DIFFICULT OF STRING

8

Sehun + Luhan

Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi

E

And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan

Preview…

"hei.. kau ingin minum ?. ayo!.." tanpa menunggu respon dari Luhan. kai sudah menarik pemuda itu mengikutinya ke salah satu meja yang terdapat bartender di sana. Kai memesan minuman dan Luhan hanya mengikutinya. Luhan benar-benar mencuci matanya dengan pemandangan wanita seksi saat ini. tiba-tiba ia teringat sesuatu, seharusnya saat ini ia mencari Kyungsoo dan memberinya selamat

Luhanpun mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Kyungsoo. Ia melihat ke sisi sebelah kirinya. Di sana terdapat Kris dengan seorang wanita memakai dres mini ketat berwarna silver mengkilat sedang asik mengobrol. Pikir Luhan, ada Kris mungkin saja ada Kyungsoo juga. Luhanpun memperhatikan Kris di sana namun, ada yang menjanggal.

Bukan Kris, tapi wanita yang bersamanya. Luhan sepertinya familiar dengan wanita itu. bukannya mengintip atau apa, tapi.. Luhan sudah lebih dulu melihat ke arah Kris sebelum ia dan wanita itu berciuman. Saat Kris memutar posisi mereka, Luhan bisa dengan jelas melihat siapa gadis itu. luhan membulatkan mata tak percaya. wanita itu familiar, sangat familiar. Dan yang Luhan tau, wanita itu tengah berada di Thailand, belum akan pulang dalam waktu dekat ini. tapi, kenapa dia bisa berada di sini ? bercumbu dengan Kris di depan umum ? dan menyakiti hatinya

Luhan mengepalkan kedua tangannya dengan kilatan marah di matanya

'kau membohongiku, Hara!'

.

.

.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

"hei!.." Luhan tak memperdulikan Kai yang meneriakinya. Pemuda itu terus berjalan menghampiri Kris dan Hara yang saat ini tengah berciuman panas di depan umum. Sesampainya di hadapan dua orang itu. Luhan langsung menarik si wanita—Hara, hingga ciuman panas itu terlepas. Hara refleks melihat siapa yang menariknya dan seketika itu pula matanya membulat tak percaya

"o-oppa ?." Hara terbata dengan mata yang masih melebar. Luhan sendiri tak mengubrisnya, ia memandang Kris dengan kilatan marah di matanya. Kris sendiri menatapnya heran, yah.. tidak menyangka saja ada yang berani mengusik kesenangannya. Luhan yang tidak mau memperpanjang urusan dengan Kris hendak membawa Hara pergi dari sana. Namun, seseorang melepas cengkraman Luhan di lengan Hara. Luhan menoleh dan mendapati Kris dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat menurut Luhan. Melihat itu, Luhanpun tak mau kalah. Ia memandang Kris dengan tatapan tajam. Cih! Luhan tidak takut dengan orang yang berani mencium kekasihnya

"kau menantangku ?." Dengan nada merehkan dan satu alis terangkat Kris berucap

"ayo pergi!." Luhan tak mengubris ucapan Kris dan menarik lengan Hara mengikutinya. Namun, Kris mencengkram bahu Luhan membuat Luhan berbalik hendak melayangkan tinju ke wajah Kris. Tapi, sebelum itu terjadi, Kris sudah lebih dulu melayangkan tinjunya ke wajah Luhan hingga pemuda itu tersungkur tak berdaya. Yang dapat di dengarnya hanyalah teriakan orang-orang di sekelilingnya sebelum semuanya menjadi gelap. Oh, Luhan pingsan?, sepertinya tonjokan Kris benar-benar sakit hingga Luhan jatuh pingsan. Hhh… payah!

.

.

.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Luhan merasa dirinya berada di atas ranjang dengan kepala yang sangat berat.

"fyuhh~~" Masih enggan membuka mata, Luhan mengeryitkan alisnya bingung merasa ada yang meniupi wajahnya dan menggelitiki dadanya.

"..aku tau kau sudah bangun~. Ayo buka matamu dan kita akan bermain, Luhannhhh~~" seseorang baru saja berucap diselingi desahan di depan wajah Luhan. Tiba-tiba Luhan membuka matanya langsung terduduk di atas ranjang. Ia memutar badan menghadap pada seorang yang baru saja berucap tadi dan cukup terkejut sekaligus legah mendapati Kyungsoo duduk bersila bersandar di kepala ranjang

"hhh… Kyungsoo. Ku kira siapa." Luhan mengelus dada. Kyungsoo mendekat dan duduk di sebelahnya

"..memangnya, kenapa kalau ini aku, eum ?." . Luhan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pemuda berdarah China itu merasa Kyungsoo sangat aneh

"e-eh ?." Luhan heran saat Kyungsoo melepas satu per satu kancing kamejanya

"Luhanhh~ ayo bermaiiinnnhh~" Luhan terkesikap saat Kyungsoo mendorongnya jatuh tertidur di atas ranjang dan langsung menduduki perutnya

"a-apa yang kau lakukan, Kyungsoo?. Hei!… kau kenapa ?!." Luhan menyingkirkan Kyungsoo dari atas perutnya dan langsung menuruni ranjang itu. Dengan alis berkerut ia berdiri menatap Kyungsoo yang tidur menyamping menatapnya dengan nakal. Kyungsoo menopang berat kepalanya dengan satu tangannya bertumpu di atas ranjang dan menggigit jari telunjuk tangannya yang lain. Luhan mengerti sekarang. Tidak di sangka, Kyungsoo yang menurutnya baik, polos nan lugu bisa terlihat seperti induk singa yang siap memangsa seekor anak rusa

"tidak ku sangka kau seperti ini, Kyugsoo. Aku kecewa padamu!."

"dan jangan berpikir kita akan bermain karna aku sama sekali tidak tertarik dengan seorang pria. Aku masih berjalan di jalan yang benar. Tidak seperti kaummu!. Cih!, menjijikan!."

Luhan menuju pintu yang cukup jauh dari ranjang Kyungsoo karna kamar itu sangat besar. Namun saat Luhan membukanya, pintu itu terkunci. Luhan melihat Kyungsoo dan menghampirinya

"berikan kuncinya!.." senyuman manis terukir di bibir Kyungsoo sebelum pemuda bermata bulat besar itu secara perlahan menghampiri Luhan

"aku tau kau berbeda dengan yang lain~. maka dari itu, ayo kita bermain~ kau tidak menginginkanku, eum~~ ?." Kyungsoo mendesah di telinga Luhan. Ia meraih kameja Luhan hendak membukanya. Namun, sebelum itu terjadi Luhan sudah menepis tangan Kyungsoo dan berlari menjauhi pemuda yang tampak menyeramkan baginya itu saat ini. Kyungsoo berjalan pelan mendekati Luhan di selingi ucapan-ucapan kotor yang Luhan tidak menyangka Kyungsoo akan mengucapkannya. Sebenarnya bisa saja ia menghajar Kyungsoo, tapi ia tidak akan melakukannya.

.

.

.

Bruukkk….

"aishh…" Karna terus melihat ke belakang sambil berjalan terburu-buru, Luhan tak sengaja menabrak orang. Orang itu mengumpat dan Luhanpun menoleh, ternyata itu Kai. Luhan bernapas legah, sedangkan Kai yang menyadari itu Luhan langsung berhenti mengumpat

"Kai Kai.. antarkan aku pulaaaaang!…" Luhan menarik-narik lengan Kai sambil melihat ke belakang dengan wajah paniknya

"eh ?, kenapa ?, pestanya belum selesai. Lagi pula, kenapa tidak ber—"

"Kai, tolong antar aku pulang!…" Luhan menyela ucapan Kai. Pemuda berkulit sedikit gelap dari orang Korea biasanya itu sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut. Hanya saja, Luhan tak terlihat akan bercerita atau menjawab kalau ia bertanya. Kaipun mengedikan bahu sebelum mengiyakan permintaan Luhan

Kalian pasti bertanya bagaimana Luhan bisa keluar dari kamar Kyungsoo. Yah… awalnya memang terjadi kejar-kejaran di sana. Luhan yang sudah merasa lelah mencari cara lain menghindari Kyungsoo. Entah dari mana ia dapat ide berpura-pura menginginkan Kyungsoo 'bermain' dengannya asal Kyungsoo mau memberikan kunci kamar itu supaya Kyungsoo tak bisa kabur karna Luhan akan menghukumnya sampai ia puas. Dan dengan bodohnya Kyungsoo percaya memberikan kunci itu pada Luhan. Meskipun Luhan sangat terpaksa dan sangat jijik mengeluarkan kata-kata rayuan untuk Kyungsoo. Tapi, setidaknya ia bisa keluar dari sana dengan selamat

Luhan dan Kai sudah berada di tempat parkir. Saat Luhan tengah menggunakan helmnya tiba-tiba seseorang melepas helm itu membuat Luhan menoleh mendapati Sehun dengan wajah datarnya. Sehun menyodorkan helm yang di pakai Luhan tadi ke arah Kai. Kai yang tidak sadar keberadaan Sehun menatap heran helm itu sebelum mengambilnya setelah melihat Sehun. Kai menghela napas dan turun dari motornya sebelum meninggalkan suami istri

"kau mau pulang?. kenapa tidak mencariku?." tanya Sehun menatap Luhan

"aku tidak punya waktu. Lebih baik kita pulang sekarang!." Luhan melihat sekilas tempat di mana pesta gila Kyungsoo tengah berlangsung. Sehun heran dengan tingkah Luhan yang menjagak pulang, Tapi masih celingik celinguk kedalam pesta. Tak mau pusing karna memikirkan hal tak penting, Sehunpun mengedikan bahu tak perduli dan berjalan mendahului Luhan menuju tempat di mana mobilnya terparkir

.

.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

"Sehun ?."

"Sehun, kau sudah tidur ?."

"…"

Merasa yang bersangkutan tak merespo, Luhan menoleh kearah Sehun yang berbaring di sampingnya. Luhan ingin bertanya sesuatu yang dari tadi terus mengganggu pikirinya, tapi melihat Sehun sudah terlantang tak sadarkan diri hanya bisa membuatnya menghela napas berat

Luhan berdecak kembali menatap langit-langit kamar mereka

"apa kalian semua gay ?. hehh.. mengecewakan sekali. Padahal banyak gadis yang mengidolakan kalian.. hhh~…" monolog Luhan sebelum menarik selimut membelakangi Sehun ikut menyusul pemuda tampan itu kealam mimpi

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

Sehun menatap pemuda yang masih tertidur di sampingnya. Bibirnya membentuk sebuah senyum kecil, sedangkan matanya bergerak-gerak menelusuri tiap lekuk wajah Luhan dari dekat. Pemuda bermarga Oh itu mengangat tangan kanannya menyentuh helaian rambut yang menutupi wajah Luhan lalu menyingkirkannya. Senyumnya makin mengembang melihat wajah Luhan kini tampak lebih jelas. Jari panjangnya kembali menyentuh rambut Luhan dan mengelusnya, turun ke dahi, mata, hidung, pipi, dagu dan bibir bawah Luhan.

Senyum Sehun tiba-tiba hilang saat ia menyentuh bibir Luhan. Ia terus menatap bibir itu penuh arti sambil itu menjilati bibirnya sendiri. Entah kenapa ia jadi berpikir bagaimana rasa bibir berwarna pink nan menggoda itu jika menyentuh bibirnya

Sehun mengulum bibirnya sendiri sebelum menggeleng kuat-kuat menghilangkan pikiran gila itu dari otaknya. Buru-buru Sehun bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi. Sebenarnya tanpa Sehun sadari, Luhan sudah bangun sebelum ia mempunyai pikiran gila akan bibir Luhan. Tapi ia berpura-pura tidur merasa seseorang menyentuh wajahnya. Tepat saat Sehun memasuki kamar mandi, Luhan membuka matanya. Ia tampak berpikir. Berpikir dengan kejadian barusan. Berpikir kenapa ia diam dan pura-pura masih tidur saat dengan sadarnya ia tau Sehun memperlakukannya demikian. Ada apa dengannya ?

Sebenarnya Luhan tak mau mengakuinya. Tapi, jujur saja ia menyukai jari Sehun yang menyentuh wajahnya. Aissh.. Luhan, apa yang kau pikirkan?!. Kau pasti sudah gila!.

Luhan bangun dan duduk di atas ranjang menepuk-nepuk kedua pipinya sembari menggeleng kuat-kuat

"kau kenapa ?." Luhan langsung menoleh saat seruan itu di lontarkan dan mendapati Sehun yang berdiri di depan pintu kamar mandi menatapnya aneh. Luhan langsung bersikap senormal mungkin, berdehem, menyibakkan selimut dan menuruni ranjang

"kau sudah selesai ?. bersiaplah, aku tidak mau terlambat." Ucap Luhan sebiasa mungkin menghampiri Sehun dan memasuki kamar mandi

"terlambat ?. memangnya kita mau kemana ?."

"tentu saja sekolah. Dasar bodoh!." Umpat Luhan dari dalam kamar mandi

"sebenarnya siapa yang bodoh ?. ini hari minggu." Luhan yang tengah menyikat gigi menghentikan gerakannya. Sebenarnya ada apa dengannya ?, bahkan hari liburpun tak di ingatnya

.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

"sudah atau belum ?."

"jangan Tanyai aku!. Aku sama sekali tidak mengerti hal seperti ini."

"kau saja tidak mengerti apa lagi aku. Ck!."

Luhan dan Sehun berdiri di depan kompor memandangi panci berisi ramyun yang tengah di matangkan did alam sana. mereka sama-sama memegang sumpit, bersiap kalau-kalau ramyunnya sudah matang. Hanya saja, untuk mengetahui ramyun itu sudah bisa di konsumsi atau belum mereka tidak tau. lalu, apa gunanya sumpit itu ?

"mungkin seperti ini sudah matang." Sehun menarik untaian ramyun dari dalam panci dengan sumpitnya. Memperlihatkan hasil kerja keras pada sang istri yang hanya mengiyakan ucapan Sehun. Luhanpun menjulurkan tangannya mematikan kompor.

Sementara Sehun langsung mengangkat panci itu dengan sapu tangan tebal di tangannya. Luhan mengikuti pemuda tampan itu berjalan ke arah meja makan dan duduk di salah satu kursi. Setelah pancinya di letakan di atas meja, kedua orang itu hanya menatap isi panci tanpa niat menyentuhnya sama sekali. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan ?, bukankah ramyunnya sudah matang ?

Tiba-tiba Sehun mengankat kepalanya menatap Luhan. begitupun sebaliknya. Mereka saling bertatapan dalam diam selama beberapa menit sebelum akhirnya suara gelak tawa menghiasi ruang makan itu

"HAHAHAHA…"

Rasanya tidak ada yang lucu. Lalu… kenapa mereka tertawa ?

"shh… cepat makan ramyunnya sebelum mengembang." Sehun menyumpit untaian ramyun di dalam panci dan meniupnya

"bagaimana ?." Luhan masih bertahan pada posisinya memegang sumpit tanpa niat mencelupkan sumpit itu ke dalam panci dan melilitkannya pada untaian ramyun di dalam sana. Ia menatap Sehun yang tengah memasukan satu suapan ramyun ke dalam mulut. Pemuda yang lebih muda 1 tahun darinya itu terlihat berpikir sambil mengecapi rasa ramyun buatan mereka

"kalau kau tidak mau. Buatku saja semuanya." Ujar Sehun setelah menelan ramyunnya hendak menarik panci berisi rameyun itu mendekat ke arahnya tapi langsung di tahan oleh Luhan. Pemuda yang lebih tuapun mengambil untaian ramyun dan mencicipinya sebelum sebuah senyum lebar mengembang di wajahnya meresapi rasa ramyun hasil karya mereka yang ternyata tidak buruk sama sekali

"lumayan. Kita berbakat juga hahaha…" ucap Luhan di sela melahap ramyun. Hal yang sama juga di lakukan Sehun

Keduanya makan dengan lahap. Ini pertama kalinya mereka memasak dan hasilnya tak mengecewakan. Suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka bisa menggunakan kompor hari ini, di mana uang bulanan mereka habis terkuras dan sang eomma belum mengirimnya. Untung saja saat memeriksa isi lemari mereka mendapati 3 bungkus ramyun di sana. Lumayanlah untuk perut keroncongan mereka di hari libur

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

"bagaimana ?."

"sudah."

"hhh… kalau dari tadi seperti ini. Tidak perlu repot-repot memasak ramyunkan ?." Luhan menghela napas mengikuti Sehun yang sudah melangkah di depannya

"tapi itu menyenangkan. Alat-alat masak di rumah jadi berguna."

"ck, kau benar."

"jadi. Sekarang bagaimana ?." Sehun memelankan langkahnya menunggu Luhan menyeimbanginya dan mereka berjalan beriringan

"persediaan makanan sudah habis. Bagaiaman kalau kita belanja?." Luhan menatap Sehun yang lebih tinggi darinya. Sedikit memicingkan mata karna sinar matahari yang menyilaukan dan sangat panas di siang itu

"hmm kajja."

Entah sadar atau tidak. Sehun langsung menrik pergelangan tangan Luhan mengikutinya yang berjalan lebih cepat. Luhanpun sama, entah sadar atau tidak pergelangan tangannya bersentuhan dengan telapak tangan Sehun, ia diam dan ikut saja.

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

Belanja kali ini mengalami hal yang tidak biasa yah.. kalau . Biasanya Luhan dan Sehun hanya akan berbelanja hal-hal ringan seperti cemilan atau minuman. kali ini mereka berbelanja bahan pokok. Mereka membeli beras, sayur, buah-buahan dan daging Wow, perkembangan yang lumayan baik. Tapi, tetap tak menghilangkan kebiasaan mereka menumpuk kaleng, botol dan cemilan.

"ambilkan aku yang rasa rumput laut, yang ayam juga, yang ini juga, ah.. yang—"

Bruuuukkkk….

"aku akan mengambil semuanya!. Bisakah kau tidak memerintahku?." Luhan menjatuhkan semua bungkus ramyun yang ada di tangannya ke dalam kereta dorong yang di bawa Sehun. Ia langsung menatap pemuda yang lebih muda darinya itu dengan raut wajah kesal.

Bagaiaman tidak ?/. dari tadi Sehun terus menyuruhnya mengambil ini itu, lalu mengembalikan yang di rasanya tidak perlu lagi. Apa Sehun ingin menjahilinya ?

"bukankah kau memang harus mendengar dan melakukan perintahku ?."

Luhan mendengus mendengar ucapan Sehun. Ia kembali mengambil beberapa bungkus ramyun di deretan rak tersebut sesuai ucapan Sehun

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

Selesai berbelanja selama 3 jam. Sehun dan Luhan kembali ke rumah, sebelumnya mereka mengambil mobil Sehun yang di tinggal di parkiran bank tempat pertama mereka tiba.

Tidak ada yang berubah, keheningan selalu menyelimuti mereka tiap kali di dalam mobil. Hingga salah satu dari mereka merasa penat dengan suasana seperti ini. Sebenarnya Luhan juga ingin menanyakan beberapa hal yang terus mengganggunya dari tadi malam

"Sehun.."

"hmm.." gumam Sehun sembari focus menyetir

"…kau, kau benar-benar gay ?." pertanyaan Luhan membuat pemuda yang tengah menyetir itu menoleh sekilas sebelum kembali focus ke jalanan

"aku bilang aku tidak tau. aku tidak dapat memastikannya." Jawaban Sehun tidak memuaskan bagi Luhan. bahkan, itu tidak bisa di sebut jawaban

"..lalu.., bagaiaman dengan teman-temanmu ?. seperti…, Kyungsoo ?." Sehun menautkan alisnya tetap focus menyetir. Sedikit heran Luhan menanyakan tentang teman-temannya

"..kenapa kau tiba-tiba menanyakan mereka ?."

"tidak!. Hanya ingin tau saja." jawab Luhan melihat ke luar jendela samping sedikit menyesali pertanyaannya

"..Kyungsoo. bicara soal Kyungsoo… kenapa tiba-tiba semalam kau ingin cepat pulang ?. kau tidak terbiasa dengan pesta seperti itu ?." Luhan menoleh kearah Sehun dengan raut wajah yang sulit di artikan. Ia tidak menyangka Sehun akan menanyakan hal ini. Setaunya Sehun tipe orang yang tidak akan pedulian akan sesuatu, lebih memilih diam, atau melupakan hal yang penting atau tidak menurutnya

"apa harus aku menjawabnya ?." Luhan mentap lurus ke depan saat Sehun menoleh sekilas ke arahnya. Ia jadi teringat sesuatu yang membuat sesak dadanya.

"…terserah kau saja." ujar Sehun melihat raut wajah Luhan yang langsung berubah sendu. Ia tidak mengerti, tapi ia tidak ingin bicara lagi. Takut salah berkata dan membuat pemuda di sampingnya berubah suasana hatinya. Tapi, taukah Sehun ? suasana hati Luhan memang sudah berubah sejak kau menanyakan seputar kepulangan Luhan yang tiba-tiba saat pesta Kyungsoo

.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

Luhan menatap smartphonenya yang sebenarnya dari kemarin malam terus bergetar dengan nama yang sama di layar touchnya. Orang di seberang sana berharap pemuda berkebangsaan China itu akan mengangkat telponnya. Namun sia-sia saja, membaca pesan dari si pengirim yang sama dengan yang menelopnnya saja tidak sama sekali apa lagi mengangkat telponya …

"kau kenapa ?. dari tadi handphonemu bergetar, kau tidak mengangkatnya ?." Tegur Lay yang sebenarnya dari tadi terganggu dengan getaran smartphone Luhan. bayangkan saja, Lay yang saat ini duduk sebangku dengan Luhan karna tak adanya Baekhyun tak bisa focus pada pelajaran karna suara getaran handphone milik Luhan selalu bisa membuyarkan konsentrasinya

Luhan menghela napas sebelum menatap kembali smartphonenya. Tak ada niat sama sekali menanggapi Lay di sebelahnya

"Luhan," seorang di ambang pintu mengalihkan perhatiannya dari layar smartphone. Begitupun dengan Lay.

"ada yang mencarimu." Ucap orang yang setau Luhan dia adalah Teman sekelasnya

"siapa ?." Tanya Luhan. Tumben sekali ada yang mencarinya. Lay juga menampakkan raut wajah penasaran

"aku tidak tau. Kelihatanya dia bukan pelajar DO-HIS. Dia menunggumu di depan gerbang." Luhan mengeryit lagi menatap Lay yang juga menatapnya. Beberapa saaat kemudian Luhan beranjak dari duduknya tak lupa mengajak Lay ke depan gerbang sekolah menemui orang itu

.

.

Sesampainya mereka di depan gerbang. Luhan menoleh ke sana kemari, Tak ada siapapun di sana. Apa Luhan sedang di kerjai ?.

Kalau benar, sialan! Teman sekelasnya itu berhasil. Lay yang ikut dengannya hanya menghela napas, berbalik diikuti Luhan hendak memasuki gedung sekolah.

Greebb..

"oppa~"

Luhan terpaku di tempat. Ia kenal suara itu yang cukup membuatnya terkejut sekaligus kecewa. Lay yang berada di sampingnya menoleh kearah Luhan. Dapat di lihatnya seorang gadis melingkarkan kedua tangannya di pinggang Luhan dari belakang. Lay tidak kenal gadis itu, tapi.. dia rasa ia tak punya urusan di sini

"oppa, bogoshipoyo…" ucap gadis itu dari balik punggung Luhan. pemuda berkebangsaan China itu sendiri masih enggan bergerak atau membalik badannya sama sekali hingga gadis itu melepas pelukannya dan membalik tubuh Luhan berhadapan

"oppa, waeyo ?. kau tidak menyambutku ?." Tanya gadis itu. Luhan menatap wajah si gadis dalam diam dengan tatapan sendu. Benarkah ini orang yang ia rindukan ?, orang yang ia lihat kemarin malam baru saja menghianatinya dan berbohong padanya ?. Kenapa bisa gadis itu berucap semudah itu untuk menyambutnya sementarea ia sudah lebih dulu di sambut dengan kenyataan yang membuat sakit hatinya

"opp—"

"apa hubunganmu dengan Kris?." Luhan berucap dingin membuat si gadis menatapnya bingung. Pasalnya tak pernah Luhan bersikap seperti ini padanya. Tapi, mendengar nama Kris. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sambil menunduk

"kenapa diam saja ?." ucap Luhan lagi

"d-dia…, dia kekasihku, oppa." Gadis itu menunduk semakin dalam tak berani menatap Luhan "mianhae.." lanjutnya. Luhan menggertakkan giginya kuat-kuat sebelum mendecih meremehkan

"lalu, aku apa ?. dan bagaimana bisa kau ada di sini sementara kau bilang kau akan pulang 1 minggu lagi. Kau memanfaatkan kepercayaanku?, aku kecewa, Hara." Ucapan Luhan kali ini membuat Hara mengangkat kepalanya menatap Luhan. Dia bisa melihat mata Luhan yang menyiratkan kekecewaan dan kesedihan mendalam di sana. Ia merasa bersalah, ia tak mau Luhan memiliki tatapan seperti itu, ia tak mau kehilangan Luhan

"tentu saja oppa adalah kekasihku." Luhan mendecih "aku… aku akan meninggalkan, Kris asal oppa tetap bersamaku dan kita bisa seperti dulu lagi, oppa. Aku janji. Otte ?, kalau perlu sekarang juga aku akan mengakhiri hubunganku dengan— OPPA!.." Hara tak melanjutkan ucapannya melihat Luhan pergi dari hadapannya. Cepat ia beranjak mengejar Luhan dan menggenggam lengan pemuda segera di tepis si pemuda membuat Hara melangkah ke depan menghalangi jalan Luhan

"minggir." Luhan bergeser ke kanan hendak pergi namun Hara menghalanginya. Luhan bergeser ke kiri dengan tujuan sama namun Hara juga mengahalanginya. Luhanpun diam menatap Hara yang tengah tersenyum padanya. Bahkan di saat seperti ini gadis itu masih bisa tersenyum ?

"minggir." Ucap Luhan datar dan dingin

"tidak sebelum oppa mendengarkanku!." Luhan diam manatap Hara yang hendak bicara "aku memang menjalin hubungan dengan Kris, bahkan itu sudah cukup lama, bukan baru kemarin malam saat oppa melihat …eum…, mianhae, oppa." Hara menunduk memainkan ujung bajunya

"aku akan mengakhiri hubunganku dengan Kris. aku janji oppa, asalkan oppa tetap di sisiku. Aku akan meninggalkannya."

"tidak perlu. Kita saja yang berakhir dan kau pergilah ke sisinya." Luhan menggeser Hara yang menghalangi jalannya dan pergi meninggalkan gadis itu. Namun, ia masih bisa mendengar gadis itu berteriak bahwa ia akan mengakhiri hubungannya dengan Kris dan kembali pada Luhan. Sebenarnya Luhan menyesali kata-katanya yang berkata mereka saja yang berakhir dan ia menyuruh Hara pergi ke sisi Kris. Bagaimanapun, Luhan masih mempunyai perasaan terhadap Hara. Lama tidak bertemu, Luhan ingin sekali mendekap, mencium dan mengucapkan kata-kata sayang terhadap gadis yang sudah mengisi relung hatinya selama ini.

Tapi, sambutan yang di berikan Hara padanya di pesta Kyungsoo benar-benar membuatnya mengecewa. Gadis yang ia cintai membohonginya, mengkhianatinya. Selama ini Hara hanya menetap selama 3 minggu di Thailand. Ia kembali ke Korea dan tidak berkata apapun pada Luhan. Ternyata beberapa minggu belakangan ini gadis itu menghabiskan waktunya bersama Kris. Luhan benar-benar di bodohi. Yahh.. dari awal ia memang bodoh, karna mempercayakan hatinya pada gadis seperti itu

Tanpa mereka sadari. Sepasang mata menatap mereka dengan geram dari kejauhan. Tangannya menggenggam erat sebuah handphone keluaran terbaru yang sepertinya akan retak sakin eratnya ia menggenggam handphone itu

"kau mau menantangku, huh ?."

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

Saat memasuki gedung sekolah. Luhan merasa ada yang tidak biasa. Semua orang berbisik sambil menatapnya. Luhan memperhatikan dirinya sendiri, berharap menemukan kesalahan pada penampilannya yang membuat orang melihatnya dengan tatapan aneh

Kejadian itu terus berlangsung sepanjang koridor yang ia lalui menuju kelas. Suasana yang tidak jauh berbeda juga di dapatinya di dalam kelas. Tiba-tiba semua orang diam menatapnya aneh sambil berbisik satu sama lain. Luhan mengeryit bingung terus berjalan menuju bangkunya. Ia lalu menoleh pada Lay yang juga menatapnya

"ada apa ?." Tanya Luhan bingung.

"kau tidak dapat ?." Luhan mengeryit bingung atas ucapan Lay dan sepertinya Lay mengerti perubahan raut wajah Luhan. Pemuda berdumple itupun menyodorkan smartphonenya pada Luhan, memperlihatkan sesuatu yang tertera di sana yang entah apa membuat mata Luhan terbelalak dengan mulut menganga

"aku tidak melihatmu di pesta Kyungsoo. Apa itu karna kau pingsan ?."

Aishh.. memalukan sekali. Siapa yang menyebarkan video seputar kejadian Kris menonjok Luhan di pesta Kyungsoo. Belum lagi, kata-kata yang tertera di pesan itu.

" chagi ?." tiga orang siswa berdiri di depan kelas. Luhan dan yang lainnya langsung menatap mereka

"o-oppa ?."

"ayo pergi.."

Bugh…

"argghh…"

HAHAHAHAHA…

Aishh.. sungguh memalkukan. Sekarang teman-teman kelasnya tengah mengejeknya dengan mempraktekan kejadian persis seperti di dalam video itu. semua tertawa ke arahnya. Luhan yakin, Setelah ini ia akan mendapat terror secara berturut-turut

"ah, aku dengar. Kepalan tangan Kris yang besar itu sangat menyakitkan." Ucap seorang siswa mengangkat kepalan tangannya. Memamerkan pada seisi kelas membuat Luhan menatapnya dengan tajam

"pengarahannya tepat dan sangat kuat." Ucap siswa itu lagi dramatis dan melayangkan kepalan tangannya ke udara "jadi bagaimana ?. kau masih bisa bersekolah setelah mendapat perlakuan seperti itu ?. kau benar-benar cari mati, Xi Luhan!."

Luhan memilih diam tak merespon. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menghela napas sebelum merebahkan kepalanya di atas meja. Ia tak perduli, tersera orang mau berkata apa. Ia tak punya waktu untuk memikirkan itu. Ia terlalu kecewa dengan gadisnya—Hara. Kepalanya masih terus di penuhi oleh Hara saat ini

,,,,,,,,,,,,, ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

Luhan merutuki kebodohannya hari ini yang sudah tau kalau ada terror berturut-turut siap menimpanya. Tapi ia tetap bersantai dan melakukan aktivitas seperti biasa tak berhati-hati. Lay yang biasanya selalu menempel padanya, kini sedikit menjaga jarak tidak mau tertimpa masalah. Luhan tau, memang seharusnya seperti itu. Lay tidak harus ikut terseret, ia tak mau sahabatnya itu mendapat masalah, sementara sahabatnya itu tak ada hubungannnya dengan semua ini.

Kris benar-benar memuakan. Bagaimana bisa dia melakukan semua ini terhadap Luhan. Dia juga berkata bahwa Luhan coba menyainginya untuk mendapatkan Hara. Hei ? dia lebih dulu berhubungan dengan Hara di bandingkan Kris, dan dia adalah pacarnya—Mantan pacarnya—Hara. Kris hanyalah persinggahan. Ingin rasanya Luhan mengatakan itu, tapi… ayolah.. siapa yang akan percaya dan menganggapnya tidak mengarang.

Dan sekarang, Di sinilah Luhan. Di depan lokernya dengan seragam yang basah kuyup. Beberapa menit lagi bel pulang sekolah berbunyi, ia harap ia bisa segera pulang dan mengistirahatkan pikirannya di rumah. Tapi, sebelum itu ia harus memberekan dirinya dulu yang berpenampilan kacau akibat perlakuan siswa siswi DO-HIS saat ia keluar dari kelasnya tadi hendak menuju toilet.

Ia ingin mengambil seragam ganti di dalam lokernya. Tapi, melihat keadaan lokernya yang porak-poranda dan tulisan 'pecundang' tercetak dengan jelas di pintu lokernya. Membuanya semakin meratapi nasib sial yang menimpanya hari ini.

Luhan menghela napas berat. Ia tak bisa mengganti pakaiannya. Seragam cadangan yang ada di lokernya sudah tercabik-cabik, lebih parah dari pada seragam basah kuyup yang di kenakannya. Ia menutup pintu lokernya kembali mendesah menggangkat wajahnya melihat sekitar. Orang-orang di sana menatapnya sinis sambil berbisik. Luhan yakin, mereka tengah menjelek-jelekkannya

Pemuda imut itu berjalan gontai meninggalkan loker di selingi tatapan sinis setiap orang yang di lewatinya. Bel tanda berakhirnya kegiatan belajar hari ini telah berbunyi. Ia harap ia bisa pulang dengan tenang tanpa gangguan apapun. Tapi, sepertinya harapannya tak terwujud

Bruuukkk….

HAHAHAHAHAHA…

Terlalu tenggelam dengan pikirannya sendiri. ia tak memperhatikan jalan sehingga kakinya tersangkut sebuah tali yang memang di pasangkan para siswa untuknya—untuk mempermalukannya, dan mereka berhasil. Luhan tersungkur dengan tidak elitnya di koridor sekolah. Suara tawa menggema dari tempatnya hingga ujung koridor

Luhan berdiri dengan cepat, dan kembali melangkah dengan cepat pula meninggalkan orang-orang sialan itu. Namun, seiring ia melangkah, Timpukan-timpukan telur dan balon bercat air beriringan menghujam tubuhnya. Luhan tak perduli, ia terus melangkah, membiarkan tubuhnya di timpuki telur dan cat air membuat seragamnya semakin kotor. Ingin rasanya ia menangis, tapi ia tak boleh melakukannya karna ia seorang pria. Apa kata orang-orang itu nanti jika ia menangis ? mengatainya cengeng ?

.

.

Luhan berdiri di depan gerbang sekolah menyaksikan setiap orang yang lewat memandangnya dengan sinis. Luhan hanya bisa menghela napas. Bagaiamana ini.., tidak akan ada bis yang mengizinkannya menumpang dengan penampilan seperti ini. Ia harap sekarang bisa turun hujan, agar bau amis telur di tubuhnya bisa sedikit berkurang. Ia tak mau masuk ke gedung sekolah dan membersihkan diri di toilet karna ia yakin, kejutan baru akan menyambutnya. Seperti terkunci di dalam toilet mungkin ?, atau… siraman bekas air pel ?, mungkin juga orang-orang itu akan menggunakan air toilet, atau lebih parah orang-orang itu akan menghajarnya sampai sekarat

Tidak. Luhan memilih seperti ini saja dari pada kejadian seperti itu menimpanya. Baiklah, jika berdiam diri di sini saja tidak akan cepat sampai di rumah dan membersihkan diri. Lebih baik berjalan kaki saja

Ooh… Luhan yang malang. Suasana hatinya yang sedang bersedih belum pulih, dunia sudah lebih dulu membencinya. Padahal di sini bukan dia yang seharusnya di benci. Lalu bagaimana dengan Hara ?, apa dia juga di terror karna di anggap merayu dan mendekati Kris ?. jawabannya 'tidak'. Siapa yang berani menyentuh anak presiden itu ? (. Orang-orang itu meskipun tidak rela tetap membiarkan Hara berada di sisi Kris.

.

.

.

Jika biasanya ia sampai di halte bis mendapati Kyungsoo yang duduk manis di sana. Kali ini tidak, hari yang benar-benar suram. Tak ada siapapun di sana, halte itu kosong. Mungkin kejadian malam itu cukup membuat Kyungsoo enggan bertatap muka dengannya.

Bruuummm… brruumm…

Luhan menghentikan langkahnya saat sebuah motor menghadangnya. Si pengendara langsung membuka tutup helmnya, menampakan seorang pemuda yang tersenyum manis kearah Luhan

"woaahh.. Daebak!. Kau persis seperti karya seni lukis yang abstrak." Ujar pemuda itu menatap Luhan seakan penuh keterkaguman dari ujung ke ujung. Luhan yang mendengar pernyataan pemuda itu hanya menghela napas dan menunduk. Hei ?, bagaimana bisa dia berkata seperti itu melihat Luhan yang sangat mengenaskan ?. kejam

"jangan manambah moodku semakin buruk, Kai." ingin rasanya Luhan membenamkan orang ini ke tanah yang hanya menampakan cengiran tak jelasnya mendengar penuturan Luhan

"kekeke~. Kajja naik, aku akan memperbaiki moodmu lagi." Tanpa menunggu respon Luhan. Kai menarik lengan pemuda yang lebih tua darinya itu dan mendudukkannya di boncengan persis seperti seorang gadis. Luhan ingin turun, protes atau setidaknya memperbaiki cara duduknya. Tapi Kai sudah lebih dulu memacu motornya

Tanpa Luhan dan Kai sadari, mereka melewati sebuah mobil yang dari tadi sudah terparkir di sekitar halte sebelum Kai datang menghampiri Luhan. Si pengemudi terus memasang wajah datarnya menyaksikan gerak-gerik Kai dan Luhan dari kaca spion mobilnya

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

"tidak berubah."

"hmm ?."

"ternyata kau masih menyukai ice cream."

"makanan seenak ini aku tidak akan pernah menolaknya." Ujar Luhan sebelum kembali menjilati ice cream cokelat yang ada di genggamannya

"yah, enak-enak saja selama aku tidak mencium bau tubuhmu yang membuatku serasa ingin muntah."

"YA!" Kai terkekeh mendengar pekikan dari Luhan. Ia langsung menyandarkan punggungnya di bangku taman menatap Luhan yang makan ice creamnya dengan lahap, sama sekali tidak terganggu dengan bau amis dari seragamnya

Aku saja rasanya sudah ingin muntah, kenapa dia tenang-tenang saja memakan ice itu ? ckckck

"Lu ?." Luhan masih asik dengan ice creamnya "Lulu~" kali ini Luhan menoleh kearah Kai, menatap pemuda berkulit tan itu dengan kesal

"ohh, apa sekarang kau menyukai panggilan itu ?." Kai berganti duduk dengan tegap menatap Luhan dengan ekspresi yang di buat-buat seterkejut mungkin.

"TIDAK! Bisakah kau menggantinya?. Terdengar menjijikan bodoh!"

"tapi kau menoleh."

"aisshh." Luhan mengacak rambutnya dengan tangan kiri yang tidak memegang ice cream. Karna ulahnya itu, ia semakin terlihat berantakan dengan rambutnya yang juga mengumpal akibat lemparan telur di sekolah.

Hoohh ? Luhan tidak malu berjalan kesana-kemari dengan penampilan seperti itu ?. Apa dia tidak merasa orang-orang menatapnya dengan aneh ?. Jika kalian bertanya seperti itu, jawabannya tidak. Luhan tidak perduli, mau penampilan berantakan, mau orang menatapnya aneh, atau membicarakan hal jelek tentangnya. Pikirannya kalut, penuh kekecewaan terhadap Hara dan kebencian terhadap Kris

"ingin ku bantu ?." Tanya Kai membuat Luhan menoleh dengan tatapan-membantu apa ?—

"aku yakin, kau ingin membalas Kris bukan ?." Kai memang orang yang sedikit mengerti dirinya. Luhan langsung berbinar, sekilas mengalihkan pandangannya dari Kai hanya untuk tersenyum 3 jari dan kembali menghadap Kai dengan kening berkerut tanpa senyum 3 jarinya tadi

"caranya ?." Tanya Luhan akhirnya. Bukannya menjawab, Kai malah menampakkan senyum yang menyebalkan menurut Luhan atau biasa di sebut smirk

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

.

.

.

Seperti biasa, Luhan memasuki rumah dengan cara mengendap-endap sambil menutupi wajahnya. Ia memasukan password dan membuka pintu rumah, setelahnya ia menutup pintu dengan pelan lalu membalik badannya yang langsung terlonjok kaget mendapati wajah datar Sehun

Luhan masih tak berkutik, tubuhnya seakan terkunci dengan tatapan Sehun yang menusuk. Bahkan pemuda itu menahan napasnya, dengan mata membelalak lebar.

Braakk…

Luhan menelan kasar liurnya saat Sehun menumpukan kedua tangannya di pintu, mengunci pergerakan Luhan tepat di kedua sisi kepala Luhan. Seharusnya Luhan mendorong Sehun menjauh, seharusnya Luhan berjalan ke kamar dan membersihkan dirinya seperti yang telah di rencanakannya dalam perjalanan pulang. Tapi, entah kenapa melihat mata Sehun, dirinya seakan tenggalam dalam bila mata tajam nan menusuk itu. Tubuhnya tak bisa berkutik. Ada apa dengan dirinya ?, kenapa tiba-tiba mematung seperti ini ?

.

.

To Be Countinue~

.

.

Ell note :

Sekali lagi terima kasih banyak buat kalian yang masih tetap setia mau baca FF yang semakin gak jelas dan gak nyambung ini. Ell gak tau harus ngomong apa lagi selain 'terimakasih'

Tuh! Hara sama Luhan putus. Tapi, tunggu, Hara masih ngarapin Luhan looooohhh…., oh ya, anggaplah Hara yang anak presiden itu kayak di city hunter, cuma ini versi Hara bangku SMA. Terus pas kuliah dia ketemu Lee Min Ho si City Hunter sama Kim Nana (ngaco!). Udahlah, gak penting!

Woaahh! Jujur Ell suka bagian Sehun sama Luhan di hari libur kkk~. Kalau kalian gimana?, Oh!, kalian lebih suka yang Luhannya di kerjain yah?, atau Luhan yang di tonjok sama Kris?, atau gak ada sama sekali?, heeeehhhh!

Yaudah, Ell pamit dulu, hyung, noona, chigu, y dongsaeng ^^ semangat :P :D.