DIFFICULT OF STRING
6
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
…
Preview…
"permisi.." Luhan ingin tau apa yang terjadi menyisip ke dalam kerumanan itu. sungguh ini pertama kalinya ia masuk ke dalam kelasnya penuh perjuangan. Keadaannya yang semula rapi kini acak-acakkan. Meskipun ia selalu merutuki dirinya yang bertubuh mungil, namun kali ini ia mensyukuri porsi pemberian Tuhan itu karna ia dapat masuk ke sela-sela kecil kerumunan itu walau terjepit
"YA! JAWAB!" sebuah bentakan merupakan hal yang pertama kali di dapati Luhan saat memasuki kelas. Sekarang ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam kelasnya. Dugaannya benar, lima orang populer itu berada di situ. Tepatnya di sana, di sekitar tempat duduknya dan Baekhyun juga berada di sana menundukkan kepalanya
Eh ?. Baekhyun ?
Seketikan Luhan sadar dengan kebingungannya mencari tau apa yang terjadi saat melihat Baekhyun. dan apa itu, kenapa ia bersama kelima orang itu ?. apa yang terjadi….?
…
…
Luhan merutuki dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa di saat seperti ini. luhan melihat Kai yang sepertinya juga tak bisa membantu karna dari tadi pemuda tan itu hanya terus menatap Baekhyun dengan tatapan iba dan terus menghembuskan nafas pasrah. Luhanpun menatap Sehun, yah… mungkin Sehun akan membantu karna Sehun tau Baekhyun adalah sahabat Luhan. hanya saja, sepertinya itu tidak berlaku selama mereka bertengkar, apa lagi pertengkaran itu ada kaitannya dengan Baekhyun. Luhan lalu menatap Kyungsoo, sepertinya Kyungsoo tak akan melakukan apapun karna ia terlihat sibuk dengan smartphonenya
Jadi, bagaimana ?. apa yang harus dia lakukan ?
"ck!. Aisshh.. kau bisu, eoh ?!. kau menangis ?. cih!.." Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun dengan kasar agar Baekhyun menatpanya. Linangan air mata nampak jelas di wajah pemuda itu. chanyeol memandangnya dengan sinis tanpa rasa kasihan sedikitpun
Bugh…
Braaaakkk….
Tiba-tiba Chanyeol melayangkan tinju ke wajah Baekhyun, membuat pemuda itu jatuh menimpa kursi dan meja yang sudah tak beraturan letaknya. Luhan yang melihat itu hendak menghampiri Baekhyun, namun seseorang menahannya, Luhan menoleh dan di dapatinya Lay di sana menggelengkan kepala dengan raut menyesal
"..Chanyeol, sudahlah. Dia bilang cameranya sudah hancur dan card memorinya ikut hancur. Jangan seperti ini, kasi—"
"jangan iku campur. Ini urusanku!." Chanyeol menyela ucapan Kai yang coba membela Baekhyun. kai menghembuskan napas menatap Baekhyun iba. Kai tau siapa Chanyeol, dan Kai tidak akan coba mengalihkan kemarahan Chanyeol dengan mengorbankan dirinya untuk membela Baekhyun lebih dari yang ia bisa
Luhan dan Lay menggigiti bibir mereka. Luhan sudah mengepalkan tangannya melihat sahabatnya di perlakukan seperti itu, rasanya ia ingin membunuh Chanyeol. luhan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan tak sengaja matanya bertabrakan dengan mata Sehun. Mereka saling bertatapan. Namun, bukan tatapan yang hangat. Sehun mengalihkan pandangannya kea rah Baekhyun saat Luhan hendak membuka mulutnya ingin menyampaikan sesuatu tanpa suara
"..aku tidak tau hukuman apa yang pantas untuk orang sepertimu. Dan yang ku dengar, kau juga mengagumiku, eoh ?. apa setelah ini kau masih akan mengagumiku eum ? menjijikan!. Aku tidak sepertimu, kalaupun aku berubah menjadi gay. Aku tidak akan mau dengan orang sepertimu. Tapi, itu tidak akan terjadi karna aku bukan orang menjijikan yang menyukai sesame sepertimu. Ikut aku!…" Chanyeol menarik kerah baju Baekhyun sebelum berjalan keluar kelas di ikuti ke empat orang lainnya. Begitupun dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu mengekori dari belakang
.
.
.
Luhan mendengus kesal tak bisa melihat lebih tepatnya tak bisa membantu Baekhyun dari apa yang akan di lakukan orang-orang itu terhadap Baekhyun. Sahabatnya itu telah di bawa Chanyeol entah kemana ia tak tau. memikirkan Baekhyun membuat kepalanya sakit.
Hhh…
Dan Sekarang, di sinilah Luhan. berdiri di depan cermin memandangi pantulan dirinya yang tak berguna. Luhan memutar kran air sebelum membasuh wajahnya dengan air. Ia kambali menegakkan tubuhnya dan memandangi pantulan dirinya di cermin. Bahkan, saat ini ia tak punya niat untuk belajar. Ini pertama kalinya ia membolos, begitupun Lay. Bedanya Lay, ia langsung pulang karna merasa tak enak badan setelah melihat Baekhyun tadi. Mereka hanya bisa berharap Baekhyun akan baik-baik saja
Selesai meratapi dirinya di depan cermin wastafel. Luhan keluar berjalan dengan tatapan kosong di koridor sekolah yang nampak sepi karna jam pelajaran tengah berlangsung. Luhan terlihat mengenaskan, ia melangkah dengan pelan sambil menyeret tas ranselnya yang sudah menyapu lantai. Matanya lurus ke depan, namun pikirannya melayang kemana-mana.
Bruukkh….
"maaf.." bahkan, menabrak orangpun ia hanya berkata demikian dan melanjutkan jalannya dengan cara yang sama. Orang yang di tabrak tiba-tiba menghampiri dan membalik badan Luhan menghadapnya. Luhan tak menatap orang itu, ia hanya menatap lurus tepat di leher orang itu
"..K-kau baik-baik sajakan..?." tanya orang itu. luhan tersadar mendengar suara itu. suara hisky milik seorang yang di kenalnya—Sehun. luhan mendonggak menatap Sehun yang bertampang datar dan menepis tangan Sehun yang bertengger di bahunya, setelahnya ia berbalik cepat meninggalkan Sehun
Baru beberapa langkah, Luhan merasa tubuhnya berbalik dan seseorang manrik pergelangan tangannya. Ia memberontak meminta Sehun melepas cengkramannya. Namun, Sehun mengabaikan berontakan Luhan, pemuda itu tetap menarik Luhan mengikutinya. Suara teriakan Luhan dan makian Luhan terhadap Sehun tak akan terdengar di setiap ruangan yang mereka lewati. Luhan dapat melihat di dalam kelas guru tengah menjelaskan dan kebanyakan pelajar tertidur dari pada memperhatikan.
Luhan terus berusaha melepaskan tangannya dari Sehun hingga Sehun melepasnya sendiri. mereka berada di balkon lantai 4 dan Luhan hendak pergi membuka pintu, berjalan di koridor dan membiarkan Sehun di sana. ia malas bicara dengan Sehun. hanya saja, sebelum itu terjadi tubuhnya sudah terhempas ke dinding kaca yang membatasi balkon dan koridor sekolah. Sehun berdiri di depan pintu kaca menghadap Luhan dari samping. Luhan menghampiri Sehun hendak membuka pintu itu namun Sehun mencegahnya
".apa maumu, eoh !." bentak Luhan
"katakan saja." ucap Sehun tanpa menatap Luhan. luhan menatapnya dengan tajam, Sehun suka sekali bicara tidak jelas, memangnya Apa yang harus di katakan ?. bukankah Sehun yang menyeretnya ke sini ?. kenapa ia yang harus mengatakan sesuatu
"katakan saja permintaanmu. Aku tau kau ingin menolong sahabat merepotkanmu itu." Sehun masih tidak menatap lawan bicaranya. hening. Merasa Luhan tak berucap apapun, Sehun akhirnya menatap pemuda itu, dapat di lihatnya Luhan yang menatapnya penuh amarah dan kebencian. Sehun tau, Luhan mengira ia tengah mempermainkanya
"kenapa ?. kau tidak mau ?.." sehun menunggu Luhan bicara "baiklah, aku tak akan melakukan apapun." Ucapnya lagi membuka pintu balkon dan berjalan meninggalkan Luhan yang tengah mengepalkan kedua tangannya. Luhan nampak berpikir sebelum ia mengejar Sehun dan memintanya menolong Baekhyun
"..tapi, dengan syarat.." Luhan tak tau syarat apa yang akan di berikan Sehun. ia hanya berharap itu bukan sesuatu yang rumit. Luhan berpikir sebelum mengangguk setuju " pertama, jangan diam lagi." ucap Sehun, luhan mengangguk lagi. sehun menatap Luhan lebih lama sebelum ia meninggalkan pemuda itu.
Tunggu, itu permintaannya ?. hanya itu… hahaha… Luhan, kau beruntung. Tapi, tunggu… sepertinya tadi ada kata 'pertama' yang berarti itu bukan satu-satunya permintaan Sehun. kalau ada pertama, berarti ada yang kedua dan seterusnya ? ada banyak. Luhan mengejar Sehun , namun ia tak mendapati pemuda itu yang sudah pergi entah kemana.
.
.
.
Luhan merutuki kebodohannya yang masuk ke dalam kelas setelah niat membolos hingga membuatnya dapat pelajaran tambahan dan pulang selarut ini. luhan masih duduk di halte bis. Tadinya ia bersama Kyungsoo tapi pemuda bermata bulat itu sudah pulang lebih dulu setelah mendapat telepon entah dari siapa. Luhan heran, Kyungsoo tak punya pelajaran tambahan dan dia pulang lebih awal. Tapi, kenapa pemuda bermata bulat itu masih berdiam diri di halte membiarkan supirnya menunggu ?
Luhan ingin tapi tak berani menanyakan seputar kejadian Baekhyun tadi. Meskipun ia mendengar dari orang-orang kalau Chanyeol memperlakukan Baekhyun seperti itu karna Baekhyun mempunyai selca kejadian di rumah Chanyeol. Chanyeol berpikir Baekhyunlah yang menyebarkan gosip bahwa Chanyeol dan Yejin putus. Chanyeol tak menginginkan itu, ia tak menginginkan orang berkata ia dan yejin putus. Luhan ingin menanyakan bagaimana keadaan Baekhyun, di apakan dia oleh Chanyeol, apakah dia baik-baik saja dan masih banyak lagi, tapi ia tak berani menyinggung soal itu melihat betapa kejamnya Chanyeol tadi pada Baekhyun dan Kyungsoo diam saja
Luhan menguap lebar menunggu bis yang dari tadi tak muncul-mucul juga. Di lihatnya jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya
10:33 KST
Luhan tak pernah bertahan di halte sampai selarut ini. ia hanya berharap masih ada bis di jam seperti ini. luhan tampak mengantuk, kepalanya terdorong ke depan dan belakang dengan mata tertutup hingga ia jatuh tertidur di bangku halte. Cuaca yang sangat dingin tak di pedulikannya, ia lebih mementingkan matanya yang sudah tak bisa bertahan lagi.
.
.
.
Luhan enggan membuka mata dan berpikir. Sejak kapan bangku halte menjadi tempat yang empuk dan nyaman untuk di tiduri. Karna dengan jelas semalam ia mengingat ia tertidur di halte bis. Luhan merasa halte tidak jauh berbeda dengan kamar jika senyaman ini. Luhan mempererat pelukannya pada guling berwarna putih itu
Eh ?.
Refleks Luhan membuka matanya menyadari ia memeluk guling. Padahal terakhirkali ia mengingatnya di halte hanya ia seorang tanpa guling. Luhan mengerjab, perlahan ia mengumpulakan kesadarannya. merasa telah sadar sepenuhnya, ia langsung terduduk melihat sekitar. Halte bis tempat ia biasa menunggu bis berubah menjadi kamar mewah dan nyaman. Kamar yang juga ia kenal, kamarnya sendiri. bukan, kamarnya dan Sehun. tapi, sejak kapan ia berada di sini ?. kenapa ia bisa berada di sini ?
Luhan masih memikirkannya hingga pintu kamar mandi terbuka, menampakan Sehun yang mengekpos dada bidangnya dan handuk yang melilit di pinggang
" kau sudah bangun ?." Sehun menghampiri Luhan di atas ranjang
Luhan menusukkan jari telunjuknya di telinga sebelum menggaruk kepala. Kenapa Sehun bersikap aneh sejak kejadian punggungnya yang bengkak dan biru itu. biasanya Luhanlah yang akan lebih dulu bicara, dan Luhan sangat tau kalau Sehun orang yang sangat hemat bicara. Bahkan pada sahabat-sahabat dekatnya itu. tapi, kenapa pemuda tampan itu berubah jadi.. err… perhatian, baik, sering bicara, dan banyak lagi yang membuatnya tak terlihat seperti Sehun yang biasanya. belum lagi Sehun hanya bersikap seperti itu pada Luhan. tidak dengan yang lainnya. Ada apa ini, apa Sehun terbentur sesuatu ?, oh… atau benturan di punggung itu berpengaruh pada otak Sehun ?
"..kau baik-baik saja ?." tanya Sehun menyadari Luhan tengah melamun. Luhan tak menjawab. Pemuda itu hanya terus menatp Sehun penuh tanda tanya. Tapi, pertanyaan yang lebih penting. Kenapa dia bisa ada di kamar mereka ?. bukankah terakhir kali ia berada di halte ?
"kenapa aku bisa ada di sini ?." akhirnya Luhan menanyakannya
"..aku mencarimu semalam. Dan aku melihatmu tergeletak di atas bangku halet bis tempat biasa kau menunggu bis. Lain kali, jangan tidur di sana. kau kan bisa meneleponku.." Sehun tersenyum sekilas. Luhan sendiri membulatkan matanya. Sehun tersenyum ?
SEHUN TERSENYUM PADANYA ?
Hooohhh ?
Apa dia tidak salah lihat ? pasti ada yang salah dengan matanya. Luhan menggosok-gosok kasar matanya dan menggorek telinganya dengan jari kelingking karna sepertinya tadi ia juga mendengar Sehun mengkhawatirkannya. Setelah melakukan itu, tidak ada yang berubah. Sehun menatapnya dengan raut wajah bingung. Luhan mengerjapkan mata nampak berpikir
"..apa penglihatanku sudah rusak ?" gumam Luhan sangat pelan yang tak bisa di dengar oleh Sehun
"Lu, kau tidak ingin mandi dan kesekolah ?. kau bisa terlambat!." Luhan tersadar dan menatap Sehun. ia tak mendengar jelas tadi Sehun berkata apa karna terus melamun "hhh… sudahlah, lebih baik sekarang kau keringkan rambutku." Ucap Sehun menyerahkan sebuah hair dryer pada Luhan yang entah sejak kapan berada di tangan Sehun
Luhan benar-benar berpikir keras. sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Sehun jadi seperti ini ?. bahkan Sehun dapat mengeluarkan ekspresi wajah yang berbeda. Sehun sama sekali tak menampakkan wajah datar pagi ini sejak Luhan bangun tidur.
"ck. Kau melamun lagi. cepat keringkan rambutku!.." Sehun menyalakan hair dryer itu dan mengarahkan tangan Luhan yang sudah memeggang hair dryer itu ke rambutnya
Tapi, tunggu. Kenapa Sehun terkesan memerintahnya ?. kenapa ia harus melakukan ini. seakan sadar, Luhan melepas tangan Sehun dan meletakkan hair dryer itu di atas ranjang, membuat Sehun harus menatap Luhan dengan tanda Tanya di kepalanya
"kenapa aku harus melakukannya ?. Lakukan sendiri, cih!.." Luhan hendak bangkit dari ranjang namun Sehun menahan dan mendudukkannya kembali
"kau lupa ?. ini salah satu syarat. Kau harus melakukan semua permintaanku, eh salah. Semua perintahku!." Ucap Sehun kembali ke wajah datarnya dengan nada yang datar pula. Luhan mengeryit bingung. Lupa apa ? syarat apa ?
Sehun yang sepertinya sadar dengan ekspresi Luhan memutar kedua bola matanya
"Baekhyun!.." hanya menyebut nama itu mampu membuat Luhan teringat semuanya. Tapi, ia juga memikirkan sesuatu
"tapi, kau tidak mengatakan kalau aku harus menurutimu. Dan lagi, aku belum bisa percaya denganmu. Apa kau benar-benar menolong Baekhyun atau tidak!."
"aku baru saja mengatakannya. Dan kau harus menurutiku. kalau tidak, lain kali aku tidak akan membantu karna Chanyeol tidak akan puas jika tak melenyapkan sahabat merepotkanmu itu!. kalau kau tidak percaya, kau bisa meneleponnya dan tanyakan sekarang ia berada di mana." Jujur, ini pertama kalinya Luhan mendengar Sehun bicara sepanjang itu. tapi Luhan tak punya waktu untuk memikirkan hal itu, Luhan langsung mengambil smartphonenya dan menghubungi Baekhyun. ia berbincang cukup lama dengan Baekhyun sementara Sehun terus memperhatikannya, ia sadar itu.
"sudah ?" tanya Sehun saat Luhan mematikan sambungan teleponnya. Luhan menatapnya dengan alis berkerut
"kenapa ?." Luhan masih mengerutkan alisnya
"kau belum melakukan perintahku." Ucap Sehun. luhan mendengus dan mengambil hair dryer yang dari tadi sempat terabaikan. Ia menayalakannya dan mengusak rambut Sehun sambil mengarahkan hair dryer itu di sana. saat telapak tangannya menyentuh rambut Sehun. luhan sadar rambut Sehun sangat halus, lembut dan wangi. Jujur saja ia menyukai bau rambut Sehun. tunggu, tunggu… kenapa ia tampak menjijikan seperti ini ?. Luhan mengehentikan aktivitasnya membuat Sehun kembali bertanya. Luhan tak menjawab menatap Sehun dengan tajam
"tenang saja. tidak akan ada yang melihat dan mengataimu gay. Kau normal, lakukan lagi!." ucap Sehun seakan bisa membaca apa yang di pikirkan oleh Luhan. luhan sendiri mengerjap binggung, bagaimana Sehun bisa tau apa yang ia pikirkan ?. Tapi benar juga, tak ada yang melihat. Bagaimanapun ia harus melakukan perintah Sehun karna Sehun telah memenuhi permintaannya. Luhanpun kembali mengeringkan rambut Sehun dengan hair dryer di tangannya
.
.
.
.
"pakaikan" ucap Sehun menyodorkan kameja, blazer dan dasinya ke arah Luhan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan seragam lengkap. Luhan tak habis pikir bagaimana Sehun bisa melakukan ini padanya. Bahkan dari tadi ia di kamar mandi, Sehun baru menggunakan celananya. Apa dia sengaja menunggu Luhan dan menuruhnya memakaikan pakaiannya ?. oh, tentu saja. karna baru saja Sehun memintanya—memerintahnya
Luhan menerima blazer, kameja dan dasi itu ogah-ogahan. Ia mendekati cermin besar di dekat lemari yang langsung diikuti oleh Sehun dari belakang. Luhan mengangkat tangan Sehun dan memakaikannya kameja putih DO-HIS sebelum membalutnya dengan blazer.
"kau tidak mengancingnya." Ucap Sehun karna Luhan langsung memakaikan balzer tanpa mengancing kameja Sehun
"diamlah, aku sedang mengerjakannya!." Ucap Luhan merapikan pergelangan tangan balzer Sehun sebelum mengancing kameja Sehun. luhan tidak tau kenapa ia merasa sangat senang melakukan ini. Dan Luhan juga tau dari tadi mata Sehun tak lepas dari gerak-geriknya. Mata itu selalu mengikuti apapun yang di lakukannya. Sebenarnya Luhan ingin bertanya kenapa Sehun terus menatapnya. Tapi, tidak mau memperpanjang cerita. Ia hanya diam melakukan tugas dan membiarkan Sehun terus menatapnya
Saat memakaikan dasi, tentu saja Luhan harus mendongak untuk merapikan dasi itu di kerah baju Sehun. dan ini lebih memperjelas lagi kalau Sehun tengah menatapnya. Luhan tak tahan untuk tidak bertanya
"kenapa kau terus menatapku ?." Luhan melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun meraih dasi itu dari belakang dan merapikannya di kerah seragam bagian depan, Sehun.
"tidak boleh ?" bukannya menjawab. Sehun balik bertanya membuat Luhan mendengus dan menatap Sehun dengan kesal. Ingin ia berkata tidak boleh, namun Sehun pasti menggunakan alasan 'ini-salah-satu-perintah'. Luhan tinggal merapikan lagi kerah baju Sehun saat tiba-tiba Sehun menggenggam tangannya menghentikan pergerakannya
"wae ?." tanya Luhan menatap Sehun bingung. Entah ini perasaannya saja atau memang adanya demikian. Sehun menatap dalam, penuh arti dirinya. Bukan tatapan tajam seperti biasa pemuda tampan itu lakukan. Entah kenapa juga Luhan menyukai tatapan Sehun yang seperti ini. Luhan langsung menggelengkan kepalanya, menyadari apa yang ia pikirkan. Hoohh… dia pasti sudah gila jika menyukai tatapan seperti itu. ia lebih memilih tatapan tajam Sehun dari pada tatapan lembut penuh arti tersirat di dalamnya itu.
Luhan melambaikan tangannya di depan wajah Sehun karna pemuda itu tak berkedip terus menatapnya. Tak berhasil, Luhan menggoyang bahu Sehun membuat pemuda itu sadar dan langsung berdehem membuat Luhan terus menatapnya bingung.
"ah, kau datang ke pesta Kyungsoo ?." tanya Sehun tiba-tiba. Ia merapikan sendiri kerah bajunya dan Luhan berjalan ke arah meja mengambil tasnya
"hmm…" gumam Luhan sebagai jawaban
"dengan siapa ?. sahabatmu itu ?." entah kenapa Luhan menangkap ketidak sukaan dari nada bicara Sehun.
"tentu saja!, dengan siapa lagi ?." jawab Luhan hendak membuka pintu kamar dan keluar dari sana
"tidak!, kau harus datang denganku!." Ucap Sehun menekan setiap kata. Luhan yang sudah ingin keluar kembali menutup pintunya
"keu gila ?!. Kau ingin semua orang tau ?." Luhan tak habis pikir dengan Sehun
"ahh.. kalau bisa seperti itu." luhan membulatkan matanya tak percaya
"kau bercanda ?!."
"tidak!, aku serius. Kau harus datang bersamaku, ini perintah!." Ucap Sehun menyambar tasnya dan melegang pergi mendahului Luhan
.
.
.
Luhan berjalan di koridor sekolah sambil berpikir apa yang terjadi dengan Sehun. sikapnya akhir-akhir ini sangat aneh. Apa lagi yang bebarapa menit lalu, menurut Luhan itu yang paling aneh. Sebenarnya ada apa ? apa saat menolong Baekhyun mereka sempat berbincang ? apa Baekhyu mengatakan sesuatu pada Sehun ?. ia harus mencaritaunya
Luhan hendak memasuki kelas saat melihat Lay di ujung koridor bersama seorang pemuda. Wajahnya tak terlihat karna membelakangi Luhan. ia bertanya-tanya siapa pemuda yang tengah bersama sahabatnya itu. ia terus memperhatikan gerak gerik mereka sampai seseorang membuyarkan konsentrasinya dengan berdiri tepat di depan Luhan. menghalangi penglihatan Luhan. luhan mendongak menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu
Menyadari siapa itu. luhan memutar bola matanya malas menatap orang yang nyengir lebar menatapnya
"tak baik memperhatikan orang pacaran." Ucap pemuda itu—Kai. luhan membulatkan matanya shock dengan penuturan Kai. pacaran ? Lay punya pacar ?. Luhan melongokan kepalanya ke sisi kiri Tubuh Kai melihat dengan penasaran ke arah Lay dan pemuda yang tengah bersama sahabtnya itu
"sudah kubilang tidak baik memperhatikan orang yang sedang pacaran." Ucap Kai lagi menghalangi penglihatan Luhan
"bagaiamana kau tau mereka berpacaran ?.dan.. dan siapa pemuda itu.. aisshh… jangan menghalangiku." Luhan menggeser tubuh Kai yang menghalanginya, namun Kai tak mau kalah dan terus menjadi tameng, membuat Luhan kesal. Luhan mendorong Kai namun Kai menarik Luhan hingga mereka jatuh bersama di lantai dengan posisi Luhan menuging, kedua tangannya di sisi kepala Kai. luhan membulatkan matanya sadar dengan keadaannya. sementara Kai, ia menampakan senyum yang menurut Luhan mneyebalkan. Teriakan heboh semua orang yang melihat kejadian itu membuat Luhan lekas-lekas berdiri dan menendang kaki Kai yang masih berusaha duduk di sana. luhan langsung berjalan ke toilet sambil membungkuk bergumam maaf pada setiap orang yang ia lewati
Sesampainya di toilet. Ia terus mengumpat kesal sambil mencuci tangan dan membersihkan seragamnya. Tak lama seseorang masuk, itu adalah Kai. Luhan semakin mendengus dan mengumpat membuat orang-orang di toilet yang tidak melihat kejadian itu terheran-heran
Kai melipat tangannya bersandar di wastafel menatap Luhan dengan senyum mengembang di bibirnya. Luhan meliriknya terus menggerutu.
"YA!" Saat Kai menyentuh kepala Luhan, refleks Luhan menepis tangan Kai dengan kasar dan menatap tajam pemuda berkulit tan itu
"waeyo ?" tanya Kai dengan senyum yang masih setia di wajahnya. Luhan merapikan blazernya dengan raut wajah kesal "kau tambah manis kalau sedang kesal, Lulu~…" luhan melemparkan death glear ke arah Kai. untung saja tidak ada orang lain di sini saat Kai berkata seperti itu
Luhan hendak pergi namun Kai mencegahnya dan membalik tubuh Luhan menghadapnya. kai langsung menghimpit tubuh Luhan di wastafel dan kedua tangan kai berada di sisi kanan kiri pinggang Luhan menyentuh meja wastafel.
"Ya! Minggir. Aissh.. kau menjijikan!" teriak Luhan mendorong Kai namun tidak bisa. Rasanya Luhan ingin melayangkan tinju ke wajah menyebalkan Kai yang terus tersenyum padanya. Namun, saat hendak ia melakukannya pintu toilet terbuka menampakan Sehun dengan wajah datar dan tatapan tajam menatap mereka
Kai langsung membebaskan Luhan dan menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya. Luhan ? ia tak tau harus berbuat apa.
"mianhae, aku hanya mengobrol dengan istrimu..kkk~" penutiran Kai membuat Luhan melotot kearah pemuda itu
Istri ?
Apa Kai tau tentang ?.
Tapi, bagaimana bisa ?. Luhan yakin ia sudah berhati-hati agar tak seorangpun tau. luhan menatap tajam ke arah Sehun. ia menuduh Sehun atas situasi ini. apa Sehun memberitau semua temannya ?
"oww.. jangan salahkan suamimu. Aku tau sendiri karna otakku yang jenius ini." ucap Kai membuat Sehun memutar bola matanya. Luhan menatap Kai meminta penjelasan lebih namun pemuda itu sudah lebih dulu beranjak dari tempatnya
" sepertinya aku harus membiarkan suami istri bicara berdua dulu. Yah… meskipun aku sedikit tidak rela,kkk~ bercanda Sehun!." ucap Kai sebelum pergi dan menepuk bahu Sehun lalu menghilang di balik pintu toilet
Seperginya Kai. Luhan juga hendak pergi
"sedang apa dia di sini ?" tanya Sehun menghentikan langkah Luhan
"sedang apa aku juga tidak tau." jawab Luhan hendak melanjutkan jalannya namun Sehun menghalanginya. Membuat Luhan menatap Sehun dengan tatapan –ada apa-
"ehem!.. tangan dan seragamku kotor. Bersihkan!." Oh tidak, Sehun mulai lagi. luhan mendengus menarik tangan Sehun ke arah wastafel dan mencuci tangan Sehun. luhan tau seperti biasa, Sehun terus menatapnya membuat Luhan berpikir mungkin ia tidak bersih mencuci mukanya. Tapi, saat mendongak melihat wajahnya di cermin, Tidak ada kotoran di sana, wajahnya bersih dari kotoran ataupun jerawat. Luhan mengerutkan alis, heran dengan tingkah Sehun pagi ini dan saat ini
Selesai membersihkan tangan Sehun. Luhan membersihkan dan merapikan seragam Sehun. tiba-tiba dua orang berseragam sama seperti mereka masuk dan terkejut melihat mereka. luhan langsung menghadap wastafel dan mencuci tangannya
Sehun yang melihat itu menarik tangan Luhan menyuruhnya kembali merapikan seragam Sehun. luhan mengisyaratkan ada orang lain di situ selain mereka, Sehun hanya memutar bola matanya. Nampaknya ia juga sadar akan hal itu, tapi ia acuh dan menginginkan Luhan tetap merapikan seragamnya
"ini perintah." Ucap Sehun tepat di telinga Luhan membuat kedua orang yang berdiam di depan pintu makin terkejut dan ingin tau. luhanpun membersihkan dan merapikan kembali seragam Sehun sesekali melirik kedua pemuda yang berdiri mematung di pintu toilet. Saat Luhan merapikan rambut Sehun yang acak-acakan yang entah kenapa sampai seperti itu. ia nampak kesusahan karna tinggi badan Sehun yang membuatnya harus berjinjit.
Sehun yang sadar akan itu mencodongkan tubuhnya ke arah Luhan hingga wajah mereka terlampau dekat. Luhan langsung memundurkan kepalanya kembali melirik dua orang yang menganga di sana. sehun yang merasa terganggu karna Luhan tak fokus berdiri tegak menghadap kedua orang itu dengan tampang datar dan tatapan tajam seperti biasa
Jelas sekali kedua orang itu susah payah menelan liur mereka. Sehun berjalan mendekati mereka membuat mereka gemetar di tempat. Hooohh… apa Sehun semenakutkan itu ?. sehun mencabut name tag mereka yang terletak di dada sebelah kiri itu dengan kasar. Setelahnya ia menatap kedua orang itu sambil meletakan telunjuknya di depan bibir tipisnya, mengisyaratkan mereka untuk diam. Kedua orang itu menelan liur susah payah sebelum mengangguk. Sehunpun mengisyaratkan mereka untuk pergi. Yang membuat Luhan bertanya, untuk apa Sehun mengambil pin bertuliskan nama kedua orang itu
Sehun kembali menghampiri Luhan dan menyuruhnya kembali merapikan rambutnya. Luhan terus mengoceh cemas orang lain tau tentang mereka. Namun, Sehun berkata untuk jangan khawatir karna kedua orang itu tak akan berani buka mulut
.
.
.
.
Pulang Sekolah Luhan merasa bosan karna Lay tak bisa pulang bersamanya. Apa lagi Baekhyun tidak masuk karna kejadian kemarin. Dan seputar Lay punya pacar. Luhan sudah menanyakannya, ternyata itu Suho ketua Osis. Mereka tidak berpacaran tapi membuat Luhan bertanya-tanya, bagaiaman Lay bisa sedekat itu dengan Suho sementara mereka baru saling kenal saat Baekhyun dan Luhan tak masuk sekolah secara bersamaan
Hahhh…. Akhir-akhir ini semuanya sangat membingungkan. Luhan berjalan menuju gerbang sekolah saat sebuah motor tiba-tiba menghalanginya. siapa lagi kalau bukan Kai. kai menyodorkan sebuah helm ke arah Luhan. Luhan tau kalau Kai ingin mengantarnya pulang. Dan ini juga, Kai yang sebelumnya bersikap menyebalkan tiba-tiba bersikap acuh dan tiba-tiba menyebalkan lagi. sebenarnya ada apa dengan semua orang ?
"aku bisa pulang sendiri!." Luhan meninggalkan Kai. namun, Kai menyusulnya dengan tetep duduk di atas motornya. menjalankan motor itu dengan kedua kaki jenjangnya menyeimbangi langkah Luhan
"ayolah… kali ini saja. aku juga ingin mampir ke rumahmu. Bolehkan ?" ucap Kai membuat Luhan teringat sesuatu dan menghentikan langkahnya menatap Kai yang ikut berhenti. Yah… Luhan pikir tak apa jika mengajak Kai ke rumahnya. Lagipula Kai tau bagaiamana ia dan Sehun dan Kai juga teman Sehunkan. Luhan juga harus menanyakan pertanyaan yang tertunda di toilet tadi/
.
.
.
Luhan sadar sepenuhnya, mengizinkan Kai masuk ke dalam rumah adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan. Lihatlah tingkah pemuda itu, ia berkeliling rumah Luhan dan terus mengomentari apapun yang ditemuinya membuat telinga Luhan panas. Dia juga membongkar barang-barang tanpa izin, memakan cemilan Luhan dan meminum minuman Sehun. luhan sudah memperingatinya tapi Kai tetap berlaku seenaknya. Entah kenapa Luhan menginginkan Sehun berada di rumah saat ini juga karna ia tak bisa menghadapi Kai yang benar-benar menyebalkan. Semakin ia melarang, pemuda tan itu akan semakin berlaku seenaknya
Luhan sudah bertanya bagaimana ia tau tentang dirinya dan Sehun. kai hanya menceritakan sesuatu membuat Luhan teringat pagi yang mengerikan menurut pendapatnya. Yah.. pagi di mana ia bangun dalam pelukan Sehun
Luhan kewalahan dan tak bisa menghadapi Kai lagi yang terus berkeliaran di rumahnya dengan mulut terus mengoceh
"Lulu, kau bisa memasak ?. kau memasakan Sehun setiap hari ?. bisakah kau memasakan sesuatu untukku ?, aku ingin mencoba masakanmu. Ah, aku belum mengunjungi lagi kamar asdfghjklzxn" luhan duduk di sofa depan TV memijat tulang hidungnya. Tiba-tiba ia mendengar pintu terbuka. Luhan menoleh menampakan Sehun di sana masih berseragam lengkap tapi berantakan. Sebenarnya apa yang di lakukan Sehun ? kenapa hari ini ia sering terlihat berantakan. Biasanya ia selalu berpakaian rapi, tidak berantakan seperti ini
Tapi, itu tidak penting saat ini, melainkan mahkluk, tidak… Kai malah terkesan seperti ahjuma-ahjuma cerewet saat ini dari pada mahkluk aneh yang punya seribu mulut dan dapat berteleportasi di dalam rumah Luhan dan Sehun
"Sehun!…" Luhan langsung berjalan menghampiri Sehun yang langsung menyodorkan tasnya ke arah Luhan
"aku tidak tau lagi harus berbuat apa. Kau harus mengusir orang ini, dia benar-benar mengacaukan dapur dan terus mengoceh asdfghjkl" awalnya Sehun datang dengan raut wajah segar langsung merubah raut wajahnya ke mode datar saat Luhan bicara panjang lebar sambil menerima tasnya. Bahkan, saat menaiki tangga Luhan mengikutinya dengan ocehan yang tak henti-hentinya tentang orang yang datang ke rumah mereka dan saat ini berada di kamar. Sebenarnya siapa sih orang itu
Cklek….
Sehun membuka pintu kamar dan pandangannya langsung tertuju pada seseorang yang tidur terlantang di atas ranjang mereka. Sehun menatap Luhan meminta penjelasan kenapa orang itu bisa berada di sini karna Sehun tak mendengar semua ocehan Luhan tadi
"mianhae…" hanya itu yang keluar dari mulut Luhan sebelum menunduk
Sehunpun menghampiri ranjang dan menarik kaki Kai hingga pemuda itu jatuh mendarat di lantai. Menyisakan erangan cukup keras dari pemuda tan itu. ia langsung bangun mengumpati orang yang sudah dengan seenaknya mengganggu tidur siang sementaranya.
"pulang dan tidur di rumahmu. Kami akan menggunakan kamar ini." ucap Sehun membuat Kai mendengus, berdiri dan meninju perut Sehun bergegas lari sebelum Sehun membalasnya.
.
.
.
Luhan tidak tau apa yang selanjutnya setelah mandi bersama. Sehun benar-benar memerintahnya dengan berbagai hal yang menurutnya menyebalkan
"lebih keras. kau inikan namja, kenapa kau menggosoknya seperti seorang yeoja ?." Luhan mengatup rapat-rapat mulutnya dan meremas sponds penuh busa itu sebelum menggosok punggung Sehun dengan brutal, membuat Sehun mengerang dan membalik badannya menghadap Luhan
"kau ingin melukaiku ?." ucapnya. Entah kenapa Luhan merasa suara Sehun bergetar saat mengatakannya dan Sehun terlihat kesulihat dengan air liurnya yang tak kunjung sampai ke tenggorokan
"kau bilang tadi lebih keras. kenapa sekarang kau protes ?." Luhan tak mau kalah. Ia menatap Sehun yang saat ini diam dan terus menelan ludahnya dengan susah payah. Ada apa dengannya ?
"YA!" teriak Luhan membawa Sehun dari lamunannya. Luhan mengeryitkan alisnya melihat Sehun berdehem salah tingkah dan menarik boxernya sendiri sedikit ke atas.
"… berikan, lakukan seperti ini." Sehun merebut sponds itu dari tangan Luhan dan membalik tubuh Luhan. menggosok dengan lembut dan hati-hati punggung Luhan. seakan jika ia memperlakukannya dengan sedikit kasar saja, punggung itu akan tergores dan mengeluarkan darah. entah perasaan Luhan atau memang benar adanya. Sehun terus menelan ludahnya, Luhan beranggapan demikian karna hanya ada dirinya dan Sehun di dalam boxshower itu, dan Luhan tidak sedang menelan ludah hingga terdengar bunyi 'Glek' di sana. luhan juga merasakan tangan Sehun bergetar di punggungnya.
"tadi aku melakukan seperti itu tapi kau bilang seperti yeoja!." Luhan coba memecah situasi yang terasa aneh saat ini. di rasanya tangan Sehun tak lagi bergetar menggosok punggungnya dan tak ada lagi bunyi 'Glek' di sana
"tapi kau terlalu pelan. Harusnya kau melakukannya seperti ini.." ucap Sehun terus menggosok punggung Luhan. luhan menggaruk rambutnya yang basah sebelum membalik badan menghadap Sehun yang sepertinya terkejut dengan tindakan tiba-tiba Luhan. pemuda yang lebih tua merebut sponds dari tangan Sehun dan mencucinya lalu melumurinya kembali dengan sabun sebelum membalik badan Sehun dan kembali menggosok punggung Sehun seperti apa yang di lakukan Sehun padanya tadi
.
.
To Be Countinue
Ell Note : .
Ini chapt yang paling payah. Ell sadar itu. abis ini buntu banget, gak tau mau di terusin kayak gimana. sekali lagi, mianhae atas Typo, OOC dan penggunaan bahasa yang kurang baku atau kurang di mengerti atau kurang jelas ataaauuu…?
Yang minta adegan ehem.. ehem.. sorry, nanti ada waktunya, sekarang lagi bulan ramadhan jadi Ell gak mau bikin yang… ?. entar, puasa orang yang ngebaca batal, Ell dosa lagi.
Yang itu, memperbaiki penulisan, penempatan kata atau gimana itu. Ell butuh bimbingan, Ell gak bisa ngerjain sendiri. dan Ell gak punya orang yang bisa di andalin di sekitar Ell. Jadi harap maklumi…. Ell masih tahap belajar. Ell masih mentingin imajinasi yang ada di kepala Ell ketimbang … err… itu .. duh, apa yah namanya ?. ck! Yah… pokoknya yang itulah!
Dan kenapa di sini banyak Kailu ?, yah karna hunhan tuh Sehun skenarionya dikit banget. Gak ada seru-serunya, dia dataaaarrrr…. Banget, gak ada berani-beraninya godain Luhan kayak Kai. eh ? bukannya Sehun karakternya emang gitu yah ?, eumm… mungkin chapt-chapt kedepan Sehun bisa godain Luhan biar banyak hunhannya. Yaahh… Ell coba deh.
Eum… Ell kehabisan kata-kata buat kalian yang udah berkunjung, ngelirik, apa lagi ngebaca FF ini. gak tau apa bagusnya ni FF sampe Ell bisa dapet respon positive dari kalian. Oh, bagusnya ini FF HunHan kali yah ?, yaahh… pokoknya gracias aja buat kalian… Ell Cuma bisa usahaain semampu Ell buat bikin FF ini lebih baik buat ngebalas kalian. Gomawoo ^^
