DIFFICULT OF STRING
9
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, family, school life, drama, Yaoi
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
…
#SehunsideatKyungsooparty#
Pesta?
Sejujurnya aku paling benci hal yang di namakan pesta, tempat yang sangat berisik. Sebenarnya bisa saja aku keluar dari mobilku dan menyusul Luhan ke dalam sana. Tapi, melihat hal yang sangat ramai dan panas di dalam sana. Aku takut aku akan melakukan sesuatu pada Luhan yang memancing emosinya. Aku heran dengannya. Bukankah ia tidak mau mendapat terror di sekolah?
Lalu, kenapa ia bersikeras merahasiakan hubungan kami? Padahal, kalau semua orang tau. Tidak aka nada yang berani membullynya karna mereka akan mengingatnya sebagai istriku. Jika sedikit saja lecet di kulitnya, maka orang itu akan berurusan denganku. Lalu kenapa? Kenapa ia tak berpikir ke situ?
Ah! Gay? Apa dia takut orang menyebutnya Gay?
Lalu kenapa kalau Gay? Bukankah ia sudah menikah denganku? Itu artinya ia sudah terikat denganku dan tidak bisa lagi dekat dengan yeoja atau namja lain. Sungguh! Jalan pikirannya benar-benar rumit untuk di mengerti
Hhh! Membosankan sekali di dalam sini. Tapi, di dalam sana jauh lebih membosankan. Apa lagi yeoja-yeoja genit yang suka berteriak dan membuat sakit telingaku ini berkumpul di dalam sana. Hhh….. Seharusnya aku turun dan member selamat pada Kyungsoo, atau setidaknya aku harus mengawasi Luhan di dalam sana. Bagaimana kalau ada yang mengganggunya? Ah! Tidak mungkin. Luhan pasti akan menghajar atau meneriaki namja yang coba menggodanya. Aku terkikik membayangkan bagaimana Luhan melakukan itu. Kalau yeoja? Hahaha… aku tidak yakin akan ada yeoja yang menggoda Luhan.
Ku sandarakan kepalaku di atas stir. Sebaiknya aku tidur saja sambil menunggu Luhan. Hhh… anak itu, pasti dia tengah bersenang-senang dengan teman-temannya.
Skip…
Aku mengerjapkan mata melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Kenapa Luhan belum keluar? Ah, pestanya belum selesai. Apa aku susul dia ke dalam sana yah?
Ku buka pintu mobilku dan keluar dari sana hendak menyusul Luhan ke dalam pesta namun sebuah pemandangan yang cukup membuatku kesal mengurungkan niatku. Luhan berjalan dengan Kai ke tempat parkir, mau apa mereka?
Tanpa basa basi, langsung saja ku hampiri mereka yang tengah berada di dekat sebuah motor yang ku yakini itu motor milik, Kai. Apa Luhan mau pulang? Kenapa dengan Kai? Kenapa ia tidak mencariku?. Tepat aku berada di samping Luhan, langsung saja ku rebut helm yang tengah di pakainya dan menyerahkannya pada, Kai
(o-key, selanjutnya ada di chapt yg sebelumnya yah)
#SehunsideatKyungsooparty#
.
.
#Sehun-side#
.
.
Hari-hari di sekolah benar-benar membosankan. Yaahh… pengecualian untuk Luhan.
Aku bersandar di dinding menghadap ke luar jendela uks. Aku lebih suka menghabiskan waktu di tempat ini dari pada masuk ke dalam kelas dan mempelajari semua pelajaran yang sudah ku hapal di luar kepala. Tapi, saat ini memang harusnya waktu keluar kelas karna ini jam istirahat.
Dari sini aku bisa melihat halaman depan sekolah yang tadinya sepi menjadi ramai seketika. Entahlah, aku hanya suka memperhatikan mereka berlalu lalang dari sini. Jika mendapati pemandangan yang tidak menyenangkan atau mengganggu penglihatanku. Mungkin sedikit bersikap jahil mengerjai para pelajar itu cukup menyenangkan. Seperti kejadian di dalam toilet bersama Luhan waktu itu. Aigoo, jangan ingatkan aku!
Eh?
Apa aku tidak salah lihat?
Aku langsung menegakkan tubuhku memperjelas apa yang ku lihat di halaman depan sekolah. Yah.. itu itu Luhan dan… pemuda berdumple yang ku ketahui temannya. Aku langsung mematrikan senyum bahagia memperhatikan gerak-gerik istriku itu. Woaaahh… Tumben sekali dia ada di sana. Tapi, ini menyenangkan.
Sepertinya ia tengah mencari sesuatu. Ku lihat ia celingik celinguk dengan temannya itu lalu temannya berbalik yang langsung di ikuti olehnya. Eh? Apa mereka akan kembali ke gedung sekolah? Ku mohon teteplah di situ sampai jam pelajaran di mulai… Aku masih ingin melihatnya dari sini..
Tapi?
Siapa itu?
Ku lihat seorang gadis yang ku yakini bukan siswi DO-HIS berlari dengan senyum di wajahnya langsung memeluk Luhan dari belakang membuatku mengepalkan kedua tanganku. Luhan tidak merespon mematung di sana, bahkan temannya sudah pergi tapi ia masih terdiam pada posisinya hingga gadis itu melepas pelukannya dan membalik badan Luhan berhadapan. Luhan masih terdiam menatap gadis itu dengan tatapan yang entahlah, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Yang pasti gadis itu menatapnya dengan bingung. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?
Siapa gadis itu? Kenapa ia sangat dekat dan senang dengan Luhan?
Apa, jangan-jangan?
Aku lebih mendekatkan diriku di jendela dan membuka jendela di hadapanku. Siapa tau bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Yah… hanya jika mereka berteriak dengan keras aku akan mendengarnya dari sini. Aku yakin, itu pasti gadis yang di maksud Kyuhyun appa dulu.
Sial!
Kenapa aku tidak bisa menangkap apapun yang mereka bicarakan? Ck!
Ku lihat gadis itu menunduk lalu mengangkat kembali kepalanya setelah ku lihat Luhan berkata sesuatu. Raut wajah mereka juga tak terlihat jelas dari sini, yang bisa terlihat jelas adalah gerak-gerik mereka. Ugh! Kenapa sekolah ini sangat besar sih?
Dapat ku lihat Luhan menoleh ke samping sekilas seperti orang sedang mendecih lalu kembali menatap gadis itu sebelum pergi meninggalkannya hingga gadis itu berteriak memanggil dan menggenggam pergelangan tangannya. Tapi, langsung saja di tepis oleh Luhan. Gadis itu tidak menyerah dan menghalangsi jalan Luhan semakin membuatku kesal melihat Luhan yang sepertinya tak berusaha lagi menghindari gadis itu karna kini ia diam di sana. Gadis itu sepertinya sangat senang.
Langsung saja ku tutup jendela uks dan pergi dari sana. Menyaksikan pemandangan seperti itu hanya menyulutkan semosiku saja.
.
.
Drrttt…. Drrrttt….
Aku merogoh smartphoneku yang berada dalam saku celana saat ku rasa sebuah E-mail masuk.
Kris
Ada apa?
Langsung saja ku buka E-mail darinya yang langsung membuatku terkejut. Jadi ini alasan Luhan meminta cepat pulang saat di pesta Kyungsoo? Cih!
Perintah untuk menyerang Luhan dan kata-kata Kris di E-mail itu semakin membuatku kesal. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Luhan. Tapi, aku benar-benar sangat kesal. Mungkin sesekali ia memang harus di peringati kalau ia sudah memiliki aku di sini dan melupakan gadis itu. Luhan terlalu bodoh! Ia sudah melihat dengan jelas gadis itu mengkhianatinya tapi ia masih bisa mengajak bertemu gadis itu di halaman depan sekolah dan ingin menyaingi Kris mendapatkan gadis sialan itu, benar-benar memuakan. Sial!
.
.
Aku memasuki lift saat mendengar suara bel tanda belajar hari ini telah selesai dan kebetulan di dalam lift juga ada Kai yang menampakan cengiran saat aku melangkah memasuki lift. Kami punya tujuan sama yaitu pulang
Lift terbuka, aku dan Kai langsung di sambut tawa para pelajar yang langsung menggema di koridor sekolah. Kami mengalihkan pandangan kami melihat apa yang sedang di hebohkan siswa/I ini. Oh! Sudah di mulai?
Di sana dapat kulihat Luhan tersungkur di lantai dengan tidak elitnya lalu langsung berdiri dan berlari diiringin hujatan telur dan cat air dari para siswa/I DO-IHS sepanjang koridor. Sungguh melihat itu aku ingin menolongnya, tapi ia memang harus di beri pelajaran agar ia sadar dan meninggalkan gadis itu. Kai yang berada di sebelahku hendak berlari mengejar Luhan namun aku segera menahannya membuat kerutan tanya di wajahnya. Aku tak menanggapi dan terus melihat punggung Luhan hingga menghilang dari jangkauan penglihatan kami baru ku lepas lengan Kai dan pergi meninggalkan pemuda itu tanpa sepatah kata memperjelas kenapa aku melarangnya.
"Oh Sehun!" Aku menghentikan langkahku mendengar Kai memenggil tanpa membalik badanku menghadapnya
"jika kau bersikap seperti seorang pecundang, jangan menyesal kalau aku merebutnya darimu."
Aku tak menanggapi ucapannya dan kembali melanjutkan langkahku. Cih! Merebut Luhan dariku? Dalam mimpimu, Kai. Tidak! Bahkan dalam mimpimu, Luhan tetap milikku, milik Oh Sehun seorang.
#Sehun-side-end#
.
.
Preview… chapt/…
Seperti biasa, Luhan memasuki rumah dengan cara mengendap-endap sambil menutupi wajahnya. Ia memasukan password dan membuka pintu rumah, setelahnya ia menutup pintu dengan pelan lalu membalik badannya. Namun, ia terlonjok kaget saat berbalik karna wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Sehun yang berekspresi datar
Luhan masih tak berkutik, tubuhnya seakan terkunci dengan tatapan Sehun yang menusuk. Bahkan pemuda itu menahan napasnya, dengan mata membelalak lebar.
Braakk…
Luhan menelan kasar liurnya saat Sehun menumpukan kedua tangannya di pintu, mengunci pergerakan Luhan, tepat di kedua sisi kepala Luhan. seharusnya Luhan mendorong Sehun menjauh, seharusnya Luhan berjalan ke kamar dan membersihkan dirinya, seperti yang telah di rencanakannya dalam perjalanan pulang. Tapi, entah kenapa melihat mata Sehun, dirinya seakan tenggalam dalam tatapan tajam nan menusuk itu. tubuhnya tak bisa berkutik. Ada apa dengan dirinya ?, kenapa tiba-tiba mematung seperti ini ?
.
.
chapt,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, 9
.
.
"a-a-ada apa ?." sial! Kenapa ia terbata dan terdengar gugup seperti itu saat akhirnya ia bisa mengeluarkan suara. Sehun tidak menjawab, pemuda itu makin mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Membuat Luhan menjauhkan kepalanya hingga menempel di pintu yang ada di belakang pemuda itu
Deg…
Napas Luhan tercekat menyadari Sehun yang terlampau sangat sangat dekat dengan wajahnya. Mungkin, sedikit lagi bibir mereka akan bersentuhan. Ia heran dengan dirinya yang tidak bisa berkutik, padahal posisi ini sangat tidak normal. Apa lagi dengan jantungnya yang tiba-tiba terasa aneh, seakan dirinya baru saja melakukan lomba lari marathon dan menjadi juara satu.
Luhan mengulum bibirnya sendiri, matanya masih menatap mata Sehun hingga pemuda tampan yang menjabat sebagai suaminya itu kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. Hanya saja, kali ini Luhan langsung menunduk dan menutup matanya erat-erat. Entah bagaiamana ia bisa melakukan itu, yah… dalam pikirannya mungkin Sehun akan menciumnya. Tapi,,,,,
"kau tau ? Kau sangat bau."
Perkataan Sehun tepat di telinga Luhan itu membuat Luhan membuka mata, mendongak dan mendorong Sehun menjauh dari tubuhnya.
"a-arra!" ketus Luhan berjalan menaiki tangga. Sejujurnya ia melakukan itu untuk menetralkan deru napas dan detak jantungnya yang memburu. Belum lagi, ia merasa pipinya memanas dengan perlakuan Sehun barusan. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya ? Luhan bingung. Ia butuh pencerahan
,
,
,
"kau mau kemana ?." Sehun memasuki kamar dan melihat Luhan yang sepertinya ingin keluar
"aku ada sedikit urusan." Tanpa melihat Sehun, Luhan langsung melesat pergi begitu saja. Sehun hendak mencegah Luhan, namun, pemuda yang lebih tua berjalan dengan sangat cepat dan terburu-buru. Sehunpun memilih untuk berbaring di atas ranjang. Yah… setidaknya mereka sudah makan malam. Jadi, mau melakukan apapun, tidak masalah. Yang penting tidak kelaparan
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
.
.
.
Sreekk… ssreekkk…
"ck! Diamlah, Lu. Kau mau kita ketahuan ?."
"tapi badanku sangat gatal. Kenapa kita harus melakukan ini ?."
"kau ingin membalasnya atau tidak ?."
"arra, arra! Kau menyebalkan!"
Kai tak menanggapi lagi Luhan yang terus mengelu sambil menggaruk-garuk badannya. Bagaimana tidak ? Kai punya rencana untuk membalas Kris. Mereka menunggu pemuda blasteran itu di halaman parkir sekolah. Kai bilang, hari ini Kris ada kegiatan Osis dan mengharuskan pemuda blasteran itu pulang larut malam. Luhan hanya mengikuti rencananya saja, tapi ia tidak menyangka pemuda berkulit tan itu akan mengajaknya bersembunyi di semak-semak dengan kostum aneh melekat di tubuhnya. Belum lagi dedaunan dan ranting semak yang membuat badannya gatal-gatal
"dia datang!." Ujar Kai mengalihkan perhatian Luhan dari gatal-gatalnya. Luhan mengarahkan pandangannya kearah seorang pemuda yang berjalan menghampiri sebuah Audi berwarna hitam di halaman parkir sekolah. Luhan sudah memasang ancang-ancangnya, namun detik berikutnya ia tak tau harus melakukan apa. Iapun menoleh kearah Kai yang masih mengawasi pergerakan Kris
"a-yo keluar." Titah Kai tepat melihat Kris di samping Audi hitam itu. Kai sudah melompat keluar dari semak-semak, sementara Luhan masih kebingunan di balik semak-semak.
"cepat keluar, mau sampai kapan kau di situ ? a-yo!."
"n-ne.." Luhanpun berdiri dan melangkah mendekati Kai dan berjalan menghampiri Kris yang tengah membuka pintu mobilnya. Namun, sebuah seruan menghentikan pergerakan pemuda blasteran itu
"OI!" Kris menoleh ke asal suara dengan kerutan di alisnya melihat pemandangan yang menurutnya aneh. Detik kemudian ia berdecak, tertawa meremehkan lalu memasang raut wajah yang menyebalkan menurut Luhan
"hahaha…, Aku tidak ingat kalau ini tanggal 31 Oktober." Kris hendak masuk ke dalam mobilnya
"tunggu!." Kris mengurungkan niatnya memasuki mobil, mengalihkan pandangannya ke sumber suara. "kenapa tidak bermain dulu ?."
Blam…
Kris menutup pintu mobilnya. Menatap kedua orang yang berpakaian aneh di hadapannya dengan sombong.
"cih! Idiot. Setauku Wirewolf dan Drakula tidak berteman. Sudahlah, aku sedang dalam mood yang baik. Jangan membuatku menyiksa kalian kalau sampai aku tau wajah di balik kostum itu." Kris kembali membuka pintu mobilnya setelah memperhatikan dua orang di hadapannya dari ujung ke ujung
"Trick Or Treat ?." Ucap si Drakula
"aku tidak punya permen." Kris memasuki mobil hendak menutup pintu namun seseorang menahannya. Kris mendongak dan mendapati si Drakula di sana
"berarti kau memilih Trick!." Tanpa basa-basi, si Drakula menarik Kris keluar dari mobil dan memmojokkannya ke body mobil
Bugh….
Satu pukulan mendarat di perut Kris. Drakula berdecih meremehkan, namun tiba-tiba Kris mendorong si drakula hingga cengkraman si drakula terlepas
"kalian mencari masalah denganku ? cih! Jangan harap hidup kalian tenang-tenang saja." kris menghampiri si drakula, namun tiba-tiba wirewolf bergerak dan mendorong kuat Kris hingga pemuda itu terhempas menghantam body mobil. Tidak sampai di situ, Wirewolf juga menendang perut dan menonjok pipi sebeleh kanan Kris seperti apa yang di lakukan Kris malam itu di pesta Kyungsoo. Oh! Ternyata menonjok pipi Kris menimbulkan efek samping. Buktinya Wirewolf mengibas-ngibaskan tangannya karena sakit kepalan tangannya bertabrakan dengan tulang pipi Kris
"woaahh.. kau hebat wirewolf. Aku bisa mengandalkanmu." Teriak si drakula seraya bertepuk tangan
"kurang ajar!." Kris geram. Ia berjalan menghampiri si wirewolf dan menghantamnya tanpa memberi kesempatan si wirewolf mencerna apa yang terjadi. Pemuda blasteran itu langsung menduduki dan memukul si wirewolf yang tersungkur di aspal. Ia tak memberi jeda, dan membiarkan si wirewolf meringis kesakitan. Pukulan si wirewolf di pipi Kris rupanya membekas dengan sangat-sangat jelas makannya ia mengamuk
"aisshh… baru saja aku memujimu. Ck! Aku menarik kata-kataku, kau payah!." Drakula menghampiri Kris yang tengah menghajar si wirewolf membabi buta namun tak sampai membekas karna di halangi topeng yang di pakainya dan menarik kerah baju Kris, lalu menghempaskannya. Detik kemudian gantian si Drakula yang melayangkan tinju dengan telak berkali-kali ke wajah Kris hingga wajah pemuda itu lebam berlumuran darah
Bugh…
Bugh…
"rasakan ini!." bugh… " Aku sudah sangat menantikannya. Jangan terlalu sombong! hahahaha…" Drakula terus melayangkan tinju ke wajah Kris sambil tertawa, dan tidak di sangka si wirewolf sudah bangkit ikut menghajar Kris dengan menendang pemuda itu berkali-kali
Bugh… bugh…. Bugh….
"HEI!.. SEDANG APA KALIAN DI SANA ?!" Wirewolf dan drakula menghentikan kegiatan mereka mendengar seruan itu. Mereka mendongak menatap si pelaku. Tanpa babibu drakula dan wirewolf langsung berdiri meninggalkan Kris mendapati petugas sekolah akan menghampiri mereka. Hanya saja, seakan tidak puas. Drakula mengeluarkan beberapa mainan dalam tasnya dan membaginya dengan wirewolf lalu melempari Kris dan mobilnya hingga mobil itu berlumuran cat warna warni dan jangan lupakan kacanya yang sudah pecah serta bodynya yang juga penyok di beberapa bagian, mereka melakukan itu sambil berjalan mundur. Setelah mengeluarkan semua peralatan perang dalam tas. Drakula dan Wirewolf berlari sekencang-kencangnya sambil mengejek meneriaki petugas keamanan yang tengah membantu Kris berdiri
.
.
.
Hhh…. Hhh… hh…
"Kau gila! Aku benar-benar puas. Tapi, bagaimana kalau kita ketahuan, kita tidak hanya berurusan dengan siswa DO-HIS, tapi juga dengan polisi atas tindak kekerasan."
"jangan terlalu mendramatis, Lu. Tidak akan ada yang tau selama kau tidak menceritakannya pada siapapun."
Luhan mengehela napas berat mendengar penuturan Kai yang menurutnya tak ada rasa cemas sedikitpun dengan identitas mereka. Tangannya terus menyeka peluh yang mengalir di leher dan pelipisnya pengaruh dari kostum yang di pakainya. Belum lagi tadi mereka sempat berlari keluar halaman sekolah hingga saat ini mereka dalam perjalanan pulang ke rumah Kai. yah, pemuda berkulit tan yang biasanya selalu mengendarai motornya itu tidak membawa alat transportasi kesayangannya itu karna tak ingin meninggalkan jejak apapun.
"Hahh..hahaha… Aku tidak sabar melihat Kris datang ke sekolah dengan wajah babak belur besok,"
"berdo'a saja dia akan masuk sekolah dan kau bisa melihat karya seni yang kita buat itu. Hahaha…"
.
.
.
Esok harinya Luhan berangkat lebih awal bersama Sehun dan turun di tempat yang biasanya, di depan rumah mewah dekat sekolah mereka. Ia berangkat sangat pagi karna saat seperti itu siswa siswi DO-IHS masih sedikit. Ia tak mau datang lebih lama untuk mendapat tatapan sinis dan terror beruntun di pagi hari. Namun, ia mendesah kecewa karna semua pelajar hari ini di anjurkan pulang lebih awal. Besok adalah tour musim panas. Kegiatan itu selalu berlangsung setiap setahun sekali di DO-IHS, tujuannya untuk menyegarkan pikiran penat para pelajar. Hhh… padahal ia ingin melihat Kris yang penuh lebam hari ini. Sayangnya ia harus mengurungkan niatnya itu sampai besok. Luhan jadi tak sabar..
"ada apa ?." Tanya Luhan tanpa menatap Sehun yang duduk di pinggiran ranjang terus memandanginya yang tengah memasukan barang-barang bawaannya besok ke dalam ransel.
"..apa yang kau lakukan pada Kris ?." gerakan Luhan terhenti mendapati pertanyaan seperti itu dari Sehun. Bagaimana pemuda itu tau ? Rasanya Luhan tak pernah menceritakannya
"memangnya ada apa dengan Kris ?." Tidak mau ketahuan. Luhan berpura-pura tidak tau apa-apa dan kembali memasukan barang-barang yang sudah di siapkannya untuk besok. Namun Sehun tidak akan mudah tertipu, pemuda itu mengangkat sudut bibirnya sekilas
"aku tidak bisa di bohongi, kau tau ?." Luhan tak perduli dan meresleting ranselnya lalu meletakkannya di pojok ruangan dekat barang-barang Sehun lalu keluar dari sana mengacuhkan Sehun
.
Luhan duduk di depan TV menyimak kartun favoritenya. Tak lama ia merasa seseorang menduduki tempat kosong di sebelahnya. Tanpa menolehpun ia tau kalau itu Sehun. Ia sedikit menggeser tubuhnya agar Sehun bisa duduk dengan leluasa di sana dan mereka berdua menonton kartun itu di selingi tawa yang menggema di ruangan itu
"kau belum menjawabku!." Sehun mengalihkan pandangannya. Ia masih mau mendengar Luhan menceritakannya meskipun ia sudah tau kejadiannya seperti apa, dan separah apa keadaan Kris. yaaahhh.. ia hanya ingin mendengar Luhan bercerita dengan suaranya.
Luhan mendesah pasrah. Pemuda di sampingnya itu memang tidak bisa ia bodohi. Ia balik menatap Sehun yang tengah menatapnya
"kau sudah menjenguknyakan? Jadi bisa kau simpulkan apa yang terjadi." Luhan kembali mengalihkan pandangannya ke layar datar di hadapan mereka yang menampakan sebuah iklan produk makanan
Hening…
"jadi, apa yang membuatmu melakukan itu? Balas dendam karna dikerjai pelajar DO-IHS atau ada alasan yang lain?."
Hening beberapa saat, Sehun memilih angkat bicara. Sebenarnya ia tau, ia tau semuanya. Ia tau alasan lain Luhan menghajar Kris, dan ia juga tau Luhan punya partner saat itu. Bukankah sudah pernah ia katakana ? Dia selalu tau semua hal yang menyangkut pautkan Luhan di dalamnya
Layar datar di hadapan mereka menampakan kartun favorite Luhan telah berakhir. Pemuda yang lebih tua itu mengalihkan pandangannya menatap pemuda yang ada di sampingnya dengan alis berkerut. Sejak kapan Sehun jadi suka mencampuri—ingin tau—urusannya ?
Luhan mematikan TV dan memposisikan tubuhnya duduk bersila menghadap Sehun. Pemuda itu sendiri merasa aneh menatap Luhan yang dari tadi terus mengerutkan alisnya
"eum.. begini. Apa kau terbentur sesuatu? Maksudku, kau tau? sikapmu sangat aneh, kau tidak seperti Sehun yang ku kenal. Dan… sejak kapan kau selalu ingin tau semua urusanku?."
Luhan makin mengerutkan alis mendapati Sehun tertawa setelah pertanyaan yang ia lontarkan
"sudahlah. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
Tanpa menunggu respon Luhan. Sehun langsung saja menariknya ke garasi untuk mengambil mobilnya. Baru juga mobil Sehun melaju beberapa meter dari rumah mereka. Suami istri sejenis itu di hadang sebuah motor yang tiba-tiba berhenti di depan mereka
Sehun mendecih saat si pengendara membuka tutup helmnya
"OI! Kalian mau kemana? Aku ingin bertamu." Ucap si pengendara—Kai- yang masih duduk di atas motornya. Tidak mendapat respon dari kedua orang yang berada di dalam mobil itu, Kai turun dan menghampiri Sehun yang sudah membuka kaca mobilnya menatap Kai
"kalian mau pergi? Boleh aku ikut?." Tanya Kai dengan senyum menyebalkan menurut Luhan
"jangan mengacau. Pulanglah." Sehun hendak menaikan kembali kaca mobilnya
"Lulu!"
Dua orang di dalam mobil itu langsung menoleh kearah Kai dengan perasasaan yang sama tapi punya arti yang berbeda. Luhan yang marah atas panggilan menjijikan itu dan Sehun yang entahlah, marah, tidak terima, tidak suka, cemburu atau apalah. Eh ? Cemburu ? Entahlah… rasanya pemuda itu ingin meledak mendengar panggilan Kai yang terdengar sangat manis untuk LuhanNYA. Yaahh… LuhanNYA karna Luhan istriNYA, milikNYA meski belum sepenuhnya.
Seakan tidak sadar dengan aurah membunuh dari kedua orang itu. Kai hanya menampakan senyum lebar dan melanjutkan kata-katanya
"Kau tidak ingin menanyakan sesuatu pada Chanyeol? Soal Baekhyun mungkin? yaahhh… siapa tau Chanyeol tau di mana Baekhyun. Bukankah anak itu juga tidak kelihatan sejak Baekhyun menghilang?"
Kai kembali bersmirk melihat raut wajah Luhan yang sepertinya sangat tertarik dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Sedangkan Sehun sudah merutuki pemuda berkulit tan itu dalam hati. Sepertinya Kai ingin membuat acara jalan-jalan mereka batal. Tanpa Sehun sadari, ternyata Kai menampakan smirk itu bukan untuk Luhan, melainkan untuk dirinya
"tadi Chanyeol memintaku ke bar. Hanya saja aku malas, jadi aku memilih datang ke ruamh kalian. Tapi, sepertinya kalian ingin kelu—"
"tidak! Eum.. bolehkan aku ikut denganmu ke bar? Maksudku, kau ingin ke bar menemui Chanyeolkan?." Luhan yang dari tadi diam memotong ucapan Kai. Hal itu semakin menambah lebarnya senyum menyebalkan di bibir Kai. Luhan hendak keluar dari mobil Sehun dan pindah ke motor Kai, namun tiba-tiba Sehun menahannya membuat tanda tanya di kepala Luhan
"kau tetap di sini." Ucap Sehun memandangi Luhan dan langsung menutup kembali pintu mobil di samping Luhan lalu menoleh kearah Kai yang masih menumpukan tangannya di jendela mobil Sehun yang terbuka
"aku ikut!." Ujar Sehun. Kai langsung tersenyum remeh kearah pemuda yang kontras dengan warna kulitnya itu namun Sehun tak menyadarinya. Kaipun berjalan menaiki motornya.
.
.
.
Luhan merutuki kebodohannya yang tak bertanya lebih dulu siapa saja di sana selain Chanyeol. Alhasil ia terlalu canggung karna di sana juga ada Kyungsoo. Yaahhh… dan melihat pemuda bermata bulat itu, mengingatkannya pada malam di mana seorang Kyungsoo yang di sangkanya lugu, baik dan kalem itu berubah menjadi induk singa kelaparan.
"siapa dia?." Tanya Chanyeol dengan alis berkerut menatap pemuda yang duduk di antara Sehun dan Kai
"Oh! Namjachiguku." Kai langsung merangkul mesra pundak Luhan membuat seorang pemuda yang duduk di samping kanan Luhan menoleh dengan tatapan tajam dan aura membunuhnya. Luhan sendiri yang di arahkan atas pernyataan itu auranya tak jauh berbeda dengan Sehun, hanya saja ia tak mengangkat kepalanya menatap Kai. Tidak hanya itu, pemuda bermata bulat yang duduk bersebrangan dengan mereka juga menampakan raut wajah yang sulit di artikan. Sedangkan Chanyeol hanya mengangkat satu alisnya
"kau tidak sedang bercandakan?." Chanyeol memastikan.
"menurutmu, dengan membawanya kesini aku bercanda?."
Chu~
Owh, jika saat ini kalian berada di posisi Luhan. Pasti kalian sudah meringkuk ketakutan. Aura yang ada di sebelah kanannya sungguh sangat mencekam tepat saat Kai mengecup kilas bibirnya. Bahkan Luhan sudah tak bisa berpikir lagi tentang Kai yang menciumnya, atau ia yang baru saja di cium oleh seorang pria. Aura itu benar-benar menakutkan sampai membuat Luhan ingin segera di lenyapkan saat itu juga.
Kyungsoo yang melihat kejadian itu makin menampkan raut wajah yang sulit di artikan. Ia berpikir, bukankah Luhan berkata dia masih berjalan di jalan yang lurus?—bukan Gay—lalu kenapa ia membiarkan Kai menciumnya? dan lagi…. mereka berpacaran? Sejak kapan? Tapi semua pertanyaan itu tak dapat di ungkapkannya. Sedangkan Chanyeol hanya mengangguk sebelum meminum winenya. Kai menatap Chanyeol dengan alis berkerut
"Kau tidak mengatakan sesuatu?."
"apa?." Chanyeol menatap Kai dengan raut wajah bingung sebelum mengucapkan kata selamat yang makin menambah kerutan bingung di wajah Kai.
Yah, Chanyeol memang mengatakan selamat. Tapi, bukan kata itu yang ingin di dengar oleh Kai. Tumben sekali sahabatnya itu tak berkata 'menjijikan', 'jangan lakukan hal seperti itu di hadapanku dengan seorang pria' atau 'kalian harus bertobat' yang biasa ia ucapkan saat melihat pasangan sesame jenis. Pasti ada sesuatu, Kai meyakini itu, dan entah kengapa tiba-tiba ia teringat soal Baekhyun. Apa sikap Chanyeol ini ada hubungannya dengan Baekhyun? Kai ingin menanyakan soal Baekhyun karna di lihatnya Luhan dari tadi tak angkat bicara dan terus menunduk. Hanya saja, seseorang yang baru memasuki ruangan mengurungkan niatnya
"Pfftthhh—" Luhan dan Kai sama-sama ingin tertawa, tapi mereka langsung menahannya saat mendapati Kris yang sudah duduk menatap mereka dengan tajam seakan memperingati mereka untuk tidak tertawa. Eh? Bukan! itu mungkin untuk Kai. Luhan sendiri tidak jadi tertawa karna tidak sengaja matanya menangkap raut wajah seseorang yang tidak bersahabat duduk di sebelah kanannya terus memangdangi dirinya dan Kai
"Aigoo! Hahahahaha….." Luhan dan Kai susah payah menahan tawa, Chanyeol malah seenaknya mengeluarkan tawa tak perduli dengan Kris yang seakan ingin membunuhnya. Sedangkan Kyungsoo hanya terkikik melihat wajah Kris yang lebam sana sini. Entah apa yang di pikirkan pemuda blasteran itu, bukankah itu sakit? Kenapa ia datang kemari? seharusnya ia berbaring dan bermalas-malasan di atas tempat tidur.
Cklek…
"Oh? Kau di sini, oppa?"
Seorang wanita menyembulkan kepala ke dalam ruangan dan segera masuk saat melihat Kris. Wanita itu langsung duduk di pangkuan Kris tak menyadari seseorang yang menatapnya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Dan tanpa basa-basi pula, Kris langsung mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu yang di terima dengan senang hati oleh si wanita membalas dan mengalungkan tangannya di leher Kris. Semua yang ada di sana menyaksikan kejadian itu dengan raut wajah yang berbeda-beda
Chanyeol yang tidak perduli dan terus berkutat dengan winenya. Kyungsoo yang sesekali mencuri pandang dua orang itu sambil menatap Luhan. Kai—tunggu!, sepertinya ada yang berbeda di sini. Luhan yang tengah asik dengan pikiran dan perasaannya sendiri sepertinya tak menyadari dua orang pemuda yang duduk di samping kiri dan kanannya saling melempar tatapan tajam.
Sebenarnya ada apa dengan Kai? Kenapa ia berubah seperti ingin menyaingi Sehun? Bukankah sebelumnya ia biasa-biasa saja dengan Sehun dan Luhan?. Oh! Mungkin karna Sehun terus bersikap seperti seorang pecundang.
Praanngg…. Prang…. Trangtrangtrang… (-_-)?
Sehun dan Kai memutuskan kontak mata mereka saat mendengar suara pecahan piring dan botol di sana. Mereka langsung cengo melihat Kris dan wanita itu yang entah sejak kapan sudah berada di atas meja kaca dengan Kris yang terus menjelajahi tubuh si wanita tanpa melepas ciumannya mengakibatkan geseran piring dan botol yang ada di atas meja. Apa sudut bibirnya tidak sakit akibat pukulan tadi malam? kenapa dia bisa berciuman sepanas itu?. pikir Kai
"a-aku harus pulang."
Luhan yang sudah tak tahan lagi dengan pemandangan di hadapannya langsung saja bangkit dan berjalan keluar. Kai langsung berdiri dan menyusulnya, tak beberapa lama kemudian Sehun juga menyusul mereka. Sedangkan Kris yang tengah asik dengan aksinya tiba-tiba berhenti dan meringis sakit
Ohh.. rupanya dia sengaja melakukan itu untuk memanas-manasi Luhan, dan sepertinya itu berhasil. Kris kembali duduk di sofa dan merangkul si wanita—Hara, yang sepertinya benar-benar tidak menyadari kalau tadi Luhan berada di sana.
.
.
Sementara itu di luar ruangan. Luhan tengah menahan gejolak perasaan yang seakan hancur berkeping-keping (-_-)!. Tanpa basa-basi ia mendudukkan dirinya di sebuah kursi dan langsung memesan minuman beralkohol pada seorang barthender. Gadis yang selama ini ia cintai bahkan saat ini tengah melakukan hal yang ..err.. hehe… dengan pria lain. Apa mereka sudah pernah melakukannya ? Oh.. melihat kejadian tadi jawabannya pasti sudah. Luhan saja yang notabenya lebih lama berpacaran dengan Hara belum pernah menyentuh gadis itu lebih dari kecupan di bibir. Lagi, bukankah gadis itu berkata akan meninggalkan Kris? Lalu.. tadi itu apa?
Luhan hendak meneguk kembali minumannya namun tiba-tiba seseorang merampas minuman itu dari tangannya. Luhan menoleh hendak meneriaki orang itu dan menjadikannya sebagai pelampiasan atas kekecewaannya terhadap Hara. Namun, ia mengurungkan niatnya mendapati Sehun di sana tengah menatapnya dengan tajam.
Tanpa berkata apapun Sehun langsung menarik Luhan keluar dari bar itu melewati orang-orang yang berdesakan di lantai dansa. Luhan sendiri yang di perlakukan seperti itu diam saja, ia terlalu lelah tak bertenaga untuk melawan. Rasanya ia ingin menangis dan kembali ke bar itu sambil memaki-maki pemuda yang tengah bersama gadisnya di dalam sebuah ruangan di bar itu.
Sebenarnya tadi itu Kai yang hendak menghampiri Luhan. Namun, tiba-tiba saja Sehun mendahuluinya dan membawa Luhan pergi. Alhasil, Kai hanya diam di tempat menyaksikan mereka hingga berlalu di kerumunan orang-orang yang sibuk meliuk-liukkan tubuh mereka.
"Apa yang bisa kulakukan?." Kai tersenyum kecut tapi tak berlangsung lama senyum kecut itu berubah menjadi sebuah senyum meremehkan
.
.
.
Braaakkk….
"akh!"
Luhan meringis saat Sehun menghantamkan punggungnya ke dindng kamar mereka dan mengunci pergerakannya. Luhan mendongak menatap Sehun yang saat ini tengah di kuasai amarah. Yaahhh… bagaimana tidak? Luhan di cium oleh Kai di hadapannya tanpa protes sedikitpun dan Luhan bertingkah seakan hidupnya akan berakhir hanya melihat mantan pacarnya bercumbu dengan pria lain. Tak sadarkah Luhan kalau ia sudah memiliki Sehun di sini?
Sehun yang mencengkram pergelangan tangan Luhan di kedua sisi kepala Luhan memperkuat cengkramannya membuat Luhan meringis sakit
"Lupakan gadis itu!" Luhan dapat melihat rahang Sehun yang mengeras menahan amarah.
"apa hakmu? Ini hatiku, perasaanku, kau tidak bisa memerintahnya!" Luhan tak mau kalah menatap Sehun dengan tajam meski tangannya kesakitan akibat cengkraman Sehun yang makin kuat
Sehun mengatup rapat-rapat bibirnya, ia benar-benar harus bersabar, ia harus bisa mengendalikan amarahnya. Jangan sampai ia melakukan kesalahan fatal yang dapat menyakiti Luhan. Sehun menutup erat matanya dan menhembuskan napas, berharap dengan begitu ia bisa menentralkan perasaannya. Namun, saat membuka mata, hatinya berdenyut sakit melihat Luhan yang sudah tak kuasa menahan tangisnya hingga tak perduli lagi ia terlihat lemah di hadapan Sehun dengan linangan air mata membasahi pipinya
Sehun langsung melepas cengkramannya di tangan Luhan berdiri berhadapan dengan pemuda yang tengah menangis tanpa isakan itu. Ia tak tau harus berbuat apa, ia juga tak tau apa yang membuat Luhan menangis. Apa perlakuannya ? atau karna gadis itu?. Apapun itu, ingin rasanya sehun memeluk Luhan dan berkata, 'semua akan baik-baik saja, jangan menangis. Masih ada aku di sini..' tapi, rasa takut Luhan yang akan menolaknya membuat keinginan itu hanya tersimpan di memorynya saja.
"eum, a-aku—"
Greebbb…..
"to-tolong. tolong aku, Sehun-ah."
Sehun membatu, ia tak menyangka Luhan yang akan memeluknya duluan. Entah kenapa perlakuan Luhan itu membuat darah mengalir dan jantungnya berdetak lebih cepat. Rasa bahagia langsung menjalari perasaannya namun itu tak berlangsung lama menyadari Luhan yang saat ini bukan dalam mood yang baik. Sehun tersadar dan membalas pelukan Luhan lebih erat dari yang Luhan lakukan padanya
"apapun itu, Lu." Sehun membenamkan wajahnya di ceruk leher Luhan. Ia sudah mengatakannya, ia akan melakukan apapun untuk menolong Luhan. Yah, apapun itu
Luhan sendiri yang berada di dekapan Sehun merasa perasaannya sudah lebih baik dari yang tadi. Ia benar-benar butuh sandaran, ia sungguh lelah dan kalah oleh hatinya. Air matanya sudah berhenti mengalir. Berada di dekapan Sehun terlalu nyaman dan menenangkan. Kenapa ia baru menyadarinya? Dan entah kenapa berada di dekapan Sehun bisa membuatnya melupakan Hara, membuatnya lupa kenyataan bahwa dirinya membenci kaum gay, membuatnya merasa aman, membuatnya lupa akan semua masalah yang membebaninya.
Yang ada hanya Sehun. Entah kenapa Luhan menyukai hal itu. Ia tak perduli lagi kalau dirinya tampak menjijikan saat ini. Ia benar-benar butuh sandaran dan Sehun benar-benar orang yang tepat menurutnya. Dekapan dua sahabatnya saja tidak senyaman ini. Bagaimana Sehun melakukannya?
"Lu?."
Rupanya Luhan terlalu asik dengan pikirannya hingga tanpa sadar ia sudah terbaring di atas ranjang dengan Sehun di sampingnya. Luhan terheran-heran, bagaimana ia sampai tak menyadari itu? Apa Sehun menghipnotisnya? Konyol! Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Sehun tentu tak bisa melakukan hal semacam sihir.
"merasa lebih baik?." Tanya Sehun yang berbaring menghadapnya. Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban
"terimakasih." Luhan menoleh kearah Sehun, menatap pemuda yang tengah tersenyum lembut padanya
"tidurlah, besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali." Luhan mengangguk lagi dan menaikkan selimutnya sebelum memposisikan dirinya tidur menghadap Sehun dan menutup matanya hendak berkelana kealam mimpi
"Lu.." Luhan membuka matanya menatap Sehun yang juga berbaring menghadapnya
"bolehkah..bolehkah aku memelukmu?." Tanya Sehun tampak ragu. Yah… ragu, sangat ragu Luhan akan mengizinkannya.
"a-ah, lupakan saja." Sehun memposisikan dirinya tidur terlantang menghadap langit-langit kamar mendapati Luhan yang tak merespon apapun setelah pertanyaannya. Namun, sebuah lengan yang melingkari perutnya membuat ia menoleh ke samping di mana Luhan tengah menatapnya
"tentu saja boleh." Luhan mendekatkan dirinya pada Sehun. Sehun langsung tersenyum dan memposisikan dirinya tidur menyamping menghadap Luhan dan mendekap pemuda yang bertubuh lebih kecil darinya itu.
Luhan POV
Hangat…
Sangat-sangat nyaman dan hangat. Kenapa aku baru menyadarinya? Sehun begitu menenangkan. Berada di dekatnya membuatku lupa akan semua hal yang membebaniku. Hanya ada perasaan aman dan menyenangkan
Kurasakan hembusan napas Sehun yang teratur di ujung kepalaku. Sepertinya dia sudah tidur. Cepat sekali? Akupun mencari posisi yang nyaman sebelum menyusulnya kealam mimpi
.
.
.
Untuk pertama kalinya aku bangun tanpa rasa keterkejutan diriku yang berada di dalam dekapan Sehun. Aku membuka sejenak mataku yang langsung bertemu dengan dada bidang Sehun lalu menutupnya kembali. Ini terlalu nyaman untukku tinggal, Ingin rasanya sepanjang hari seperti ini. Sehun membuatku merasa seakan hidupku tak permah bermasalah. Ia membuatku merasa seakan-akan kejadian semalam itu tak pernah terpampang di hadapanku, ia bahkan bisa membuat diriku seakan tak pernah mengenal Hara, gadis yang sangat aku cintai. Tapi, kalau ku ingat-ingat lagi, kenapa aku sering melupakan gadis itu saat bersama Sehun?
Kenapa aku merasa Hara tak pernah masuk dalam kehidupanku saat bersama Sehun? Kenapa aku hanya bisa memikirkan keberadaanku dengannya? Kalaupun tidak menyinggung soal sahabat-sahabatku, aku juga bisa melupakan kedua sahabatku itu. Kenapa aku terkesan sangat kejam?
Sreett…
Eh?
Sesuatu menyentuh wajahku yang ku yakini itu jemari Sehun. Apa dia selalu melakukan ini tiap kali ia bangun tidur? Karna saat aku bangun tidur, biasanya aku sudah mendapatinya di dalam kamar mandi. Beberapa kali aku juga mendapatinya melakukan ini saat aku yang pertama kali bangun tidur. Memangnya apa menyenangkannya melakukan ini? Jujur saja ini membuat bulu kudukku meremang, rasanya sangat geli dan membuatku mau tidak mau harus membuka mataku
Aku berpura-pura menggeliat seakan-akan baru terbangun. Dapat kurasakan gerakan jarinya terhenti dan ia langsung menarik tangannya bahkan melepas dekapannya di tubuhku. Aku membuka mataku langsung mengedarkan pandanganku ke isi kamar kami. Ku tolehkan kepalaku menghadapnya yang saat ini tengah berpura-pura tidur
Aku terkikik geli menyadari tindakan seorang Oh Sehun yang benar-benar OOC. Aigoo, bagaimana mungkin seseorang yang di juluki ice prince bisa bertingkah seperti ini di hadapanku? Hahaha…. Bagaimana kalau semua fansnya tau kalau seorang Oh Sehun mempunyai sisi yang seperti ini?
Ku angkat sedikit tubuhku untuk mensejajarkan wajahku dengan wajahnya. Ku perhatikan lekat-lekat pemuda yang tengah berpura-pura tidur ini. Ternyata di lihat dari sisi manapun seorang Oh Sehun memang sangat sempurna. yaahh… aku akui itu. Pantas saja gadis-gadis suka menjerit dengan kehadirannya. Kalau di perhatikan lagi, mata yang selalu menatap orang dengan tajam tengah tertutup ini terlihat lebih innocen, sangat berbeda saat mata itu terbuka. Bentuk hidung yang bagus dan kulitnya yang putih kenapa aku baru menyadari betapa tampannya seorang Oh Sehun? Dengan sadar ku pegangi hidungku, membandingkannya dengan hidung Sehun.
Aku mendengus menyadari perbedaan hidungku dan hidungnya. Yahh… biarpun mancung, tapi hidungku kecil, aku sebenarnya tidak ingin mengakuinya. Tapi, hidung ini akan lebih pantas di pasang pada wajah seorang gadis. Bukan di wajahku!
Ku dekatkan tanganku ke wajahnya, membandingkan kulitku dengan kulitnya. Aigoo… kenapa aku jadi merasa sangat jelek melihat kulitnya yang begitu putih nyaris albino. Aku mendecikkan lidahku kesal sebelum menyadari sesuatu, yaahh.. setidaknya aku yakin bentuk bibirku lebih bagus dari bentuk bibirnya, hehehe….ah, mataku juga bagus biarpun tatapanku tidak setajam Sehun
Tanpa sadar aku tersenyum-senyum sendiri merasa bangga dengan kelebihanku yang ini biarpun kalah banyak dari Sehun. Tapi, kenapa dia belum juga membuka matanya? Jam berapa ini?
Ku edarkan pandanganku melihat jam yang menempel di dinding. Namun, sebelum itu terjadi ku dengar suara dering smartphone Sehun yang berada di nakas sebelahnya. Ku alihkan pandanganku menatap Sehun yang entah dia sudah benar-benar terlelap atau masih berpura-pura? Kenapa dia masih menutup matanya?
Berulangkali smartphone itu berbunyi namun sepertinya Sehun tak berniat mengangkat atau sekedar membuka matanya. Ku posisikan diriku untuk duduk melangkahi tubuh Sehun dengan lututku yang berpijak di atas kasur dan meraih smartphone itu di seberang. Entah benar adanya atau hanya perasaanku saja kalau tadi Sehun sempat mengintip.
"YA! SEHUN! KAU DI MANA, EOH? KAU IKUT ATAU TIDAK? CEPATLAH! PESAWAT AKAN LEPAS LANDAS, KAU MAU DI TINGGAL, EOH?!." \
Ku jauhkan smartphone itu dari jangkauan telingaku mendengar seseorang yang tanpa basa-basi berteriak di seberang sana dan aku hampir terjungkal saat tiba-tiba Sehun bangun langsung berlari memasuki kamar mandi. Aku hanya menatapnya dengan alis berkerut sebelum melihat layar smartphone Sehun yang menampakkan foto Kai sedang tertidur dan air liurnya mengenang di atas meja. Hahaha…. Tidak ku sangka Sehun cukup jahil memasang foto Kai seperti ini untuk kontaknya. Aku hendak mendekatkan kembali smartphone itu ke telingaku karna mendengar Kai yang terus berteriak di seberang sana memanggil-manggil Sehun. Namun, sebelum itu terjadi
Cklek….
"Lu! Kau tidak ingin bersiap-siap? Kita sudah terlambat. Pesawatnya akan segera lepas landas."
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka mengalihkan perhatianku menampakakkan Sehun di sana memakai boxer yang basah dengan rambut penuh busa berteriak kepadaku yang entah apa maksudnya. Namun, pendanganku teralihkan ke ujung ruangan tepat di mana tas ransel dan koper kami di letakan. Aku langsung sadar dan teringat sesuatu. Tanpa basa basi ku lemparkan smartphone Sehun di atas ranjang dan menyambar bathrobku menyusul Sehun yang sudah memasuki kamar mandi.
.
.
.
Sungguh ini pagi yang acak-acakan. Lihatlah, keadaanku dan Sehun benar-benar berantakan. Sehun yang duduk di jok pengemudi belum mengenakan bajunya, sementara aku masih sibuk dengan sepatuku. Sehun terus saja menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata, bahkan rambut kamipun belum kering sama sekali.
Argggh… kenapa bisa seperti ini?.
Selesai dengan sepatuku, aku mengambil kaos polos berwarna kuning yang ada di kursi penumpang dan memakaikannya pada Sehun. Astaga ini benar-benar pagi yang kacau
Luhan POV end
""kurangi sedikit kecepatanmu dan kemarikan lenganmu." Sehun menurut memasukkan tangannya di baju yang tengah Luhan pekaikan untuknya tapi tak sedikitpun mengurangi laju mobil yang mereka tumpangi.
Selesai dengan pakaian Sehun. Luhan mengambil sebuah handuk yang ada di jok belakang dan mengeringkan rambutnya sendiri
"Lu!" Luhan mengalihkan pandangannya kearah Sehun.
"celanaku belum di kancing." Tutur Sehun tetap focus mengemudi. Luhan sedikit ragu untuk melakukan apa yang di maksud Sehun. Tapi, mau bagaimana lagi, mereka terlalu buru-buru, dan jangan sampai saat turun nanti Sehun masih tidak mengancing celananya. Oh! Pasti akan terjadi hal memalukan
Luhan meletakan handuk kecil yang di pegangnya dan mendekati Sehun guna mengancing celana Sehun yang bahkan pemuda itu belum menaikan resletingnya hingga boxer putih dengan tulisan acaknya terlihat jelas. Aigoo…
"jangan tertawa, ini semu—akhh akh… Lu! Kau menjepitnya!"
Sehun yang awalnya kesal Luhan menertawainya atau mungkin keadaan mereka berubah menjadi kesakitan saat tak sengaja sesuatu di balik celana dan boxernya terjepit ketika Luhan ingin menaikkan resletingnya. Refleks Luhan minta maaf sambil mengusap sesuatu yang terjepit itu dari luar celana Sehun dan hal itu membuat Sehun hampir saja menabrakkan mobil mereka dengan mobil yang ada di depan mereka
"YA! Menyetirlah dengan benar! kau ingin kita mati, eoh?!" Luhan protes saat Sehun tiba-tiba mengerem mobilnya agar tak menabrak mobil di depan mereka, hal itu juga membuat Luhan mempertemukan jidatnya dengan kaca mobil karna ia tak mengenakan seatbelt mengingat ia harus mengurus ini itu
Sehun tak merespon protesan Luhan dan kembali menjalankan mobilnya namun dengan perasaan yang berbeda dan pipi merona. Entahlah, perasaan semacam apa aku juga tidak tau. Yang pasti bukan perasaan panic seperti sebelumnya. Usapan Luhan itu cukup berefek rupanya hahaha… Sementara si pelaku sadar atau tidak ia kelihatan biasa saja.
.
.
.
"siapa lagi yang belum ada?"
"Sehun, seam. Dia belum datang." Teriak seorang yeoja menanggapi seongsanim yang tengah mengecek semua peserta tour
"Luhan juga belum, seam." Lay langsung mendapat tatapan sinis dari semua peserta. Hei, jangan lupakan soal terror Luhan, itu belum berakhir. Mereka masih merekam dengan baik isi E-mail dari Kris dan tak lupa video mamalukan Luhan
"AKU DI SINI!" teriak seseorang dari balik barisan.
Semua langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang pemuda yang tengah berlari dengan tas ransel besarnya menuju mereka. Oh.. lihatlah betapa konyolnya cara Luhan berlari dengan tas yang bahkan lebih besar dari dirinya.
Tiba-tiba teriakan histeris dari para siswi langsung membahana di airport sekolah. Luhan terheran-heran, apa mereka akan mengerjai Luhan lagi? Atau sekarang mereka berubah mengagumi Luhan? Namun, beberapa saat mendengar para siswi meneriaki nama Oh Sehun langsung membuat perkiraannya lenyap begitu saja. hhh… seharusnya Luhan sadar kalau hanya Sehun dan kawan-kawannya yang dapat membuat para gadis itu menjerit
Sret….
Eh?
Luhan langsung menoleh ke samping saat tiba-tiba seseorang mengambil alih ransel besarnya. Ia langsung mendapati wajah datar Sehun yang tengah memakai ransel Luhan di punggungnya dan berjalan mendahului pemuda bertubuh mungil itu. Seketika pula teriakan histeris beberapa meter dari mereka tiba-tiba hilang di gantikan wajah cengo tak percaya mereka. Namun, tak selang beberapa lama teriakan histeris itu kembali membahana saat Sehun telah bergabung dengan yang lainnya
"YA! Namja phabo! cepatlah. Kau menunda waktu kami, cih!" Teriak seorang siswi dengan sinisnya. Luhan kembali berlari dan langsung berbaris di barisan kelasnya.
'ck! Kenapa dia harus datang? Tidak sadar diri kalau keberadaannya hanya merusak saja?!. Kasihan Kris, pasti moodnya akan sangat buruk melihatnya di sini!.'
'apa-apaan dia menyuruh Sehun membawa tasnya? Tidak tau diri!'
'sudah datang terlambat, dengan penampilan seperti itu pula. Cih! Kasihan sekali dia, hahaha. Dasar miskin!'
Luhan hanya bisa menghela napas mendengar setiap cibiran para peserta tentang disinya. Biarkan saja mereka bicara seperti itu, yang penting kenyataannya tidak seperti yang mereka katakan. Ia tidak merusak, membuat mood Kris menjadi buruk, menyuruh Sehun membawa tasnya, dan dia tidak miskin. Mereka yang seenaknya bicara. Ia berpenampilan berantakan seperti ini karna terlalu buru-buru. Dasar orang-orang sok tau
Luhan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia tak memperdulikan seongsanim yang tengah menerangkan tentang tour kali ini di depan sana. Ia tak perlu melakukannya karna setiap tahun tujuan tour ini selalu sama meski pada tempat yang berbeda
Luhan meatap kerumunan yang berada di tengah barisan, yahh… siapa lagi itu kalau bukan Kris dkk. 5 orang itu diam saja dan siswa/I di sana mulai mengambil gambar mereka. Menyenangkan menjadi orang popular yah…, tapi, hei? Mereka tidak berlima, mereka berenam
Luhan memicingkan matanya menghitung dan melihat dengan jelas jumlah pemuda-pemuda itu, dan ia yakin ia menghitung mereka berenam dengan seorang pemuda yang berada di rangkulan Chanyeol membelakanginya. Tapi tunggu, sepertinya Luhan mengenal postur pemuda mungil itu
"B-Baekhyun?."
To Be Countinue
.
Ell note :
Udah cukup panjangkan?
Ell gak nyangka ada yang bilang chapt kemarin itu kependekan. Aigoo! Padahal itu worldnya 5,181 (-_-)' . Dan buat biasnya angry hyung—Kris. Jangan marah karna Krisnya menyebalkan di sini. Dan kalau udah bosan sama ceritanya, gak apa kok! Malah bagus, jadi Ell gak perlu lanjutin cerita yang makin gak jelas dan gak nyambung ini karna sedikitnya peminat xp
Eum, itu udah Ell jelasinkan kenapa Sehun gak mau nolong Luhan? sebebnarnya sih Ell ragu itu penjelasan atau bukan, maksa pula ngejelasinya -_-). Tapi yaudalah, Buat yang minta peningkatan ratenya… Ell malu nulis yang gituan,. Tapi, entar deh Ell coba, tapi gak janji, dan gak janji juga bakal sedetail yang readers mau karna Ell Cuma berpengalaman kalau cewek cowok yang mainin, terus gak di bulan puasa juga. tapi GAK JANJI, GAK JANJI. Ingat? GAK JANJI!. Dan buat Kaisoo sama Chanbaek moment Ell gak janjikan waktu itu? jadi kita liat aja ada moment mereka atau gak, yang pasti sesuai alur berjalannya cerita ini aja deh
Yang idenya Kai buat balas Kris itu sebenarnya Ell gak punya ide. Cuma kepikiran aja waktu Ell ngerjain pemain basket sekolah sebelah waktu Ell masih SMA dulu. Abis mereka main curang, jadi kita kerjain pake cara anak-anak pecundang. Heh.. tapi biarlah, mereka juga pecundang main curang di lapangan. Kenapa? Yang bagian itu aneh yah? Ada yang mau nanya apa Kris cari tau siapa yang mukulin dia? Jawabanya 'iya'. Tapi masih rahasia Negara apa Luhan sama Kai ketahuan kita liat di chapt-chapt depan
Ada yang benci sama Hara noona? Yahh… jangan!
Kenapa Ell pake Hara noona ketimbang artis SM? Itu karna Ell fanboynya Hara noona. Jadi jangan di benci Hara noonanya. Yang bikin Hara noona jadi gitukan yang nulis ini. Jadi kalau mau benci-bencian itu sama Ell aja jangan sama Hara noona.
Yaudah deh.. arigato gozaimatsu buat hyung, noona, chigu, y dongsaeng yang masih mau mampir dan baca FF amatir ini. Ell gak tau harus ngomong apa buat ungkapan terimakasih.
Yaudah! Ell pamit… GOMAWO~ atas patisipasinya…..
*naik pesawat berangkat tour bareng pelajar DO-IHS*
