DIFFICULT STRING
4
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
.
.
.
…
Preview…
.
"..uuuww… kau dapat dari mana yeoja cantik ini..? ckckck… tidak ku sangka kau pintar memilih, Sehun." Kris melipat dua tangannya di depan dada. Sehun tak menjawab, ia makin merapatkan Luhan ke tubuhnya. Kris mengangkat sebelah sudut bibirnya menatap Sehun yang terlihat begitu tidak menyukai Kris saat ini
Kris mengulurkan tangannya menarik dagu Luhan agar ia bisa melihat wajah Luhan. Luhan mendongak sekilas namun kembali menunduk saat Sehun menariknya ke belakang dan melepaskan genggaman Kris di dagunya
"..whow… tenanglah Oh Sehun. aku hanya ingin melihat wajahnya. Dan… noona, sepertinya aku pernah melihatmu."
.
.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
.
.
" hanya perasaanmu saja, Kris." setelah mengatakannya Sehun menarik Luhan meninggalkan kedua pemuda jangkung itu. ia tak mau berlama-lama dengan tatapan intimidasi dari Kris
"aku penasaran, kenapa tiba-tiba ia tertarik menjalin hubungan." Tutur Kris
"..eum…Mungkin itu gadis bayaran untuk menemaninnya ke sini." Yeoja yang bersama Chanyeol—Park Yejin—mengemukakan pendapat. Chanyeol langsung menatap yeojanya yang sekaligus adik kandungnya itu
"kalau benar yeoja bayaran. Kenapa dia mau bicara saat ada yeoja itu ?. dan kau lihat sendiri bukan bagaimana sikap Sehun terhadap yeoja itu ?. dia bahkan tak mengizinkan Kris menatapnya lebih lama." Chanyeol mematahkan pendapat Yejin
"tapi, rasanya aku pernah melihat gadis itu!. tapi di mana ?." monolog Kris pada diri sendiri
.
.
.
"menurutmu. Apa Kris mengenaliku ?." Luhan menatap Sehun yang duduk do jok pengemudi. Ia terus memikirkan bagaimana jika Kris mengenalinya. Insiden di sekolah yang terjadi antara dirinya dan Kris cukup membuat pemuda jangkung blasteran itu mungkin saja mengenalinya. yah, meskipun menurut Luhan penglihatan Kris sedikit bermasalah karna sempat-sempatnya pemuda itu bertanya Luhan seorang yeoja atau namja
"jangan di pikirkan."
Luhan memandang keluar. Matanya menelusuri apa saja yang mereka lewati. Pemuda bertubuh mungil itu masih duduk dengan sopan menarik-narik ujung dresnya, berusaha menutupi bagian pahanya yang terbuka. Sehun ? jangan tanya, ia masih seperti saat mereka pergi. Dan saat ini ia berusaha keras mengalihkan perhatiannya ke jalanan
.
.
.
"kau memakan semua spagetinya ?." tanya Luhan pada Sehun yang sudah tidur terlantang di atas ranjang setelah mengganti pakaiannya. Begitupun dengan Luhan, pemuda itu sudah mengganti pakaian memalukan miliknya dengan yang lebih pantas untuk seorang pria. Rumah sudah kembali tenang, sungmin eomma sudah kembali ke China tepat saat Luhan dan Sehun berangkat ke acara membosankan tadi
"hmm.." hanya gumamman sebagi jawaban. Luhan mendekati Sehun dan duduk di pinggir ranjang
"aku lapar." Luhan mengadu sambil memegangi perutnya yang kelaparan. Siapa suru tadi kalian buru-buru. Kalau saat ini kalian masih di acara membosankan itu. mungkin Luhan sedang makan sepuasnya di sana
Sehun tak menjawab atau membuka matanya. Ia masih setia dengan posisinya terlantang di atas ranjang
"..Sehun.." panggil Luhan lagi
"berikan aku uang.." masih tak ada respon, Luhan menggoyang-goyang lengan Sehun. sepertinya pemuda itu sudah terlelap karna napasnya yang teratur. Luhan menyerah, ia beranjak dari sana dan keluar kamar. Ia pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan. Hanya ada es krim dan cemilan. Sisanya bahan pokok yang ia tak tau cara memasaknya
Luhanpun mengambil semangkuk es krim guna mengalihkan rasa laparnya. Luhan merasa bosan dengan keadaan yang begitu sunyi. Ia merogoh kantong celanannya dan mengeluarkan benda persegi empat, mengotak atik lalu menempelkannya di telinga
"Chagiya~"
.
.
.
Setelah meminta uang jajannya pada Sehun. luhan keluar rumah terburu-buru. Ia harus cepat sampai di sekolah dan berlatih dengan teman-temannya untuk presentasi kelompok mereka.
Saat mengunci pintu dan membalikkan badannya menghadap jalan. Ia di kejutkan dengan pemandangan yang tersaji. seorang yang sangat menyebalkan duduk di atas motor, melambai dan tersenyum cerah pada Luhan. pemuda berambut cokelat terang itu sendiri masih mematung di tempat dengan mata lebar dan mulut menganga
Kai ?
Bagaimana bisa ia tau Luhan tinggal di sini ?. astaga, bagaimana kalau Kai melihat Sehun ?
Orang yang selalu ingin tau dan ikut campur sepertinya tentu saja. alamt Luhan bukanlah masalah. Lalu, bagaimana dengan Sehun ? apa Kai mengetahuinya ?
Luhan tersadar dan berlari dengan cepat kea rah pemuda berkulit eksotis itu saat si pemuda meneriaki namanya, sadar bahwa Luhan melamun.
"s-sedang apa kau di sini, eoh ?. ba-bagaimana kau bisa tau rumahku?." Luhan berbicara, sesekali kepalanua menoleh ke belakang. Takut, kalau kalau Sehun menampakkan dirinya di hadapan Kai, hahh… Luhan tak mau Kai melihat Sehun, bisa terbongkar semua rahasianya. kai tak menjawab dan terus melihat rumah Luhan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seperti memikirkan sesuatu
"YA!" kesal di abaikan, Luhan berteriak di depan wajah Kai dan menghalangi penglihatan pemuda berkulit tan itu
"menurutmu ?. ah, ya. Apa suamimu ada di dalam ?, boleh aku bertamu ?.." Kai hendak turun dari motornya. Tapi Luhan mencegah Kai dengan naik ke motornya dan memeluk erat pemuda berkulit tan itu dari belakang
"aku ada presentasi. Bisakah kau mengantarku ?, aku harus segera tiba dan berlatih dengan kelompokku." Luhan coba mengalihkan perhatian pemuda itu. . Ia berdoa agar Kai tak nekat turun dan mengetuk pintu rumahnya. Kai yang menyadari Luhan naik ke motor dan memeluknya erat langsung saja tersenyum bahagia
"ne. KAJJA~" ucap Kai dengan semangat yang berlebihan. ia memakai helmnya dan memacu motor melintasi jalan menuju sekolah mereka. Tanpa mereka sadari, seseorang yang dari tadi melihat mereka di balik kaca rumah mengerutkan alis, penasaran dengan pemuda yang membawa pergi istrinya
.
.
.
" bisakah kau berhenti mengikutiku ?" sinis Luhan menatap Kai. sekarang jam istirahat dan Luhan langsung di tinggal dua sahabatnya saat Kai mendatangi kelasnya. Baekhyun dan Lay meyakini Luhan punya hubungan spesial dengan Kai, karna mereka terlihat akrab. Begitupun beberapa orang di sekolah
" kau tidak suka ?."
"masih bertanya ?. kau membuatku terlihat seperti pria gay!." Ucap Luhan terus berjalan dengan Kai mengikutinya. Jujur saja, ia risih dengan semua orang yang ia lewatinya memandangi mereka. Kedatangan Kai benar-benar mengganggu ketenangannya. Ia juga mulai mendapat teror akhir-akhir ini dari fansnya Kai. pemuda itu mempunyai fans yang cukup banyak meski baru beberapa hari ia bersekolah di sini. Dan Luhan benci beberapa orang mulai suka menguntitnya, mencaritau siapa dirinya. Untung saja ia pintar melarikan diri
"ya..ya.. aku tau kau itu normal. Tapi, aku tidak yakin ada yeoja yang mau menjadi yeojachigu dari namja yang bahkan lebih cantik dari yeoja itu sendiri. lagipula kalau kau normal, kenapa kau menikahi seorang namja ?" langkah Luhan berhenti dan membalik tubuhnya menghadap Kai. mereka berada di koridor tepat di depan perpustakaan. Kai ikut berhenti menatap Luhan yang saat ini mengepalkan kedua tangannya
"o-ow…" sadar apa yang baru saja ia ucapkan, kai segera membuat bentuk peace dengan jari telunjuk dan tengahnya di depan wajah Luhan. tak lupa cengiran lebar di wajahnya. namun tanda perdamaian Kai tidak berguna, Luhan hendak mematahkan kedua jari Kai di depan wajahnya itu kalau saja smartphonenya tidak berbunyi
-kau di mana ?. cepat kemari jika urusanmu dengan Kai sudah selesai. Aku dan Lay di cafetaria lantai 2. Kita harus berlatih lagi, jam masuk berikutnya giliran kita—
Baekhyun
Setelah membaca pesan dari Baekhyun. Luhan berjalan meninggalkan Kai, namun pemuda itu tetap dengan rutinitasnya mengekori Luhan. hanya saja kali ini Luhan tak perduli lagi
.
.
.
"aishh…. Bagaimana ini ?."
"ck, kenapa bisa tidak ada ?. apa ketinggalan di kelas ?. "
Luhan membongkar-bongkar isi tasnya mencari falshdisk berisi tugas presentasi yang sudah di bahas oleh mereka. Hanya saja, sepertinya flash itu tidak ada. Kedua sahabatnya ikut mencari namun nihil. Kai yang duduk di sana hanya diam mengamati mereka
"kalian tunggu sebentar. Aku akan ke kelas mencarinya." Ucap Luhan berlari meninggalkan Lay dan Baekhyun, sedangkan Kai ? pemuda itu kembali menjadi ekornya.
Sesampainya di kelas. flashdisk yang terdapat tugas presentasi itu terletak di atas meja Luhan. untung saja tak ada yang menyentuhnya. Luhan segera berlari keluar kelas hendak menuju cafetaria namun, tiba-tiba ia merasa ada yang tidak beres dengan perutnya. Ia berhenti dan menumpukan berat badannya di dinding. Di lihatnya Kai juga ikut berhenti
"kau kenapa ?." tanya Kai heran melihat Luhan memegangi perutnya sambil bersandar di dinding
"sshhh… perutku tia-tiba sakit. Mungkin, aku terlalu banyak makan es krim."
".. kalau begitu kau ku antar ke uks. Kajja.." ujar Kai hendak memapah Luhan namun Luhan menolaknya
"..shh.. aku bisa pergi sendiri. sebaiknya kau antarkan saja flashdisk ini pada Lay dan Baekhyun. Aku akan ke uks sendiri." ucap Luhan berjalan ke uks setelah memberikan sebuah falashdisk pada Kai. Kai hanya menatap kepergian Luhan hingga pemuda itu mengilang di balik belokan koridor. Kai langsung berjalan ke cafetaria mengantarkan flashdisk yang di butuhkan dua sahabat Luhan
.
.
.
Luhan tidur dengan posisi menyamping, menekuk kaki sambil memegangi dan menekan perutnya yang sakit. Ia terus meringis, tak ada yang bisa ia lakukan karna perawat di sana sedang keluar. Luhan terus meringis kesakitan hingga pintu terbuka dan terdengar suara langkah kaki memasuki ruang Uks. Luhan yakin itu pasti, Kai.
Numun Luhan sedikit heran karna Kai yang biasanya berisik dan langsung menghampirinya diam saja di sana. apa itu bukan Kai ?. namun, ia tak tertarik atau berniat membalik posisinya sekedal melihat ke arah pintu. Melihat siapa di sana
Tap…
Krriieeett..
Luhan mendengar lemari obat terbuka. Dan luhan yakin, orang itu tengah mengambil obat. Luhan terlalu sibuk dengan rasa sakitnya, ia tak perduli siapa di sana. Kalaupun itu perawat, ia harap perawat itu segera memberinya obat agar rasa sakitnya hilang. Namun, ia kembali mendengar orang itu melangkah, tapi bukan ke arahnya. selanjutnya ia mendengar suara kursi yang di putar. Luhan tau itu bukan perawat, mungkin seorang murid yang juga butuh berobat
Shhh…hahhh…
Luhan kembali meringis menekan perutnya. Dan sekarang rasanya bukan hanya perut yang sakit tapi ia juga mulai merasa kedinginan. ia makin menekuk kakinya. Waktu terus berlalu, tak terasa bel pergantian jam sudah berbunyi. Dan setelah ini Luhan harus meminta maaf pada kedua sahabatnya karna tak bisa ikut berpartisipasi dalam presentasi. Padahal, mereka sudah mengatur tugas masing-masing. Namun, sepertinya kedua sahabatnya itu harus bekerja lebih keras membagi tugas
Shhh… ughh…
Luhan kembali meringis merasakan sakit
Tap…
Luhan mendengar suara langkah kaki itu lagi. namun, kali ini mendekatinya. Mungkin suara ringisannya cukup mengganggu
" m-maaf jika aku mengganggumu hhh..shhh.." ucap Luhan masih membelakangi orang itu yang kini tepat berada di samping ranjangnya
"kau kenapa. kau baik-baik saja ?."
Dheg…
Luhan kenal suara itu. tak lupa nada bicara yang datar. Apa, orang yang sedari tadi berada di sana selain Luhan adalah, Sehun ?
Puk…
Penasaran. Sehun menyentuh bahu Luhan dan membalik tubuh pemuda yang tengah kesakitan itu menghadapnya. Dapat di lihatnya Luhan memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya yang bergetar menahan sakit di perutnya. Sehun langsung meletakkan punggung tangannya di dahi Luhan. Ia pasti kedinginan karna suhu tubuhnya sangat panas.
"k-kau sudah makan ?." Tanya Sehun dengan nada datar. Ia melihat Luhan terus menekan perutnya. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Ia tak pernah menangani orang sakit. Luhan menjawab pertanyaan Sehun dengan ringisan yang tak di mengerti Sehun
Tak tau harus berbuat apa. Sehun menarik tangan Luhan dan menggenggam jarinya erat-erat, coba memberi kekuatan dari sana. Tapi, hal itu seakan tak berguna karna Luhan terus meringis kesakitan. Lama kelamaan Luhan tak hanya meringis, tapi dia juga bergetar.
Apa sangat sakit ?
Apa dia sangat kedinginan ?
Cklek…
Sehun menoleh kea rah seseorang yang baru saja memasuki ruangan. orang itu menghampiri Luhan tergesa-gesa yang berbaring di ranjang. Dan tidak tau siapa dengan siapa. Orang itu langsung menggeser posisi Sehun dan berganti ia yang menggenggam tangan Luhan
"Luhan… Lulu… kau mendengarku ?." orang itu terlihat sangat panik. sehun yakin, dia adalah pemuda yang di lihatnya tadi pagi di depan rumah bersama Luhan. entah kenapa tiba-tiba Sehun merasa marah dan tidak suka dengan keberadaan pemuda berkulit tan itu. ia menatap tajam si pemuda—Kai, bahkan tatapannya lebih tajam dari biasanya. Namun hal itu tak di sadari oleh Kai karna Kai tengah fokus pada Luhan
Luhan tak bicara. Ia hanya terus meringis dengan nafas dan bibir bergetar.
"astaga. Badannya panas sekali." Ujar Kai setelah memeriksa suhu tubuh Luhan
"ia harus di bawa pulang. Ck." Monolog Kai lagi. ia ingin membawa Luhan pulang. Tapi, tidak mungkin ia membawa Luhan dengan motor. ia butuh mobil. Saat Kai memikirkannya, ia baru menyadari keberadaan Sehun di sana. Kai sedikit mengerutkan alisnya,
Kenapa si es kutub ada di sini ?. kenapa bisa bersama Luhan ?
Tapi, bukan itu yang penting saat ini ia tanyakan
"apa kau bawa mobil ?. bisa kau antarkan dia pulang ?."
Kai bertanya, bahkan tak perduli dengan tatapan Sehun yang seakan ingin membunuhnya saat itu juga. Sehun yang merasa di arahkan atas pertanyaan itu menatap Luhan dan mengangguk. Tanpa basa basi Kai langsung menggendong tubuh Luhan dan membawanya keluar uks menuju parkiran di ikuti oleh Sehun di belakangnya
Sungguh. Sehun ingin sekali mengambil alih menggendong Luhan. ia tak tau kenapa ia merasa marah terhadap Kai.
hei ? Luhan itu istrinya meskipun ia tak mencintainya. Tapi, melihat istrimu di gendongan orang lain,,,, bagaimana perasaanmu ?
Untung saja koridor sedang sepi. saat ini jam belajar tengah berlangsung. Jadi, mereka bisa berlari dengan leluasa dan tak perlu menabrak orang yang sedang lewat. Suara langkah kaki mereka tak akan terdengar di dalam kelas. Karna setiap ruangan kedap suara
" di mana mobilmu ?." tanya Kai saat mereka sudah berada di area parkir. Sehun langsung berjalan mendahuluinya menuju mobil dan membukakan pintu belakang. Kai langsung membaringkan Luhan di sana hendak masuk juga ke sana namun Sehun langsung menarik kerah belakang Kai
"hei…?!" seru Kai saat ia berhadapan dengan Sehun. Sehun masih dengan tatapan tajamnya menutup pintu mobil belakang. Kai mengerutkan alisnya
"Apa yang kau lakukan, eoh ? aku harus membawanya pulang. kenapa kau menutup pintunya ?." Sehun menulikan telinga dan duduk begitu saja di jok pengemudi. Kai dengan seenaknya membuka pintu mobil di sebelah jok pengemudi dan masuk kedalam
Sehun menatapnya seperti biasa. Namun, kali ini Kai juga menatap Sehun tak kalah tajam dengan tatapan pemuda berkulit white milk itu
"..cih!, siapa kau seenaknya ingin membawa Luhan dan menatapku seperti itu, eoh ?!. aku tau kau berkuasa di sekolah ini, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya membawanya. Apa kau tau rumahnya ? cih!, aku yakin kenal saja tidak ?. kau tau merawatnya ? oh, atau kau ingin membawanya ke rumah sakit ?. asal kau tau saja, dia tidak suka rumah sakit!. Bisa-bisa bukannya sembuh, ia malah tertekan."
Kau tau merawatnya ?
Satu kata itu mendorong Sehun untuk tak membalas ucapan Kai. ia langsung memalingkan wajahnya ke depan fokus ke jalannan. Kai sendiri menoleh ke belakang. Tangannya menggenggam tangan Luhan yang dingin. Mereka berdua tidak mendengar ringisan Luhan karna pemuda itu tengah tertidur.
"di pertigaan kau harus belok ki—" Kai tak meneruskan ucapannya karna Sehun sudah lebih dulu memutar mobilnya ke kiri sebelum Kai memberitaunya
"Kau tau rumahnya ?."
Tak ada jawaban. Kai hanya mengedikkan bahu kembali menatap Luhan. jujr saja Sehun ingin menendang dan melayangkan tinju ke wajahnya Kai saat ini juga. Orang itu benar-benar berisik dan seenaknya. Kai menatap Sehun curiga saat mereka sudah sampai di depan rumah yang tadi pagi di datangi Kai. Belum lagi, Sehun yang bisa mengendalikan sandi gerbang rumah itu dari dalam mobilnya
Sehun keluar di susul oleh Kai dengan tanda tanya besar di kepalanya. Sehun langsung membuka pintu mobil belakang dan menggendong Luhan karna Kai masih bengong di sana. Sehun tak perduli kalau nanti Kai tau hubungannya dan Luhan. Ia merasa itu lebih baik
Kai makin di buat bingung saat Sehun menekan sandi di pintu lalu dengan sendirinya pintu terbuka. Bagaimana ia tau sandinya ?. . Namun, semua terjawab saat ia memasuki kamar mereka. Di sana ada foto pernikahan dengan ukuran yang sangat besar menempel di dinding yang sengaja di buat timbul. Foto itu tak bisa di cabut karna menyatu dengan dinding
Hah ? jadi… es kutub ini adalah suami Luhan ?
Kai menganga tak berkedip memandangi foto pernikahan Luhan dan Sehun.
"ehem.." Sehun berdehem dan itu membuat Kai tersadar dari semua kebingungan dan keterkejutannya. Kai menatap Sehun, lalu Luhan yang berbaring di atas ranjang sedang menggigil. Cepat Kai berlari keluar kamar. Sekarang bukan saatnya memikirkan hal yang… bagaimana mengatakannya. Luhan sedang sakit dan ia harus bisa merawatnya. Karna sepertinya Sehun tak bisa merawat Luhan
Kai kembali ke dalam kamar membawa handuk kecil dan baskom. Di kompresnya dahi Luhan dengan handuk itu (aish, author gak tau cara ngurus orang sakit. Jadi, skip aja bagian ini yah)
.
.
.
Sehun terus memegangi tangan Luhan ketika Kai kembali mengecek suhu tubuh Luhan. ia lalu mengambil handuk yang sudah menyerap panas Luhan dan mengompresnya kembali.
Berjam-jam dua pemuda tampan itu lalui dengan menatap Luhan dalam keheningan. Kai melihat hari mulai gelap. Dan seharusnya ia pulang saat ini. namun, ia juga mementingkan kondisi Luhan yang belum sadarkan diri walaupun panasnya sudah sedikit menuurun. Tiba-tiba suara dering smartphone Kai mengintrupsi keheningan yang tercipta. Kai langsung merogoh sakunya dan melihat siapa yang menelepon
"yeoboseo.." Kai mengangkat telpon itu berjalan menjauh dari ranjang Luhan dan Sehun
Tak selang beberapa lama Kai kembali menghampiri Sehun dan Luhan. ia sudah tak menelepon lagi. kelihatannya tergesa-gesa
"..kalau handuknya kering. Kau tinggal mengompresnya lagi. tadi kau melihat caraku melakukannya bukan ?. aku harus pergi, rawat dia dengan baik."
usai berucap. Kai berjalan ke arah pintu hendak keluar dari sana
"tunggu." Suara itu sukses menghentikan langkah pemuda berkulit tan itu. Ia langsung menoleh ke sumber suara—Sehun. kai yakin tadi ia mendengar Sehun mengatakan sesuatu padanya. Tapi, tidak mungkin. Sehun itu tak bicara pada sembarangan orang. Dan Kai ? apa alasannya ?
"…jangan beritau siapapun.."\
Kali ini Kai yakin ia mendengarnya dengan jelas. Si es kutub bicara padanya. Great…tiba-tiba sifat jahilnya muncul. Hanya saja, ia yang harus pergi saat ini tak bisa di toleransi. Padahal ia masih ingin di sini menjaga Luhan dan menjahili suaminya yang terkenal dingin, dan berekspresi datar itu. kapan lagi ia bisa menjahili Sehun. namun sekali lagi, ia harus melewatkan kesempatan itu. mungkin lain kali
"...jangan khawatir. aku bisa menjaga rahasia.."
Blam…
Selesai berucap Kai langsung menghilang di balik pintu. Meninggalkan Sehun dan Luhan di dalam sana
Sehun POV
Aku tidak tau kenapa aku sangat khawatir padanya. Aku tidak tau kenapa aku berharap dengan menggenggam tangannya aku bisa menyalurkan kekuatan padanya. Aku tidak tau kenapa aku sedih melihatnya seperti ini. apa aku mulai menyayanginya ?
Ani!.
Aku menggeleng cepat. Menyayanginya ? tidak mungkin. Tidak akan secepat itu aku bisa menyayangi namja ini. aku langsung melepas genggaman tanganku di tangannya dan berdiri
Aku menatap wajahnya yang tidur dengan damai. Manis…, yah… walaupun terlihat sangat pucat seperti halnya orang sakit. Dia tetap manis…
Yah… aku akui dia memang manis. sejak sungmin eomma mendandanninya seperti seorang yeoja. Aku jadi sering memuji dan mengagumi wajahnya itu. dia memang benar-benar cantik dan lucu saat menggerutui hal itu. aku benar-benar di buat gelagapan saat berdua dengannya di dalam mobil.
Baiklah. Aku rasa aku akan belajar menerima apa yang aku rasakan. aku akan mengakui kalau aku memang mulai menyayanginya. Tidak ada yang salah bukan ? hanya menyayanginya. Dan kalaupun nanti aku jatuh cinta padanya, memangnya kenapa ? dia istriku.
Aku kembali duduk di pinggir ranjang menatap wajah damainya. aku mengambil handuk yang ternyata sudah kering. Lalu mengompresnya seperti yang di lakukan namja tan tadi entah siapa namanya.
Sehun POV end
.
.
.
"eugh.." matahari yang mulai menampakan kekuasaannya mengusik tidur Luhan. hanya saja merasa terlalu nyaman dan hangat. Membuatnya enggan membuka mata dan meninggalkan ranjangnya nyaman. Luhan mengeratkan pelukannya dan berniat kembali menjelajahi alam mimpi. Tapi…
Tunggu. Pelukan ? mengeratkan pelukan ?
Tiba-tiba Luhan membuka matanya lebar-lebar. Ia langsung meregangkan pelukannya pada sesuatu di hadapannya itu dan mendorong dirinya sedikit menjauh ke belakang. Merasa sadar sepenuhnya ia langsung menjauh dari sesuatu di hadapannya itu—Sehun. luhan membulatkan matanya dan duduk di atas ranjang menatap Sehun dengan wajah shock
Apa tadi baru saja mereka tidur berpelukan ?
Luhan tidak tau kenapa ia bisa berpelukan dengan Sehun di tempat tidur. ia bergidik memilih tidak memikirkannya dan berjalan ke kamar mandi. Ia harap ia tak melakukan sesuatu yang membuatnya terlihat seperti pria gay
.
.
.
"pagi, Luhan.."
"pagi, Lay."
Luhan duduk di bangkunya, meletakkan tasnya saat tiba-tiba Baekhyun memasuki kelas langsung meneriaki namanya
"..Luhan, Lay, kalian tidak akan percaya ini. kita ketinggalan berita.. oh, ya ampun bagaimana ini bisa terjadi…." Lay dan Luhan menutup kuping mereka. Teriakan Baekhyun sangat mengerikan
"hei..Baekhyun, tenangkan dirimu. Ceritakan, ketinggalan berita apa ?." baekhyun langsung meletakkan majalah yang di pegangnya di atas meja Luhan. Lay bangkit dan ikut melihat majalah apa itu
Luhan langsung menegang seketika melihat kolom di majalah itu. namun hal itu tak di sadari Lay dan Baekhyun
"mwo ? kyaaa…. Siapa gadis itu…. kenapa kita ketinggalan berita sepenting ini.. aisshh.." pekik Lay mengangkat majalah di depan wajah Baekhyun
" ada rumor itu gadis bayaran agar Sehun bisa ke acara menggaet seorang gadis. Tapi, seorang Sehun melakukan hal seperti itu ?. tidak mungkin. Kenapa ia harus mengeluarkan uang kalau banyak gadis yang dengan suka rela ingin di bawa olehnya ke acara… aku penasaran dengan gadis itu.."
"kau pikir kau saja, Baekhyun. Aku juga…. Aisshh… kenapa infonya sangat tidak jelas seperti ini ?." Lay menatap majalah di tangannya dan menggoyang-goyangkannya
" tapi, ada juga yang bilang kalau itu pacar Sehun. lihatlah, gadis itu juga cantik. Dan katanya Sehun sangat posesif saat Kris coba mendekati gadis itu.."
"cantik apanya ?.. aku tidak bisa melihat wajahnya dari gambar ini.."
"lekukan tubuhnya, kulit dan rambutnya bisa menggambarkan kalau wajahnya juga cantik.. iyakan, Luhan ?." ucap Baekhyun dan meminta pendapat Luhan
"..hah.? a-apa ?." kedua sahabat Luhan langsung menatap Luhan. dari tadi Luhan diam saja dan apa mereka tidak salah Luhan terlihat gugup ?
"..kau kenapa, Lu ?. kau pucat.." Lay meletakkan punggung telapak tangannya di dahi Luhan, "..suhunya normal ?." Tmbah Lay menarik tangannya dari dahi Luhan
Luhan tiba-tiba berdiri. Mengakibatkan gesekan kursi yang ia duduki dengan lantai. Ia menatap kedua sahabatnya yang menatapnya dengan alis berkerut bingung
"..apa kau masih sakit, Lu ?. kudengar dari Kai, kemarin kau pulang karna sakit."
"..a-aku mau ke toilet dulu.."
Tak memperdulikan dua sahabatnya yang kebingungan. Luhan berlari keluar kelas.
Ia khawatir dengan isi majalah yang baru saja di lihatnya tadi. Benar, itu adalah dirinya dan Sehun di mana ia di dandani sungmin eomma layaknya yeoja. Dan apa tadi ? Baekhyun dan Lay penasaran ? tidak, ini tidak boleh. Kalau mereka penasaran, Luhan yakin kedua sahabatnya itu akan langsung menyelidikinya. Oh… kenapa Luhan sangat bodoh ?. bukan hanya kedua sahabatnya yang akan menyelidiki berita itu. tapi, semua orang yang membaca isi majalah sekolah itu
.
.
.
Luhan memasuki toilet. Namun, ia berhenti di sana melihat Sehun juga berada dalam toilet itu sedang mencuci tangan. Entah kenapa ia jadi teringat kejadian tadi pagi, dimana ia bangun dengan keadaan memeluk Sehun.
Kejadian tadi pagi itu membuatnya terburu-buru berangkat sekolah. Belum lagi, melihat handuk dan baskom di atas meja sebelah ranjang. Pasti Sehun merawatnya semalaman. Dan itu benar-benar membuatnya merasa seperti pria gay. Ia tidak mau, ia masih normal. Ia masih menyukai lawan jenisnya
Luhan menggeleng, menepis semua pemikiran yang membuat dirinya terlihat aneh. Dia ke toilet untuk mencuci muka menyegarkan pikirannya. Bukan membayangkan kejadian tadi pagi. Luhan berjalan mendekati wastafel di mana Sehun berada. Sehun sempat menoleh padanya dan pandangan mereka bertemu. Namun, Luhan langsung mengalihkan pandangannya ke keran wastafel dan mencuci tangan lalu wajahnya
"… merasa lebih baik ?." tanya Sehun datar melihat pantulan dirinya di cermin. Luhan mendongak dan mengelap air di wajahnya dengan telapak tangannya.
"..ya. seperti yang kau lihat." ucap Luhan ikut melihat pantulan dirinya di cermin. ".. terimakasih.." sejujurnya Luhan sedikit jijik mengucapkan kata terima kasih. Bagaimana tidak ?. itu, seperti ia menghargai perhatian Sehun dan karna pemuda itu sudah merawatnya.
Hening kembali. Tak ada yang bicara atau berniat pergi dari sana. Kalau tidak mengingat kejadian tadi pagi. Pasti Luhan sudan mengoceh panjang lebar, membuat suasana tak setenang saat ini, atau meminta uang jajan pada Sehun karna tadi pagi ia terburu-buru tak mau bertemu Sehun
Braaakkk…..
Luhan dan Sehun langsung menoleh ke asal suara. sepertinya itu berasal dari salah satu bilik toilet. Tunggu, apa ada orang lain di sana selain mereka ?.
"… hentikan, jangan lakukan di sini." Terdengar seseorang berbicara di dalam sana. Entah apa maksudnya
"..ck. kau tak mendengar apapunkan ?. mereka sudah pergi. Ayolah… aku sudah tak tahan.." kata seorang lagi. sepertinya ada 2 orang di dalam sana. apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana ?. kenapa masuk berdua di dalam sana ?
tanpa menimbulkan suara sedikitpun Luhan mendekat ke bilik itu. Ia berjalan dengan sangat hati-hati. Saat berada di depan pintu yang terkunci itu. ia mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu. Bertanya pada orang di dalam sana apa mereka baik-baik saja karna tadi ia mendengar sesuatu yang jatuh. Namun,
"..eumh~… ah~ jangan dihh.. akh~" luhan berkedip. Menggantungkan tangannya di udara dengan wajah memerah. Ia tau apa yang terjadi di dalam sana. Apa.. ia akan mengganggu jika mengetuk pintunya dan meminta mereka untuk sedikit memelankan suara di dalam sana ?
"..ah..akh~ … ohh…"
"..kau menyukainya, baby ?."
Luhan semakin memerah. Ia menundukkan wajahnya masih dengan tangan menggantung di udara hendak mengetuk pintu. Namun, tak punya keberanian. Kalau begitu, kenapa tidak pergi saja dari sana ? kenapa masih berdiri di situ ?. jangan tanya. Ia sendiripun tidak tau
Tap… tap…
Tok… tok…. Tok…..
Sehun yang dari tadi berdiri di tempat. akhirnya tanpa pikir panjang dan tak berperasaan mengetuk pintu bilik itu cukup keras. Suara di dalam sana langsung berhenti.
"..si-siapa di luar ?." tanya seseorang dari dalam.
Tak ada jawaban. Sehun dan Luhan hanya diam.
Tok…. Tok…. Tok….
Terdengar decakan kesal di dalam sana ketika Sehun kembali mengetuk pintu itu tak kala keras dengan yang tadi. Merasa pintu akan terbuka. Luhan menundukkan wajahnya lebih dalam. Hei… siapa yang tidak malu memergoki dua orang yang tengah….? Lebih tepatnya, mengganggu dua orang yang tengah 'melakukan'…, yah, meskipun bukan dia yang mengetuk pintunya. Tapi kan tetap saja dia juga berada di sana
Cklek…
"..ap—Se-Sehun ?." setelah membuka pintu. Sepertinya orang itu ingin membentak orang yang sudah mengganggu mereka. Namun, melihat siapa yang ada di hadapannya. Kedua orang itu langsung membatu
Sehun tetap memasang wajah datarnya menatap tajam kedua orang itu. mereka hanya menunduk seperti Luhan. sehun mendekati dua orang itu. entah apa yang akan terjadi pada mereka kalau bel di mulainya pelajaran pertama tak berbunyi. Luhan mendongak tidak mengerti saat Sehun melepas blazzer kedua orang itu dan membawa pergi, Meninggalkan toilet.
/
Luhan POV
Aku tau Sehun kejam. Bahkan semua orang yang bersekolah di sini tau itu. tapi, aku tak pernah melihatnya mempermalukan orang seperti dua orang yang ku temui di toilet sedang melakukan hal, berbau mesum kemarin. Kedua orang itu sedang jadi tontonan murid DO-HIS di lapangan depan gedung sekolah. Mereka tak memakai seragam. Lebih tepatnya hanya menggunakan boxer dengan rambut di ikat aneh, sangat aneh ku rasa. Dan wajah yang di penuhi gambar hati. Mereka tengah menggunting rerumputan yang sudah meninggi di sana. Di tengah teriknya matahari siang ini
Semua orang menertawai mereka. Mengambil foto atau video mereka. Bahkan, para guru tak ada yang membela mereka, atau meminta mereka berhenti menggunting rumput dan segera memakai seragam. Apa sekolah ini benar-benar di kuasai ke empat orang yang duduk menikmati santapan mereka di cafeteria saat ini ?. apa hukumannya seberat ini hanya karna mereka tak sengaja melakukan hal 'itu' saat Sehun berada di sana ?. WOW
Bahkan, Lay dan Baekhyun sama saja dengan murid lainnya. mengambil ganbar dan menertawai serta mencibir kedua orang malang itu. kau tau, kemarin dan hari ini… sedikit aneh, tumben sekali Kai tidak mengekoriku seperti biasa. Tapi, bukankah itu bagus… haha. Mungkin ia bosan atau lelah. Biarkan saja
.
.
.
"..hahaha.. lihat ini. astaga, benar-benar memalukan. Aku tidak ingin seperti mereka." Seperti itulah tawa Baekhyun menggema di meja makan kami. Ia memperlihatkan padaku dan Lay foto kedua orang yang di ambilnya tadi. Yah, berharaplah kau tak akan melakukan hal yang fatal di depan ke empat orang yang duduk santai di seberang sana
Lihatlah betapa angkuh dan di pujanya mereka. Meskipun Kyungsoo tak terlihat lebih baik, namun.. tetap saja.. ia menjadi sedikit sombong bersama ke tiga orang lainnya. Sepertinya mereka juga sedang membicarakan sesuatu yang lucu. Buktinya dari tadi ketiga orang itu tertawa terbahak-bahak. Namun, tidak dengan salah satunya. Sehun. senyumnya sangat mahal. Bukan hanya senyum. Aku rasa, suaranya juga. Seharusnya aku salah satu orang beruntung yang bisa berkomunikasi dengannya. Bisa mendengarnya bicara, karna tak semua orang bisa mendengarnya bicara. Tapi.. eh ?. kenapa aku jadi memikirkan itu ? heh, lupakan
Dan. Oh ?, apa itu…? Kai ?
"eh,?" aku rasa tidak hanya aku yang terkejut. Kedua sahabatkupun menunjukan ekspresi yang sama
.
To Be Countinue….
A/N :
Sekali lagi, Terimakasih yang sebesar-besarnya buat readers yang udah bersedia ngunjungin, mampir, ngelirik, apa lagi ngebaca dan ninggalin jejak di FF ini. Terimaksih, juju raja, kalian itu penyemangat Ell kalau lagi down.
Arigatou gozaimas!
