DIFFICULT OF STRING

7

Sehun + Luhan

Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi

E

And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan

Preview…

"YA!" teriak Luhan membawa Sehun dari lamunannya. Luhan mengeryitkan alisnya melihat Sehun berdehem salah tingkah dan menarik boxernya sendiri sedikit ke atas.

"… berikan, lakukan seperti ini." Sehun merebut sponds itu dari tangan Luhan dan membalik tubuh Luhan. menggosok dengan lembut dan hati-hati punggung Luhan. seakan jika ia memperlakukannya dengan sedikit kasar saja, punggung itu akan tergores dan mengeluarkan darah. entah perasaan Luhan atau memang benar adanya. Sehun terus menelan ludahnya, Luhan beranggapan demikian karna hanya ada dirinya dan Sehun di dalam boxshower itu, dan Luhan tidak sedang menelan ludah hingga terdengar bunyi 'Glek' di sana. luhan juga merasakan tangan Sehun bergetar di punggungnya.

"tadi aku melakukan seperti itu tapi kau bilang seperti yeoja!." Luhan coba memecah situasi yang terasa aneh saat ini. di rasanya tangan Sehun tak lagi bergetar menggosok punggungnya dan tak ada lagi bunyi 'Glek' di sana

"tapi kau terlalu pelan. Harusnya kau melakukannya seperti ini.." ucap Sehun terus menggosok punggung Luhan. luhan menggaruk rambutnya yang basah sebelum membalik badan menghadap Sehun yang sepertinya terkejut dengan tindakan tiba-tiba Luhan. pemuda yang lebih tua merebut sponds dari tangan Sehun dan mencucinya lalu melumurinya kembali dengan sabun sebelum membalik badan Sehun dan kembali menggosok punggung Sehun seperti apa yang di lakukan Sehun padanya tadi

.

.

.

.

.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Luhan mendengus dan makan dengan brutal. Berbeda dengan Baekhyun dan Lay yang cengo tidak percaya kejadian langkah yang mereka alami. Begitupun seisi cafetaria lantai dua tempat mereka berada. Bagaimana tidak?

Seperti biasa, Sehun selalu membuat para gadis menjerit dengan kedatangannya. Namun, kali ini hanya ada Sehun. Entah kemana hyungdeul yang biasanya selalu bersama pemuda itu. Namun, bukan itu masalahnya. Melainkan Sehun yang dengan seenaknya duduk di samping Luhan tanpa membawa jatah makan siangnya. Yah… duduk di samping Luhan dan hanya memperhatikan Luhan yang makan dengan brutal

Orang-orang di sana tentu saja penasaran dengan hal itu. Begitupun dengan BaekLay yang duduk di hadapan Luhan dan Sehun. Luhan terus menunduk dan makan dengan brutal menghindari tatapan bingung, iri, membunuh dan yang paling sulit di artikan dari setiap orang yang berada di sana. Rasanya Luhan ingin menonjok wajah Sehun saat ini juga, mengusir dan menendang pemuda itu. Atau setidaknya biarkan bumi menelan pemuda itu

Selesai dengan makananya. Luhan meneguk abis jusnya tak tersisa. Dia menatap kedua sahabatnya yang dari tadi terus menampakan raut wajah yang sulit di artikan. Luhan menatap Sehun sekilas dan mendengus kesal sebelum menjatuhkan dagunya di atas meja menatap dua sahabatnya.

"kalian sudah selesai ? bisakah kita pergi sekarang?." tanya Luhan yang hanya di jawab dengan anggukkan kaku oleh BaekLay. Luhanpun berdiri, Sungguh,keadaan ini benar-benar membuatnya tak nyaman. Bagaimana tidak, semua orang mematung dan seakan hanya bisa melihatnya. Mereka semua memperhatikan setiap gerak gerik Luhan dan yang membuat ini lebih gila, kedua sahabatnya ikut-ikutan juga

Saat Luhan pergi, Luhan tau kalau Sehun juga akan mengikutinya membuatnya harus menghentikan langkah kakinya begitupun dua sahabatnya yang mengekor di belakang Sehun.

Tiba-tiba Luhan membalik badannya menghadap Sehun

"bisakah kau tidak bertingkah seperti Kai?. Aku sudah senang dia tidak mengekoriku. Dan sekarang ? . Hhh… sebenarnya ada apa denganmu?" Sehun tak menjawab. Ia hanya menampakan wajah datarnya menatap Luhan

"baiklah…baiklah… tapi, apa kau tidak melihat tatapan membunuh dari setiap gadis yang aku lewati ? Kau ingin membunuhku lewat mereka ?." Ucap Luhan lagi menatap Sehun yang terus diam. Luhan tau, Sehun tidak akan bicara karna saat ini mereka berada di tempat yang di selingi banyak orang. Luhan melihat ke belakang Sehun di mana kedua sahabatnya berada dan menarik pergi kedua sahabatnya itu

Luhan harus siap dengan lebih banyak teror setelah ini. Dekat dengan Kai saja ia sudah mendapat banyak kejutan yang.. errr… mungkin bisa di kata menyeramkan. Dan sekarang, Sehun mulai bertingkah seenaknya. Yah, tapi Luhan bersyukur sejauh ini tidak ada yang mengatainya gay. Luhan juga harus lebih ekstra hati-hati saat pulang dan pergi sekolah nanti. Jangan sampai ada yang mengikutinya

Sesampainya di kelas. Luhan langsung di intograsi kedua sahabatnya seputar Sehun. Luhan hanya menjawab ia tidak tau apa-apa, Ia hanya berteman dengan Kai dan seperti yang mereka tau bahwa Kai berteman dengan Sehun. Luhan punya rahasia Kai yang membuat Sehun terus mengikutinya karna Sehun ingin membalas Kai yang mengerjainya. dan tentu saja itu hanya karangan. Luhan hanya mengada-ada tapi berhasil membuat BaekLay percaya. Yaahh.. meskipun awalnya Baekhyun ngotot meminta penjelasan lebih karna ia masih sedikit ragu dengan jawaban Luhan.

.

.

.

.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Luhan pulang ke ruamh dengan keadaan mengenaskan. Wajahnya lebam dan bajunya kotor tak karauan. Yah… seperti dugaannya, teror yang di arahkan padanya semakin menjadi. Luhan masih sempat pulang ke rumah sembunyi-sembunyi takut ada yang mengikutinya. Merasa aman, Luhan masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu sebelum ia tersungkur di lantai menimbulkan bunyi 'Bruk' di sana

Hari sudah malam dan Luhan merasa dunia berputar, wajahnya sangat sakit bahkan hanya untuk menelan liurnya saja bibirnya terasa ngilu. Tak ada yang membantunya, pasti Sehun belum pulang. Tubuh Luhan terlalu sakit dan seakan ingin remuk untuk sekedar berdiri. Ia memilih membiarkan dirinya tergelatak di lantai dan menutup matanya terlalu lelah hari ini

.

.

.

Kedua kalinya Luhan bangun di tempat yang bukan terakhir kalinya ia berada. Luhan membuka matanya dan sakit langsung menjalar di sekitar matanya yang lebam. Luhanpun lebih memilih menutup kembali matanya meringis sakit. Bahkan meringispun bibirnya terasa sakit. Luhanpun memilih diam tak melakukan apapun seperti orang tengah terlelap.

Luhan merasa ranjang tempatnya berbaring bergoyang dan Menambah beban di satu sisi. Luhan yakin seseorang baru saja naik ke sana. Apa itu Sehun ? Luhan tak bisa melihatnya karna matanya terlalu sakit untuk di buka. Dan ia tak bisa bicara, membentak, atau berteriak karna bibirnya juga sakit

"mianhae.." lirih suara yang Luhan kenal itu suara Sehun. Luhan merasa sebuah tangan menyapu lembut surainya. Dan Luhan tau itu tangan Sehun. Ingin rasanya Luhan menyingkirkan tangan itu. Kalau di pikir secara logika, ia akan menganggap perlakuan Sehun itu menjijikan. Namun , entah bagaimana perasaan senang menjalari hatinya saat Sehun melakukan itu dan..

Cup…

Apa itu ?

Apa baru saja Sehun mencium keningnya ?! astaga!…. Ingin rasanya Luhan membuka mata dan berteriak di depan Sehun bahwa pria itu menjijikan dan ia tak sudi dengan perlakuan Sehun barusan. Namun, seakali lagi, lebam di sana sini seakan adalah sebuah alarm pengingat sakit yang akan ia terima jika ia bergerak. Luhan kembali merasa ranjang tempatnya tidur bergoyang dan selimut yang di pakainya tertarik hingga menutupi lehernya. Astaga, ini benar-benar menjijikan, Luhan harap dia hanya bermimpi dan Sehun tidak benar-benar melakukan hal-hal menjijikan dalam pikirannnya saat ini. Luhan harap Sehun menciumnya hanyalah sebuah mimpi. Kalau tidak, ia akan muntah di pagi hari mengingat ia sering mandi bersama Sehun

"jaljayo, Lu." Ucap Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Luhan. Luhan ? ia semakin shock. Ia benar-benar berharap ini hanya mimpi dan Sehun bukan seperti apa yang ia pikirkan

Luhanpun membiarkan Sehun mendekap tubuhnya karna tubuhnya terlalu sakit untuk bergerak. Dan sekali lagi ia berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang penah ia mimpikan

.

.

.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Pagi datang dan Luhan rasa ia mengalami dejavu. Entah bagaimana ceritanya ia bisa menggerakan tubuhnya yang sakit hingga memeluk Sehun. Luhan ingin melepas pelukannya lalu pergi dari sana karna ia sadar semuanya bukan mimpi. Sehun adalah 'gay'. Luhan menjadi tidak nyaman dan jijik terhadap pria itu. Namun sekali lagi, lebam menyusahkan itu membatasi pergerakannya, bahkan saat bangun pagi semuanya terasa lebih sakit dari yang tadi malam. Ia harus mati-matian menahan sakit jika ia bergerak, terpaksa ia pasrah dengan posisi saat ini.

Karna Luhan tak bisa membuka matanya. Pemuda bertubuh mungil itu tak menyadari Sehun yang sudah lebih dulu bangun tengah memandangi wajahnya yang masih menutup mata. pemuda tampan itu mengira Luhan masih berkelana di alam mimpi melihat tak ada pergerakan dari Luhan. Entah apa menariknya memandangi wajah penuh lebam Luhan. Sengaja atau tidak, Sehun mengangkat tangan kirinya yang berada di pinggang Luhan dan mendaratkannya di wajah Luhan. Membelai halus setiap lekukan wajah Luhan dengan hati-hati. Berharap dengan seperti itu akan mengurangi sakit di bagian wajah pemuda yang lebih tua darinya itu

Luhan sendiri yang merasakan jemari Sehun di wajahnya sudah mengumpat dan merutuki dirinya yang tak bisa berbuat apapun dalam hati. Ingin rasanya ia membuka mata, menepis tangan itu dengan kasar dan melayangkan tinju ke wajah Sehun. namun, itu hanya angan-angannya saja. Tapi… lagi-lagi sedikit, hanya 'sedikit' dari lubuk hatinya yang terdalam ia menyukai jemari Sehun yang membelai wajahnya. Membuatnya seakan-akan tak mendapat luka apapun di wajahnya karna Sehun memperlakukannya dengan sangat lembut. STOP!… Luhan, apa yang kau pikirkan ? ah… kau bisa gila kalau berlama-lama dengan pemuda bermarga Oh ini di sini

Tiba-tiba Sehun menghentikan kegiatannya dan perlahan melepas tangan Luhan yang melingkar di tubuhnya. Jujur saja pergerakan sekecil apapun yang Luhan lakukan itu sakit. Termasuk saat Sehun menggerakkan tangannya menjauh dari pinggang pemuda tampan itu. Rasanya lengan Luhan akan remuk, hanya saja Sehun tak tau akan hal itu. Sehun beranjak dari tempat tidur dan keluar dari sana

.

.

.

Luhan merasa lebih baik setelah dokter memeriksanya. Dokter memberikan sesuatu yang di tempelkan ke wajah dan setiap luka lebamnya. Membuat Luhan merasa lukanya mendingin dan akan sembuh. Bahkan, ia sudah bisa membuka mata dan mulutnya. Ingin rasanya ia langsung meneriaki dan memaki Sehun atas perlakuan pemuda itu yang membuat hati dan logikanya berperang. Sudahlah, Luhan tak mau mengingatnya. Luhan berencana kalau dia sembuh nanti. Ia tak akan mau tinggal bersama Sehun. Ia tak mau tinggal bersama pria gay. Ia menyesal karna mereka pernah mandi dan ganti pakaian bersama. Tidak, lebih tepatnya ia menyesal pernah hidup bersama dan mengenal Sehun. Menjijikan!

"buka, Lu. Kau harus makan. Kau dengarkan tadi apa kata dokter ?" sepeninggalan sang dokter. Luhan di sarankan untuk makan makanan yang lembut seperti bubur. Namun, bubur bukanlah hal yang luhan sukai. Ia mengatupkan rapat-rapat mulutnya tidak mau Sehun memasukan makanan yang menurutnya menjijikan itu ke dalam mulut. Belum lagi dia di suapi oleh Sehun, semakin menambah kesan menjijikan makanan itu bagi Luhan

Sehun menurunkan sendok berisi bubur itu dari depan bibir Luhan sebelum mendesah pasrah. Namun, sebuah ide kecil melintas di otaknya. Sehun kembali menyodorkan sendok itu di depan bibir Luhan dengan wajah datar

"makan!. Ini perintah." Luhan memutar bola matanya. Sehun selalu menggunakan alasan itu. Ia selalu di bebankan dengan alasan kedua sahabatnya dan tentang hubungan mereka. Sehun tau Luhan sangat mencemaskan orang lain mencium tentang hubungan mereka, namun Sehun sendiri tidak terlalu perduli, bahkan tidak perduli orang akan tau atau tidak..

Luhan bersumpah, makanan apapun itu akan di makannya. Tapi tidak dengan bubur. Seenak apapun menurut orang lain bubur itu. Menurut Luhan itu tetaplah bubur makanan paling menjijikan yang Menyentuh sedikit saja lidahnya, Luhan akan muntah.

"Chanyeol.."

"hnm…" Luhan bergumam saat Sehun meletakan smartphonenya di telinga dan menyebut nama Chanyeol. Pasti sehun akan melakukan sesuatu karna ia tak melakukan perkataan Sehun. Tapi, ayolah… itu bubur, makanan lembek dan… bau yang tidak mengenakan menurut Luhan

"wae ?." Sehun menjauhkan smartphonenya dari telinga dan menatap Luhan. dalam hati pemuda itu bersorak merasa menang. Luhan tak menjawab, ia hanya melirik bubur yang berada di nakas sebelah tempat tidur

"kau akan memakannya ?", tanya Sehun lagi dan Luhan mengangguk sekali dengan sangat sangat terpaksa. Sehun tersenyum, senyum yang belum pernah Luhan lihat. senyum menyebalkan seperti yang biasa di perlihatkan oleh Kai padanya

"mianhae, Hyung. Aku hanya ingin mengecek speakerku." Setelah berkata. Sehun mematikan sambungannya yang Luhan yakini Chanyeol tengah mengumpat kesal di seberang sana

.

.

.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Seperti yang Luhan rencanakan. Jika ia sembuh, Ia akan pergi dari rumah. Sekarang ia tinggal di rumah Lay. Kebetulan Lay hanya tinggal bersama para pelayannya dan tau sendirilah, Orang tuanya tak pernah datang menjenguk anaknya. Lay ? tentu saja ia menanyakan alasan Luhan ingin tinggal di rumahnya. Dan ternyata alasan rumahnya terlalu sepi cukup ampuh untuk menghentikan intograsi Lay lebih lanjut. Lay sangat senang Luhan tinggal di rumahnya. Ia jadi punya teman bicara. Huhh.. kalau Luhan memilih Baekhyun, pasti anak itu tidak akan habis-habisnya bertanya. Membuat Luhan kewalahan dan akhirnya berkata jujur. Tidak! Itu tidak boleh!

"kemana Baekhyun ?." tanya Luhan celingik celinguk di dalam kelas saat mereka baru saja tiba di sana

"entahlah. Akhir-akhir ini aku jarang melihatnya.", Lay menduduki bangkunya dan mengeluarkan sebuah buku

"akhir-akhir ini ?. sejak kapan ?." tanya Luhan menatap Lay dengan alis berkerut

"shh.. em.. tapi, sebelum itu. aku ingin bertanya. Bagaimana ceritanya kau sampai di keroyok dan babak belur ?. dan lagi, kenapa kau tidak mengizinkanku dan Baekhyun datang menjengunkmu ?. lalu, siapa saja yang membuatmu sampai tidak bisa masuk sekolah beberapa hari yang lalu ?." tanya Lay berturut-turut. Luhan yang awalnya biasa saja memasang wajah datarnya. Namun, ia tetap menjawab, tidak mau sahabatnya ini di buat penasaran dan akhirnya mencaritau sendiri

"mungkin insiden Sehun waktu itu, kau tau ? Soal aku tidak mengizinkan kalian…eumm.." Luhan menggaruk kepalanya coba mencari alasan yang tepat agar Lay tak curiga "eum… aku, aku…hanya tidak ingin merepotkan siapapun." ucapnya ragu. Luhan menatap Lay, berharap sahabatnya itu percaya. Dan benar saja, Lay hanya mengangguk

"lalu, siapa yang membuatmu babak belur ?." tanya Lay lagi masih penasaran. Luhan mencodongkan tubuhnya ke arah Lay

"kau tau Hyun ah ?." Lay menjauhkan tubuhnya menatap Luhan dan mengangguk. Luhan mengisyaratkan Lay kembali mendekat "jangan beritau siapapun." Lay mengangguk " ia mengancamku. Begini! sebenarnya bukan Hyun ah yang memukuliku sampai seperti itu. Tapi namja-namja yang dekat dengan mereka. Hyun Ah menyuruh mereka mengeroyokku—"

"ck! Ceritalah lebih jelas. Jangan ragu, aku tidak bermulut ember. Dan Ren tidak berada di sini. Jadi kau jangan khawatir." Ucap Lay memundurkan tubuhnya. Luhan menatapnya lalu mengedarkan pandangan ke isi kelas

"Ren tidak di sini ? Tapi, seseorang bisa saja mendengarnya dan memberitau Ren lalu dia memberitau Hyun Ah kalau aku menceritakannya padamu. Yeoja itu sangat mengerikan!." Luhan merinding membayangkan bagaimana Hyun Ah memerintah pemuda pemuda berbadan kekar tempo hari menyiksanya. Kalau saat itu ia tak segera kabur. Mungkin saja ia mati di sana. Saat inipun ia was-was dengan keberadaan wanita itu dan kelompoknya. Hyun Ah sangat tergila-gila pada Sehun. Tidak ada yang boleh mendekati Sehun selain dirinya. Kalau ia mendapati seseorang bersama Sehun selain Kyungsoo, Chanyeol, Kai dan Kris. Maka orang itu akan berurusan dengan Hyun Ah. Yah, seperti Luhan beberapa hari yang lalu.

Lay yang menyimak Luhan memutar bola matanya. Bagaimana mungkin pemuda yang terkenal jutek dan selalu bersikap garang meski tak berhasil itu takut pada seorang wanita. Yah, meskipun ia juga merinding membayangkan betapa kejamnya wanita itu terhadap orang yang coba-coba mendekati Sehun

"kau tau. Selain Baekhyun yang tiba-tiba tidak masuk beberapa hari ini, aku juga tak pernah lagi melihat kelompok Hyun Ah sejak kau tak pernah masuk beberapa hari yang lalu. Bahkan ku dengar Ren pindah sekolah." Ucap Lay kembali mencodongkan tubuhnya ke arah Luhan. Luhan ? ia tak tau harus mengeluarkan ekspresi seperti apa sampai mereka harus menunda perbincangan mereka saat seongsanim sudah berada di dalam kelas

.

.

.

Luhan dan Lay menghabiskan waktu istirahat mereka di dalam kelas, taak ada niat sama sekali berkunjung ke cafetaria. Luhan masih terus memikirkan ucapan Lay tentang Hyun Ah dan kelompoknya, juga masalah Baekhyun yang tak kelihatan beberapa hari ini. Sebenarnya apa yang terjadi ?

Baekhyun, kemana dia ? Lay berakata ia mengunjungi rumah Baekhyun. Namun, di sana tak ada siapa-siapa. Bahkan eommanyapun tak pernah kelihatan. Lay juga bertanya pada tetangga Baekhyun, tapi mereka tidak tau. Sudah beberapa hari rumah Baekhyun kosong tak berpenghuni.

Tunggu, apa mungkin ini karna Luhan pergi dari rumah ?. apa Sehun melakukan sesuatu ? Tidak mungkin, Luhan baru pergi selama 2 hari dan Baekhyun tak pernah kelihatan satu hari setelah Luhan tak masuk sekolah. Sebenarnya kemana sahabatnya itu.

Luhan menghembuskan nafas kasar, membaringkan pipinya di atas meja dan melihat ke luar jendela

"KYAAA!..." Luhan tak mengubris teriakan seorang siswi di dalam kelasnya. Pikirannya terlalu penuh soal Baekhyun. Luhan sedikit merasa aneh saat tiba-tiba kelas menjadi hening seketika. Padahal tadi sangat berisik dan tiba-tiba penuh teriakan-teriakan histeris para yeoja yang entah apa membuat mereka berteriak seperti itu. Luhan kembali menghembuskan nafas tak perduli dengan keadaan yang aneh itu

Tiba-tiba ia merasa tangan seseorang melingkari pinggangnya dari belakang. Sepengetahuan Luhan, hanya ada Lay di belakangnya

"Lay.., lepas. Kau menjijikan!." Ucap Luhan malas-malasan coba melepas tangan itu dari pinggangnya masih dengan posisi yang sama. Namun, bukannya lepas, tangan itu semakin erat melingkari pinggangnya membuat Luhan bangun dan duduk tegap menatap orang di sampingnya dengan mata terbelalak sempurna. Orang itu menatapnya dengan tajam, Dan Itu bukan Lay, Luhan tak tau harus berkata apa. Luhan melihat sekitarnya yang terpaku di tempat masing-masing. Bahkan Lay ? Luhan tak tau bagaimana pemuda berdumple itu bisa berada di barisan depan pintu kelas tanpa Luhan sadari

"ma-mau apa kau, eoh ?." ucap Luhan sok sinis menatap orang itu—Sehun. Sesekali ia melirik orang-orang yang tengah menyaksikan mereka. Luhan hanya berharap kali ini ia bisa pulang dengan selamat tanpa babak belur. Lebih lagi ia berharap tak akan pernah melihat Sehun di hadapannya

Bukannya menjawab. Sehun malah berdiri dan menariknya pergi dari tempat itu. Luhan terus meronta melepaskan tangan Sehun dari pergelangan tangannya. Setiap orang yang mereka lewati hanya terpaku di tempat tak bersuara. Dapat Luhan lihat kebanyakan dari mereka mencibir dan menatap Luhan penuh amarah

Braakkk…

Sehun mengempaskan Luhan di dalam toilet. Luhan langsung memegang pergelanagan tangannya yang sakit di cengkram Sehun tadi. Orang-orang yang tengah beraktifitas di dalam toiletpun terkejut saat Sehun menendang pintu toilet dengan kasar dan menimbulkan suara debeman (?) yang sangat keras. Sehun menatap setiap orang yang ada di sana dengan tajam. Membuat mereka menelan liur susah payah.

Sehun berjalan mendekati wastafel tepat seorang pemuda di sana berdiri dengan gemetar ketakutan.

PRAAANGG

Sehun mengambil botol sabun yang ada di atas wastafel dan membantingnya ke cermin wastafel hingga cermin itu pecah dan botol sabun itu remuk. Orang-orang di sana terbelalak semakin takut dan tanpa aba-aba mereka lari berhamburan keluar toilet tak terkecuali Luhan. Namun, sebelum ia keluar dari sana, Sehun kembali menariknya masuk dan mengunci pintu toilet hingga hanya dirinya dan Sehun di situ. Luhan menelan kasar liurnya. Sungguh, ia tak pernah melihat Sehun semenyeramkan ini terhadapnya

"hahh… kau tak perlu setegang itu." ucap Sehun tiba-tiba merubah raut wajahnya. Luhan sweatdrop. Tadi tampang Sehun sangat menyeramkan dan tiba-tiba saat ini ….? Bocah labil

"lihatlah. Gara-gara kau tangan dan seragamku terkena sabun. Bersihkan!." Luhan menganga tidak mengerti dengan pikiran Sehun.

"kenapa kau diam saja, eoh ?" ucap Sehun cukup keras membuat Luhan bergerak dan segara melakukannya. Namun, detik kemudian ia menyadari sesuatu. Ia menghentikan pekerjaannya dan melempar tatapan tajam ke arah Sehun

"wae ?. oh, ya.. aku tau kau menginap di rumah temanmu 2 hari ini. Kenapa kau melakukannya ? Aku tidak menyuruhmu menginap di sana. Kau harus pulang, ini perinta—"

"menjijikan!. Aku tak mau melakukannya!." Ucap Luhan memotong ucapan Sehun membuat Sehun mengeryit.

"kau pikir aku bodoh ?. cih!, aku tak akan sudi kembali dan tinggal satu atap dengan orang sepertimu, menjijikan!." Lanjut Luhan sekilas menatap Sehun dengan tatapan jijik sebelum pergi dari sana. Namun, tiba-tiba Luhan menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Sehun

"kau tidak mau kembali ?. bagaimana kalau aku membakar rumah pemuda berdumple itu ?. ah.. tidak, mungkin lebih baik jika aku menghancurkan reputasi orang tuanya." Ucap Sehun yang sepertinya mengerti ke mana arah pembicaraan Luhan. Lama ia berpikir, rupanya ia terlalu bodoh. Luhan pasti mulai berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya mengingat bagaimana sikapnya akhir-akhir ini yang terlalu perhatian pada Luhan. Dan ia tau Luhan sangat anti dengan kata 'gay'. Sehun sendiri tak tau kenapa ia memperlakukan Luhan dengan sangat berbeda. Lebih istimewa dan lebih lembut. Sehun tak tau apa ia bisa di bilang 'gay' atau bukan, Sehun juga tak tau apa itu berarti ia menyukai Luhan atau tidak. Yang ia tau, ia akan merasa senang melakukan semua itu jika itu adalah Luhan

"otte ?. hmm.. bagaimana kalau dua-duanya ?." entah Sehun serius atau bercanda dengan ucapannya. Luhan berbalik dan menatap tajam pemuda yang lebih muda darinya itu. Sementara Sehun menatapnya memamerkan senyum. Senyum yang menyebalkan menurut Luhan

"yah, aku akan pulang. Puas ?!." ucap Luhan hendak membuka pintu namun lagi-lagi perkataan Sehun membatalkan niatnya

"aku tidak menyuruhmu pergi."

"aku tidak pergi." Ucap Luhan berdiri mebelakangi pintu menghadap Sehun dengan raut wajah kesal. Sehun memalingkan kapalanya menatap cermin wastafel yang pecah karna ulahnya sebelum menatap Luhan dan mengisyaratkan Luhan mendekat ke arahnya. Luhanpun mendekat dengan ragu dan jangan lupa raut jijiknya berdekatan dengan Sehun

"jangan memasang wajah seperti itu. Aku belum bisa memastikan aku seorang gay atau bukan. Lagi pula, kenapa denganku kau seperti ini ? sementara dengan sahabat-shabatmu itu kau biasa saja ?." ucap Sehun setelah mengisyaratkan Luhan kembali mencuci tangan dan merapikan seragamnya

"mereka bukan gay!. Mereka hanya mengagumi teman-temanmu." Relat Luhan sambil mencuci tangan Sehun yang masih licin dengan sabun

"oh, ya ?. jangan kira aku tak tau tentang mereka. Aku selalu tau apapun yang menyangkut dirimu." Ucapan Sehun membuat Luhan menghentikan pekerjaannya dan menatap Sehun, meminta penjelasan atas perkataanya. Sehun tak menjawab, dia mengangkat kedua tangannya di depan Luhan dengan satu alis terangkat. Ia sendiripun tak mengerti kenapa ia melakukan itu, maksudku… ucapannya yang 'aku selalu tau apapun yang menyangkut dirimu'. Yah, Sehun selalu tau dan mencari tau apapun mengenai Luhan

Luhan yang mengerti dengan isyarat Sehun mengangkat kedua tangannya kembali meraih tangan itu dan mencucinya hingga bersih lalu merapikan seragam Sehun

"ah, ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Luhan tiba-tiba teringat sesuatu sambil mengusap seragam sehun di bagian bahu

"tanyakan saja." ucap Sehun seperti biasa matanya hanya tertuju pada Luhan

"…kau tau soal Baekhyun ?. kudengar ia tak pernah kelihatan akhir-akhir ini. Dan aku juga tak bisa menghubunginya. Ia juga tak berada di rumahnya. Kau melakukan sesuatu padanya ? kau tidak menepati kesepakatan ?!." ucap Luhan beruntun. Sehun menatap Luhan dalam diam, detik kemudian ia terlihat seperti tengah berpikir. Tapi, Luhan tau itu di buat-buat

"aku tidak tau. aku tidak melakukan apapun padanya." Ucap Sehun menggelengkan kepala yang terlihat di buat-buat di mata Luhan. Luhan menatapnya dengan tatapan intimidasi

"sungguh. Aku tidak tau." ucap Sehun lagi mengerti dengan tatapan Luhan. Namun, kali ini Sehun terlihat benar-benar tak tau soal ini. Membuat Luhan mendengus setelah merapikan dasi Sehun. Tanpa Luhan sadari, Sehun mengeluarkan senyum yang menyebalkan menurut Luhan. Namun itu hanya sekilas, takut Luhan melihatnya

"apa aku boleh pergi sekarang ?." tanya Luhan. Tapi, lagi-lagi ia di buat kesal dengan tampang Sehun yang seolah-olah sedang berpikir

Sreett….

Luhan membulatkan matanya secara tiba-tiba Sehun meariknya dan menghimpit tubuhnya ke wastafel dengan Sehun berhadapan dengannya. Persis seperti yang di lakukan Kai waktu itu. Luhan dapat melihat mata Sehun menatapnya dalam penuh arti semakin membuatnya jijik akan sosok Sehun. Namun, Luhan juga tak bisa berbuat apa-apa karna Sehun akan menggunakan alasan –ini-perintah- yang membuatnya diam dan menurut

Deg….

Luhan tak tau, lama bertatapan dengan mata itu membuat jantungnya berdetak di atas normal. Ada apa ini ?. Luhan menelan kasar liurnya saat Sehun mendekati wajahnya, bukan, tapi telinganya dan menghembuskan kecil nafasnya di sana membuat Luhan semakin berdebar dan merinding. Sebenarnya apa yang akan di lakukan Sehun, dan kenapa jantungnya berdetak secepat ini ?

"bagaimana kalau—"

BRAAKK….

"maaf mengganggu kalian. Tapi aku benar-benar sudah tak—"

Brakk…

"—tahan lagi!."

Sehun dan Luhan terlonjak kaget tiba-tiba pintu yang sudah di kunci dari dalam itu di dobrak cukup keras oleh Kai yang entah punya kekuatan apa sampai-sampai pintu itu terbuka dan terlihat ingin runtuh. Kai berlari masuk ke dalam salah satu bilik sambil memegangi celananya tanpa memperdulikan keterkejutan Sehun dan Luhan

Kriieett…. Kreekkk…. Kreett…. Ngeett….. (?. Abaikan saja, anggaplah suara pintu yang akan runtuh)

BRUUKKK….

Bukan ingin runtuh lagi. Tapi, pintu itu memang baru saja runtuh. Wah, sepertinya pihak sekolah harus memperbaiki cermin wastafel dan pintu toilet itu.

Luhan dan Sehun menatap pintu yang sudah jatuh ke lantai. Kemudian mereka saling tatap satu sama lain sebelum Luhan tersadar dan mendorong Sehun menjauh sadar dengan posisi mereka yang belum berubah. Luhan langsung berjalan cepat keluar toilet diikuti Sehun dari belakang. Luhan sempat berhenti saat di depan toilet ada begitu banyak orang yang entah sejak kapan berada di sana membuatnya heran dan bertanya. Apa mereka dari tadi berada di sini ?

.

.

.

,,,,,,,,,

sehari yang lalu Luhan sudah kembali ke rumah. Hal itu tentu mengundang Lay untuk bertanya. Lagi Luhan memberikan alasan palsu dan Lay hanya mengangguk mengerti. Luhan bersyukur karna itu Lay. Kalau itu Baekhyun, ia pasti tak akan semudah itu mengangguk. Bicara soal Baekhyun, anak itu benar-benar hilang bagai di telan bumi. Tak ada kabar apapun tentangnya. Luhan dan Lay juga sudah berusaha mencarinya tapi… seperti sekarang, tak ada Baekhyun di sekitar mereka

"kancingkan.." dan bicara soal kembalinya Luhan ke rumah. Ia tak mempermasalahkan lagi Sehun gay atau bukan. Hanya sedikit bantuan seputar hilangnya Baekhyun bisa membuat Luhan menerima keadaan Sehun yang gay atau bukan. Kali ini Sehun makin memanfaatkannya. Memerintah dan menyuruhnya melakukan semua yang di katakan oleh Sehun. Kecuali satu, sekarang Luhan menolak untuk mandi bersama Sehun. Sehun sendiri tak mempermasalahkan itu karna sejujurnya ia merasakan sesuatu yang aneh melihat Luhan yang hanya menggunakan boxer

"issh,,, bisakah kau biarkan aku mengancing lengan bajuku dulu ?." tolak Luhan menatap Sehun sekilas lalu kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sehun yang sepertinya tak terima memutar badan Luhan menghadapnya mengisyaratkan Luhan mengancing kameja hitam polos yang di gunakan Sehun. Luhan mendengus namun tetap melakukannya

"apa yang kau lakukan ?." pekik Luhan memegangi tangan Sehun yang hendak membuka kancing kameja putihnya.

"kau tidak baca temanya apa ? 'seksi - fulgar'. Dan kau mengancingnya sampai kerah ?. benar-benar tidak sesuai dengan tema." ucap Sehun menyingkirkan tangan Luhan dan membuka dua kancing teratas kameja Luhan. Luhan sendiri terlihat berpikir sebelum mengangguk-angguk setuju. Luhan menyadari dirinya yang mengancing setiap kancing kameja Sehunpun melepas dua kancing teratas kameja Sehun. Setelah selesai, merekapun bercermin dengan berdiri berdampingan

Sehun yang tak puas dengan penampilannya membuka satu kancing teratasnya lagi sehingga dada bidangnya lebih terekpos. Luhan yang melihat itu ingin mengikutinya tapi Sehun mencegahnya dan menggeleng

"kenapa ?." tanya Luhan memegangi kancingnya menatap Sehun

"tidak, seperti itu saja. kau sudah terlihat seksi." Ucap Sehun melepas tangannya yang tadi mencegah tangan Luhan melepas kancing bajunya sendiri

"geurae ?." ucap Luhan menatap dirinya di depan cermin "yeah… aku sudah terlihat seksi, dan tampan!.." Sehun yang berada di sampingnya tertawa kecil memperhatikan Luhan yang tengah berpose di depan cermin. Sehun meletakan telunjuknya di dagu menatap Luhan sambil berpikir sebelum meraih kameja Luhan membuat Luhan terheran-heran namun tetap diam. Sehun menarik keluar kameja Luhan yang tadinya ia masukkan ke dalam celana dan melipat sedikit lengan baju Luhan yang panjang

"good.." ucap Sehun tersenyum melihat Luhan. Kembali Luhan melihat pantulan dirinya di depan cermin dan berbangga diri dengan wajahnya yang tampan menurutnya

"Lu, kemari." Ucap Sehun yang entah sejak kapan duduk di depan meja rias. Luhan merasa di panggilpun menghampirinya

"aku tidak mau tau. Kau tau caranya atau tidak. Tata rambutku seperti ini." ujar Sehun menunjukan sebuah gambar di majalah. Luhan tau itu gambar siapa, itu Robert Pattinson di film Twilight. Dia tidak sendiri, tapi bersama Kristen Stewart. Sehun menunjuk gambar Robert yang rambutnya di tata ke atas persis seperti di film Twilight. Sehun benar-benar orang yang memperhatikan penampilan menurut Luhan

.

.

.

Luhan pikir apa yang ia katakan pada Baekhyun dan Lay beberapa hari atau minggu yang lalu patut di coba. Karna apa yang ia katakan benar-benar di lakukan sebagian orang yang menghadiri pesta ulang tahun Kyungsoo. Luhan yang turun dari mobil Sehun di tempat parkir cepat berlari memasuki pesta sebelum Sehun mengekorinya dan membuat dirinya dalam bahaya. Namun, saat memasuki tempat pesta Luhan benar-benar di buat shock. Mata dan mulutnya menganga melihat pemandangan di depannya

Ini benar-benar tema yang…. Luhan tak tau harus mengatakan apa. Tapi, ini GILA…., banyak wanita berpakaian seksi dan mengekpos sebagian besar tubuh mereka berjalan kesana kemari. Dan tidak sedikit pula yang hanya memakai bikini atau bahkan tak memakai sehelai benangpun di tubuh mereka. Pria di sana juga tak mau kalah dengan pakaian yang cukup terbuka. Bahkan ada yang mungkin sudah sedikit gila hanya memakai boxer berkeliaran bebas, pikir Luhan. belum lagi, tataan ruangan yang benar-benar membuat orang merasa keadaan semakin panas

"Lulu.." Luhan terlonjak kaget saat seseorang menepuk bahunya dan berteriak di telinganya cukup keras. Luhan menoleh dan mendapati Kai di belakangnya bertelanjang dada dengan cengiran lebarnya.

"wooow~~" seru Kai memperhatikan Luhan dari atas ke bawah lalu ke atas lagi

"..hei, kemana bajumu ?." tanya Luhan memperhatikan Kai yang hanya mengenakan sepatu dan celana panjangnya. Kai menatap dirinya sendiri lalu tersenyum ke arah Luhan

".hhh… tadi aku memakainya. Tapi, melihat keadaan lebih baik aku lepas saja." Kai melihat sekitarnya. Luhan hanya mengerutkan alis mendengar penuturan Kai. ia lalu mengedikan bahunya tak perduli. Orang yang aneh!

"hei.. kau ingin minum ?. ayo!.." Tanpa menunggu respon dari Luhan. kai sudah menarik pemuda itu mengikutinya ke salah satu meja yang terdapat bartender di sana. Kai memesan minuman dan Luhan hanya mengikutinya. Luhan benar-benar mencuci matanya dengan pemandangan wanita seksi saat ini. tiba-tiba ia teringat sesuatu, seharusnya saat ini ia mencari Kyungsoo dan memberinya selamat

Luhanpun mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Kyungsoo. Ia melihat ke sisi sebelah kirinya. Di sana terdapat Kris dengan seorang wanita memakai dres mini ketat berwarna silver mengkilat sedang asik mengobrol. Pikir Luhan, ada Kris mungkin saja ada Kyungsoo juga. Luhanpun memperhatikan Kris di sana namun, ada yang menjanggal.

Bukan Kris, tapi wanita yang bersamanya. Luhan sepertinya familiar dengan wanita itu. Bukannya mengintip atau apa, tapi.. Luhan sudah lebih dulu melihat ke arah Kris sebelum ia dan wanita itu berciuman. Saat Kris memutar posisi mereka barukah Luhan bisa dengan jelas melihat siapa gadis itu. Luhan membulatkan mata tak percaya. Wanita itu familiar, sangat familiar dan yang Luhan tau, wanita itu tengah berada di Thailand, belum akan pulang dalam waktu dekat ini. tapi, kenapa dia bisa berada di sini ? bercumbu dengan Kris di depan umum ? dan menyakiti hatinya

Luhan mengepalkan kedua tangannya dengan kilatan marah di matanya

'kau membohongiku, Hara!'

To Be Countinue

Ell Note :

Terimakasih buat yang masih setia dengan FF ini. terimakasih juga buat respon positive kalian di chapt sebelumnya. Dan Ell Cuma mau ngasih tau, kalau mau koment tolong jangan pake bahasa alien. Ell gak ngerti maksudnya apa… eum… yah… anggaplah Ell ketinggalan jaman karna gak bisa bahasa kayak gitu. Tapi suer.. -_-v itu bahasanya ribet banget.

Kalian setuju sama Ell gak kalau chapt ini benar-benar mendung ? ngebosenin ?. yah, abis cuaca juga mendung dan Ell lagi bosan pas nulis ini. Ell juga gak bisa terlalu focus ke FFnya karna banyak hal yang selalu nunda Ell buat terusin ngetik nih FF terus ide-idenya ingilang gitu aja jadi updatenya lumayan boleh nanya ?, kalian itu suka hujan panas atau hujan mendung ? alasannya apa ? kalau gak suka ciri dua hujan itu gak usah di jawab juga gak apa.

Yang nanya cara Sehun nyelamatin aekhyun, eum.. gimana yah? Ck! Mungkin nanti deh pas Baekhyunnya kembali. 'Kan sekarang Baekhyun lagi ngilang entah kemana. Hhh! Sebenarnya Ell males ngejelasin ini. Abis Ell maunya focus ke HunHan. Jadi Ell ngilangin Baekhyun biar gak ganggu!. Yaahhh… karna Ell sayang kalian, jadi sekali dua kali mungkin ChanBaek sama Kaisoo moment bolehlah. Tapi, gak di chapter depan. Yaahh… gak taulah, yang pasti chapt depan masih harus nyelesein urusan dulu sama Hara dan Kris.

Soal cara penulisan. Kayaknya Ell gak mau dengerin kalian. Abis, Author yang lain juga nulisnya gitu. Tanda petik awal ada titik, yang artinya orangnya diam beberapa saat dulu sebelum bicara. Soal huruf kapitalnya yang di bagian awal, itu artinya Ell harus baca lagi dulu yah FFnya ? siapa tau ada yang besar kecil. Kalau gitukan Ell harus bayar lebih mahal. Ell 'kan Cuma numpang ke warnet. Laptop Ell masih di tangannya papa. Mianhae~ atas kejelekan penulisannya…

Apa lagi yah ?. udah deh, gitu aja. Gomawo~ Hyung, Noona, Chigu y Dongsaeng yang udah bersedia mampir. Ell pamit dulu, dada…..