Suara pedang beradu dengan senjata keras lain terdengar gemerincing, suara sabetan dan rintihan menggema. Langkah kaki yang menginjak tanah dengan cepat bak kilat terlihat menembus debu-debuan yang tercipta. Seorang pemuda berjubah merah dengan kedua iris mata tertutup goggles yang dia kenakan tengah bertarung dengan lincahnya. Dia menebaskan pedangnya yang sudah berlumuran darah berwarna hitam tanpa henti kepada makhluk tak jelas yang tengah menggerumbunginya. Makhluk tersebut memiliki gigi yang runcing, berbadan hitam dan tidak memiliki mata, mereka hanya mengandalkan penciuman saja. Mereka adalah makhluk neraka, anak buah Lucifer. Makhluk tersebut sering di sebuat Ordha.

Satu sabetan lagi ditambah dengan sabetan yang lainnya tak kunjung berhenti, begitupun juga dengan makhluk yang tiada habisnya. Kesal, pemuda berjubah merah tersebut kesal. Dengan sekali tebas, pedangnya dikelilingi oleh aura merah dan langsung menghabisi musuh yang berada di sekitarnya dalam satu kali tebasan. Gerakannya semakin cepat dan dalam sekejap semua Ordha sudah menghilang, menjadi debu dengan menyisakan darah berwarna hitam. Pemuda tersebut membersihkan pedangnya dari darah hitam dengan telunjuknya lalu menyarungkan kembali pedang tersebut ke punggungnya. Iris mata yang tertutup goggles menatap seorang pemuda lain yang berdiri tak jauh dari sana. Pemuda berambut putih dengan kemeja putih, celana kulit yang dilapisi oleh sepatu boots hampir selutut, pemuda berambut putih tersebut menggenggam busur panah berwarna putih di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dia letakkan di pinggang, pandangan matanya terlihat sebal, namun wajahnya tetap datar.

"Kau tahu, Yuuto? Aku benci sifatmu yang tidak mengijinkan aku bertarung." Sahut pemuda berambut putih tersebut dengan datar, suaranya dingin. Dia membelakangi Yuuto sambil meletakkan kembali busur putihnya di punggung. Langkahnya pelan, anggun dan tak seperti menginjak tanah, begitu ringan dan lembut.

"Hamba saja sudah cukup, Danna-sama." Sahut pemuda berjubah merah, Yuuto.

"Ya sudahlah. Dan Yuuto…"

"Ya, Danna-sama?"

"Panggil aku Shuuya…"

Bersamaan dengan itu, Shuuya dan Yuuto berjalan beriringan meninggalkan tempat itu. Bertahun-tahun terus bertarung dengan anak buah Lucifer yang mengganggu mereka, selama bertahun-tahun pula keduanya sudah tumbuh menjadi seseorang yang kuat dan tidak terkalahkan. Bertahun-tahun mereka mengitari negri dan mengembara tanpa arah hanya untuk mencari tempat aman tanpa lelah.

"VESSEL"

Nisca31tm-emerald

Disclaimer : Inazuma Eleven bukanlah milik saya. Saya hanyalah author yang meminjam chara yang ada di Inazuma Eleven untuk membuat fic ini. :3

Warning : AU. Banyak typo (s) dan miss typo (s) serta kekurangan lainnya. Alur mungkin tidak jelas dan sulit dimengerti. Masih ragu apakah ini akan jadi YAOI ato enggak. Ada saran? Ceritanya mungkin dari chptr ke chptr akan semakin ghaje. Saya sudah memperingatkan anda.

Don't like don't read

Rate : T

Happy Reading~~~

Endou Mamoru adalah seorang pemuda yang memiliki keahlian sebagai prajurit yang sangat hebat, dia menguasai tekhnik pedang saat dia masih sangat belia. Ayahnya Endou Daisuke adalah mantan seorang jendral perang dari prajurit cahaya yang saat ini berpusat di Inavelia City. Kemalangan terjadi saat bulan merah yang membuat sang ayah gugur dalam sebuah peperangan dengan prajurit Lucifer. Sejak saat itu, Mamoru hidup sendirian di rumahnya yang besar karena ibunya juga sudah tidak ada saat dia lahir, dia dididik dengan keras dan diajari dengan giat oleh para pengikut sang ayah untuk kelak dapat menggantikan posisi sang ayah, walau sendirian namun dia merasa sangat bahagia dan tidak kesepian karena dia memiliki banyak teman-teman dan kenalan ayahnya yang selalu menemaninya dan mendidiknya dengan sangat tekun. Namun kemalangan kembali menimpanya, saat umurnya menginjak dua belas tahun, kumpulan Ordha menyerang kediamannya yang berada di kota Sato dan membumi ratakan semua yang ada di sana. Dan kemalangan lainnya adalah hanya dia yang berhasil selamat. Dan kini dia mengembara untuk menjadi lebih kuat lalu mengalahkan Lucifer.

Pemuda tersebut bersenyum lebar saat melihat gerbang kota yang menjadi tujuan dia berikutnya, setelah sekian lama berjalan dan hampir menghabiskan bekalnya yang sudah menipis, akhirnya dia dapat mengisi penuh perbekalannya di kota selanjutnya. Dia kembali tersenyum lebar sambil meraba-raba pedangnya yang terselubung oleh kain berwarna merah. Pedang peninggalan ayahnya yang hebat. Kakinya semakin cepat melangkah saat gerbang kota semakin besar terlihat, langkahnya melambat saat dia tiba di sebuah pos penjaga gerbang. Rupanya bukan dia saja yang berada di pos tersebut melainkan ada seorang pemuda berambut aneh dengan jubah berwarna merah dan goggles yang menutupi kedua matanya. Pemuda itu nampaknya seumuran dengan dirinya.

"Kami di kota ini selama tiga hari, setelah itu kami akan melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya." Kata pemuda bergoggles tersebut kepada penjaga gerbang yang berada di pos. Mamoru hanya diam sambil mendengarkan percakapan tersebut.

"Kau tidak sendirian? Di mana temanmu?"

"Dia sedang istirahat di bawah pohon di sana. Tubuhnya memang lemah karena cuaca panas ini. Jika diijinkan masuk, aku akan membawa temanku kemari." Sahut pemuda tersebut sambil menunjuk sebuah pohon besar yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka. Meski kecil, Mamoru dapat melihat seseorang tengah bersandar pada pohon besar tersebut.

"Baiklah, sebutkan namamu dan temanmu, setelah itu kalian boleh masuk."

Pemuda itu menolak menyebutkan namanya dan memilih langsung menuliskan namanya di buku pengunjung dan tentu saja itu diijinkan, sehingga Mamoru tidak bisa mengetahui siapa gerangan pemuda itu. Setelah berterima kasih, pemuda bergoggles itu melangkah menjauh menuju temannya yang berada di bawah pohon tanpa melihat sedikitpun kepada Mamoru.

"Cih, kenapa dia…?"

Mamoru hanya mendesis dan kemudian dia tertawa kaku saat penjaga gerbang menatapnya dengan intens, dengan terbata-bata dia menyebutkan kehendaknya masuk kota ini dan menyebutkan namanya, kemudian dia melangkah melewati gerbang tersebut dengan cepat dan melupakan pertemuannya dengan pemuda aneh di pos penjaga tersebut. Dari pada memikirkan hal yang tidak perlu, sebaiknya mengurus dirinya terlebih dahulu.

"Jadi ini ya kota Bork itu?" Ucap Mamoru pada dirinya sendiri saat dia sudah melewati gerbang, hal pertama yang dia lihat adalah pasar yang sangat ramai. Ya kota Bork memang bukan kota yang besar, namun mereka memiliki aneka barang-barang yang sangat banyak, bukan tujuan yang salah jika dia singgah di kota ini untuk beberapa hari saja.

"Mamoru?"

Sebuah suara di belakangnya membuat pemuda berambut coklat dengan gaya rambut bak tanduk tersebut menoleh, di sana dia melihat seorang pemuda cantik yang memiliki rambut panjang berwarna hijau toska dengan iris mata yang teduh. Pemuda tersebut memiliki model rambut ponytail yang menutupi sebelah iris matanya, pakaiannya sangat khas daerah Bork, yaitu rompi kulit yang menutupi kaos birunya serta celana kain yang menutupi hingga mata kaki dipadukan dengan sepatu hitam kulit yang terlihat serasi dengan segala yang dia kenakan. Melihat pemuda yang dia kenal baik tersebut, Mamoru segera merangkulnya dengan sangat erat, melupakan jika dia saat ini tengah berada di pasar yang ramai.

"Kazemaru!"

"Lama tidak bertemu, ya? Sedang apa kau di sini? Aku pikir kau akan menuju Inavelia." Sahut pemuda cantik yang bernama Kazemaru tersebut.

"Bisakah kita tidak bicara di sini? Perutku lapar." Sahut Mamoru dengan cengiran lebar di bibirnya.

"Dasar kau ini! Ayo ikuti aku." Ucap Kazemaru, pemuda itu berbalik sehingga tidak bisa melihat cengiran Mamoru yang sudah lenyap digantikan dengan wajah sendu.

Tempat tinggal Kazemaru bukanlah sebuah rumah mewah namun hanya rumah sederhana dekat sungai yang memiliki kincir air, Kazemaru tinggal bersama pamannya yang bertubuh kekar. Mamoru tidak bisa untuk tidak kagum karena memang Kazemaru itu adalah sosok pemuda yang sangat tekun dan sangat rajin, rumah Kazemaru sangat rapi dan bersih!

"Jadi, Mamoru. Sedang apa kau di kota ini?" Tanya Kazemaru dengan santai, dia menyuguhkan teh hijau khas kota Bork kepada Mamoru disertai kue-kue ringan pengganjal perut.

"Menurut Natsumi, prajurit Lucifer menuju kota Bork ini sehingga aku tanpa pikir panjang langsung menuju kemari, sebenarnya juga untuk meneruskan perjalananku menuju kota Inavelia. Walaupun dengan jalan memutar dari jalan terdekat tentunya." Sahut Mamoru dengan cengiran lebar di bibirnya.

"Prajurit Lucifer? Apakah mereka mencari Vessel itu kemari, Mamoru? Kurasa tidak ada hal seperti itu di kota Bork." Ucap Kazemaru dengan wajah bingung, tubuhnya sedikit merinding membayangkan jika prajurit Lucifer menyerang kota Bork. Kota ini bukan kota yang besar dan tidak memiliki prajurit perang, mereka yang tinggal di kota ini cinta perdamaian walaupun mereka tinggal di tengah-tengah Negara yang saling berperang. Bork adalah kota kecil dengan posisi netral.

"Tenang saja, mereka tidak mengacau setidaknya itu yang aku dengar dari Natsumi, mereka hanya seperti sekelompok kecil Ordha yang sedang mengejar mangsa. Buktinya beberapa bulan terakhir mereka terlihat di kota Heveria, Burnha, dan Mevezulia. Tapi tidak ada terdengar satu pun kekacauan yang terjadi di kota-kota itu, bukan?"

"Baguslah jika begitu. Aku tidak suka peperangan." Sahut Kazemaru dengan lega, di bibirnya tersungging senyuman yang tipis, "Mamoru, Vessel itu seperti apa? Maksudku dia itu benda mati atau hidup?"

"Aku juga penasaran. Natsumi tidak pernah memberikanku kejelasan tentang Vessel tersebut. Tapi cepat atau lambat kita akan segera tahu." Kata Mamoru dengan datar. Wajahnya menunduk dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Apa menurutmu prajurit Lucifer itu sudah tida di kota ini?"

"Mungkin saja." Sahut Mamoru dengan santai, dia mendongak melihat ke atas langit dari celah jendela. Langit kota Bork memang selalu cerah, namun ada sekelompok awan hitam yang mendekat.

# # #

Shuuya dan Yuuto berjalan beriringan di pasar tradisional kota Bork, mereka harus membeli berbagai macam keperluan di kota ini untuk beberapa hari ke depan. Mereka tidak boleh menetap terlalu lama di kota ini meskipun mereka mengatakan tiga hari kepada penjaga gerbang. Ordha selalu mengintai mereka, entah dari mana namun para Ordha tersebut selalu berhasil mengetahui keberadaan mereka secara jelas. Selama bertahun-tahun mereka terus menghindar dan menghindar sekaligus melatih diri sendiri agar dapat terbebas dari ancaman Lucifer.

Shuuya berhenti berjalan begitupun dengan Yuuto. Indera mereka mulai mengawasi sekitar. Mencari sesuatu yang ganjil yang berada di sekitar mereka. Mata mereka yang jeli dapat melihat banyak sekali sekelebat bayangan yang mengintai mereka. Yuuto mendesis dan bersiap mencabut pedang yang ada di punggungnya sebelum sebuah tangan menepuk pundaknya pelan.

"Terlalu ramai."

Mengangguk. Yuuto merilekskan tubuhnya dan seolah tak tahu apapun mereka berdua kembali melangkah. Para Ordha itu ada yang mengendalikannya sehingga tidak mengamuk, sehingga mereka tidak mengacau. Ada seseorang yang mengatur gerak para Ordha itu di suatu tempat. Biasanya para Ordha itu akan langsung menyerang mereka tanpa perlu mengintai seperti ini terlebih dahulu dan untungnya mereka memang selalu berada di tempat yang sepi. Ada yang tidak beres, mereka lebih cerdik dari yang biasanya.

"Cerdik sekali. Mereka tidak akan ambil resiko menyerang di tengah keramaian dengan persentasi keberhasilan hanya 30 persen." Ucap Yuuto.

"Iya. Ayo, Yuuto."

Dengan gerakan cepat dua orang tersebut menghilang di tengah keramaian, mereka dapat merasakan kehadiran para Ordha yang juga mengikuti mereka dengan gerakan cepat. Shuuya mendecih saat tahu jika gerakan para Ordha jauh lebih cepat dari pada sebelumnya. Ternyata memang benar, ada yang mengendalikan para Ordha tersebut. Tapi siapa gerangan orangnya.

"Berhenti." Ucap Shuuya. Kini mereka berada di tanah lapang penuh rumput yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar, tempat ini merupakan pinggiran kota Bork.

Kesunyian tercipta dari suasana tersebut. Angin bertiup menggoyangkan rerumputan yang ada di sekitar mereka, angin itu juga meniup lembut masing-masing surai mereka yang berbeda warna. Keheningan itu pecah saat salah satu Ordha disusul oleh puluhan Ordha yang lain mengelilingi mereka. Jumlahnya puluhan, lebih banyak dari sebelumnya.

"Kali ini aku akan membantumu, Yuuto." Kata Shuuya. Dia menggenggam erat busur panahnya saat melihat posisi siaga Yuuto.

"Baik, Dann-, maksudku Shuuya." Sahut Yuuto dengan wajah memerah. Ini penghinaan dan lancang. Seharusnya dia menolak saat Tuan Muda nya ini memintanya hanya menyebut nama kecil.

Yuuto maju lima langkah di depan Shuuya, pedangnya teracungkan melintang, posisi siaga dan waspada siap menyerang para Ordha yang ada di hadapannya. Yuuto menyentuh ujung pedangnya dengan telunjuk kirinya yang mengeluarkan aura berwarna merah kebiruan, kekuatannya, kekuatan alami yang menyelubungi pedangnya sehingga menjadi lebih kuat dan berbahaya. Selang beberapa detik kemudian, Yuuto melesat dan penebas musuh pertamanya hingga terbelah jadi dua. Kelompok Ordha yang lain langsung bergumul untuk menyerang Yuuto. Namun sebelum itu terjadi sebuah anak panah yang terbuat dari sihir yang terbentuk dari kekuatan Shuuya melesat menembus tubuh Ordha yang mendekati Yuuto.

"Aku akan menjaga punggungmu, Yuuto." Ucap Shuuya sambil tersenyum dan terus membidik dan menarik busur panahnya lalu melesatlah sebuah anak panah dari udara kosong yang tercipta karena kekuatannya. Sihir alami yang dia miliki sejak dulu. Sihir angin dan api adalah elemen Shuuya. Yuuto hanya tersenyum saat mendengar perkataan Shuuya. Dia menikmati ini, sedikit banyak dia bersyukur karena bersama dengan Tuan Mudanya ini hingga detik ini.

"Pusatkan energy pada ujung jari, rasakan aliran energy itu membentuk anak panah, lalu lepaskan tali busurnya dari jepitan jarimu… dan BUM!" Ucap Shuuya dengan pelan namun terdengar mengejek. Anak panah yang dia lepaskan berwarna merah dan dengan ajaib anak panah tersebut membelah menjadi berpuluh-puluh anak panah dan menghancurkan para Ordha yang ada di hadapannya.

Shuuya menatap ke belakangnya dan tersenyum tipis saat melihat Yuuto juga sudah berhasil menghancurkan musuh yang ada di belakangnya. Dia melanglah mendekati Yuuto yang masih terdiam di posisi awal. Tangannya terjulur untuk menepuk bahu Yuuto pelan. Meski wajahnya datar tapi Yuuto dapat melihat kilat lega di iris mata onyx milik Shuuya. Dia tahu jika Tuan Mudanya tersebut tidak suka terus bertempur dan melarikan diri seperti ini, karena itu tujuan lain Yuuto selain melindungi Shuuya adalah memusnahkan Lucifer dan membuat dunia yang damai untuk Tuan Mudanya hidup, di mana nanti Tuan Mudanya dapat menikmati aliran angin, dinginnya air sungai dan panasnya sinar matahari tanpa rasa waspada sebagaimana yang mereka rasakan selama ini. Yuuto ingin menciptakan rasa aman tersebut, ingin membuat Tuan Mudanya lebih aman dan tidak merasa terbebani. Itulah tugasnya saat ini.

"Jangan melamun, Yuuto."

"A-ah, iya, Dann-, maksudku Shuuya…"

Yuuto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia memang belum terbiasa untuk mengubah kebiasaan tersebut. Dia merasa sangat lancang saat menyebut nama kecil Tuan Mudanya tersebut. Namun perintah Tuan Mudanya adalah mutlak untuk Yuuto. Namun seketika dia merasakan ada yang janggal di sekelilingnya, seseorang tengah mengawasi mereka. Dengan gerakan cepat Yuuto melemparkan belati yang terselip di pinggangnya ke arah semak-semak yang berlapis pepohonan yang berada di sekitar mereka.

Tep!

Seorang pemuda berambut coklat dengan model tanduk tiba-tiba keluar dari semak-semak dan menangkap belati Yuuto dengan tangan kanannya. Yuuto menggenggam pedangnya dan siap menyerang pemuda tersebut.

"Tu, tunggu! Aku bukan musuh! Namaku Mamoru Endou… Aku kebetulan lewat di daerah sini dan tak sengaja melihat kalian." Ucap pemuda berambut coklat tersebut dengan nada gugup. Pemuda yang ternyata adalah Mamoru tersebut mengangkat kedua tangannya ke atas untuk menimbulkan kesan tak bermusuhan. Melihat itu Yuuto menurunkan pedangnya dan meletakkannya kembali ke punggungnya, meski begitu dia berdiri satu langkah di depan Shuuya, masih bersikap waspada.

"Mau apa kau? Jangan-jangan kau bawahannya Lucifer." Ucap Yuuto masih waspada walaupun tubuhnya sudah rileks namun iris matanya yang tertutup goggles menatap intens Mamoru.

"Bu, bukan! Aku bukan bawahan Lucifer. Aku adalah seorang prajurit dari kota Sato. Aku menanggung harapan orang-orang di kotaku untuk menghancurkan Lucifer. Aku ke kota ini juga karena mendengar kabar jika para Ordha menuju kota ini." Sahut Mamoru dengan tenang, dia menampilkan wajah sungguh-sungguhnya pada Shuuya dan Yuuto. Dia tahu jika dua orang yang berada di hadapannya ini tidak mudah untuk percaya kepada orang lain.

"…Kau tahu, Mamoru Endou…"

Suara berat dan dingin dari seorang pemuda berambut putih membuat Mamoru terpana dan sedikit bergidik, namun entah kenapa Mamoru serasa tidak bisa lepas dari sepasang onyx yang menatapnya dengan intens tersebut, seakan-seakan onyx itu dapat menembus sampai sum-sum tulangnya, melemahkan sendinya dan seakan mengisapnya begitu dalam ke dasar kegelapan. Onyx yang berbahaya. Mamoru terdiam dan menunggu lanjutan dari perkataan pemuda berambut putih tersebut.

"Jangan pernah berbohong kepada seorang pembohong…"

Telak. Mamoru tak bisa menyahut perkataan pemuda berambut putih tersebut. Dia hanya menatap pemuda itu dengan pandangan bingung, ini pertemuan pertama mereka, tidak mungkin pemuda itu mengetahui siapa dirinya hanya dengan sekali lihat, bukan? Dan apa katanya barusan? Jangan berbohong kepada seorang pembohong? Apakah mereka…

"Iris matamu memancarkan dendam meski kau menutupinya dengan tekad serta harapan di setiap ucapanmu." Pemuda berambut putih tersebut memejamkan kedua matanya dan kemudian menatap Mamoru kembali dengan pandangan yang lebih menusuk.

"Lagi pula, kau sudah mengincar kami saat kami berada di pasar tradisional, kan? Meski aku tidak tahu apakah kau sengaja melakukan itu atau tidak." Kali ini Yuuto buka suara. Wajahnya berubah datar dan memandang Mamoru dengan pandangan yang tak kalah menusuk dari Shuuya.

Mendengar itu membuat Mamoru terdiam. Ini kali pertamanya dia merasa tersudut dalam sebuah percakapan, dan dia tidak menyukai ini. Namun dia bukan orang bodoh yang akan semudah itu terbawa arus pembicaraan orang lain. Lagi pula ada yang tidak beres dengan kedua pemuda yang ada di depannya ini. Mereka bukan prajurit Lucifer ataupun Prajurit Cahaya, apakah mereka adalah golongan netral? Jika benar begitu kenapa Lucifer mengincar mereka?

Pertanyaan demi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban beterbangan di dalam pemikiran Mamoru, meski terlihat mengancam dan tidak bersahabat, Mamoru dapat melihat jika kedua pemuda yang ada di depannya ini tidak berbahaya kepada dirinya sendiri. Lalu sekarang apa yang harus dia lakukan? Tiba-tiba sebuah pemikiran gila hinggap di otaknya, sebuah pemikiran nekat.

"Apa yang akan membuat kalian percaya padaku? Bolehkah aku ikut dalam pengembaraan kalian?" Ucap Mamoru dengan nekat, dia menimbulkan wajah gugup yang sangat jujur dan tidak dibuat-buat seperti sebelumnya. Mendengar itu baik Shuuya ataupun Yuuto mengangkat sebelah alis mereka. Tidak mengerti dengan maksud pemuda berambut coklat berwajah bulat dan terlihat tidak meyakinkan tersebut.

TBC

Balasan review :

G.S : Makasih …

Sauriva Angelast : Makasih ya …

Usagi Yumi : Hehehe … makasih, saya juga suka dengan cerita yang begini …

#plak! xD … Iya ya? Saya emank bingung dengan nama Kidou itu. Ada yang nulisnya Kido saja da nada yang Kidou. Makanya saya bingung. Makasih udah kasih saran dan kritiknya ya … Maaf ya tidak bisa update kilat … saya sibuk banget. Les di sana sini.

Satoru Mimiya : Yaoi aja ya? Wkwkwk saya juga sempat mikir gitu. Dan siapa uke-nya? Shuuya? HEHEHE …

#plakk … Benarkah ini menarik n bikin penasaran? Ada typo ya? Maaf ya … Saya emank kurang teliti …

Tanpa Nama : Makasih … saya senang. Saya mendapat ide ini dari kakak saya, dia sering bicara ngelantur … xD # plak!

Narumi Kadaya : Iya, Ini sudah lanjut. Makasih udah repieu. Oh ya, sya baca profile anda, Narumi-san. Saya senang anda dapat meripieu fic saya ini. Jika ingin mengkritik saya , jangan sungkan. Saya siap … XD

Diamond : Makasih, Diamond-san ..Vessel itu sejenis wadah buat nyegel sumeting. Hehehe …

Aldy Erich'Ichiru : Iy. Rencananya saya memang membuat adv. Tapi masih ragu-ragu, Aldy-san. Maaf jika ada typo,, dan masih sudah repieu …

Kuroka : Hehehe… saya juga suka RDG, saya sudah nonton tuh animenya. Baru aja selesai nonton beberapa minggu lalu … :/ ketinggalan banget saya …

Iya, ini fic gak akan saya delete kok, tenang aja … saya juga berusaha melanjutkannya …

Lupe : Makasih udah review …