DIFFICULT OF STRING
3
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
.
.
.
… …..
Preview…
Entah ini perasaanku saja atau bukan, dari tadi orang ini terus menatapku. Ada apa ? ada yang salah denganku ?. aku menengadah ke atas saat ia memajukan kepalanya melihatku dari samping
"Lulu.. ?"
Dan betapa terkejutnya aku saat menoleh ke samping melihat siapa orang itu. mataku langsung membulat sempurna. ASTAGA, kenapa orang ini ada di tempat ini ?. dan… dan… jangan bilang ia bersekolah di sini karna seragamnya sama denganku. HAH…?
"…
.
.
.
.
.
.
.
K-Kai ?."
.
.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
.
"oh, jadi kalian teman lama ?. Luhan tak pernah cerita tentangmu."
"benarkah ?. woaaahh… kau ini tega sekali, Lulu. Teman-temanmukan jadi ketinggalan informasi tentang namja tampan, sexy, pintar dan banyak kelebihan bernama, KAI." dengan percaya dirnya dan nada bicara yang di buat semanja mungkin Kai mencodongkan tubuhnya ke meja. Baekhyun dan Lay hanya terkekeh mendengar penuturan Kai. sementara Luhan ?. dari tadi ia merutuki pertemuannya dengan Kai. wajahnya terlihat seperti banteng yang akan mengamuk
Setelah mengantarkan buku cetak ke ruang Ahn seongsanim di bantu oleh Kai. luhan langsung menyusul kedua sahabatnya ke cafetaria dan sedari tadi Kai terus mengikutinya kemanapun ia pergi.
"ne, Luhan tak pernah cerita tentangmu. Luhan juga tak pernah cerita kalau dia pernah tinggal di Jepang." Ujar Lay memandang Luhan
"aku baru sadar, kita bukan sahabat yang baik, Lay. Kita benar-benar tidak tau apa-apa tentang Luhan." ucap Baekhyun menatap Luhan dan Lay bergantian. Lay langsung mengangguk-anggukkan kepala setuju dengan penuturan Baekhyun
"hei… hei… kalian ini bicara apa ?. kalian tentu saja sahabat yang paling baik. Kenapa bicara seperti itu ?. YA! Ini semua gara-gara kau!," ucap Luhan menatap kedua sahabatnya dan menuding Kai yang juga ikut mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Baekhyun tadi
"wae ?. kenapa menyalahkanku ?... salahmu tak cerita pada mereka." Ucap Kai dengan raut wajah yang di buat sepolos mungkin. Membuat Luhan ingin menancapkan kukunya di sana
"untuk apa menceritakan orang yang tak penting sepertimu?. Lagipula, kalian tak pernah menanyakannyakan bukan ?." Luhan bersandar di sandaran kursi yang ia dudukki melipat kedua tangannya di depan dada
"eh ?. benar juga. Kita tidak pernah menanyakannya yah.. hehehe… kalau begitu. Aku ingin tanya, sejak kapan kau mengenal Kai ?" Baekhyun menatap Luhan penasaran
"sejak kecil." Bukannya Luhan yang menjawab tapi Kai. semntara Luhan hanya menatap Kai dengan jengkel
"oohhh… jadi waktu kecil kau tingga di Jepang ?. woah, aku jadi tertarik dengan kisah perjalanan hidupmu, Lu. Jadi, apa hubungan kalian berdua, apa hanya berteman ?." Lay mencodongkan tubuhnya ke depan
"tidak. Kami berpacaran." Ucap Kai dengan santainya
"MWO!"
"YAA!."
"hahahah….., lihat ekspresi kalian.. hahaha… astaga.." Kai tertawa sambil memegangi perutnya. Ini benar-benar lucu melihat ekspresi tiga pemuda yang ada di hadapannya itu. lay dan Baekhyun yang langsung melotot, Luhan yang langsung menegakkan tubuhnya melihat Kai dengan tatapan jengkel
Puk..
"aisshh.. appo.." Ringis Kai memegangi kepalanya yang baru saja di timpuki sendok makan oleh Luhan. ia menatap Luhan dengan raut wajah kesakitan
"jangan seenaknya bicara." Ucap Luhan dengan nada jengkel sambil melotot ke arah Kai
"jadi kalian ini benar-benar berpacaran atau tidak ?. Lu, kau menyukai namja ?" tanya Lay yang masih penasaran dengan penuturan kai tadi. Ia pikir Luhan bukanlah pria yang menyukai pria. Tapi, penuturan Kai tentu membuatnya harus berpikir. Bukan hanya dia, tapi Baekhyun juga. Mereka berdua menatap Luhan penuh tanya
"haisshh… tentu saja tidak. Kau jangan sembarangan bicara, Kkamjong." Luhan dengan raut jengkelnya menatap ketiga orang itu. Kai benar-benar membuat moodnya buruk hari ini
"ya! Berhenti mengganti-ganti namaku." Protes Kai tidak terima di panggil Kkamjong. Kai selalu mengatakan bahwa namanya 'KAI' adalah yang paling keren. tapi, Luhan suka sekali menggantinya entah itu Kkamjong, hitam, gelap atau yang benar-benar tidak pantas menurutnya
"kenapa ?. kau juga mengganti namaku dengan panggilan menjijikan itu. isshh.." seakan tidak mau kalah. Luhan ikut protes. Ia tak suka di panggil 'LULU'. oh, ayolah, itu terdengar menjijikan. seperti nama yeoja, yang benar saja…
"menjijikan ?. tidak. 'Lulu' itu kedengaran imut dan Lucu sama sepertimu. Sama sekali tidak menjijikan. Benarkan Lay, Baekhyun ?" Kai menatap Baekhyun dan Lay yang langsung menganggukkan kepala mereka
"berhenti mengatakan itu. aku tidak imut dan lucu. Aku ini namja, aku tampan!."
"tidak, kau imut, lucu dan cantik. Benarkan ?" lagi-lagi Kai meminta pendapat Baekhyun dan Lay yang mengangguk setuju
"YA!... berhenti mengatakan itu!. kau membuatku ingin muntah. Haisshhh.. kenapa kau datang ke sini ?! Oh, Tuhan…cobaan apa ini..." Luhan semakin di buat jengkel. Ia mengacak rambutnya frustasi lalu menumpukannya di atas meja
"tentu saja untuk bersekolah.." jawab Kai di buat sepolos mungkin
Luhan tak mau menanggapi Kai lagi. ia menatap tajam pemuda berkulit tan yang hanya di balas dengan cengiran tak jelas oleh pemuda itu. luhanpun mengalihkan pandangannya ke arah Lay dan Baekhyun. Entah perasaannya saja atau bukan, dua sahabatnya itu dari tadi menatap Kai sambil tersenyum tidak jelas. Sama seperti menatap ke empat orang paling diidolakan di sekolah ini
Tidak hanya itu. ia juga melihat sekitar mereka dan sekarang beberapa gadis di cafetaria melihat ke arah mereka. Bukan, tepatnya melihat Kai. Hei ? memangnya siapa Kai itu ? apa sekarang si hitam itu tengah menarik perhatian gadis-gadis itu ?. luhan rasa, ia lebih tampan dari Kai, tapi kenapa gadis-gadis itu lebih memilih melihat Kai dari pada dirinya ?
Luhan menoleh kearah Kai yang duduk di sebelahnya. Pemuda itu terlihat celingik-celinguk mengedarkan pandangannya ke isi kantin. Cih, tebar pesona
"ah, ya. Ngomong-ngomong, di mana suamimu ? ARRGGHH!" ucapan Kai langsung berubah ringisan kesakitan saat Luhan yang duduk di sebelangnya langsung mencubit dangan kuat pinggang Kai. Astaga ? Kai tau soal ini ?. Luhan menatap Kai dengan mata melotot dan bibir mengatup rapat. Tangannya masih setia di pinggang Kai.
"mwo ?. suami ? aku tidak salah dengarkan ?." tanya Baekhyun. Ia rasa tadi Kai menyebut 'suamimu'. Dan ia yakin, ucapan itu di arahkan pada Luhan. baekhyun dan Lay langsung menatap Luhan meminta penjelasan
"jangan dengarkan dia. Dia hanya bercanda. Iya-kan~ he-he-he~…" Luhan menatap kedua sahabatnya lalu meminta pendapat Kai yang tengah menampakkan raut wajah kesakitan karna Luhan masih mencubiti pinggangnya. Takut-takut Kai mengungkit dan memberitaukan secara frontal pada Baekhyun dan Lay tentang 'suaminya'
.
.
.
.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Luhan POV
Akhirnya, jam pelajaran selesai. Dan hari ini, aku bisa pulang dengan kedua sahabatku. Ahh.. rasanya sudah lama sekali tidak pulang bersama.
"ah, gomawo.." ucapku pada Lay dan Baekhyun yang membantukan memasukan peralatan belajarku ke dalam tas
"Lu. Kai itu… apa dia anak orang kaya ?" hooo ? apa ini ?. aku sedang tidak ingin membicarakan orang menyebalkan itu dan sekarang Baekhyun mengungkitnya. Haisshh…
"Lu. Bagaimana kau bisa punya teman seperti, Kai ? astaga… dia sangat tampan dan.. ohh.. dia sangat sexy kyaaa…"
"dan dia juga sangat baik."
HAH ? apa aku tidak salah dengar ?. dan apa aku tidak salah lihat ? kedua sahabatku ini tengah tersipu membicarakan Kai. astaga, ada apa dengan mereka ?. apa mereka tertarik dengan Kai ?
"Lay, matamu baik-baik saja 'kan ?. Kai ? sexy ? tampan ? hahahaha…. Orang yang tak Nampak saat listrik padam seperti itu kau bilang tampan ?, bagian mananya yang tampan ?. dan…. Orang menjengkelkan seperti itu kau bilang baik, Baekhyun ?."
"mataku baik-baik saja, Lu. Ku rasa matamu yang tidak beres. Hei.. ayolah, kau tidak bisa melihatnya ?. bahkan para gadis dan namja ingin meleleh saat melihatnya." Astaga Lay, kau ini kenapa ?. apa Kai memberi sesuatu pada makananmu di cafetaria tadi ?
"sudahlah, lebih baik kita cepat pulang." Ucapku acuh. Aku tidak mau pembicaraan dengan topik pembahasan utama 'KAI' menjadi panjang
"pulang ?. tidak, bukankah tadi Kang seongsanim memberi tugas ?"
Ah, ya… aku hampir lupa dengan tugas itu.
"bagaimana kalau kita kerjakan di perpustakaan ibu kota ?."
"Ide yang bagus, Lay"
Luhan POV end
.
.
.
.
Luhan, Baekhyun dan Lay tengah berjalan menuju tempat parkir. Mereka akan berangkat menggunakan mobil Lay
Bruummm…
Mereka menghentikan langkah kakinya ketika sebuah motor ninja yang telah di modifikasi, berwarna hitam merah berhenti tepat di hadapan mereka. Raut wajah mereka menampakkan kebingungan memperhatikan si pengendara. Tak lama kemudian, si pengendara membuka helmnya. Menampakkan sosok yang sebelumnya mereka bicarakan di dalam kelas tadi
Luhan memutar bola matanya malas sebelum menghela napas hendak berjalan mendahului kedua sahabatnya. Namun, sebuah telapak tangan menahan lengannya. Refleks Luhan menoleh pada si pemilik telapak tangan
"mau pulang ?." tanya si pemilik telapak tangan—Kai
"bukan urusanmu." Ketus Luhan menghentakkan tangannya hingga melepas telapak Kai yang mencengkram lengannya. Mendapat perlakuan demikuan, Kai hanya mengedikkan bahu dan menyodorkan sebuah helm ke arah Luhan
"akan ku antar, pakailah." Ucap Kai sambil menyodorkan sebuah helm yang sudah ia siapkan
"kau tidak lihat ?. aku akan pulang bersama Lay dan Baekhyun. Kami akan mengerjakan tugas kelompok."
"a-ah… tidak apa, Lu. Kau pulang saja dengan, Kai. biar kami yang mengerjakan tugasnya. Iyakan, Lay ?." Baekhyun menyikut lengan Lay, meminta persetujuan pemuda berdumple itu. Luhan menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Baekhyun
"i-iya…, kau pulang saja dengannya, Lu." Lay mendekati Luhan dan berbisik di telinga Luhan "dan.. mintai juga nomor ponselnya." luhan langsung menjauhkan telinganya dari Lay. Ia menatap tajam Lay dan Baekhyun, sadar ia tengah di manfaatkan kedua sahabatnya itu
"shiroyo! Lakukan sendiri." ucap Luhan menatap Lay "dan ini kerja kelompok. Bukan sendiri-sendiri. Jadi, aku akan pergi bersama kalian." lanjutnya berjalan mendahului BaekKaiLay
Seperginya Luhan. Baekhyun dan Lay langsung meminta maaf pada Kai karna Luhan tak bisa pulang dengannya. Kaipun hanya tersenyum memaklumi lalu meninggalkan halaman parkir
.
.
.
.
Luhan berjalan gontai di trotoar. Kelihatannya ia sangat lelah. Ya, bagaimana tidak…, sepulangnya dari perpustakaan, ia menolak di antar Lay dengan alasan ada yang akan menjemputnya. nyatanya tak ada yang akan menjemputnya. Dan kenyataan yang mengharuskan Luhan berjalan dari perpustakaan seoul ke halte bis sangatlah melelahkan menyadari betapa jauhnya halte itu dari perpustakaan
Luhan yakin, kalau tiap hari ia lalui seperti ini, berbohong, Menghindari dua sahabatnya, demi 'rahasia negara'. mungkin tak lama lagi ia akan tergeletak tak sadarkan diri di pinggir jalan.
Beberapa belas langkah lagi ia akan menginjakkan kakinya di halte bis. Luhan dapat melihat dari tempatnya seorang yang duduk sendirian di halte. Luhanpun tiba dan mendudukkan dirinya berjauhan dengan pemuda yang duduk di sana. Luhan menoleh ke arah pemuda itu yang sepertinya tak menyadari kehadiran Luhan karna sibuk melamun
"ehem…" Luhan berdehem memecah keheningan. Si pemuda tersadar dan menoleh ke arah Luhan. pemuda itu berkedip beberapa kali lalu menggosok matanya pelan, kemudian menatap Luhan lagi. luhan hanya mengerutkan alisnya binggung dengan tingkah pemuda itu
Mereka berdua saling bertatapan, tak lama si pemuda menundukkan wajahnya. Luhan makin mengerutkan alisnya bingung lalu mengalihkan pandangannya ke depan jalan.
"yang tadi. Terimakasih.." ucap Luhan tanpa menoleh pada si pemuda—Kyungsoo.
"ne ?," Kyungsoo menatap Luhan tidak mengerti. Ucapan terimakasih untuk apa..?
"terimakasih sudah coba membantuku. Yahh..Meskipun, sedikit tidak berhasil." Luhan masih menatap lurus ke jalan raya. Kyungsoo nampak berpikir, beberapa detik kemudian ia tersenyum ke arah Luhan. tapi Luhan tak melihat senyum itu
"tidak masalah. Jangan di pikirkan, Kris memang seperti itu." Kyungsoo ikut melihat jalan di depan mereka
"aku tau."
Hanya Angin yang berhembus mengenai kulit dan membuat bunyi dengungan di indera pendengaran mereka dalam keheningan yang tercipta setelah ucapan Luhan. tak ada bis yang lewat ataupun kendaraan lainnya. Hanya ada dua pemuda yang masih terdiam menatap lurus ke jalan raya
"eum… dua minggu lagi. Aku akan mengadakan pesta ulang tahun di rumahku. Bisakah kau datang ?." Kyungsoo memecah heningan yang tercipta beberapa saat lalu. Pemuda itu menatap Luhan yang duduk berjauhan dengannya
"kau memintaku datang ?." Luhan menoleh pada lawan bicaranya. Kyungsoopun tersenyum manis kearah Luhan dan menganggukkan kepala
"aku berharap kau akan datang. Aku akan menunggumu."
"…apa, kau baru saja mengundangku secara spesial ?," Luhan menggangkat sebelah alisnya
"...bisa di bilang seperti itu. aku juga akan mengundang semua orang di sekolah, tapi… aku sangat mengharapkan kau akan datang." Kyungsoo tersenyum lagi sangat manis menatap Luhan
"ah, tentu saja. aku pasti datang. Apa kau menyebut ini sebagai balas budi ?."
"tidak. Aku tidak minta balas budi untuk pertolongan yang tak berguna. Ini…, hanya saja…, eumm..." Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke jalan raya. Sepertinya ia tengah memikirkan alasan lain untuk Luhan
"..haha, baiklah.. aku akan datang. Kau tidak perlu memikirkan alsanya kenapa aku harus datang. Aku 'kan, di undang secara spesial.." tmpal Luhan sedikit bercanda, menyadari Kyungsoo yang tengah sibuk dengan pikirannya. Pemuda yang duduk berjauhan dengannya itu kembali menatapnya dan tersenyum manis
Tin.. tin….
"ah. Jemputanku sudah datang. Kau, mau ku antar ?.". sebuah mobil limosin berwarna hitam sudah terpakir dengan anggungnya di hadapan mereka. Pintu belakang sudah di bukakan oleh seorang pria berjas hitam, menunggu Kyungsoo masuk ke sana. namun, pemuda bermata bulat itu masih berdiri di sana menatap Luhan dengan tawaran yang sebenarnya Luhan ingin menerimanya. Tapi….. kau taukan ?
"…gomawo.., tapi tidak usah, Aku masih ingin di sini." Tolak Luhan secara halus tersenyum kearah Kyungsoo. Sebenarnya Kyungsoo ingin sekali mengantar Luhan, tapi, apa boleh buat ? dia tidak boleh memaksa bukan ?
"eum. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu..err.."
"Luhan. panggil saja Luhan."
"ah, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu, Luhan." ucap Kyungsoo memasuki mobilnya. Namun, ia belum menutup pintu. Seakan-akan dirinya tak ingin pergi dari sana
"ne, hati-hati.." Luhan melambaikan tangannya. Kyungsoo masih belum menutup pintu, ia masih setia di sana dan menatap Luhan. luhan sendiri heran, kenapa Kyungsoo belum mengizinkan orang berjas hitam itu untuk menutup pintunya ?
"..hati-hati.." ucap Luhan lagi dengan kening berkerut
"..eh . eum, Kau juga. Ah, ya jangan lupa. Aku menunggumu." Seakan tersadar dengan acara-mari-menatap-Luhan. Kyungsoo menyamankan dirinya di dalam mobil lalu orang berjas hitam menutup pintu mobil setelah Luhan mengangguki perkataan Kyungsoo dan kembali melambaikan tangannya
"langsung pulang tuan muda ?." supir itu bertanya pada Kyungsoo, mobil sudah berjalan meninggalkan halte
"tidak. Aku ingin ke toko buku dulu."
"baik tuan muda." Ucap supir fokus ke jalan raya
Kyungsoo melihat ke luar. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Detik kemudian bibirnya mengukir seulas senyum yang sangat manis
"Luhan.." gumamnya pelan
.
.
.
5 hari berlalu dan selama 5 hari itu pula menjadi detik-detik yang berat bagi Luhan. Kai, yang selalu membuatnya jengkel. Kedua sahabtnya ikut-ikitan jadi menjengkelkan. Pulang sekolah berjalan kaki ke halte bis yang sangat jauh seusai melakukan aktifitas dengan dua sahabatnya.
hh.. setidaknya satu yang ia syukuri. Lay dan Baekhyun tidak memaksa mengantarnya pulang. Entah apa yang akan Luhan katakan kalau mereka ingin mampir ke ruamh Luhan yang dulu. Rumah yang saat ini sudah di tempati orang lain
sedangkan di rumah, ia jarang bertemu Sehun. Luhan hanya bisa melihat pemuda itu di pagi hari, saat berangkat sekolah. Karna Sehun selalu tak berada di rumah saat ia pulang. Ia selalu jadi yang pertama kali tidur, paginya ia mendapati Sehun sudah memasuki kamar mandi. Seperti dugaan Luhan, tinggal bersama Sehun sama dengan tinggal sendiri. semuanya di kerjakan sendiri. namun, Luhan tetap saja meminta uang pada Sehun
Luhan mengetahui sebuah fakta, Sehun hanya bicara dengannya, Kyungsoo, Kris dan Chanyeol. ia sama sekali tidak bicara pada orang lain selain mereka. Alas an Sehun kenapa memasukannya dalam daftar, tak perlu ia pertanyakan karna mereka memang butuh komunikasi. Merekakan tinggal bersama. Hanya saja, ia heran, kadang Sehun bersikap OOC yang membuatnya seperti bukan Sehun yang Luhan kenal. Apa memang Sehun seperti itu ? entahlah.
Hari ini, tepat di hari sabtu, ibu Luhan datang mengunjungi rumah Luhan dan Sehun. membawa berbagai macam barang dan makanan. Hal ini cukup membuat Luhan kerepotan, apa lagi ibunya berkeliling rumah sambil mengoceh. Membuat keramaian di dalam rumah secara tiba-tiba
"kalian tidak memasak ?." tanya ibu Luhan melihat kompor yang masih sangat baru. Tak pernah di gunakan, begitupun dengan peralatan masak lainnya. Di kulkas juga tak ada bahan pokok untuk di masak
Luhan dan Sehun yang dari tadi mengikuti Sungmin eomma menggeleng membenarkan ucapan sungmin eomma
"ckckck.., lalu ? selama ini kalian makan di luar ?." Luhan dan Sehun mengangguk membenarkan. Sungmin eomma berjalan menghampiri Luhan dan menariknya mendekati kompor. Pemuda bertubuh mungil itu diam dan menurut saja
"kau harus belajar memasak. Kau harus bisa memasakan Sehun sesuatu. Kau itukan seorang istri. Bagaimana mungkin kau tidak bisa memasak. Eomma akan mengajarimu memasak selagi eomma punya waktu di sini. Nah, sekarang kau tanyakan Sehun ingin makan apa." Luhan mendengus kesal mendengar ucapan eommanya.
Memasak ? istri ? haha…. Yang benar saja. dia itukan seorang pria
Tapi, kalau ia tak menuruti eommanya. Wanita paruh baya itu akan semakin mengocehsepanjang hari. Hoohh… Luhan tak mau mendengarnya. Luhanpun menatap Sehun di belakang mereka. Sehun yang mengerti tatapan Luhan hanya mengikuti permainan karna iapun tau. eomma Luhan itu orang yang suka banyak bicara. Sehunpun berjalan mengambil sesuatu di dalam kulkas dan memberikannya pada Luhan
Mie ?
Luhan mengangkat sebelah alisnya menatap Sehun.
"oh, kau ingin spageti ?." sungmin eomma tiba-tiba mengambil mie yang ada di tangan Luhan dan meletakkannya di atas meja. Sehun hanya mengangguk mengiyakan, dan Luhan pikir ia akan di ajari membuat spageti yang menurutnya rumit untuk seorang pemula
Jangan tanya kenapa ada mie dan bahan pokok lainnya di dalam kulkas. Itu semua di bawa sungmin eomma. Tidak tau apakah mereka akan membutuhkan—dapat memanfaatkan—semua bahan makanan itu kedepan atau tidak
Sehun duduk diam memperhatikan ibu dan anak yang sibuk memasak itu. dapat di lihatnya Luhan yang benar-benar tidak bisa mengerjakan apapun. semua yang ia kerjakan tak ada yang beres. Sehun hanya berharap ia tidak akan sakit perut karna memakan hasil eksperimen Luhan
.
.
.
Malampun tiba, Dan Luhan tau, ibunya datang bukan tanpa alasan. Wanita paruh baya itu menginginkan sesuatu. itu terbukti saat ini
"pakai ini."
"mwo?!."
"ck. Tidak usah banyak bertanya. Cepat masuk dan ganti bajumu dengan ini."
Dengan tidak berperasaan, Sungmin eomma mendorong putranya masuk ke kamar mandi. sebelumnya sungmin eomma sudah memberi Luhan sebuah dres yang harus di kenakannya
Sehun dan sungmin eomma berada di dalam kamar melakukan kegiatan mereka masing-masing. Sehun yang tengah memasang jasnya dan sungmin eomma yang tengah merapikan meja rias
Luhan ? jangan tanya. Ia hanya memperhatikan dres itu dengan pandangan jijik. Hei ? yang benar saja, ia seorang pria. Tidak mungkin memakai dres. Eommanya benat-benar sudah gila
"Lu, sudah selesai ?." suara sungmin eomma terdengar di luar sana. Luhan mendengus kesal. Ia benar-benar jengkel sekarang. Tidak, ia tidak mau mengenakan dres itu. Luhan keluar dengan wajah jengkel menatap eommanya
"hei ? kenapa kau tidak memakainya ?. eomma menyuruhmu memakainya, bukan ?." sungmin eomma memutar badan putranya, mendapati putranya itu belum mengenakan dres yang ia berikan
"eomma. Aku ini namja, tidak mungkin memakai dres. Eomma tidak malu anak eomma terlihat seperti lady boy ?." Luhan menyodorkan dres itu ke arah sungmin eomma, lalu ia menatap Sehun
"lagi pula. Kenapa aku tidak menggunakan tuxedo seperti Sehun ?. atau, kenapa bukan Sehun saja yang memakai dres itu ? dan aku yang memakai tuxedonya." Perkataan Luhan membuat Sehun mendongakkan kepalanya yang tengah berkutat dengan smartphone duduk di pinggiran ranjang
"tidak sayang. Di sini kau yang menjadi seorang istri. Sehun juga tidak akan cocok memakai dresnya, badannya tidak akan muat dengan dres ini. Jadi, kau yang harus menggunakan dres ini. Lagi pula, ini juga sebagai penyamaran. Kau tidak mau teman-teman sekolahmu tau soal kalian bukan ?." sungmin eomma membelai lembut rambut Luhan
"penyamaran ?. jadi, acara yang akan kita hadiri, akan di hadiri juga murid-murid DO-IHS ?."
"ne~. mungkin mereka akan ikut dengan orang tua mereka. nah, sekarang masuk dan kenakan ini." sungmin eomma kembali menyodorkan dres itu pada Luhan dan mendorong Luhan masuk ke kamar mandi
", Sehun. sebaiknya kau siapkan saja mobil di bawah sana. Atau, kau ingin melakukan sesuatu mungkin ?" sebenarnya Sungmin eomma meminta Sehun keluar kamar. Tapi, dengan secara tidak langsung. Sehunpun beranjak dari duduknya dan pergi keluar kamar
.
.
.
Sehun POV
Sungmin eomma itu sangat cerewet dan berisik. Kalau tidak di turuti, aku yakin telingaku akan berdengung. Lagi pula, apa yang akan ibu dan anak itu lakukan sampai menyuruhku keluar dari sana. Yah, walaupun sungmin eomma menyuruhku secara tidak langsung. Tapi, aku tau ia menyuruhku keluar. Dan ini sudah 1 jam aku duduk di depan TV menunggu mereka
Jujur saja aku malas sekali menghadiri acara perusahaan seperti ini. kalau saja eomma dan appa di sini. Aku jadinyakan tidak perlu menghadiri acara membosankan itu
Tap…
"eomma… tak bisakan aku menggunakan sepatu saja ?."
"ck. Kau akan terbiasa chagi~"
Sepertinya mereka sudah keluar. Aku segera mengalihkan pandanganku ke sumber suara.
HAH ?
Aku tak tau bagaiaman mata ini tak bisa menutup untuk sekedar berkedip. jujur saja aku ragu dengan penglihatanku saat ini. ingin rasanya aku menggosok mata dengan tanganku. Tapi, entah kenapa aku tak bisa bergerak atau sedikit mengalihkan pandanganku dari objek yang saat ini bersusah payah menuruni tangga
Jika kalian ingin bertanya bagaiaman raut wajahku saat ini. tak ada yang istimewa. aku selalu bisa menyembunyikan semua emosiku di balik ekspresi datarku, sehingga tak seorangpun tau apa yang aku rasakan saat ini. namun sejujurnya aku terkejut, tak percaya, kagum, arrgghh.. aku tak tau harus mendeskripsikannya bagaimana.
Lihatlah, apa itu Luhan ?. hah… aku tidak yakin, tapi… nyatanya itu benar-benar Luhan. melihatnya seperti itu membuatku ragu. Benarkah aku menikah dengan seorang namja ?. bagaimana bisa seorang namja memiliki kulit mulus tanpa bulu seperti itu, lekukan tubuhnya benar-benar tak menampakkan ia seorang namja, tidak ada urat atau otot, kulitnya juga putih, bersih dan bening. Dan wiek sepunggung yang ia gunakan menambah kesan cantiknya saat ini
Cantik ?. apa baru saja aku menyebutnya cantik ?.. okey, baiklah.. aku akui saat ini ia memang benar-benar cantik. Lebih cantik dari seorang yeoja. Dan karna kecantikkannya itu membuatku tanpa sadar terlihat bodoh di depan ibu dan anak ini. bagaimana tidak, Luhan sudah berada di hadapanku menyuruhku agar segera berangkat tapi aku masih terpaku di tempat memandanginya yang begitu indah
.
.
.
Oh Tuhan, Aku benar-benar tidak bisa konsentrasi. lihatlah yeoja, ani, namja yeppo di sebelahku ini. hah… entah sudah keberapa kali aku bilang kalau aku benar-benar mereagukan kalau dia itu namja
Caranya duduk di sana benar-benar sopan seperti yeoja. Ia duduk merapatkan kakinya. Lalu menutupi paha mulusnya yang sedikit terekpos dengan kedua telapak tangannya. Kalau di perhatikan, telapak tangannya itu sangat kecil, dan… astaga.. kenapa aku baru menyadari jari lentik itu ?. saat memasangkan cincin pernikahan aku sama sekali tak memperhatikkannya. Ini menambah keraguanku kalau dia seorang namja
Glek…
Ya Tuhan… tolong alihkan perhatianku ke jalanan. Kalau seperti ini terus, aku bisa menabrakkan mobil ini dengan mobil yang berlalu lalang di depan kami, atau mungkin memasukkan mobil ini ke dalam toko. Apa sungmin eomma mengerjaiku dengan memakaikannya pakaian yang sengaja mengekpos bahu mulus nan putih itu ?
Tidak. Aku harus meluruskan pikiranku dulu. Kalau seperti ini terus kami bisa celaka
Aku memutar mobilku menepikannya di pinggir jalan. Dapat kulihat ia menatapku meminta penjelasan. Aku tak perduli, aku tak boleh melihatnya, tak boleh menatapnya atau pikiranku benar-benar akan di kacaukan olehnya. Aku tau dia itu namja normal, namja yang menyukai seorang yeoja, bukan menyukai namja sepertiku. Kalau aku ?, aku hanya menykai hidupku. Yeoja atau namja tidak masalah. Aku tak terlalu memikirkannya
Taukah kalian ?. aku tau sesuatu yang ia sembunyikan selama ini, ia mempunyai seorang yeoja. Memang aku tak mengetahui namanya, tapi aku tau ia belum mengakhiri hubungannya dengan yeoja yang kata Kyuhyun appa adalah yeojachigunya. Waktu itu aku mendengarnya bicara lewat telpon dengan yeoja itu, jangan pikir aku tak mengetahuinya. Aku mendengarnya dari awal, hanya saja aku berpura-pura tidak tau
Lagi pula. Seperti ini menyenangkan. Tak ada keinginan ikut campur urusan masing-masing. Meski sudah menikah, aku masih menginginkan kebebasan, aku rasa iapun sama. aku tidak menyesal menikah dengannya karna aku tetap bisa menikmati hidup dan kebebasanku
"kenapa kita berhenti di sini ?." tanyanya menatapku bingung. Aku menghembuskan nafas berat membuka pintu mobil dan keluar. Aku harus menenangkan pikiranku. Aku berkata hanya menyukai hidupku. Tapi, tetap saja melihat pemandangan seperti itu di hadapan mata, bukan berarti aku tak akan tergoda. hei, bagaimanapun aku memiliki kebutuhan yang harus di penuhi
Aku bersandar di pintu mobil dan mengeluarkan smartphoneku. Aku harus menghubungi Chanyeol. dan sialnya menghubungi orang itu benar-benar tidak membantu. Ia malah menambah masalah di otakku. Kyungsoo tidak mungkin, kalian tau. ia memang terlihat polos, baik dan lugu. Tapi, jika kalian mengenalnya ia sangat jauh dari kata itu. Kris… tidak, bisa-bisa aku di olok-olok olehnya besok. aisshh… aku harus bagaimana ?
Ku lihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku. Ck, terdesak karna aku terlalu lama di sini. Akupun segera masuk ke mobil dan menjalankannya ke tempat tujuan kami. Ku lirik sedikit ia yang duduk di sebelahku tengah memainkan smartphonenya. Aku menjalankan mobilku dengan kecepatan di atas rata-rata, coba mengalihkan perhatianku darinya. Aku tau ia menatapku saat ini, tapi… aku coba tak memperdulikannya. Aku tidak yakin akan bisa berfikir dengan benar jika aku menatapnya lagi
Sehun POV end
.
.
.
Mobil Luhan dan Sehun sampai di tempat tujuan. Mereka berhenti tepat di teras pintu utama. Dua orang pelayan langsung berlari menghampiri mobil Sehun dan membukakan pintu mobil. Mempersilahkan Sehun dan Luhan keluar dan memasuki gedung. Sehun sudah berjalan hendak memasuki gedung, namun ia urungkan niatnya melihat Luhan yang tak berniat sedikitpun untuk keluar dari mobil. Sehun menghampiri Luhan dan mengulurkan tangannya ke arah Luhan. tapi, Luhan hanya menatap tangan Sehun dengan raut wajah cemberut. Ia sangat ragu memasuki gedung dengan pakaian seperti itu
Tak mendapat respon. Sehun menarik tangan Luhan agar pemuda itu segera keluar dari mobilnya
"YA!" protes Luhan saat dirinya sudah tak berada di dalam mobil lagi. mobil Sehun di bawa seorang pelayan ke tempat parkir yang sudah tersedia. Luhan menggerutu sambil menarik-narik ujung dressnya menutupi bagian pahanya yang terekpos
Sehun yang melihat itu segera menarik tangan Luhan dan menggandengnya memasuki gedung.. Sehun berjalan dengan pelan, menyeimbangi cara jalan Luhan yang tersiksa dengan highheelsnya (benar gak sih ?). Luhan merapatkan dirinya pada Sehun, berjalan dengan sangat hati-hati agar tak terjatuh dan mempermalukan diri sendiri. Dapat di rasanya Sehun menggandeng tangnnya dengan erat
Saat memasuki ruangan. Beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka. Luhan hanya mengikuti ke mana Sehun pergi sambil menunduk. Sehun masih menggandengnya dan itu sangat membantu, baik dari berjalan atau menyembunyikan wajahnya. Astaga…. Ini benar-benar memalukan
Sehun langsung menghampiri pemilik pesta dan mengucapkan selamat. Hanya selamat yang keluar dari bibirnya. Selanjutnya, si pemilik pesta mengajaknya bercakap-cakap. Tapi, Sehun hanya mengangguk atau menggeleng. Si pemilik pestapun tau bagaimana cara bicara dengan Sehun yang hanya menjawab 'ya' atau 'tidak' dengan anggukkan atau gelengan
Luhan sedikit mengintip sekitar mereka. Ternyata benar, di sini banyak murid sekolahnya. Bersama orang tua, pasangan, atau mungkin sendiri. tak bisa ia bayangkan seandainya wig yang di kenakannya tiba-tiba lepas. aisshh… jangan sampai hal memalukan itu terjadi. Meskipun tak banyak yang mengenalnya, tapi di sini juga banyak teman-teman sekelasnya. Dapat di lihatnya kebanyakan murid DO-IHS tengah melihat ke arah Sehun, dan itu otomatis juga mengarah padanya. Ia juga dapat mendengar si pemilik pesta yang suah paruh baya itu membicarakan dirinya dengan Sehun. si pemilik pesta menyebutnya cantik. Dan Luhan paling benci orang yang mengatainya cantik.
Ingin sekali Luhan berteriak bahwa ia tidak cantik tapi tampan. Dan dia itu namja bukan yeoja. namun situasi benar-benar tak menguntungkan. Membuatnya hanya bisa menunduk menyembunyikkan wajahnya di balik wig yang ia kenakan
"Yoow. Oh Sehun!…"
Beberapa orang menghampiri mereka dan pemilik pesta. Luhan mengintip lagi melihat siapa di sana. O-ow… itu Kris dan Chanyeol. cepat Luhan menunduk kembali dan mengeratkan pegangganya ke lengan Sehun. di rasanya Sehun juga mengeratkan peganggannya di lengan Luhan
Kris dan Chanyeol sudah berada di hadapan Sehun dan menepuk bahu Sehun. Si pemilik pesta langsung meninggalkan para pemuda itu
"kenapa tidak bilang kau akan datang ?." Chanyeol meletakkan tangan kanannya di pinggang seorang wanita yang berada di sebelahnya
"apa perlu." Jawab Sehun datar
"tidak, hanya… ini seperti kejutan. Dan… apa ini alasanmu menelponku tadi ?" tanya Chanyeol menatap Luhan. luhan yang tak mengerti sama sekali tak ada niat mendonggakkan kepalanya. Ia dapat merasakan tatapan intimidasi dari pemuda yang tak ikut dalam percakapan itu—Kris
"bukan." Jawab Sehun melepas gandengannya di lengan Luhan dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Luhan. menarik pemuda yang berpenampilan layaknya yeoja itu merapat ke tubuhnya. Sehun rupanya menyadari Kris yang dari tadi menatap Luhan. Sehun menatap Kris, seolah menyuruh pemuda blasteran itu agar jangan menatap Luhan
Chanyeol yang melihat itu hanya mengerutkan alis. Dan… hei ? siapa gadis yang bersama Sehun ini ?. tumben sekali Sehun membawa seorang gadis, dan mereka terlihat dekat
Kris mengalihkan pandangannya ke arah Sehun, mengerti dengan tingkah Sehun yang memeluk pinggang Luhan posesif.
"kau tidak pernah bilang kalau kau berkencan." Kris kembali menatap Luhan dengan satu alis terangkat
"apa harus ?." jawab Sehun mengubah posisi Luhan ke sebelah kirinya dan melingkarkan tangan kirinya di pinggang Luhan, merapatkan namja itu ke tubuhnya. Chanyeol kembali mengerutkan alisnya, Sehun benar-benar terlihat posesif. bukan apa, Sehun tau saat ini Luhan sangat panik, ia pasti sangat takut ketahuan. Dan ia tak mau terjadi hal memalukan di sini
"hei…, kau kenapa ?. kami tak akan merebutnya darimu. Haha…" Chanyeol sedikit menepuk bahu Sehun. sehun tak menanggapinya dan masih menatap Kris yang dari tadi tatapannya tak lepas dari Luhan
Tap…
Kris berjalan mendekati Luhan. sekarang ia tepat berada di hadapan Luhan. pemuda bertubuh mungil itu makin menundukank kepalanya mencengkram tuxedo Sehun dengan , Luhan ingin bumi menelannya hidup-hidup.
Tap… tap….
Kris berjalan mengitari Luhan dan Sehun. menatap Luhan dari ujung ke ujung sambil membuat raur wajah yang sulit di artikan. Lalu ia kembali berhenti di hadapan Luhan dan menatap Sehun. Kris kembali menatap Luhan
"..uuuww… kau dapat dari mana yeoja cantik ini..? ckckck… tidak ku sangka kau pintar memilih, Sehun." Kris melipat dua tangannya di depan dada. Sehun tak menjawab, ia makin merapatkan Luhan ke tubuhnya. Kris mengangkat sebelah sudut bibirnya menatap Sehun yang terlihat begitu tidak menyukai Kris saat ini
Kris mengulurkan tangannya menarik dagu Luhan agar ia bisa melihat wajah Luhan. Luhan mendongak sekilas namun kembali menunduk saat Sehun menariknya ke belakang dan melepaskan genggaman Kris di dagunya
"..whow… tenanglah Oh Sehun. aku hanya ingin melihat wajahnya. Dan… noona, sepertinya aku pernah melihatmu."
.
.
.
.
To Be Countinue
A/N : okey readers, gimana ?, bahasanya masih kaku yah ?. hehe… gak apa kalau gak suka. Sebelumnya Ell mau ngucapin terimakasih yang sebesar-besarnya buat readers yang udah bersedia mau baca, lewat, mampir atau ngelirik doing FF geje ini.
Sayonara…
