternyata seharian –mungkin-Sehun mencarinya, mungkin juga menunggunya di tempat parkir
Tapi Sehun bukanlah orang bodoh yang mau menunggunya seharian di tempat parkir. Setidaknya itulah menurut Luhan
"bagaimana ?. apa kalian suka rumahnya ?" tanya Key eomma membongkar isi belanjaan Sehun dan Luhan. Sehun sendiri mulai mengatur minuman kaleng dan bir di dalam kulkas. Sementara Luhan, ia asik duduk di meja makan menikmati es krimnya
"ne.." jawab Luhan
"kenapa hanya membeli muniman dan cemilan ?. di mana kebutuhan pokoknya ?" Key eomma mengerutkan alis selesai membongkar semua isi belanjaan Sehun dan Luhan. keduanya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tak ada niat menjawab pertanyaan eomma
"ck, ingat. Eomma akan selalu mengecek pengeluaran kalian tiap bulan. Jangan terlalu sering makan di luar. Kalian harus berhemat dan membeli kebutuhan pokok. Eomma hanya akan mengirim jumalah uang yang sama setiap bulan. Kalau habis, kalian harus mencarinya senidiri. Eomma tidak mau kalian terus bergantung pada kami. Arraseo ?."
Luhan mengangguk menanggapi mertuanya itu.
"ingat, B-E-R-H-E-M-A-T. Eomma akan berangkat ke jerman besok. eomma Luhan akan datang minggu depan. Ingat 'berhemat'!…" Key eomma terus saja menekan kata 'berhemat' dalam tiap ucapannya sambil melegang pergi meninggalkan Luhan dan Sehun. Selanjutnya terdengar suara debeman pintu tertutup
Setelahnya Hening kembali menyelimuti Luhan dan Sehun yang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Luhan berdiri meletakkan mangkuk es krimnya di atas meja lalu membongkar tas plastik yang sedari tadi di bawanya.
Pemuda itu Mengambil semua es krim di sana dan meletakkannya di dalam kulkas yang sama dengan minuman Sehun.
"hei. Bukankah kau belum cukup umur ?. kenapa membeli banyak bir ?" tanya Luhan mengintrupsi kegiatan Sehun menyusun botol-botol bir itu dengan rapi. Ada begitu banyak bir yang di beli Sehun. apa pemuda berkulit putih albino itu hanya meminum bir setiap hari ?
"diamlah. Eommaku saja tidak melarang." Sehun menanggapinya dengan nadir datar tanpa memandang lawan bicaranya. Pemuda itu terus memasukkan beberapa kaleng bir yang tersisa. Luhan mendengus dan mengambil snack-snacknya memasukkan ke dalam lemari yang berjejer menggantung di atas dinding
.
.
.
Tidak seperti Sehun yang memilih duduk di depan TV. Luhan memilih masuk kamar dan membuka buku pelajaran
2 jam kemudian
Luhan mulai menumpukan kepalanya di atas meja sambil membaca buku. Sesekali metanya menutup karna malam sudah terlalu larut. Rasa kantuk mulai menguasainya. Tapi, ia masih mau membaca materi untuk hari esok
Cklek…
Luhan menoleh saat Sehun memasuki kamar. Pemuda tampan itu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Luhan menghela napas dan kembali berkutat dengan bukunya masih dengan mata yang tergoda untuk menutup dan berkelana di alam mimpi
Lama menahannya. Akhirnya Luhan mengalah dan tertidur di tempat. Buku yang di bacanya sudah menutupi wajah tidurnya. Entah sadar atau tidak, Luhan bangkit dari duduknya dengan mata tertutup menuju tempat tidur dan langsung membaringkan dirinya di sebelah Sehun
.
.
.
"eoh ?. di mana rotinya ?." monolog Luhan membongkar isi lemari dan kulkas. Tapi hanya menemukan selai coklat tanpa roti di sisinya
"apa aku tidak membelinya ? aisshh…." Luhanpun meletakkan botol selai yang ada di tangannya ke atas meja makan dan beranjak pergi kembali ke kamar
Cklek…
Blush…
Luhan langsung di sambut dengan Sehun yang bertelanjang dada menghadap cermin. Tanpa sadar semburat merah menghiasi kedua pemuda bertubuh mungil itu, dengan terburu-buru ia menundukkan kepalanya menuju kamar mandi, tak memperdulikan Sehun yang sebenarnya bingung, Cuma wajahnya tak menampakan ekspresi apapun
Sesampainya di kamar mandi, Luhan langsung mengunci dan bersandar di balik pintu kamar mandi. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak mungilnya. apa dia sedang malu ?. Seakan sadar, ia membuka kedua tangan yang menutupi wajah meronanya
"eh.? Aku kenapa yah ?." herannya pada diri sendiri, kenapa tiba-tiba bertingkah seperti itu hanya karena melihat Sehun bertelanjang dada
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sambil berpikir berpikir. Wajahnya terlihat seperti orang idiot
Kenapa rasanya tadi wajahnya memanas ?
Apa dia malu melihat Sehun seperti itu ?
Kenapa ia merasa tingkahnya saat ini seperti yeoja ?
Luhan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, menepis semua pikiran aneh yang melintas di otaknya.
"memangnya kenapa kalau aku melihatnya bertelangjang dada ?. bukankah itu hal biasa, kitakan sama-sama namja. Ck… kenapa aku harus bertingkah aneh seperti ini ?." monolog Luhan mulai membersihkan diri
.
.
"apa kemarin kau membeli roti ?" tanya Luhan pada Sehun yang sibuk menuangkan bir ke dalam gelas. Luhan mendengus kesal sambil memakan es krimnya karna Sehun tak menanggapinya. Seakan tak ada orang lain di sana sedang berbicara
Tunggu ?. bir ? es krim ?
Pantaskah di sebut sarapan pagi ?. apa tidak apa meneguk bir dan memakan es krim di pagi hari saat perutmu belum terisi apapun
"hari ini kita tak perlu pulang bersamakan ?." tanya Luhan lagi saat ia selesai dengan es krimnya dan Sehun sudah berjalan meninggalkan dapur. Luhan dapat mendengar dari arah Sehun, pemuda tampan itu bergumam mengiyakan. Berarti hari ini ia bisa pulang bersama teman-temannya
.
.
.
Luhan POV
Sesampainya di kelas. Baekhyun langsung menceritakan tentang kejadian Lay bertemu Sehun kemarin. Padahal Lay sudah mengatakkan kalau aku tau soal itu karna aku berada di sana. Tapi, kenapa sahabatku ini ngotot sekali ?. hehh… sudahlah, aku harus jadi sahabat yang baik dan mendengarkan ceritanya. Namun, aku bersyukur tak harus mendengarkan jalan cerita yang sudah ku tau dank u pahami itu sampai selesai karna Ahn seongsanim sudah memasuki kelas
Deng Dong Deng Dong~,,,,,- please bolt from your position. Commutation of middle rest hours take palce,,, deng dong deng dong~…
Bel istirahat berbunyi di setiap sudut ruangan dan lingkungan sekolah. Kebanyakan siswa siswi langsung berhamburan menuju cafetaria. Aku sendiri mengumpulkan buku cetak dari setiap siswa siswi di kelasku sebelum mereka keluar kelas. Kedua sahabatku sudah lebih dulu berlari ke kacetaria, tak mau ikut di 'minta tolongi' Ahn seongsanim. Dasar, tidak setia kawan
aku berjalan ke ruang Ahn seongsanim dengan susah payah. Aku tak menyangka lumayan berat juga buku-buku ini
Saat berjalan di koridor aku tidak fokus karna terlalu memikirkan beban yang ku bawa dengan kedua tanganku sehingga seseorang, ku rasa ia sengaja menambrakkan bahunya ke bahuk!. Hal itu membuat tubuhku tidak seimbang dan menjatuhkan semua bawaanku berserakkan di lantai. Aku segera berjongkok memungut semua buku yang berserakkan tanpa menoleh sedikitpun pada orang yang menabrakku
"kau tidak minta maaf ?"
Sombong sekali nada bicaranya. Aku yakin, yang bicara itu adalah orang yang menabrakku.
Hei ? bukankah ia yang sengaja menabraku ? kenapa aku yang harus meminta maaf ?. aku mendonggakkan kepalaku melihat siapa orang itu
Cih! mereka. Tapi, bagaimanapun aku tidak mau terlibat masalah dengan mereka. Lagi pula, hanya berkata maaf tidak ada artinya. Hanya berkata sajakan ?, faktanya tetap saja dia yang salah menabrakku
"maaf.." kataku kembali memunguti setiap buku yang berserakkan. Saat aku ingin memungut salah satu buku, tiba-tiba sebuah sepatu menginjaki buku itu. tak perlu di tanya. Dia adalah Kris, orang yang sengaja menabraku tadi. Sepertinya tak ada yang berniat ikut campur sedikitpun, Ketiga orang lainnya dan orang-orang yang ada di koridor ini hanya diam melihat ke arah kami.
"begitu caramu minta maaf ?" ujarnya lagi dengan sangat dingin dan, ugh… orang ini kenapa gayanya sombong sekali ?
Tidak mau memperpanjang masalah. Aku berdiri dan menatapnya
"maafkan aku. Aku tidak sengaja. Tolong, maafkan aku." Ucapku sambil membungkuk, dan berucap sesopan mungkin.
Sungguh, aku ingin sekali melayangkan tinju ke wajah sombongnya itu. lihatlah, ia menyeringai puas melihatku. Aku kembali menegakkan tubuhku selesai mengucapkannya. Kulirik sekilas pemuda berkulit pucat di belakangnya yang saat ini menatapku dengan tatapan tajam seperti biasa. Mereka semua, ingin sekali aku meremukkan mereka
"Kris, sudahlah. Ayo kita pergi saja." Kyungsoo rupanya selalu berupaya menjadi yang paling baik di antara mereka. Buktinya ia langsung menarik Kris saat pemuda jangkung itu mendekat ke arahku. Yang ku yakini saat itu ia ingin melakukan sesuatu terhadapku, karna masalahnya tidak akan cukup dengan minta maaf saja. cih, padahal dia yang menabrakku. Sudahlah, aku tidak mau memperpanjang masalah dan mengubah ketenanganku di sekolah dengan teror
"ck. Kau mengangguku, Kyungsoo." Hei ? apa ia akan melakukan sesuatu ? sepertinya ia tak ingin meninggalkanku. Biasanya saat Kyungsoo berkata seperti itu mereka akan langsung pergi begitu saja. Kris kembali berjalan mendekat ke arahku
Dia berhenti di hadapanku. Menatapku intens, jujur saja aku risih saat ia menelusuri lekuk tubuhku dari ujung ke ujung dengan kedua mata yang ingin sekali aku congkel menggunakan jari telunjuk dan tengahku, tapi tidak akan ku lakukan, karna aku bukan seorang psyco. Aku berusaha tak menatapnya dan mengalihkan pandangan ke berbagai arah. Hal itu ku lakukan untuk mencegah mataku memberikan tatapan tajam ke arahnya, yang bisa mengundang permasalahan lebih besar. Aku benar-benar ingin melayangkan tinju ke wajahnya aarrrgghh…
"..ouww…. Kau namja atau yeoja, eoh ?" refleks aku menoleh dan menatapnya. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Bahkan, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang menerpa kulit wajahku. Akupun langsung memundurkan wajahku tak mau terjadi sesuatu yang tak di inginkan. Astaga, pertanyaan macam apa itu ? apa ia tak bisa melihatnya ?.
Dia memundurkan wajah dan menegakkan tubuh menjulangnya itu lalu tertawa. Aneh, kenapa dia tertawa ? aku rasa tidak ada yang lucu
"..hahaha… Chan, kau lihat wajahnya tadi ?. hahaha…"
Wajahku ?. wajahku kenapa ?. mendengar itu aku langsung menyentuh wajahku, memeriksa ada apa dengan wajahku. Anehnya Kris malah tertawa semakin keras, dan dapat kulihat Chanyeol juga ikut tertawa sambil berteepuk tangan. Apa sekarang aku tengah jadi bahan lelucon ?, bodoh. Apa yang lucu di sini ?
Ku kepalkan kedua tanganku. Entah sudah keberapa kali aku mengatakan ingin melayangkan tinju ke wajah menyebalkan itu. yah… walaupun itu hanya pemikiranku saja, tapi, mungkin juga itu akan terjadi kalau saja ia tak melegang pergi begitu saja sambil tertawa.
Ke tiga orang lainnya langsung menikuti Kris pergi. Dan orang-orang yang menonton tadi langsung bubar. Kulihat sudah ada yang berbisik-bisik melihat ke arahku. Baiklah, mungkin mereka membicarakan, kenapa Kris tidak melakukan sesuatu terhadapku padahal tadi sudah tak ada yang mengintrupsi setelah Kyungsoo. Jangan tanya, akupun tidak tau.
mungkin ia hanya ingin menjadikanku bahan lelucon yang sama sekali aku tidak tau lucunya di mana sampai ia dan Chanyeol tertawa sangat keras. Tapi, yang biasa ku lihat dan biasa terjadi. Kris selalu melakukan sesuatu yang buruk atau bahkan penyiksaan fisik pada setiap orang yang seperti diriku tadi…, tapi ini ?. menyuruhku minta maaf, dia tertawa dan pergi begitu saja.
Aku menekan-nekan tombol lift agar pintunya segera terbuka, aku harus segera mengantarkan buku-buku ini pada Ahn seongsanim. Tak selang beberapa lama, pintu lift terbuka, akupun segera masuk ke dalamnya, meneksan tombol dan meletakkan sejenak buku-buku yang sudah tersusun rapi di lantai lift. Aku bisa melihat sebuah sepatu berjalan masuk ke dalam lift yang aku yakini pemilik sepatu dari lantai di atasku tadi. Orang itu menekan tombol lantai 5 saat aku menegakkan tubuh guna menyamankan tanganku yang sedikit pegal. Tujuannya sama denganku, lantai 5 yah…
Entah ini perasaanku saja atau bukan, dari tadi orang ini terus menatapku. Ada apa ? ada yang salah denganku ?. aku menengadah ke atas saat ia memajukan kepalanya melihatku dari samping
"Lulu.. ?"
Dan betapa terkejutnya aku saat menoleh ke samping melihat siapa orang itu. mataku langsung membulat sempurna. ASTAGA, kenapa orang ini ada di tempat ini ?. dan… dan… jangan bilang ia bersekolah di sini karna seragamnya sama denganku. HAH…?
"…
.
.
.
.
.
.
.
K-Kai ?."
Luhan POV end
To Be Countinue
